KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-20


"Ahh, kiranya engkau, Cia Song!" seru Cu Sian Hwesio gembira.

Cia Song adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang sangat berbakat dan yang dulu dilatih oleh Hui Sian Hwesio sendiri sehingga tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada murid-murid lain.

"Tunggulah dulu, pinceng hendak menyelesaikan urusan dengan Kwee-sicu ini."

"Teecu (murid) sudah mendengar semua yang dipertengkarkan tadi, susiok (paman guru). Perkenankan teecu mewakili susiok dan Siauw-lim-pai untuk menghadapi Kwee-kauwsu (guru silat Kwee) ini.”

Cu Sian mengangguk. Dia memang merasa segan untuk berurusan dengan seorang yang tengah dimabok dendam dan kemarahan itu, dan dia mengenal Cia Song sebagai seorang pemuda yang pandai dan bijaksana sehingga suheng-nya, yaitu Ketua Siauw-lim-pai Hui Sian Hwesio sering memuji-muji muridnya itu. Dia mengangguk-angguk kemudian mundur beberapa langkah, membiarkan Cia Song mewakilinya.

Kini dengan sikap tenang pemuda itu telah berdiri menghadapi Kwee Bun To, ditonton oleh semua murid Siauw-lim-pai yang mengenal dan mengagumi pemuda ini sebagai seorang jagoan muda Siauw-lim-pai itu. Kwee Bun To juga memandang penuh perhatian. Pemuda itu tampan gagah, sikapnya tenang dan lembut, wajahnya ramah, pakaiannya tidak terlalu mewah namun bersih dan rapi, sepatunya dari kulit hitam mengkilap dan di punggungnya tergantung pedang beronce merah.

Cia Song memberi hormat dengan merangkap dua tangan di depan dada. "Kwee-kauwsu, saya harap engkau suka bersikap tenang dan sabar, karena hanya dengan sikap seperti itu persoalan akan dapat diselesaikan dengan baik."

Kwee Bun To mengerutkan alisnya. Baru beberapa bulan ini dia pindah ke dusun di kaki bukit, dusun yang menjadi tempat asalnya. Tadinya dia memang seorang guru silat yang cukup terkenal di daerah utara. Sesudah wilayah Cina Utara dikuasai oleh bangsa Yucen yang mendirikan Kerajaan Kin sehingga Kerajaan Sung terpaksa dipindahkan ke sebelah selatan Sungai Yang-ce, guru silat Kwe Bun To terpaksa membubarkan perguruannya.

Dia melarikan diri karena tidak mau tunduk kepada bangsa Yucen. Di dalam pelarian yang dilakukan bersama isteri dan anak tunggalnya, akhirnya isterinya meninggal dunia karena menderita kaget dan sakit berat. Akhirnya dia pun tinggal di dusun di kaki bukit itu, berdua dengan Bi Hwa, puterinya yang telah berusia tujuh belas tahun. Selama ini dia tak pernah memperkenalkan diri sebagai guru silat, lantas bagaimana pemuda ini dapat menyebutnya kauwsu (guru silat)?

"Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah seorang guru silat? Siapakah engkau, orang muda?" tanya Kwee Bun To sambil memandang tajam penuh selidik.

Cia Song tersenyum ramah. "Nama saya Cia Song dan sebagai seorang murid Siauw-lim-pai, saya merasa berkewajiban untuk mewakili suhu, susiok dan semua saudara di Siauw-lim-pai untuk membereskan persoalan ini denganmu, Kwee-kauwsu. Selama ini saya telah merantau ke wilayah utara dan mendengar banyak hal, juga mengenai Pek-eng Bu-koan (Perguruan Silat Garuda Putih) yang anda pimpin di kota raja tetapi terpaksa dibubarkan setelah bangsa Yucen menguasai daerah utara."

"Hemm, engkau mengetahui banyak hal. Akan tetapi apa yang dapat kau lakukan dengan persoalanku ini, sedangkan para pimpinan Siauw-lim-pai sendiri nampaknya tidak mampu memecahkannya? Keluargaku sudah tertimpa mala petaka, dan aku hanya menghendaki agar Siauw-Lim-pai menyerahkan jahanam terkutuk itu. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, terpaksa aku akan melakukan pembalasan dengan caraku sendiri, yaitu setiap bulan aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pai untuk melampiaskan dendam keluargaku!"

"Kwee-kauwsu, saya harap anda dapat menyabarkan dan menenangkan hati, tidak hanya menuruti nafsu amarah karena dendam yang membakar hati. Jalan yang anda tempuh itu hanya memperlebar dendam mendendam dan permusuhan yarig takkan menguntungkan dua belah pihak. Ketahuilah, Kwee-kauwsu, para murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang sudah digembleng lahir batinnya, kiranya tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Lebih besar lagi kemungkinannya bahwa pelakunya adalah orang yang memusuhi Siauw-lim-pai. Dia telah mempelajari Lo-han-kun lantas menggunakan itu untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan anda, Juga untuk merusak nama baik Siauw-lim-pai. Karena itu, saya mempunyai usul yang jauh lebih baik dari pada apa yang ingin anda lakukan sebagai balas dendam itu."

Sikap sopan serta ucapan yang ramah lembut itu sedikit mendinginkan hati Kwee Bun To yang sedang dibakar api kemarahan. "Hemm, orang muda, usul apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku?"

"Begini, Kwee-kauwsu. Aku berjanji akan mencari pemerkosa itu sampai dapat kutangkap dan kubekuk batang lehernya! Kalau aku berjanji untuk menangkap dan menyeret orang itu kepadamu, maukah engkau membatalkan ancamanmu hendak membunuhi para murid Siauw-lim-pai itu?"

"Hemmm, Cia Song, jawabanmu ini jauh lebih baik dari pada jawaban mereka tadi. Paling tidak engkau berjanji hendak menangkap jahanam itu, tidak peduli itu murid Siauw-lim-pai atau bukan. Baik, aku memberi waktu satu bulan kepadamu. Kalau dalam waktu sebulan engkau belum dapat menyerahkan jahanam itu, maka terpaksa aku menggunakan caraku sendiri untuk membalas dendaml"

"Baik, Kwee-kauwsu. Akan tetapi untuk mencari pemerkosa itu, saya harus mendapatkan keterangan dan penjelasan dari puterimu tentang orang itu, setidaknya ciri-ciri yang dapal diceritakan puterimu agar mudah bagiku untuk mencari orangnya."

"Baik, hal itu mudah dilakukan. Akan tetapi aku masih belum yakin engkau akan mampu menangkap keparat itu sebelum menguji kemampuanmu. Sebab itu terimalah seranganku sekali saja. Kalau engkau mampu menahan, baru aku dapat menerima usulmu. Beranikah engkau menyambut seranganku?"

Cia Song tersenyum. "Kalau itu yang anda kehendaki, silakan, Kwee-kauwsu. Saya siap menyambut pukulanmu."

"Cia Song berhati-hatilaht" Seru Cu Sian Hwesio khawatir. Tetapi murid keponakannya itu menoleh sambil tersenyum kepadanya.

"Susiok, teecu hendak membantu Kwee-kauwsu, tentu dia tidak akan mencelakai teecu."

"Cia Song, bersiaplah dan sambut seranganku ini!" Kwee Bun To membentak nyaring.

Cia Song segera menghadapinya dan begitu melihat guru silat itu menyerangnya dengan dorongan sepasang telapak tangan, dia pun cepat menekuk kedua lututnya dan membuat gerakan serupa, yaitu mendorongkan kedua telapak tangan ke depan untuk menyambut serangan jarak jauh yang mengandung hawa pukulan dahsyat itu.

"Wuuuuttt...! Blarrrr...!"

Dua hawa pukulan yang dahsyat dan kuat bertemu di antara mereka dan Kwee Bun To terdorong mundur sampai tiga langkah! Dia terkejut sekali. Walau pun dia tadi tidak ingin membunuh pemuda yang bermaksud membantunya itu, namun dia sudah mengerahkan tiga perempat bagian tenaganya, dan ternyata pemuda itu mampu mendorongnya sampai tiga langkah. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga sakti pemuda itu lebih kuat dari pada tenaga Ki Sian Hwesio yang tadi bertanding melawannya. Hal ini menimbulkan kepercayaan di dalam hatinya. Siapa tahu, mungkin pemuda ini akan mampu menangkap jahanam yang telah memperkosa puterinya.

"Cia Song, aku menanti kunjunganmu untuk mendengar keterangan dari anakku. Cu Sian Hwesio, tolong sampaikan ucapan maafku kepada Ketua Siauw-lim-pai atas gangguanku yang terpaksa kulakukan ini." Sesudah berkata begitu, guru silat yang menderita pukulan batin hebat itu lalu memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

"Omitohud!" Cu Sian Hwesio berseru. "Orang yang sedang penuh duka dan kemarahan, ditekan dendam sakit hati yang hebat seperti dia, menggelapkan semua pertimbangan sehingga dia bisa menjadi orang yang amat berbahaya! Untung engkau dapat meredakan kemarahannya dan menanamkan kepercayaan di hatinya. Cia Song, marilah kuhadapkan engkau kepada suheng Hui Sian Hwesio."

"Baik, susiok."

Akan tetapi baru saja kedua orang itu melangkah hendak memasuki kuil, dua orang murid Siauw-Iim-pai yang tadi melakukan penjagaan di pintu gerbang nampak datang berlari-lari lalu melapor kepada Cu Sian Hwesio bahwa ada seorang tamu hendak menghadap Ketua Siauw-lim-pai.

"Ehh? Siapa lagi yang hendak menghadap ketua?" tanya Cu Sian Hwesio dengan heran.

"Tamu yang ini mematuhi aturan, suhu. Dia masih muda, mengaku bernama Souw Thian Liong dan dia adalah murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin mohon menghadap ketua karena membawa pesan penting dari Tiong Lee Cin-jin."

Wajah yang berkulit hitam itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar.

"Tiong Lee Cin-jin? Omitohud...! Kalau dia murid manusia bijaksana itu, tentu saja suheng Hui Sian Hwesio mau menerimanya! Persilakan dia masuk karena akan sekalian pinceng hadapkan kepada suheng bersama Cia Song."

Dua orang murid itu berlari lagi menuju ke luar dan tak lama kemudian mereka mengantar Thian Liong ke depan Cu Sian Hwesio. Dengan seksama wakil ketua ini mengamati orang muda yang datang dan memberi hormat kepadanya.

Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun. Tubuhnya sedang dan wajahnya tampan dengan kulit putih bersih. Sepasang matanya mencorong namun bersinar lembut, hidungnya mancung, mulutnya selalu menyungging senyum. Pakaiannya amat sederhana dan dia menggendong sebuah buntalan pakaian. Pemuda ini mirip Cia Song, pikir Cu Sian Hwesio, hanya lebih muda.

"Locianpwe, mohon maaf sebesarnya jika kedatangan saya mengganggu ketenteraman di sini. Kalau tidak membawa perintah suhu, sungguh saya tidak akan berani mengganggu tempat suci ini."

Cu Sian Hwesio merangkap kedua tangan di depan dada sambil tersenyum. "Omitohud!" Dia berseru. “Pinceng merasa gembira sekali. Siauw-lim-pai telah mendapat kehormatan besar menerima kunjungan murid atau utusan yang mulia Tiong Lee Cin-jin! Mari, Souw-taihiap (pendekar besar Souw), marilah pinceng antarkan engkau menghadap suheng Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai."

"Mari, Souw-siauwte (Saudara Muda Souw), kita menghadap suhu. Kebetulan sekali saya pun hendak menghadap beliau sehingga kita dapat bersama-sama menghadap suhu. Dan perkenalkan, saudara Souw, saya bernama Cia Song, seorang di antara murid-murid suhu Hui Sian Hwesio."

Sikap yang ramah terbuka itu menyenangkan hati Thian Liong, dan dia merangkap kedua tangannya di depan dada dengan hormat. Pemuda itu menyebutnya saudara muda, dan memang pemuda tampan gagah murid ketua Siauw-lim-pai itu tentu beberapa tahun lebih tua darinya.

"Saya senang sekali bisa berkenalan denganmu, Cia-twako (kakak Cia), dan saya merasa terhormat sekali akan dapat menghadap locianpwe Hui Sian Hwesio."

"Marilah, Souw-taihiap dan Cia Song. Biar pun suheng Hui Sian Hwesio jarang sekali mau bertemu dengan orang lain, akan tetapi pinceng yakin bahwa kali ini dia akan suka sekali untuk bertemu dengan kalian," kata Cu Sian Hwesio.

Mereka bertiga memasuki kompleks bangunan Siauw-lim-pai yang luas dan setelah tiba di sebuah ruangan tertutup yang sunyi, di mana tidak tampak seorang pun hwesio, Cu Sian Hwesio merangkap kedua tangannya di depan dada, berdiri sedikit membungkuk dengan hormat di luar pintu, lalu berkata dengan nada suara lembut.

"Suheng yang mulia, perkenankanlah pinceng menghadapkan murid Cia Song dan taihiap Souw Thian Liong, murid atau utusan yang mulia Tiong Lee Cin-jin kepada suheng!"

Sunyi menyambut ucapan Cu Sian Hwesio itu. Kemudian terdengar suara jawaban yang sangat lembut dari dalam, namun suara lembut itu terdengar oleh Thian Liong seolah ada orang berbisik di dekat telinganya. Dengan kagum dia mengerti bahwa suara itu dibawa oleh tenaga dalam yang amat kuat, menembus segala apa yang menghalang di depan.

"Omltohud! Mimpi apa pinceng semalam sehingga yang mulia Tiong Lee Cin-jin mengutus muridnya datang ke sini?"

Belum habis kalimat itu terucapkan, daun pintu itu pun bergerak seperti dibuka dari dalam. Akan tetapi Thian Liong tidak melihat adanya orang yang membuka daun pintu itu, hanya terasa ada hembusan angin yang lembut namun kuat. Tahuiah dia bahwa pintu itu dibuka dengan dorongan angin itu dari jauh.

Dan sesudah dia memandang ke dalam ruangan itu, jauh di tengah ruangan yang luas itu tampak duduk seorang hwesio. Usianya sekitar enam puluh tahun lebih, sedikitnya enam puluh lima tahun, tubuhnya gemuk tinggi dan besar seperti tubuh arca Ji-lai-hud, mukanya bulat penuh senyum cerah dan alisnya tebal, matanya bersinar lembut. Hwesio itu duduk bersila di atas dipan kayu.

Agaknya hwesio ini tadi membuka daun pintu dengan dorongan tangan yang menimbulkan angin lembut yang kuat. Hal ini saja membuktikan betapa tinggi ilmu kepandaian hwesio itu yang sudah mampu mengatur tenaga saktinya sedemikian rupa seolah tenaga saktinya itu merupakan sebagian anggota tubuhnya yang bisa melakukan apa saja dari jarak jauh.

"Silakan masuk, Souw-taihiap dan kalian juga, Cia Song dan Cu Sian sute," kata hwesio tua itu sambil menggapai dengan tangan kanannya.

Tiba-tiba saja Thian Liong menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah hwesio tua yang dia yakin tentu Hui Sian Hwesio adanya. Tadi ketika Cu Sian Hwesio menyebutnya taihiap (pendekar besar), walau pun hatinya merasa tidak enak tetapi dia menerima saja. Namun saat ketua Siauw-lim-pai menyebutnya demikian, dia merasa berat sekali untuk menerima sebutan itu, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

"Harap locianpwe sudi memaafkan teecu (murid). Sungguh teecu tidak berani menerima sebutan taihiap dari locianpwe. Teecu bernama Souw Thian Liong dan teecu akan merasa senang sekali kalau locianpwe menyebut nama teecu begitu saja.”

Hwesio tua itu tertawa lembut sambil mengelus-elus jenggotnya yang menutupi lehernya. Dia tidak berkumis dan gundul, akan tetapi jenggotnya yang telah berwarna dua itu cukup panjang.

"Omitohud! Yang mulia Tiong Lee Cin-jin telah memberi bimbingan luar dalam kepadamu, membuat pinceng merasa sangat kagum. Bangkit dan masuklah Thian Liong, dan jangan banyak sungkan. Sebagai murid yang mulia Tiong Lee Cin-jin, engkau patut kami anggap sebagai golongan sendiri."

"Terima kasih, locianpwe," kata Thian Liong, lalu dia pun mengikuti Cu Sian Hwesio dan Cia Song memasuki ruangan itu. Setelah berhadapan dengan hwesio itu, Cu Sian Hwesio lalu berdiri di pinggiran sedangkan dua orang muda itu segera berlutut di depan Hui Sian Hwesio.

Hui Sian Hwesio memandang pada dua orang pemuda yang berlutut sambil menundukkan muka mereka itu, lalu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri.

"Cia Song coba angkat mukamu dan pandang pinceng!” perintahnya dengan suara lembut. Cia Song menurut, mengangkat mukanya dan menatap wajah suhu-nya, bertemu pandang mata sejenak lalu dia menunduk kembali.

"Omitohud! Bagus sekali. Engkau telah memperoleh banyak sekali kemajuan, hanya saja engkau harus banyak mengurangi kekerasan hatimu dengan sering kali melakukan latihan siu-lian (semedhi) dan pengendalian nafsu."

"Baik, suhu. Teecu akan menaati perintah suhu," jawab Cia Song lirih.

"Sudah bertahun-tahun lamanya engkau pergi berkelana. Sekarang datang ke Siauw-lim-si (kuil Siauw-lim) membawa keperluan penting apakah?"

"Teecu merasa rindu kepada Siauw-lim-si, kepada suhu, para susiok (paman guru) serta semua saudara, maka teecu sengaja datang berkunjung, suhu." jawab Cia Song dengan hormat.

"Maaf, suheng. Pinceng ingin menyampaikan laporan tentang jasa murid Cia Song yang sudah menyelamatkan Siauw-lim-pai dari keributan yang baru saja terjadi," kata Cu Sian Hwesio.

"Keributan? Apakah yang telah terjadi, sute (adik seperguruan)?"

"Baru saja kita kedatangan seorang guru silat dari Pek-eng Bu-koan bernama Kwee Bun To. Dia marah-marah dan menuntut agar kita menyerahkan seorang murid Siauw-lim-pai yang katanya telah memperkosa seorang puterinya."

"Omitohud! Semoga Tuhan mengampuni kita! Siapakah murid Siauw-lim-pai yang sudah melakukan perbuatan hina itu, sute?"

"Kauwsu (guru silat) Kwee Bun To itu tidak mengetahui siapa orangnya."

"Hemmm, kalau begitu bagaimana dia dapat mengatakan bahwa pelakunya adalah murid Siauw-lim?"

"Menurut ceritanya, malam itu puterinya diperkosa orang kemudian dia bertemu dengan pelakunya. Pada gelap malam itu dia menyerang, namun orang muda yang melakukan itu melawannya dengan menggunakan ilmu silat Lo-han-kun yang telah dikenalnya. Maka dia mengatakan dengan pasti bahwa pelakunya adalah murid Siauw-lim-pai."

"Omitohud! Bagaimana dapat terjadi hal seperti ini? Lalu bagaimana sute?"

"Dia menuntut agar kita menyerahkan pelaku itu, kalau tidak maka dia akan membunuhi murid Siauw-lim-pai satu demi satu. Hampir saja pinceng terpaksa bertanding dengan dia, akan tetapi lalu muncul murid Cia Song yang melerai dan menyabarkan Kwee Bun To. Cia Song menjanjikan kepadanya bahwa dia akan menangkap pelaku perkosaan dalam waktu satu bulan. Kwee Bun To menerima janji itu lantas mengundurkan diri sehingga Siauw-lim-pai terhindar dari keributan."

Hui Sian Hwesio mengangguk-angguk sambil memandang kepada muridnya. "Cia Song, engkau telah berjanji kepada Kwee-kauwsu akan menangkap pelaku itu dalam satu bulan, apakah engkau mengetahui siapa pelakunya?"

"Teecu belum mengetahuinya, suhu."

"Hemm, kalau begitu, bagaimana engkau berani berjanji hendak menangkapnya?"

"Akan teecu selidiki sampai teecu berhasil menangkapnya."

"Apakah engkau percaya bahwa pelakunya adalah seorang murid Siauw-lim-pai?"

"Teecu tidak percaya. Mungkin saja orang lain yang sengaja menggunakan ilmu silat Lo-han-kun untuk menyembunyikan diri sambil menjatuhkan kesalahan ini kepada Siauw-lim-pai. Teecu akan menyelidikinya, suhu."

"Omitohud! Sikapmu itu memang baik sekali dan sudah menyelamatkan Siauw-lim-si dari keributan dan permusuhan. Akan tetapi juga merupakan tindakan yang gegabah! Seorang laki-laki sekali berjanji harus dipenuhi dan engkau sudah berjanji akan menangkap pelaku itu, maka janji itu harus kau penuhi! Bagaimana jika sampai satu bulan engkau belum juga dapat menemukan pelaku kejahatan itu?"

"Kalau sampai teecu gagal, teecu akan mempertanggung jawabkan kepada kauwsu Kwe Bun To, suhu."

"Bagus, bagus sekali! Seorang laki-laki harus selalu memenuhi janjinya dan harus berani mempertanggung jawabkan semua tindakannya! Engkau memang pantas menjadi murid Siauw-lim-pai." Hui Sian Hwesio niemuji, mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya, lalu memandang kepada Thian Liong.

Diam-diam dia merasa bangga dan girang karena utusan Tiong Lee Cin-jin mendengarkan semua percakapannya dengan Cia Song. Sungguh membanggakan hati kalau Tiong Lee Cin-jin mendengar akan kegagahan murid Siauw-lim-pai!

"Souw Thian Liong, sekarang pinceng beralih kepadamu. Sebagai murid Tiong Lee Cin-jin engkau diutus berkunjung ke Siauw-lim-si membawa berita penting apakah? Ada petunjuk apakah dari gurumu?"

Thian Liong memberi hormat sambil tetap berlutut. "Locianpwe, teecu diutus suhu untuk pertama-tama menyampaikan salam hormat suhu kepada locianpwe."

"Omitohud! Tiong Lee Cin-jin yang terhormat sungguh biJaksana dan baik hati. Salamnya pinceng terima dengan rasa bahagia dan kelak kalau engkau bertemu lagi dengan beliau, sampaikan salam dan hormat pinceng yang mendalam untuk beliau."

"Teecu akan menyampaikan pesan locianpwe. Dan tugas teecu yang kedua adalah untuk menyerahkan sebuah kitab yang ditemukan suhu dalam perjalanannya ke barat. Menurut suhu kitab itu merupakan hak milik Siauw-lim-pai." Setelah berkata demikian, Thian Liong segera mengeluarkan kitab Sam-jong Cin-keng yang tua itu lalu dengan kedua tangan dia menyerahkannya kepada Hui Sian Hwesio.

Hwesio tua itu menerima kitab itu, lalu membuka-buka lembarannya dan membelalakkan matanya seolah-olah tak percaya akan apa yang dilihatnya, lalu meletakkan kitab di atas pahanya dan dia merangkap kedua tangan di depan dada. "Omitohud...! Rasanya seperti dalam mimpi saja bahwa saat ini pinceng dapat memegang kitab Sam-jong Cin-keng yang sudah hilang puluhan tahun ini! Sungguh luar biasa sekali kebijaksanaan yang mulia Tiong Lee Cin-jin. Setelah menemukan kitab ini, dia masih bersusah payah mengutus muridnya untuk mengembalikan kepada kami! Bukan main! Di dunia ini mana mungkin ada seorang yang demikian jujur dan mulia seperti dia? Tidak, ini tidak mungkin! Dia yang menemukan sesudah puluhan tahun Siauw-lim-pai hilang harapan dan tidak mencari lagi, maka dialah yang berhak atas kitab ini!"

"Akan tetapi, suheng! Kitab Sam-jong-cih-keng adalah sebuah kitab pusaka Siauw-lim-pai, menjadi hak milik kita sepenuhnya!" seru Cu Sian Hwesio.

"Maafkan teecu, suhu. Teecu kira sudah sepantasnya kalau yang mulia Tiong Lee Cin-jin mengembalikan kitab Sam-jong Cin-keng itu kepada Siauw-lim-pai. Apa bila teecu sendiri menemukan kitab milik perguruan lain, tentu teecu juga akan mengembalikannya kepada perguruan yang berhak. Teecu yakin bahwa kalau suhu memberikan kitab Sam-jong Cin-keng itu kepada yang mulia Tiong Lee Cin-jin, sudah pasti beliau akan menolaknya."

Walau pun sute dan muridnya mengemukakan pendirian mereka yang pantas dan kuat, namun Hui Sian Hwesio tetap mengambil kitab itu lalu menyerahkan kepada Thian Liong sambil berkata.

"Souw Thian Liong, engkau terimalah kitab ini dan katakan kepada gurumu bahwa pinceng memberikan kitab ini kepadanya sebab pinceng menganggap dialah yang berhak memiliki kitab ini."

Thian Liong tidak berani menerimanya, melainkan cepat memberi hormat sambil berkata, "Maafkan teecu, locianpwe. Menurut teecu apa yang dikatakan locianpwe Cu Sian Hwesio dan twako Cia Song tadi benar dan tepat. Kitab ini dahulu adalah milik Siauw-lim-pai dan sampai sekarang pun menjadi hak milik Siauw-lim-pai, maka teecu harap sudilah kiranya locianpwe suka menerimanya."

"Omitohud! Pinceng selalu bertindak menurutkan naluri hati nurani. Sekarang begini saja, Souw Thian Liong. Pinceng melihat kenyataan bahwa engkau adalah seorang murid yang amat baik dari Tiong Lee Cin-jin. Sekarang kita ambil jalan tengah saja. Pinceng bersedia menerima kitab ini sebagai hadiah dari Tiong Lee Cin-jin, tetapi karena Tiong Lee Cin-jin sebagai penemunya juga berhak, maka pinceng akan mengajarkan ilmu yang terkandung dalam kitab ini kepadamu sebagai pengganti Tiong Lee Cin-jin. Kalau begitu barulah enak rasa hati pinceng terhadap Tiong Lee Cin-jin."

Thian Liong terkejut bukan main. "Akan tetapi... teecu tidak berhak sehingga tidak berani menerimanya, locianpwe..."

"Hemmm, kalau engkau tidak mau menerima pelajaran ilmu dari kitab Sam-jong Cin-keng ini, terpaksa pinceng juga tidak mau menerimanya dan bawalah kembali kitab ini kepada gurumu. Pinceng tidak ingin disebut orang yang mau enaknya sendiri, tidak mengeluarkan setetes pun keringat namun menikmati hasilnya. Nah, bawalah kitab itu dan pergilah!"

Thian Liong menjadi bingung. Dia masih belum juga menerima kitab itu. "Aduh, locianpwe, teecu menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa bila teecu harus membawa kembali kitab ini, tentu suhu merasa tidak senang. Sebaliknya kalau teeeu menerima usul locianpwe, sungguh teecu merasa tidak enak kepada semua murid Siauw-lim-pai."

"Omitohud, engkau terlalu halus budi dan sungkan, Thian Liong. Tidak ada perasaan tidak enak kalau engkau sudah pinceng terima sebagai muridku! Siapa yang akan menyalahkan engkau jika sebagai murid pinceng engkau mempelajari ilmu yang menjadi pusaka Siauw-lim-pai? Ataukah engkau menganggap pinceng tidak pantas menjadi gurumu yang ke dua setelah gurumu Tiong Lee Cin-jin?"

Diam-diam Thian Liong merasa girang sekali. Dari gurunya dia sudah mendengar bahwa ketua Siauw-lim-pai ini adalah orang yang memiliki kesaktian, maka betapa beruntungnya bila dia diterima menjadi murid dan akan diberi pelajaran dari kitab pusaka Sam-jong Cin-keng itu. Akan tetapi yang membuat dia meragu adalah kalau-kalau dia akan diharuskan tinggal terlalu lama di kuil Siauw-lim.

"Terima kasih atas kemurahan hati suhu," katanya, tanpa ragu dia menyebut suhu kepada hwesio tua itu. "Akan tetapi, teecu sudah mendapatkan tugas dari suhu Tiong Lee Cin-jin untuk membela Kerajaan Sung dan menentang kekuasaan menteri jahat yang mengacau negara. Jika teecu menjadi murid sehingga harus tinggal lama di Siauw-lim-si, bagaimana teecu akan dapat melaksanakan tugas itu?"

"Omitohud…! Jalan pikiran Tiong Lee Cin-jin ternyata tidak berbeda dengan jalan pikiran pinceng. Yang dia maksudkan tentu agar engkau menentang kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui, bukan? Jangan khawatir, Thian Liong. Pinceng berjanji hanya akan mengajarkan isi kitab yang ditemukan kembali oleh gurumu pertama itu, dan mengingat bahwa engkau tentu sudah memiliki dasar yang amat kuat, maka pinceng yakin bahwa dalam beberapa bulan saja engkau tentu akan mampu menguasainya dengan baik."

Demikianlah, mulai hari itu juga Thian Liong tinggal di kuil Siauw-lim. Di bawah bimbingan Hui Sian Hwesio sendiri dia mempelajari dan berlatih ilmu silat berdasarkan kitab pusaka Sam-jong Cin-keng yang menurut dongeng diciptakan sendiri oleh Ji-lai-hud! Sementara itu Cia Song yang memiliki tugas berat untuk menangkap pemerkosa puteri Kwee Bun To seperti yang sudah dia janjikan, juga meninggalkan kuil untuk melaksanakan tugasnya…..

********************

Satu bulan lewat dengan cepatnya dan Thian Liong mendapat kenyataan yang luar biasa dan amat menyenangkan hatinya. Setelah berlatih siu-lian (bersemedhi) dan pernapasan menurut ilmu yang diajarkan Hui Sian Hwesio berdasarkan isi kitab Sam-jong Cin-keng, dia merasa bahwa tenaga dalam yang sudah dikuasainya dan berpusat di bawah pusar itu sekarang menjadi bertambah kuat. Ilmu silat yang terkandung dalam kitab itu hanya ada delapan jurus pokok. Akan tetapi delapan jurus pokok ini mengandung tenaga sakti yang amat dahsyat dan juga memungkinkan perkembangan menurut bakat yang menguasai.

Pada suatu malam Thian Liong rebah di atas pembaringan di dalam kamarnya di kuil itu. Seperti biasa, pada malam itu dia membaca kitab Sam-jong Cin-keng dan melatih siu-lian karena pada waktu siang dia berlatih gerakan silat di bawah bimbingan Hui Sian Hwesio. Setelah merasa lelah dan mengantuk, dia menyimpan kitab itu dalam sebuah almari yang terdapat di sudut kamarnya lalu dia pun merebahkan diri ke atas pembaringan untuk tidur.

Menjelang tengah malam keadaan kuil itu sunyi bukan main. Semua hwesio sudah tidur. Sesosok bayangan hitam yang gerakannya sangat lincah dan ringan, dengan mudahnya karena dia menggunakan tenaga sinkang yang amat kuat, membuka jendela kamar Thian Liong tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia melompat ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka itu dan gerakannya sangat ringan seperti seekor kucing melompat sehingga ketika kedua kakinya hinggap di atas lantai kamar yang gelap itu, tidak terdengar suara sedikit pun.

Di dalam kegelapan itu dia bergerak ke depan, perlahan-lahan dan hati-hati sekali, lalu dia menghampiri almari dan membukanya. Dengan meraba-raba dia dapat menemukan kitab Sam-jong Cin-keng, lantas cepat meninggalkan kamar melalui jendela yang terbuka. Akan tetapi karena tergesa-gesa kakinya melanggar kaki meja sehingga terdengar sedikit suara berderit. Secepat burung terbang, tubuhnya sudah melayang melalui jendela.

Sedikit suara itu sudah cukup untuk membangunkan Thian Liong. Nalurinya yang sangat kuat dan peka membuat Thian Liong menyadari bahwa ada hal yang tidak wajar terjadi di dalam kamarnya. Dia cepat menengok kemudian melihat bayangan berkelebat keluar dari jendela yang terbuka.

Otomatis seluruh syaraf di dalam tubuh Thian Liong bekerja. Seketika dia tahu bahwa ada orang memasuki kamarnya, dan dia pun langsung dapat menduga bahwa orang itu tentu mencuri kitab Sam-jong Cin-keng. Kalau bukan kitab itu yang dicuri, apa lagi?

Ia segera menyambar Thian-liong-kiam yang diselipkan di bawah bantal, kemudian sekali lompat tubuhnya sudah melayang keluar jendela melakukan pengejaran sesudah sempat menyelipkan pedang di ikat pinggangnya.

Dalam keremangan sinar lembut jutaan bintang di langit hitam Thian Liong melihat sosok bayangan itu di atas genteng kuil besar. Dia pun melompat dan mengejar.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner