KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-16


"Maafkan kelemahanku, suheng. Semua terjadi begitu cepatnya dan dalam waktu singkat terjadi demikian banyak perubahan. Mula-mula aku melihat muncuinya seorang pemuda di depan asrama puteri para murid Kun-lun-pai. Tentu saja aku curiga kepadanya dan selain menergurnya aku juga menguji ilmu kepandaiannya karena kulihat dia memiliki ilmu berlari cepat yang hebat."

"Siancai (damai)... Kenapa engkau masih juga belum bisa melunakkan hatimu yang keras itu, sumoi?"

"Aku berniat mengujinya saja, suheng. Ternyata dia memang lihai sekali. Suci Hui In Sian-kouw kemudian datang dan melerai. Atas pertanyaan suci, pemuda itu mengaku bernama Souw Thian Liong dan dia adalah murid Tiong Lee Cin-jin."

"Murid Tiong Lee Cin-jin? Ahh, tidak aneh kalau dia lihai sekali. Akan tetapi apa keperluan murid Tiong Lee Cin-jin datang berkunjung?"

"Tadinya dia memang hendak menghadap suheng, tetapi dia tersesat ke asrama bagian puteri. Suci Hui In mewakili suheng, dan dia bercerita kepada suci bahwa dia diutus Tiong Lee Cin-jin untuk menyerahkan sebuah kitab kepada suheng. Kitab itu bukan lain adalah Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat,"

"Siancai...!" Kui Beng Thaisu berseru kagum. "Jadi Tiong Lee Cin-jin berhasil menemukan kitab pusaka kita yang sudah hilang ratusan tahun yang lalu itu dan telah mengembalikan kepada klta? Bukan main! Sungguh beliau seorang yang sakti den bijaksana sekali!"

"Akan tetapi kelanjutan ceritaku tidak begitu menyenangkan, suheng. Pemuda she Souw itu mengatakan bahwa baru saja kitab pusaka kita itu dicuri orang."

"Siancai;...! Siapa yang mencurinya?"

"Itulah, suheng, dia sendiri tidak tahu siapa pencurinya. Aku menganggap dia berbohong dan ingin menyembunyikan kitab itu. Aku sudah hendak menyerangnya dan memaksanya mengaku di mana kitab itu, akan tetapi Suci Hui In melarangku."

"Suci-mu benar, sumoi. Pemuda itu tidak mungkin menyembunyikannya. Dia telah berani datang ke sini menceritakan mengenai kehilangan kitab itu, berarti dia jujur. Apakah dia tidak mengatakan pertanggungan jawabnya atas kehilangan itu?"

"'Dia mengatakan bahwa dia akan mencari kitab itu sampai dapat."

"Nah, itu sudah cukup. Kitab pusaka itu sudah ratusan tahun lenyap. Tiba-tiba saja telah ditemukan Tiong Lee Cin-jin yang mengutus muridnya untuk mengembalikan kepada klta. Jika kitab itu dicuri orang, hal itu merupakan sebuah kecelakaan. Tiong Lee Cin-jin adalah seorang yang sakti dan bijak, tentu muridnya juga seorang yang gagah perkasa. Lalu apa yang menyebabkan engkau bersedih?"

Biauw In Suthai menduga bahwa suheng-nya tentu sudah tahu akan kepergian dua orang muridnya, bahkan mungkin tahu pula akan pertandingan tadi.

"Ketika Souw Thian Liong turun dari puncak, aku bersama Kim Lan dan Ai, Yin sengaja menghadangnya, suheng."

"Hemm, apa lagi yang kau lakukan bersama dua orang muridmu itu, sumoi?"

"Aku menantang pemuda itu untuk bertanding pedang melawan muridku Kim Lan. Muridku itu sudali dewasa, sudah berusia sembilan belas tahun, dan pemuda murid Tiong Lee Cin-jin itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, suheng. Aku yakin bahwa pemuda itu pasti mampu mengalahkan Kim Lan dan aku ingin dia menjadi jodoh Kim Lan."

Kui Beng Thaisu mengerutkan sepasang alisnya yang putih. Dia memandang sumoi-nya dengan sinar mata lembut namun penuh keheranan.

"Hemm, kalau hendak menjodohkan muridmu, mengapa harus mengadu mereka? Apakah maksudmu sebenarnya, sumoi?"

Nenek itu menundukkan mukanya. Terpaksa dia harus menceritakan rahasianya dengan kedua orang muridnya itu. Suaranya lirih ketika dia menjawab, "Ketika dua orang muridku berlatih Thian-lui Kiam-sut, mereka sudah bersumpah bahwa mereka hanya mau menikah dengan pria yang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka itu."

"Hemm, bagaimana engkau dapat menyuruh mereka bersumpah seperti itu? Bagaimana kalau pria yang mengalahkan mereka itu tidak mau menikah dengan mereka?"

Suara Biauw In Suthai semakin lirih ketika menjawab, "Kalau laki-laki yang mengalahkan mereka itu tidak mau memperistri mereka, maka mereka harus membalas penghinaan itu dengan membunuhnya!"

"Siancai...!" Kui Beng Thaisu berseru dan alisnya berkerut. "Kemudian bagaimana?"

"Kim Lan bertanding dengan Souw Thian Liong dan dia kalah. Karena pemuda itu menolak untuk berjodoh dengannya, Kim Lan kemudian menyerangnya dan hendak membunuhnya untuk memenuhi sumpahnya, akan tetapi pemuda itu melarikan diri. Kini Kim Lan dan Ai Yin..., mereka... pergi untuk mencari dan membunuh pemuda itu..."

Kui Beng Thaisu terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya sambil mengelus jenggotnya yang putih panjang. Kemudian dia mengangguk-angguk.

"Hemm…, tidak kusangka bahwa penyakit dendammu terhadap kaum pria ternyata sudah berakar dalam batinmu sehingga diam-diam sudah meracunimu. Racun itu pada akhirnya akan merusak dirimu sendiri. Buktinya sekarang telah mengorbankan dua muridmu yang kau sayang seperti anak-anakmu sendiri. Ahh, Biauw In sumoi, kiranya semua pelajaran yang sudah kuberikan kepadamu selama puluhan tahun ini hanya mampu menghilangkan kebuasanmu saja, akan tetapi tak pernah dapat melenyapkan dendammu terhadap kaum pria. Alangkah sayangnya. Aku sungguh merasa kecewa sekali, sumoi. Engkau demikian tega mengorbankan muridmu sendiri untuk melampiaskan dendam hatimu terhadap pria."

Begitu mendengar ucapan suheng-nya yang sudah dianggapnya sebagai gurunya sendiri, penolongnya dan orang yang selama kurang teblh dua puluh tahun membimbingnya, yang dikeluarkan dengan nada sedih itu, Biauw In Suthai menundukkan mukanya yang menjadi pucat dan dia menguatkan perasaannya agar jangan sampai menangis.

”Maafkan aku, suheng. Maafkan aku. Setelah kedua orang muridku itu pergi, barulah aku menyadari bahwa aku sudah membuat mereka menderita! Aku telah membuat dua orang yang kusayang seperti anak-anakku sendiri itu hidup merana. Sesungguhnya, selama ini aku sudah berusaha untuk menekan nafsu dendam kebencianku. Aku menyumpah kedua orang muridku itu hanya untuk menjaga supaya mereka berdua memperoleh suami yang memiliki ilmu tinggi, yang lebih tangguh dari pada mereka. Aku ingin mereka memperoleh suami seorang pendekar. Akan tetapi, sesudah aku mendengar bahwa Souw Thian Liong adalah murid Tiong Lee Cin-jin... ahh, aku menjadi lupa diri, terbakar oleh perasaan sakit hatiku..."

"Ehh? Apa hubungan sakit hatimu dengan Tiong Lee Cin-jin?" tanya ketua Kun-lun-pai itu dengan heran.

Sambil tetap menundukkan mukanya Biauw In Suthai menghela napas panjang, kemudian menjawab dengan suara lirih. "Tiong Lee... Bu Tiong Lee... adalah laki-laki terakhir dalam hidupku. Dialah yang sudah mengobarkan sakit hatiku terhadap tiga orang suamiku yang terdahulu seperti yang pernah kuceritakan kepada suheng..."

"Siancai...! Jadi Tiong Lee Cin-jin pada waktu beliau masih muda itukah pria yang pernah membuat engkau jatuh cinta, namun kemudian engkau kecewa dan patah hati karena dia tak membalas cintamu bahkan meninggalkanmu begitu saja? Biauw In, Biauw In! Engkau sungguh tersesat jauh sekali. Bagaimana mungkin engkau dapat mengharapkan seorang pemuda arif bijaksana seperti Tiong Lee Cin-jin untuk jatuh cinta padamu? Beliau adalah seorang yang telah menyerahkan seluruh kehidupannya untuk mengembangkan pelajaran tentang agama, tentang rohaniah, dan beliau adalah seorang manusia yang telah mampu menundukkan semua nafsu daya rendah dalam dirinya. Jadi, engkau ingin murid-muridmu dapat membunuh Souw Thian Liong karena dia itu adalah murid Tiong Lee Cin-jin, untuk melampiaskan sakit hati dan kekecewaanmu?"

"Maafkan aku, suheng. Sebenarnya bukan itu satu-satunya tujuanku. Andai kata pemuda itu menerima dan mau menjadi suami Kim Lan, maka aku berbesan murid dengan Tiong Lee Cin-jin dan ini berarti Kun-lun-pai menjadi bertambah kuat karena mendapat tambahan ilmu melalui suami Kim Lan. Tetapi pemuda itu menolak sehingga Kim Lan pergi hendak mencari dan membunuhnya, dan Ai Yin ikut suci-nya untuk membantu."

"Hemm, dorongan nafsu dendam kebencianmu sudah membuat engkau menjadi seorang wanita yang tidak berperasaan dan tidak berperi-kemanusiaan lagi, membuat engkau tega mengorbankan murid-murid sendiri, tega pula untuk menyuruh murid-muridmu membunuh orang-orang tidak berdosa. Sekarang nafsu jahatmu sudah terlaksana, engkau membuat murid-muridmu bermusuhan dengan murid Tiong Lee Cin-jin. Seharusnya engkau merasa puas dan setan dalam dirimu bersorak-sorai kegirangan, mengapa engkau malah menjadi sedih dan menangis?"

Biauw In Suthai tidak kuat bertahan lagi. Dia turun dari atas batu lantas menjatuhkan diri berlutut di hadapan batu yang diduduki Kui Beng Thaisu sambil menangis. Kini tangisnya adalah tangis asli, tangis wajar seorang wanita tua yang merasa sangat sedih dan penuh penyesalan diri, terisak-isak dengan air mata bercucuran dari kedua matanya, mengalir di sepanjang pipinya yang pucat. Seolah-olah bendungan yang dibentuk oleh kekerasan hati sejak bertahun-tahun hingga menjadi bendungan baja yang amat kuat itu tiba-tiba pecah dan wanita itu menangis sampai sesenggukan.

Beberapa lamanya Kui Beng Thaisu hanya memandang sambil mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang, mengangguk-anggukkan kepala karena diam-diam dia maklum bahwa akhirnya dia berhasil mencairkan hati yang mengeras seperti baja itu. Dia maklum bahwa tangis adalah obat yang sangat manjur bagi penyakit yang diderita sumoi-nya itu. Kalau tidak menangis bahkan akan terdapat ancaman bahaya besar bagi kesehatan wanita itu. Kehancuran perasaan sehebat itu dapat membuat dia jatuh sakit berat atau bahkan akan mendatangkan guncangan dan tekanan batin yang dapat membuat dia menjadi gila.

Biauw In Suthai sepuasnya menumpahkan segenap penyesalan serta kesedihan hatinya lewat tangisnya. Setelah hatinya terasa ringan dan tangisnya mereda, dia pun mengusap mukanya yang basah itu dengan ujung lengan bajunya yang sudah basah pula, kemudian dia berkata lirih.

"Suheng, ampunkan aku, suheng..."

"Engkau tahu bahwa engkau tidak bersalah kepadaku, sumoi. Engkau bersalah terhadap Thian (Tuhan), maka kepadanyalah engkau harus minta ampun. Akan tetapi minta ampun saja tidak akan ada gunanya, sumoi. Permohonan ampun kepada Tuhan haruslah disertai pertobatan dan tobat yang sesungguhnya bukan hanya timbul di dalam hati atau pikiran, bukan hanya terucapkan oleh mulut, melainkan harus dibuktikan di dalam tindakan, dalam perbuatan. Hati dan pikiranmu haruslah dicuci sehingga bersih dari dendam sakit hati itu dan pertobatanmu harus terbukti dengan tidak mengulangi lagi pikiran dan perbuatan yang sudah kau lakukan itu. Ini pun masih belum cukup. Kesadaranmu dan penyesalan hatimu harus dibuktikan dengan relanya engkau menerima hukuman atas segala kesalahanmu itu dalam bentuk keprihatinan. Kalau tidak maka semua penyesalanmu itu tidak ada gunanya karena akar-akar kebencian masih tetap hidup di daiam batinmu dan sewaktu-waktu bisa menumbuhkan tunas baru."

"Aku mengerti, suheng, dan sekarang aku siap menerima hukuman apa pun yang suheng berikan kepadaku."

"Baguslah kalau begitu. Mulai hari ini engkau harus tinggal di dalam pondok pengasingan selama tiga tahun!"

Biauw In Suthai menundukkan wajahnya. "Aku menerima hukuman itu dengan hati rela, suheng."

"Syukurlah kalau begitu. Nah, pergilah ke pondok pengasingan kita dan sampai bertemu kembali tiga tahun kemudian."

Biauw In Suthai memberi hormat lalu berjalan pergi mendaki puncak sambil menundukkan mukanya. Tentu saja dia mengenal pondok pengasingan itu. Merupakan sebuah pondok terpencil agak jauh di sebelah belakang kompleks bangunan Kun-lun-pai, sebuah pondok sangat sederhana dan kosong di mana seorang murid yang terhukum harus melewatkan hari-harinya dengan berprihatin dan bersemedhi, tak diperkenankan meninggalkan pondok yang sunyi itu sebelum masa hukumannya habis. Menyepi sendiri dan untuk makanannya yang sederhana, setiap pagi seorang murid bertingkat paling rendah akan mengantarkan makanan itu dan menaruhnya di depan pintu.

Kui Beng Thaisu mengikuti bayangan sumoi-nya dengan pandangan mata, kemudian dia mengelus jenggotnya dan menghela napas panjang.

"Siancai..., semoga Thian menolongnya dan membebaskannya dari segala tekanan nafsu kebencian."

********************

Thian Liong tiba di daerah Pegunungan Bu-tong-san. Karena senja telah datang, ketika dia memasuki sebuah dusun yang cukup besar dan di situ tampak sebuah rumah penginapan sederhana, dia pun memasuki rumah penginapan merangkap rumah makan itu. Tadinya dia mengira bahwa tempat itu hanya merupakan rumah makan dan dia hanya ingin makan dan bertanya-tanya di mana dia bisa mendapatkan tempat untuk bermalam. Pelayan yang menyambutnya tersenyum mendengar pertanyaannya.

"Tuan mencari tempat untuk menginap? Di sinilah tempatnya. Kami mempunyai beberapa buah kamar yang kami sewakan kepada para tamu dari luar dusun. Selain di sini tak ada tempat lain yang menyewakan kamar!"

Thian Liong menjadi girang. Dia tidak jadi memesan makanan karena hendak mandi lebih dulu, dan dia minta diantarkan ke sebuah kamar yang akan disewanya untuk malam itu. Biar pun kamar itu kecil akan tetapi ternyata bersih dan tempat tidurnya yang sederhana juga cukup bersih. Di situ ada pula kamar mandi sehingga Thian Liong segera mandi dan berganti pakaian bersih.

Dia bersiap-siap untuk keluar dari kamar menuju ke rumah makan yang berada di ruangan depan. Dia harus membawa kantung uang emas dan pedangnya, karena jika ditinggalkan di dalam kamar, ada kemungkinan barang-barang berharga itu akan lenyap dicuri orang. Dia mengikatkan pedang pada belakang punggungnya dan mengikatkan kantung emas di pinggangnya, meninggalkan buntalan pakaiannya di atas meja di dalam kamar. Pada saat itu dari luar kamarnya dia mendengar suara merdu seorang wanita yang sedang berbicara dengan pelayan yang telah menerimanya tadi.

Berdebar rasa jantung Thian Liong. Langsung dia teringat akan gadis yang dijumpainya di Kun-lun-san dahulu itu, maka segera dia membuka daun pintu kamarnya dan melangkah keluar. Hampir saja dia bertabrakan dengan seorang gadis berpakaian serba hijau. Akan tetapi dengan gerakan ringan dan gesit sekali gadis itu mengelak dengan mencondongkan tubuh ke kiri sehingga tidak terjadi tabrakan. Thian Liong sempat mencium aroma harum bunga mawar ketika gadis itu membuat gerakan menghindar.

"Ahh, maafkan aku, nona!" katanya.

Dan dia melihat bahwa gadis ini bukanlah gadis yang dijumpainya di Kun-lun-san dahulu itu. Memang keduanya sebaya, kurang lebih delapan belas tahun dan sama-sama cantik jelita. Wajah dara ini agak bulat, memiliki daya tarik yang kuat, terutama sekali sepasang matanya yang indah dengan kerling tajam memikat serta bibirnya yang menggairahkan dengan senyumnya yang semanis madu.

Dara itu memandang wajah Thian Liong yang tampan lantas dia tersenyum. Manis sekali! Thian Liong memandang, dalam hatinya merasa kagum dan juga heran bagaimana dalam sebuah dusun di kaki pegunungan itu dia dapat bertemu dengan seorang gadis seperti itu. Jelas bukan seorang gadis dusun yang sederhana.

Rambut yang hitam lebat itu digelung indah ke atas dan dihiasi setangkai bunga mawar merah. Kalung, anting-anting dan gelang emas bertabur permata menghias tubuhnya yang padat langsing. Pada punggungnya, di bawah sebuah buntalan pakaian dari kain kuning, tampak gagang sepasang pedang.

"Tidak mengapa," gadis itu berkata dengan suara merdu dan senyumnya menghias bibir yang merah basah, "masih untung kita tidak bertabrakan!"

"Maafkan," kata lagi Thian Liong, lalu dia pun melanjutkan langkahnya menuju ke depan. Dia mendengar pelayan itu berkata kepada gadis tadi.

"Inilah kamar nona," kata pelayan itu.

"Sunyi benar rumah penginapan ini," kata gadis itu.

"Hari ini memang sedang sepi sekali, nona. Tamunya hanya nona dan tuan yang hampir bertabrakan dengan nona tadi. Biasanya sangat ramai, sampai sepuluh buah karnar kami penuh semua."

"Sudah, tinggalkan aku."

"Baik, nona. Kalau nona hendak makan, silakan datang ke rumah makan kami di bagian depan bangunan ini," kata pelayan itu yang segera pergi.

Thian Liong tidak mempedulikan mereka lagi dan memasuki rumah makan sederhana itu. Dia duduk menghadapi meja, lalu memesan nasi berikut dua macam masakan sayur dan daging ayam. Untuk minumnya dia memesan air teh.

Ketika dia sedang duduk termenung menanti datangnya makanan yang dipesannya, tiba-tiba terdengar suara merdu di belakangnya. "Wah, agaknya tamunya hanya klta berdua! Bagaimana kalau aku juga makan di meja ini? Agar ada teman bercakap-cakap."

Thian Liong menoleh lantas bangkit berdiri ketika melihat bahwa yang bicara adalah gadis tadi. Buntalannya sudah tidak tampak, tentu ditinggalkan di dalam kamar seperti yang dia lakukan. Siang-kiam (sepasang pedang) itu sekarang tergantung pada pungungnya dan di pinggangnya terikat beberapa buah kantung kain. Pakaiannya yang serba hijau itu terlihat bersih dan terbuat dari sutera yang halus. Bunga mawar merah di rambutnya serasi sekali dengan pakaiannya yang hijau.

Thian Liong tercengang keheranan mendengar gadis itu hendak duduk semeja dengannya untuk makan dan bercakap-cakap. Dari sikap yang berani dan tidak malu-malu ini dia bisa mengambil kesimpulan bahwa gadis ini seorang wanita yang biasa melakukan perjalanan di dunia persilatan. Seorang gadis yang sikapnya terbuka dan tidak terikat dengan segala macam peraturan dan peradatan.

"Ohh, silakan, nona. Silakan!"

Gadis itu tampak girang sekali. Dia menarik sebuah kursi lalu duduk berhadapan dengan Thian Liong, terhalang meja yang tidak berapa besar sehingga mereka saling berhadapan dalam jarak dekat, hanya satu meter lebih. Berdebar juga rasa jantung dalam dada Thian Liong.

Gadis itu begitu dekat dengannya dan kembali hidungnya menangkap keharuman bunga mawar. Bagaimana mungkin setangkai bunga mawar yang menghias kepala gadis itu bisa menaburkan keharuman demikian semerbak? Gadis itu menggapaikan tangan memanggil pelayan yang segera datang menghampiri.

"Aku memesan makanan yang sama dengan yang dipesan tuan ini. Jangan lupa sediakan juga seguci kecil anggur yang paling baik."

Pelayan itu mengangguk kemudian pergi meninggalkan mereka.

"Akan tetapi aku hanya memesan minuman air teh, nona."

Gadis itu mengerling dengan matanya yang indah. Kerling tajam memikat disertai senyum manis, alisnya bergerak tanda keheranan. "Akan tetapi mengapa? Hawanya begini dingin, sebaiknya minum arak atau anggur yang dapat menghangatkan badan."

"Aku... aku tidak pernah minum arak."

Sepasang alis itu sekarang bergerak naik bersama kedua matanya yang terbelalak lebar. "Sungguh aneh! Baru sekarang aku mendengar seorang laki-laki tak pernah minum arak! Padahal melihat engkau membawa sebatang pedang di punggungmu, semestinya engkau adalah seorang kang-ouw (dunia persilatan) yang tidak asing dengan arak atau anggur."

Thian Liong tersenyum. "Arak dapat membuat orang mabok dan mabok membuat orang kehilangan akal dan pertimbangan sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang tidak baik."

"Hi-hi-hik!" Gadis itu tertawa, tawanya lepas sehingga kedua bibir itu merekah. Tampaklah deretan gigi yang sangat rapi dan putih bersih. "Orang minum arak tentu saja harus dapat menyesuaikan dengan kekuatan minumnya sehingga takkan sampai mabok. Aku sendiri belum pernah mabok selama hidupku, beberapa banyak pun arak yang kuminum!"

"Silakan nona kalau hendak minum anggur, bagiku cukup air teh hangat saja!" kata Thian Liong yang tidak ingin mencela kebiasaan minum arak gadis itu.

Beberapa lamanya mereka hanya duduk menanti datangnya makanan yang dipesan, tidak bicara apa pun, Gadis itu mengamati wajah Thian Liong dengan penuh perhatian dan dia melakukan itu tanpa pura-pura tetapi dengan terang-terangan.

Pada lain pihak, Thian Liong yang tahu bahwa gadis itu memandangnya penuh perhatian, menjadi salah tingkah. Dia selalu mengelak untuk beradu pandang dan secara diam-diam memperhatikan bajunya, apakah ada yang tidak beres dengan pakaiannya itu. Dia merasa rikuh, canggung dan tidak enak diamati seperti itu. Maka dia segera menghela napas lega ketika pelayan datang membawa pesanan nasi dan masakan untuk mereka.

Melihat bahwa yang dipesan pemuda itu hanyalah nasi serta dua macam masakan sayur dan daging ayam, gadis itu mengerutkan alisnya.

"Hanya ini?" .tegurnya kepada pelayan.

"itulah yang dipesan oleh tuan ini, nona," kata pelayan.

"Hayo cepat tambah masakan ikan sirip kuning saus tomat, kepiting goreng telur, goreng burung dara, udang masak jamur. Cepat, berapa pun akan kubayar!"

Pelayan itu memandang bodoh. "Wah, pesanan nona terlalu mewah. Di dusun macam ini mana ada udang dan kepiting? Ikan sirip kuning pun tidak ada, yang ada hanya ikan lee-hi biasa. Burung dara juga tidak ada, adanya ayam atau bebek."

"Wah, brengsek! Ya sudah, cepat sediakan segala macam masakan yang tersedia di sini! Ikan lee-hi, ayam dan bebek, apa saja. Cepat!"

"Baik, nona." Pelayan itu cepat mengundurkan diri untuk menyampaikan pesan itu kepada tukang masak.

Melihat semua itu Thian Liong tersenyum, kemudian berkata, "Mari, nona, Silakan makan selagi sayurnya masih panas."

”Ya, akan tetapi makannya perlahan-lahan saja sambil menunggu masakan lain yang baru kupesan."

"Bagiku yang ini saja sudah cukup," kata Thian Liong sambil mengambil sepasang sumpit bambu yang disediakan di atas meja.

Gadis itu juga memilih sepasang sumpit dengan hati-hati, mencari yang bersih, kemudian dia berkata. "Tapi aku sudah memesan masakan-masakan lain untuk kita berdua!"

Thian Liong tidak menjawab, akan tetapi di dalam hatinya dia merasa tidak enak juga bila tidak ikut makan begitu banyak masakan yang sudah dipesan oleh gadis itu. Agar jangan sampai mengecewakan hati gadis itu yang agaknya hendak menjamunya, dia pun makan secara perlahan dan sedikit-sedikit untuk menanti masakan-masakan baru yang dipesan.

Gadis itu minum anggur dengan lahap. Dia menuangkan anggur ke dalam cawannya lalu minum minuman keras itu seperti minum air saja. Beberapa kali dia menawarkan kepada Thian Liong, namun pemuda itu selalu menolak dengan lembut dan mengucapkan terima kasih. Bau anggur yang harum sedap itu memang merangsang seleranya, akan tetapi dia tak mau mencoba-coba. Gurunya, Tiong Lee Cin-jin, pernah mengatakan bahwa minuman keras itu amat berbahaya karena dapat membuat orang ketagihan dan menjadi pemabok.

Seolah dapat mendengar suara hatinya, tiba-tiba gadis itu berkata. "Anggur ini merupakan minuman yang menyehatkan, asal saja peminumnya mengenal batas kekuatannya. Kalau melampaui batas kekuatannya, memang dapat menjadi racun. Bahkan semua obat yang menyembuhkan sekali pun, kalau terlalu banyak diminum maka dapat menjadi racun yang membahayakan kesehatan!"

Masakan-masakan yang dipesan diantar datang dan gadis itu mempersilakan Thian Liong makan masakan baru itu. Setelah menghabiskan setengah guci anggur, gadis itu menjadi semakin akrab dan hangat.

Dia kembali minum anggur dari cawannya sambil menatap wajah pemuda yang duduk di depannya. Setelah mengusap bibirnya dengan sehelai sapu tangan dia lalu berkata,

"Sungguh aneh sekali keadaan kita berdua ini. Tinggal di bawah satu atap, bahkan makan bersama di satu meja, tapi kita belum mengenal nama masing-masing! Bukankah ini aneh sekali? Kalau ada orang melihat kita lantas mendengar bahwa kita tidak saling mengenal, pasti dia tidak percaya!"

Thian Liong menghabiskan makanan terakhir dalam mulutnya lalu minum air tehnya dan mengusap bibirnya dengan ujung lengan bajunya. Dia maklum akan apa yang terkandung di dalam ucapan gadis itu, maka dia lalu memperkenalkan namanya.

"Namaku Souw Thian Liong, seorang yatim piatu yang sedang mengembara."

"Souw Thian Liong? Namamu sungguh gagah, segagah orangnya! Engkau tentu lebih tua beberapa tahun dari aku, maka aku akan menyebutmu Liong-ko (kakak Liong). Engkau tidak berkeberatan, bukan?"

Thian Liong tersenyum. "Tentu saja tidak."

"Engkau datang dari mana, Liong-ko? Di mana tempat tinggalmu dan kalau engkau yatim piatu, siapa saja keluargamu? Engkau sudah berkeluarga, beristeri dan mempunyai anak, bukan? Dan sekarang hendak pergi ke mana?"

Diberondong pertanyaan itu, Thian Liong tersenyum. Gadis ini amat lincah, mengingatkan dia akan gadis yang dulu dijumpainya di Kun-lun-san. Akan tetapi gadis berpakaian serba merah muda itu galaknya bukan alang kepalang, sedangkan gadis berpakaian serba hijau dengan setangkai bunga mawar di kepalanya ini tampaknya lebih ramah dan tidak galak.

"Wah, hujan pertanyaanmu itu harus kujawab satu demi satu. Tentang keluarga, kini aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Aku hidup sebatang kara, tentu saja belum mempunyai isteri atau anak. Tempat tinggalku? Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Dunia ini tempat tinggalku, langit atap rumahku dan bumi lantainya! Dari mana aku datang dan hendak pergi ke mana? Yah, katakan saja datang dari belakang dan hendak pergi ke depan."

"Hi-hik engkau lucu sekali, Liong-ko! Burung mempunyai sarang, ular mempunyai lubang, harimau mempunyai goa, semua makhluk memiliki tempat tinggal. Maaa engkau seorang manusia tidak? Hari ini engkau berada di kaki pegunungan Bu-tong-san, tentu mempunyai tujuan. Sebenarnya engkau hendak ke mana?"

Thian Liong teringat akan gadis yang dia duga sudah mengambil kitab pusaka milik Kun-lun-pai. Dia harus berhati-hati. Dia belum mengenal siapa gadis ini sesungguhnya. Siapa tahu diam-diam gadis ini berniat hendak merampas dua buah kitab yang masih berada di dalam kantung emas yang tergantung pada pinggangnya. Maka dia tidak menjawab dan mengalihkan perhatian.

"Ahh, engkau tidak adil, nona. Engkau sudah menghujaniku dengan pertanyaan dan aku sudah memperkenalkan diri. Akan tetapi engkau belum memperkenalkan dirimu sehingga namamu pun aku belum tahu."

"Hemmm, engkau ingin mengenal namaku? Aku bernama Thio Siang In dan karena aku menyebutmu Liong-ko, maka engkau boleh menyebutku In-moi (adik In)."

"Thio Siang In? Wah, namamu sungguh indah, seindah... orangnya!" Thian Liong sengaja membalas untuk menyenangkan hati gadis itu dan untuk menyimpangkan perhatian agar gadis itu tidak banyak bertanya tentang dirinya.

Gadis itu tersenyum dan matanya yang indah mengerling tajam. "Ahh, ternyata engkau seorang yang pandai pula merayu, Liong-ko."

"Tidak, In-moi. Aku hanya bicara sejujurnya. Lalu di manakah tempat tinggalmu dan siapa keluargamu? Ceritakanlah selengkapnya tentang dirimu."

"Engkau benar hendak mendengar dan mengetahuinya?"

"Benar-benar, In-moi. Bukankah kita telah berkenalan dan menjadi sahabat?"

"Baiklah. Aku berusia delapan belas tahun... dan engkau ..."

"Aku berusia dua puluh tahun," sambung Thian Liong.

"Tepat seperti dugaanku. Engkau tentu lebih tua dari aku. Aku tinggal di sebuah dusun di Sin-kiang, bersama ibu kandungku seorang puteri Kepala Suku Uigur. Ada pun ayahku... ayahku... entahlah, kata ibu ayahku telah lama pergi saat aku masih dalam kandungan... Ahh, heran sekali!" Tiba-tiba gadis itu bangkit berdiri lalu memandang kepada Thian Liong dengan mata terbelalak.

"He, kenapa?" Thian Liong bertanya heran.

"Heran sekali! Mengapa bisa begini aneh? Ibu memesan agar aku merahasiakan tentang ayahku, akan tetapi tiba-tiba saja aku menceritakannyai kepadamu!"

"Kalau tidak kau ceritakan juga tidak mengapa. Tapi bagaimana pun juga aku tidak suka mendengar seorang suami meninggalkan isterinya begitu saja selagi anaknya berada di dalam kandungan!"

"Tidak! Engkau salah sangka! Ayah kandungku itu pergi karena terpaksa. Menurut cerita ibuku, kalau ayahku tidak pergi melarikan diri maka dia dan ibuku tentu akan mati."

"Ehh! Kenapa begitu?"

Siang In menghela napas panjang, lantas memandang wajah Thian Liong dengan heran. "Sungguh mati aku tak tahu kenapa aku mau menceritakan semua rahasia ini kepadamu yang baru saja kukenal. Liong-ko, kau tak perlu tahu segalanya, cukup kalau kau ketahui bahwa ibuku adalah seorang puteri bangsa Uigur dan ayahku adalah orang Han. Nah, aku tinggal bersama ibuku dan aku menjadi murid dari paman tua (uwa), kakak ibuku sendiri. Biar pun aku masih mempunyai seorang ibu, akan tetapi pada saat ini aku juga sebatang kara karena sejak setahun yang lalu aku pergi merantau meninggalkan kampung halaman di Sin-kiang. Jadi kita memiliki persamaan, sama-sama perantau, beratap langit berlantai bumi."

Gadis ini tertawa lepas sehingga mau tak mau Thian Liong ikut pula tertawa karena tawa yang wajar terbuka dan mengandung getaran gembira seperti ini amat mudah menular…..!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner