KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-26


Bi Lan telah melompat turun dari atas pembaringan. Ciang Ban berteriak memberi isyarat kepada mereka yang berada di luar kamar, lalu dia membentak dan menyerang gadis itu dengan pedangnya. Dia menusukkan pedangnya lurus ke depan mengarah dada gadis itu dengan jurus serangan Tit-ci-thian-lam (Tudingkan Telunjuk ke Arah Selatan). Pedangnya meluncur cepat sekali dan seolah sudah pasti akan menembus dada Bi Lan.

Namun Bi Lan merendahkan diri sehingga pedang itu meluncur ke atas kepalanya, lantas dari bawah, kedua tangannya bergerak cepat laksana dua ekor ular menyambar ke atas. Tangan kanannya memukul ulu hati lawan dan tangan kirinya merampas pedang.

“Ngekk…! Uhhh…!”

Betapa pun lihainya Ciang Ban, namun sekali ini dia bertemu lawan yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu silatnya. Dia merasa ulu hatinya seperti ditotok toya baja, membuat dia tidak dapat bernapas dan tiba-tiba saja pedang di tangan kanannya sudah direnggut lepas dari tangannya. Totokan pada ulu hatinya itu mendatangkan rasa nyeri yang hebat sehingga tubuhnya terhuyung ke arah pintu.

Bi Lan melompat ke depan, pedang rampasannya segera menyambar, disusul tendangan kakinya.

“Crakk...! Desss...!”

Jenderal Ciang, Lui-ciangkun serta Hwa Hwa Cin-jin, ketiganya adalah orang-orang yang amat tangguh, terutama sekali Hwa Hwa Cin-jin. Mereka terkejut bukan main mendengar teriakan Ciang Ban tadi. Serentak ketiganya berlari menuju pintu kamar itu. Akan tetapi tiba-tiba pintu kamar tertabrak sesuatu hingga terbuka dan… tubuh Ciang Ban melayang kemudian roboh di hadapan kaki tiga orang itu, disusul melayangnya kepala pemuda itu yang sudah terlepas dari lehernya. Darah membanjiri lantai dan tiga orang itu terbelalak.

Bisa dibayangkan betapa marah hati Jenderal Ciang melihat puteranya telah menggeletak menjadi mayat dengan kepala terpisah. Demikian pula dengan Hwa Hwa Cin-jin dan Lui To. Otomatis mereka bertiga mencabut pedang masing-masing dan hendak menyerbu ke dalam kamar.

Akan tetapi pada saat itu pula, Bi Lan yang tidak ingin dikeroyok di dalam sebuah kamar sempit, sudah melayang keluar dari dalam kamar. Tanpa banyak cakap saking marahnya, Jenderal Ciang sudah menerjangnya dengan pedangnya yang panjang dan tebal.

Dengan sangat mudahnya Bi Lan mengelak, namun pada saat itu Hwa Hwa Cin-jin sudah menyerang pula dan serangan tosu sesat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan Jenderal Ciang Sun Bo bahkan lebih berbahaya dari pada gerakan Lui To yang juga mulai menyerang Bi Lan. Namun, sesudah mempelajari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai, kitab yang dicurinya dari tangan Thian Liong itu, Bi Lan mempunyai gerakan kaki yang aneh dan gesit luar biasa. Dengan beberapa lingkaran gerakan kaki saja dia sudah dapat menghindarkan diri dari serangan pedang tiga orang pengeroyoknya.

Sekarang gadis yang tak pernah memegang senjata akan tetapi pandai mempergunakan senjata apa saja itu sudah merampas pedang milik Ciang Ban yang dibunuhnya. Kini dia memainkan pedang rampasan itu dengan Kwan Im Sin-kiam (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im).

Walau pun ilmu ini disebut ilmu pedang, tetapi Bi Lan dapat mempergunakan senjata apa saja, misalnya sebatang ranting kayu, untuk memainkan ilmu silat itu. Juga dia mahir ilmu Kim-bhok Sin-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Sakti, dan dia pun dapat menggunakan segala macam benda untuk memainkan ilmu silat ini.

Setelah pedangnya berkelebat bergulung-gulung dalam permainan Kwan Im Sin-kiam, tiga orang pengeroyoknya sangat terkejut. Bayangan gadis itu lenyap dan yang tampak hanya gulungan sinar pedang yang seperti gelombang samudera menggulung ke arah mereka.

Hwa Hwa Cin-jin masih dapat melindungi dirinya dengan putaran pedangnya sambil terus mundur, namun tidak demikian dengan Ciang Sun Bo atau Jenderal Ciang. Dia langsung menjerit ketika pedang puteranya yang dipegang Bi Lan itu menembus ke dalam dadanya yang mengakibatkan dia roboh dan tewas seketika. Robohnya jenderal ini segera disusul robohnya Lui To atau Lui-ciangkun yang lehernya tersabet pedang sehingga roboh mandi darah dan tewas pula. Melihat ini, Hwa Hwa Cin-jin berteriak-teriak sambil melompat jauh melarikan diri.


Bi Lan melihat banyak prajurit pengawal berlarian datang, maka dia pun segera melompat ke ruangan samping yang terbuka, lalu tubuhnya melayang ke atas genteng. Para prajurit melakukan pengejaran, namun sebentar saja Bi Lan sudah lenyap dari tempat itu.

Terjadilah kegemparan di dalam gedung Jenderal Ciang. Karena yang terbunuh itu adalah Jenderal Ciang, Perwira Lui dan Ciang-kongcu, tentu saja timbullah kegemparan sehingga tak lama kemudian kota raja sudah penuh dengan prajurit yang melakukan pencarian dan pengejaran. Setiap Iorong jalan dijaga sehingga Bi Lan menjadi bingung, sama sekali tidak ada jalan untuk keluar dari kota raja.

Karena rumah gedung bekas tempat tinggal ayahnya yang kini ditempati Jenderal Ciang itu tidak jauh dari istana, maka ketika dia dihadang di sana-sini, terpaksa dia menyelinap ke sebuah lorong yang menembus ke arah istana. Di lorong ini tidak ada prajurit mencari atau berjaga karena siapa menyangka bahwa si pengacau yang melakukan pembunuhan besar-besaran di rumah Jenderal Ciang akan berani melarikan diri ke daerah istana?

Sejak tadi udara diliputi mendung. Pada saat Bi Lan memasuki lorong itu, masih bingung bagaimana dia akan dapat melarikan diri keluar dari kota raja, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Hal ini agak menolongnya karena prajurit-prajurit penjaga keamanan kota yang dikerahkan untuk mengejar dan menangkap pembunuh, banyak yang berteduh di emper-emper rumah dan menghentikan pencarian mereka.

Akan tetapi Bi Lan harus bergerak secara hati-hati, sambil sembunyi-sembunyi karena dia tahu bahwa meski pun mereka tidak mencari dan hanya berlalu lalang di jalan, tetapi mata prajurit-prajurit itu tentu dengan penuh perhatian melihat ke arah orang-orang yang berani menempuh hujan di jalan.

Tiba-tiba saja, di sebuah tikungan dia melihat seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun yang berpakaian sebagai seorang panglima. Inilah satu-satunya jalan untuk dapat meloloskan diri dari kota raja, pikir Bi Lan.

Dia masih memegang pedang rampasan dari tangan Ciang-kongcu tadi. Bagaikan seekor burung dia melompat keluar dan tahu-tahu dia sudah berada di depan panglima itu lantas ujung pedangnya telah menempel di tenggorokan orang itu. Sang panglima terkejut bukan main, terbelalak memandang, akan tetapi wajahnya langsung berseri-seri penuh harapan setelah dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas.

“Bi Lan..., engkau tentu Han Bi Lan puteri Han Si Tiong, bukan? Engkaukah yang sudah mengamuk di rumah Jenderal Ciang?”

Tentu saja Bi Lan terkejut dan heran bukan main. “Eh..., bagaimana engkau bisa tahu...?”

“Bi Lan, lupakah engkau padaku? Aku Kwee Gi, Panglima Kwee Gi, sahabat baik Han Si Tiong. Mari, mari cepat ikut aku, engkau harus bersembunyi, nanti saja kita bicara. Cepat pakai ini!” Panglima itu melepaskan mantelnya yang lebar lalu menyerahkannya kepada Bi Lan.

Gadis itu menutupi kepala serta badannya dengan mantel yang lebar ini, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia membiarkan dirinya digandeng panglima itu melewati lorong-lorong yang sepi. Akhirnya mereka memasuki sebuah rumah gedung dari pintu belakang.

Kini dia teringat akan Panglima Kwee Gi yang dulu sering kali datang bertamu ke rumah orang tuanya, bahkan telah beberapa kali dia diajak ibunya berkunjung ke rumah sahabat ayahnya itu. Sesudah teringat, tentu saja dia percaya sepenuhnya kepada panglima yang dia tahu merupakan sahabat baik ayahnya.

Begitu memasuki ruangan dalam, muncul seorang pemuda tinggi besar yang memandang heran melihat ayahnya memasuki ruangan dalam itu bersama seorang gadis.

“Ayah, siapa nona ini, dan mengapa…?”

“Cun Ki, ini adalah Bi Lan, puterinya pamanmu Han Si Tiong pemimpin Pasukan Halilintar yang terkenal itu. Masih ingatkah? Bi Lan, ini adalah Kwee Cun Gi, anak kami. Dulu ketika masih kecil kalian sudah saling bersahabat.”

“Ohh...! Kau Bi Lan... yang dulu nakal dan manja itu?” seru pemuda tinggi besar berwajah tampan yang usianya sekitar dua puluh tahun itu.

“Dan engkau... kakak Cun Ki yang dahulu suka menggodaku. Engkau yang nakal sekali!” kata pula Bi Lan.

“Akan tetapi kabarnya engkau hilang diculik dan...”

“Cun Ki, tahan dulu bicaranya. Keadaan sudah genting sekali. Bi Lan sedang dikejar-kejar seluruh prajurit penjaga keamanan di kota raja. Cepat kau keluar dan jaga supaya jangan sampai ada orang yang memasuki rumah kita. Aturlah para pengawal untuk berjaga ketat dan jika ada yang mencariku, katakan aku sedang sibuk memimpin pasukan di luar untuk mencari pembunuh.”

Cun Ki membelalakkan matanya. “Ahh, aku pun telah mendengar tentang hal itu... jadi… engkaukah yang telah mengamuk dan melakukan pembunuhan terhadap Jenderal Ciang, Ciang Ban, dan Perwira Lui To itu?”

“Cun Ki, jangan banyak cakap lagi! Cepat engkau laksanakan perintahku! Nanti saja kalau mau bicara!”

“Baik, ayah.” Dengan gerakan yang gesit pemuda itu lalu keluar dari ruangan dalam.

Panglima Kwee Gi membawa Bi Lan memasuki sebuah kamar, lalu dia berkata, “Engkau tinggallah di sini sebentar, aku akan memanggil bibimu.”

Bi Lan mengangguk. Dia tahu bahwa keadaannya sungguh berbahaya. Apa bila tidak ada Panglima Kwee yang melindunginya, kiranya akan sukarlah untuk lolos dari kota raja yang kini semua pintu gapuranya pasti sudah terjaga ketat.

Tak lama kemudian muncullah nyonya Kwee bersama suaminya. Bi Lan segera mengenal wanita setengah tua yang masih nampak cantik itu. Nyonya Kwee juga mengenalnya dan mereka lalu berangkulan.

“Aihh, Bi Lan. Sebelas tahun yang lalu engkau lenyap begitu saja, dan kini muncul secara mengejutkan pula.” Nyonya itu menutup rapat-rapat daun pintu kamar itu, lalu mengajak Bi Lan duduk di atas kursi.

“Bi Lan, mulai hari ini engkau bersembunyi dulu di sini. Kepada para pelayan, kami akan memberitahukan bahwa engkau adalah seorang keponakan kami bernama Kwee Ciok Li. Ayahmu adalah seorang adikku yang tinggal jauh di dusun sebelah selatan. Engkau tidak usah keluar dari rumah agar tidak berjumpa orang lain. Nanti kalau keadaan sudah aman barulah kita mencari jalan agar engkau dapat keluar dari kota raja.”

“Ahh, Paman Kwee, sungguh beruntung sekali aku bisa bertemu dengan paman dan bibi. Paman telah menolong dan menyelamatkan nyawaku.”

“Hemm, jangan berkata begitu. Tadi, begitu mendengar berita bahwa jenderal Ciang dan puteranya, juga Perwira Lui mati terbunuh oleh seorang gadis cantik, aku langsung dapat menduga bahwa agaknya engkaulah orangnya. Oleh karena itu, ketika mendapat perintah untuk mengerahkan pasukan melakukan pencarian, aku sendiri lalu memisahkan diri dan mencarimu. Beruntung aku dapat menemukan engkau sebelum yang lain menemukanmu. Sekarang ceritakanlah, siapa yang dulu membunuh nenekmu dan melukai tukang kebun? Dan apa yang terjadi selanjutnya denganmu?”

“Maaf, paman. Sebelum aku menceritakan pengalamanku, lebih dulu aku ingin mendengar tentang ayah ibuku. Untuk itulah aku datang ke kota raja, untuk mencari orang tuaku.”

Pada saat itu Kwee Cun Ki melangkah masuk, lantas dengan singkat melaporkan bahwa penjagaan di luar rumah sudah diatur sebaik mungkin. Sesudah itu dia mengambil tempat duduk untuk ikut mendengarkan.

Panglima Kwee Gi menarik napas sebelum menjawab pertanyaan gadis itu tentang orang tuanya. Dia menggelengkan kepala lalu berkata,

“Bi Lan, ketika ayah dan ibumu pulang dari perang, mereka mendapatkan engkau sudah hilang diculik orang. Mereka lalu berusaha mencarimu. Bahkan akhirnya ayahmu, Han Si Tiong mengembalikan pangkatnya kepada pemerintah, kemudian bersama isterinya pergi meninggalkan kota raja. Kepadaku ayah ibumu hanya mengatakan bahwa mereka hendak mencari engkau sampai ketemu. Sungguh menyesal sekali, Bi Lan, aku sendiri tidak bisa mengatakan di mana mereka berada karena sudah bertahun-tahun mereka tidak memberi kabar kepadaku.”

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hatinya kecewa tetapi dia tidak dapat menyalahkan panglima yang menjadi sahabat ayahnya itu.

“Biarlah aku akan membantumu mencari mereka, Lan-moi,” kata Cun Ki.

“Terima kasih, Ki-ko (kakak Ki),” kata Bi Lan.

“Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi dengan dirimu, Bi Lan. Kami semua ingin sekali mengetahuinya.”

“Ketika itu aku diculik kemudian dilarikan oleh datuk sesat Ouw Kan. Dia menculikku untuk membalas dendam atas perintah Raja Kin karena ayah telah membunuh puteranya, Pangeran Cu Si, dalam perang. Ouw Kan hendak menyerahkan aku kepada Raja Kin. Di tengah jalan kami berjumpa dengan Jit Kong Lama, kemudian pendeta Lama itu berhasil mengalahkan Ouw Kan dan sejak itu aku menjadi murid Jit Kong Lama.”

“Pantas engkau menjadi lihai sekali, Lan-moi!” Cun Ki memuji, padahal dia belum melihat sampai di mana kelihaian gadis itu.

“Aku juga menjadi murid Kun-lun-pai,” kata Bi Lan cepat agar diketahui bahwa dia bukan hanya menjadi murid datuk sesat, akan tetapi juga murid partai Ku-lun-pai yang terkenal! “Sesudah selesai belajar aku lalu cepat pergi ke kota raja untuk pulang ke rumah orang tuaku. Akan tetapi ternyata yang tinggal di sana adalah keluarga Jenderal Ciang Sun Bo, bersama puteranya yang bernama Ciang Ban, seorang perwira bernama Lui To dan juga seorang pendeta tosu bernama Hwa Hwa Cin-jin yang menjadi guru Ciang Ban. Jenderal Ciang menyambutku dengan amat ramah. Ia mengatakan bahwa dia adalah sahabat baik ayah, maka dia menerimaku dengan baik, bahkan lalu mengadakan jamuan makan untuk menyambut kedatanganku. Kami lantas makan minum, akan tetapi minumanku dicampuri obat bius.”

“Jahat sekali!” Kwee Cun Ki berseru marah.

“Aku sudah menaruh kecurigaan, maka diam-diam aku telah menjaga diri dan minum obat penawar racun. Aku lalu pura-pura pingsan terbius. Dalam keadaan itulah aku mendengar mereka bicara dan aku tahu bahwa mereka itu sebetulnya bersekutu dengan datuk jahat Ouw Kan yang dahulu menculikku, berarti bersekutu dengan Raja Kin dan mereka adalah orang-orang yang memusuhi ayahku. Mereka hendak membunuhku, tapi Ciang Ban yang terkutuk itu lalu memondongku ke dalam kamar dengan maksud kotor dan hina. Aku tidak dapat menahan kemarahanku lagi maka pemuda itu kubunuh. Jenderal Ciang, Perwira Lui To dan Pendeta Hwa Hwa Cin-jin menyerangku. Aku berhasil membunuh Jenderal Ciang dan Perwira Lui, akan tetapi Hwa Hwa Cin-jin dapat melarikan diri. Karena banyak prajurit pengawal bermunculan, aku lalu melarikan diri.”

Kwee Gi mengangguk-angguk. “Hemm, akhirnya mereka menerima hukuman juga hingga tewas di tanganmu, Bi Lan. Jenderal Ciang memang merupakan antek Perdana Menteri Chin Kui.”

“Siapa itu Perdana Menteri Chin Kui, paman?”

“Dialah yang menjadi biang keladi semua ketidak amanan dan kekacauan ini. Dia berhasil mempengaruhi kaisar dan perdana menteri itu bersekongkol dengan bangsa Kin di utara. Bahkan dia pula yang sudah melakukan fitnah kepada jenderal Gak Hui, pahlawan besar yang amat dihormati dan dibantu ayahmu. Han Si Tiong beserta isterinya mengundurkan diri dari jabatannya bukan hanya karena kehilangan engkau, akan tetapi terutama sekali karena kecewa melihat jenderal Gak Hui difitnah dan Kaisar berpihak kepada pengkhianat macam Chin Kui.”

“Pantas Ouw Kan diutus raja Kin untuk mencelakakan ayahku, kiranya juga dikarenakan ayah menjadi pembantu setia Jenderal Gak Hui,” kata Bi Lan gemas.

“Agaknya begitulah. Kita semua mengetahui bahwa Chin Kui adalah seorang pengkhianat yang bersekongkol dengan penjajah Kin yang menguasai daerah di utara Sungai Yang-ce. Bangsa Kin menguasai daerah itu, namun Chin Kui malah membujuk kaisar supaya tidak melawan, bahkan berbaik dengan penjajah itu dan mengirim upeti setiap tahun. Semua itu tentu ada imbalannya dan semua orang tahu betapa kaya rayanya Perdana Menteri Chin Kui itu.”

“Hemm, kenapa di kerajaan tidak ada yang menentang pengkhianat macam itu? Kenapa kaisar begitu bodoh? Apa tidak ada pejabat tinggi yang setia kepada negara dan berusaha menentang perdana menteri jahat itu?” tanya Bi Lan penasaran.

Kwee-ciangkun menghela napas panjang. “Apa yang dapat kami lakukan? Dia mempunyai kekuasaan yang besar, malah kaisar sendiri selalu menuruti kata-katanya. Menentang dia dapat berarti menentang pemerintah, menentang kaisar sendiri sehingga akan berhadapan dengan pasukan pemerintah.”

“Kalau begitu sebaiknya orang seperti itu dibinasakan saja! Aku sanggup melakukannya, paman!” kata Bi Lan penuh semangat.

Panglima Kwee tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Memang engkau pantas menjadi puteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, Bi Lan! Semangatmu besar, keberanianmu juga sangat menakjubkan. Tetapi aku harus melarangmu. Entah sudah berapa banyak orang-orang gagah melakukan usaha itu, namun semua gagal bahkan merekalah yang tewas. Perdana Menteri Chin Kui menjaga dirinya dengan ketat. Pasukan pengawal khusus yang terdiri dari jagoan-jagoan, di antaranya didatangkan dari utara, selalu melindunginya siang malam. Betapa pun tinggi kepandaian silatmu, tidak mungkin menembus pertahanan yang amat kuat itu.”

“Hemm, kalau begitu, apakah orang macam itu dibiarkan saja mengkhianati tanah air dan bangsa?” Bi Lan penasaran.

“Tidak, Bi Lan. Kami orang-orang yang setia kepada Kerajaan Sung takkan tinggal diam. Kami telah menyusun kekuatan dan kami sedang berusaha untuk memperoleh bukti-bukti penyelewengannya, baik penyelewengan dalam korupsi uang negara, pemerasan terhadap para bangsawan dan hartawan, pajak-pajak gelap yang dilakukannya tapi hasilnya masuk kantungnya sendiri, juga kami sedang mengumpulkan bukti penyelewengannya tentang persekutuan dengan Bangsa Kin. Bukti bahwa dia menerima banyak hadiah dari Bangsa Kin. Apa bila sudah dapat dikumpulkan, semua itu akan kami haturkan kepada Sribaginda Kaisar. Dengan demikian maka kaisar yang akan bertindak. Selain dengan jalan itu, amat sukar untuk mengalahkan Chin Kui yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar sekali. Satu-satunya orang yang akan mampu menundukkan hanyalah kaisar sendiri.”

Bi Lan mengangguk-angguk. “Ah, begitukah, paman? Kalau begitu, dalam hal ini aku tidak dapat membantu. Aku ingin segera keluar dari kota raja, paman, untuk mencari ayah dan ibuku.”

“Tentu saja, akan tetapi bersabarlah dahulu. Sekarang pasukan sedang hangat-hangatnya mencarimu. Perdana Menteri Chin Kui sendiri tentu marah dan merasa kehilangan karena Jenderal Ciang dan Perwira Lui merupakan pembantu-pembantunya yang setia. Tunggu sampai beberapa hari, bila suasananya sudah dingin dan mereka semua mengira bahwa engkau pasti sudah lolos dari kota raja, barulah aku akan mengatur supaya engkau dapat keluar dari kota raja.”

“Baiklah, paman. Tapi dapatkah paman memberi petunjuk kepadaku, di manakah kiranya orang tuaku sekarang?”

Panglima Kwee menggeleng kepala dan menghela napas. “Aku telah berusaha menyebar orang-orangku untuk mencari, namun tidak berhasil menemukan jejak mereka. Aku hanya memiliki satu perkiraan, yaitu besar sekali kemungkinannya mereka pergi ke utara untuk mencari Ouw Kan karena sesudah mendengar akan ciri-ciri penculik itu dari tukang kebun yang belum terbunuh mati, kami pun dapat menduga bahwa pelakunya adalah Ouw Kan yang berjuluk Toat-beng Coa-ong. Dia adalah seorang suku bangsa Hui yang berasal dari Sin-kiang, tetapi sekarang dia membantu pemerintah bangsa Kin di utara. Oleh karena itu besar kemungkinan ayah ibumu mencarinya ke utara atau ke Sin-kiang.”

Sampai seminggu lamanya Bi Lan bersembunyi di dalam rumah Panglima Kwee. Dalam waktu satu minggu itu hubungannya dengan keluarga ini menjadi akrab, terutama dengan Kwee Cun Ki. Pemuda itu nampak benar-benar tertarik kepada Bi Lan, bahkan berulang kali dia mengatakan kepada gadis itu bahwa dia ingin menemani gadis itu mencari orang tuanya di utara dan Sin-kiang.

Pada hari ke delapan, ketika Panglima Kwee mengatakan kepada Bi Lan bahwa waktunya sudah tiba bagi Bi Lan untuk diselundupkan keluar kota raja, kembali Cun Ki mengulangi keinginannya itu kepada Bi Lan, di hadapan ayah ibunya. “Lan-moi, sekali lagi aku minta agar engkau suka kutemani untuk mencari orang tuamu. Melakukan perjalanan seorang diri di daerah musuh itu sungguh amat berbahaya bagimu.”

Panglima Kwee dan isterinya sudah maklum bahwa putera tunggal mereka itu telah jatuh cinta kepada Bi Lan. Di dalam hati mereka setuju sekali apa bila Bi Lan menjadi menantu mereka. Kwee Gi segera berkata,

“Kami sangat setuju kalau Cun Ki menemanimu, Bi Lan. Dengan bantuannya tentu akan lebih mudah untuk dapat menemukan orang tuamu.”

“Benar, Bi Lan,” kata Nyonya Kwee. “Dengan adanya Cun Ki yang menemanimu, maka hati kami tak akan merasa gelisah seperti kalau engkau pergi seorang diri. Seorang gadis merantau seorang diri tanpa kawan di tempat yang sejauh itu, apa lagi di daerah musuh, sungguh hatiku akan merasa gelisah selalu. Engkau telah kuanggap seperti anak sendiri, Bi Lan.”

Ucapan nyonya ini sebetulnya sudah merupakan isyarat yang jelas bahwa dia ingin Bi Lan menjadi anak mantunya. Akan tetapi Bi Lan tidak mengerti dan dia cepat menjawab.

“Terima kasih atas kebaikan hati paman, bibi dan juga Ki-twako. Kalian telah menolongku dan bersikap baik sekali padaku. Untuk itu aku mengucapkan banyak terima kasih. Akan tetapi aku ingin melakukan perjalanan seorang diri. Terima kasih atas penawaranmu untuk menemaniku, Ki-twako, tetapi ketahuilah bahwa aku masih mempunyai tugas pribadi yang harus kuselesaikan. Kelak, bla mana semua tugas dan urusanku sudah selesai, aku pasti akan datang berkunjung untuk mengucapkan terima kasihku.”

Karena Bi Lan bersikeras menolak, maka Cun Ki tak berani memaksa, hanya dia merasa kecewa bukan main. Tadinya dia berharap bahwa kalau melakukan perjalanan bersama, maka gadis yang membuatnya tergila-gila itu akan tergerak hatinya dan akan membalas cintanya. Akan tetapi sesudah melihat Bi Lan berkeras tidak mau ditemani, tentu saja dia tidak berani memaksa yang akan membuat gadis itu marah.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner