KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-17


Tiba-tiba ada sinar menyambar ke arah mereka. Thian Liong dapat melihat dengan jelas bahwa benda berkilat itu meluncur dan menyambar ke arah meja di hadapan mereka. Dia merasa yakin sekali bahwa benda yang ternyata sebatang hui-to (pisau terbang) kecil itu tidak mengarah tubuh mereka, melainkan menuju ke arah meja. Akan tetapi Thio Siang In sudah menggunakan sepasang sumpit di tangan kanannya untuk menjepit pisau terbang itu!


Gerakannya demikian cepat sehingga Thian Liong merasa kagum bukan kepalang. Gadis peranakan Uigur ini ternyata mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi dan memiliki tenaga dalam yang amat kuat. Kalau tidak demikian, tidak mungkin dia mampu menangkap pisau terbang itu hanya dengan jepitan sepasang sumpitnya.

Dengan tenang Siang In mengambil sehelai kertas yang tertancap di pisau itu, kemudian dengan tangan kiri melempar pisau itu ke atas. Matanya hanya sedikit mengerling ketika dia menggerakkan tangan kirinya itu.

"Wuuuttt...! Capppp!"

Pisau kecil itu terbang meluncur ke atas lantas menancap di tiang kayu, tepat mengenai perut seekor cecak yang sedang merayap pada tiang itu sehingga tubuh cecak itu terpaku di tiang!

Thian Liong memejamkan matanya, merasa ngeri melihat perut cecak yang tertusuk pisau dan terpantek pada tiang itu. Walau pun yang terbunuh itu hanya seekor cecak, tetapi dia merasa ngeri melihat kekejaman dara cantik ini yang dapat begitu tega membunuh seekor cecak yang tidak bersalah apa-apa.

Ketika Thian Liong membuka matanya dan memandang kepada Siang In, nampak gadis itu sedang tersenyum mengejek sambil melemparkan kertas itu ke atas meja.

'Hemm, orang-orang Bu-tong-pai sombong! Mereka kira aku gentar menghadapi Thai-kek Sin-kiam mereka?" Ketika ia melihat Thian Liong memandang ke arah kertas di atas meja itu, Siang In lalu berkata. "Bacalah, tidak ada rahasia. Bahkan kalau engkau mau, engkau boleh ikut dan menjadi saksiku."

Biar pun kejadian itu amat menarik hati Thian Liong, dia tidak akan berani membaca surat yang dikirim secara istimewa itu, tidak mau mencampuri urusan pribadi orang kalau saja gadis itu tidak menyuruhnya membaca. Dia pun mengambil kertas putih itu lalu membaca tulisan yang bergaya gagah itu. Thian Liong bisa menduga bahwa penulis surat ini sengaja memamerkan tenaga dalamnya melalui tulisannya sehingga gaya tulisannya sangat kuat, coretan-coretan itu tajam dan runcing sehingga tampak indah dan gagah.

Ang-hwa Sian-li,

Kami tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Apa bila engkau berani, datanglah besok pagi-pagi di hutan cemara sebelah utara dusun ini dan kita mengadu kepandaian. Kalau engkau tidak datang, berarti engkau hanya seorang pengecut!

Bu-tong-pai


Sesudah membaca surat itu, Thian Liong memandang wajah Siang In lalu bertanya, "In-moi, siapakah itu Ang-hwa Sian-li?"

Siang In tersenyum sambil menggunakan tangan kirinya untuk menyentuh bunga mawar merah di kepalanya. Thian Liong memandang ke arah bunga itu, kemudian mengertilah dia mengapa Siang In mempunyai julukan Ang-hwa Sian-li (Dewi Bunga Merah). Memang dara itu cantik jelita seperti gambar dewi dan agaknya selalu menghias rambutnya dengan setangkai bunga mawar merah.

"Akulah yang dimaksudkan. Aku jarang memperkenalkan namaku yang sebenarnya, dan selama ini baru kepadamulah aku memberitahukan namaku, karena itu orang-orang yang pernah berurusan denganku menyebutku Ang-hwa Sian-li."

Thian Liong mengambil kesimpulan. "In-moi, kalau orang-orang menyebutmu Dewi Bunga Merah, hal itu tentu karena engkau telah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik untuk menolong orang lain. Sebutan Dewi itu merupakan pujian. Kalau engkau suka melakukan kejahatan, tentu akan diberi julukan Iblis atau Siluman."

Gadis itu tersenyum. "Terima kasih kalau engkau berpendapat begitu, Liong-ko. Aku tidak tahu apakah aku ini orang yang jahat atau baik. Yang jelas, bila ada orang lemah tertindas membutuhkan pertolongan, maka aku pasti akan menolongnya. Sebaliknya jika ada orang hendak mengandalkan kekuasaan dan kekuatannya untuk menindas orang lain, pasti aku akan menentangnya dan tidak akan segan untuk membunuh dan membasmi mereka!"

Thian Liong dapat menduga bahwa Ang-hwa Sian-li ini tentulah seorang gadis berwatak pendekar. "Akan tetapi kenapa pihak Bu-tong-pai memusuhi dan menantangmu? Menurut apa yang kudengar, Bu-tong-pai adalah perguruan silat kaum pendekar. Padahal engkau sendiri, menurut perkiraanku, adalah seorang pendekar wanita."

"Aku tidak tahu apakah aku adalah seorang pendekar atau bukan dan aku pun tak peduli apakah Bu-tong-pai adalah perguruan silat kaum pendekar atau bukan. Akan tetapi yang kutahu, ada orang-orang Bu-tong-pai yang amat sombong dan karenanya aku menentang mereka. Sesudah aku mengalahkan mereka, agaknya mereka merasa penasaran lantas mengirim surat tantangan ini. Huh, tidak tahu malu!" Gadis itu mengambil cawannya yang diisi penuh anggur lalu meminumnya.

Thian Liong berpikir sejenak. Memang tidak semua pendekar selalu bersikap baik. Tentu ada pula yang kasar dan ada pula yang tinggi hati dan sombong. Dia teringat akan sikap Biauw In Suthai, tokoh Kun-lun-pai itu.

Seperti halnya Bu-tong-pai, Kun-lun-pai juga dikenal sebagai sebuah perguruan silat kaum pendekar. Mungkin karena itu maka gurunya mau bersusah payah mendapatkan kembali kitab-kitab mereka dan mengembalikannya kepada mereka. Akan tetapi ternyata Biauw In Suthai juga tidak bersikap baik, melainkan galak dan angkuh bukan main.

"In-moi, maukah engkau menceritakan kepadaku sebab-sebab pertentangan itu? Apakah yang telah terjadi?"

Gadis itu meletakkan cawan yang telah kosong ke atas meja. Kedua pipinya kemerahan, tanda bahwa minuman itu sudah mulai mempengaruhinya. "Sungguh aku merasa sangat heran, mengapa terhadapmu aku seakan tidak dapat merahasiakan sesuatu. Aku bahkan ingin menceritakan segalanya kepadamu. Terjadinya siang tadi, di sebuah lereng." Siang In lalu menceritakan pengalamannya.

Pada siang hari itu, Thio Siang In yang sedang melakukan perjalanan perantauannya dari Sin-kiang menuju ke timur, tiba di luar sebuah dusun pada sebuah lereng pegunungan Bu-tong-san. Telah setahun lebih ia meninggalkan rumah ibunya di Sin-kiang untuk merantau dan di sepanjang jalan ia selalu membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang.

Karena kelihaiannya, sepak terjang Thio Siang In telah menggegerkan dunia kang-ouw di sebelah barat dan orang-orang yang tidak pernah mendengar dia memperkenalkan nama, lantas memberi julukan Ang-hwa Sian-li kepadanya karena gadis jelita dan gagah perkasa ini selalu memakai setangkai bunga merah pada rambutnya. Sesudah mendengar julukan ini, Siang In menerimanya, bahkan ketika memang diperlukan dia selalu memperkenalkan diri sebagai Ang-hwa Sian-li!

Selagi dia berjalan santai di lereng itu dan tiba di luar sebuah dusun, dia melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berlutut sambil menangis minta-minta ampun kepada dua orang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh lima tahun dan kelihatan gagah perkasa.

"Ampun, taihiap (pendekar besar)... Ampunkanlah saya...! Semua ini saya lakukan karena terpaksa... saya harus membiayai anak saya yang sedang sakit parah...”

"Alasan saja! Dasar pencuri hina!" bentak salah seorang di antara dua pemuda itu, yang bertubuh tinggi besar, kemudian sekali kakinya menendang, orang yang berlutut itu lantas terpental dan bergulingan.

"Aduh… ampun..., biarlah saya kembalikan semua ini..." Laki-laki itu cepat mengeluarkan beberapa buah benda terbuat dari perak, yaitu cawan, piring serta alat-alat sembahyang. "Ini saya kembalikan semua, tetapi ampunilah saya..." kembali orang itu berlutut, merintih dan mulutnya mengeluarkan darah.

Pemuda ke dua yang tubuhnya tinggi kurus melangkah maju menghampiri. “Heiii, pencuri busuk! Tidak mengenal budi! Sesudah bertahun-tahun kami beri makan dan upah, masih juga mencuri dan mencoba minggat! Orang semacam engkau ini harus dihajar!" Dia telah mengangkat tangan kanannya untuk memukul.

Siarig In yang melihat semua ini membentak nyaring, "Tahan! Jangan pukul!"

Pemuda tinggi kurus itu menahan pukulannya dan segera memutar tubuhnya. Begitu pula pemuda tinggi besar itu yang segera menoleh. Keduanya memandang lantas tercengang setelah melihat seorang gadis cantik sekali berdiri di situ.

Siang In adalah seorang gadis yang cantik jelita, maka tidak aneh kedua orang pemuda itu terpesona dan sikap mereka berubah sama sekali. Kalau tadi mereka kelihatan galak, kini keduanya tersenyum sambil menghampiri Siang In.

Siang In memandang kepada dua orang pemuda yang menghampirinya itu dengan alis berkerut. Setelah dua orang itu berhadapan dengannya, Siang In menegur dengan ketus.

"Lagak kalian ini seperti orang-orang gagah, membawa pedang dan berpakaian layaknya kaum pendekar! Akan tetapi yang kulihat ternyata kalian hanyalah orang-orang yang suka mempergunakan kekuatan untuk menindas dan menghina yang lemah!"

Pemuda tinggi besar itu segera mengangkat dua tangan ke depan dada memberi hormat, diturut oleh pemuda tinggi kurus. "Maaf, nona. Agaknya engkau telah salah paham. Kami berdua adalah pendekar-pendekar yang selalu menentang para penjahat. Orang ini adalah seorang maling jahat, seorang yang tidak mengenal budi. Selama beberapa tahun ini dia menjadi tukang kebun perguruan kami, diberi upah dan makan, akan tetapi apa yang dia lakukan? Dia minggat sambil membawa lari alat-alat sembahyang yang terbuat dari perak. Karena itu kami menghajarnya!"

Siang In mencibirkan bibirnya yang merah. "Huh, mengaku pendekar tapi memukuli orang yang lemah! Pendekar macam apa itu? Aku tadi mendengar sendiri bahwa dia melakukan pencurian itu karena terpaksa, untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit. Sebagai pendekar sepantasnya kalian menolongnya, bukan memukulinya. Tak tahu malu!"

"Nona!" Pemuda tinggi kurus memprotes. "Kami adalah murid-murid Bu-tong-pai'"

"Aku tidak peduli kalian ini murid-murid Bu-tong-pai atau murid perguruan mana pun juga. Kalau jahat dan sewenang-wenang tentu akan kutentang!"

"Nona, dia itu pencuri! Apa engkau hendak membela pencuri?" tanya yang bertubuh tinggi besar. Pemuda ini tampak mulai marah. Kehormatannya tersinggung sebab gadis itu tidak menghargai Bu-tong-pai sehingga kekagumannya akan kecantikan gadis itu mulai pudar, terusir oleh kemarahan.

"Bagiku dia adalah orang lemah yang tertindas dan sebaliknya kalian adalah orang-orang kuat yang sewenang-wenang! Aku pasti membelanya dan menentang kalian!"

"Nona, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami murid-murid Bu-tong-pai?" bentak yang tmggi kurus.

Siang In terseyum mengejek. "Orang menyebutku Ang-hwa Sian-li. Cepatlah kalian pergi dari sini dan tinggalkan orang itu kalau kalian tidak ingin kuhajar!"

"Engkau gadis usil, suka mencampuri urusan orang lain dan sangat sombong! Kalau aku hendak memukuli pencuri itu, engkau mau apa?" bentak pula si tinggi kurus dan dia telah melompat ke depan lantas tangannya terayun memukul ke arah tukang kebun itu.

"Dukk!"

Lengannya tertangkis oleh lengan Siang In. Lengan yang mungil berkulit halus dari gadis itu ternyata mengandung tenaga sinkang yang kuat sehingga pemuda tinggi kurus merasa tulang lengannya seperti patah dan terasa nyeri sekali. Dia menjadi marah.

"Berani engkau melawan aku?"

"Mengapa tidak?" Siang In mengejek. "Biar ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak akan takut!"

"Kami orang-orang Bu-tong-pai bukan kaum pengecut yang suka main keroyok! Sambut seranganku!" pemuda tinggi kurus itu membentak.

Dia segera menyerang dengan dahsyat, dua tangannya bergerak hampir berbareng, susul menyusul, yang kiri menyambar pelipis kanan Siang In dan yang kanan menonjok ke arah perutnya! Serangan ini dahsyat sekali, datangnya cepat dan menimbulkan angin pukulan kuat.

Namun Siang In tenang saja menghadapi serangan dua tangan lawan itu. Dengan tangan kirinya dia menangkis tonjokan ke arah perutnya, sambil tangan kanannya menyambar ke atas dengan jari terbuka, menyambut tangan kiri pemuda itu dengan tebasan dari bawah ke arah pergelangan tangan.

Pemuda itu sangat terkejut. Tangan kanannya yang menonjok ke perut kembali bertemu lengan yang terasa keras seperti baja, bahkan lengan kirinya yang menyerang pelipis kini terancam oleh tebasan tangan lawan. Cepat dia menarik kembali tangan kirinya dan kaki kanannya menendang. Dengan kecepatan kilat kaki itu mencuat ke arah dada Siang In.

Gadis itu memiringkan lalu memutar tubuh dan ketika kaki menyambar lewat, didorongnya tumit kaki itu dengan tangan kirinya. Demikian kuat dorongan itu hingga pemuda itu tidak dapat menahan dirinya. Tubuhnya segera melayang ke depan akibat terbawa oleh tenaga tendangannya sendiri ditambah tenaga dorongan Siang In. Untung pemuda ini masih bisa melakukan gerakan pok-sai (salto) sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting.

Sesudah dua kali lengannya tertangkis sehingga terasa nyeri sekali dan hampir saja tadi dia roboh terbanting, pemuda tinggi kurus itu mulai terbuka matanya bahwa gadis cantik itu lihai bukan main. Temannya, pemuda tinggi besar, agaknya juga dapat melihat hal ini maka dia pun melompat ke depan sambil berseru kepada pemuda tinggi kurus.

"Sute (adik seperguruan), mundurlah dan biar aku yang menghadapi perempuan sombong ini!" Melihat suheng-nya maju, pemuda tinggi kurus lalu melangkah mundur.

Si Pemuda tinggi besar melangkah maju dan mencabut pedangnya. Tampak sinar berkilat ketika pedang dicabut, lantas pemuda tinggi besar itu berkata, "Nona, sute-ku telah kalah bertanding tangan kosong denganmu. Sekarang aku menantangmu untuk mengadu ilmu pedang, tentu saja kalau engkau berani."

Siang In mencibirkan bibir. "Bocah Bu-tong-pai sombong! Aku pernah mendengar bahwa Bu-tong-pai terkenal dengan ilmu pedangnya Thai-kek Sin kiam! Tetapi aku tidak takut." Setelah berkata demikian, dua tangan gadis itu bergerak ke arah belakang punggung lalu tampaklah dua sinar pedang berkelebat ketika dia sudah mencabut sepasang pedangnya yang tergantung pada punggungnya, tertindih oleh buntalan pakaian. Sepasang pedang itu kecil dan panjang, tampaknya ringan sekali akan tetapi ketika dicabutnya terdengar bunyi berdesing nyaring.

Melihat gadis itu telah siap dengan siang-kiam (sepasang pedang) pada kedua tangannya, pemuda tinggi besar itu membentak, "Sambut pedangku!"

Kemudian dia segera menyerang dengan cepat dan dahsyat, Siang In menangkis pedang yang menyambar ke arah lehernya itu.

"Cringgg...!"

Tampak bunga api berpijar dan pemuda itu segera memutar pedangnya untuk mendesak lawan dengan serangkaian serangannya. Kini pedang di tangannya berubah menjadi sinar bergulung gulung.

Namun dengan tenang sekali Siang In menyambut serangan itu. Gerakan dua pedangnya membentuk dua lingkaran sinar yang dapat menghadang dan menangkis semua serangan lawannya. Dara itu telah memainkan Toat-beng Siang-kiam (Pedang Pasangan Pencabut Nyawa) yang amat hebat. Dari dua lingkaran sinar kuning itu terkadang tampak sinar kilat mencuat dan menyambar-nyambar.

Melihat ini, pemuda tinggi besar itu terkejut bukan main dan sebentar saja, dalam belasan jurus kemudian, dia sudah terdesak hebat sehingga kini hanya mampu memutar pedang melindungi dirinya tetapi sama sekali tidak dapat balas menyerang.

"Haiiiittt...!"

Tiba-tiba gadis itu membentak nyaring. Dua lingkaran sinar pedangnya membuat gerakan menggunting.

"Tranggg...! Trakkk!"

Pemuda tinggi besar itu terkejut bukan kepalang karena pedangnya sudah digunting oleh kedua pedang lawan sehingga patah menjadi dua potong! Sebelum rasa kagetnya hilang, kaki Siang In sudah mencuat dan menendang dadanya.

"Desss...!"

Tubuh pemuda tinggi besar itu terjengkang roboh! Sute-nya segera membantunya untuk bangkit berdiri, kemudian keduanya memandang gadis itu dengan sinar mata marah dan penasaran. Siang In mencibirkan bibirnya dan sekali dua tangannya bergerak ke belakang punggung, sepasang pedangnya sudah tersimpan kembali.

"Hemm, seperti itu sajakah Thai-kek Sin-kiam yang selama ini digembar-gemborkan oleh Bu-tong-pai?" Dia mengejek.

"Ang-hwa Sian-li! Tingkat kami masih terlampau rendah untuk mempelajari Thai-kek Sin-kiam. Engkau tunggu saja. Sekali Thai-kek Sin-kiam dimainkan, engkau akan dihajar dan semua kesombonganmu akan terhapus!" Sesudah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu menarik tangan sute-nya untuk diajak pergi.

Laki-laki yang tadi dihajar dua orang murid Bu-tong-pai itu lalu menghampiri Siang In dan memberi hormat. "Terima kasih atas pertolongan Lihiap. Nama Ang-hwa Sian-Li tak akan saya lupakan selamanya. Akan tetapi saya memang bersalah, Lihiap (pendekar wanita). Sekarang saya menyadari bahwa sebetulnya saya tidak perlu mencuri. Jika saya berterus terang minta bantuan, tentu para pimpinan Bu-tong-pai akan menolong saya. Saya harus mengembalikan barang-barang ini kepada Bu-tong-pai!" Sesudah berkata demikian, orang itu membungkus kembali barang-barang itu ke dalam kain dan hendak pergi meninggalkan Siang In.

"Tunggu dulu, paman!"' Siang In mengambil sepotong emas dari kantung uangnya lantas memberikan kepada orang itu.

"Ini, pergunakan emas ini untuk membiayai pengobatan anakmu."

Orang itu menerima pemberian itu dengan terharu dan berulang kali dia memberi hormat sampai terbungkuk-bungkuk. "Terima kasih, lihiap, terima kasih." Kemudian dia pun pergi untuk mengembalikan barang-barang yang dicurinya itu kepada Bu-tong-pai.

Siang In menghentikan ceritanya, kemudian minum anggur terakhir dari gucinya yang kini sudah kosong. "Demikianlah, Liong-ko. Aku melanjutkan perjalanan hingga tiba di dusun ini, kebetulan bertemu denganmu dan tadi tentu mereka yang melontarkan surat dengan pisau itu."

Semenjak tadi Thian Liong mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia dapat menarik kesimpulan bahwa dua orang murid Bu-tong-pai itu bukan orang-orang jahat, hanya sikap mereka terhadap tukang kebun yang mencuri benda-benda perak itu terlampau keras. Dia khawatir kalau kesalah-pahaman ini menjadi permusuhan yang meruncing, maka dia lalu berkata,

"In-moi, kukira semuanya itu hanya merupakan kesalah-pahaman saja. Sikap dua orang murid Bu-tong-pai itu memang terlalu keras dan mereka pantas ditegur. Akan tetapi tidak semestinya kalau urusan sekecil itu dijadikan sebab permusuhan antara engkau dengan mereka. Kebetulan sekali aku pun ada urusan untuk menemui para pimpinan Bu-tong-pai. Karena itu biarlah besok pagi aku menemanimu ke sana dan aku akan menjadi penengah untuk mendamaikan kalian."

"Akan tetapi aku ditantang, Liong-ko, dan aku tidak takut melawan mereka!" kata Siang In penasaran. "Kalau engkau mendamaikan kami, jangan-jangan mereka menyangka bahwa aku takut!"

Thian Liong tersenyum. "Tidak, In-moi. Aku tidak akan mendatangkan kesan seolah-olah engkau takut."

"Sudahlah, kita lihat saja besok. Aku ingin berlstirahat, ingin mandi yang segar kemudian tidur yang nyenyak, tidak memikirkan apa-apa lagi. Soal besok bagaimana besok sajalah.” Dia lalu menggapai pelayan.

"In-moi, biarkan aku yang membayarnya," kata Thian Liong.

"Ahh, aku tahu bahwa engkau mempunyai banyak emas dalam kantungmu itu, Liong-ko. Akan tetapi akulah yang makan sebagian besar masakan ini, maka aku pula yang harus membayarnya."

Pelayan datang. Siang In membayar harga makanan dan minuman lantas mereka masuk ke dalam dan menuju ke kamar masing-masing.

Thian Liong duduk sambil termenung dalam kamarnya. Dalam waktu singkat saja, secara berturut-turut dia bertemu dengan wanita-wanita yang terlibat urusan dengan dirinya. Baru saja tamat belajar dan turun gunung untuk melaksanakan tugas yang diberikan gurunya, dia mengalami hal-hal aneh dan serius dengan tiga orang wanita!

Pertama dengan gadis berpakaian merah muda di kaki Pegunungan Kun-lun-san itu, gadis yang hampir diyakininya sebagai orang yang sudah mengambil kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya dia serahkah kepada pimpinan Kun-lun-pai. Gadis yang tidak dia ketahui namanya akan tetapi yang harus dia cari untuk minta kembali kitab itu sebagai pertanggungan jawabnya terhadap Kun-lun-pai.

Kemudian pertemuannya dengan Biauw In Suthai yang akhirnya harus melibatkan dirinya dengan gadis yang ke dua, Kim Lan, karena oleh pendeta wanita itu, Kim Lan diharuskan menjadi isterinya dan kalau dia menolak, maka gadis itu harus membunuhnya!

Dan yang ketiga, pertemuannya dengan Thio Siang In yang berjuluk Ang-hwa Sian-li ini. Pertemuan ini agaknya juga melibatkan dirinya karena dara itu hendak bertanding dengan pihak Bu-tong-pai sedangkan dia tidak mungkin tinggal diam saja! Betapa anehnya semua pengalaman itu.

Malam itu Thian Liong hanya duduk bersemedhi. Dengan demikian, walau pun tubuhnya mengaso seluruhnya, tetapi kesadaran dan kewaspadaannya selalu dalam keadaan siap. Dia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak baik atas diri gadis yang tidur di kamar sebelah.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Liong telah membuka pintu kamarnya. Dia melihat Siang In sudah bangun. Ketika dia keluar dari kamar, dia melihat gadis itu duduk di atas bangku di depan kamar dan ternyata gadis itu sudah tampak segar. Sudah mandi dan bertukar pakaian, rambutnya disisir rapi dengan setangkai bunga mawar merah segar menghias rambutnya. Bunga itu baru setengah mekar dan masih segar sekali, tampaknya baru saja dipetiknya.

Dia mengangguk sambil tersenyum kepadanya. "Baru bangun, Liong-ko? Cepatlah mandi, aku menantimu untuk sarapan pagi. Aku sudah memesan kepada pelayan agar disiapkan bubur ayam yang panas dan lezat!"

Diam-diam Thian Liong merasa kagum. Gadis itu sama sekali tak terlihat tegang, bahkan santai saja seperti orang menghadapi hari yang penuh suka cita, padahal dia menghadapi tantangan yang berat dari Bu-tong-pai! Dia mengangguk kemudian pergi ke kamar mandi sambil membawa pakaian pengganti.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah duduk santai di dalam ruangan depan yang biasanya dipergunakan untuk rumah makan. Akan tetapi hari masih terlalu pagi. Ruangan itu bahkan bagian depannya masih ditutup dan belum ada yang bekerja. Hanya mereka berdua yang duduk di situ dan pelayan tua yang tadi terpaksa memasakkan bubur ayam telah kembali ke dapur setelah menghidangkan makanan itu di atas meja mereka. Mereka berdua makan tanpa banyak cakap.

Sehabis makan barulah Siang In berkata. ”Nah, sekarang aku berangkat. Apakah engkau jadi ikut?" Pertanyaannya datar saja, seolah-olah bagi gadis itu tidak ada bedanya apakah Thian Liong hendak menemaninya ataukah tidak.

"Tentu saja aku ikut karena tanpa ada urusanmu pun pagi ini aku harus berkunjung ke Bu-tong-pai untuk sebuah urusan penting."

"Urusan penting?" Siang In mengamati wajah pemuda itu penuh selidik. Ketika pandangan matanya bertemu dengan sinar mata Thian Liong, dia pun berkata, "Sudahlahl Kalau soal itu merupakan rahasia, tidak perlu diberitahukan kepadaku. Mari kita berangkat!"

Seperti Siang In, Thian Liong juga membawa semua barangnya, dimasukkan ke dalam buntalan pakaian lalu menggendongnya dan kembali gadis itu memaksa untuk membayar harga bubur serta sewa kamar mereka. Thian Liong tidak dapat membantah. Mereka lalu meninggalkan dusun itu, menuju ke Bukit Cemara yang sudah nampak dari luar dusun itu, di sebelah utara. Bukit itu sudah termasuk wilayah Bu-tong-pai dan di situ tampak sebuah hutan cemara yang sangat sunyi..

Baru saja dua orang muda itu memasuki hutan cemara, tampak dua orang pemuda, yang seorang tinggi besar dan yang seorang lagi tinggi kurus, sudah berada di situ. Melihat dua orang pemuda itu, Siang In cepat menghampiri dan sesudah berdiri di depan mereka, dia pun tertawa mengejek.

"Kalian berdua masih berani muncul? Apakah kalian yang hendak maju menandingi aku? Atau sekarang kalian hendak maju mengeroyokku? Hemmm, kalian berdua harus belajar dengan tekun selama sepuluh tahun lagi barulah agak pantas untuk menandingiku!"

Thian Liong mengerutkan alisnya. Siang In terlalu memandang rendah dua orang pemuda itu dan sikap seperti itu amat tidak baik.

Pemuda yang tinggi besar menjawab dengan ketus. "Perempuan sombong! Kami bukan golongan pengecut yang suka main keroyok! Karena kemarin engkau memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam dari perguruan kami, sekarang kami mendatangkan orang yang sudah mempelajari ilmu pedang itu untuk menghadapimu." Pemuda itu lalu memutar tubuhnya dan berseru nyaring. "Supek (paman guru)! Harap supek datang ke sini. Gadis sombong itu telah datang!"

Tiba-tiba nampak bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu di sana sudah berdiri seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh tahun. Alis, kumis dan jenggotnya yang panjang masih hitam, tetapi rambut di kepalanya sudah putih semua! Pakaiannya terbuat dari kain katun sederhana seperti pakaian pertapa. Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce kuning.

Melihat cara orang ini muncul, Thian Liong maklum bahwa dia mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan tentu orang ini lihai sekali. Tubuhnya sedang namun tegap. Wajah yang berbentuk persegi dengan jenggot panjang itu juga tampak berwibawa. Akan tetapi Siang In tetap tersenyum dan memandang ringan.

"Apakah nona yang berjuluk Ang-hwa Sian-li dan yang memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam kami?" tanya orang berambut dan berpakaian serba putih itu, sikapnya tenang dan agaknya dia seorang penyabar.

"Benar, akulah yang disebut Ang-hwa Sian-li. Dan engkau ini siapakah? Apakah engkau ketua Bu-tong-pai dan siapa namamu?" tanya Siang In, sikapnya biasa saja seakan-akan dia sedang berhadapan dan bicara dengan orang yang seusia dan setingkat dengannya.

"Locianpwe, saya Thian Liong hendak menjadi penengah untuk mendamaikan…”

"Liong-ko! Biarkan aku menyelesaikan urusanku dahulu dan jangan engkau mencampuri. Sesudah aku selesai barulah engkau boleh berurusan dengan mereka!" Siang In berseru keras sehingga kata-kata Thian Liong terpotong.

"Siancai…, nona yang berwatak keras!" kata tokoh Bu-tong-pai itu dengan senyum sabar. "Aku bukan ketua Bu-tong-pai, aku hanyalah pembantunya yang nomor tiga saja dan aku hanya ingat nama julukanku, yaitu Pek Mau San-jin (Orang Gunung Berambut Putih). Aku baru dapat menguasai ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam sepertiga bagian saja, akan tetapi aku ingin mencoba kehebatan sepasang pedangmu yang menurut murid keponakanku ini hebat sekali." Setelah berkata demikian, Pek Mau San-jin lalu mencabut pedang beronce merah dari punggungnya. Sinar berkilat ketika pedarig itu tercabut.

Dia berdiri tegak dan pedang itu dipegang oleh tangan kirinya, gagang di bawah dan ujung pedang menempel di pundak kirinya. Kemudian dia mengangkat dua tangannya ke atas, berbareng menurunkan kedua tangan, kaki kiri melangkah ke depan, pedang di tangan kiri tetap di bawah lengan, telunjuk dan jari tangan kanan menunjuk ke depan. Inilah gerakan pembukaan yang dinamakan Sian-jin Ci-lu (Dewa Menunjuk Jalan). Dia lantas melangkah dengan kaki kanan ke depan, memutar tubuh ke kanan menghadapi Siang In, dua lengan dikembangkan lalu kaki kiri ditekuk berlutut, kedua tangan tetap dikembangkan.

"Ang-hwa Sian-li, aku sudah siap untuk menandingi ilmu sepasang pedangmu," kata Pek Mau San-jin tenang.

Melihat pembukaan yang sederhana ini, Siang In tersenyum mengejek. Kedua tangannya meraih ke belakang dan nampaklah dua sinar kilat ketika siang-kiam (sepasang pedang) itu sudah berada di kedua tangannya. Dia memasang kuda-kuda yang kokoh, kedua kaki menyilang, pedang kiri diangkat ke atas belakang kepala, pedang kanan melintang depan dada. Sikapnya gagah dan indah.

“Aku pun telah siap. Perlihatkan ilmu pedangmu, Pek Mau San-jin!" Siang In menantang,

"Engkau adalah tamu. Silakan menyerang lebih dulu!" kata Pek Mau San-jin, kini bergerak berdiri, kedua tangan bertemu di depan leher dan gagang pedang itu telah berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan.

Thian Liong memperhatikan semua gerakan tosu itu dan dia merasa kagum. Walau pun gerakan pembukaan tadi hanya sederhana saja, namun gerakan itu demikian lembut dan lentur, sambung menyambung seperti gelombang lautan, isi mengisi dan dia tahu bahwa di dalam kelembutan itu terkandung kekuatan yang amat dahsyat.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner