KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-23


Terdengar pendeta Lama itu tertawa mengejek dan sekarang dia mulai menerjang dengan dahsyat dan ganas sekali. Pukulan dan tendangannya bertubi-tubi mendesak Hui In Sian-kouw sehingga dia tidak mampu membalas. Akan tetapi wanita ini mengerahkan ginkang-nya (ilmu meringankan tubuhnya) hingga tubuhnya berkelebatan menjadi bayang-bayang yang dengan cepat dapat menghindarkan diri dari semua serangan Gwat Kong Lama.

Dengan sendirinya Hui In Sian-kouw terdesak terus oleh lawannya yang bertarung sambil sering tertawa mengejek. Tetapi Hui In Sian-kouw memiliki ginkang yang istimewa, karena itu betapa pun gencarnya Gwat Kong Lama mendesak, namun belum juga ada pukulan atau tendangan yang dapat mengenai sasaran.

Gwat Kong Lama merasa seakan-akan dia menyerang sebuah bayang-bayang saja! Dia menjadi marah dan penasaran. Dia mulai memperhatikan gerakan Hui In Sian-kouw yang demikian ringan, maka tahulah dia ilmu silat apa yang mendasari gerakan pendeta wanita itu. Tiba-tiba saja Gwat Kong Lama mengubah gerakannya dan dia membentak nyaring.

"Sambutlah ini!"

Hui In Sian-kouw terkejut sekali ketika menghadapi serangan yang seperti menyambung gerakannya sendiri, dan pada dasarnya menutup semua gerakannya. Serangan dahsyat datang menyambar dan pada saat dia menghindar dengan elakan cepat tahu-tahu tangan pendeta Lama itu telah mengancam pelipis kirinya.

Kui Beng Thaisu, ketua Kun-lun-pai yang sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun, amat terkejut. Sejak tadi dia menonton pertandingan itu. Hatinya terasa lega karena dia merasa yakin bahwa ginkang (ilmu meringankan tubuh) sumoi-nya itu cukup tangguh untuk dapat menghindarkan diri dari ancaman serangan pendeta Lama itu. Namun dia sangat terkejut ketika melihat perubahan gerakan Gwat Kong Lama.

Walau pun hanya tinggal lima atau enam bagian saja dari ilmu silat pusaka Kun-lun-pai itu yang masih diingatnya, namun dia tahu bahwa pendeta Lama itu kini menyerang sumoi-nya dengan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat! Padahal kitab itu sudah lama hilang dari Kun-lun-pai dan baru setahun yang lalu, murid Tiong Lee Cin-jin yang bernama Souw Thian Liong itu datang dan mengatakan bahwa sesungguhnya dia diutus suhu-nya untuk mengembalikan kitab yang hilang itu.

Kitab itu telah ditemukan oleh Tiong Lee Cin-jin dalam perjalanannya ke barat, akan tetapi kitab itu lalu hilang lagi karena ada orang yang mencurinya. Kini tiba-tiba muncul seorang pendeta Lama yang menyerang sumoi-nya dengan mempergunakan jurus ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat! Tentu saja Hui In Sian-kouw semakin terdesak karena ilmu itu merupakan dasar dari semua ilmu perguruan Kun-lun-pai sehingga dasar gerakan pendeta wanita itu seolah-olah tertutup atau mendapatkan imbangan dari gerakan pendeta Lama bermuka brewok itu.

"Pergilah!" tiba-tiba Goat Kong Lama membentak, tangan kanannya mendorong dan biar pun Hui In Sian-kouw sudah cepat mengelak, namun tetap saja pundak kanannya terkena dorongan itu sehingga tubuh pendeta wanita ini terhuyung ke belakang.

Untung saja pendeta wanita ini mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga sebelum roboh terjengkang dia sudah dapat berjungkir balik tiga kali ke belakang sehingga tidak sampai jatuh. Wajahnya menjadi pucat namun dengan jujur dia merangkap kedua tangan di depan dada lalu berkata lirih,

"Siancai...! Aku mengaku kalah."

Kui Beng Thaisu menghampiri pendeta Lama itu. "Goat Kong Lama, engkau benar-benar keterlaluan. Tidak malu melawan kami dengan ilmu kami sendiri yang kitabnya hilang."

"Tidak perlu banyak bicara lagi, Kui Beng Thaisu. Aku hanya hendak menggeledah untuk mencari kalau-kalau orang yang kucari itu kalian sembunyikan di dalam kuil ini.”

"Hemm, jangan harap engkau akan dapat menghina perguruan Kun-lun-pai selama pinto (aku) masih berada di sini!" Kui Beng Thaisu yang biasanya amat penyabar itu sekarang berkata dengan muka merah karena pendeta Lama ini agaknya sama sekali tidak percaya kepadanya dan hendak memasuki kuil tanpa ijin yang berarti suatu pelanggaran sekaligus juga penghinaan.

"Kalau begitu terpaksa aku harus merobohkanmu, Kui Beng Thaisu!" kata pendeta Lama itu dan kedua orang pendeta itu sudah siap untuk saling serang. Akan tetapi pada saat itu pula terdengar suara lembut namun nyaring berwibawa.

"Tahan! locianpwe Kui Beng Thaisu, silakan locianpwe (orang tua gagah) mundur. Akulah lawan pendeta asing ini!" Tampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cantik berpakaian merah muda telah berdiri di depan Goat Kong Lama.

Sesudah melihat bahwa yang datang hanyalah seorang gadis yang masih muda, usianya paling banyak baru delapan belas tahun, tentu saja Kui Beng Thaisu tidak percaya bahwa gadis semuda ini akan mampu menandingi Goat Kong Lama yang selain memiliki tingkat kepandaian tinggi, juga memiliki banyak pengalaman. Bahkan sumoi-nya saja tak mampu menandinginya, apa lagi gadis semuda ini. Selain itu dia pun tidak mengenal gadis asing itu, bagaimana dia dapat membiarkan gadis itu mencampuri urusan Kun-lun-pai dengan pendeta Lama itu.

"Nona, terima kasih atas pembelaanmu. Akan tetapi harap sekarang engkau mundur dan jangan mencampuri urusan Kun-lun-pai yang membela diri terhadap desakan Gwat Kong Lama ini. Kami sungguh akan merasa sangat menyesal kalau sebagai orang luar engkau sampai terluka atau cidera karena membela Kun-lun-pai," kata pendeta ketua Kun-lun-pai itu dengan suara lembut.

"Locianpwe, maafkan aku. Sebenarnya aku masih terhltung cucu murid locianpwe sendiri. Aku sengaja datang menghadap locianpwe hendak memperkenalkan diri. Namun tadi aku melihat pendeta Lama ini menyerang Kun-lun-pai, karena itu aku hendak menandinginya. Locianpwe saksikan saja, aku pasti akan mempergunakan ilmu silat Kun-lun-pai dan tidak berani mempergunakan ilmu silat lain," gadis itu berkata lantang.

Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan. Seperti kita ketahui, Bi Lan berpisah dari gurunya setelah dia ditugaskan oleh gurunya untuk mengembalikan kitab pusaka milik Kun-lun-pai, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dulu, setahun yang lalu dicurinya dari buntalan pakaian Thian Liong. Kini dia telah mempelajari dan menguasai ilmu itu sepenuhnya.

Begitu tadi dia tiba di Kun-lun-pai, dia sempat menyaksikan kunjungan Goat Kong Lama. Melihat Gwat Kong Lama mengalahkan Hui In Sian-kouw dengan mempergunakan jurus-jurus dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, dia pun merasa penasaran sekali.

Dia merasa sangat bersalah. Karena dia mencuri kitab itu, maka pendeta wanita itu tidak bisa menguasai ilmu itu sehingga dikalahkan pendeta Lama itu yang justru menggunakan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Dia ingin menebus kesalahannya, karena itu dia pun cepat menawarkan diri untuk menandingi pendeta Lama itu.

Mendengar gadis itu mengaku sebagai murid Kun-lun-pai, Kui Beng Thaisu cepat menoleh kepada Hui In Sian-kouw yang sedang memandang kepada Bi Lan dengan sangat heran. "Sumoi, apakah engkau mengenal nona ini sebagai murid Kun-Lin pai?”

Hui In Sian-kouw hanya menggeleng kepalanya tanpa menjawab sebab dia merasa heran dan juga kagum sekali akan keberanian gadis muda itu. Tentu gadis itu tadi telah melihat dia dikalahkan oleh pendeta Lama itu, tetapi kenapa dia masih nekat hendak menandingi Goat Kong Lama dan berjanji hendak melawan pendeta itu dengan ilmu silat Kun-lun-pai? Ilmu silat Kun-lun-pai mana yang mampu menandingi Goat Kong Lama, kecuali Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat selengkapnya? Ataukah ada ilmu simpanan yang masih dirahasiakan oleh suheng-nya sebagai ketua Kun-lun-pai?

Sementara itu Goat Kong Lama sudah tak sabar lagi. Melihat sikap ngotot para pimpinan Kun-lun-pai yang melarang dia melakukan penggeledahan ke dalam bangunan-bangunan Kun-lun-pai, makin besar pula kecurigaannya bahwa yang dicarinya, Jit Kong Lama, pasti bersembunyi di dalam kuil itu.

"Hei, bocah!" tegurnya kepada Bi Lan. "Engkau anak-anak jangan ikut campur. Aku hanya hendak menggeledah kuil ini untuk mencari seseorang yang kuduga tentu bersembunyi di sini, akan tetapi para pimpinan Kun-lun-pai malah menghalangi aku. Minggirlah dan jangan mencari penyakit!"

Tiba-tiba Bi Lan mengerutkan alisnya. Pendeta ini adalah seorang pendeta Lama, seperti suhu-nya. Juga namanya Goat Kong Lama, mirip nama suhu-nya Jit Kong Lama! Jangan-jangan pendeta Lama ini sedang mencari suhu-nya! Apakah ada hubungan antara suhu-nya dengan pendeta Lama ini? Akan tetapi usia mereka jauh berbeda. Pendeta Lama ini berusia sekitar empat puluh dua tahun, sedangkan suhu-nya sudah berusia tujuh puluh satu tahun!

"Heh, Goat Kong Lamal Engkau sendiri belum begitu tua, jangan berlagak seperti seorang kakek-kakek! Apakah yang kau cari itu bernama Jit Kong Lama?

Goat Kong Lama memandang Bi Lan dengan mata terbelalak.

"Omitohud! Bagaimana engkau bisa tahu?"

"Tidak penting bagaimana aku bisa tahu, akan tetapi agaknya hanya akulah satu-satunya orang yang tahu di mana adanya orang yang kau cari itu. Beliau tidak berada di dalam kuil ini!"

"Hah? Engkau tahu? Katakan, nona, di mana dia?" tanya Goat Kong Lama dengan penuh semangat dan harapan. "Aku sudah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya hanya untuk mencari dia."

"Katakan dulu, apamukah Jit Kong Lama itu?"

"Dia adalah supek-ku (uwa guruku).”

Bi Lan teringat akan pengakuan suhu-nya bahwa dulu suhu-nya adalah orang yang sesat dan berdosa. Pantas memiliki murid keponakan sekasar ini!

"Hemm, ternyata dia itu adalah uwa gurumu? Lalu mau apa engkau mencarinya?” Bi Lan mendesak. Dia ingin tahu apakah orang ini kawan ataukah lawan gurunya karena gurunya pernah bercerita bahwa gurunya adalah seorang pelarian dari Tibet karena dimusuhi oleh para pendeta Lama di sana.

"Ihhh, engkau ini bocah perempuan cerewet amat sih? Hayo katakan di mana adanya Jit Kong Lama!" bentak Goat Kong Lama kehabisan kesabaran.

"Tidak akan kukatakan kalau engkau belum menjawab pertanyaanku ini. Mau apa engkau mencarinya?"

Muka Goat Kong Lama menjadi merah sekali. Dia amat marah, akan tetapi merasa tidak mampu menang berbantahan dengan gadis yang amat lincah dan pandai bicara itu, maka dia pun menjawab dengan nada kasar dan keras. "Aku akan menangkap pengkhianat itu, menyeretnya kembali ke Tibet hidup atau mati!"

Tentu saja Bi Lan marah sekali setelah mendengar orang ini hendak menyeret suhu-nya. Akan tetapi dia menahan perasaannya dan tersenyum mengejek.

"Hemm, begitukah? Kurasa engkau tidak akan becus melakukan itu!"

”Bocah! Jangan mempermainkan aku! Hayo katakan, di mana Jit Kong Lama sekarang?" bentak Goat Kong Lama sambil melangkah maju mendekat.

"Sekarang begini saja, Goat Kong Lama. Engkau lancang berani menyerbu Kun-lun-pai, maka sebagai murid Kun-lun-pai aku menantangmu bertanding, mewakili para pemimpin Kun-lun-pai. Apa bila engkau sanggup mengalahkan aku, barulah aku akan memberi tahu kepadamu di mana adanya Jit Kong Lama. Akan tetapi kalau engkau kalah maka engkau harus memohon maaf kepada locianpwe Kui Beng Thaisu. Beranikah engkau menerima tantanganku ini?"

Kui Beng Ttiaisu, Hui In Sian-kouw dan para murid Kun-lun-pai yang kini telah berkumpul di pekarangan itu, amat terkejut dan heran melihat keberanian gadis muda itu yang seolah mempermainkan pendeta Lama yang sangat lihai itu. Mendengar gadis ini mengetahui di mana adanya orang yang dicari Goat Long Lama, maka ini berarti gadis itu mempunyai urusan langsung dengan pendeta Lama itu, bukan sekedar mencampuri urusan Kun-lun-pai. Karena itu Kui Beng Thaisu tidak memiliki alasan untuk melarang dara ini menandingi Goat Kong Lama.

Mendengar tantangan Bi Lan, pendeta Lama itu sendiri tersenyum mengejek. "He-he-he, baik, kuterima tantanganmu. Katakan dahulu siapa namamu agar aku mengetahui dengan siapa aku bertanding."

"Namaku Han Bi Lan. Nah, bersiaplah engkau untuk mohon maaf kepada pimpinan Kun-lun-pai!"

"Nanti dulu! Taruhannya harus ditambah. Kalau engkau kalah, selain harus mengatakan di mana adanya Jit Kong Lama, engkau juga harus menjadi penunjuk jalan dan mengantar aku sampai aku dapat menemukan orang itu!" Sambil berkata demikian, pendeta Lama itu tersenyum, senyum yang mengandung ejekan yang kurang ajar.

Semua orang dapat merasakan bahwa ucapan pendeta Lama itu mengandung arti bahwa jika kalah maka Bi Lan harus menemaninya, tentu saja dengan maksud tak senonoh yang terbukti dari senyum dan pandangan mata itu.

Wajah Bi Lan menjadi merah sekali. Akan tetapi dasar Bi Lan adalah seorang gadis yang lincah, nakal, cerdik dan pandai bermain kata-kata, maka dia lalu berkata, “Aku pun ingin menambah taruhan Ini. Jika engkau yang kalah maka engkau harus mohon maaf kepada locianpwe Kui Beng Thaisu dengan berlutut!"

Sejak tadi Goat Kong Lama memandang rendah kepada Bi Lan dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mampu mengalahkan gadis muda itu, maka dia pun segera mengangguk. "Baik, janji taruhan ini disaksikan orang banyak dan harus dipenuhi!"

Bi Lan juga tersenyum. Dia menanggalkan buntalan pakaiannya lantas meletakkannya di atas lantai, dekat tempat Kui Beng Thaisu berdiri dengan Hui In Sian-kouw. Kemudian dia menghadapi pendeta Lama itu dan berkata, "Nah, sekarang aku sudah siap, Goat Kong Lama. Mulailah karena engkau yang mendatangkan keributan ini!"

Goat Kong Lama ingin cepat-cepat menyelesaikan pertandingan itu, maka dia telah cepat menyerang dan langsung mempergunakan jurus Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat mengingat tadi dia mengalahkan Hui In Sian-kouw dengan ilmu silat ini. Dia yakin bahwa dengan ilmu pusaka Kun-lun-pai sendiri yang sudah lama lenyap dari perguruan Kun-lun-pai ini, akan mudah sekali baginya untuk mengalahkan Bi Lan sebagai murid muda Kun-lun-pai.

"Hiiyyeeehhh…!" bentaknya.

Dan lengannya yang kekar panjang itu sudah menyambar ke arah dada gadis itu dengan cengkeraman. Sebuah serangan berbahaya dan juga tidak sopan!

Kui Beng Thaisu yang mengenal jurus ilmu silat pusaka itu memandang penuh perhatian dan sepasang alisnya berkerut. Bagaimana mungkin gadis muda itu akan dapat bertahan menghadapi serangan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu? Dia sendiri pun hanya sempat mempelajari ilmu itu sebanyak lima atau enam bagian saja, dan melihat gerakan pendeta Lama itu, biar pun agaknya dia juga belum menguasai ilmu itu sepenuhnya, tetapi setidaknya sudah menguasai lima bagian dan hal ini saja sudah cukup membuat dia lihai sekali. Bahkan tadi Hui In Sian-kouw juga tidak mampu menandinginya.

"Heiiitttt...!" Bi Lan berteriak melengking dan tubuhnya sudah mengelak dengan cepat dan mudah. Tentu saja mudah baginya karena dia telah menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sepenuhnya, maka jurus serangan yang sangat dikenalnya itu dengan mudah dapat dihindarkannya. Dia tahu ke mana lawan akan menyerang dan bagaimana perkembangan serangan selanjutnya.

Serangan dari ilmu silat ini memang berantai dan di sinilah terletak kehebatannya. Begitu cengkeraman tangan kiri Goat Kong Lama itu luput, tangan kanannya telah menyambung dengan tamparan ke arah leher dan ini diikuti pula dengan tendangan kedua kaki secara bergantian! Hebat serangan beruntun ini, namun karena sudah hafal maka Bi Lan mudah saja menghindarkan diri.

Dia juga bergerak dengan ilmu silat yang sama bahkan gerakannya juga berantai. Begitu menghindarkan diri dari tendangan bertubi itu, dia segera menyambung elakannya dengan serangan balik. Tiba-tiba saja tangan kirinya membuat gerakan memotong dengan tangan miring seperti orang menggunakan golok menebang pohon, ke arah kaki yang meluncur lewat di samping tubuhnya!

Goat Kong Lama sangat terkejut. Cepat dia menarik kembali kakinya, akan tetapi Bi Lan sudah menyambung serangannya dengan totokan ke arah dada, lantas serangan ini pun disambung dengan tendangan kakinya yang menyambar ke arah pusar. Goat Kong Lama menjadi heran dan bingung sehingga dia pun terpaksa membuang tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas tanah karena hanya itulah satu-satunya cara untuk dapat mematahkan rangkaian serangan gadis itu. Dia melompat bangun lalu berdiri dengan mata terbelalak memandang lawannya itu. Dalam segebrakan saja dia hampir kalah oleh gadis yang juga mempergunakan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat!

Sementara itu Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw bertukar pandang dengan terheran-heran. Gadis itu memainkan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dengan gerakan yang hampir sempurna. Akan tetapi mereka tahu benar bahwa tidak ada murid Kun-lun-pai, apa lagi yang begitu muda, yang menguasai ilmu pusaka yang sudah alama hilang itu. Bahkan Kui Beng Thaisu sendiri hanya menguasai paling banyak enam bagian dan Hui In Sian-kouw paling banyak tiga bagian saja. Biauw In Suthai bahkan tak pernah mempelajarinya. Akan tetapi Goat Kong Lama menguasai ilmu itu dengan baik, dan kini gadis muda itu bahkan menguasainya lebih baik lagi!

Setelah mengetahui bahwa gadis muda yang dipandang rendah itu ternyata dapat bersilat dengan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dengan sempurna, Goat Kong Lama maklum bahwa dia tidak akan menang kalau menggunakan ilmu itu. Kalau ingin menang maka dia harus menggunakan ilmunya sendiri, dan kini dia ingin mempermalukan gadis itu dengan menggunakan ilmu sihirnya. Maka mulutnya segera berkemak-kemik dan kedua matanya seperti mencorong menatap wajah Bi Lan.

Gadis itu mendengar mantera yang diucapkan lirih oleh Goat Kong Lama. Dia tersenyum. Tentu saja dia mengenal baik penggunaan sihir lewat pandang mata dan suara itu. Maka secara diam-diam dia pun mengerahkan tenaga batin seperti diajarkan gurunya, kemudian dengan berani membalas tatapan mata Goat Kong Lama.

Diam-diam pendeta Lama itu terkejut melihat betapa sinar mata gadis itu juga mencorong dan berani menyambut sinar matanya yang penuh dengan kekuatan sihir, bahkan sambil tersenyum! Goat Kong Lama lalu mengembangkan kedua lengannya, dan perlahan-lahan kedua tangannya bergerak ke atas kepala dalam bentuk sembah, kemudian didorongkan ke depan dan mulutnya mengeluarkan dengungan aneh.

Mendadak ada angin menyambar ke depan. Angin itu berpusing lantas menerjang Bi Lan. Akan tetapi Bi Lan cepat merangkap kedua tangannya di depan dada seperti menyembah, kedua matanya terpejam. Dia membiarkan angin itu berpusing di sekitar tubuhnya. Angin berpusing kuat dan membawa tanah dan debu ke atas, akan tetapi tidak kuat mengangkat tubuh Bi Lan. Kini perlahan-lahan Bi Lan mengembangkan sepasang tangannya kemudian mendorong ke depan. Angin berpusing itu kini meninggalkannya dan berbalik menyerang Goat Kong Lama!

Pendeta Lama itu terkejut bukan main. Tubuhnya hampir terpelanting oleh putaran angin itu sehingga dia cepat menghentikan sihirnya. Angin berhenti dan wajah pendeta Lama itu menjadi pucat sekali. Goat Kong Lama mengerahkan tenaganya dan membentak dengan auara menggetar penuh wibawa.

"Han Bi Lan, berlututlah engkau!"

Bi Lan juga mengerahkan tenaga batin di dalam suaranya ketika dia berkata, "Siapa yang berlutut? Aku ataukah engkau? Yang pasti engkau, Goat Kong Lama. Hayo, coba berilah contoh!"

Goat Kong Lama terkejut karena tanpa dapat ditolaknya lagi, tiba-tiba saja kedua lututnya menjadi lemas dan dia jatuh berlutut. Akan tetapi dia langsung menyadari keadaan yang tidak wajar ini dan cepat meloncat berdiri lagi.

Terdengar suara tawa dari para murid Kun-lun-pai yang merasa senang melihat pendeta Lama itu dipermainkan seorang gadis remaja. Sementara itu, Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw menjadi semakin heran. Mereka tahu bahwa dua orang itu tadi telah mengadu kekuatan sihir. Siapakah gadis muda ini yang selain menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat juga memiliki ilmu sihir yang demikian kuat ini?

Goat Kong Lama maklum bahwa dengan sihir pun dia takkan mampu mengalahkan gadis aneh ini. Maka sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, dia segera menerjang ke depan dan menyerang gadis itu dengan cepat. Semua serangan dilakukan dengan kedua tangan miring terbuka, gerakannya seperti orang menyembah dan gerakan silatnya lemah lembut namun setiap sambaran tangan yang menerjang mengandung tenaga yang kuat.

Bi Lan segera mengenal ilmu silat Kwan Im Sin-ciang (Tangan Sakti Dewi Kwan Im) itu. Untuk menyenangkan hati para pimpinan Kun-lun-pai, dia tetap memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Maka terjadilah pertandingan hebat dan seru.

Tentu saja pihak Bi Lan lebih untung. la mengenal dan hafal sekali ilmu silat Kwan Im Sin-ciang yang diajarkan Jit Kong Lama kepadanya. Maka menghadapi serangan dengan ilmu silat ini tentu saja dia sudah mengenal lika-liku serta perkembangannya sehingga mudah sekali menghindarkan diri. Sebaliknya Goat Kong Lama yang belum menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sepenuhnya, tetapi baru menguasai setengahnya saja, menjadi repot sekali menghadapi desakan Bi Lan.

Beberapa kali kaki atau tangan gadis itu mengenai sasaran, akan tetapi Goat Kong Lama melindungi dirinya dengan ilmu kebal yang sangat kuat sehingga dia tidak sampai roboh. Selain itu Bi Lan juga tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya karena bagaimana pun juga, gadis ini tahu bahwa lawannya adalah murid keponakan suhu-nya sehingga masih terhitung saudara seperguruan sendiri.

Akan tetapi, melihat Goat Kong Lama belum juga mau mengaku kalah walau pun sudah beberapa kali terkena tendangan atau tamparannya, Bi Lan menjadi marah juga. Orang ini tak tahu diri, pikirnya, dan perlu diberi hajaran yang lebih keras.

"Haiiittttt...!” Dia menyerang dengan serangkaian serangan dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang sambung menyambung.

Goat Kong Lama berusaha mempertahankan diri dengan tangkisan atau elakan, namun karena jurus yang digunakan Bi Lan merupakan jurus-jurus ilmu silat yang belum pernah dipelajarinya, maka dia menjadi bingung tidak mengenal perkembangannya sehingga tidak dapat menghindarkan diri lagi ketika kaki kiri gadis itu mencuat dengan cepat dan kuat ke arah dada kanannya. Sekali ini Bi Lan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Dessss...!"

Biar pun Goat Kong Lama telah melindungi dirinya dengan ilmu kebal, namun tendangan itu terlampau kuat menembus kekebalannya sehingga dia pun terjengkang dan terbanting jatuh. Dia merasa dada kanannya nyeri dan ketika dirabanya, tahulah dia bahwa sebuah tulang iganya sudah patah.

Goat Kang Lama sangat terkejut dan merasa penasaran sekali. Menang kalah merupakan hal biasa dalam pertandingan silat, akan tetapi dia merasa dipermalukan di depan semua anggota Kun-lun-pai yang berkumpul di situ dan yang kini semuanya tersenyum gembira melihat kemenangan Bi Lan. Dia meraba punggung-nya dan…

“Srattt...!” Tangan kanannya telah mencabut pedang.

Pada saat itu pula Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw langsung melompat ke depan. "Siancai...! Goat Kong Lama, pertandingan ini bukan permusuhan, kenapa menggunakan senjata? Kalau engkau mempergunakan senjata, terpaksa kami akan mengusirmu dengan kekerasan! Engkau jelas telah dikalahkan oleh seorang murid Kun-lun-pai, kenapa masih nekat? Han Bi Lan, sebagai murid Kun-lun-pai, engkau kami minta untuk menceritakan di mana adanya pendeta Lama yang dicari Goat Kong Lama itu agar tidak ada urusan lagi antara Kun-lun-pai dan dia."

Bi Lan menghadapi Goat Kong Lama yang terpaksa menyarungkan kembali pedangnya karena kalau sampai para pimpinan Kun-lun-pai marah dan turun tangan, tak mungkin dia akan dapat lolos. Baru melawan gadis itu saja sudah berat sekali.

”Goat Kong Lama. Kalau engkau merasa sebagai orang gagah kenapa tidak memenuhi, janjimu tadi? Engkau telah kalah dan engkau harus mohon ampun kepada pimpinan Kun-lun-pai. Setelah itu baru akan dapat kuberitahu dimana adanya Jit Kong Lama.”

Goat Kong Lama tidak dapat menyangkal lagi mengenai kekalahannya tadi, maka dengan muka merah dia pun menjatuhkan diri berlutut menghadap Kui Beng Thaisu dan berkata, "Kui Beng Thaisu, pinceng (aku) bersalah dan minta maaf."

"Sudahlah, Goat Kong Lama. Kami tidak bisa menerima penghormatan seperti ini. Semua itu hanyalah kesalah pahaman belaka. Yang sudah lalu biarlah berlalu. Bangkitlahl" Ketua Kun-lun-pai itu menggerakkan tangan kanannya ke depan dan Goat Kong Lama merasa ada angin yang amat kuat menyambar dan seolah mengangkatnya sehingga dia terpaksa bangkit berdiri. Dia kaget sekali dan menyesal bahwa tadi dia terlalu memandang rendah orang. Ternyata ketua Kun-lun pai yang sudah tua ini mempunyai tenaga sakti yang luar biasa!

"Han Bi Lan, sekarang katakan di mana adanya Jit Kong Lama," katanya kepada Bi Lan, kini lenyaplah sikapnya yang angkuh tadi.

"Dia sudah pergi ke barat, hendak kembali ke Tibet untuk menyerahkan diri kepada para pimpinan Lama di sana." kata Bi Lan, dalam suaranya terkandung kesedihan mengenang gurunya yang amat disayangnya itu.

Pendeta Lama itu memandang kepadanya dengan alis berkerut dan dalam sinar matanya terbayang ketidak percayaannya. "Bagaimana aku dapat mempercayai keterangan itu?"

"Engkau harus percaya karena aku adalah muridnya!" kata Bi Lan.

"Engkau... engkau... muridnya?" kata Goat Kong Lama dengan mata terbelalak. "Tetapi... engkau tadi melawanku dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat...!"

"Benar. Aku juga murid Kun-lun-pai. Akan tetapi Jit Kong Lama juga guruku. Kau lihat ini!" kata gadis itu dan dia segera membuat gerakan silat dengan kedua tangan miring seperti orang memuja.

"Kwan Im Sin-ciang (Tangari Sakti Dewi Kwan Im)...!" seru Goat Kong Lama.

"Dan lihat ini!" Bi Lan memungut sebatang ranting kayu kemudian bersilat beberapa jurus dengan ranting kayu itu.

"Kim-bhok Sin-tung-hoat (Ilmu Tongkat Sakti Kayu Emas)." Goat Kong Lama berseru lagi. "Kau... .kau benar-benar muridnya!"

"Nah, percayakah engkau sekarang?'"

“Sekarang suhu Jit Kong Lama sedang pularig ke Tibet untuk menyerahkan diri, bertobat dan menebus semua dosanya. Pergilah!"

Goat Kong Lama mengangguk-angguk. Dia mengangkat kedua tangannya di depan dada, menghadapi pimpinan Kun-lun-pai, membungkuk lalu berkata "Omitohud! Pinceng mohon maaf dan mohon diri!" Setelah berkata demikian, pendeta Lama itu memutar tubuhnya lalu berlari cepat seperti terbang meninggalkan tempat itu.

Kini Bi Lan menghadapi Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw. Dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu menatap wajah Bi Lan dengan penuh keheranan. Keduanya merasa penasaran sekali. Murid pendeta Lama Tibet sekaligus juga murid Kun-lun-pai yang dibuktikannya dengan kemahiran ilmu silat pusaka Kun-lun-pai! Banyak pertanyaan yang memenuhi hati Kui Beng Thaisu.

Betapa pun juga gadis ini sudah membela nama Kun-lun-pai dengan mengalahkan Goat Kong Lama tadi. Dan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi hatinya, dia merasa tidak leluasa karena di situ berkumpul semua murid Kun-lun-pai.

"Nona Han Bi Lan, engkau tadi mengatakan bahwa engkau datang ini untuk menghadap kami?" tanya ketua Kun-lun-pai itu.

"Benar, locianpwe," jawab Bi Lan sambil menghampiri buntalan pakaiannya.

"Kalau begitu marilah kita masuk dan bicara di dalam." ajak ketua Kun-lun-pai itu.

Bi Lan mengangguk, lalu dia mengikuti Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw memasuki kuil.


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner