KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-18


Dia mengkhawatirkan Siang In. Kali ini gadis itu benar-benar berhadapan dengan seorang ahli silat tingkat tinggi, dan yang paling berbahaya adalah bahwa gadis itu agaknya belum mengetahui akan hal itu sehingga dia memandang ringan.

Dia pun membayangkan ilmu pedang yang hebat itu. Apa bila tosu yang baru menguasai sepertiga bagian saja sudah mampu bergerak seperti itu, apa lagi yang sudah menguasai sepenuhnya!

"Baiklah! Sambut serangan pedangku!" Siang In membentak lantas sepasang pedangnya berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Serangan gadis itu memang hebat dan sejak semula Thian Liong sudah menduga hal ini. Agaknya gadis itu telah digembleng oleh seorang guru yang sakti. Tetapi yang membuat dia heran, kagum dan terkejut sekali adalah ketika melihat sambutan tosu itu atas semua serangan gadis itu.

Tosu itu bergerak begitu lembut bahkan tampak lambat sekali, matanya seperti setengah terpejam, namun gerakan pedangnya itu mendatangkan hawa dahsyat dan kuat sehingga seluruh serangan sepasang pedang Siang In selalu tertangkis dan terpental. Dia melihat betapa gerakan seluruh tubuh tosu itu seperti otomatis, seperti tidak dikendalikan lagi oleh pikiran, seolah-olah seluruh bagian tubuhnya menjadi peka sekali seperti memiliki mata di mana-mana.

Gerakannya pun sambung-menyambung dengan lembut dan lenturnya, seperti orang yang tengah menari saja, menari di antara kumpulan awan-awan di angkasa, tampaknya sama sekali tidak mempergunakan tenaga kasar. Seolah-olah gerakan tubuh tosu itu digerakkan oleh tenaga yang amat lembut namun dahsyat bukan main.

Dan dia pun mengerti! Tosu itu seperti bersilat dalam keadaan semedhi, atau bersemedhi dalam silat! Hati akal pikiran tidak berulah dan gerakannya dipimpin oleh kekuasaan gaib, seperti ketika dia berada dalam puncak penyerahannya kepada Tuhan, seperti yang telah diajarkan oleh Tiong Lee Cin-jin! Ilmu yang benar-benar hebat, pikirnya.

Thian Liong mengikuti seluruh gerakan di dalam perkelahian itu dengan sangat seksama. Pertandingan yang sangat hebat dan seru. Gadis itu pun ternyata seorang yang memiliki ilmu pedang pasangan yang lihai sekali, berbahaya dan ganas sehingga setiap sambaran pedangnya merupakan cengkeraman maut.

Dan tosu itu ternyata tidak berbohong ketika tadi mengatakan bahwa dia baru menguasai sepertiga saja dari ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam. Jurusnya tidak banyak sehingga terus diulang-ulang, akan tetapi anehnya, dengan jurus yang tidak banyak itu dia sudah mampu menahan semua serangan Siang In. Dan karena gerakannya bagaikan gelombang lautan, begitu lentur lembut dan otomatis seolah tidak mengeluarkan tenaga, sesudah lewat lima puluh jurus Siang In mulai berkeringat dan lelah, sebaliknya lawannya yang jauh lebih tua itu masih bergerak dengan tenang seperti pada permulaannya.

Tahulah Thian Liong bahwa apa bila pertandingan itu dilanjutkan, akhirnya Siang In tentu akan kalah. Dia bisa membayangkan betapa marah dan penasaran hati gadis yang keras ini kalau sampai kalah. Mungkin dia akan menjadi nekat dan memaksa mengadu nyawa!

Siang In yang mulai kelelahan itu tiba-tiba mengebutkan sehelai sapu tangan merah yang tergantung di gagang pedangnya dan sinar-sinar kecil hitam meluncur ke arah lawannya. Thian Liong yang sejak tadi memperhatikan pertandingan itu, menjadi terkejut dan cepat dia menggerakkan tangannya mendorong ke arah sinar-sinar hitam itu.

Pek Mau San-jin juga terkejut dan secara otomatis dia sudah membuang diri ke belakang. Tetapi dia akan tetap menjadi korban jarum beracun kalau saja tidak ada sambaran angin yang kuat dari samping yang meruntuhkan semua jarum halus itu. Thian Liong yang telah menyelamatkan tosu itu cepat melompat di tengah antara mereka sambil berseru nyaring dan penuh wibawa,

"Tahan! Hentikan perkelahian ini!"

Dalam suara Thian Liong ini terkandung wibawa yang amat kuat sehingga entah kenapa, Siang In yang biasanya keras hati dan tidak dapat menurut kepada kemauan sembarang orang itu, langsung menghentikan gerakannya bahkan mundur lima langkah ke belakang. Demikian pula Pek Mau San-jin yang maklum bahwa dia tadi hampir saja menjadi korban senjata rahasia, juga telah melompat ke belakang.

Thian Liong menghampiri sehingga saling berhadapan dengan Pek Mau San-jin, kemudian memberi hormat sambil berkata, "Totiang (bapak pendeta), apa gunanya semua pertikaian ini? Saya kira di antara Bu-tong-pai dan Ang-hwa Sian-li hanya terdapat kesalah-pahaman belaka."

Pek Mau San-jin mengerutkan alisnya sambil memandang pemuda itu penuh selidik. Dia tidak mengenal pemuda itu dan tidak tahu apakah pemuda itu kawan atau lawan. Karena pemuda itu muncul bersama Ang-hwa Sian-li, maka tentu saja dia menaruh curiga.

"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa mencampuri urusan kami dengan Ang-hwa Sian-li?"

“Nama saya Souw Thian Liong. Saya diutus oleh suhu untuk menghadap Ketua Bu-tong-pai untuk urusan yang amat penting."

"Siapa gurumu yang mengutusmu ke sini?"

Biar pun di situ ada Siang In, terpaksa dia memperkenalkan gurunya. "Suhu adalah Tiong Lee Cin-jin..."

"Wah, Liong-ko! Suhu-mu Tiong Lee Cin-jin yang amat terkenal itu? Mengapa tidak sejak kemarin kau katakan kepadaku?" seru Siang In dengan heran.

Di dalam perantauannya yang baru setahun itu, sejak dari Sin-kiang dia sudah mendengar banyak tentang Tiong Lee Cin-jin yang disebut-sebut sebagai seorang yang bijaksana dan amat sakti, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang manusia dewa!

Pek Mau San-jin juga terbelalak. "Murid Tiong Lee Cin-jin? Ahh, kalau begitu kata-katamu patut didengar, Souw-sicu. Akan tetapi engkau tadi mengatakan bahwa antara kami dan Ang-hwa Sian-li hanya terjadi kesalah-pahaman. Kami tidak menganggapnya begitu sebab gadis ini telah memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam kami."

"Siapa bilang aku memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam? Melihat pun baru tadi ketika engkau memainkannya. Bagaimana aku bisa memandang rendah ilmu pedang yang belum pernah kulihat? Setelah melihatnya tadi, walau pun engkau baru menguasai sepertiganya, harus kuakui bahwa Thai-kek Sin-kiam memang hebat seperti yang pernah kudengar," kata Siang In.

Pek Mau San-jin menoleh ke arah dua orang murid keponakannya yang kini berdiri sambil menundukkan muka mereka. Ia kembali memandang kepada Siang In kemudian berkata, "Akan tetapi engkau telah menantang Bu-tong-pai untuk mengadu ilmu pedang!"

Siang In melangkah maju mendekat, lalu menudingkan jari telunjuknya ke arah muka Pek Mau San-jin. "Hei, Pek Mau San-jin, jangan engkau sembarangan menuduh tanpa bukti. Itu namanya fitnah, tahu?"

Thian Liong segera berkata kepada tosu itu. "Ang-hwa Sian-li berkata benar, totiang. Dia tidak menantang, melainkan ditantang. Inilah buktinya." Sesudah berkata demikian, Thian Liong mengeluarkan pisau terbang lantas surat tantangan itu diberikan kepada Pek Mau San-jin.

Siang In memandang heran, tidak tahu bahwa pemuda itu ternyata telah mengambil surat dan pisau yang sudah dibuangnya. Pisaunya dia lempar sehingga menancap di tiang dan membunuh seekor cecak, sedangkan surat itu dia buang begitu saja. Kiranya Thian Liong mengambil dan menyimpannya, dan kini dapat dijadikan bukti kebenaran omongannya!

Pek Mau San-jin menerima surat dan pisau itu. Dengan alis berkerut dia segera memutar tubuh menghadapi dua orang murid keponakannya yang berdiri di belakangnya.

"Kalian berdua, ke sinilah dan berlutut!" perintahnya. Suaranya masih lembut akan tetapi sekarang mengandung nada yang penuh penyesalan dan teguran.

Dua orang murid itu melangkah maju lantas menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pek Mau San-jin, wajah mereka pucat dan mereka menundukkan muka. Pek Mau San-jin memutar tubuh menghadapi Ang-hwa Sian-li dan Thian Liong, lalu berkata,

"Maafkan pinto yang mudah terbujuk dan salah sangka, nona. Sekarang harap ceritakan apa yang telah terjadi antara engkau dan dua orang murid keponakan kami ini."

Siang In tersenyum mengejek. "Cerita dua orang ini tentu lain lagi. Dengarkan baik-baik, Pek Mau San-jin. Ketika aku sedang berjalan, aku melihat seorang laki-laki lemah dipukuli oleh dua orang ini. Aku lalu maju melerainya, akan tetapi mereka marah dan mengatakan aku membela pencuri. Aku bukan membela pencuri, hanya menyelamatkan orang lemah yang dipukuli oleh dua orang yang mengandalkan kekuatan mereka. Kami lalu bertanding dan aku mengalahkan mereka berdua. Tukang kebun yang mencuri barang-barang perak untuk membiayai anaknya yang sakit itu menyatakan penyesalannya, dan berjanji hendak mengembalikan barang-barang yang dicurinya itu. Aku lalu pergi dan bermalam di dusun sebelah selatan itu. Akan tetapi kemarin malah ada yang melempar pisau dan surat itu ke atas meja makanku. Nah, itulah yang terjadi, Pek Mau San-jin."

Pek Mau San-jin kembali menghadapi dua orang murid keponakan yang masih berlutut di tempatnya itu. "Hemmm, murid Bu-tong-pai macam apa kalian ini? Kalian bertindak kejam memukuli tukang kebun yang terpaksa mencuri barang-barang perak itu! Tahukah kalian? Sebelum aku datang ke sini, pangcu (ketua) memberi tahukan bahwa tadi malam tukang kebun itu datang menghadap untuk mengembalikan barang-barang yang dicurinya sambil mohon ampun! Tapi dapatkah kalian mengembalikan dan menebus apa yang telah kalian lakukan kepada dia? Memukuli dan menyiksanya? Itu kesalahanmu yang pertama!"

"Ampun, supek, teecu (murid) berdua terlalu terburu nafsu, terdorong kemarahan karena dia telah melakukan pencurian," kata murid yang bertubuh tinggi kurus.

"Hemmm, kapan para gurumu di Bu-tong-pai mengajar kalian untuk bertindak kejam? Apa lagi terhadap seorang pembantu yang miskin, yang terpaksa melakukan pencurian untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit! Sekarang kesalahanmu yang ke dua. Kalian melapor kepadaku bahwa Ang-hwa Sian-li sudah menghina Bu-tong-pai dan memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam, padahal dia tidak melakukan hal itu. Kalian berani membohongiku!"

"Supek, teecu berdua melakukan itu agar supek mau membela kami dan membalaskan kekalahan kami," kata pemuda tinggi besar.

"Huhh, kalian mengaku mund Bu-tong-pai yang gagah perkasa, akan tetapi sesudah kalah kalian tidak mau mengakui kekalahan kalian secara jantan. Sebaliknya malah berbohong untuk memanaskan hatiku dan sekarang kalian hanya membikin malu padaku! Dan yang ketiga, lebih membuat aku malu lagi. Kalian sudah mengirim tantangan kepada Ang Hwa Sian-li, akan tetapi kepadaku kalian melapor bahwa pagi ini Ang-hwa Sian Li yang hendak menantangku! Murid macam apa kalian ini?”

Sambil berlutut kedua murid itu memberi hormat, lantas dengan suara berbareng mereka berkata, "Ampunkan teecu, supek...”

Thian Liong berkata kepada Pek Mau San Jin, ”Sudahlah, locianpwe, saya harap urusan ini dianggap tidak ada saja. Bagaimana pun juga, baik locianpwe mau pun Ang hwa Sian-li tidak terluka. Harap locianpwe suka mengampuni dua orang saudara ini..."

"Apa?!" bentak Siang In dengan suara nyaring. "Kesalahan mereka bertumpuk tiga lapis dan engkau malah mintakan ampun? Sebagai guru yang baik, sudah sepantasnya totiang menghukum murid-murid yang bersalah. Kalau tidak, bagaimana sang guru akan memiliki wibawa terhadap murid-muridnya? Guru akan dicemooh dan para muridnya akan menjadi semakin berani dan kurang ajar!"

Pek Mau San-jin tersenyum akan tetapi kedua pipinya menjadi agak merah. Dia merasa malu bukan main. "Kalian cepat kembali dan masuklah ke kamar hukuman untuk menanti keputusan Pangcu (Ketua). Jangan keluar dari ruangan itu sebelum diperintah!"

"Baik, supek." kata dua orang pemuda itu. Mereka lalu memberi hormat, berdiri dan pergi dari situ dengan kepala ditundukkan.

Pek Mau San-jin mengangkat kedua tangan ke depan dada, lalu berkata kepada Siang In. "Ang-hwa Sian-li, engkau masih muda akan tetapi sudah memiliki kepandaian tinggi dan juga berpemandangan jauh. Ucapanmu mengenai dua murid kami itu memang benar, dan kami minta maaf atas kesalahan mereka terhadapmu."

Walau pun wataknya keras dan liar, namun puteri cucu kepala Suku Uigur ini selain ilmu silat juga mendapat pendidikan kebudayaan yang cukup dari ibunya. la pandai membawa diri. Kalau orang bersikap baik dan lembut kepadanya, maka dia pun tidak kalah lembut. Akan tetapi jika ada yang mengasarinya, dia pandai juga bermain kasar dan keras. Siang In membalas penghormatan tokoh Bu-tong-pai itu lalu berkata sambil tersenyum manis..

"Totiang terlalu memuji. Saya yang muda mendapat pelajaran dan pengalaman yang baik sekali dengan bertanding melawan totiang. Yang bersalah telah dihukum, itu sudah cukup bagi saya. Tidak ada yang perlu dimaafkan, totiang."

"Sekarang kami mengundang Souw Sicu sebagai murid Tiong Lee Cin-jin untuk bertemu dengan ketua kami, dan kami juga mengundang engkau, nona."

"Tapi aku tidak mempunyai urusan dengan Ketua Bu-tong-pai seperti saudara Souw Thian Liong ini!" kata Siang In. Ucapan ini hanya untuk pemanis bibir saja karena di dalam hatinya sesungguhnya dia ingin sekali ikut Thian Liong menemui ketua Bu-tong-pai untuk mengetahui keperluan apa yarig membawa pemuda itu menemuinya.

Biar pun baru menduga, Siang In yakin bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi. Hal ini terbukti ketika pemuda itu memukul runtuh jarum-jarum beracunnya sehingga bisa menyelamatkan Pek Mau San-jin. Hanya orang-orang yang mempunyai sinkang (tenaga sakti) amat kuat saja yang dapat memukul runtuh jarum-jarumnya dari jauh menggunakan sambaran hawa pukulan.

"Kami benar-benar mengundangmu, Ang-hwa Sian-li. Kalau ketua kami mendengar akan perbuatan tak terpuji dari dua orang murid kami kepadamu, lantas aku tidak mengundang nona, tentu beliau akan marah dan menegurku sebagai orang yang tidak mengenal sopan santun. Oleh karena itu, demi menjaga agar aku tidak mendapat teguran dari ketua kami, kuharap engkau suka menerima undanganku untuk bersama Souw-sicu menemui Pangcu kami."

Siang In menoleh kepada Thian Liong dan tersenyum, seolah hendak mengatakan melalui pandang mata dan senyumnya bahwa dia ‘terpaksa’ ikut berkunjung ke Bu-tong-pai!

"Wah, kalau begitu, baiklah, totiang. Kalau aku tidak menerima undanganmu, berarti aku yang tidak mengenal sopan santun."

Tosu itu tertawa dan mereka bertiga kemudian berjalan mendaki lereng menuju ke sebuah puncak bukit di mana perkampungan Bu-tong-pai berada.

Pada waktu itu yang menjadi ketua Bu-tong-pai adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun yang biasa disebut Ciang Losu (Guru Tua Ciang). Nama lengkapnya adalah Ciang Sun dan hanya dia seorang yang menguasai Thai-kek Sin-kiam sebanyak delapan bagian. Sebelum dia juga tidak ada seorang pun yang dapat menguasai Thai-kek Sin-kiam secara lengkap karena kitab pusaka pedang itu sudah hilang tak tentu rimbanya hampir seratus tahun yang lalu.

Namun akhir-akhir ini kesehatan Ciang Losu amat mundur. Kekuatan tubuhnya digerogoti usia sehingga dia kini lebih banyak bersemedhi dari pada melakukan kegiatan mengurus perguruan Bu-tong-pai. Untuk itu dia sudah menugaskan para sute-nya, di antaranya Pek Mau San-jin yang merupakan sute-nya yang paling muda. Maka tidak aneh apa bila Pek Mau San-jin hanya mencapai tingkat ke tiga saja di perguruan itu.

Ketika Ciang Losu yang tua itu mendengar bahwa murid Tiong Lee Cin-jin diutus gurunya untuk mengunjunginya, dia merasa gembira sekali dan segera keluar menyambut. Sudah lama dia merasa kagum sekali mendengar nama Tiong Lee Cin-jin. Biar pun yang datang sekarang hanyalah seorang muda, akan tetapi karena dia adalah murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin yang sengaja datang berkunjung, dia pun merasa girang sekali.

Thian Liong dan Siang In yang mengikuti Pek Mau San-jin memasuki bangunan induk dari perkampungan Bu-tong-pai, ketika melihat munculnya seorang kakek tinggi kurus, rambut dan jenggotnya yang panjang telah berwarna putih seperti benang perak, tatapan matanya lembut dan mulutnya terhias senyum sabar, segera memberi hormat. Mereka menduga bahwa kakek ini tentu ketua Bu-tong-pai dan dugaan mereka benar. Pek Mau San-jin yang sudah menyuruh seorang murid yang dijumpainya di pintu gerbang untuk melapor kepada Ciang Losu akan kunjungan murid Tiong Lee Cin-jin, segera memperkenalkan.

"Toa-suheng (kakak seperguruan tertua), ini adalah sicu (orang gagah) Souw Thian Liong, murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin, dan yang ini adalah Ang-hwa Sian-li. Souw-sicu dan Ang-hwa Sian-li, inilah ketua Bu-tong-pai kami, suheng Ciang Losu."

"Harap locianpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan bila kedatangan kami mengganggu ketenangan tocianpwe," kata Thian Liong dengan sikap hormat.

"Siancai, sikap Souw-sicu saja cukup menjadi bukti betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin yang kami hormati. Mari, orang-orang muda gagah, silakan masuk, kita bicara di dalam," kata Ciang Losu dengan wajah ceria.

Mereka berempat lalu masuk dan duduk di ruangan dalam yang tertutup. Seorang murid menyuguhkan air teh kemudian segera keluar lagi.

"Nah sekarang kita dapat bicara dengan leluasa di sini. Ceritakanlah, apa yang membawa kalian berdua orang-orang muda gagah datang berkunjung ke Bu-tong-pai dan menemui pinto (saya)."

"Saya tidak memiliki keperluan apa-apa, locianpwe. Saya datang hanya untuk memenuhi undangan Pek Mau San-jin," kata Siang In sambil memandang kepada pembantu ketua Bu-tong-pai itu.

Pek Mau San-jin segera menerangkan kepada suheng-nya. "Suheng, Souw-sicu datang dan minta menghadap suheng karena dia diutus gurunya untuk membicarakan suatu hal penting dengan suheng. Ada pun nona ini, ada sesuatu yang telah terjadi antara Ang-hwa Sian-li ini dengan dua orang murid kita sehingga membuatku merasa tidak enak sekali lalu mengundangnya ke sini."

Dengan singkat Pek Mau San-jin lalu menceritakan tentang peristiwa yang dialami Siang In dan dua orang murid Bu-tong-pai, yang menjadi gara-gara terjadinya bentrokan antara Pek Mau San-jin dengan gadis perkasa itu.

"Saya telah menyuruh dua orang murid itu agar masuk ke kamar hukuman untuk menanti keputusan suheng." Pek Mau San-jin mengakhiri ceritanya.

Ciang Losu mengangguk-angguk. Wajahnya yang penuh kesabaran itu sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan hati. "Anak-anak itu harus dihukum. Laksanakan hukuman itu sekarang juga, sute. Mereka harus melakukan semedhi selama tiga bulan, hanya berhenti satu kali sehari untuk makan. Dengan begitu kita harap mereka akan bisa menghilangkan kekejaman dari hati mereka.”

"Baik, suheng, akan saya laksanakan sekarang juga." Pek Mau San-jin memberi hormat lalu meninggalkan ruangan itu.

Setelah sute-nya pergi, Ciang Losu lalu berkata kepada Siang In dan Thian Liong, "Kalian lihat, alangkah sulitnya mengalahkan musuh utama di dalam hidup ini. Musuh utama itu adalah dirinya sendiri, nafsu-nafsunya sendiri. Ang-hwa Sian-li..."

"Locianpwe, nama saya Thio Siang In. Saya merasa malu jika locianpwe yang menyebut saya dengan julukan kosong itu," kata Siang In.

Ciang Losu tersenyum lebar memperlihatkan rongga mulut yang sudah tidak ada giginya lagi. "Nona Thio Siang In, pinto lihat bahwa di balik kekerasan hatimu terdapat kerendahan hati dan kejujuran. Maafkanlah ulah kedua orang murid Bu-tong-pai kami."

"Tidak mengapa, locianpwe. Mereka sudah dihukum dan saya turut merasa girang kalau mereka dapat mengubah sikap."

"Sekarang pinto ingin mendengar darimu, Souw-sicu. Tiong Lee Cin-jin mengutus engkau datang menemui pinto, sebetulnya membawa keperluan apakah?"

"Locianpwe, saya diutus suhu untuk menyerahkan sebuah kitab kepada locianpwe, sebab menurut suhu, kitab itu adalah hak milik Bu-tong-pai." Sesudah berkata demikian, Thian Liong menurunkan buntalan pakaiannya dari punggung lantas membuka buntalan itu.

"Ahh, bukan main! Tiong Lee Cin-jin menemukan kitab kami dan mengembalikan kepada kami? Sungguh mulia, sungguh bijaksana sekali!" kata Ciang Losu dengan wajah berseri, tampaknya gembira sekali.

Thian Liong mengambil kitab Kiauw-ta Sin-na dari dalam buntalannya. Kitab ini agak tebal dan sudah tua sekali.

"Inilah kitab itu, locianpwe, harap sudi menerimanya."

"Terima kasih...!" Kakek itu menerima kitab, lalu dibuka. Sesudah melihat isinya, dia pun berkata, "Siancai... Kiranya kitab Kiauw-ta Sin-na yang hilang lima puluh tahun yang lalu!"

"Locianpwe telah menerima kembali kitab yang sudah lama hilang, kenapa malah tampak kecewa?" tiba-tiba Siang In bertanya.

"Ehh... ahh...? Nona Thio Siang In sungguh memiliki penglihatan yang tajam sekali!" seru Ciang Losu sambil tersenyum dan memandang kagum. "Sesungguhnyalah, pinto merasa agak kecewa melihat bahwa yang dikirim oleh Tiong Lee Cin-jin adalah kitab Kiauw-ta Sin-na, bukan Kitab Thai-kek Sin-kiam yang hilang seratus tahun yang silam seperti yang tadi kusangka dan kuharapkan."

"Suhu pernah bercerita kepada saya bahwa di dalam perjalanannya suhu juga berusaha mendapatkan kembali kitab pusaka milik Bu-tong-pai itu, akan tetapi menurut suhu, tidak ada seorang pun di dunia barat yang tahu tentang kitab Thai-kek Sin-kiam itu," kata Thian Liong.

"Ahh, tidak mengapa, Souw-sicu. Kitab Kiauw-ta Sin-na ini juga merupakan kitab pusaka kami yang penting. Harap sampaikan ucapan terima kasih dari seluruh anggota beserta pimpinan Bu-tong-pai."

"Baik, locianpwe, pesan locianpwe akan saya sampaikan kepada suhu," kata Thian Liong.

"Bu-tong-pai tidak dapat membalas apa-apa atas kemuliaan hati dan kebijaksanaan Tiong Lee Cin-jin. Kami hanya dapat mendoakan semoga Tiong Lee Cin-jin berusia panjang dan hidup penuh kebahagiaan," kata pula kakek itu.

"Terima kasih, locianpwe."

Dua orang muda-mudi itu lalu berpamit dari Ketua Bu-tong-pai yang sudah tua itu. Di pintu depan mereka disambut oleh Pek Mau San-jin yang mengantarkan mereka sampai keluar pintu gerbang Bu-tong-pai. Setelah mengucapkan terima kasih atas sambutan Bu-tong-pai yang baik, Thian Liong dan Siang In lantas meninggalkan perguruan silat yang terkenal itu dan menuruni puncak bukit.

Sesudah tiba di kaki bukit, Siang In mengajak pemuda itu berhenti dan dia pun bertanya, "Liong-ko, urusan di Bu-tong pai sudah beres. Sekarang engkau hendak pergi ke mana?"

"Sekarang aku hendak pergi ke Siauw-lm-pai," jawab Thian Liong sejujurnya.

"Wah, bukankah kuil Siauw-lim-pai itu sangat jauh dari sini? Mau apakah engkau pergi ke perguruan-perguruan silat? Tadi engkau ke Bu-tong-pai dan sekarang hendak ke Siauw-lim-pai. Apakah engkau ke sana juga untuk menyerahkan kitab pusaka Siauw-lim-pai?"

Thian Liong mengangguk sambil tersenyum. "Tak salah dugaanmu, In-moi. Memang aku sedang melaksanakan perintah suhu untuk menyerahkan kitab pusaka kepada pemiliknya yang berhak."

"Suhu-mu Tiong Lee Cin-jin itu aneh sekali! Aku telah mendengar bahwa dia merantau ke dunia barat selama puluhan tahun dan berhasil mendapatkan banyak kitab penting. Tetapi kenapa sekarang kitab-kitab itu malah dibagi-bagikan?"

"Bukan begitu, In-moi. Ketahuilah, suhu merantau ke barat untuk memperdalam ilmu. Di sana suhu menemukan kitab-kitab milik perguruan silat yang dahulu dicuri orang dan suhu berhasil merampasnya kembali. Karena kitab-kitab itu ada yang berhak memiliki, suhu lalu mengutus aku untuk mengembalikan kitab-kitab itu kepada yang berhak. Bukankah hal itu sudah wajar dan semestinya?"

"Sama sekali tidak wajar. Kalau suhu-mu yang menemukan dan merampasnya kembali, mestinya kitab-kitab itu menjadi hak milik suhu-mu! Enak saja para ketua perguruan silat itu menerima kembali kitab mereka tanpa harus bersusah payah! Ahh, sudahlah, memang aku sudah mendengar bahwa Tiong Lee Cin-jin itu orangnya aneh luar biasa. Tapi kulihat engkau ini orang biasa saja, seperti juga aku. Omong-omong, berapa banyak kitab yang harus kau kembalikan kepada para ketua perguruan silat itu, Liong-ko?"

"Hanya tiga buah kitab saja, In-moi. Sebuah untuk diserahkan kepada Ketua Kun-lun-pai, sebuah untuk Ketua Bu-tong-pai dan yang sebuah lagi harus aku serahkan kepada Ketua Siauw-lim pai."

"Hemmm, bagian Bu-tong-pai sudah kau serahkan. Apakah kitab untuk Kun-lun-pai juga sudah kau berikan kepada ketuanya?"

Thian Liong menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. "Itulah yang merisaukan hatiku, In-moi. Kitab untuk Kun-lun-pai itu dicuri orang dalam perjalananku."

"Waah...! Dicuri orang? Apa nama kitab pusaka Kun-lun-pai itu, Liong-ko? Siapa tahu aku dapat membantumu mencarinya."

"Kitab itu bernama Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat."

"Dan siapa pencurinya?"

"Itulah yang memusingkan. Pencurinya adalah seorang gadis. Aku akan dapat mengenali wajahnya, akan tetapi sayang, aku tidak tahu namanya."

"Hemm, bagaimana seorang gadis dapat mencuri kitab pusaka itu darimu? Coba engkau gambarkan bagaimana keadaan gadis itu. Siapa tahu aku akan dapat bertemu dengannya dan dapat merampas kitab yang dicurinya itu!" kata Siang In penuh semangat.

”Dia gadis remaja, paling banyak baru berusia tujuh belas tahun. Pakaiannya serba merah muda. Dia lincah jenaka, bengal, galak dan cerdik sekali."

"Wajahnya, bagaimana rupanya?"

"Hemm, wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang, kalau tertawa timbul lesung pipit pada kedua pipinya..."

"Dia cantik?"

"Cantik sekali, pinggangnya ramping, dagunya meruncing, kulitnya putih..."

"Hemm, cantik mana kalau dibandingkan... aku?"

Thian Liong menatap wajah di hadapannya. "Wahh...! Sungguh sukar menilainya, In-moi. Engkau juga cantik sekali, sulit mengatakan siapa di antara kalian yang lebih cantik. Usia kalian juga sebaya dan ilmu silat kalian juga sama lihainya."

"Tentu Kun-lun-pai marah sekali mendengar kitab pusaka mereka dicuri orang. Apakah mereka sudah tahu?"

"Memang tadinya mereka amat marah. Akan tetapi akhirnya Kui Beng Thaisu, ketua Kun-lun-pai dapat menerima kenyataan dan aku pun sudah berjanji kepadanya untuk berusaha mencari dan menemukan kembali kitab pusaka Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu."

"Kitab pusaka Bu-tong-pai tadi bernama Kitab Kiauw-ta Sin-na. Sekarang tinggal sebuah, yaitu kitab pusaka yang akan kau serahkan kepada Siauw-lim-pai. Apakah nama kitab itu, Liong-ko?" Sepasang mata bintang itu memandang ke arah buntalan pakaian di punggung Thian Liong.

"Namanya kitab Sam-jong Cin-keng. Menurut keterangan suhu, kitab ini mengandung ilmu yang diciptakan sendiri oleh Dewa Ji-lai-hud!"

"Wah..., aku ingin sekali melihatnya! Liong-ko yang baik, tolong kau perlihatkan kitab itu padaku, sebentar saja!" Gadis itu mendekat

"Wah, tidak boleh, In-moi!"

"Aihh! Masa hanya melihat saja tidak boleh?"

"Suhu sudah berpesan agar jangan sampai aku memberikan kitab-kitab itu kepada siapa pun kecuali kepada para ketua yang berhak menerimanya."

"Akan tetapi aku hanya ingin pinjam sebentar, hanya melihat-lihat isinya untuk menambah pengetahuan dan pengalamanku. Sebentar saja, nanti pasti aku kembalikan,"

"Maaf, In-moi, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Suhu berpesan agar aku menjaga kitab-kitab itu dengan taruhan nyawaku."

Wajah gadis itu berubah merah, matanya bersinar-sinar mengandung kemarahan. "Hemm, buktinya sebuah di antara tiga buah kitab itu telah hilang!"

"Hal itu terjadi karena aku lengah dan gadis itu mencurinya."

"Benarkah? Apakah tidak karena engkau tergila-gila oleh kecantikannya kemudian engkau meminjamkan kitab itu kepadanya dan dia melarikan diri membawa kitab itu?"

"Sama sekali tidak demikian, In-moi. Engkau juga cantik, akan tetapi tetap saja aku tidak berani meminjamkan kitab ini kepadamu. Maafkan saja."

"Bagaimana kalau ada orang menggunakan kekerasan untuk merampas kitab itu?"

”Tentu saja akan kulawan dan kupertahankan."

"Karena engkau tak mau meminjamkannya, kalau begitu aku akan merampasnya dengan kekerasan. Lawanlah aku!" Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Siang In sudah menerjang pemuda itu. Tangan kirinya menotok ke arah dada, ada pun tangan kanannya mencengkeram ke arah buntalan yang tergantung di punggung Thian Liong.

Thian Liong kaget bukan main dan cepat dia mengelak dengan loncatan ke belakang. Dia merasa kecewa dan marah. Mengapa setiap kali bertemu dengan gadis cantik, selalu dia menghadapi kesulitan dan persoalan?

Pertama dia bertemu dara jelita berpakaian merah muda itu yang kemudian mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai dari buntalan pakaiannya hingga dia mengalami kesulitan. Kemudian dia bertemu dengan Kim Lan, murid Kun-lun-pai yang cantik itu, yang hendak memaksa dia agar menjadi suami gadis itu! Dan sekarang ini, dia menghadapi Ang-hwa Sian-Ii Thio Siang In yang ayu manis, dan lagi-lagi dia menghadapi kesulitan karena gadis ini hendak memaksanya meminjamkan kitab pusaka Siauw-lim-pai.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner