KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-21


Thian Liong mengerahkan seluruh ginkang-nya (ilmu meringankan tubuhnya) sehingga dia pun berhasil mendahului dan menghadang orang berpakaian serba hitam yang mukanya memakai kedok hitam itu. Hanya sepasang matanya saja yang terlihat melalui lubang di kedok itu, sepasang mata yang bersinar tajam.

Pemuda ini dapat melihat bahwa pencuri berkedok hitam itu membawa sebuah kitab pada tangan kirinya. Walau pun cuaca remang-remang, Thian Liong tahu benar bahwa kitab itu bukan lain adalah Kitab Sam-jong Cin-keng yang sedang dipelajarinya di bawah pimpinan Hui Sian Hwesio.

"Hei, pencuri! Kembalikan kitab itu!" bentak Thian Liong, suaranya melengking menembus malam sunyi.

Pencuri itu agaknya terkejut melihat Thian Liong dapat bergerak sedemikian cepatnya dan tahu-tahu telah menghadang di hadapannya. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerjang maju, kepalan kanannya menyambar ke arah dada Thian Liong. Pukulannya cepat sekali, juga mengandung tenaga yang sangat kuat. Thian Liong mengenal pukulan ampuh, maka dia cepat miringkan tubuh sambil menangkis dari samping.

"Dukk!"

Keduanya terguncang oleh pertemuan kedua lengan itu. Pencuri itu mengeluarkan seruan kaget, namun dengan kecepatan yang luar biasa kaki kirinya mencuat dalam tendangan yang menyambar ke arah lambung Thian Liong.

Thian Liong maklum bahwa pencuri itu adalah orang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, maka dia telah waspada. Begitu kaki lawan menyambar, dia pun cepat menghindar ke kiri. Pencuri itu membalikkan tubuh untuk melarikan diri.

"Hendak lari ke mana kau? Kembalikan kitab itu!" bentak murid Tiong Lee Cin-jin ini.

Thian Liong mengerahkan ginkang-nya dan dia melompat tinggi mengejar. Ketika berada di atas pencuri itu, tangannya segera menyambar ke bawah, yang kiri mencengkeram ke arah kepala pencuri itu dan yang kanan menyambar untuk merampas kitab dari tangan kiri lawan.

"Uhh...!" Pencuri itu makin terkejut. Ia cepat merendahkan diri mengelak sambil meloncat ke samping sehingga serangan Thian Liong luput walau pun hampir saja kitab itu berhasil direbutnya. Agaknya pencuri itu menjadi marah sekali karena hampir saja kitab itu dapat dirampas oleh Thian Liong.


Mereka kini berhadapan dalam jarak kurang lebih empat meter. Tiba-tiba saja pencuri itu menggunakan tangan kanannya untuk diputar-putar, tubuhnya merendah dan kedua lutut ditekuk sampai hampir berjongkok, kemudian tangan kanannya itu mendadak didorongkan ke arah Thian Liong sambil membentak keras.

"Haaiiiilittt...!" Dari tangan kanan yang didorongkan itu keluar uap hiiam!

Thian Liong terkejut. Orang itu menyerangnya dengan tenaga sakti yang sangat dahsyat dan melihat uap hitam itu, sangat boleh jadi jika tenaga dorongan itu mengandung hawa beracun yang berbahaya. Thian Liong cepat-cepat mengerahkan tenaganya pada lengan kirinya dan miringkan tangan kiri ke depan dada, lalu mendorong ke depan menyambut serangan lawan.

"Wuuuuttt...! Bressss...!" Dua tenaga yang amat dahsyat bertemu di udara.

Uap hitam itu membuyar, tubuh pencuri itu terhuyung ke belakang. Thian Liong tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Tubuhnya telah berkelebat ke depan, lantas sekali sambar dia sudah berhasil merampas Kitab Sam-jong Cin-keng itu dari tangan si pencuri.

Akan tetapi sungguh tidak disangka sama sekali. Tubuh pencuri itu bergulingan dan tahu-tahu kitab itu berhasil dirampasnya kembali! Thian Liong terkejut karena tidak menyangka jika pencuri itu memiliki kegesitan yang demikian luar biasa, dan tubuh yang bergulingan itu amat cepatnya. Dia segera teringat akan hasil ilmu yang dilatihnya dari kitab Sam-jong Cin-keng, maka untuk merampas kembali kitab itu, dia cepat mengerahkan tenaga lantas menggunakan tangan kirinya untuk menyerang, mencengkeram ke arah leher lawan.

Pencuri itu agaknya maklum akan kelihaian Thian Liong, maka dia bermaksud mengelak dan melarikan diri. Akan tetapi alangkah kagetnya pada saat dia mengelak, lengan Thian Liong itu dapat mulur (memanjang) seperti karet dan tahu-tahu telah merampas lagi kitab dari tangannya! Thian Liong merasa gembira sekali karena ilmu mengulur tangan hingga dapat memanjang satu meter lebih itu ternyata telah berhasil dia kuasai bahkan kini telah memperlihatkan hasilnya!

Pencuri itu marah sekali. Dia sudah bersiap untuk menyerang lagi, akan tetapi pada saat itu pula terdengar teriakan beberapa suara.

"Tangkap penjahat...!"

"Tangkap penyusup gelap...!"

Si pencuri terkejut mendengar teriakan-teriakan itu, kemudian dia melompat jauh dengan gerakan cepat sekali dan menghilang dalam kegelapan yang remang-remang. Thian Liong tidak mengejar karena kitab yang dicuri itu telah dapat dirampasnya kembali. Dia segera melompat turun dari atas genteng kuil besar dan di pekarangan bawah sudah berkumpul banyak hwesio, di antaranya terdapat Ki Sian Hwesio.

"Souw-sicu, apakah yang terjadi? Mengapa tadi ada murid-murid yang berteriak tangkap penjahat?" tanya Ki Sian Hwesio, pelatih para murid Siauw-lim-pai itu.

"Suhu, tadi ada orang berpakaian serba hitam di atas genteng, bertanding dengan Souw-sicu, maka kami berteriak-teriak," kata seorang murid Siauw-lim-pai.

Tiba-tiba muncul pula Cu Sian Hwesio, wakil Ketua Siauw-lim-pai dan dia segera berkata, "Souw-sicu, tadi pinceng mendengar suara ribut-ribut dan langsung mengejar naik ke atas atap, akan tetapi penjahat itu telah melarikan diri dengan cepat. Kebetulan sekali pinceng bertemu dengan Cia Song, maka pinceng menyuruh dia supaya melakukan pengejaran. Apa yang telah dilakukan penjahat itu?"

"Dia memasuki kamar teecu dan mencuri kitab Sam-jong Cin-keng, Susiok (paman guru). Teecu terbangun kemudian segera mengejarnya. Kami bertanding di atas atap dan teecu beruntung dapat merampas kembali kitab ini. Setelah mendengar suara ribut-ribut dia pun segera melarikan diri," kata Thian Liong sambil memperlihatkan kitab yang telah berhasil dirampasnya kembali.

"Omitohud! Untung engkau dapat merampasnya kembali. Sekarang lebih baik kita jangan ribut-ribut sehingga tidak mengagetkan ketua. Kita tunggu saja di ruangan ini sampai Cia Song kembali dari pengejarannya," kata wakil ketua itu dan mereka semua lalu duduk di ruangan itu. Thian Liong menceritakan lagi peristiwa pencurian di dalam kamarnya itu.

Tidak lama kemudian tiba-tiba nampak sosok bayangan orang berkelebat. Semua orang segera menoleh dan memandang, dan ternyata yang datang itu adalah Cia Song. Cu Sian segera bangkit berdiri, menyambut pemuda tampan dan gagah itu dengan pertanyaan,

"Bagaimana, Cia Song, berhasilkah engkau menangkap penjahat itu?”

Cia Song mengerutkan alisnya sambil memandang kepada Thian Liong dengan menyesal. Kemudian ia berkata kepada sang wakil ketua. "Sayang sekali, susiok, teecu tidak dapat menangkapnya. Teecu memang berhasil menyusulnya, lalu kami bertanding mati-matian. Ternyata penjahat itu lihai bukan main. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan, teecu hanya berhasil merenggut topeng kain hitam yang menutupi wajahnya, tetapi dia langsung melompat jauh dan menghilang dalam kegelapan pohon-pohon di luar kuil kita." Pemuda itu mengambil sehelai kain hitam dari saku bajunya lalu menyerahkan kain itu kepada Cu Sian Hwesio.

Pendeta itu menerima kain hitam yang tidak terlampau lebar itu kemudian mengamatinya. Hanya kain biasa yang dipergunakan untuk menutup muka dan kepala dengan dua lubang di bagian mata.

"Kalau begitu engkau tentu sudah melihat dan mengenal muka penjahat itu!" kata Cu Sian Hwesio girang.

Cia Song mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Sayang sekali tidak, susiok. Sesudah berada di luar kuil teecu dapat menyusulnya, lalu kami bertanding di kegelapan bayang-bayang pohon dengan lebih mengandalkan pendengaran dari pada penglihatan. Memang teecu berhasil merenggut lepas topengnya, namun teecu belum sempat melihat mukanya dalam kegelapan dan dia sudah cepat melarikan diri."

"Cia-twako, apakah dia seorang wanita?" tanya Thian Liong.

"Souw-sute (adik seperguruan Souw), kenapa engkau masih menyebutku twako (kakak)? Bukankah sekarang aku ini termasuk menjadi suheng-mu?"

"Maafkan, suheng. Apakah pencuri tadi adalah seorang wanita?" Pertanyaan ini diajukan Thian Liong karena dia teringat akan dua orang gadis, yaitu gadis berpakaian merah yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai yang belum diketahui namanya dan yang seorang lagi Ang-hwa Sian-li Thio Siang In yang juga berminat untuk meminjam kitab Sam-jong Cin-keng.

Mendengar perkataan ini, Cia Song dan juga Hui Sian Hwesio memandang heran.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa melihat mukanya karena amat gelap, Souw-sute. Apa bila melihat kelincahan gerakannya, mungkin saja dia seorang wanita. Aku tidak tahu jelas. Bagaimana pendapatmu? Bukankah engkau juga sudah bertanding melawannya?"

Thian Liong menggeleng kepala dengan ragu. Dia juga tidak dapat menentukan. Pencuri itu jelas sangat lihai, akan tetapi gerakannya dalam bersilat sama sekali berbeda dengan gerakan Siang In.

"Kenapa engkau menduga bahwa pencuri itu adalah seorang wanita, Souw-sicu?" Hwesio itu masih menyebut Thian Liong dengan sicu karena merasa sungkan mengingat bahwa Thian Liong adalah murid dan juga utusan Tiong Lee Cin-jin yang amat dihormatinya.

"Teecu hanya menduga saja, susiok. Bolehkah kain topeng itu teecu pinjam sebentar?"

"Ini, simpanlah. Engkau yang diganggu pencuri, biar engkau saja yang menyimpan topeng ini. Siapa tahu dari topeng ini kelak engkau akan dapat menemukan pencurinya." kata Cu Sian Hwesio sambil tersenyum dan menyerahkan kain itu kepada Thian Liong.

Thian Liong menerimanya dan tidak lama kemudian Cu Sian Hwesio menyerukan kepada semua orang untuk kembali ke kamar masing-masing. Tapi dia juga memerintahkan agar malam itu para murid melakukan penjagaan dan perondaan secara bergilir.

Sesudah para murid pergi dan di sana hanya tinggal Thian Liong, Cia Song dan Cu Sian Hwesio bertiga, pendeta itu lantas bertanya kepada Cia Song. "Cia Song, bagaimana hasil usahamu dalam mencari pemerkosa puteri Kwee-kauwsu itu? Sekarang sudah tiba waktu yang dijanjikan. Kalau pinceng tidak salah menghitung, pada besok hari guru silat itu tentu akan datang menagih janji."

"Ahh, jangan-jangan..." Thian Liong menahan kata-katanya.

"Apa maksudmu, Souw-sicu?"

"Maksud teecu, jangan-jangan pemerkosa dan pencuri itu adalah orang yang sama!"

"Hemm, benar juga! Susiok, harap jangan khawatir. Teecu sudah melakukan penyelidikan dan sudah dapat menemukan jejak pemerkosa itu. Mungkin juga dia adalah pencuri kitab tadi. Teecu pasti akan bisa menghadapkannya ke depan Kwee-kauwsu pada besok pagi. Sekarang juga teecu hendak melanjutkan penyelidikan dan menangkap orangnya supaya besok pagi bisa teecu hadapkan kepada Kwee-kauwsu," Cia Song berkata dengan suara mantap.

"Omitohud! Syukurlah kalau demikian. Akan tetapi dia... dia bukan murid Siauw-lim-pai?" tanya pendeta itu agak khawatir.

"Bukan, susiok. Dia bukan murid Siauw-lim-pai, hanya saja agaknya dia berhasil mencuri ilmu Lo-han-kun kemudian menggunakannya sehingga Kwee-kauwsu menyangka bahwa dia adalah murid perguruan kita."

"Syukurlah. Pinceng dapat tidur nyenyak malam ini." kata Cu Sian Hwesio.

Mereka lalu berpisah. Cu Sian Hwesio dan Thian Liong kembali ke kamar masing-masing, sedangkan Cia Song keluar dari kuil untuk melacak pemerkosa yang dicarinya.

Pagi hari itu keadaan di Siauw-lim-si seperti biasanya. Matahari pagi bersinar lembut dan hangat, menghidupkan segala yang nampak. Para hwesio murid Siauw-iim-si juga sibuk dengan tugas pekerjaan mereka sehari-hari. Walau pun keadaannya sama dengan pagi-pagi yang lalu, namun suasananya sungguh berbeda. Dalam hati para hwesio itu terdapat kegelisahan. Semua orang tahu bahwa hari ini adalah hari yang dijanjikan bagi guru silat Kwee Bun To.

Tiga puluh hari lewatlah sudah, sementara itu Cia Song, murid andalan Siauw-lim-pai itu agaknya belum juga dapat menangkap penjahat pemerkosa puteri Kwee Bun To itu. Dan kalau sampai hari ini Cia Song belum juga dapat menyerahkan pemerkosa itu, tentu guru silat Kwee Bun To akan mengamuk dan membunuhi murid-murid Siauw-lim-pai! Karena itu suasana amat menegangkan hati dan meski pun para hwesio itu melaksanakan tugas mereka masing-masing dan tidak ada yang menyebut-nyebut urusan dengan Kwee Bun To, akan tetapi diam-diam mereka sudah bersiap-siap untuk menghadapi kalau-kalau guru silat itu akan mengamuk.

Matahari telah naik tinggi, sementara itu Cia Song yang diharap-harapkan kedatangannya masih belum juga tampak batang hidungnya. Cu Sian Hwesio dan pembantunya, Ki Sian Hwesio yang biasarya tenang itu kini juga mulai menjadi gelisah. Mereka sudah menanti di pendopo kuil besar, duduk menunggu kemunculan Cia Song.

"Kenapa Cia Song belum juga datang, suheng?" tanya Ki Sian Hwesio.

Cu Sian Hwesio menghela napas panjang. "Pinceng juga merasa heran. Tadi malam dia mengatakan bahwa pagi ini dia pasti akan datang membawa penjahat itu.''

"Bagaimana kalau Kwee-kauwsu datang dan menuntut?"

"Tenanglah, sute. Kita melihat bagaimana perkembangannya nanti. Apa pun yang terjadi pasti akan pinceng hadapi," kata Ci Sian Hwesio. "Mari kita menanti di dalam saja sambil bersemedhi menenangkan hati agar nanti kuat menghadapi apa pun juga.” Mereka berdua lalu masuk ke dalam kuil.

Tidak lama kemudian suasana menjadi semakin menegangkan pada saat terdengar orang berteriak dengan suara amat lantang hingga gemanya berkumandang di seluruh kompleks bangunan kuil Siauw lim.

"Hei para pimpinan Siauw-lim-pai! Hayo serahkan penjahat laknat itu kepadaku atau mulai hari ini aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pai setiap hari!"

Pada saat itu Thian Liong tengah menerima petunjuk dari Hui Sian Hwesio mengenai jurus ke lima dari kitab Sam-jong Cin-keng. Selama satu bulan ini dia baru berhasil menguasai empat jurus saja. Ketika suara lantang itu berkumandang sampai ke dalam ruangan yang menjadi kamar sang ketua, Hui Sian Hwesio menunda pelajaran itu lantas berkata kepada Thian Liong,

"Thian Liong, keluarlah dan lihat apa yang terjadi. Bantulah Siauw-lim-pai kalau terancam, akan tetapi jangan menggunakan kekerasan agar tidak menimbulkan permusuhan."

"Baik, suhu," Thian Liong lalu keluar dari ruangan itu dan menuju ke pendopo. Ketika tiba di pendopo, dia melihat semua murid Siauw-Lim-pai sudah berkumpul di situ dan mereka semua tampak tegang. Cu Sian Hwesio dan Ki Sian Hwesio juga telah berdiri di pendopo.

Di bawah anak tangga pendopo itu berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya sedang saja, akan tetapi tegap dan tampak kokoh dan gagah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang beronce biru. Dia tampak marah sekali. Kumisnya yang tipis bergerak-gerak, kedua matanya mencorong tajam ketika dia menyapu tempat itu dengan pandang matanya, mencari-cari.

"Di mana dia, Cia Song yang pada satu bulan yang lalu telah berjanji akan menghadapkan keparat yang telah memperkosa puteriku? Hayo cepat suruh dia keluar menemuiku untuk mempertanggung jawabkan janjinya kepadaku!"

Cu Sian Hwesio melangkah maju menuruni anak tangga untuk berhadapan dengan Kwee Bun To. Dia merangkap tangan di depan dada kemudian berkata dengan suara lembut, "Omltohud, selamat datang, Kwee-kauwsu. Hendaknya diketahui bahwa sejak malam tadi Cia Song sudah pergi untuk menangkap. penjahat itu. Menurut katanya, pagi ini dia akan menghadapkan penjahat itu kepadamu di sini. Harap kauwsu suka bersabar dan menanti kedatangannya."

"Hemm, sudah satu bulan aku bersabar. Malam itu Cia Song telah datang berkunjung dan mendengar keterangan anakku tentang peristiwa terkutuk itu dan dia mengulang janjinya dalam waktu sebulan dia akan menangkap penjahatnya dan menyerahkannya kepadaku. Apakah dia hanya pendusta besar?" Guru silat itu tampak marah sekali.

Thian Liong menghampiri lalu berdiri di dekat Ki Sian Hwesio, siap untuk membantu kalau guru silat itu mengamuk.

"Omitohud, tak ada murid Siauw-lim-pai yang melakukan kejahatan, apa lagi memperkosa wanita dan tidak ada yang menjadi pendusta, Kwee-kauwsu. Pinceng harap engkau suka bersabar dan menunggu sejenak," kata Cu Sian Hwesio.

"Aku tidak mau bersabar lagi! Aku tidak mau menunggu lagi!" bentak guru silat itu marah.

Pada saat itu terdengar teriakan dari luar kuil, "Kwee-kauwsu, aku datang!"

Para hwesio girang mengenal suara ini, suara Cia Song! Dan tak lama kemudian tampak pemuda itu berlari datang sambil menggandeng tangan seorang pria yang usianya sekitar tiga puluh tahun. Pria itu bertubuh sedang, wajahnya bersih tak berkumis atau berjenggot akan tetapi wajah itu tidak bisa disebut tampan. Hidungnya pesek dan bibirnya terlampau tebal, matanya sipit seperti terpejam.

Setelah berlari sambil menggandeng tangan orang itu hingga tiba di depan Kwee Bun To, Cia Song lalu mendorong pemuda itu ke depan sehingga orang itu jatuh berlutut di depan guru silat yang mengamatinya dengan sinar mata tajam.

"Inilah orang yang engkau cari-cari itu, Kwee-kauwsu," kata Cia Song tegas. "Terbuktilah sekarang bahwa pelakunya bukan murid Siauw-lim-pai!"

Orang itu berlutut dan nampak sangat ketakutan. Dia mencoba membelalakkan sepasang matanya yang sipit dan tubuhnya gemetar. Setelah mengamati beberapa lamanya, Kwee Bun To mengerutkan alisnya dan bertanya, "Orang macam ini...?" Kemudian dia berkata kepada orang itu dengan suara membentak, "Siapa namamu?!"

Akan tetapi orang itu tidak menjawab, melainkan memberi hormat dengan mengangguk-anggukan kepalanya.

"Hemm, dia gagu?" tanya Kwee Bun To.

"Tidak, Kwee-kauwsu, aku telah menotoknya!" Sesudah berkata demikian, Cia Song lalu menotok tengkuknya sehingga orang itu terbatuk-batuk.

"Hei, siapa namamu?" kembali Kauwsu (guru silat) Kwee Bun To membentak.

"Na... nama saya... Giam Ti...," kata orang itu dengan suara gemetar.

"Dia memiliki alias Hui-houw-ong (Raja Macan Terbang) dan menjadi kepala gerombolan di Bukit Angsa, Kwee-kauwsu." Cia Song menjelaskan.

Kwee Bun To mengerutkan alisnya. “Engkau sudah beristeri?" tanya guru silat itu ketus.

Orang yang bernama Giam Ti dan berjuluk kereng itu diam saja, hanya mendekam seperti macan kelaparan.

"Plakk!" Cia Song menampar pundaknya. "Hayo jawab sejujurnya!"

Giam Ti meringis, agaknya tamparan itu terasa nyeri maka dia pun mengangguk-angguk. "Su... sudah... saya... sudah beristeri..."

"Jahanam busuk! Engkau sudah beristeri tetapi engkau berani memasuki kamar anakku, menotoknya lalu memperkosanya? Hayo jawab!" Kwee Bun To menghardik.

"Saya... saya..."

Cia Song menekan pundak orang itu. "Hayo mengaku, atau engkau ingin kusiksa terlebih dulu?" Tekanan pundak itu mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa. Rasa jantung orang itu seperti ditusuk ratusan batang jarum sehingga dia merintih lemah.

"Ya... ya... saya... saya yang melakukan... perkosaan... itu...!"

"Keparat terkutuk!" Kwee Bun To menampar.

"Plakkkk!" tangan yang kokoh tegang itu menampar pipi.

Giam Ti terpelanting dari tempat dia berlutut dan bibirnya yang tebal pecah berdarah. Dia mengaduh sambil mencoba bangkit, akan tetapi Kwee Bun To kembali mengayunkan kaki menendang hingga mengenai dadanya.

"Dessss...!"

Tubuh Giam Ti terjengkang dan dia muntah darah. Akan tetapi Thian Liong merasa heran mengapa guru silat itu membatasi pukulan dan tendangannya. Kalau guru silat yang lihai itu menghendaki, dengan sekali tampar saja kepala orang itu pasti akan pecah. Namun tamparan serta tendangan itu ternyata tidak membuat Giam Ti tewas dan ini merupakan bukti bagi Thian Liong bahwa guru silat itu sengaja tidak mau membunuh orang itu. Atau pemerkosa itu memiliki sinkang yang cukup tinggi sehingga dia mampu melindungi dirinya dengan kekebalannya.

Tiba-tiba Thian Liong terkejut sekali ketika dia melihat Cia Song tiba-tiba menerjang maju sambil mengayun tangan terbuka memukul ke arah kepala Giam Ti.

"Wuuuttt...! Prakkk!"

Tangan itu menghantam kepala Giam Ti. Orang itu terpelanting roboh dan tidak mampu bergerak lagi, tewas dengan kepala retak!

Kwee Bun To terbelalak. Agaknya dia juga amat terkejut seperti halnya Thian Liong. Juga Cu Sian Hwesio mengerutkan alisnya.

"Omitohud...! Cia Song, mengapa engkau lakukan itu?” tegurnya.

"Cia-sicu, kenapa engkau membunuhnya?" Kwee Bun To juga menegur.

Cia Song menghela napas panjang.

”Susiok, maafkan teecu karena teecu tidak dapat menahan amarah terhadap penjahat ini. Teecu merasa sakit hati karena dia melakukan perbuatan keji kemudian melempar fitnah terhadap murid-murid Siauw-lim-pai. Kwee-kauwsu, mengapa engkau malah menegur aku yang membunuhnya? Aku juga mendendam kepadanya. Bukankah engkau juga sedang menyiksanya untuk membunuhnya? Aku tidak suka melihat orang disiksa, kalau memang dia jahat dan hendak dihukum bunuh, segera lakukan saja tetapi tidak perlu menyiksanya. Itu terlalu kejam bagiku."

"Omitohud...! Bagaimana pun juga pendapat Cia Song tadi ada benarnya. Menyiksa dulu sebelum dibunuh amatlah kejam. Kwee-kauwsu, kini pelaku kekejian itu telah tertangkap dan sudah dihukum mati sehingga jelas bahwa antara engkau dan kami tidak ada urusan apa-apa lagi. Harap engkau suka meninggalkan biara kami secara damai sebagai seorang sahabat," kata Cu Sian Hwesio sambil memberi hormat kepada guru silat itu. "Sedangkan jenazah Giam Ti ini biarlah kami yang akan mengurusnya."

Kwe Bun To mengerutkan alisnya dan memandang kepada mayat kepala gerombolan itu. "Memang urusan antara kita sudah beres dan ternyata murid Siauw-lim-pai tidak bersalah. Maafkan sikapku tadi. Akan tetapi, sungguh disesalkan sekali bahwa Cia-sicu membunuh orang ini. Itu lancang dan tergesa-gesa namanya."

Cia Song melangkah maju menghadapi guru silat itu. "Maaf, Kwee-kauwsu. Bagaimana bisa engkau mengatakan aku lancang dan tergesa-gesa? Aku tidak membunuh dia karena kesalahannya kepadamu, melainkan karena dia sudah melempar fitnah kepada Siauw-lim-pai! Dan aku tidak tergesa-gesa, karena aku membunuhnya sesudah melihat engkau juga sedang menyiksanya dan hendak membunuhnya.”

"Hemm, siapa bilang aku mau membunuhnya? Aku tadi hanya ingin menghajarnya, tetapi tidak membunuhnya."

"Akan tetapi mengapa? Bukankah dia... dia telah menodai puterimu?"

"Justru itulah! Kalau dia mati, lantas bagaimana dengan nasib anakku? Tadinya aku ingin agar dia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya dan mengawini anakku!'"

"Omitohud! Mengapa tidak engkau katakan sejak semula, Kwee-kauwsu? Kalau Cia Song tahu, pinceng yakin dia tidak akan membunuhnya," kata Cu Sian Hwesio.

"Benar sekali. Ah, maafkan aku, Kwee-kauwsu. Siapa yang dapat mengira bahwa engkau hendak mengambil dia sebagai menantu. Dia? Orang jahat terkutuk ini menjadi mantumu? Menjadi suami nona Kwee Bi Hwa? Orang semacam dia sungguh tidak pantas mendapat kehormatan seperti itu! Sungguh sama sekali tidak pernah kusangka, maka maafkan aku, Kwee-kauwsu."

Kwee Bun To menarik napas panjang. "Sudahlah, semua sudah terjadi. Agaknya memang nasib keluarga kami yang sangat buruk. Selamat tinggal!" Guru silat itu lantas melangkah pergi, langkahnya loyo menunjukkan bahwa perasaan hatinya sedang gundah memikirkan nasib puterinya.

Sesudah terjadinya peristiwa itu, Thian Liong masih tinggal di biara Siauw-lim selama dua bulan lagi. Sedangkan Cia Song sudah meninggalkan Siauw-lim-pai untuk merantau dan melakukan tugas sebagai pendekar yang membela keadilan dan kebenaran, menentang yang jahat dan membela yang lemah.

Thian Liong memerlukan waktu tiga bulan untuk mempelajari ilmu dari kitab Sam-jong Cin-keng. Setelah melihat bahwa Thian Liong benar-benar sudah menguasai ilmu itu, Hui Sian Hwesio lalu memanggilnya menghadap dan hwesio itu berkata,

"Souw Thian Liong, pelajaranmu telah selesai. Lega hati pinceng bahwa murid Tiong Lee Cin-jin telah menguasai ilmu dari kitab yang dia temukan. Dengan demikian, selain dapat membalas budi kebaikan Tiong Lee Cin-jin yang telah mengembalikan kitab pusaka milik Siauw-lim-pai, juga Siauw-lim-pai sudah membuktikan bahwa kami bukanlah partai yang serakah dan tidak pelit untuk membagi ilmu kepada sahabat baik."

"Akan tetapi sekarang teecu bukan orang luar, suhu, melainkan murid Siauw-lim-pai juga."

"Ha-ha-ha, omitohud! Bagus sekali jika engkau merasa demikian, Thian Liong, Memang pinceng pun telah mengakui engkau sebagai murid pinceng dan selanjutnya dalam sepak terjangmu, jangan lupa bahwa selain murid Tiong Lee Cin-jin, engkau juga adalah murid Siauw-lim-pai. Apa bila kelak engkau mempergunakan ilmu dari Sam-jong Cin-keng untuk melakukan perbuatan jahat, terpaksa pinceng sendiri yang akan turun tangan mencari dan menghukummu.'"

"Peringatan dan nasehat suhu akan selalu teecu ingat dan laksanakan dengan baik."

"Pinceng yakin dan percaya kepadamu. Nah, sekarang berangkatlah engkau melanjutkan perjalananmu dan sampaikan salam hormat pinceng kepada yang mulia Tiong Lee Cin-jin. Engkau pernah bercerita bahwa kitab pusaka Kun-lun-pai yang ditemukan gurumu dan yang harus kau kembalikan kepada Kun-lun-pai telah dicuri orang dari tanganmu. Pinceng anjurkan agar engkau mencari kitab itu sampai dapat, Thian Liong. Karena itu merupakan tanggung jawabmu dan agar jangan mengurangi arti kebaikan yang ditunjukkan oleh yang mulia Tiong Lee Cin-jin."

"Baik, suhu. Memang teecu sudah mengambil keputusan untuk mencari kitab itu sampai dapat dan tidak akan kembali kepada suhu Tiong Lee Cin-jin sebelum kitab itu bisa teecu temukan dan teecu serahkan kepada Kun-lun-pai."

Thian Liong lalu berpamit dari semua hwesio di biara itu dan meninggalkan Siauw-lim-si, berjalan kaki sambil menggendong buntalannya…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner