KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-15


Dengan gerakan yang indah dan gagah, gadis cantik bernama Kim Lan ini menggerakkan pedangnya menunjuk ke atas, kemudian pedang itu berkelebat laksana kilat menyambar, menjadi sinar menyilaukan dan sekarang dia sudah memasang kuda-kuda dengan pedang tersembunyi di bawah lengan kanan, tangan kiri melingkar di depan dada. Gayanya indah dan gagah sekali.

"Sicu, silakan!" kata Kim Lan, suaranya terdengar merdu namun mengandung tantangan dan kekerasan hati, sinar matanya tajam menyambar ke arah wajah Thian Liong.

Tentu saja pemuda itu menjadi ragu. Dia tidak ingin berkelahi, apa lagi melawan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan apa pun dengan dirinya. Melihat keraguan ini, Biauw In Suthai segera berkata nyaring.

"Souw Thian Liong, engkau mengaku sebagai murid Tiong Lee Cin-jin yang terkenal, akan tetapi engkau pengecut kalau tidak berani menghadapi tantangan muridku Kim Lan. Ambil pedangmu dan coba kita sama-sama melihat apakah engkau mampu menandingi Thian-lui Kiam-sut, (Ilmu Pedang Kilat Guntur)! Kalau engkau dapat menang melawan Kim Lan, berarti engkau memang pantas berkunjung ke asrama puteri Kun-lun-pai karena engkau menjadi keluarga sendiri. Akan tetapi kalau engkau kalah, kami akan membiarkan engkau pergi dan ternyata nama besar Tiong Lee Cin-jin hanya kosong belaka!"

Wajah Thian Liong berubah agak merah. Nenek ini sungguh terlalu, pikirnya! Dia dipaksa untuk melawan karena kalau tidak maka dia akan dianggap sebagai pengecut dan berarti dia akan merendahkan nama besar gurunya yang amat dihormati di dunia kang-ouw. Mau tak mau dia terpaksa harus melayani tantangan itu.

Dia merasa serba salah. Apa bila dilayani, dia merasa tidak semestinya karena dia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka, juga tidak ingin menghina Kun-lun-pai dengan mengalahkannya. Tetapi jika tidak dilayani maka dia dianggap pengecut dan nama besar gurunya akan terseret turun. Di samping itu, dia juga ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan Ilmu Pedang Kilat Guntur itu.

Dia pernah mendengar dari gurunya bahwa ilmu pedang itu merupakan ilmu pusaka dan andalan Kun-lun-pai, dan bahwa hanya murid-murid tertinggi saja yang berhak menguasai ilmu pedang itu. Gadis ini masih amat muda, paling banyak berusia sembilan belas tahun, akan tetapi telah menguasai Thian-lui Kiam-sut, berarti dia adalah murid Kun-lun-pai yang sudah tinggi tingkatnya. Timbul keinginannya untuk menguji kehebatan ilmu pedang itu!

Setelah menghela napas panjang, Thian Liong melepaskan gendongannya ke atas tanah, membuka buntalan, mengambil pedangnya dan mengikatkan lagi buntalan itu dengan teliti karena dia tidak mau lagi kehilangan dua buah kitab untuk Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Kemudian dia mencabut pedangnya, melempar sarung pedang ke atas buntalan pakaian lalu menghampiri Kim Lan dengan pedang di tangan.

Pedang Thian-liong-kiam adalah sebatang pedang kuno, berbentuk seekor naga di mana gagangnya merupakan ekornya. Dia berdiri santai, pedang di tangan kanan itu tergantung ke bawah. Sama sekali dia tidak membuat pasangan kuda-kuda,

"Baiklah, kalau locianpwe memaksa. Silakan, nona, saya telah siap melayani nona," kata pemuda itu.

Biauw In Suthai dan gadis ke dua melangkah mundur, lantas menonton di pinggir. Melihat Thian Liong sudah mencabut pedangnya dan mengatakan siap walau pun sikapnya masih santai, Kim Lan lalu membentak dengan suara nyaring.

"Lihat serangan pedangku!" Setelah memberi peringatan, barulah dia bergerak.

Serangannya memang hebat sekali. Begitu dia menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar seperti kilat dan dia telah menghujani Thian Liong dengan serangkai serangan kilat yang dahsyat!

Thian Liong merasa kagum sekali. Cepat ia mengerahkan ginkangnya untuk berkelebatan mengelak dari semua serangan. Sekarang timbul kegembiraan hatinya. Ilmu pedang yang dimainkan gadis bernama Kim Lan itu memang amat hebat dan gadis itu betul-betul telah menguasai ilmu pedangnya dengan baik. Pedang kilat itu seakan sudah menyatu dengan dirinya.

Sampai belasan jurus Thian Liong mengandalkan ginkang-nya, hanya menghindarkan diri dari sambaran pedang dengan elakan-elakan cepat. Namun dia tahu bahwa tidak mungkin dia hanya mengandalkan elakan untuk menghindarkan diri dari serangan yang bertubi-tubi datangnya itu. Maka, ketika dia terdesak, mulailah dia menggerakkan Thian-liong-kiam di tangan kanannya. Akan tetapi tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membikin rusak pedang lawan, juga tidak ingin membikin malu gadis itu dengan dorongan tenaga saktinya. Dia menangkis dengan tenaga yang terbatas.

"Tranggg...!"

Dua pedang bertemu dan nampak bunga api berpijar menyilaukan mata. Gadis itu cepat memeriksa pedangnya. Dia merasa lega melihat pedangnya tidak rusak, juga lega karena merasa betapa tenaganya seimbang dengan tenaga lawan. Pertandingan lalu dilanjutkan dan kini Thian Liong terkadang membalas dengan serangan pedangnya.

Pertandingan itu tampak ramai dan seimbang. Hal ini terjadi tentu saja karena Thian Liong banyak mengalah. Dia tidak ingin membikin malu gadis itu, maka sengaja mengatur agar pertandingan itu nampak seru dan ramai seolah kepandaian mereka seimbang. Tentu saja dia pun tidak mau kalau sampai dia kalah, karena hal itu akan merendahkan nama besar gurunya. Tidak, dia harus menang, tapi kemenangan melalui pertandingan yang seimbang dan ramai.

"Haiiiiittttt...!"

Mendadak Kim Lan merendahkan tubuhnya setengah berjongkok, kemudian pedangnya menyambar-nyambar ke arah kedua kaki Thian Liong. Pedang itu diputar-putar sehingga membentuk gulungan sinar putih yang mengancam kedua kaki lawan.

Thian Liong berloncatan untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah dua kakinya itu. Untuk menghentikan desakan lawan, dia menyerangkan pedangnya dari atas dan pedang Thian-liong-kiam berkelebat sehingga ujung kain pengikat kepala Kim Lan terbabat putus dan sehelai kain kuning melayang ke bawah.


Gadis itu terkejut sekali dan cepat mengubah serangannya. Sekarang dengan tubuh tegak pedangnya menyambar-nyambar ke arah leher lawan.

"Trang-trangg-tranggg...!”

Tiga kali berturut-turut kedua itu pedang bertemu di udara lantas keduanya melompat ke belakang.

Lima puluh jurus telah lewat. Thian Liong merasa bahwa sudah cukup lama dia mengalah. Ketika pedang kilat itu meluncur menyambar dengan tusukan ke arah dadanya, dia hanya sedikit miringkan tubuhnya sambil mengangkat lengan kirinya. Pedang itu meluncur dekat sekali dengan iga kirinya dan pada saat itu lengan kirinya turun mengempit pedang lawan!

Kim Lan kaget bukan main, cepat mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya yang tampaknya seolah menancap di dada lawan. Akan tetapi tiba-tiba Thian Liong mengetuk siku kanannya. Seketika lengan kanannya kehilangan tenaga dan sebelum gadis itu dapat mengatasi keadaannya, tangan Thian Liong yang memegang pedang itu telah mendorong pundak kiri Kim Lan sehingga tubuh gadis itu terhuyung-huyung ke belakang sedangkan pedangnya tertinggal, dikempit oleh lengan kiri pemuda itu!

Keadaan ini jelas membuktikan bahwa Kim Lan telah kalah. Thian Liong cepat mengambil pedang gadis itu, memegang ujungnya lalu menyodorkan gagangnya kepada Kim Lan.

"Terimalah pedangmu dan maafkan aku, nona," ucapannya itu dikeluarkan dengan tulus.

Kim Lan menerima pedang itu dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri bersimpuh di atas tanah kemudian menangis. Tentu saja Thian Liong menjadi bengong melihat hal ini.

Anehnya, Biauw In Suthai segera menghampirinya. Thian Liong telah bersiap siaga untuk melindungi dirinya kalau diserang tiba-tiba oleh pendeta wanita yang galak ini. Akan tetapi anehnya, Biauw In Suthai tersenyum dan berkata dengan suara girang.

"Souw Thian Liong, kionghi (selamat)! Kami mengucapkan selamat!"

"Selamat? Untuk apa?" Thian Liong bertanya, tidak mengerti.

"Selamat karena engkau sudah membuktikan bahwa engkau murid yang mengagumkan dari Tiong Lee Cin-jin, engkau sudah menang dalam pertandingan tadi, dan engkau sudah memperoleh seorang isteri yang baik dan cocok sekali bagimu."

Thian Liong terbelalak semakin heran. "Isteri? Apa... apa maksud locianpwe?"

Nenek itu menunjuk Kim Lan yang masih duduk bersimpuh dan menangis menutupi muka dengan kedua tangannya. "Lihat itu, calon isterimu menangis karena haru dan bahagia!"

"Locianpwe, apa maksudmu? Saya... saya tidak..." dia bingung harus berkata apa.

Biauw In Suthai tertawa dan melihat nenek itu tertawa, Thian Liong merasa aneh sekali. Nenek yang galak dan keras seperti batu karang itu dapat juga tertawa, akan tetapi hanya mulutnya yang menyeririgai tertawa, sedangkan matanya sama sekali tidak ikut tertawa. Mata itu tetap memandang dengan sinar yang keras.

"Heh-heh-heh-hi-hi-hik. Maksudku...? Itu adalah urusan orang muda. Engkau boleh bicara sendiri dengan Kim Lan!" Setelah berkata demikian, pendeta wanita itu melangkah pergi meninggalkan Thian Liong yang masih berdiri bengong.

Sesudah nenek itu pergi, Thian Liong lantas memandang kepada gadis yang masih duduk bersimpuh sambil menangis tanpa suara itu. Kemudian dia memandang kepada gadis ke dua yang berdiri di dekat gadis yang menangis dan kebetulan sekali gadis itu juga sedang memandang kepadanya.

Gadis ini bermuka bulat telur dan tubuhnya mungil. Wajahnya sama cantik dengan gadis pertama. Bedanya, gadis yang lebih pendek ini wajahnya tidak membayangkan kekerasan seperti yang lain. Dia bahkan memandang kepada Thian Liong dengan sinar mata kagum dan lembut sambil bibirnya mengembangkan senyum. Melihat sikap ini, Thian Liong yang tidak berani bertanya kepada gadis yang menangis, lalu bertanya kepada gadis ke dua itu.

"Nona, sebenarnya apakah yang dimaksudkan oleh locianpwe tadi? Sungguh mati saya tidak mengerti sama sekali."

Gadis itu menoleh kepada gadis yang masih duduk bersimpuh dan meski pun sudah tidak menangs lagi namun masih menutupi mukanya dengan kedua tangan seperti orang yang merasa malu.

"Suci (kakak seperguruan), bolehkah aku mewakilimu menceritakan apa artinya semua ini kepada Souw-sicu?"

Gadis yang bernama Kim Lan mengangguk. Gadis mungil itu kemudian melangkah maju rnenghampiri Thian Liong dan ia berkata dengan suara merdu. "Kami berdua adalah murid Kun-lun-pai di bawah asuhan guru kami Biauw In Suthai. Ini adalah enci Kim Lan dan aku bernama Ai Yin. Ketahuilah, sicu. Ketika kami menerima pelajaran ilmu pedang Thian-lui Kiam-sut (Ilmu Pedang Kilat Guntur), kami berdua sudah disumpah oleh guru kami bahwa kami hanya boleh menikah kalau..."

"Sumoi...!" Kim Lan menegur sumoi-nya dan sekarang dia bangkit berdiri, akan tetapi tak berani menatap wajah Thian Liong, melainkan memandang wajah sumoi-nya.

"Suci, jika aku tidak menceritakan semuanya, bagaimana Souw-sicu akan dapat mengerti persoalannya? Karena dia merupakan orang yang tersangkut, tidak ada salahnya bila dia mengetahui rahasia kita."

Sejenak Kim Lan termangu-mangu, lalu melirik malu-malu ke arah Thian Liong, kemudian mengangguk dan berkata lirih, "Baik, teruskanlah."

Thian Liong merasa tidak enak. "Nona, kalau kalian mempunyai rahasia, tidak perlu kalian ceritakan padaku. Aku pun tidak ingin mendengar tentang rahasia orang lain."

"Souw-sicu, rahasia kami ini sekarang sudah melibatkan dirimu, karena itu engkau harus mendengarnya."

"Hemm, jika engkau dengan suka rela mau menceritakan kepadaku, silakan," kata Thian Liong yang sebetulnya ingin sekali tahu akan sikap 8iauw In Suthai tadi.

"Seperti kukatakan tadi, kami berdua telah disumpah oleh guru kami. Sejak itu kami tidak boleh berhubungan dengan pria, bahkan tidak boleh berdekatan. Subo (ibu guru) mungkin akan rnembunuh kami kalau melihat kami akrab dengan pria. Kami disumpah bahwa kami hanya boleh menikah kalau ada pria yang mampu mengalahkan Ilmu Pedang Kilat Guntur kami. Pria yang mampu mengalahkan kami harus menjadi suami kami. Karena itu, ketika engkau mengalahkan suci Kim Lan, berarti engkau sudah menjadi jodoh atau calon suami suci Kim Lan, Souw-sicu."

Thian Liong terbelalak, terkejut dan heran. "Akan tetapi..., bagaimana mungkin ada aturan semacam itu? Pernikahan tidak dapat dipaksakan oleh satu pihak, harus ada persetujuan dari kedua pihak. Sedangkan aku... aku sama sekali belum mempunyai keinginan bahkan belum pernah berpikir untuk menikah!"

”Akan tetapi engkau harus menerima suci Kim Lan menjadi isterimu, sicu. Harus!" kata Ai Yin. Kata terakhir itu mengandung tekanan kuat sekali.

"Harus?" Thian Liong mengerutkan alisnya yang tebal sambil memandang Ai Yin dengan sinar mata mengandung rasa penasaran. "Siapa yang mengharuskan?"

"Sumpah kami yang mengharuskan. Setelah sicu mengalahkan Ilmu Pedang Kilat Guntur, maka tidak ada pilihan lain bagi suci Kim Lan. Menurut sumpah kami, kami harus menikah dengan laki-laki yang mampu mengalahkan ilmu pedang kami!"

"Aturan gila! Sumpah macam apa itu? Bagaimana kalau laki-laki yang mengalahkan kalian itu sudah tua dan sudah beristeri?"

"Itu adalah pengecualian. Sumpah kami hanya menyangkut pria yang belum berkeluarga, tua muda tidak masuk hitungan. Kami percaya bahwa engkau belum berkeluarga, sicu."

"Hemm, aneh. Bagaimana kalau pria yang mengalahkan kalian itu tidak bersedia menikah dengan kalian?"

"Menurut sumpah kami, kalau begitu masalahnya maka kami harus membunuh lelaki itu! Jadi tidak ada pilihan lain bagi suci Kim Lan. Dia harus menikah denganmu atau jika sicu menolak, maka dia harus membunuhmu!" kata Ai Yin.

Thian Liong terkejut sekali. "Gila benar! Belum pernah aku mendengar aturan yang lebih gila dari pada ini. Aku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menikah, bagaimana mungkin aku dipaksanya? Tentu saja aku menolak untuk memenuhi aturan gila-gilaan ini. Aku tidak mau menikah dengan siapa pun!"

Tiba-tiba Kim Lan memandangnya dan berkata, suaranya mengandung kekerasan. "Kalau engkau menolak, Souw Thian Liong, berarti penghinaan yang tiada taranya bagiku. Maka aku harus membunuhmu atau engkau harus membunuhku karena engkau sudah menodai dan mencemarkan nama dan kehormatankul"

Thian Liong membelalakkan matanya. ”Aih! Apa pula ini? Aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa aku menodai dan mencemarkan kehormatanmu?"

"Memang ini sudah menjadi sumpahku. Tidak ada pilihan lain bagiku. Aku harus menjadi isterimu atau terpaksa aku akan mengadu nyawa denganmu!" Sesudah berkata demikian Kim Lan mencabut pedangnya.

"Wah, ini gila! Nona Kim Lan, engkau tidak akan memang melawan aku, dan aku bisa lari meninggalkanmu dengan mudah. Engkau tidak akan dapat mengejar atau membunuhku."

“Selama masih hidup aku akan terus mencarimu, sambil memperdalam ilmuku dan selalu berusaha untuk membunuhmu!" kata Kim Lan.

"Dan aku akan membantu suci untuk membunuhmu!" kata pula Ai Yin sambil mencabut pedangnya.

"Wah-wah, kalian ini sudah tidak waras lagi. Nona-nona, kalian adalah orang-orang muda, bagaimana kalian berpendirian begini kolot? Perjodohan hanya ditentukan oleh cinta atau kesepakatan kedua pihak, sama sekali tidak boleh main paksa."

"Kita diikat oleh sumpah!" jawab kedua orang gadis cantik itu berbareng.

"Lalu bagaimana jika engkau tetap gagal dalam usahamu untuk membunuhku, nona Kim Lan?" Thian Liong bertanya.

"Kalau selalu tetap gagal, tidak ada jalan lain bagiku kecuali membunuh diri atau dibunuh guruku."

"Gila...!” Thian Liong berteriak. "Kalian gadis-gadis muda telah menjadi korban keganasan seorang nenek gila!"

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Biauw In Suthai sudah berada di depan Thian Liong. "Bocah she Souw! Engkau berani memakiku nenek gila? Murid-muridku memenuhi sumpahnya, berarti mereka adalah orang-orang gagah sejati yang setia kepada gurunya. Akulah yang akan membantu Kim Lan membunuhmu bila mana engkau menolak menjadi suaminya!"

"Dunia sudah miring! Kalian adalah orang-orang tidak waras!" Thian Liong berseru sambil menyambar buntalan pakaiannya dengan tangan kiri, kemudian siap membela diri dengan pedang Thian-liong-klam di tangan kanan.

"Bunuh jahanam ini" Biauw In Suthai berteriak.

Tiga orang wanita itu segera menggerakkan pedang di tangan mereka. Tampak tiga sinar kilat menyambar dengan dahsyatnya ke arah Thian Liong. Ketiga pedang itu menyambar demikian cepat bagaikan kilat sehingga Thian Liong terpaksa membuang diri ke belakang lalu bergulingan menjauh dan cepat dia melompat bangkit kembali.

Melihat tiga orang wanita itu sudah hendak menerjangnya kembali dengan pedang diputar di atas kepala, Thian Liong cepat menyimpan pedangnya lalu mengerahkan tenaga sakti, mendorong ke arah mereka dengan kedua telapak tangan.

"Wuuutttt...!"

Angin yang sangat kuat menerpa tiga orang wanita itu. Mereka merasa terkejut sekali dan berusaha menahan, tetapi mereka tidak kuat sehingga tetap saja tubuh mereka terdorong angin lantas terhuyung-huyung ke belakang. Bahkan Ai Yin yang agaknya paling lemah di antara mereka bertiga, terguling roboh. Walau pun mereka tidak terluka, namun mereka terkejut bukan main dan ketika mereka memandang ke depan, ternyata pemuda itu telah menghilang dari situ.

Melihat itu, Kim Lan menjatuhkan diri berlutut di hadapan kaki subo-nya sambil menangis. "Subo, teecu (murid) ditolak oleh seorang laki-laki dan teecu tidak mampu membunuhnya. Silakan subo menghukum dan membunuh teecu, teecu pasrah..."

Biauw In Su-thai menghela napas panjang, tangan kanannya masih memegang pedang. Pada saat itu, Ai Yin yang mencinta suci-nya juga ikut berlutut di hadapan kaki Biauw In Suthai, lalu berkata,

"Subo, suci tidak bersalah. Dia sudah berusaha membunuh Souw Thian Liong, bahkan teecu dan subo sendiri juga sudah membantunya. Namun, orang itu terlalu tangguh."

"Hemm, menurut sumpahmu sendiri, laki-laki itu adalah jodohmu dan kalau dia menolak, engkau harus berusaha untuk membunuhnya. Pergilah dan usahakan agar engkau dapat membunuh dia. Jangan sekali-kali engkau berani kembali menghadapku di sini sebelum engkau berhasil membunuhnya!" kata nenek itu, kemudian sambil mendengus marah dia memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.

Dalam keadaan masih terisak Kim Lan menghapus air matanya. Mukanya menjadi pucat dan dia memandang wajah sumoi-nya dengan sedih.

"Sumoi, selamat tinggal. Aku hendak pergi dan berusaha memenuhi sumpahku, sampai aku berhasil atau mati." Sesudah berkata demikian, Kim Lan membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan sumoi-nya.

"Suci, tunggu...!" Ai Yin melompat kemudian melakukan pengejaran.

Kim Lan berhenti. Mereka berdiri berhadapan. "Ada apakah, sumoi?"

"Suci, aku ikut pergi denganmu."

Kim Lan membelalakkan matanya, kemudian mengerutkan alisnya yang berbentuk indah. "Ahh, sumoi! Engkau tidak boleh! Subo akan marah sekali kepadamu."

"Biarlah, suci. Aku sudah tak tahan lagi dihantui sumpah kita itu, apa lagi setelah melihat akibatnya padamu! Aku tidak mau kelak seperti engkau, suci. Ingat, yang disumpah subo hanya kita berdua saja, karena itu aku harus membantumu dan membelamu. Bukankah engkau akan membelaku juga apa bila aku tertimpa masalah seperti engkau sekarang ini? Suci, kita berdua sudah yatim piatu, tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kita berdua sudah seperti saudara sendiri, sejak kecil selalu hidup bersama. Ahh, kalau aku tahu akan begini jadinya, tentu dulu aku tidak akan mau bersumpah, biar tidak menguasai Thian-lui Kiam-sut juga tidak mengapa."

"Sumoi...!" Kedua orang gadis itu berangkulan dan menangis.

Tak lama kemudian dua orang gadis itu sudah menuruni lereng pegunungan Kun-lun-san. Ai Yin ikut pergi bersama suci-nya untuk membantu suci-nya mencari Thian Liong, untuk membunuh pemuda itu atau kalau gagal mereka yang akan dibunuh guru mereka! Tentu saja, kecuali kalau pemuda itu mau menikahinya…..

********************

Sementara itu, dengan punggung tangan kirinya Biauw In Suthai yang berdiri di belakang sebuah batu besar mengusap kedua matanya untuk menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pelupuk matanya. Nenek yang hatinya keras seperti baja itu menangis, walau pun tak bersuara dan hanya beberapa butir air mata membasahi pelupuk matanya!

Kalau saja ketika itu ada murid Kun-lun-pai yang melihatnya, pasti mereka akan menjadi gempar dan terheran-heran. Hati Biauw In Suthai terkenal keras dan kaku, bahkan ketika dia kematian gurunya pun, tiada sebutir air mata keluar dari matanya yang selalu bersinar keras.

Akan tetapi pada saat itu, ketika tak ada orang lain menyaksikannya, dia merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk pedang dan dia tidak dapat menahan ketika beberapa butir air mata membasahi kedua matanya. Itu pun cepat-cepat dihapusnya. Dengan tubuh terasa lemah lunglai dia lantas menjatuhkan diri duduk di atas tanah berumput dan bersila. Pikirannya melayang-layang ke masa lalu.

Dia pernah muda. Lama sebelum menjadi pendeta dan tokoh besar tingkat tiga Kun-lun-pai. Dia pernah jatuh cinta. Bahkan tiga kali dia jatuh cinta! Namun ke tiga-tiganya gagal. Selalu saja dia disia-siakan, ditinggal pergi suaminya yang menikah dengan wanita lain.

Dia merasa seolah bunga layu yang dibuang setelah sari madunya dihisap habis.Dia tidak pernah memiliki anak dari tiga kali menjadi isteri orang. Mulailah dia merasa benci kepada laki-laki. Demikian mendalam rasa sakit hatinya sehingga dia memperdalam ilmu silatnya dan sesudah menjadi seorang ahli silat yang pandai, dia lalu mencari ketiga orang laki-laki bekas suaminya yang menyia-nyiakan dan membunuh mereka!

Kemudian sebagai seorang pendekar wanita dia melanglang buana dan selalu membunuh penjahat tanpa ampun. Akan tetapi yang dibunuhnya selalu kaum prial Pria yang menjadi penjahat, terutama sekali dia selalu memburu para jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa wanita) kemudian tanpa ampun membunuhnya dengan sadis!

Dia baru menghentikan kebiasaannya yang menggemparkan dunia persilatan itu sesudah berjumpa dengan Kui Beng Thaisu yang sekarang menjadi ketua umum Kun-lun-pai. Dia dikalahkan dengan mudah oleh pendeta Kun-lun-pai itu, bahkan lalu menerima bimbingan dalam ilmu silat dan juga tentang kerohanian.

Akhirnya, karena dia maju sekali, bukan saja dalam ilmu silat, melainkan juga dalam soal kerohanian sehingga dia tidak lagi berwatak ganas dan kejam, bahkan berpantang untuk sembarangan membunuh, Kui Beng Thaisu yang melihat bakat baik dari wanita ini untuk menjadi pelatih ilmu silat, lalu mengangkatnya sebagai pimpinan murid Kun-lun-pai bagian wanita, menjadi pembantu Hui In Sian-kouw yang menjadi ketua bagian murid wanita.

Kemudian Biauw In Suthai memilih dua orang gadis yatim piatu menjadi murid pribadinya, yaitu Kim Lan dan Ai Yin. Selama hampir sepuluh tahun dia mendidik dua orang gadis ini, bahkan juga menurunkan ilmu pedang Thian-lui Kiam-sut yang tak dapat diajarkan kepada sembarang murid. Untuk itu dia mengharuskan kedua orang murid ini melakukan sumpah seperti yang telah kita ketahui.

Sumpah itu menunjukkan betapa benci dia kepada kaum pria dan sesungguhnya dia tidak rela apa bila dua orang murid yang disayangnya seperti anak-anaknya sendiri itu menjadi isteri orang hanya dengan bahaya kelak akan mengalami nasib seperti dirinya, yaitu disia-siakan suami kemudian ditinggal pergi!

Kalau ada pria yang mampu mengalahkan Thian-lui Kiam-sut, berarti pria itu sakti dan hal ini bisa menguntungkan dia atau pihak Kun-lun-pai. Pria yang menjadi suami muridnya itu kelak dapat mengajarkan ilmu-ilmunya yang sudah dapat mengalahkan Thian-lui Kiam-sut sehingga mutu ilmu silat Kun-lun-pai dapat meningkat. Akan tetapi kalau pria itu menolak mengawini murid yang dikalahkannya, maka muridnya harus membunuh laki-laki itu.

Inilah jalan baginya untuk membalas dendamnya kepada kaum pria yang dibencinya! Juga untuk menguji kesetiaan dua orang murid yang dikasihinya itu. Semua ilmunya sudah dia berikan, karena itu dia menuntut agar dua orang muridnya berbakti dan setia kepadanya. Namun hati pendeta wanita itu menjadi sangat sedih ketika diam-diam dia mengintai dan melihat betapa dua orang muridnya itu pergi meninggalkannya untuk berusaha mengejar dan membunuh Souw Thian Liong.

Dendam sakit hati adalah racun jahat yang bisa merusak batin sendiri. Dendam sakit hati menimbulkan kebencian dan nafsu kebencian membuahkan kekejaman, menghilangkan prikemanusiaan karena kebencian bagaikan api, baru bisa dipadamkan dengan tindakan buas untuk mendatangkan siksaan bahkan pembunuhan terhadap orang yang dibenci.

Namun yang diderita oleh Biauw In Suthai bukan hanya dendam kebencian karena disia-siakan pria selama tiga kali saja, tapi terutama sekali dendam ini dikobarkan karena pada terakhir kalinya, yaitu ketika dia bertemu dengan pria ke empat dan dia jatuh cinta secara mendalam, pria itu tidak membalas cintanya karena mengetahui bahwa dia telah tiga kali menjadi janda! Kekecewaan ini merupakan puncak penderitaannya sebab harus diakuinya bahwa kepada pria ke empat ini dia benar-benar jatuh cinta.

Selagi Biauw In Suthai tenggelam dalam kesedihannya, tiba-tiba dia mendengar teguran suara yang lembut.

"Biauw In, ada apakah dengan engkau?”

Nenek itu terkejut bukan main. Orang datang begitu dekat di belakangnya tetapi dia tidak mengetahuinya! Hal ini menunjukkan betapa hebatnya ginkang (ilmu meringankan tubuh) orang itu. Akan tetapi ketika dia bangkit dan memutar tubuh, dia melihat bahwa di tempat itu telah berdiri seorang kekek yang jangkung kurus, berjenggot panjang, berambut putih, yang bukan lain adalah Kui Beng Thaisu sendiri, Ketua Umum Kun-lun-pai, penolong dan juga pembimbingnya.

Dia maklum bahwa kepada kakek ini dia tidak dapat menyembunyikan sesuatu. Kakek iitu sudah berada di situ, tentu telah mengetahui tentang kepergian dua orang muridnya tadi, bahkan mungkin sudah mengetahui pula tentang Souw Thian Liong! Maka dia pun segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan kakek itu dan menahan tangisnya. Saking sedihnya dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Sumoi, tenangkan batinmu dan ceritakanlah kepadaku, apa yang sudah terjadi sehingga engkau tenggelam dalam kesedihan?"

Kui Beng Thaisu adalah orang yang menyadarkan nenek itu yang dahulu masih seorang wanita muda berusia tiga puluh tahun bernama Biauw In. Juga kakek inilah yang memberi pendidikan serta bimbingan kepadanya. Akan tetapi karena pada waktu itu gurunya masih hidup dan melihat tingkat kepandaiannya yang telah tinggi, maka ketika Biauw In diterima sebagai murid Kun-lun-pai, dia menyebut sumoi (adik perempuan seperguruan) kepada Biauw In Suthai dan nenek ini menyebutnya suheng (kakak laki-laki seperguruan). Setelah guru mereka meninggal, Kui Beng Thaisu menggantikan kedudukan ketua kemudian dia mengangkat Biauw In Suthai menjadi wakil ketua bagian murid wanita.

Biauw In Suthai menenangkan hatinya. Beberapa kali ia menghirup napas panjang sambil mengheningkan cipta. Setelah merasa hatinya tenang, ia bangkit berdiri dengan perlahan-lahan.

"Mari duduk di sana dan engkau keluarkanlah semua masalah yang merisaukan hatimu, sumoi," kata kakek itu.

Biauw In Suthai mengangguk. Keduanya menghampiri sekumpulan batu tak jauh dari situ, kemudian mereka masing-masing duduk di atas sebuah batu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner