KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-25


Dengan perlahan-lahan Bi Lan melangkah memasuki kota raja Lin-an yang merupakan ibu kota Kerajaan Sung Selatan. Dia tidak mengacuhkan pandangan mata para pria di jalanan yang ditujukan kepadanya, karena hal itu sudah biasa baginya. Semenjak berpisah dari Jit Kong Lama kemudian turun gunung, di setiap kota dan dusun yang dilewatinya, dia selalu melihat mata para pria yang memandang kagum kepadanya. Dia tidak mempedulikan lagi pandangan mata mereka itu karena kini dia sendiri sedang asyik terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan besar di kota raja Lin-an.

Dia baru berusia tujuh tahun ketika meninggalkan kota raja, dilarikan oleh kakek Ouw Kan yang menculiknya. Selama lebih dari sebelas tahun dia meninggalkan kota ini dan kini dia memasuki kota ini dengan rasa kagum bukan main. Segalanya telah berubah. Bangunan-bangunan besar dan indah. Taman-taman yang luas. Toko-toko penuh bermacam-macam barang, rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan. Dia menjadi bingung karena tidak mengenal jalan. Dia sudah lupa di mana letak rumah orang tuanya!

Kemudian dia pun teringat. Rumah orang tuanya berada di sebelah barat istana raja. Tidak begitu jauh dari istana, hanya sekitar satu kilometer saja jauhnya. Teringat tentang ini, dia lalu mencari istana kaisar.

Dengan bertanya-tanya, mudah saja dia menemukan bangunan-bangunan megah istana itu. Dari sini dia mengambil jalan yang menuju ke arah barat. Setelah berjalan sekitar satu kilometer, dia menjadi bingung lagi karena rumah-rumah di situ telah banyak berubah. Dia tidak dapat mengenal lagi yang mana rumah orang tuanya. Hatinya yang tadinya semakin tegang setelah dia mengambil jalan ini, kini berubah menjadi bingung. Yang mana rumah orang tuanya?

Dia berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampaknya baru. Pekarangan rumah itu mirip dengan pekarangan rumah orang tuanya dahulu. Dan bentuk rumahnya juga sama, hanya yang ini tampak baru. Ahh, tak salah lagi. Inilah rumah orang tuanya. Pohon tua di sebelah kiri itu, di mana dia sering bermain, masih ada.

Dengan hati girang dan penuh harapan Bi Lan memasuki pekarangan itu. Karena hatinya tegang dan pandang matanya ditujukan penuh perhatian ke arah bangunan, dia tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa pasang mata menatap dan mengikuti gerak-geriknya dari sebuah gardu penjagaan yang terdapat di pekarangan itu. Bi Lan melangkah masuk.

"Hei, nona! Berhenti!" terdengar bentakan.

Mendadak dari sebelah kanannya muncul lima orang berpakaian prajurit yarig membawa tombak. Mereka langsung berdiri menghadang di hadapannya, memandang dengan sikap kereng akan tetapi mulut mereka menyeringai secara kurang ajar.

Bi Lan memandang mereka dengan heran. Dahulu rumah orang tuanya tidak dijaga oleh prajurit, maka dia menjadi ragu lagi apakah dia memasuki pekarangan rumah yang keliru.

Seorang prajurit jangkung yang agaknya menjadi kepala penjaga, mengamati wajah dan tubuh Bi Lan dengan pandang mata ‘lapar’, lantas bertanya dengan suaranya yang dibuat kereng. "Nona manis, engkau tidak boleh memasuki pekarangan ini begitu saja tanpa ijin dari kami! Engkau siapakah dan apa kehendakmu memasuki pekarangan ini?"

Melihat sikap yang ceriwis itu, Bi Lan tidak mau memperkenalkan namanya. Dia langsung saja bertanya. "Bukankah ini rumah Perwira Han Si Tiong?"

Si jangkung itu memandang kepada Bi Lan dengan mata terbuka lebar karena heran, lalu menoleh kepada teman-temannya dan tertawa, diikuti oleh suara tawa teman-temannya. Mereka adalah prajurit-prajurit yang berusia antara dua puluh dua hingga dua puluh lima tahun, maka tentu saja mereka tidak mengenal nama itu karena pada waktu Perwira Han Si Tiong tinggal di situ, belasan tahun yang silam, mereka masih kecil dan belum menjadi prajurit.

"Ha-ha-ha, nona manis, apakah engkau bermimpi?" kata si jangkung sambil menengok ke arah rumah yang ditunjuk oleh Bi Lan. "Gedung ini adalah milik dan tempat tinggal Ciang-kongcu (Tuan Muda Ciang) dan kami tidak mengenal siapa itu Perwira Han Si Tiong!"

Bi Lan mengerutkan alisnya. Setelah kini melihat keadaan pekarangan dan rumah gedung itu, walau pun terdapat banyak perubahan, namun dia merasa yakin bahwa inilah rumah orang tuanya. Dia memandang lima orang prajurit dan maklum bahwa mungkin mereka ini tidak tahu apa yang terjadi sebelas tahun lebih yang lalu karena pada waktu itu mereka ini tentu belum menjadi prajurit. Namun penghuni baru rumah ini tentu tahu di mana adanya orang tuanya. Mungkin saja orang tuanya sudah pindah tempat atau sekarang ditugaskan di kota lain.

"Kalau begitu aku hendak bertemu dengan Ciang-kongcu," kata Bi Lan.

Mendengar ini lima orang prajurit itu lantas menyerinyai semakin lebar. "Wah, ini namanya domba muda gemuk menghampiri harimau yang sedang kelaparan! Engkau akan ditelan bulat-bulat, nona!" kata seorang prajurit.

Si jangkung tertawa, "Ha-ha-ha, itu benar, nona. Engkau begini cantik, begini lembut. Dari pada dagingmu yang lembut dicabik-cabik harimau kelaparan, lebih baik engkau kujadikan isteriku. Aku masih perjaka ting-ting dan sebentar lagi naik pangkat. Marilah kita bicara di dalam gardu, biar lebih bebas, leluasa dan asik."

Si jangkung menjulurkan tangan hendak menangkap pergelangan tangan kanan gadis itu dan akan menariknya untuk diajak memasuki gardu penjagaan, ditertawakan oleh empat orang temannya. Bi Lan marah bukan kepalang. Sekali menggerakkan tangan kanannya, dia sudah menusuk lambung orang itu dengan jari-jari tangannya.

"Hukkk...!"

Tubiih si jangkung ditekuk ke depan karena perutnya terasa nyeri bukan main dan ketika dia masih membungkuk, Bi Lan segera menangkap dan menjambak rambutnya sehingga topi seragamnya terlepas dan rambutnya terurai. Bi Lan menjambak rambut dan menekan kepala itu sehingga si jangkung mengaduh-aduh dan kepalanya tertekan ke bawah, tidak dapat meronta karena dia masih menderita nyeri hebat pada perutnya yang disodok tadi!

Empat orang temannya sangat terkejut. Mereka cepat menerjang maju, hendak memukul dengan tombak mereka. Namun Bi Lan segera menggerakkan tangan kiri dan kaki kanan empat kali.

Empat orang prajurit itu pun roboh terbanting dengan keras, tombak mereka terpental dan terlepas. Dengan sekali sambar Bi Lan sudah merampas tombak dari tangan si jangkung, kemudian melepaskan jambakan dan menggunakan kaki kirinya menginjak kepala itu dari belakang sehingga muka si jangkung tertekan sambil mencium tanah!

Sambil menodongkan ujung tombak runcing itu pada punggung si jangkung, Bi Lan lantas menghardik. "Berani engkau kurang ajar kepadaku?!"

Si jangkung ketakutan dan tanpa terasa celananya menjadi basah.

"Ampun, nona, ampunkan saya... saya tidak berani lagi..."

Empat prajurit lainnya merangkak bangun. Kini mereka pun tak berani menyerang melihat betapa nona itu ternyata lihai bukan main dan kini mengancam komandan mereka dengan tombak.

"Hayo cepat antar aku menemui penghuni rumah ini. Jangan banyak tingkah kalau engkau tidak ingin tombakmu menembus dadamu sendiri!" Bi Lan menghardik sambil melepaskan tekanan kakinya pada kepala orang itu.

"Baik... baik..., nona..." Si jangkung merangkak kemudian bangkit berdiri sambil meringis dan memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Wajahnya berlepotan tanah, terutama pada bibir dan hidungnya.

"Hayo maju!" Bi Lan menodongkan tombak di punggung si jangkung yang berjalan menuju ke gedung dengan agak terpincang dan muka ditundukkan. Dia merasa takut sekali sebab ujung tombak yang runcing itu terasa benar menekan punggungnya.

Begitu mereka tiba di pendapa, tiba-tiba pintu depan rumah gedung itu terbuka dari dalam lalu muncullah empat orang laki-laki dari dalam. Bi Lan memandang penuh perhatian.

Seorang dari mereka adalah pria berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian gagah dan indah, pakaian seorang panglima perang, bertubuh tinggi besar dan pandangan matanya angkuh seperti pandangan mata seorang yang sadar dan bangga sekali akan kedudukan serta kekuasaannya.

Orang yang ke dua juga berpakaian seperti seorang panglima, hanya tidak sementereng pakaian panglima tinggi besar itu. Usia orang kedua ini sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus, mukanya begitu kurus sehingga mirip muka tikus, akan tetapi matanya tajam dan sering bergerak-gerak membayangkan kecerdikan.

Orang ke tiga berpakaian layaknya seorang tosu (pendeta Agama To). Tubuhnya pendek gendut dan tampak lucu. Usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, mukanya berwarna kekuningan, bibirnya selalu tersenyum mengejek dan pandang matanya agak memandang rendah terhadap segala sesuatu.

Orang ke empat masih muda, sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah dengan sepasang alisnya yang hitam tebal. Dia berpakaian layaknya seorang pemuda bangsawan, pakaiannya mewah dan indah. Dia pesolek, rambutnya licin berminyak, bahkan di kulit mukanya terbayang tanda-tanda bekas bedak. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya terukir indah.

"Apakah aku sedang berhadapan dengan pemilik dan penghuni rumah ini?" tanya Bi Lan sambil memandang empat orang itu.

Pemuda bangsawan itu melangkah maju. "Nona, akulah pemilik rumah ini. Nona siapakah dan ada keperluan apakah mencari aku?"

Mendengar ini, Bi Lan mengayunkan kaki menendang dan prajurit jangkung itu terlempar kemudian jatuh terbanting bergulingan. Bi Lan melemparkan tombaknya ke dekat orang itu sambil membentak, "Pergilah!" Tombak itu menancap di atas tanah, dekat si jangkung yang terlempar keluar ke pekarangan.

Setelah itu barulah Bi Lan menghadapi empat orang itu. Sikapnya tenang saja biar pun dia berhadapan dengan orang-orang yang melihat pakaiannya tentu merupakan orang-orang yang berkedudukan tinggi.

"Jadi engkaukah yang sekarang menempati rumah ini?" tanya Bi Lan sambil memandang kepada pemuda tinggi besar itu. Dia sudah dapat menduga bahwa agaknya orang ini yang tadi oleh para prajurit penjaga disebut sebagai Ciang-kongcu.

"Benar sekali, nona. Aku Ciang Ban yang menjadi penghuni rumah ini. Apakah yang dapat aku bantu untukmu?" Ciang Ban atau lebih dikenal sebagai Ciang-kongcu, berkata sambil tersenyum ramah.

Sekarang dia melihat jelas betapa cantik jelitanya gadis itu. Dia pun melihat betapa gadis itu lihai dan kuat sekali, bukan hanya mampu memaksa kepala jaga mengantarnya, tetapi juga dari tendangannya tadi tahulah dia bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang tangguh.

"Aku ingin mengetahui tentang penghuni lama rumah ini, yaitu Perwira Han Si Tiong dan isterinya. Kalau mereka tidak tinggal di sini lagi, di manakah mereka sekarang berada?"

Mendengar pertanyaan ini Ciang-kongcu menoleh kepada tiga orang lain yang tadi keluar bersamanya, kemudian panglima tinggi besar yang berpakaian indah mewah itu berkata, "Perwira Han Si Tiong? Ahh, tentu saja kami mengenalnya dengan baik, nona. Dia adalah rekan dan sahabat kami. Akan tetapi siapakah engkau, nona?"

Mendengar bahwa panglima tua tinggi besar itu mengaku sebagai sahabat ayahnya dan hal ini sewajarnya karena mereka sama-sama perwira kerajaan, Bi Lan segera menjawab, "Saya adalah Han Bi Lan. Saya ingin mengetahui di mana adanya ayah dan ibu saya."

"Ahhh…! Ternyata engkau adalah puteri Han-ciangkun yang diculik penjahat ketika masilh kecil? Betapa senangnya kami melihat engkau dalam keadaan selamat, nona Han. Akan tetapi marilah klta masuk dan bicara di dalam. Tidak pantas kita bicara sambil berdiri di luar."


"Terima kasih,” kata Bi Lan, kemudian dia mengikuti mereka masuk ke ruang dalam yang luas.

Begitu memasuki rumah itu, Bi Lan merasa terharu karena rumah ini merupakan tempat di mana dia dilahirkan dan dibesarkan sampai dia berusia tujuh tahun. Setelah memasuki rumah itu, dia yakin benar bahwa ini adalah rumah orang tuanya dahulu biar pun perabot rumahnya telah diganti dengan barang-barang yang indah dan mahal.

Sesudah mereka, Han Bi Lan dan empat orang itu duduk, Ciang Ban atau Ciang-kongcu memperkenalkan tiga orang lainnya kepada gadis itu.

"Han Siocia (Nona Han), perkenalkanlah. Ini adalah ayahku bernama Ciang Sun Bo atau disebut Ciang-goanswe (Jenderal Ciang), sekarang menduduki jabatan panglima besar." Bi Lan memandang kepada panglima yang tinggi besar itu. Ciang-goanswe mengangguk sambil tersenyum kepadanya.

"Ha-ha-ha-ha, Han Siocia. Aku adalah sahabat baik ayahmu. Agaknya engkau sudah lupa kepadaku, akan tetapi aku masih ingat padamu yang ketika itu masih kecil. Engkau baru berusia tujuh tahun ketika dilarikan penculik. Kami telah mengerahkan pasukan penyelidik untuk mencarimu, namun tidak berhasil."

"Ini Lui-ciangkun (Perwira Lui), dia adalah pembantu ayahku. Nama lengkapnya Lui Wan." Ciang-kongcu memperkenalkan perwira tinggi kurus bermuka tikus itu.

"Han Soicia, aku pun mengenal baik ayahmu, Perwira Han Si Tiong yang gagah itu," kata Lui-ciangkun dengan pandang matanya yang cerdik.

Bi Lan hanya mengangguk saja karena semuanya itu tidak ingin dia ketahui. Yang ingin dia ketahui adalah di mana dia dapat bertemu dengan orang tuanya.

"Dan totiang (bapak pendeta) ini adalah Hwa Hwa Cin-jin. Dia adalah guruku, Han Siocia." Ciang-kongcu memperkenalkan pendeta itu.

"Siancai…! Han-siocia adalah seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa sekali. Pinto (aku) senang dapat bertemu denganmu."

"Terima kasih atas perkenalan ini, Ciang-kongcu. Akan tetapi sekarang saya ingin sekali mengetahui di mana saya dapat bertemu dengan ayah dan ibu saya."

Ciang-kongcu tidak menjawab melainkan menoleh kepada ayahnya, menyerahkan kepada Ciang-goanswe untuk menjawab pertanyaan Bi Lan, setelah itu dia memberi isyarat kepada tiga orang itu.

Lui-ciangkun cepat bangkit kemudian berkata, "Saya akan menyampalkan perintah Ciang-kongcu." Perwira tinggi kurus ini lalu pergi ke belakang.

"Han Siocia," kata Ciang-goanswe. "Kiranya akulah yang lebih tahu akan keadaan orang tuamu dari pada semua orang yang berada di sini karena ayahmu masih terhitung salah seorang pembantuku. Kurang lebih sebelas tahun yang lalu, Han-ciangkun dan isterinya berangkat ke perbatasan utara untuk memimpin Pasukan Halilintar berperang melawan musuh di utara."

Bi Lan mengangguk tak sabar. "Saya masih ingat mengenai semua itu, Ciang-goanswe, Ketika ayah dan ibu pergi berperang, si jahanam Ouw Kan yang berjuluk Toat-beng Coa-ong itu datang ke rumah ini, membunuh Lu-ma dan tukang kebun yang tidak berdosa, lalu menculik saya.”

Ciang-goanswe mengangguk-angguk. "Benar, agaknya orang tuamu mempunyai musuh yang hendak membalas dendam, akan tetapi karena orang tuamu tidak berada di rumah, maka musuh itu lalu menculikmu. Kami telah mengerahkan pasukan untuk mencari, tapi sia-sia sehingga kami putus asa. Karena itu bukan main girang rasa hati kami ketika hari ini engkau mendadak muncul dalam keadaan sehat dan selamat, Han Siocia. kami sudah menganggap keluargamu seperti keluarga sendiri!"

"Tapi di manakah orang tuaku sekarang, Ciang-goanswe?" tanya Bi Lan tak sabar.

Jenderal Ciang menghela napas panjang. "Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal itu. Pada waktu mereka pulang sesudah mendapat kemenangan dalam perang, mereka kami beritahu tentang peristiwa di rumah Ini, bahwa engkau diculik penjahat tanpa kami ketahui siapa penculik itu. Ayah ibumu lantas pergi dari sini, katanya hendak mencarimu, bahkan ayahmu sempat mengembalikan pangkatnya kepada Sribaginda Kaisar karena dia hendak pergi mencarimu. Namun sampai sekarang orang tuamu itu tidak pernah kembali ke sini. Kami prihatin sekali, Han Siocia, akan tetapi sesudah kini engkau kembali dalam keadaan selamat, kami merasa gembira bukan main. Tentang orang tuamu, jangan khawatir, kami tentu akan menyebar penyelidik ke seluruh penjuru untuk mencari mereka sampai dapat ditemukan!"

Bi Lan merasa girang dengan janji ini. Memang akan sukar baginya untuk mencari orang tuanya kalau dia tidak tahu ke mana mereka pergi. Jika Jenderal Ciang menyebar banyak penyelidik, tentu hasilnya akan jauh lebih baik. Dia segera bangkit berdiri dan merangkap kedua tangan di depan dada. "Terima kasih, Goanswe."

Jenderal Ciang melambaikan tangan menyuruh gadis itu duduk kembali. "Aihh, nona, atau lebih baik kusebut Bi Lan saja. Orang tuamu sudah seperti saudaraku, karena itu engkau kuanggap sebagai keponakan sendiri. Jangan sebut aku Goanswe, cukup dengan Paman Ciang saja!"

“Kalau begitu, aku adalah toako (kakak) bagimu dan engkau siauw-moi (adik perempuan) bagiku!" kata Ciang-kongcu sambil tersenyum.

Pada saat itu Kui Ciangkun memasuki ruangan itu, diikuti beberapa orang pelayan wanita yang membawa hidangan yang masih mengepul.

Melihat ini Bi Lan berkata, "Aihh, Paman Ciang, tidak perlu repot-repot..."

"Sama sekali tidak repot, Bi Lan. Saking girangnya hati kami melihat engkau muncul lagi dalam keadaan selamat dan sehat seakan-akan melihat seorang keponakan yang sudah mati hidup kembali, maka kami ingin menyambutmu dengan pesta dan makan bersama! Mari, jangan sungkan-sungkan!" kata Jenderal Ciang dengan gembira sambil menuangkan anggur ke dalam cawan di depan Bi Lan.

Bi Lan bangkit berdiri. "Maaf, paman. Saya... saya ingin ke kamar mandi sebentar."

Jenderal Ciang tersenyum lantas mengangguk maklum. Tentu gadis itu ada keperluan ke kamar mandi, mungkin ingin buang air kecil. Karena itu dia pun menoleh kepada seorang pelayan wanita.

"Antarkan Nona Han ke kamar mandi,” katanya.

Pelayan itu menghampiri Bi Lan yang bangkit berdiri lalu mengikuti pelayan itu masuk ke bagian dalam. Kamar mandi rumah gedung itu masih di tempat yang dulu. Ada dua buah. Yang besar untuk keluarga sedangkan yang kecil untuk para pelayan. Bi Lan memasuki kamar mandi yang besar kemudian menutup daun pintunya.

Setelah Bi Lan kembali ke ruangan tamu, hidangan sudah lengkap di atas meja. Uap yang sedap memenuhi ruangan itu. Aroma sedap masakan bercampur dengan harum minuman anggur dan arak.

"Mari kita minum untuk menyambut keponakanku Han Bi Lan dan mengucapkan selamat datang!" kata Jenderal Ciang sambil mengangkat cawan araknya.

Semua orang mengangkat cawan masing-masing dan minum untuk menghormati Bi Lan. Gadis ini merasa gembira juga mendapat penyambutan seramah itu, Maka dia pun tidak sungkan-sungkan lagi ketika mereka mulai makan minum dengan gembira.

Makan minum bersama kelima orang itu berlangsung gembira. Diam-diam Bi Lan merasa heran melihat betapa Hwa Hwa Cin-jin makan daging dan minum arak dengan lahapnya! Akan tetapi dia lantas teringat akan gurunya sendiri. Gurunya juga seorang pendeta Lama yang lajimnya pantang makan makanan berjiwa dan minum minuman keras, tapi gurunya melanggar pantangan itu.

Banyak di antara kaum pendeta yang melanggar pantangan, baik secara terbuka mau pun sembunyi-sembunyi. Agaknya Hwa Hwa Cin-jin ini seperti gurunya, melanggar pantangan secara terbuka dan seenaknya. Sambil makan minum, Jenderal Ciang bertanya kepada Bi Lan.

“Sekarang kami ingin sekali mengetahui pengalamanmu, Bi Lan. Tadinya kami telah putus asa mendengar engkau dilarikan penculik dan kami tidak berhasil mencarimu. Tahu-tahu, setelah sebelas tahun engkau hilang, hari ini engkau muncul dalam keadaan selamat dan sehat. Apakah yang terjadi denganmu?”

Melihat keramahan dan kebaikan tuan rumah, Bi Lan tidak keberatan untuk menceritakan pengalamannya. “Saya dilarikan penculik itu dengan cepat keluar kota raja.”

“Apa engkau tahu siapa penculik itu dan mengapa pula dia menculikmu?” tanya Jenderal Ciang.

Bi Lan mengangguk. “Dia mengaku terus terang kepadaku bahwa dia adalah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dia diutus oleh Raja Kin untuk membunuh ayah dan ibu sebagai balas dendam karena ayah sudah menewaskan Pangeran Cu Si, putera Raja Kin, dalam perang. Karena ayah dan ibu tidak ada, maka Ouw Kan lalu menculikku dengan niat untuk menyerahkan saya kepada Raja Kin.”

“Hemm, jahat... jahat…!” kata Jenderal Ciang. “Kemudian bagaimana Bi Lan?”

“Dalam perjalanan ke utara itu saya ditolong oleh Suhu Jit Kong Lama yang mengalahkan Ouw Kan. Selanjutnya saya ikut suhu untuk mempelajari ilmu silat sampai sebelas tahun lamanya. Setelah selesai belajar, saya lalu berpisah dari suhu dan berangkat ke ibu kota Lin-an ini untuk mencari ayah ibu.”

“Hemm, jadi selama sebelas tahun engkau menjadi murid Jit Kong Lama? Ke mana saja engkau dibawanya?”

“Suhu mengajak saya mengasingkan diri di sebuah bukit di pegunungan Kun-lun-san.”

“Ah, begitu jauh? Pantas saja usaha kami mencarimu tidak berhasil. Dan di mana adanya Jit Kong Lama sekarang?”

“Suhu sudah kembali ke Tibet.”

“Siancai...! Ternyata nona menjadi murid Jit Kong Lama!” kata Hwa Hwa Cin-jin. “Pantas nona amat lihai. Pinto (saya) sudah mendengar akan nama besar gurumu itu, nona!”

Akhirnya perjamuan makan itu selesai. Bi Lan makan sampai kenyang dan dia pun sudah minum cukup banyak anggur, minuman yang tidak biasa memasuki perutnya.

Mendadak gadis itu mengangkat tangan kiri menutupi mulutnya yang menguap. Tak dapat dia menahan untuk tidak menguap. Rasa kantuk yang sangat kuat sudah menguasainya. Dia bangkit, akan tetapi terkulai dan jatuh terduduk kembali. Kantuknya tidak tertahankan sehingga akhirnya gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja, berbantalkan lengannya sendiri dan dari pernapasannya yang lembut mudah diketahui bahwa dia telah tertidur!

Jenderal Ciang bertepuk tangan, kemudian dia menjulurkan tangannya dan mengguncang pundak gadis itu. Namun Bi Lan tetap tidur pulas, agaknya tidurnya nyenyak sekali.

“Ha-ha-ha, bagus sekali, Cin-jin. Pekerjaanmu berhasil baik!” dia memuji sambil menoleh kepada Hwa Hwa Cin-jin karena dia tahu bahwa tosu itulah yang menaburkan bubuk putih ke dalam cawan anggur gadis itu ketika tadi Bi Lan pergi ke kamar mandi.

“Ha-ha, racun pembius pinto tidak akan ada yang mampu menahannya, Ciang-goanswe. Biar seekor gajah sekali pun pasti akan tertidur pulas jika sudah menelan racun pembius buatan pinto,” kata Hwa Hwa Cin-jin dengan bangga.

“Goanswe, saya kira gadis ini sebaiknya cepat dibunuh saja. Dia puteri Han Si Tiong dan ini berbahaya sekali. Jika dia sampai mengetahui bahwa Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu ada hubungannya dengan kita dan bahwa sebenarnya kita memusuhi Han Si Tiong, tentu dia hanya akan menimbulkan kesulitan bagi kita,” kata Lui To.

Jenderal Ciang mengangguk-angguk. “Ya, engkau benar, Lui-ciangkun. Sejak dulu Han Si Tiong menentangku, bahkan dia menjadi pembantu setia dari mendiang Jenderal Gak Hui. Tadinya aku menyangka dia telah mati atau menjadi tawanan Raja Kin, karena Toat-beng Coa-ong Ouw Kan tidak pernah memberi kabar. Kiranya gadis ini ditolong lantas menjadi murid Jit Kong Lama! Dia sangat lihai dan berbahaya, memang sebaiknya dibunuh saja.”

“Tapi, ayah, sebenarnya di manakah ayah dan ibu gadis ini sekarang?” tanya Ciang Ban, matanya memandang gadis yang tertidur itu dengan mata lahap.

“Siapa tahu mereka di mana? Mereka mengembalikan pangkat kepada Sribaginda Kaisar, lalu mengundurkan diri dan sampai sekarang tidak ada yang tahu mereka berada di mana. Kalau saja kita tahu, tentu aku sudah mencari jalan untuk membasmi mereka. Perdana Menteri Chin Kui sendiri pernah membicarakan mereka dan beliau juga menghendaki agar para pengikut mendiang Jenderal Gak yang setia itu dibasmi semua karena hanya akan mendatangkan kesulitan saja.”

“Goanswe, tidak perlu repot-repot membunuh gadis ini. Sekali menggerakkan tangan saja dia akan mati. Biarlah pinto membunuhnya sekarang juga selagi dia masih tertidur pulas,” kata Hwa Hwa Cin-jin sambil bangkit berdiri dan dia sudah mengangkat tangan kanan ke atas, siap untuk menotok jalan darah maut pada tubuh Bi Lan.

“Nanti dulu, suhu!” tiba-tiba Ciang-kongcu bangkit dan menjulurkan tangan mencegah niat gurunya. “Ayah, aku merasa sayang sekali apa bila gadis sejelita ini dibunuh begitu saja. Berikan dia kepadaku, ayah. Setelah aku merasa puas dengannya, tentu akan kubunuh!”

Jenderal Ciang memandang puteranya sambil mengelus jenggotnya dan tersenyum. Dia ingat bahwa puteranya mempunyai kesukaan yang tiada bedanya dengan kesukaannya sendiri pada waktu muda. “Akan tetapi hati-hatilah, Ciang Ban. Gadis ini adalah murid Jit Kong Lama. Dia lihai dan berbahaya sekali!”

Ciang-kongcu menyeringai lebar. “Ha-ha-ha, ayah. Aku mempunyai banyak cara untuk dia membuat dia tak berdaya dan tunduk kepadaku. Dengan totokan, dengan mengikat kedua tangannya, atau dengan memberinya obat perangsang...”

“Hemm, sesukamulah. Akan tetapi jangan sampai engkau lengah. Nah, bawalah dia pergi ke kamarmu!” kata jenderal yang mewariskan watak jahatnya kepada anak tunggalnya itu.

Ciang Ban yang telah terlalu banyak minum arak sehingga mukanya merah itu tersenyum senang. Dia bangkit lalu menghampiri Bi Lan yang masih tidur.

“Marilah, manisku. Mari kita bersenang-senang!” kata Ciang Ban.

Tanpa malu-malu kepada ayahnya, Lui-ciangkun dan gurunya, pemuda ini lalu merangkul gadis itu, memondongnya dan membawanya ke kamar tidurnya yang berada tak jauh dari ruangan itu. Tubuh Bi Lan terasa lunak, kenyal, hangat dan menyebarkan keharuman dari pakaian dan rambutnya yang membuat Ciang Ban merasa semakin terbakar dan berkobar oleh nafsu birahinya. Melihat ulah puteranya itu, Jenderal Ciang malah tertawa geli.

Lui-ciangkun atau Lui To yang memang berwatak penjilat ikut tertawa bergelak, ada pun Hwa Hwa Cin-jin yang memang berwatak cabul dan mata keranjang diam-diam merasa iri kepada Ciang-kongcu atau Ciang Ban. Kalau bisa, ingin sekali dia menggantikan pemuda itu, mempermainkan gadis muda belia itu sepuasnya-puasnya dulu sebelum dibunuh!

Ciang Ban mendorong daun pintu hingga terbuka, lalu masuk dan mendorong daun pintu kamar itu dari dalam agar tertutup kembali tanpa menguncinya. Dengan muka kemerahan dan napas terengah-engah akibat terbakar nafsu birahi dia melempar tubuh Bi Lan ke atas pembaringan, kemudian bagaikan seekor singa kelaparan menerkam seekor domba, dia melompat dan menubruk ke arah gadis yang terlentang di atas pembaringan itu.

“Wuuuuttt...! Desss…!”

“Aduuhhh…!”

Ciang Ban langsung mengaduh ketika perutnya disambut tendangan sebatang kaki yang mungil namun yang kekuatannya seperti sepotong baja. Tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh berdebuk ke atas lantai kamar! Kiranya Bi Lan sama sekali tidak pingsan atau mabok seperti yang mereka semua kira.

Han Bi Lan adalah murid Jit Kong Lama yang amat disayang datuk ini. Maka, selain ilmu-ilmu silat tinggi, datuk itu juga telah mengajarkan segala macam ilmu sihir dan ilmu sesat, termasuk ilmu cara menolak segala macam racun yang biasa dipergunakan oleh golongan sesat untuk menjatuhkan lawan secara licik. Bahkan ilmu sihir pun dikuasai oleh gadis ini.

Dan dia pun seorang gadis yang amat cerdik. Karena itu, ketika dia diterima dengan amat ramah oleh Ciang Ban dan Jenderal Ciang, juga melihat wajah Lui To dan terutama Hwa Hwa Cin-jin yang sinar matanya penuh kelicikan dan kepalsuan, dia sudah merasa sangat curiga.

Sebelum makan minum tadi, diam-diam dia merasakan dan menyelidiki dengan lidahnya dan dia mendapat kenyataan bahwa makanan dan minuman itu tidak mengandung racun. Bagaimana pun juga dia tetap berhati-hati, maka ketika dia minta ijin ke kamar mandi, di sana dia menelan sebutir pil merah, yaitu obat penolak racun untuk berjaga-jaga. Maka, ketika dia minum lagi dan lidahnya merasakan sesuatu yang tak wajar pada minumannya itu, dia menelannya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Sesudah yakin bahwa minumannya mengandung obat pembius, Bi Lan pura-pura tertidur atau pingsan. Dia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka bicarakan. Sesudah berpura-pura pingsan, barulah dia mendengar pembicaraan mereka dan dengan kemarahan yang ditahan-tahan dia mengetahui bahwa mereka semua adalah orang-orang yang memusuhi ayahnya, bahkan mereka mempunyai hubungan dengan Ouw Kan, datuk suku Uigur yang dulu membunuh neneknya dan menculiknya.

Baru setelah tahu apa yang hendak dilakukan Ciang Ban terhadap dirinya, ketika pemuda bangsawan itu menerkam tubuhnya, Bi Lan menyambut dengan tendangan kakinya yang tepat mengenai perut pemuda itu.

Ciang Ban mengaduh dan terjengkang, lalu terbanting ke atas lantai. Akan tetapi pemuda ini bukan orang lemah. Dia adalah murid dari Hwa Hwa Cin-jin, maka biar pun dia merasa perutnya sangat mulas, dia memaksa diri melompat bangun sambil mencabut pedangnya yang belum keburu dia tanggalkan saking nafsunya sudah memuncak tadi.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner