KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-24


Setelah mereka duduk dalam ruangan tengah yang tertutup, Bi Lan meletakkan buntalan pakaiannya di atas meja.

"Nah, sekarang jangan membuat kami terlalu lama keheranan dan menduga-duga, nona Bi Lan. Ceritakanlah mengapa engkau datang ke Kun-lun-pai dan hendak bertemu dengan kami," kata Kui Beng Thaisu.

"Dan bagaimana pula engkau mengaku sebagai murid Kun-lun-pai dan dapat menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat?" tanya pula Hui In Sian-kouw.

Bibir Bi Lan tersenyum, akan tetapi dia menghela napas panjang. "Ceritanya panjang dan sebelumnya saya harap locianpwe pimpinan Kun-lun-pai suka memaafkan saya. Sudah sebelas tahun lamanya saya ikut suhu Jit Kong Lama yang mengasingkan diri di sebuah puncak Kun-lun-san untuk mempelajari ilmu-ilmu dari suhu. Beberapa hari yang lalu saya berpisah dari suhu yang ingin kembali ke Tibet dan suhu telah memberi tugas kepadaku. Tugas saya yang pertama adalah berkunjung ke Kun-lun-pai, menghadap para pimpinan Kun-lun-pai. Akan tetapi baru saja tiba di pekarangan kuil, saya melihat Goat Kong Lama, mendengar pembicaraannya dan melihat betapa dia menantang bertanding kepada para pimpinan Kun-lun-pai. Karena itulah maka saya memberanikan diri menghadapinya untuk membela Kun-lun-pai karena saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk membela Kun-lun-pai."

"Tapi engkau... engkau menguasai ilmu silat pusaka kami...," kata Hui In Sian-kouw.

Bi Lan tersenyum. “Peristiwa ini terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang pemuda yang sangat sombong. Ketika melihat bahwa dia membawa kitab-kitab kuno dalam buntalan pakaiannya, saya lalu meminjam sebuah kitab tanpa dia ketahui."

"Siancai…! Itu namanya mencuri!" seru Hui In Sian-kouw.

Bi Lan tersenyum manis memandang wajah pendeta wanita itu sambil matanya bersinar nakal. "Saya hanya ingin memberi pelajaran kepadanya agar dia tidak sombong. Biar tahu rasa dia! Saya tertarik sekali ketika melihat bahwa kitab itu berisi pelajaran ilmu silat, apa lagi ketika suhu memberitahu bahwa kitab itu adalah kitab pusaka milik Kun-lun-pai. Saya mengambil keputusan untuk meminjam kitab itu, lantas di bawah bimbingan dan petunjuk suhu, saya mempelajari serta melatihnya selama setahun. Karena memang saya merasa pinjam, maka sesudah selesai saya pelajari dan saya kuasai, begitu berpisah dari suhu, saya langsung datang menghadap pimpinan Kun-lun-pai untuk mengembalikan Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat ini." Bi Lan membuka buntalan pakaiannya, mengambil kitab itu dan menyerahkannya kepada Kui Beng Thaisu.

Kui Beng Thaisu menerima kitab itu, memeriksanya sebentar kemudian dia mengangguk-angguk, "Siancai...! Memang inilah kitab kami yang lenyap pada puluhan tahun yang lalu. Nona Bi Lan, pemuda yang kau maksudkan itu adalah murid dari Tiong Lee Cin-jin yang bermaksud mengembalikan kitab itu kepada kami. Dia melaporkan bahwa kitab itu hilang dalam perjalanan. Kiranya engkaulah yang mengambilnya."

"Saya meminjamnya, locianpwe, dan tadi sudah saya kembalikan. Harap locianpwe suka memaafkan saya."

"Kami memaafkanmu, nona. Bagaimana pun juga engkau telah berani membela Kun-lun-pai dengan taruhan nyawa dan mengaku sebagai murid Kun-lun-pai. Kalau engkau murid Kun-lun-pai, maka mempelajari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat tentu tidak bersalah karena tingkat kepandaianmu juga sudah memadai. Tetapi engkau baru sah kami terima sebagai murid Kun-lun-pai kalau engkau mengakui pinto (aku) sebagai guru dan ini adalah Hui In Sian-kouw, sumoi-ku yang menjadi ketua Kun-lun-pai bagian wanita, karena itu dia adalah gurumu pula."

Bi Lan mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu, maka dia pun segera berlutut memberi hormat kepada kedua orang tua itu. Dia memberi hormat kepada Kui Beng Thaisu sambil menyebut ‘suhu’, lalu kepada Hui In Sian-kouw dengan menyebut ‘subo (ibu guru)’. Hui In Sian-kouw menyentuh kedua pundak Bi Lan, menyuruhnya bangkit dan duduk kembali.

Sesudah kedua orang ketua Kun-lun-pai ini menerima Bi Lan sebagai murid Kun-lun-pai, gadis itu kemudian diperkenalkan kepada semua murid Kun-lun-pai. Semua murid merasa girang dan kagum mempunyai saudara seperguruan yang demikian lihai.

Hui In Sian-kouw tidak lupa untuk memperkenalkan Bi Lan kepada Biauw In Suthai yang masih menjalani hukuman di dalam Pondok Pengasingan. Setelah diberitahu tentang Han Bi Lan yang sudah membela Kun-lun-pai dan kini diakui sebagai murid yang sah dari Kun-lun-pai, pendeta wanita ini bersedia menerima Bi Lan berkunjung kepadanya di Pondok Pengasingan.

Bi Lan memasuki pondok yang sepi itu, lantas segera berlutut menghadap pendeta wanita yang juga duduk di atas lantai sambil bersila itu. Bi Lan sudah mendengar tentang Biauw In Su-thai yang menjalani hukuman dan dia merasa kasihan kepada pendeta wanita yang wajahnya masih tampak manis itu. Baru mengasingkan diri selama satu tahun saja wajah Biauw In Suthai sudah berubah. Kini tak ada lagi garis-garis yang menunjukkan kekerasan hati pada wajahnya.

"Bibi guru...," Bi Lan menegur ragu.

Biauw In Suthai membuka mata, memandang kepada Bi Lan dan dia tersenyum kagum. "Ahh, engkau cantik jelita dan lincah sekali! Engkau yang bernama Han Bi Lan dan telah membela Kun-lun-pai dengan mengalahkan pendeta Lama yang sangat lihai itu? Setelah berkunjung ke sini dan mengembalikan kitab, engkau lalu hendak pergi ke mana, Bi Lan?"

"Saya hendak melanjutkan perjalanan saya, bibi guru. Saya akan kembali ke rumah orang tua saya di Liang-an (Hang-chouw)."

"Ah, ke kota raja kerajaan Lam Sung (Sung Selatan)? Jauh sekali. Bi Lan, engkau adalah seorang murid Kun-lun-pai yang sudah menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, berarti tingkat kepandaianmu sudah tinggi sekali. Aku hendak minta bantuanmu, maukah engkau menolongku, Bi Lan?"

Bi Lan merasa heran sekali. Bantuan apa yang dibutuhkan pendeta wanita ini? Dia hanya mendapat keterangan dari para murid Kun-lun-pai dan juga dari Hui In Sian-kouw bahwa Biauw In Suthai sedang menjalani hukuman sehingga diharuskan tinggal di dalam Pondok Pengasingan untuk bersemedhi dan bertobat. Kini wanita yang sudah menjalani hukuman selama satu tahun itu hendak minta pertolongannya!'

"Bibi guru, tentu saja saya suka menolongmu, asal saja tidak melanggar peraturan Kun-lun-pai dan tidak berlawanan dengan hati nurani saya sendiri," jawabnya hati-hati.

Biauw In Suthai mengangguk-angguk.

"Bagus sekali. Memang demikianlah seharusnya seorang pendekar dan murid Kun-lun-pai yang baik. Tidak seperti aku dahulu yang hanya menurutkan gejolak perasaan hati sendiri. Kekerasan hatiku telah membuat dua orang murid yang sangat kusayangi sekarang pergi mencari seseorang untuk membunuhnya. Maka aku ingin minta bantuanmu, yaitu apa bila dalam perjalananmu engkau menjumpai mereka, sampaikanlah pesanku bahwa peraturan pernikahan itu sekarang sudah kubatalkan dan katakan supaya mereka berdua tidak lagi berusaha membunuh laki-laki itu."

Bi Lan mendengarkan dengan heran. "Bibi guru, apakah bibi guru tidak mau memberikan penjelasan kepada saya supaya saya mengerti duduknya perkara? Siapakah kedua orang murid bibi guru itu dan siapa pula laki-laki yang hendak mereka bunuh itu? Mengapa pula hendak mereka bunuh?"

Biauw In Suthai menarik napas panjang. "Baiklah, akan kujelaskan, Bi Lan. Setahun yang lalu, muridku Kim Lan dikalahkan seorang pemuda dalam suatu pertandingan silat. Sudah menjadi peraturanku ketika itu bahwa muridku yang kalah oleh seorang pria harus menjadi isterinya. Apa bila pria itu menolaknya, maka muridku harus membunuh pria itu. Kim Lan kalah dan pria itu menolak menjadi .suaminya, maka Kim Lan lantas pergi untuk mencari pemuda itu dan membunuhnya. Ai Yin, muridku yang kedua, ikut pergi bersama suci-nya (kakak seperguruan). Pemuda itu bernama Souw Thian Liong, murid Tiong Lee Cin-jin."

"Murid Tiong Lee Cin-jin? Apakah bibi maksudkan pemuda yang tadinya membawa kitab untuk diserahkan kepada pimpinan Kun-lun-pai?" Bi Lan teringat akan Souw Thian Liong yang tadinya belum dia ketahui namanya.

"Benar, Bi Lan. Dialah orangnya yang telah mengalahkan Kim Lan akan tetapi tidak mau menjadi suaminya."

"Tapi... tapi, bibi! Bagaimana ada aturan seperti itu? Jika kalah harus menjadi isteri orang yang mengatahkan dan kalau pria itu menolak harus dibunuh? Peraturan itu aneh sekali, bibi. Maafkan saya, akan tetapi bagaimana mungkin perjodohan dapat dipaksakan seperti itu?" kata Bi Lan sambil menahan tawa karena hatinya merasa sangat geli. Peraturan itu dianggapnya konyol sekali.

Biauw In Suthai beberapa kali menghela napas panjang. "Sekarang aku pun dapat melihat betapa bodohnya peraturan yang kubuat menurutkan perasaan hati itu. Karena itu suheng lalu menegurku dan menyuruhku bertobat di sini selama tiga tahun. Aku menyesal, maka tolonglah aku, Bi Lan. Kalau engkau bertemu dengan Kim Lan dan Ai Yin, cegah mereka membunuh Souw Thian Liong dan katakan bahwa peraturanku itu sudah kucabut."

Bi Lan mengangguk. "Baiklah, bibi. Semoga saya akan dapat bertemu dengan mereka."

Setelah meninggalkan Pondok Pengasingan itu, Bi Lan tidak dapat lagi menahan rasa geli hatinya sehingga dia tertawa sendiri. Sungguh peraturan yang aneh! Dalam pertandingan sudah dikalahkan pemuda itu, bagaimana dapat membunuhnya?

Hemm, jadi pemuda itu bernama Souw Thian Liong, murid Tiong Lee Cin-jin? Ilmu silatnya memang hebat dan dia sudah menyaksikannya sendiri ketika pemuda itu menolong para saudagar yang diganggu oleh perampok-perampok lihai.

Setelah tinggal di Kun-lun-pai selama dua hari, Bi Lan lantas berpamit untuk melanjutkan perjalanannya. Dia ingin menjenguk ayah ibunya di kota raja, dan hatinya sangat bahagia membayangkan dia akan bertemu dan berkumpul kembali dengan orang tuanya. Selama ini tentu orang tuanya amat mengkhawatirkan keselamatannya.

Dia membayangkan betapa akan gembiranya hati ayah ibunya kalau bertemu dengannya. Dia pun akan mencari Ouw Kan yang telah membunuh Lu Ma, pelayan tua yang setia dan yang menurut ibunya masih bibi ibunya sendiri dan yang amat mencintanya.

Dia masih ingat bahwa ayah ibunya adalah orang-orang gagah yang memimpin pasukan dan ketika meninggalkannya, mereka berangkat untuk perang membantu pasukan besar Jenderal Gak Hui. Dia pun teringat bahwa dia berpesan kepada ayahnya untuk membawa oleh-oleh sebatang pedang bengkok yang biasa dipakai oleh perwira Kerajaan Kin.

Bi Lan tersenyum kalau ingat akan hal ini. Apakah kini ayahnya sudah membawakan oleh-oleh itu dan masih menyimpannya…..?

********************

"Tidak, ayah... tidak... aku tidak percaya!" Gadis itu menangis sesenggukan.

Dia adalah Kwee Bi Hwa, seorang gadis berusia kurang lebih sembilan belas tahun. Gadis ini mempunyai wajah yang sangat manis, kecantikan yang khas, tidak seperti perempuan bangsa Han lainnya. Kejelitaannya terasa asing.

Memang sesungguhnya ada kecantikan suku Mancu dalam dirinya. Ayahnya, Kwee Bun To, adalah seorang peranakan Mancu yang menjadi guru silat dari perguruan silat Pek-eng Bukoan (Perguruan Silat Garuda Putih) dan tinggal di daerah utara. Isteri Kwee Bun To juga seorang wanita Mancu, maka tidak mengherankan kalau kecantikan yang dimiliki Kwee B Hwa adalah kecantikan peranakan Han dan Mancu.

Ketika bangsa Yu-cen menguasai daerah utara dan mendirikan dinasti Kin, Kwee Bun To lalu melarikan diri sambil membawa istri dan seorang anaknya. Akan tetapi isterinya mati dalam perjalanan dan akhirnya dia tinggal di pegunungan dekat Siauw-lim-pai.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pada suatu malam seseorang memasuki kamar Bi Hwa, lalu menotoknya dan memperkosanya. Kwee Bun To marah sekali dan menyerbu Siauw-lim-si karena merasa yakin bahwa pelakunya adalah murid Siauw-lim-pai. Namun kemudian ternyata bahwa pelakunya yang berhasil ditangkap Cia Song, murid Siauw-lim-pai yang lihai itu, adalah seorang kepala perampok dan pemerkosa itu kemudian dibunuh oleh Cia Song. Dengan hati sedih Kwee Bun To pulang lalu menceritakan hal itu kepada puterinya. Bi Hwa menyambut cerita ayahnya itu dengan tangis.

Kwee Bun To memandang puterinya dan menghela napas panjang. Dia merasa iba sekali kepada puterinya yang tersayang. Puterinya adalah satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini, satu-satunya orang yang paling dekat dengan hatinya. Dia mau berkorban apa saja untuk puterinya, kalau perlu nyawanya.

"Bi Hwa, percayalah, aku pun menyesal bukan main. Tadinya aku bermaksud untuk minta pertanggungan jawab Giam Ti dan dia harus menikahimu untuk mencuci aib. Akan tetapi murid Siauw-lim-pai itu terlanjur turun tangan membunuhnya.

Bi Hwa sudah menguatkan hatinya dan menghentikan tangisnya, la mengangkat mukanya yang agak pucat dengan sepasang mata yang memerah karena tangis. "Ayah, aku sukar dapat percaya bahwa pelakunya adalah seorang kepala perampok. Bagaimana dia berani mengganggu keluarga ayah?"

"Anakku, bagaimana aku takkan mempercayainya? Ketika dia ditangkap Cia Song murid Siauw-lim-pai itu lalu dihadapkan padaku, penjahat itu telah mengaku sendiri. Dan ingat, dia bukan kepala perampok biasa. Dia adalah kepala gerombolan yang bersarang di Bukit Angsa tidak jauh dari sini. Julukannya Hui-houw-ong (Raja Harimau Terbang), sedikitnya menunjukkan bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi juga."

"Aku masih merasa penasaran, ayah. Orang itu sangat lihai. Ketika memasuki kamarku, aku sama sekali tak mendengar apa-apa. Hal ini menunjukkan dia tentu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sempurna. Padahal biasanya aku peka sekali, sedikit saja suara mencurigakan sudah cukup untuk membangunkan aku. Dan totokannya itu! Benar-benar melumpuhkan seluruh tubuhku. Bukan main lihainya."

"Sudahlah, Bi Hwa, tak perlu penasaran lagi. Betapa pun juga pelakunya sudah mengaku dan sudah terhukum mati. Aku merasa lelah sekali lahir batin, periu mengaso," kata Kwee Bun To sambil memasuki kamarnya.

Bi Hwa. masih duduk termenung. Dia merasa sangat menyesal dan kecewa mendengar bahwa yang memperkosanya dahulu adalah seorang kepala perampok, seorang penjahat. Kalau saja pelakunya adalah seorang murid Siauw-lim-pai, seorang pendekar seperti yang disangkanya semula, tentu dia tidak akan merasa sehina itu. Akan tetapi seorang kepala perampok? Andai kata penjahat itu tertangkap hidup-hidup pun dia tak akan sudi menjadi isteri seorang kepala perampoki Akan tetapi hatinya masih belum puas.

Dia masih penasaran sekali. Dia masih ingat benar. Pria yang memperkosanya malam itu, walau pun dalam keadaan gelap sehingga dia sama sekali tidak dapat melihat wajahnya, namun tidak mungkin laki-laki itu seorang penjahat yang kasar dan kejam. Biar pun tidak mengucapkan sepatah pun kata, biar pun dia tidak dapat melihat orangnya, tetapi laki-laki itu begitu lemah lembut! Tidak mungkin dia seorang kepala perampok, seorang penjahat yang kasar dan kejam!

Dia harus menyelidikinya sendiri! Ayahnya kadang-kadang terlampau keras, lebih banyak menggunakan tenaga dari pada akal. Timbullah semangat Bi Hwa dan pada esok harinya, Kwee Bun To mendapatkan kamar anaknya kosong dan dia hanya menemukan sepucuk surat tulisan tangan anaknya yang ditujukan kepadanya.

Ayah,

Saya pergi merantau untuk menghibur hati yang gundah. Harap ayah tidak mencari saya karena saya tidak akan pulang sebelum kedukaan ini lenyap. Kalau sudah tiba saatnya saya pasti pulang.

Anak:
Kwee Bi Hwa.


Pada saat itu timbul keinginan Kwee Bun To untuk mengejar anaknya dan mencegahnya pergi. Dia sudah melompat keluar kamar hendak lari mengejar keluar rumah. Akan tetapi setibanya di luar rumah, dia berhenti kemudian sekali lagi dibacanya surat anaknya.

Dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, lantas menyimpan surat itu dan masuk kembali ke dalam rumah. Tidak, dia tidak akan melakukan pengejaran. Dia mengenal baik puterinya. Di balik kelembutannya, anak itu mempunyai hati yang keras, tekad yang bulat seperti yang dimiliki kaum wanita suku Mancu pada umumnya. Anaknya sudah mengambil keputusan untuk pergi merantau dan dia tidak akan mau dicegah, tidak akan dapat dilarang atau pun dibujuk.

Apa lagi anaknya itu bukan seorang wanita lemah. Sejak kecil sudah belajar dan berlatih silat dengan baik dan termasuk orang yang berbakat. Anaknya tak akan mudah diganggu orang jahat. Dia pandai menjaga dan membela diri. Hal itu tidak perlu dia khawatirkan. Dia hanya merasa sedih harus berpisah dari puterinya. Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia menghalangi niat puterinya, hal itu malah akan membuat Bi Hwa marah dan berduka. Maka dengan hati berat ayah ini mengambil keputusan untuk menanti saja di situ sampai puterinya pulang…..

********************

Pada keesokan harinya, Kwee Bi Hwa berjalan seorang diri mendaki lereng dekat puncak Bukit Angsa. Tidak sukar baginya untuk menemukan bukit ini yang berada tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya yang terletak di bukit lain dari pegunungan itu. Bukit Angsa itu dari jauh sudah tampak. Biar pun tingginya tidak banyak bedanya dengan bukit-bukit lain yang memenuhi daerah pegunungan itu, tapi Bukit Angsa memiliki ciri yang khas, yaitu bentuk puncaknya. Puncak bukit dengan pohon-pohon besar itu dari kejauhan tampak berbentuk seperti seekor angsa!

Setelah Bi Hwa tiba di dekat puncak, tiba-tiba berkelebatan bayangan belasan orang dan dia sudah dikepung oleh orang-orang yang tampak bengis menyeramkan. Mereka semua membawa sebatang golok pada tangan kanan. Di baju mereka pada bagian dada terdapat lukisan seekor harimau terbang! Maka tahulah Bi Hwa bahwa kini dia sedang berhadapan dengan gerombolan Harimau Terbang yang dipimpin oleh Hui-houw-ong Giam Ti.

Ketika melihat sebatang pedang tergantung di punggung gadis manis itu, salah seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pemimpin segera bersikap hati-hati. Dia melangkah maju menghadapi Bi Hwa kemudian bertanya.

"Nona, siapakah engkau dan apa kehendakmu datang dan melanggar daerah kekuasaan kami?"

"Tak perlu kalian tahu siapa aku. Aku sengaja datang ke sini hendak mencari keterangan tentang seorang yang bernama Hui-houw-ong Giam Ti," kata Bi Hwa.

Mendengar jawaban ini, orang-orang itu nampak terkejut dan marah. Mereka mengepung ketat dan bersiap dengan golok mereka.

"Dia mata-mata musuh!"

"Bunuh dia untuk menyembahyangi arwah Giam-toako!"

Lima belas orang itu secara serentak menyerbu Bi Hwa dari segala jurusan. Bi Hwa cepat menggerakkan tangan kanannya dan nampak sinar berkilat ketika dia mencabut pedang. Kemudian pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika gadis ini menyambut serangan mereka. Sinar pedang itu menyambar-nyambar, dilkuti tamparan tangan kiri dan tendangan kakinya.

Terdengar teriakan para pengeroyok kemudian mereka pun roboh berpelantingan terkena tamparan atau tendangan, sedangkan golok mereka langsung patah dan terpental ketika bertemu sinar pedang. Lima belas orang itu terkejut bukan kepalang dan mereka menjadi ketakutan lalu melarikan diri pontang panting ke arah puncak.

Bi Hwa melakukan pengejaran ke puncak Bukit Angsa. Di puncak dia menemukan sarang gerombolan yang berupa sebuah perkampungan dengan rumah-rumah kayu sederhana. Ketika dia memasuki perkampungan itu, di situ terlihat sepi. Semua pondok tertutup pintu dan jendelanya. Akan tetapi ia maklum bahwa para anggota gerombolan itu masih berada di situ, bersembuyi di dalam rumah-rumah yang tertutup itu.

Bi Hwa melihat ada sebuah rumah yang paling besar di antara rumah-rumah lain. Dia lalu menghampiri rumah besar itu, berdiri di depannya kemudian berseru sambil mengerahkan khikang-nya sehingga suaranya terdengar melengking nyaring dan menggetar di seluruh perkampungan itu.

"Hei, semua anggota gerombolan Harimau Terbang, keluarlah! Aku tidak ingin mencelakai kalian. Kedatanganku hanya ingin minta keterangan dari kalian! Hayo keluar, kalau tidak maka aku akan marah dan seluruh perkampungan ini akan kubakar!"

Gertakannya berhasil. Rumah-rumah mulai membuka pintunya, lalu bermunculanlah para anggota gerombolan yang tadi mengeroyoknya dan bersama mereka keluar pula wanita-wanita dan kanak-kanak, yaitu keluarga mereka. Setelah pemimpin mereka menjatuhkan diri berlutut, semuanya lalu ikut berlutut bersama keluarga mereka. Jumlah para anggota gerombolan itu sebanyak dua puluh orang lebih dan keluarga mereka lebih banyak lagi.

"Lihiap (pendekar wantta), ampunkanlah kami...," kata pemimpin gerombolarr itu.


Bi Hwa memperhatikan seorang wanita cantik berusia kurang lebih dua puluh lima tahun yang menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun keluar dari rumah besar, diikuti beberapa orang wanita berpakaian pelayan. Wanita ini pun segera mengajak anaknya menjatuhkan diri berlutut.

"Aku tak akan mencelakai kalian, asalkan kalian bersedia memberitahu kepadaku dengan sejujurnya tentang Hui-houw-ong Giam Ti. Siapa di antara kalian yang dapat memberikan keterangan lengkap mengenai dia?

"Saya dapat, lihiap. Saya Giam Kui, adik kandung kakak Giam Ti," kata laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun yang tadi bersikap sebagai pimpinan gerombolan itu.

"Saya juga bisa, lihiap. Saya adalah isteri Hui-houw-ong Giam Ti," kata wanita cantik tadi dengan suara lembut.

"Baik, kalian berdua boleh menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya. Dan yang lain bubarlah, lakukan pekerjaan kalian masing-masing."

Semua anggota gerombolan tampak lega dan mereka lalu bubaran. Isteri Giam Ti bangkit kemudian berkata, "Lihiap, mari silakan masuk ke dalam rumah supaya kita lebih leluasa bicara."

Bi Hwa mengangguk, lantas melangkah masuk ke dalam rumah yang paling besar sambil diiringkan Nyonya Giam Ti yang memondong anaknya dan Giam Kui. Para pelayan terus masuk ke belakang untuk menyiapkan minuman, sedangkan Bi Hwa dipersilakan duduk di ruangan depan.

"Sekarang lekas katakan, di mana adanya Hui-houw-ong Giam Ti?" tanya Bi Hwa sebagai pancingan.

Isteri dan adik mendiang Giam Ti itu tampak terkejut dan saling pandang dengan heran.

"Akan tetapi..., lihiap... dia sudah mati...," kata Nyonya Giam Ti dengan suara terisak.

”Apa yang telah terjadi dengan dia? Coba ceritakan dengan sejelasnya. Jangan bohong!"

Nyonya Giam Ti menoleh kepada adik iparnya, lalu berkata, "Adik Giam Kui, engkau yang lebih tahu duduk persoalannya. Engkau ceritakanlah kepada lihiap."

Giam Kui mengangguk lantas berkata, "Peristiwa itu terjadi beberapa hari yang lalu, lihiap. Seorang pemuda yang amat lihai datang ke perkampungan kami, lalu dia mengamuk dan merobohkan kami semua termasuk kakak saya Giam Ti. Kemudian dia memaksa kakak saya agar ikut dengannya dan melaksanakan semua perintahnya dengan ancaman bahwa kalau kakak saya tidak mau menurut, maka bukan saja dia akan membunuh kakak Giam Ti, tetapi dia juga akan menyiksa dan membunuh kakak ipar ini berikut anaknya. Karena tidak mampu melawan dan takut akan ancaman itu, kakak Giam Ti lalu pergi dengan dia." Giam Kui menghentikan ceritanya dan memandang wajah Bi Hwa seolah sebenarnya dia tidak perlu bercerita karena gadis perkasa di depannya itu tentu sudah mengetahui semua peritiwa itu.

"Hemm, begitukah? Tahukah engkau siapa nama pemuda itu?" tanya Bi Hwa.

Dua orang itu saling pandang lagi kemudian menggelengkan kepala.

"Kami semua tidak ada yang tahu siapa dia, lihiap. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah. Sikap dan gerak geriknya halus, akan tetapi dia lihai bukan main. Usianya sekitar dua puluh lima tahun," kata Giam Kui.

"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Bi Hwa.

"Malam itu kakak saya tidak pulang. Baru pada keesokan harinya ada utusan dari Siauw-lim-si yang mengabarkan bahwa kakak saya itu telah tewas dan kami disuruh mengambil jenazahnya yang telah diletakkan di luar kuil," kata Giam Kui dan kakak iparnya menangis terisak.

"Sekarang katakan, bagaimanakah tingkat ilmu silat Giam Ti itu? Apakah dia lihai sekali? Apakah tingkatnya jauh lebih tinggi dibandingkan tingkatmu?" tanya Bi Hwa kepada Giam Kui.

”Lihiap, dia adalah kakak saya dan juga kakak seperguruan saya. Tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi dari pada tingkat saya, akan tetapi selisihnya tidak jauh."

Mendengar ini Bi Bwa mengerutkan alisnya. Tingkat ilmu silat Giam Kui ini tidak seberapa tinggi, dalam dua tiga gebrakan saja telah roboh olehnya. Kalau tingkat kepandaian Giam Ti hanya sedikit lebih tinggi dari adiknya ini, tidak mungkin malam itu mampu memasuki kamarnya tanpa terdengar dan dapat menotoknya.

"Jawablah sejujurnya, apakah kurang lebih sebulan yang lalu dia pernah menyerbu rumah Kwee Bun To yang berada di puncak bukit sana itu? Dia melakukan penyerbuan itu pada malam hari."

Giam Kui mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. "Ah, tidak sama sekali, lihiap. Terus terang saja, biar pun kami suka melakukan pekerjaan merampok, tetapi kami tidak pernah mengganggu penduduk sekitar pegunungan ini. Kami takut kepada Siauw-lim-pai, maka kami hanya minta sumbangan dari orang-orang luar yang kebetulan lewat di daerah ini."

"Hemm! Ini pertanyaan terakhir dan kuharap kalian menjawab dengan terus terang karena jawaban kalian amat penting bagi penyelidikanku. Apakah Giam Ti seorang laki-laki yang mata keranjang dan suka mengganggu wanita?"

"Ahh, sama sekali tidak!" Nyonya Giam Ti tiba-tiba berteriak. "Mendiang suamiku adalah seorang suami yang baik. Dia amat mencinta saya dan mencinta anak kami!"

Bi Hwa merasa sudah cukup mendapatkan keterangan yang memuaskan hatinya. Dia pun bangkit berdiri lantas berkata kepada Giam Kui. "Nah, cukuplah keterangan kalian. Terima kasih dan aku berpesan kepada seluruh anggota gerombolan ini supaya mengubah cara hidup dan cara kerja kalian. Kalian hentikan pekerjaan merampok itu. Giam Kui, engkau pimpinlah anak buahmu untuk bekerja sebagai petani dengan rajin. Kulihat tanah di bukit amat subur. Apa bila kalian rajin dan tekun, tentu bertani di sini akan mendatangkan hasil yang cukup baik. Di dalam hutan-hutan di pegunungan ini juga terdapat banyak binatang buruan. Kalian dapat pula menjadi pemburu binatang. Kulit dan dagingnya bisa kalian jual. Jangan melakukan kejahatan lagi karena apa bila kalian masih tidak mau mengubah jalan hidup kalian, maka pada suatu hari tentu akan muncul pendekar yang membasmi kalian. Bahkan kalau kelak aku mendapatkan kalian masih menjadi gerombolan perampok, aku sendiri tentu tidak akan tinggal diam dan takkan memberi ampun."

"Baik, lihiap, kami akan mentaati pesan lihiap," kata Giam Kui yang memang telah merasa jeri sesudah melihat kematian kakaknya.

Bi Hwa meninggalkan Bukit Angsa dengan perasaan puas. Sekarang hatinya yakin bahwa orang yang memperkosanya dahulu itu jelas bukan Hui-houw Giam Ti.

Bi Hwa berjalan menuruni bukit sambil termenung. Akan tetapi kenapa Giam Ti mengaku di hadapan ayahnya bahwa dialah yang melakukan pemerkosaan itu? Dan kenapa murid Siauw-lim-pai itu menangkapnya? Kemudian malah membunuhnya?

Tidak salah lagi, pikirnya. Pasti ada rahasia di balik peristiwa ini. Satu-satunya orang yang patut dicurigainya adalah murid Siauw-lim-pai itu. Dia sudah melihat pemuda itu. Pemuda yang tampan dan halus budinya. Dan menurut ayahnya, pemuda yang bernama Cia Song itu memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi!

Bi Hwa mengepalkan kedua tangannya. Tak salah lagi! Tentu Cia Song itulah pelakunya! Pada waktu ayahnya menuntut ke Siauw-lim-pai, Cia Song berjanji kepada ayahnya untuk dalam waktu satu bulan menangkap pelaku pemerkosaan itu. Kemudian Cia Song datang ke rumahnya untuk mendengar sendiri keterangan dari mulutnya. Semua itu hanya untuk mengelabui ayahnya saja.

Tentu pemuda itu menangkap Giam Ti, kemudian memaksa kepala gerombolan itu untuk mengaku bahwa dialah pelakunya. Agaknya Giam Ti terpaksa membuat pengakuan palsu karena takut kalau-kalau isteri serta anaknya dibunuh seperti yang diancamkan Cia Song pada saat datang dan menangkapnya. Setelah Giam Ti terpaksa mengakui perbuatannya yang sebetulnya tak dilakukannya, hanya untuk melindungi isteri dan anaknya, Cia Song lalu membunuhnya agar rahasianya tidak ada yang mengetahui dan membocorkannya.

"Pasti demikianlah yang sudah terjadi'" desis mulut Bi Hwa dan dia mengepal lagi tangan kanannya. "Cia Song, engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Aku akan mencarimu. Sampai mati aku tidak akan berhenti mencarimu, sampai aku dapat bertemu denganmu!"

Setelah mengambil keputusan ini dalam hatinya, Bi Hwa lalu melanjutkan perjalanannya dengan berlari cepat, dan kedua matanya menjadi basah…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner