KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-19


"In-moi, jangan begitu! Kitab ini bukan milik klta. Kita tidak berhak...”

"Cukup! Berikan kepadaku atau terpaksa aku akan merampasnya dengan kekerasan!"

"Tidak boleh, In-moi!" kata Thian Liong yang perutnya mulai terasa panas juga.

“Hyaaaattt...!"

Siang In cepat menerjang dengan serangan yang kuat bukan main. Sepasang lengannya dikembangkan, lantas menyerang secara tiba-ttba dari samping, seperti sepasang sayap, kedua kakinya berjingkat dan berloncatan, seperti gerakan seekor burung.

Memang dara ini telah menyerang dengan memainkan ilmu silat Kong-ciak Sin-kun, (Silat Sakti Burung Merak). Gerakannya nampak indah dan aneh, akan tetapi sangat berbahaya karena kedua tangan serta kedua kaki itu menyerang bergantian secara tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka!

Thian Liong bersikap hati-hati. Gerakan serangan gadis ini dahsyat juga walau pun ketika secara diam-diam dia membandingkan, belumlah sedahsyat tingkat kepandaian dara baju merah yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai itu. Dia mengerahkan ilmu meringankan diri dan mengelak dari semua serangan. Tubuhnya berkelebatan, berubah menjadi bayangan yang tidak mungkin dapat dilanda pukulan atau tendangan.

Siang In terkejut. Belum pernah dia melihat ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehebat ini. Kedua matanya sampai menjadi kabur saking cepatnya bayangan Thian Liong bergerak. Siang In menjadi periasaran. Tiba-tiba dia sudah mencabut sapu tangan merah dan sekali mengebut dengan sapu tangan, belasan batang jarum kecil lembut segera menyambar ke arah tubuh Thian Liong.

"Haiiittt…!"

"Ahhh…!" Thian Liong mendorong dengan telapak tangannya, maka jarum-jarum itu pun runtuh semua.

Akan tetapi kini gadis itu telah menyerangnya dengan cepat dan kali ini kedua tangannya melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah maut di seluruh tubuh Thian Liong. Itulah ilmu totok Im-yang Tiam-hoat, yang dipergunakan Siang In setelah Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun) yang dikebutkan dengan sapu tangan merah tadi tidak berhasil.

"Hemm...!" Thian Liong menghadapi serangan baru ini dengan kagum.

Gadis ini memang lihai, mempunyai beberapa macam ilmu silat yang ampuh. Akan tetapi, seperti juga jarum-jarum beracunnya tadi, ilmu totok ini pun bersifat kejam karena setiap serangan merupakan serangan maut. Dia mengelak atau kadang kala menangkis dengan membatasi tenaganya sehingga Siang In hanya merasa betapa lengannya tergetar hebat ketika tertangkis lengan pemuda, akan tetapi dia tidak sampai menderita patah tulang.

Sesudah seluruh serangannya gagal sama sekali sedangkan pemuda itu belum satu kali pun membalas serangannya, maka tahulah Siang In bahwa tingkat kepandaiannya kalah jauh. Semua serangannya tadi gagal dan sampai sekian lamanya Thian Liong tak pernah balas menyerang. Hal ini berarti bahwa pemuda itu sudah banyak mengalah terhadapnya. Akan tetapi dia memang keras hati, tidak mau mengaku kalah begitu saja.

"Srattt! Singgg...!"

Dua sinar berkelebat dan gadis itu sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) yang tergantung pada punggungnya. Kini dua batang pedang yang berkilauan sudah berada di kedua tangannya, akan tetapi dia tidak segera menyerang.

"Hayo, cabut pedangmu! Hendak kulihat apakah engkau sanggup menandingi sepasang pedangku!" tantang Siang In sambil mengerutkan alisnya karena dia masih marah sekali oleh penolakan Thian Liong yang tak mau meminjamkan kitab pusaka Siauw-lim-pai untuk dilihatnya.

"Sudahlah, In-moi, kenapa engkau berkeras menantangku bertanding? Kita bukan musuh melainkan sahabat, bukan? Aku gembira dan berterima kasih sekali atas semua sikapmu kepadaku yang selama ini amat baik dan bersahabat, maka kuminta padamu, hentikanlah pertandingan ini."

"Hemmm, Souw Thian Liong! Engkau mengaku bahwa aku bersikap baik dan bersahabat, tapi sebaliknya, bagaimana sikapmu? Engkau pelit dan tidak percaya kepadaku sehingga memperlihatkan kitab pusaka itu saja engkau tolak! Apa artinya persahabatan bagimu?"

"In-moi, kitab ini bukan milikku, dan aku pun harus mentaati pesan dan perintah suhu-ku. Bagaimana aku dapat disebut seorang murid berbakti kalau aku melanggar perintah suhu yang tidak boleh memperlihatkan kitab ini kepada orang lain kecuali kepada Ketua Siauw-lim-pai? In-moi, maafkan aku. Engkau boleh minta yang lain, akan tetapi jangan minta aku melanggar larangan suhu."

"Cukup! Aku tetap ingin menguji kepandaianmu dan engkau coba bandingkan, siapa yang lebih lihai antara aku dengan gadis yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai. Pergunakan pedangmu. Aku tidak sudi bertanding melawan orang yang bertangan kosong sementara aku menggunakan sepasang pedangkul"

Thian Liong menghela napas panjang. Hati gadis ini sama kerasnya dengan gadis berbaju merah yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai itu. Kalau tidak dituruti tantangannya, tentu dia akan mendesak terus. Maka dia pun mencabut Thian-liong-kiam lantas melintangkan pedang itu di depan dadanya.

“Kalau begitu kukuh kehendakmu, baiklah, In-moi. Akan kulayani permainan pedangmu," kata Thian Liong dengan sikap tenang.

"Lihat seranganku. Haaaiiiit…!"

Dua batang pedang di kedua tangan Siang In berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar ke arah Thian Liong. Pemuda ini cepat melangkah mundur sambil memutar pedangnya, membentuk sebuah lingkaran sinar yang melindunginya.

Dia melihat betapa gerakan pedang di kedua tangan gadis itu pun ganas sekali. Sepasang pedang itu menyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular cobra yang liar dan ganas. Setiap tusukan atau bacokan mengarah bagian tubuh yang berbahaya sehingga setiap serangan merupakan ancaman maut baginya. Memang gadis itu telah memainkan Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa), ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas.

Akan tetapi Thian Liong menghadapi serangkaian serangan gadis itu dengan sikap tenang saja. Gerakannya tenang dan mantap. Setiap kali sinar pedangnya bertemu dengan dua gulungan sinar pedang lawan, sepasang pedang di tangan Siang In terpental. Akan tetapi hal ini justru membuat Siang In menjadi makin penasaran sehingga dia mengamuk terus, menyerang dengan sekuat tenaga sambil mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya.

Seperti tadi ketika mereka bertanding dengan tangan kosong, kini Thian Liong juga selalu mengalah, hanya mengelak atau menangkis saja. Tiga puluh jurus telah lewat dan selalu Siang In yang menyerang sedangkan Thian Liong hanya melindungi dirinya. Hal ini tentu saja membuat Siang In menjadi semakin penasaran. Dia merasa dipandang rendah dan hal ini sangat menyinggung harga dirinya.

"Hayo balas! Pertandingan macam apa ini kalau engkau hanya mengelak dan menangkis saja?" bentaknya dan dari suaranya terdengar bahwa dia marah dan penasaran sekali.

Thian Liong merasa serba salah. Untuk menyerang tentu saja dia tidak tega, akan tetapi kalau dia tidak menyerang, dia tahu bahwa gadis itu akan menjadi penasaran dan merasa dipandang rendah.

"In-moi, jaga seranganku!" Thian Liong berseru.

Kini pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang sangat lebar. Angin mendesir-desir dan pedang Thian-liong-kiam mengeluarkan suara berdesing-desing, bagaikan gelombang samudera di dalam badai menerjang ke arah Siang In.

Gadis itu terkejut bukan main. Dia cepat mengerahkan tenaga sambil memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya dari hantaman gelombang sinar pedang yang sangat dahsyat itu. Akan tetapi begitu kedua pedangnya bertemu dengan gulungan sinar pedang yang menerjangnya, hampir saja Siang In menjerit karena dua pedangnya terasa seperti terkurung gelombang sinar, diputar dan direnggut dari kedua tangannya.

Dia mempertahankan dengan pengerahan tenaga, akan tetapi tetap saja dua pedangnya terenggut lepas dari kedua tangannya. Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang, kemudian dia melihat Thian Liong yang memutar pedangnya itu mendadak menggerakkannya ke bawah dan...

“Cappp!”

Dua batang pedangnya meluncur kemudian menancap di atas tanah, di depan kakinya!

"Ilmu silat sepasang pedangmu amat hebat, In-moi, membuat aku cukup kerepotan," kata Thian Liong sejujurnya tanpa bermaksud mengejek karena memang dia menganggap ilmu pedang tadi sangat berbahaya.

Akan tetapi Siang In tidak menjawab, melainkan cepat mengambil sepasang pedangnya dengan kedua tangan, lantas dia melompat dan berlari pergi meninggalkan Thian Liong. Pemuda itu hanya dapat mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang matanya dan dia mendengar isak tertahan. Gadis itu meninggalkannya sambil menangis!

Thian Liong menyimpan pedangnya kemudian dia berdiri termenung. Dia merasa heran dan tidak mengerti. Dua kali dia berjumpa dengan dua orang gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi, dan keduanya mempunyai watak yang aneh. Keduanya keras hati, ganas dan kejam, tetapi keduanya juga menentang kejahatan seperti pendekar-pendekar wanita! Sungguh sukar menyelami watak kedua orang gadis itu.

Akan tetapi dia pun harus mengakui dalam hati bahwa baru sekarang ini secara berturut-turut dia merasa tertarik kepada wanita. Wajah gadis baju merah dan wajah Siang In silih berganti terbayang di depan matanya. Dia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke Siauw-lim…..

********************

Siauw-lim-pai merupakan perguruan silat yang amat terkenal, bukan saja sebagai sebuah perguruan silat yang dipimpin orang-orang sakti, tetapi juga sebagai pusat perkembangan Agama Buddha yang dipimpin para hwesio (pendeta) yang beribadat. Biar pun para murid yang telah lulus dan tak lagi tinggal di perumahan Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim) yang luas itu tidak diharuskan jadi pendeta, tetapi semua murid yang masih belajar ilmu silat di Kuil Siauw-lim diharuskan hidup sebagai murid Buddha yang patuh dan baik. Selagi mereka belajar dalam kuil besar yang merupakan kompleks perumahan luas itu, para murid harus merelakan kepala mereka digunduli seperti para pendeta dan hidup sederhana, pantang makanan berjiwa dan minuman keras.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah Hui Sian Hwesio yang usianya sudah enam puluh lima tahun. Hwesio ini bertubuh tinggi besar dan gemuk, berkulit putih dengan muka bulat dan alisnya tebal. Sikapnya lemah lembut dan biar pun dia merupakan orang nomor satu di Siauw-lim-pai, namun dia jarang ikut membimbing para murid dalam hal ilmu silat. Dia lebih mengutamakan pelajaran Agama Buddha dan lebih sering duduk bersemedhi seorang diri.

Ada pun yang sibuk mewakilinya mengurus persoalan Siauw-lim-pai dan mengawasi para murid kepala atau adik-adik seperguruannya melatih ilmu silat kepada para murid, adalah Cu Sian Hwesio. Dia menjadi wakil ketua dan adik seperguruan Hui Sian Hwesio.

Cu Sian Hwesio yang berusia enam puluh tahun ini berkulit agak hitam, hidungnya amat mancung dan bentuk wajahnya lebih mirip orang India. Memang dia merupakan seorang peranakan India, bahkan lama dia memperdalam pengetahuan agamanya di India. Hwesio ini bertubuh tinggi kurus dan walau pun dia merupakan sute (adik seperguruan) Hui Sian Hwesio serta tingkat kepandaian silatnya masih di bawah tingkat sang ketua, namun Cu Sian Hwesio terkenal sebagai seorang hwesio yang tangguh dan lihai sekali ilmu silatnya.

Seperti biasa, pada suatu pagi telah terjadi kesibukan dalam kompleks perumahan Siauw-lim-pai yang luas itu. Para murid yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang, sejak pagi sudah mengerjakan kewajlbannya masing-masing. Mereka bekerja secara bergiliran.

Yang mendapat tugas mengangkut air dari sumber air ke dapur dan tempat mandi sudah bekerja keras memikul air menggunakan tong-tong air. Ada pula yang membelah batang pohon menjadi potongan kayu-kayu bakar. Ada lagi yang bertugas mencari kayu di hutan sebelah. Ada yang bekerja di ladang di mana mereka menanam sayur-sayuran, ada yang bertugas membersihkan seluruh komplteks, ada yang menyapu, ada yang membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu. Pendeknya, sejak pagi tidak ada murid yang menganggur.

Di dapur juga tampak kesibukan dari mereka yang bertugas memasak makanan. Ada pula rombongan yang pada pagi itu bertugas mempelajari kitab-kitab agama dan menghafalkan doa-doa, dan ada pula rombongan yang bertugas untuk berlatih silat di lian-bu-thla (ruang berlatih silat), sebuah ruangan yang amat luas di mana puluhan murid bisa berlatih secara berbareng. Dari ruangan ini terdengar suara-suara bentakan mereka, akan tetapi di dalam ruangan lain, agak jauh dari ruangan berlatih silat, terdapat sebuah ruangan yang khusus untuk berlatih semedhi dan ruangan ini tenang sekali.

Sesudah matahari naik agak tinggi, Iima orang murid Siauw-lim-pai yang bertugas jaga di pintu gapura kompleks perumahan Siauw-lim-si menerima kunjungan seorang tamu. Lima orang murid yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun itu menyambut tamu tak dikenal ini dengan sikap hormat dan ramah, sikap yang diajarkan oleh para pimpinan mereka. Orang-orang muda dengan kepala gundul serta pakaian sederhana itu sekarang bangkit dari duduknya di dalam gardu penjagaan dan melangkah keluar gardu menyambut tamu itu.

Tamu itu adalah seorang lelaki berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tubuhnya sedang namun kokoh kuat. Wajahnya yang dihias kumis tipis itu tampak gagah perkasa dan sinar matanya mencorong. Pakaiannya ringkas, seperti yang biasa dikenakan kaum persilatan. Sebatang padang beronce biru tergantung di punggungnya sehingga mudah sekali diduga bahwa pria itu tentulah seorang ahll silat atau sebutan umumnya orang kang-ouw (sungai telaga) atau orang bu-lim (rimba persilatan).

Seorang murid tertua dari lima orang itu yang berusia tiga puluh tahun, cepat mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan dan dia bertanya, "Siapakah saudara yang datang berkunjung dan keperluan apakah yang membawa saudara datang ke Siauw-lim-si?"

Akan tetapi laki-laki itu tidak membalas penghormatan murid Siauw-lim-pai itu, bahkan dia memandang dengan alis berkerut, tanda bahwa hatinya tidak merasa senang.

"Kalian berlima tentu murid-murid Siauw-lim-pai, benarkah?" Suara pria itu juga terdengar tidak ramah, bahkan agak ketus.

"Benar, kami adalah murid-murid Siauw-lim-pai," jawab lima orang muda itu, mulai merasa penasaran melihat sikap tamu yang tidak ramah itu.

"Nah, cepat panggil Ketua Siauw-lim-pai ke sini untuk menemui aku! Aku hendak bicara dengan dia!"

Lima orang murid Siauw-lim-pai itu tentu saja mengerutkan alis dan merasa tidak senang. Tamu ini amat lancang dan tidak sopan! Masa berani mengeluarkan perintah memanggil ketua mereka begitu saja? Memangnya siapa sih dia!

Akan tetapi murid tertua sudah cepat maju mewakili teman-temannya karena dialah yang bertugas sebagai kepala jaga. Dia masih dapat bersikap sabar.

"Sungguh tidak mudah untuk menghadap ketua kami. Seorang tamu harus memberi tahu nama, alamat dan keperluannya agar kami dapat melapor ke dalam, kemudian tergantung keputusan ketua kami apakah beliau dapat menerima tamu itu menghadap atau tidak."

”Aku bukan tamu!" Pria itu membentak marah. "Aku tidak perlu menghadap ketua kalian, tapi dialah yang harus keluar menemui aku karena aku hendak menuntut dia! Hayo, kalian beri tahukan ketua kalian agar segera keluar menemui aku. Ketua kalian Hui Sian Hwesio, bukan?"

Murid-murid Siauw-lim-pai itu mulai marah. Orang ini sudah keterlaluan.

"Tidak bisa! Kami tidak dapat memenuhi permintaanmu yang melanggar peraturan kami itu!" kata kepala jaga dengan suara mulai ketus.

"Kalian tidak dapat memanggil ketua kalian keluar? Kalau begitu aku akan memanggilnya sendiri!" Setelah berkata demikian, pria itu memasuki pintu gapura kemudian melangkah memasuki pekarangan kuil yang luas itu. Akan tetapi dengan sangat tangkas lima orang murid penjaga itu segera melompat dan menghadang di depannya.

"Maaf, sobat. Sesuai dengan peraturan kami, tak seorang pun orang luar boleh memasuki pekarangan sebelum mendapatkan persetujuan. Dan kami tidak dapat menyetujui engkau menyelinap masuk begitu saja sebelum engkau memperkenalkan diri dan memberi tahu keperluanmu!"

"Hemm, kalian berani melarangku? Coba hendak kulihat bagaimana caranya kalian dapat menghalangiku. Murid Siauw-lim-pai sekarang memang sudah menjadi orang-orang jahat yang patut dihajar!" Sesudah berkata demikian, orang itu kembali melangkah maju tanpa menghiraukan mereka berlima yang menghadangnya.

Tentu saja lima orang murid Siauw-lim-pai itu menjadi marah bukan main. Mereka cepat menggerakkan tangan untuk mencegah dan menangkap orang yang tidak tahu aturan itu.

Akan tetapi orang itu menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan... lima orang murid Siauw-lim-pai itu langsung berpelantingan roboh ke kanan kiri. Cepat sekali gerakan kaki tangan orang itu yang telah membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga tidak dapat dihindarkan oleh lima orang murid Siauw-lim-pai itu. Setelah merobohkan lima orang murid Siauw-lim-pai, dia melangkah terus menuju anak tangga yang merupakan bagian terdepan dari kuil besar.

Setelah tiba di bawah kuil, dia berhenti dan mendengar teriakan-teriakan para murid yang tadi dirobohkan. Tapi dia tidak peduli, berdiri dengan dua kaki terpentang lebar dan kedua tangannya bertolak pinggang kemudian dia berteriak. Suaranya terdengar sangat nyaring karena dia mengerahkan khikang yang membuat suaranya melengking.

"Hui Sian Hwesio, keluarlah untuk bicara!"

Keadaan di sekitar kuil itu menjadi gempar. Para murid Siauw-lim-pai sudah meninggalkan pekerjaan masing-masing kemudian berbondong mereka menuju pekarangan kuil. Akan tetapi mereka tidak berani turun tangan dan hanya berdiri menanti perintah dari pimpinan mereka.

Tak kurang dari empat puluh orang murid telah berkumpul di anak tangga serambi depan dan di pekarangan. Namun pria itu tidak nampak takut, bahkan tersenyum mengejek dan mengulang teriakannya tadi.

Tiba-tiba muncul seorang hwesio berusia kurang lebih lima puluh tahun di serambi depan. Dengan langkah lebar hwesio itu menuruni anak tangga. Para murid Siauw-lim-pai merasa lega sebab hwesio pendek gendut yang muncul ini adalah pelatih mereka dalam ilmu silat.

Hwesio bernama Ki Sian Hwesio ini merupakan sute (adik seperguruan) termuda di antara para pimpinan Siauw-lim-si, akan tetapi karena ilmu silatnya tangguh maka dia dipilih oleh Hui Sian Hwesio sebagai pelatih, membantu Cu Sian Hwesio. Melihat ribut-ribut, Ki Sian Hwesio cepat keluar dan kini berhadapan dengan pria itu.

Lima orang murid yang tadi berjaga dan dirobohkan oleh tamu aneh itu, segera mendekati Ki Sian Hwesio dan kepala jaga itu melapor. "Suhu, tamu ini tidak mau memperkenalkan diri, bahkan memaksa masuk untuk menemui ketua dan sudah merobohkan teecu (murid) berlima."

Ki Sian Hwesio mengerutkan alisnya menatap wajah pria yang masih nampak marah itu. "Sobat, seorang tamu sepatutnya tunduk terhadap tata tertib pihak tuan rumah, bukannya memaksa masuk lantas berteriak-teriak di sini. Siapakah engkau dan ada keperluan apa engkau berkunjung ke Siauw-lim-pai?"

"Aku ingin bertemu dan bicara sendiri dengan Ketua Siauw-lim-pai! Apakah engkau adalah wakil dari ketua?" orang itu bertanya.

Ki Sian Hwesio menggelengkan kepalanya. "Bukan, akan tetapi..."

"Kalau begitu pergilah dan panggil ketua atau wakil ketua kalian untuk bicara denganku!" potong pria itu ketus.

"Pinceng (aku) memang bukan ketua atau pun wakil ketua, tapi pinceng mempunyai hak dan kewajiban untuk atas nama Siauw-lim-pai mengusir orang tak tahu aturan yang berani lancang mengacau di sini!"

Sinar mata tamu itu langsung mencorong ketika dia mendengar ucapan ini. Dia menatap wajah hwesio pendek gendut itu, lantas berkata, "Hemm, ingin kulihat bagaimana engkau akan mampu mengusir aku dari tempat ini!"

Karena sudah jelas bahwa tamu ini melanggar peraturan Siauw-lim-pai, bahkan tadi telah merobohkan lima orang murid, Ki Sian Hwesio tidak ragu-ragu lagi untuk bertindak.

"Manusia sombong, sambutlah serangan pinceng ini!" bentak hwesio gendut pendek itu.

Dia segera menyerang dengan dahsyatnya. Walau pun tubuhnya pendek gendut, Ki Sian Hwesio dapat bergerak dengan cepat sekali dan pukulannya mengandung tenaga besar. Hwesio ini lebih senang melatih ilmu silat Siauw-lim-pai aliran utara yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan, maka serangannya amat cepat dan dahsyat. Sambaran kepalan tangannya mendatangkan angin bersuitan.

Akan tetapi tamu yang belum juga memperkenalkan namanya itu agaknya memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Pantas kalau dia berani bersikap demikian kasar dan berkunjung ke Siauw-lim-pai yang menjadi pusat para pendekar silat. Menghadapi serangan Ki Sian Hwesio itu, dengan tenang tetapi lincah sekali dia mengelak ke samping dan selagi tangan hwesio itu meluncur luput, dia sudah membalas dengan tamparan tangan terbuka ke arah ubun-ubun kepala Ki Sian Hwesio yang jauh lebih pendek itu.

"Wuuuttt...! Dukk!"

Ki Sian Hwesio menangkis ke atas sehingga dua lengan bertemu dengan kuatnya. Akibat benturan kedua lengan ini, dua orang itu pun terhuyung ke belakang. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga mereka seimbang.

Ki Sian Hwesio menjadi penasaran, maka ia pun melakukan serangan dengan gencar dan bertubi-tubi, memainkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang kokoh kuat.


Tetapi ternyata lawannya juga lihai sekali dan mampu menandinginya, bukan saja mampu menghindarkan kakinya dari tangkapan, akan tetapi lawannya cepat bergulingan dan pada saat kaki Ki Sian Hwesio turun kembali, tanpa dapat dihindarkan lagi kakinya sudah dapat dicengkeram! Sebelum dia sempat meronta, dengan gerakan yang aneh tetapi kuat sekali lawannya menggeliat, kedua tangannya disentakkan dan tubuh Ki Sian Hwesio terlempar beberapa meter lalu jatuh terbanting di atas tanah. Demikian kuat bantingan itu sehingga tulang pundak kirinya patah! itu adalah ilmu gulat dari bangsa Mancu!

Melihat betapa pelatih mereka terbanting keras lantas hanya dapat bangkit duduk sambil mengeluh, para murid Siauw-lim-pai menjadi sangat marah dan mereka sudah siap untuk mengeroyok tamu itu. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara nyaring berwibawa.

"Semua murid, mundur!"

Para murid menoleh ke arah datangnya suara, dan ternyata yang membentak adalah Cu Sian Hwesio yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka hitam. Mendengar bentakan ini para murid tidak jadi mengepung dan cepat melangkah mundur, memberi ruangan kepada wakil ketua Siauw-lim-pai. Cu Sian Hwesio melangkah maju turun dari anak tangga dan berdiri berhadapan dengan tamu itu.

"Omitohud!" kata Cu Sian Hwesio sambil merangkap dua tangan di depan dada memberi salam sembah. "Pinceng melihat ada gerakan silat Kong-thong-pai dalam permainan sicu (orang gagah). Selama ini tidak pernah ada permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Kong-thong-pai, kenapa sicu datang membikin ribut di sini?"

"Ini adalah urusan pribadiku dengan orang Siauw-lim-pai, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan silat mana pun!" kata pria itu ketus.

"Omitohud, agaknya sicu sedang marah sekali! Siapakah nama sicu yang terhormat, dan ada urusan apakah antara sicu dengan Siauw-lim-pai?" tanya Cu Sian Hwesio, suaranya tetap tenang dan sabar.

"Engkau siapa?" tanya orang itu, di dalam suaranya masih terkandung kemarahan. "Aku hanya ingin bicara dengan Ketua Siauw-lim-pai!"

"Ketua Siauw-lim-pai sedang bersemedhi, tidak boleh diganggu. Pinceng adalah Cu Sian Hwesio, Wakil Ketua Siauw-lim-pai. Semua urusan yang berkaitan dengan Siauw-lim-pai dapat diselesaikan dengan pinceng. Suheng Hui Sian Hwesio selaku Ketua Siauw-lim-pai telah menugaskan pinceng untuk menangani semua urusan mengenai Siauw-lim-pai."

Sikap orang itu agak berubah. Kini dia mengangkat kedua tangannya membalas salam Cu Sian Hwesio, lalu berkata, tidak seketus tadi. "Bagus, kalau begitu, aku boleh berurusan denganmu. Namaku Kwee Bun To dan baru beberapa bulan tinggal di dusun kaki bukit ini untuk mengundurkan diri dari keramaian kota dan hidup tenteram dengan anak tunggalku, seorang gadis. Kami memilih tinggal di kaki bukit ini karena mengira bahwa dekat dengan Siauw-lim-pai, tentu kehidupan di sini aman dan tenteram. Siapa kira justru Siauw-lim-pai yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup kami dan menghancurkan kehidupan anak kami yang telah dewasa!" Orang yang mengaku bernama Kwee Bun To ini mengepal tinju sambil mengamang-amangkan ke atas. "Aku bersumpah untuk menangkap murid Siauw-lim-pai itu, membelah dadanya, mengeluarkan jantungnya dan menginjak-injak kepalanya sampai hancur lebur!"

Para murid Siauw-lim-pai bergidik mendengar sumpah yang sangat mengerikan itu. Akan tetapi Cu Sian Hwesio tetap tenang dan dia tersenyum sabar.

"Omitohud! Agaknya Kwee-sicu menyimpan dendam sakit hati yang teramat besar. Akan tetapi, apakah sebenarnya yang telah terjadi dan apa hubungannya dengan murid Siauw-lim-pai?"

"Hemm, agaknya para pimpinan Siauw-lim-pai hanya bisa mengajarkan silat dan doa-doa saja, akan tetapi tidak mampu mengawasi kelakuan para muridnya. Nah, dengarlah kalian semua, orang-orang Siauw-lim-pai! Malam tadi, seorang laki-laki telah menyelinap masuk kamar anak perempuanku, menotoknya kemudian memperkosanya! Dan jahanam keparat busuk itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai!"

Semua orang terkejut bukan main.

“Omitohud!" Cu Sian Hwesio berseru. "Nanti dulu, Kwee-sicu. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai?"

"Kebetulan tadi malam aku terbangun dan aku mendengar gerakan orang di dalam rumah. Aku segera keluar dari kamarku dan sempat melihat sesosok bayangan berkelebat keluar dari kamar anakku. Aku cepat mengejarnya dan sesudah tiba di luar, aku menyerangnya. Kami lantas berkelahi tetapi dia dapat melarikan diri. Keparat!"

"Bagaimana sicu dapat mengetahui bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai? Apakah sicu dapat mengenali mukanya?"

"Tidak, cuaca terlalu gelap, aku hanya dapat menduga bahwa dia tentu seorang laki-laki yang masih muda."

"Akan tetapi bagaimana sicu mengetahui bahwa orang itu telah... menodai anakmu?"

"Aku kemudian mendapatkan anakku dalam keadaan tertotok dan sudah menjadi korban perkosaan. Ahh, aku harus dapat menemukan jahanam terkutuk itu!"

"Nanti dulu, Kwee-sicu. Engkau tadi menceritakan bahwa keadaan cuaca gelap sehingga engkau tidak dapat mengenali mukanya. Lalu bagaimana engkau bisa begitu yakin bahwa pemerkosa itu adalah murid Siauw-lim-pai?"

"Buktinya sudah sangat jelas! Ketika berkelahi dengan dia, aku mengenal jurus-jurusnya. Jelas dia mempergunakan jurus silat Lo-han-kun (Silat Orang Tua Gagah) dari Siauw-lim-pai. Tidak salah lagi! Aku berani bersumpah!"

"Omitohud, urusan ini menjadi amat ruwet dan sulit. Kalau sicu tidak mengenal mukanya, lalu bagaimana pinceng dapat menerima tuduhanmu bahwa dia itu murid Siauw-lim-pai? Bukti ilmu silat itu sama sekali tidak kuat, sicu. Semua orang, biar pun bukan murid resmi Siauw-lim-pai, dapat saja mempelajarinya."

"Tidak, aku yakin dia murid di sini. Pertama, jurus silatnya tadi. Ke dua, bukankah Siauw-lim-si yang paling dekat dengan dusun kami? Karena itu aku sengaja datang ke sini untuk menuntut kepada ketua kuil atau kepadamu sebagai wakil ketua, untuk menangkap dan menyerahkan muridmu yang jahanam itu kepadaku!

"Akan tetapi bagaimana pinceng dapat menangkap orangnya bila pinceng tidak tahu siapa orang itu? Rasanya tidak mungkin menangkapnya karena engkau sendiri tidak memberi tanda-tanda tertentu dari orang itu. Kami tidak dapat memenuhi permintaanmu itu, Kwee-sicu. Permintaanmu tidak masuk akal. Tidak mungkin kami melakukan penangkapan atau tuduhan kepada murid-murid kami sendiri tanpa adanya bukti yang nyata."

"Hemmm, kalau begitu terpaksa aku akan melakukan pembalasan dengan caraku sendiri. Sebulan sekali aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pai dan aku baru berhenti kalau Siauw-lim-pai sudah menyerahkan jahanam keparat terkutuk itu kepadaku!"

"Omitohud! Engkau sama sekali tidak boleh melakukan hal itu, sicu! Itu sangat kejam dan tidak adil namanya dan pinceng pasti akan mencegahya!" seru Cu Sian Hwe-sio.

"Bagus, agaknya engkau ingin melindungi dan membela jahanam busuk itu! Jangan dikira aku takut kepadamu, Cu Sian Hwesio!" Kwee Bun To bersikap siap untuk bertanding.

Pada saat itu pula seorang pemuda menghampiri Cu Sian Hwesio lantas memberi hormat kepada hwesio bermuka hitam tinggi kurus itu.

"Susiok!"

Cu Sian Hwesio segera memandang dengan seksama. Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, wajahnya bulat dengan kulit muka putih bersih, alisnya tebal hitam. Seorang pemuda bertubuh sedang akan tetapi tegap yang bersikap lembut dan wajahnya tampan gagah. Sepasang matanya tajam dan mulutnya selalu dihias senyum ramah.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner