KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-22


Kakek itu telah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun. Tubuhnya besar gendut dan tinggi. Biar pun usianya telah lanjut, tetapi tubuhnya masih sehat dan subur, juga wajahnya yang bundar gemuk itu belum dihiasi keriput. Kepalanya yang gundul itu memakai sebuah peci berwarna kuning, juga jubahnya berwarna kuning dengan kotak-kotak merah.

Dari pakaiannya ini mudah diketahui bahwa kakek itu adalah seorang pendeta Lama, yaitu pendeta Buddhis dari Tibet. Mengherankan sekali melihat seorang pendeta Tibet berada di salah satu di antara puncak-puncak pegunungan Kun-lun. Bahkan pendeta Lama itu telah kurang lebih sepuluh tahun bersembunyi di puncak Kun-lun-san. Pendeta Lama ini bukan lain adalah Jit Kong Lama.

Seperti yang telah diceritakan pada bagian depan kisah ini, Jit Kong Lama adalah seorang pendeta pelarian dari Tibet. Karena melakukan penyelewengan, hidup bersenang-senang menuruti nafsu, dia terancam hukuman dari Dalai Lama sehingga dia terpaksa melarikan diri dan tidak berani kembali ke Tibet.

Dia juga gagal untuk merebut kitab-kitab pusaka dari tangan Tiong Lee Cin-jin. Kemudian dia menyelamatkan Han Bi Lan yang masih berusia tujuh tahun dari tangan penculik anak itu, yaitu Ouw Kan, tokoh atau dukun dari Suku Uigur. Akhirnya pendeta ini mengangkat Bi Lan sebagai muridnya dan sudah sepuluh tahun gadis itu menjadi muridnya.

Jit Kong Hwesio yang dulu hidup malang melintang mengandalkan kesaktiannya dan telah banyak mengalami suka duka serta pertentangan, dalam usianya yang sudah tua merasa hidupnya sangat berubah ketika bersama Bi Lian bersembunyi di puncak Kun-lun-san. Dia merasa tenteram dan damai, dan dia merasa amat sayang kepada Bi Lan.

Matahari telah condong ke barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang. Jit Kong Lama duduk di depan pondok kayu sambil menatap termenung ke depan. Hatinya merasa tidak enak sekali.

Sudah tiga hari Bi Lan pergi meninggalkan pondok. Pamitnya hanya untuk bermain-main di sekitar pegunungan Kun-lun-san. Dia merasa yakin bahwa muridnya itu tidak akan pergi meninggalkannya tanpa memberitahu. Karena itulah dia merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau muridnya itu mengalami halangan.

Memang selama hampir sepuluh tahun ini dia sudah menggembleng Bi Lan, dan dia telah mengajarkan semua ilmunya yang terampuh sehingga gadis yang kini berusia tujuh belas tahun itu telah menjadi seorang yang tangguh dan tidak sembarangan orang akan mampu mengalahkannya. Tetapi dia maklum bahwa betapa pun lihainya, Bi Lan hanyalah seorang gadis muda yang kurang pengalaman, sungguh pun dia tahu bahwa muridnya itu memiliki kecerdikan yang luar biasa.

"Suhu...! Aku datang...!" Tiba-tiba terdengar suara melengking dari jauh.

Jit Kong Lama tersenyum mengenal suara muridnya. Gadis itu telah menjadi begitu manja kepadanya, bahkan begitu akrabnya sehingga berani ber-aku dan ber-engkau kepadanya! Dia pun menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri yang tidak pernah dipunyainya.

Segera tampak Bi Lan berlarian bagaikan terbang mendaki lereng-lereng puncak terakhir. Tak lama kemudian dia sudah berdiri di hadapan Jit Kong Lama dengan senyumnya yang cerah dan manis. Mendadak segala sesuatu nampak menjadi lebih cerah dan indah bagi Jit Kong Lama.

"Bi Lan, ke mana saja engkau selama tiga hari ini? Engkau membikin aku merasa gelisah saja!" kakek itu menegur, akan tetapi sambil tersenyum lebar.

"Aih, suhu. Mengapa mengkhawatirkan aku? Aku sudah bukan anak kecil. Lagi pula tidak percuma selama ini aku berguru kepadamu! Aku dapat menjaga diri. Aku membawa kabar gembira, suhu. Aku menemukan sebuah kitab pusaka pelajaran silat yang sangat langka, kuno dan ampuh! Akan tetapi aku menjadi bingung setelah memenksa isinya. Bahasanya kuno, banyak huruf yang tidak kumengerti. Karena itu kuharap suhu suka membimbingku mempelajari ilmu silat itu."

"Eh? Kitab pusaka? Coba perlihatkan padaku!" kata Jit Kong Lama sambil tersenyum dan mengira muridnya bicara berlebihan.

Bi Lan mengambil kitab dari buntalannya lalu menyerahkannya kepada gurunya. Jit Kong Lama menerima kitab itu lantas membuka-buka lembarannya. Bi Lan berdiri memandang. Dia merasa girang dan bangga ketika melihat kakek itu membelalakkan mata dan tampak terkejut dan heran sekali.

"Omitohud...!" Saking terkejut dan herannya, Jit Kong Lama mengucapkan pujian ini yang selama sepuluh tahun telah hampir terlupa olehnya. "Ini adalah Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, kitab pusaka milik Kun-lun-pai! Dari mana engkau memperoleh kitab ini, Bi Lan? Engkau tidak mencurinya dari Kun-lun-pai, bukan?"

Bi Lan memandang gurunya dengan bibir cemberut manja. "Aih, suhu. Aku tidak mencuri, melainkan hanya meminjam. Jika aku sudah selesai mempelajarinya, pasti kukembalikan kepada Kun-luri-pai kalau memang kitab ini milik Kun-lun-pai."

"Kitab pusaka ini memang merupakan pusaka Kun-lun-pai yang sangat langka!" Kakek itu mengangguk-angguk dan membalik-balikkan lembaran kitab itu. "Sungguh pelajaran silat yang hebat! Sayang aku sudah terlalu tua untuk mempelajarinya."

"Aku mendapatkannya bukan untukmu, suhu, akan tetapi untuk aku sendiri. Asalkan suhu mau membimbingku dan memberi penjelasan, aku tentu akan dapat menguasai ilmu itu."

"Baiklah, akan tetapi sesudah selesai harus kau kembalikan. Apa bila Kun-lun-pai sampai mengetahui bahwa engkau mengambil kitab pusaka mereka, engkau tentu akan dimusuhi dan... wah, berat sekali kalau harus bermusuhan dengan sebuah partai persilatan sebesar Kun-lun-pai yang mempunyai banyak sekali orang-orang sakti!"

“Kelak pasti akan aku kembalikan, suhu. Sekarang ajarilah aku!"

Sesudah menyimpan buntalan pakaiannya di dalam kamar, mulailah Bi Lan dilatih oleh Jit Kong Lama menurut kitab itu. Mula-mula dia memberi petunjuk seperti yang tertulis pada halaman pertama.

"Kitab ini berisi pelajaran ilmu silat tangan kosong yang disebut Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat atau jelasnya Ilmu Silat Berantai Lima Unsur Utama, yaitu tanah, air, api, logam dan kayu. Kelima unsur ini memiliki hubungan erat satu sama lain dan hubungan ini mengatur keseimbangan,” kakek itu menjelaskan. “Tanah mengalahkan air, air mengalahkan api, api mengalahkan logam, logam mengalahkan kayu dan kayu mengalahkah tanah. Akan tetapi sebaliknya mereka juga saling menunjang. Kelimanya saling melengkapi hingga mengatur keseimbangan dan kesempurnaan keadaan di dunia ini. Tanah berkedudukan di tengah, logam di utara, kayu di selatan, air di barat dan api di timur. Tubuh kita merupakan alam kecil yang juga terikat pada hukum gerakan kelima unsur itu."

Demikianlah, semalam suntuk Jit Kong Lama menjelaskan tentang Ngo-heng (Lima Unsur Pokok) kepada muridnya. Kemudian pada hari-hari selanjutnya dia mulai membimbing Bi Lan berlatih ilinu silat yang luar biasa dan yang menjadi pusaka perguruan Kun-lun-pai.

Pada masa itu jarang ada murid Kun-lun-pai yang mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat karena kitab itu telah hilang seratus tahun lebih yang silam. Bahkan ketua Kun-lun-pai saat itu, Kui Beng Thaisu yang berusia tujuh puluh tahun, hanya menguasai tidak lebih dari tujuh bagian saja dari ilmu itu.

Demikianlah, dengan amat tekun dan tanpa mengenal lelah Bi Lan mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka itu. Saking tekunnya setiap hari dia terus berlatih tanpa mengenal waktu sehingga waktu meluncur dengan cepat tanpa dia sadari dan tahu-tahu satu tahun sudah berlalu semenjak dia mempelajari ilmu silat itu. Sesudah setahun berlatih keras, barulah dia berhasil menguasai seluruh ilmu silat itu.

Pagi hari itu Jit Kong Lama sudah bangun dan mandi sehingga dia tampak segar. Namun ada sesuatu di dalam sinar matanya yang mengandung kemuraman. Pagi ini wajah bulat gemuk yang biasanya selalu dihias senyum itu tampak lesu. Dia duduk sambil menanti Bi Lan yang pagi-pagi sekali tadi telah mandi dan sekarang sedang sibuk di bagian belakang pondok kayu itu menyiapkan minuman pagi untuknya.

Akhirnya Bi Lan memasuki ruangan depan, kemudian meletakkan sebuah poci air teh dan cawannya ke atas meja sambil berkata, "Minumlah, suhu, selagi air teh ini masih panas." Dara itu kemudian hendak kembali ke belakang.

"Bi Lan, duduklah, aku ingin bicara denganmu," kata Jit Kong Lama.

Bi Lan menahan langkahnya, lalu kembali dan duduk di seberang meja. Dia memandang wajah gurunya dan baru melihat wajah yang muram serta kehilangan kecerahannya itu.

"Eh? Ada apakah, suhu? Suhu tampaknya sedang memikirkan sesuatu dan merasa tidak gembira," tegurnya.

"Bi Lan, kini engkau telah berhasil menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, maka sudah sepatutnya dan tiba saatnya bagimu untuk mengembalikan kitab pusaka itu kepada Kun-lun-pai."

"Ah, tentu saja, suhu! Memang aku pun sedang memikirkan hal itu. Besok atau lusa aku akan mengembalikannya ke sana. Akan tetapi hal itu tidak perlu disedihkan, bukan? Kitab pusaka itu memang hak milik mereka dan aku sudah menguasai seluruhnya."

"Aku tidak menyedihkan hal itu, Bi Lan, Akan tietapi tahukah engkau bahwa engkau sudah sebelas tahun mempelajari ilmu dariku?"

Bi Lan mengangguk. "Aku tahu, suhu. Setahun yang lalu, ketika aku belum menemukan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, aku sudah sepuluh tahun berada di sini bersamamu dan sudah selesai belajar."

"Kau tahu apa artinya itu? Apakah engkau lupa akan janjiku kepadamu dulu?"

"Aku belum lupa, suhu. Suhu akan mengajarku selama sepuluh tahun. Karena itu setahun yang lalu aku sengaja turun dari sini dan selama tiga hari bermain-main di sekitar Kun-lun-san. Kemudian aku mendapatkan kitab itu dan ingin sekali mempelajarinya sehingga aku tinggal setahun lagi di sini. Berarti sudah sebelas tahun aku tinggal bersama suhu di sini. Aku tahu bahwa sudah tiba saatnya aku harus turun gunung untuk mencari orang tuaku, membalaskan kematian Nenek Lu-ma yang dibunuh oleh tokoh Uigur yang bernama Ouw Kan seperti yang suhu pernah ceritakan itu, dan juga tak lupa mencari musuh suhu yang bernama Tiong Lee Cin-jin untuk membunuhnya. Akan tetapi, mengingat bahwa sekarang suhu telah begini tua, bagaimana aku bisa tega untuk meninggalkanmu hidup seorang diri di sini?"

Wajah yang bulat itu kini berseri lagi, bibirnya tersenyum dan Jit Kong Lama menjulurkan kedua tangannya di atas meja, menangkap tangan Bi Lan lantas menggenggamnya.

"Terima kasih, Bi Lan. Tidak percuma aku dahulu menyelamatkanmu dan tidak sia-sia aku mendidikmu selama sebelas tahun ini. Aku telah mendapatkan hadiah yang teramat besar dan tak ternilai harganya, hadiah yang telah mendatangkan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan selama hidupku, yaitu kasih sayangmu, Bi Lan. Selama ini engkau menyayang aku seperti ayahmu sendiri, memasak, mencuci pakaian untukku. Engkau begitu manis, bagaikan matahari di dalam hidupku. Ahh, terima kasih Bi Lan." Sepasang mata kakek itu menjadi basah.

Bi Lan tersenyum. "Aih, suhu ini ada-ada saja! Tentu saja aku sayang kepada suhu! Suhu bukan hanya menjadi guruku saja, melainkan juga menjadi pengganti kedua orang tuaku. Suhu mendidikku dengan penuh kasih sayang, maka tentu saja aku sayang kepada suhu. Karena itu pula aku tidak tega meninggalkanmu, suhu."

"Bukan begitu, Bi Lan. Selama sebelas tahun ini aku pun telah belajar secara tekun untuk menguasai nafsu-nafsu keinginanku sendiri, keinginan yang selalu mengejar kesenangan hati bagi diriku sendiri. Nafsu keinginan untuk menang sendiri inilah yang dulu menyeretku ke dalam kesesatan sehingga terpaksa aku harus meninggalkan Tibet. Dan sekarang aku juga telah tamat belajar seperti engkau, Bi Lan. Aku telah menemukan jawabannya bahwa hanya dengan kasih sayang murni terhadap segala sesuatu yang tampak dalam dunia ini, terutama terhadap sesama manusia, maka aku akan dapat menundukkan nafsu-nafsuku sendiri. Dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan mendahulukan kepentingan orang lain maka nafsu dalam diriku akan menjadi jinak. Aku tidak mau menuruti keinginan hati sendiri dengan menahanmu di sampingku. Tidak, engkau harus turun gunung, engkau harus mencari orang tuamu dan menentang si jahat Ouw Kan. Dan engkau tidak perlu lagi mencari Tiong Lee Cin-jin karena akulah yang bersalah terhadap dia. Sekarang pergilah, Bi Lan, pergilah tinggalkan aku. Doa restuku selalu menyertaimu," kakek itu melambaikan tangan ke arah luar pintu pondok.

"Akan tetapi, bagaimana aku akan tega meninggalkanmu seorang diri di sini, suhu? Suhu sudah sangat tua, siapa yang akan membuatkan air teh? Siapa yang akan memasakkan makanan? Siapa yang akan mencucikan pakaian suhu dan siapa yang akan merawat dan membersihkan isi rumah dan halaman?"

Kakek itu tersenyum. "Jangan khawatir, aku bisa melakukannya sendiri. Dahulu, sebelum engkau menjadi muridku, aku pun hidup seorang diri."

"Akan tetapi suhu sekarang sudah tua sekali. Ahh, begini saja baiknya, suhu.. Mari suhu ikut bersama aku pergi ke Lin-an. Di kota raja itu orang tuaku memiliki rumah yang cukup besar. Suhu dapat tinggal bersama kami di sana!"

Jit Kong Lama menggeleng kepala sambil tersenyum. ”Tidak, Bi Lan. Aku hendak kembali ke tempat asalku."

"Apa? Ke Tibet? Akan tetapi suhu akan dimusuhi di sana!" kata Bi Lan yang telah pernah mendengar cerita gurunya bahwa gurunya seorang pelarian dari Tibet.

Jit Kong Hwesio tersenyum lebar. "Kini aku sudah mengerti bahwa aku tidak akan dapat melarikan diri dari jangkauan karma. Aku tahu bagaimana cara menghadapi para pendeta Lama di Tibet, yaitu dengan kasih sayang! Aku sudah tua, silakan saja jika mereka ingin membunuhku. Akan tetapi aku tetap hendak menghidupkan kasih sayang di dalam hatiku. Sudahlah, Bi Lan. Keputusanku sudah tetap. Sekarang juga engkau harus turun gunung dan jangan memikirkan aku lagi. Tugasmu di masa depan masih sangat banyak dan jauh lebih penting dari pada memikirkan tentang diriku."

Bi Lan tidak dapat membantah lagi. Dia lalu membungkus semua pakaiannya di dalam sebuah buntalan. Dia tidak membawa senjata karena memang tidak mempunyai senjata. Gurunya mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi sehingga benda apa pun di tangannya dapat dipakainya sebagai senjata, terutama sekali sepotong kayu yang menjadi senjata tongkat.

Setelah selesai berkemas, dia lantas menghampiri gurunya. Mereka berdiri berhadapan di depan pintu pondok karena kakek itu mengantar muridnya sampai di depan pintu. Mereka saling berhadapan. Bi Lan memandang wajah yang bulat dan yang tersenyum itu, namun dia melihat mata itu demikian sayu.

"Selamat tinggal, suhu," katanya lirih.

"Selamat jalan, Bi Lan. Semoga hidupmu selalu bahagia, muridku... anakku..."

Bi Lan mengeraskan hatinya, tetapi tidak dapat menahan keharuan hatinya. "Suhu...!" Dia berseru dan merangkul kakek itu. Jit Kong Lama juga merangkul Bi Lan sambil mengelus kepala gadis itu dengan tangannya.

"Berangkatlah, anakku, jangan memperlihatkan kelemahan hati seperti ini," kata Jit Kong Lama menghibur.

Sejenak Bi Lan menangis terisak di dada gurunya. Kemudian dia menguatkan hatinya dan tiba-tiba dia teringat betapa selama ini dia bersikap akrab dan tidak menghomati gurunya, maka dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki gurunya.

"Suhu...," dia merangkul kedua kaki gurunya.

Jit Kong Lama mengejap-ngejapkan mata untuk mengusir dua titik air mata dari pelupuk matanya. Dia pun membungkuk, memegang kedua pundak dara itu kemudian menariknya berdiri. Kakek itu menepuk-nepuk pundak Bi Lan dan tersenyum lebar.

"Aih, engkau membikin aku malu saja mempunyai murid yang amat cengeng! Hei Bi Lan, sama-sama menggerakkan mulut dan mengeluarkan suara, kenapa tidak tertawa saja dari pada menangis? Tertawa lebih enak dilihat dan didengar, ha-ha-ha-ha…!"

Bi Lan segera tersenyum. Biasanya, setiap hari gurunya memang selalu berkelakar dan tertawa. Kedua orang itu tertawa dan aneh sekali melihat mereka tertawa dengan kedua mata basah.

"Selamat tinggal, suhu, selamat berpisah. Aku sayang kepadamu, suhu!"

"Selamat jalan, selamat berpisah. aku pun sayang kepadamu, Bi Lan!"

Bi Lan lalu melompat pergi. Pada sebuah tikungan dia menoleh dan melambaikan tangan yang dibalas oleh gurunya yang masih tertawa!

Setelah Bi Lan pergi meninggalkahi pondok kayu di sebuah di antara puncak-puncak Kun-lun-san, Jit Kong Lama juga meninggalkan pondok itu. Kakek ini tidak membawa apa-apa kecuali tongkat panjang berkepala naga. Dia menuruni puncak dan menuju ke arah barat karena dia telah mengambil keputusan untuk kembali ke Tibet, siap menyambut apa pun yang akan menimpa dirinya.

Pada sore harinya sesudah Jit Kong Lama pergi, muncul seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berkepala gundul dan memakai peci kuning, berjubah pendeta Lama dan membawa sebatang pedang di punggungnya. Pendeta Lama ini bertubuh kekar, wajahnya penuh brewok dan matanya menyeramkan, mencorong laksana mata harimau. Mulut dan matanya membayangkan kekerasan hati.

Dia menendang daun pintu pondok sampai jebol, lantas masuk dan memeriksa ke dalam pondok itu. Tak lama kemudian dia telah keluar lagi sambil bersungut-sungut karena tidak menemukan seorang pun di situ. Dia lalu mengamuk. Kedua kakinya menendangi pondok kayu itu. Terdengar suara hiruk pikuk kemudian pondok kayu itu pun ambruk. Tiang-tiang kayunya patah-patah. Atapnya ambruk dan rata dengan tanah.

Setelah melampiaskan kemarahannya kepada pondok kosong itu, ia pun segera memutar tubuh meninggalkan pondok, lantas menggunakan ilmunya berlari cepat sekali menuju ke markas Kun-lun-pai…..

********************

Sementara itu menjelarig tengah hari, para murid Kun-lun-pai pria mau pun wanita tengah sibuk bekerja. Ada yang bekerja di dalam kompleks perkampungan Kun-lun-pai, ada pula yang bekerja di ladang. Seperti biasa, lima orang murid laki-laki duduk di gardu penjagaan di pintu gerbang Kun-lun-pai.

Pada siang hari itu Hui In Sian-kouw, Ketua Kun-lun-pai bagian wanita datang berkunjung ke kuil induk untuk berbincang-bincang dengan Kui Beng Thaisu, ketua umum Kun-lun-pai yang menjadi suheng-nya. Seperti biasanya Hui In Sian-kouw melaporkan keadaan para murid wanita, lalu menceritakan pula bahwa sumoi-nya (adik perempuan seperguruannya) Biauw In Suthai yang tengah menjalani hukuman prihatin di pondok pengasingan ternyata amat tekun bersemedhi. Sudah setahun lebih Biauw In Suthai menjalani hukumannya dan sesuai peraturan dia masih harus berprihatin di pondok pengasingan itu selama dua tahun lagi.

"Biarlah, Biauw In sumoi memang membutuhkan itu untuk dapat melunakkan kekerasan hatinya yang luar biasa. Mudah-mudahan saja kali ini usahanya berhasil," kata Kui Beng Thaisu sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan putih. "Akan tetapi, apakah kedua orang muridnya itu belum juga pulang?"

Hui In Sian-kouw menghela napas dan menggeleng kepalanya. "Kasihan Kim Lan dan Ai Yin. Sudah setahun lebih Kim Lan pergi mencari Souw Thian Liong. Bagaimana mungkin dia akan mampu membunuh Thian Liong, biar dia dibantu oleh Ai Yin sekali pun? Tingkat kepandaian Thian Liong jauh lebih tinggi."

"Ya, memang kasihan mereka sudah menjadi korban kekerasan hati guru mereka. Tetapi yang pinto (aku) herankan, mengapa sampai sekarang Thian Liong belum juga datang ke sini untuk menyerahkan kitab pusaka kita? Apakah dia belum berhasil menemukan kitab yang katanya dicuri orang itu?"

"Pinni (aku) juga heran, suheng. Menurut penglihatanku, murid Tiong Lee Cin-jin itu amat bijaksana dan dapat dipercaya sepenuhnya. Akan tetapi sampai sekarang dia belum juga datang. Mungkin pencuri kitab itu sangat lihai sehingga dia belum dapat menemukannya, suheng."

Pada saat itu pula tiba-tiba seorang murid Kun-lun-pai memasuki ruangan itu. Dia segera menjatuhkan diri berlutut setelah melihat Kui Beng Thaisu sedang duduk bercakap-cakap dengan Hui In Sian-kouw.

"Losuhu dan lo-suthai, mohon ampun kalau teecu mengganggu...," katanya gagap. Wajah murid berusia tiga puluhan tahun ini tampak pucat.

"Tenanglah dan bicara dengan jelas. Apa yang terjadi maka engkau segelisah ini?" tanya Kui Beng Thaisu.

"Di luar pintu gerbang datang seorang pendeta Lama yang berkeras hendak masuk untuk bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai. Teecu berlima melarangnya dan ingin melapor ke dalam lebih dulu, akan tetapi dia memaksa dan merobohkan teecu berlima. Dia memaksa masuk dan kini dia sedang dihadapi oleh ketiga suhu di pekarangan depan."

"Hemmm, seorang pendeta Lama? Aneh sekali! Mengapa seorang pendeta Lama datang membawa kekerasan? Sumoi, mari kita melihat ke sana!"

Hui In Sian-kouw mengangguk, lantas keduanya segera keluar diikuti murid yang melapor tadi. Sesudah tiba di depan beranda, mereka melihat seorang yang berkepala gundul dan berpakaian seperti pendeta Lama berusia empat puluh tahun lebih, mukanya brewokan, tubuhnya kekar dan kulitnya coklat gelap seperti kulit orang India, sedang dikeroyok oleh tiga orang tosu (pendeta To) yang merupakan guru-guru pelatih para murid Kun-Lun-pai bagian pria.

Tiga orang sute termuda dari Kui Beng Thaisu yang berusia kurang lebih lima puluh tahun itu masing-masing mempergunakan sebatang pedang dan ketiganya menyerang pendeta Lama itu dengan ilmu pedang Kun-lun-pai yang sangat dahsyat, yaitu Thian-lui Kiam-sut (Ilmu Pedang Kilat Guntur). Namun pendeta Lama itu hanya menggunakan kedua ujung bajunya yang longgar dan panjang untuk melawan. Kedua ujung bajunya itu menyambar-nyambar sambil mendatangkan angin dahsyat yang sangat kuat sehingga terdengar suara berdesir-desir.

Ketika melihat munculnya Kui Beng Thaisu bersama Hui In Sian-kouw, pendeta Lama itu secara tiba-tiba mengebutkan kedua ujung lengan bajunya ke arah ketiga pengeroyoknya. Tiga orang tosu itu cepat menyambut dengan pedang mereka.

"Wuuuuttt...! Plak-plak-plak...!"

Tiga orang tosu itu lantas terjengkang dan terhuyung ke belakang ketika pedang mereka bertemu dengan ujung lengan baju.

"Siancai...! Sute bertiga, kalian mundurlah. Sungguh tidak patut kita menerima kunjungan rekan dari Tibet dengan pedang di tangan!" kata Kui Beng Thaisu yang kini telah berdiri di atas tangga beranda itu. Tiga orang sute-nya segera mundur lalu berdiri di bawah tangga, menanti perintah.

Sambil tersenyum mengejek pendeta Lama itu memandang kepada Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw. "Kami bukan rekan kalian!"

Kui Beng Thaisu berkata hormat namun tegas, "Sahabat, klta sama-sama bertugas untuk mengajarkan kebaikan dan menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia, karena itu kita adalah rekan. Mengapa engkau mengatakan bahwa engkau bukan rekan kami?"

"Hemm, dengan siapakah aku berhadapan? Apakah kalian berdua adalah pimpinan Kun-lun-pai?" tanya pendeta Lama itu.

"Perkenalkan, pinto adalah Kui Beng Thaisu ketua umum Kun-lun-pai, ada pun ini adalah sumoi Hui In Sian-kouw, ketua bagian wanita. Siapakah engkau, sahabat?"

"Aku berjuluk Gwat Kong Lama dari Tibet, utusan istimewa dari Yang Mulia Dalai Lama di Lhasa."

"Siancai...! Kiranya engkau adalah utusan istimewa dari Dalai Lama! Kami merasa sangat terhormat menerima kunjunganmu," kata Kui Beng Thaisu.

"Hemm, Kui Beng Thaisu, kalian mengaku mengajarkan kebaikan dan menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia, akan tetapi apa yang kalian ajarkan itu tidak cocok dengan perbuatan kalian sebagai pimpinan Kun-lun-pai!"

"Gwat Kong Lama!" bentak Hui In Sian-kouw yang sudah kehilangan kesabaran. "Apa bila kedatanganmu bermaksud baik, tidak semestinya engkau mengeluarkan kata-kata celaan tanpa bukti itu! Pergilah dari sini, kami tidak suka berurusan dengan orang kasar seperti engkau!"

"Hemm, kalian menyangkal? Kalian sudah menyembunyikan seorang pendeta Lama yang telah bertahun-tahun menjadi buruan kami. Yang Mulia Dalai Lama mengutus aku untuk menangkap buronan itu dan menurut penyelidikanku, selama ini dia bersembunyi di Kun-lun-san. Kemarin sore aku menelusuri pondoknya di sebuah puncak pegunungan Kun-lun ini, tapi dia telah kabur. Bukankah itu berarti bahwa Kun-lun-pai sudah sengaja melindungi buruan kami? Hayo cepat akui di mana adanya Jit Kong Lama, buruan kami itu!"

"Siancai... siancai…!" seru Kui Beng Thaisu. "Kami tidak mengenal Jit Kong Lama, tidak tahu bahwa dia tinggal di daerah Kun-lun-san. Kami juga tidak tahu sekarang dia berada di mana."

"Gwat Kong Lama, tuduhanmu benar-benar kasar. Kami memang tidak tahu, akan tetapi andai kata kami tahu juga, tidak akan kami beritahukan kepadamu yang bersikap sekasar ini!" kata Hui In Sian-kouw dengan nada suara marah.

Mendengar kata-kata ini, dengan mata mencorong Gwat Korig Lama memandang kepada Hui In Sian-kouw. "Bagus, kalau begitu aku akan menggeledah seluruh perumahan Kun-lun-pai dan akan mencari sendiri. Aku yakin dia kalian sembunyikan di sini!"

Sesudah berkata demikian, Gwat Kong Lama segera melangkah lebar hendak memasuki kuil besar. Akan tetapi tubuh Hui In Sian-kouw cepat berkelebat dan wanita berusia enam puluh satu tahun ini telah menghadang di depan pendeta Lama itu.

"Berhenti!" bentaknya. "Siapa pun tidak boleh memasuki perkampungan kami tanpa ijin'"

"Ho-ho, bagus sekali! Memang aku ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian para pimpinan Kun-lun-pai. Cabut senjatamu, Hui In Sian-kouw, dan mari kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul. Kalau aku menang, aku akan menggeledah perkampungan Kun-lun-pai ini. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku akan pergi tanpa banyak cakap lagi."

"Gwat Kong Lama, kami tidak pernah bermusuhan dengan para pendeta Lama di Tibet, karena itu pinni tidak ingin menggunakan senjata untuk bertanding. Cukup dengan tangan kosong saja untuk membuktikan siapa di antara kita yaog lebih benar."

"Bagus! Engkau hendak mengandalkan kun-hoat (ilmu silat) dari Kun-lun-pai? Baik, mari kita lihat siapa yang lebih tangguh.” Pendeta Lama berkulit kehitaman itu lalu memasang kuda-kuda dengan kedua kaki berdiri di atas ujung jari dan kedua tangan menyembah di depan dada.

Hui In Sian-kouw juga segera memasang kuda-kuda ilmu silat Kun-lun-pai dengan sedikit merenggangkan kedua kakinya, sedangkan dua tangannya dikembangkan lebar di depan dan belakang tubuhnya.

"Hui In Sian-kouw, aku telah siap. Mulailah!" tantang Gwat Kong Lama.

"Engkau adalah tamu, silakan mulai dulu!" kata Hui In Sian-kouw.

"Baik, lihat seranganku!" Lama itu berseru dan tiba-tiba dia sudah menerjang maju, kedua tangannya bergerak cepat melakukan serangan beruntun dari kanan kiri.

Hui In Sian-kouw adalah ketua Kun-lun-pai bagian wanita, tentu saja ilmu silatnya sudah matang dan tinggi. Dengan gerakan cepat dia mengelak ke belakang, lalu memutar tubuh untuk balas menyerang. Akan tetapi pendeta Lama itu telah menyusulkan tendangan yang bertubi-tubi dengan kedua kakinya.


Kembali Hui In Sian-kouw bergerak lincah untuk mengelak. Begitu mendapat kesempatan melepaskan diri dari kurungan serangan beruntun lawannya, dia cepat membalas dengan serangan tangan kirinya yang menusuk ke arah lambung dengan jari-jari, tangan terbuka.

"Syuuuttt...! Plakk!"

Tubuh Hui In Sian-kouw terdorong ke belakang ketika serangannya ditangkis oleh lawan. Tahulah dia bahwa lawannya memiliki tenaga sinkang yang amat kuat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner