KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-14


"Kalau engkau bilang aku ini kejam, maka aku katakan engkau ini tolol! Tolol, bodoh, dan munafik!" Gadis itu memaki-maki karena dia menganggap pemuda itu memakinya kejam. "Aku membunuhnya kau katakan kejam? Apa kau kira dia adalah orang lemah lembut dan baik hati? Ketahuilah, tolol, dia juga berusaha membunuh para piauwsu dan saudagar itu. Kalau tidak ada aku, tentu semua orang itu telah dibunuhnya! Dia itu pembunuh kejam!"

Thian Liong menunda penggaliannya kemudian menoleh kepada gadis itu, kini suaranya terdengar tegas. "Dia pembunuh kejam dan jahat? Tapi engkau juga membunuh dia. Lalu apa bedanya antara kalian berdua? Apa kau ingin aku samakan dengan perampok yang kau bunuh ini?"

"Jelas beda! Sungguh tolol dan bodoh sekali kalau tidak melihat bedanya! Dia menyerang dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, dia menggunakan kepandaiannya untuk melakukan kekerasan dan mencelakai orang! Sedangkan aku menggunakan kepandaian untuk menentang kejahatan, aku membunuh orang jahat yang berbahaya bagi orang-orang lain yang tidak berdosa! Dia adalah penjahat dan aku pendekar, itulah perbedaannya!" Bi Lan membentak marah. Ia membanting-banting kaki saking jengkelnya disamakan dengan perampok jahat!

Akan tetapi Thian Liong juga sudah merasa jengkel sekali sehingga tidak mau mengalah. "Engkau dapat berbuat lebih baik dari itu, nona. Engkau benar-benar akan berjasa besar jika engkau hanya menghajar penjahat ini, membuatnya jera dan berhasil menasehatinya agar dia kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi membunuhnya? Engkau tidak mampu menciptakan hidup, maka juga tidak berhak mematikan.” Sesudah berkata demikian Thian Liong melanjutkan pekerjaannya menggali lubang kuburan.

Bi Lan membanting-banting kaki dengan gemas, dua tangannya terkepal akan tetapi tidak menyerang karena dia melihat pemuda itu sedang sibuk bekerja. "Engkau... cerewet dan bawel! Huh, aku muak dan benci melihatmu!"

Thian Liong tertawa dan kembali menunda pekerjaannya, lalu menoleh ke arah gadis itu. "Akan tetapi aku suka dan kasihan padamu."

Bi Lan mendengus dan memutar tubuhnya, kemudian melangkah pergi diikuti suara tawa Thian Liong yang dapat menguasai perasaannya dan kini melihat betapa lucunya keadaan mereka. Baru bertemu, lantas bekerja sama menolong rombongan saudagar menentang penjahat, dan kini bercekcok! Padahal mereka belum saling memperkenalkan diri, bahkan namanya pun tidak tahu.

Setelah gadis itu pergi, baru dia teringat betapa jelita dan menariknya gadis itu dan betapa lihai ilmu silatnya. Berwatak pendekar pula, atau setidaknya menganggap dirinya sebagai pendekar. Sayang, galaknya bukan kepalang, seperti seekor harimau betina!

Dia masih tersenyum-senyum ketika melanjutkan pekerjaannya. Setelah lubang itu cukup dalam, dia lalu mengubur jenazah penjahat gendut itu, menimbuni jenazah dalam lubang, menancapkan pedang itu di atas gundukan tanah kuburan, baru dia membersihkan kedua tangannya, mengambil buntalannya yang tadi dia letakkan di bawah pohon tidak jauh dari situ. Sama sekali dia tidak menengok ke arah kantung biru yang berisi setengah jumlah uang emas yang ditinggalkan gadis itu.

Ketika membungkuk hendak mengambil buntalan pakaian dan kitab-kitabnya, dia melihat buntalannya itu menonjol dan tampak lebih besar dari biasanya. Dia merasa heran, lantas membuka ujung kain buntalan yang tadinya diikat. Ternyata buntalan atau kantung biru berisi uang emas itu telah berada dalam buntalannya! Cepat dia menoleh ke arah tempat di mana kantung biru tadi ditinggalkan gadis itu dan kantung itu telah lenyap.

Kiranya gadis itu secara diam-diam telah memasukkan kantung itu ke dalam buntalannya! Agaknya gadis itu telah melakukan ini ketika dia sedang asyik menggali lubang sehingga dia sama sekali tidak mengetahuinya, dan hal ini membuktikan bahwa gadis itu memang lihai sekali.

Sejenak Thian Liong termangu dan ragu-ragu apakah akan menerima uang itu atau tidak. Kalau dia tidak menerimanya dan meninggalkan di tempat itu, lalu apa gunanya? Jangan-jangan malah akan ditemukan orang-orang jahat karena yang berkeliaran di tempat sunyi dan liar seperti itu biasanya hanyalah orang-orang sesat. Kalau diterimanya dan menjadi miliknya, apa salahnya?

Gadis itu benar juga. Harus diakui bahwa dia memang membutuhkan uang untuk biaya perjalanannya. Dia butuh uang untuk membeli pakaian pengganti, untuk membeli makan setiap hari dan untuk membayar sewa kamar ketika bermalam di penginapan. Dan uang itu memang bukan uang haram, melainkan hadiah dari para saudagar yang memberinya dengan rela dan senang hati.

Thian Liong menarik napas panjang. Ia mengikatkan ujung buntalannya kembali kemudian menggendong buntalan itu dan mulai mendaki sebuah puncak yang menurut keterangan penduduk di lereng bawah, adalah tempat tinggal Kun-lun-pai.

Tiba-tiba dia menahan langkahnya. Dia hendak ke Kun-lun-pai, kemudian ke Bu-tong-pai dan ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab-kitab atas perintah gurunya. Kitab-kitab itu menurut gurunya amat penting bagi ketiga partai persilatan itu. Kitab-kitab itu dia simpan dalam buntalan pakaiannya dan tadi buntalan pakaiannya telah dibuka oleh gadis itu! Ahh, siapa tahu? Banyak tokoh persilatan yang menginginkan kitab-kitab itu, demikian gurunya berpesan dan supaya dia berhati-hati menjaganya karena bukan tidak mungkin akan ada tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai akan mencoba merampasnya kalau mereka mengetahui bahwa dia membawa kitab-kitab itul Ahh, gadis itu! Siapa tahu?

Dengan jantung berdebar dan perasaannya tegang Thian Liong menurunkan buntalannya lalu membukanya. Dia cepat memeriksa isinya dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi pucat ketika melihat bahwa yang berada di dalam buntalannya kini hanya tinggal dua buah kitab saja, yaitu kitab Sam-jong Cin-keng untuk diberikan kepada ketua Siauw-lim-pai dan kitab Kiauw-ta Sin-na untuk Bu-tong-pai. Sedangkan kitab yang ke tiga, yaitu Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat untuk Kun-lun-pai telah lenyap!

Dia mencari-cari, membolak-balik pakaiannya, namun tetap saja kitab kuno itu tidak dapat ditemukan! Dia kemudian teringat bahwa tadinya kitab itu berada paling atas di antara tiga buah kitab itu karena memang kitab itu tadinya akan dia serahkan paling dahulu kepada Kun-lun-pai!

"Celaka!" Dia berseru sambil mengepal tinju.

Siapa lagi kalau bukan gadis galak itu yang mengambilnya? Saat membuka buntalan dan memasukkan kantung uang, agaknya dia melihat kitab itu berada paling atas lantas gadis itu mengambilnya dan membawanya pergi.

"Bocah liar! Kalau bertemu akan kutampari pinggulnya sedikitnya sepuluh kali!" kata Thian Liong gemas.

Akan tetapi dia lalu tertegun. Bagaimana mungkin bisa bertemu lagi? Ke mana dia harus mencarinya? Dara itu asing sama sekali. Namanya saja tidak dia ketahui, apa lagi tempat tinggalnya! Sialan!

Tiga tugas pertama telah gagal satu! Apa yang akan dikatakan kepada gurunya? Ahh, dia merasa kecewa dan malu. Akan tetapi dia harus bertanggung jawab! Dia harus mencari gadis itu dan merampas kembali kitab untuk Kun-lun-pai, tidak lupa menghukum gadis itu dengan sepuluh kali tamparan pada pinggulnya!

Sekarang tugas utamanya dia harus menemui Ketua Kun-lun-pai dan melaporkan tentang kehilangan kitab itu. Dia harus bertanggung jawab dan siap menerima celaan dan teguran dari ketua Kun-lun-pai. Dia memang bersalah, tidak hati-hati dan lengah hingga kitab yang amat penting dan berharga itu dapat dicuri orang.

Dia mengikat kembali buntalannya dan menggendongnya, kemudian mengerahkan tenaga menggunakan ilmu berlari cepat sehingga larinya seperti terbang mendaki puncak menuju ke kompleks kuil dan bangunan Kun-lun-pai yang berada di puncak itu.

Karena Thian Liong menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) untuk berlari cepat mendaki puncak, maka sebentar saja dia telah tiba di puncak dan dia melihat sekumpulan bangunan besar yang luas, dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan kokoh. Dia lalu berlari ke bagian depan, di mana terdapat sebuah pintu gerbang yang besar. Baru saja dia berhenti berlari, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya.

"Siapa kau?! Mau apa kau berkeliaran di sini?!"

Thian Liong terkejut sekali. Dia tidak mendengar ada orang yang datang. Ini membuktikan bahwa orang itu tentu memiliki ginkang hebat. Cepat dia memutar tubuh dan berhadapan dengan seorang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Rambutnya sudah bercampur uban dan digelung ke atas lalu diikat kain kuning yang lebar sehingga hampir menutupi seluruh kepalanya. Pakaiannya sederhana seperti yang biasa dikenakan seorang pertapa atau pendeta. Juga pakaiannya terbuat dari kain kuning yang kasar dan murah. Sebatang pedang tergantung di punggungnya, pedang dengan ronce-ronce berwarna putih.

Di samping menerima pendidikan ilmu silat tinggi, Thian Liong juga menerima pendidikan kerohanian yang mendalam serta tata susila tinggi. Maka dia pun segera memberi hormat karena maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang wanita sakti.

"Locianpwe (orang tua gagah), maafkan saya. Saya sengaja datang berkunjung ke sini untuk menghadap Ketua Kun-lun-pai." Dia merangkap kedua tangan di depan dada sambil membungkuk hormat.

Namun wanita yang wajahnya membayangkan kegalakan dan sinar matanya mencorong itu masih mengerutkan alisnya. "Huhh! Engkau seorang laki-laki berani mendatangi bagian asrama wanita, tentu mengandung niat yang tidak sopan. Engkau hendak mengandalkan kepandaianmu untuk berlaku kurang ajar, ya?”

"Ahh, tidak sama sekali, locianpwe!" seru Thian Liong dengan hati kaget. "Saya tidak tahu bahwa ini adalah asrama wanita...!"

"Bohong! Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kamu berani muncul di depan asrama kami! Sambutlah!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba wanita itu sudah menyerang dengan tamparan tangan kirinya. Tamparan tangan terbuka itu sangat cepat dan menimbulkan angin pukulan yang kuat, mengarah pelipis Thian Liong sehingga merupakan serangan berbahaya yang dapat mendatangkan maut!

Diam-diam Thian Liong merasa heran dan juga penasaran. Bagaimana mungkin seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti pertapa atau pendeta tetapi tabiatnya demikian keras, berprasangka buruk dan langsung menyerang orang tak bersalah dengan serangan maut? Dia pun cepat mengelak mundur sehingga tamparan itu luput.

"Locianpwe, saya bukan musuh dan tidak bermaksud buruk." Thian Liong mencoba untuk mengingatkan wanita itu.

“Sambut ini...!" Wanita itu malah menyerangnya kembali, kini menggunakan pukulan yang mengandung sinkang (tenaga sakti).

Pukulan jarak jauh ini cukup dahsyat. Thian Liong bisa merasakan ada angin menyambar disertai hawa pukulan yang kuat menerpa ke arah dadanya. Melihat bahaya ini, terpaksa pemuda ini mengerahkan tenaga lantas mendorong ke depan untuk menyambut serangan lawan.

"Syuuuuttt...! Dessss...!"

Dua tenaga yang sangat kuat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh pendeta wanita itu terdorong ke belakang kemudian terhuyung-huyung, sedangkan Thian Liong masih berdiri tegak.

Wanita itu terkejut. Dia adalah tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga, ilmu kepandaiannya hanya di bawah tingkat ketua dan wakil ketua. Tetapi dalam adu tenaga sakti melawan seorang pemuda, dia terdorong dan terhuyung! Dia terkenal berwatak keras, karena itu kekalahan dalam adu tenaga tadi bahkan membuatnya penasaran dan semakin marah.

”Srattt...!"

Tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata dan sebatang pedang mengkilat sudah berada di tangan kanan wanita itu. Cara dia mencabut pedang dari punggung sedemikian cepatnya, menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli pedang yang pandai.

"Cabut pedang atau senjatamu yang lain! Sekarang mari kita mengadu kemahiran dalam memainkan senjata!" kata wanita itu dengan ketus.

"Locianpwe, sekali lagi saya harap locianpwe tidak salah duga. Saya bukan musuh Kun-lun-pai. Kalau locianpwe masih berkeras hendak menyerang dan membunuh orang tidak bersalah, silakan!"

Sesudah berkata demikian Thian Liong berdiri tegak sambil memejamkan kedua matanya, menenggelamkan segala kegiatan jasmani ke dalam kehampaan, hati akal dan pikirannya tidak bekerja, lahir batin menyerah kepada Kekuasaan Tuhan seperti yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin.

"Engkau menantang maut? Apa kau sangka aku tidak berani membunuh orang luar yang melanggar pantangan, mengunjungi asrama murid-murid wanita Kun lun-pai? Sambut ini!” Nenek itu menerjang maju lalu pedangnya berkelebat ke arah leher Thian Liong.

"Singgg...!" saking kuatnya pedang digerakkan, terdengar suara berdesing ketika senjata itu menyambar ke arah leher Thian Liong.

"Wuuutt...!"

Wanita itu terkejut bukan main. Ketika pedangnya menyambar ke arah leher pemuda itu, tiba-tiba pedangnya terpental seperti tertolak oleh tenaga tak tampak yang lentur dan kuat sehingga tenaganya yang mendorong pedangnya itu membalik!

Pemuda itu masih berdiri sambil menundukkan muka. Kedua matanya terpejam, mulutnya tersenyum dan wajahnya tampak begitu tenang dan tenteram, seperti wajah orang yang sedang tidur pulaa.

Dia merasa penasaran sekali, lalu menyerang lagi dengan pedangnya. Namun setiap kali membacok atau menusuk, pedangnya selalu terpental. Makiri kuat dia menyerang, makin kuat pula tenaga yang membuatnya terpental karena tenaga yang membalik juga semakin kuat.

Tiba-tiba terdengar seruan lembut. "Ngo-sumoi (adik seperguruan ke lima), hentikan itu!"

Mendengar seruan ini, nenek itu cepat melompat mundur, napasnya terengah-engah dan wajahnya merah sekali.

Thian Liong segera membuka matanya memandang. Dia melihat seorang pendeta wanita berpakaian serba putih berdiri di hadapannya. Wanita ini usianya sudah enam puluh lebih, tetapi wajahnya masih tampak segar dan sinar matanya lembut. Begitu bertemu pandang, Thian Liong merasa tunduk dan tahuiah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang sakti dan yang telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya sendiri. Maka dia cepat memberi hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Locianpwe, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bila kunjungan saya ke sini hanya mendatangkan keributan dan gangguan."

Pendeta wanita itu tersenyum. Wajahnya nampak jauh lebih muda ketika dia tersenyum. "Ahh, sicu (orang muda gagah), sepantasnya kamilah yang minta maaf atas sikap sumoi Biauw In yang terlalu keras terhadapmu tadi. Akan tetapi siapakah engkau, sicu? Dan ada keperluan apakah engkau datang ke tempat kami ini?"

"Nama saya Souw Thian Liong dan kedatangan saya ini adalah untuk memenuhi perintah guru saya."

"Hemmm, tadi kami melihat bahwa engkau sudah mencapai tingkat tertinggi dalam tenaga sakti. Siapakah gurumu?"

"Suhu disebut Tiong Lee Cin-jin."

"Siancai (damai)...!" Nenek itu berseru. Wajahnya tampak terkejut tetapi berseri. "Kiranya Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana yang mengutus muridnya datang berkunjung?" Nenek itu lantas menoleh kepada sumoi-nya yang galak tadi. "Biauw In Sumoi, lihat apa yang sudah kau lakukan tadi? Engkau menyerang murid Tiong Lee Cin-jin."

Wanita galak itu tampak kaget dan wajahnya menjadi agak pucat.

"Aku... aku tidak tahu...”

"Locianpwe, kejadian tadi harap dilupakan saja, Sayalah yang bersalah dan minta maaf," kata Thian Liong yang merasa tidak enak mendengar teguran itu.

"Souw-sicu, sikapmu menunjukkan bahwa engkau pantas sekali menjadi murid Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana. Katakanlah, tugas apa yang diberikan gurumu kepadamu sehingga engkau datang ke sini?"

"Maaf, locianpwe. Sesuai dengan perintah suhu, saya hanya dapat membicarakan urusan ini kepada para pimpinan Kun-lun-pai, yaitu Kui Beng Thaisu atau Hui In Sian-kouw saja."

Nenek itu tersenyum. "Kui Beng Thaisu adalah ketua umum Kun-lun-pai dan Hui In Sian-kouw adalah sumoi-nya yang memimpin para murid wanita. Akulah Hui In Sian-kouw dan dia ini adalah seorang sumoi-ku bernama Biauw In Suthai."

"Ahh, ternyata locianpwe adalah Hui In Sian-kouw. Terimalah hormat saya." Thian Liong memberi hormat lagi.

Hui In Sian-kouw tersenyum dan berkata. "Souw-sicu, harap kelak sampaikan maaf kami kepada suhu-mu dan jangan menertawakan kami. Kami mempunyai peraturan bahwa laki-laki tidak boleh memasuki asrama para murid wanita Kun-lun-pai. Maka terpaksa kami tidak dapat mempersilakan engkau memasuki asrama dan hanya dapat menyambutmu di sini saja."

"Tidak mengapa, locianpwe. Saya menghormati peraturan itu."

"Kalau begitu, mari kita duduk dan bercakap-cakap di sana." Hui In Sian-kouw menunjuk ke arah kiri di mana terdapat sekumpulan batu yang putih bersih. Agaknya batu-batu itu memang dirawat dan dijadikan tempat untuk duduk bersantai. Thian Liong mengikuti dua orang pendeta wanita itu, kemudian mereka duduk di atas batu saling berhadapan.

"Nah, sekarang harap sampaikan pesan Tiong Lee Cin-Jin itu kepadaku, Souw-sicu. Aku yang akan menyampaikan kepada suheng (kakak seperguruan) Kui Beng Thaisu."

Thian Liong menarik napas panjang. "Sungguh sayang sekali. Semestinya sekarang saya membawa kabar gembira untuk locianpwe, namun karena kelalaian saya, sudah membuat kabar itu berubah menjadi tidak menyenangkan."

Hui In Sian-kouw tetap tersenyum. "Apa pun yang terjadi, terjadilah, Souw-sicu. Tidak ada kejadian baik atau buruk sebelum pikiran kita menilai berdasarkan kepentingan pribadi. Ceritakanlah tanpa ragu. Kami siap menerima yang dianggap paling buruk sekali pun."'

Thian Liong mengangguk kagum. Tidak salah penilaiannya mengenai pendeta wanita ini. Seorang yang arif bijaksana. Maka dia pun bercerita dengan lapang dada. "Sesungguhnya suhu mengutus saya agar mengantarkan sebuah kitab untuk Kun-lun-pai yang harus saya serahkan sendiri kepada Kui Beng Thaisu atau kepada Hui In Sian-kouw, dan kebetulan sekali kini saya berhadapan dengan locianpwe sendiri."

"Ahh…, sebuah kitab dari Tiong Lee Cin-jin untuk Kun-lun-pai? Souw-sicu, apakah nama kitab itu?" Tiba-tiba saja Biauw In Suthai bertanya dengan nada suara gembira. Agaknya dia telah melupakan kemarahannya tadi dan kini merasa girang sekali mendengar bahwa Kun-lun-pai akan mendapatkan sebuah kitab dari Tiong Lee Cin-jin yang namanya sangat terkenal di antara semua tokoh besar dunia persilatan itu.

"Nama kitab itu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat," kata Thian Liong.

"Aihh! Itu kitab pelajaran ilmu silat tinggi yang khusus diciptakan untuk murid wanita, akan tetapi kitab itu sudah lenyap semenjak ratusan tahun yang silam, kabarnya dicuri seorang pertapa sakti yang jahat!" seru Hui In Sian-kouw kagum. "Dan sekarang Tiong Lee Cin-jin dapat menemukannya kembali dan hendak mengembalikan kitab itu kepada Kun-lun-pai? Betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin."

"Souw-sicu, cepat keluarkan kitab itu dan berikan kepada Hui In Suci (kakak perempuan seperguruan Hui In)!" kata Biauw In Suthai tak sabar lagi karena ingin cepat-cepat melihat kitab pusaka Kun-lun-pai itu.

"Bersabarlah, sumoi. Berilah waktu kepada Souw-sicu, karena agaknya dia masih hendak bercerita," kata Hui In Sian-kouw dengan tenang dan sabar.

"Sebenarnya banyak yang harus saya ceritakan, locianpwe. Akan tetapi yang terpenting untuk saya beritahukan adalah bahwa kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu telah lenyap dicuri orang ketika saya berada di lereng bawah pegunungan Kun-lun-san ini."

"Apa...?!" Biauw In Suthai melompat berdiri. "Tidak mungkin!" Tentu engkau bohong dan ingin menguasai kitab itu untukmu sendiri!"

"Sumoi, jangan sembarangan bicara!" Hui In Sian-kouw menegur adik seperguruannya.

"Suci, semua laki-laki di dunia ini mana ada yang dapat dipercaya? Dia mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi, mana mungkin kitab itu dapat dicuri orang? Coba kuperiksa buntalannya!" Biauw In Suthai melompat ke arah buntalan pakaian Thian Liong yang tadi diturunkan pemuda itu ketika hendak duduk di atas batu.

Melihat ini, Thian Liong membiarkan saja. Hui In Sian-kouw juga tidak sempat melarang sumoi-nya yang sudah membuka buntalan pakaian itu.

"Suci ini ada dua buah kitab!" seru Biauw In Suthai sambil memperlihatkan dua buah kitab tua yang diambilnya dari buntalan itu.

"Itu adalah kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dan kitab Kiauw-ta Sin-na milik Bu-tong-pai. Kedua kitab itu harus saya serahkan kepada pemilik masing-masing, seperti juga kitab milik Kun-lun-pai yang hilang."

"Sumoi, kembalikan dua buah kitab itu. Kita tidak berhak menyentuhnya!" Perintah Hui In Sian-kouw dan Biauw In Suthai cepat mengembalikan dua buah kitab itu. Akan tetapi dia terus mencari dan membuka kantung biru.

"Hei, lihat, suci! Di sini terdapat banyak emas. Tentu dia sudah menjual kitab klta itu dan mendapatkan banyak emas. Hayo engkau mengaku saja! Kepada siapa kitab kami itu kau jual!" Biauw In Suthai sudah mencabut lagi pedangnya dan mengancam Thian Liong.

"Sumoi, sirnpan pedangmu dan mundur!" Hui In Sian-kouw menegur sumoi-nya.

Biauw In Suthai menyarungkan pedangnya kembali lalu melangkah mundur dengan mulut cemberut dan matanya mencorong galak memandang Thian Liong.

Hui In Sian-kouw memandang pemuda itu. "Souw-sicu, apakah penjelasanmu tentang ini semua?"

Thian Liong menghela napas panjang. "Saya tadi belum selesai bercerita, locianpwe. Tadi ketika saya melakukan perjalanan dan sampai di jalan raya di lereng bukit sebelah bawah, saya melihat rombongan lima orang saudagar dikawal oleh belasan orang piauwsu sedang diganggu dua orang perampok. Dua orang perampok itu lihai dan para piauwsu agaknya akan kalah dan terbunuh semua. Saya lalu membela mereka yang dirampok dan saat itu muncul pula seorang gadis yang lihai. Dia juga membantu para piauwsu dan menewaskan seorang di antara dua perampok itu. Perampok ke dua melarikan sekantung emas, lantas saya mengejarnya dan berhasil mengambil kembali kantung yang dibawanya lari. Ketika saya mengembalikan kantung emas itu kepada para saudagar, mereka lalu menyerahkan separuh isi kantung itu kepada kami berdua, yaitu saya dan nona itu. Setelah rombongan para saudagar pergi meninggalkan tempat itu, saya lalu mengubur mayat perampok yang terbunuh oleh gadis itu. Di antara kami memang terjadi perselisihan paham karena saya mencelanya yang sudah membunuh perampok itu. Dia marah-marah lalu pergi membawa separuh uang yang ditinggalkan saudagar, ada pun yang separuh lagi dia berikan kepada saya. Ketika sedang sibuk menggali lubang untuk mengubur jenazah itulah, saya lengah. Tahu-tahu kantung uang emas yang tadinya saya tolak itu telah berada di dalam buntalan pakaian ini dan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang berada di tumpukan paling atas, telah lenyap."

"Gadis itu tentu cantik jelita, bukan?" Mendadak Biauw In Suthai bertanya dengan nada mengejek.

"Memang dia cantik jelita dan usianya kurang lebih tujuh belas tahun," kata Thian Liong sejujurnya.

"Nah itulah, semua laki-laki berwatak mata keranjang! Tentu dia tergila-gila melihat gadis cantik itu, lantas dia memberikan kitab itu kepadanya untuk menyenangkan hatinya. Suci, pemuda ini harus bertanggung jawab, dia harus mengembalikan kitab itu kepada kita!"

"Sumoi, tidak malukah engkau berkata seperti itu? Kitab itu memang milik Kun-lun-pai, akan tetapi telah ratusan tahun hilang dan kita tidak dapat menemukannya kembali. Tiong Lee Cin-jin berhasil mendapatkannya kembali dan hendak menyerahkan kepada kita, tapi Souw-sicu kehilangan kitab itu, dicuri oleh orang lain. Bagaimana kita dapat menimpakan tanggung jawab kepadanya supaya bisa mengembalikan kitab itu kepada kita? Sudahlah, aku melarangmu bicara lagi."

Mendengar teguran keras dari Hui In Sian-kouw, Biauw In Suthai mengerutkan keningnya dan mukanya menjadi amat buruk ketika dia cemberut. "Suci terlalu membela laki-laki ini. Biar aku melapor kepada toa-suheng (kakak seperguruan pria tertua)!" Sesudah berkata demikian, pendeta wanita yang galak itu segera meninggalkan tempat itu untuk pergi ke asrama bagian putera di balik bukit.

Hui In Sian-kouw menghela napas panjang. "Souw-sicu, maafkanlah sikap sumoi Biauw In Suthai. Dia memang keras hati. Sungguh aku merasa tidak enak kepadamu, sicu."

"Tidak mengapa, locianpwe. Sudah sewajarnya apa bila dia marah karena saya memang bersalah. Saya telah lengah sehingga kitab itu lenyap dicuri orang. Sudah semestinyalah jika saya bertanggung jawab. Saya berjanji akan mencari kitab itu sampai dapat. Setelah saya berhasil temukan, tentu akan segera saya serahkan kepada locianpwe di sini."

Pendeta wanita itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Dari sikapmu sebagai murid, kami bisa menilai betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin, Souw-sicu, siapakah nama gadis yang mencuri kiiab itu?"

"Saya tidak tahu namanya, locianpwe, kami belum sempat berkenalan. Akan tetapi saya pun tidak berani mengatakan bahwa dia yang mencuri kitab itu karena tidak ada buktinya. Bagaimana pun juga, saya akan berusaha sekuat kemampuan saya untuk mencari kitab itu."

"Kami percaya bahwa engkau akan berhasil, sicu, dan sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas usahamu mencari kitab itu. Tidak lupa sampaikan terima kasih Kun-lun-paiyang sebesar-besarnya kepada gurumu Tiong Lee Cin-jin yang telah menemukan kitab kami yang hilang itu dan berusaha mengembalikannya kepada kami. Sampaikan hormat kami kepada beliau."

"Baik, locianpwe, kelak akan saya sampaikan bila saya telah menyelesaikan tugas-tugas saya dan berjumpa lagi dengan suhu. Sekarang saya mohon pamit dan terima kasih atas pengertian locianpwe yang sudah memberikan maaf atas kelengahan saya sehingga kitab untuk locianpwe itu sampai hilang."

"Selamat jalan, sicu, dan hati-hatilah dalam perjalanan. Semua orang sudah tahu bahwa para datuk serta tokoh kang-ouw ingin sekali merampas kitab-kitab yang didapatkan oleh Tiong Lee Cin-jin dari dunia barat. Sicu yang masih membawa dua kitab, tentu tidak akan terlepas dari incaran mereka."

"Terima kasih atas nasehat itu, locianpwe. Selamat tinggal."

Thian Liong menggendong buntalannya, memberi hormat lalu pergi menuruni puncak itu. Akan tetapi, ketika tiba di lereng gunung ke dua dari puncak, dia melihat Biauw In Suthai menghadang perjalanannya. Pendeta wanita itu ditemani dua orang gadis yang berpakaian serba kuning.

Dua orang gadis itu sama-sama berusia sekitar delapan belas tahun. Keduanya bertubuh ramping, berkulit putih mulus dan keduanya cantik manis. Hanya bedanya, yang seorang lebih jangkung dengan wajah bulat dan yang kedua sedikit lebih pendek serta lebih muda dengan wajah bulat telur. Rambut mereka di gelung ke atas dengan kain berwarna kuning yang lebar. Di punggung mereka tergantung sebatang pedang.

Walau pun Biauw In Suthai tadi bersikap galak kepadanya, akan tetapi Thian Liong tidak mendendam. Begitu melihat nenek itu berdiri menghadang perjalanan bersama dua orang gadis itu, dia cepat menghampiri dan memberi hormat.

"Locianpwe, saya mohon pamit hendak meninggalkan Kun-lun-san, harap locianpwe suka memberi jalan."

Namun sambil bertolak pinggang Biauw In Suthai memandang pemuda itu dengan marah. "Souw Thian Liong, engkau sudah tahu akan kesalahanmu! Engkau sebagai seorang laki-laki telah berani lancang mendatangi asrama puteri Kun lun-pai. Karena itu sebelum kami menguji kepandaianmu, kami tak akan membiarkanmu pergi. Tadi kami melihat sebatang pedang dalam buntalanmu. Hayo cepat keluarkan pedangmu. Kami menantangmu untuk mengadu silat pedang!" Nenek itu menantang.

Thian Liong mengerutkan alisnya. "Tetapi, locianpwe, saya tidak ingin bertanding dengan siapa pun, saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun."

"Enak saja! Engkau sudah melanggar daerah terlarang bagi kaum pria, dan engkau telah membikin lenyap kitab pusaka Kun-lun-pai. Engkau harus menerima tantangan kami. Aku tidak ingin dianggap sebagai orang tua yang menghina anak muda. Karena itu, muridku ini akan mewakili aku menguji ilmu pedangmu. Kim Lan, bersiaplah engkau!"

Wajah gadis yang lebih tinggi bermuka bulat itu tiba-tiba menjadi merah dan dia nampak semakin cantik. Dia mengangguk menerima perintah gurunya dan sekali tangan kanannya bergerak, tampak sinar berkelebat dan Thian Liong segera mengenal pedang itu sebagai pedang bersinar putih yang tadi dipergunakan oleh Biauw In Suthai.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner