KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-27


Usaha membawa Bi Lan keluar kota raja segera dipersiapkan. Sebuah kereta berhenti di depan gedung keluarga panglima Kwee. Kusirnya seorang laki-laki yang masih muda dan berwajah tampan. Tak lama kemudian Panglima Kwee masuk ke dalam kereta, ada pun di belakang kereta terdapat belasan orang prajurit pengawal menunggang kuda. Rombongan kecil ini lalu berangkat dan keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah utara.

Para prajurit yang menjaga di pintu gerbang segera memberi hormat ketika melihat bahwa penumpang kereta itu adalah Panglima Kwee Gi beserta isterinya. Pada hari-hari kemarin tentu ada perwira bawahan Perdana Menteri Chin Kui yang ikut menjaga dan mengawasi. Kalau ada mereka, biar pun yang lewat itu Panglima Kwee, tentu mereka akan melakukan pemeriksaan yang teliti.

Akan tetapi pencarian pembunuh itu kini sudah tidak ketat lagi. Seminggu telah lewat dan pembunuh itu tidak ditemukan jejaknya. Dianggap sudah kabur dari kota raja, maka kini di pintu gerbang hanya dijaga para prajurit keamanan biasa.

Panglima Kwee adalah komandan pasukan keamanan, karena itu tentu saja para prajurit percaya kepadanya. Sesudah memberi hormat, para penjaga itu membiarkan kereta dan pengawalnya lewat keluar dari pintu gerbang.

Belasan orang prajurit yang menunggang kuda di belakang kereta itu adalah orang-orang kepercayaan Panglima Kwee. Setelah rombongan tiba jauh dari pintu gerbang, pada jalan yang amat sunyi, rombongan itu lalu berhenti.

Seorang pengawal muda turun dari atas kudanya lalu menanggalkan pakaian luarnya. Dia yang kini mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai kusir lalu menggantikan kedudukan kusir. Kusir itu bukan lain adalah Bi Lan yang menyamar sebagai kusir. Semua perlengkapannya sudah dibungkus dalam buntalan pakaian yang disembunyikan di dalam kereta. Selain pakaiannya, di dalam buntalan itu juga ada sekantung uang emas sebagai bekal, merupakan hadiah dari Panglima Kwee.

Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi hormat kepada Panglima Kwee Gi serta isterinya, Bi Lan pun menunggangi kuda yang tadi ditunggangi pengawal yang kini menjadi kusir, dan gadis itu lantas membedal kudanya, membalap ke arah utara, diikuti pandang mata Panglima Kwee Gi dan isterinya.


Kekecewaan dan keharuan terbayang dalam pandang mata suami isteri itu. Mereka lebih senang melihat gadis itu berada di rumah mereka, sebagai anak mantu mereka! Kini gadis itu sudah pergi, menuju ke seberang utara yang dikuasai bangsa Kin, tempat yang sangat berbahaya dan entah mereka akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu ataukah tidak…..

********************

Thian Liong menuruni lereng bukit itu sambil melamun. Dia merasa kecewa dan menyesal sekali karena sebuah di antara tugas yang diberikan kepadanya oleh gurunya telah gagal. Dia sudah berhasil menyerahkan kitab Sam-jong Cin-keng kepada Cu Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, bahkan sangat beruntung diberi kesempatan mempelajari ilmu dari kitab itu oleh ketua Siauw-lim-pai sehingga dia mendapatkan kemajuan besar dalam ilmu silatnya. Dia juga telah menyerahkan kitab Kiauw-ta Sin-na kepada Ciang Losu ketua Bu-tong-pai. Tetapi kitab yang ketiga, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya dia berikan atau kembalikan kepada Kun-lun-pai seperti yang diperintahkan oleh gurunya, telah hilang dicuri gadis liar berpakaian merah muda itu.

Dia harus bertanggung jawab. Dia harus bisa merebut kembali kitab itu, lalu menyerahkan kitab itu kepada yang berhak, yaitu kepada Kun-lun-pai. Namun dia tidak mengenal siapa gadis itu, siapa namanya dan ke mana harus mencarinya!

Apa bila dia tidak dapat menemukan gadis pencuri itu dan mengembalikan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat kepada Kun-lun-pai, dia belum mau sudah karena dia mengabaikan perintah gurunya dan dia merasa ‘berhutang’ kepada Kun-lun-pai. Wah, gadis berpakaian merah muda itu! Gemas sekali dia!

Awas kau! Kalau kau dapat kutemukan, bukan saja kitab itu akan kurampas darimu, juga engkau patut diberi hajaran. Akan kupukul pantatmu sampai sepuluh kali, seperti yang dia lihat ketika seorang bapak memukuli pantat anaknya yang nakal ketika dia berkunjung ke dusun kaki bukit dulu. Biar tahu rasa kau! Demikian gemas rasa hati Thian Liong sehingga dia bersungut-sungut sendiri. Gadis liar! Rampok, maling! Kurang ajar betul.

Wajah gadis berpakaian merah muda yang tadi dia bayangkan sebagai wajah setan, tiba-tiba berubah dan tampaklah wajah lain. Wajah seorang gadis lain yang berpakaian serba hijau dan memakai bunga mawar merah di rambutnya. Wajah Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sianli! Gadis yang satu ini sama liarnya, juga sama lihainya dan sama kurang ajarnya. Masa ingin pinjam kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dan pinjamnya pakai memaksa lagi!

Hemm, betapa pun juga dia telah menghajar gadis itu dengan mengalahkannya sehingga dia pergi sambil marah marah. Tidak sekurang ajar gadis baju merah muda yang mencuri kitab milik Kun-lun-pai! Ah, kenapa nasibnya begini? Bertemu dengan dua orang gadis liar yang sama-sama membikin dia pusing dan marah.

Tiba-tiba terbayang wajah seorang gadis lain! Nah, yang ini lagi! Tiada hujan tiada angin, akan tetapi menyerangnya mati-matian dan sesudah berhasil mengalahkannya, dia harus mengawininya! Gila! Kalau dia menolak, gadis bernama Kim Lan itu harus membunuhnya dan bila gagal maka harus membunuh diri sendiri atau akan dibunuh gurunya! Aturan apa ini?

Nenek pendeta yang menjadi guru Kim Lan dan sumoi-nya yang bernama Ai Yin itu boleh jadi sudah gila, mengadakan peraturan semacam itu kepada murid-murid wanitanya. Gila! Apakah para wanita itu sudah gila semua…..?

********************

Begitu meninggalkan Siauw-lim-si Thian Liong mengambil keputusan untuk melaksanakan dua kewajiban yang dipesan oleh gurunya. Pertama-tama dia harus merebut kembali kitab pusaka milik Kun-lun-pai. Dan kedua, gurunya pesan agar dia membantu Kerajaan Sung menghadapi musuh-musuhnya.

Dia mengingat-ingat. Dahulu suhu-nya pernah menyebut nama Perdana Menteri Chin Kui sebagai orang jahat dan berkhianat dan yang telah mempengaruhi kaisar. Dia diberi tugas untuk menyelamatkan Kerajaan Sung dari pengaruh para pembesar yang berwatak jahat. Akan tetapi, yang lebih dulu harus dia kerjakan adalah mencari gadis setan berbaju merah itu untuk merampas kembali kitab pusaka Kun-lun-pai!

Dia mengenang kembali pertemuannya dengan gadis berpakaian merah itu. Hemm, cantik jelita dan lincah jenaka memang. Namun galaknya minta ampun. Dan kejam. Begitu saja membunuh orang, meski pun yang dibunuhnya adalah seorang penjahat. Akan tetapi ilmu silatnya amat hebat. Hanya dengan sebatang ranting saja dia mampu mempermainkan si perampok gendut yang lihai itu, bahkan membunuhnya. Permainan rantingnya mirip ilmu pedang.

Thian Liong menghentikan langkahnya, memejamkan mata untuk membayangkan kembali gerakan gadis baju merah itu ketika bertanding melawan perampok gendut. Dari gurunya dia tahu berbagai aliran ilmu silat. Gurunya pernah membeberkan rahasia dasar gerakan silat perguruan-perguruan besar, bahkan ilmu silat dari aliran luar pedalaman Cina seperti ilmu silat yang berdasar pada aliran Tibet, Gobi, Mancu, Mongol dan lain-lain.

Kini dia teringat benar. Gerakan kedua kaki gadis baju merah itu ketika bergeser, dengan berjingkat dan berputar. Itu merupakan gerakan dasar ilmu silat aliran Tibet yang diajarkan pendeta Lama di Tibet. Gurunya, Tiong Lee Cin-jin sudah pernah bertahun-tahun tinggal di Tibet dan mempelajari ilmu silat dari suku bangsa itu.

Ahh, tidak salah lagi. Dia ingat benar. Gadis yang mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai itu adalah seorang ahli silat aliran Tibet. Mungkin dia murid seorang tokoh pendeta Lama yang sakti. Karena itu dia harus mencarinya ke daerah utara, daerah yang telah diduduki bangsa Kin, karena besar kemungkinan gadis maling itu melarikan diri ke sana.

Lagi pula dalam perjalanan dia mendengar betapa bangsa Kin di utara banyak melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat pribumi Han. Agaknya di sana dia akan lebih banyak dibutuhkan rakyat yang terjajah dari pada di selatan.

Demikianlah, dia lalu melakukan perjalanan ke utara, ke daerah yang dikuasai pemerintah bangsa Kin. Sebenarnya kerajaan Kin tidaklah begitu kuat. Andai kata Kaisar Kao Tsung yang kini bertahta di kota raja baru Nan-king mau mengerahkan para panglimanya seperti mendiang Gak Hui untuk menyerang ke utara dan melakukan perlawanan, kemungkinan besar mereka akan mampu mengusir bangsa Kin dari tanah air.

Akan tetapi Kaisar Kao Tsung terlalu lemah dan terlalu dipengaruhi Perdana Menteri Chin Kui berikut antek-anteknya yang menakut-nakuti kaisar, yang mengatakan bahwa bangsa Kin terlampau kuat dan sebagainya, maka Kaisar Kao Tsung mengalah dan tidak pernah melakukan perlawanan. Ia cukup puas dengan daerah di sebelah selatan Sungai Yang-ce yang dikuasainya. Memang daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan daerah utara, tapi kekalahan Dinasti Sung dari bangsa Kin ini menyuramkan kebesaran Kerajaan Sung yang pernah berjaya.

Benar saja seperti yang telah didengar dalam perjalanannya, pada saat memasuki daerah jajahan itu, Thian Liong melihat keadaan rakyat yang hidupnya amat menyedihkan. Bukan hanya banjir besar pada musim hujan dan kekeringan pada musim panas yang membuat mereka hidup dalam keadaan miskin sehingga hanya cukup untuk makan secara sangat hemat, tetapi yang lebih dari pada itu adalah tekanan dari para pembesar yang membuat mereka dicekam rasa ketakutan. Di kota-kota, para pedagang ditekan dengan pajak yang luar biasa besarnya sehingga memaksa banyak pedagang kecil menjadi bangkrut. Hanya pedagang yang besar dan mampu menyogok para pembesar saja yang dapat bertahan.

Kehidupan rakyat di pedusunan juga tak lebih baik. Hampir setiap kepala dusun bersikap seolah menjadi raja kecil yang menentukan mati hidupnya tiap warga dusun! Sang kepala dusun berhak menentukan apa saja. Keputusan pribadinya merupakan hukum tak tertulis yang harus dipatuhi. Tidak ada satu pun yang salah pada dirinya. Semua harus dianggap benar dan harus ditaati setiap warga dusun.

Dia bisa merampok terang-terangan yang disebut menyita barang mereka yang berdosa, bisa pula memperkosa anak gadis orang yang disebutnya menikahinya sebagai selir. Tak ada seorang pun yang berani menentang kehendaknya kalau orang itu masih ingin hidup. Kalau kepala dusunnya seperti itu, kaki tangannya malah lebih mengerikan lagi!

Melihat keadaan seperti ini, jiwa kependekaran Thian Liong bangkit dan di mana saja dia berada, dia tentu turun tangan memberi hajaran kepada mereka yang bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan dan kekerasan, menolong mereka yang tertindas dan lemah tak berdaya. Dia tak pernah menyembunyikan namanya, selalu mengaku bernama Thian Liong setiap kali perbuatan gagahnya menggegerkan sebuah dusun atau kota.

Maka sebentar saja orang-orang menganggapnya Si Naga Langit (Thian Liong), seakan-akan makhluk yang menjadi lambang kebesaran dan kesaktian itu turun dari langit untuk membela dan menolong rakyat yang menderita!

Dalam perjalanan ini tidak lupa Thian Liong bertanya-tanya, mencari keterangan tentang seorang gadis cantik jelita yang berpakaian serba merah muda. Akan tetapi sampai hari ini, ketika dia menuruni lereng bukit di kaki Pegunungan Thai-san, belum ada seorang pun yang dapat memberi keterangan kepadanya mengenai gadis itu.

Pada waktu melihat sebuah dusun yang cukup besar dan ramai di kaki bukit, Thian Liong segera memasukinya. Dusun itu kelihatan cukup ramai, dan tidak seperti yang dia lihat di dusun-dusun yang pernah dilaluinya, dusun ini terlihat tenang. Penduduknya tidak tampak begitu dicekam ketakutan seperti dusun-dusun lain sebelah selatan.

Mungkin semakin dekat suatu tempat dengan pemerintah pusat di Peking, maka semakin baiklah pembesarnya karena takut kepada atasan yang sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan, tidak seperti dusun-dusun yang jauh, yang tak pernah dilalui pejabat-pejabat yang memeriksa keadaan di dusun-dusun.

Dusun Leng-ciu bisa juga disebut kota karena tampak ramai, banyak toko dan bahkan ada pula rumah makan dan rumah penginapan, walau pun sederhana. Dia mendapat harapan akan bisa mendengar berita tentang gadis baju merah di tempat ini.

Hari sudah siang dan Thian Liong merasa perutnya lapar karena sejak kemarin malam dia belum makan. Pagi tadi pun dia tidak sempat makan sebab dia melakukan perjalanan naik turun bukit tanpa melewati dusun. Maka, melihat sebuah rumah makan yang kosong tidak ada tamunya, dia lalu masuk.

Seorang pelayan setengah tua yang berusia kurang lebih empat puluh tahun segera maju menyambutnya dengan senyum ramah.

“Siauw-ko (saudara muda) hendak makan apa? Dan minum?”

“Hidangkan nasi dan masakan sayur, minumnya air teh saja.”

“Air teh? Ahh, siauwko, kami mempunyai arak yang lezat!” pelayan itu menawarkan.

“Terima kasih, paman. Aku... ehh, aku tidak biasa minum arak, takut mabok,” jawab Thian Liong sambil tersenyum.

“Bagus! Bagus! Aku sendiri juga hampir tidak pernah minum arak. Lebih baik teh karena menyehatkan. Menyebalkan sekali anakku laki-laki itu, setiap hari kerjanya hanya mabok. Ayaa… bikin jengkel orang tua saja!” Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi untuk menyediakan makanan yang dipesan Thian Liong.

Pemuda ini tersenyum sendiri, akan tetapi seketika itu pula timbul niatnya untuk mengajak pelayan yang suka bicara itu untuk bercakap-cakap. Siapa tahu dia tahu mengenai gadis yang dicarinya. Apa lagi saat itu rumah makan sedang sepi tidak tampak tamu lain.

Ketika pelayan itu mengantar nasi dan semangkuk sayur, sepoci teh dengan cawannya, Thian Liong mengajaknya bicara sambil makan.

“Duduklah, paman, dan mari temani aku minum teh. Nanti begitu ada tamu paman boleh meninggalkan aku.”

Pelayan itu menerima undangan Thian Liong dengan senang. Setelah minum satu cawan teh, Thian Liong lalu bertanya, “Paman, aku ingin sekali bertanya. Apakah paman pernah melihat seorang gadis cantik berpakaian serba merah muda, punya lesung pipit di kanan kiri bibirnya dan... gadis itu pandai ilmu silat?”

Pelayan itu mengerutkan keningnya. “Gadis cantik jelita yang pandai ilmu silat? Wah, ada! Benar, tentu dia yang kau maksudkan itu! Masih muda belia, senyumnya semanis madu, kerling matanya bagai kilat menyambar, bila tertawa semua bunga bermekaran, matahari bersinar semakin terang!”

“Betul, betul! Dara itu yang kumaksudkan! Di mana dia, paman?”

“Tetapi pakaiannya bukan serba merah muda, melainkan putih, sutera putih halus dengan perhiasan gemerlapan. Memang ada yang berwarna merah, akan tetapi bukan pakaiannya melainkan sabuknya, sabuk sutera merah. Pakaiannya serba putih, elok anggun bagaikan burung Hong, sebab itu semua orang menyebutnya Pek-hong Nio-cu (Nona Burung Hong Putih)!”

Tiba-tiba ada serombongan orang memasuki rumah makan dan pelayan itu cepat bangkit. “Maaf, siauw-ko, ada tamu!”

Bergegas dia menyambut rombongan yang terdiri dari empat orang itu. Seorang laki-laki muda berusia dua puluh lima tahun, seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh tahun, dan suami isteri setengah tua sekitar lima puluh tahun.

Pelayan segera mempersilakan mereka duduk menghadapi sebuah meja sebelah dalam, terhalang tiga meja dari tempat Thian Liong makan. Thian Liong tidak lagi memperhatikan mereka yang nampak seperti penduduk biasa. Dia sedang melamun, merenungkan cerita pelayan tadi.

Tidak mungkin nona yang disebut Nona Burung Hong Putih itu adalah gadis maling yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai. Walau pun sama cantik dan sama pandai silat, namun pakaiannya jauh berbeda. Maling wanita itu berpakaian serba merah muda, ada pun yang diceritakan pelayan tadi pakaiannya serba putih. Pula, maling wanita itu tidak memegang senjata. Dia hanya mempergunakan sebatang ranting ketika membunuh perampok. Akan tetapi Burung Hong Putih ini menggunakan sehelai sabuk sutera merah!

Tentu bukan gadis yang dicarinya. Betapa pun juga, dia merasa tertarik. Siapa tahu gadis maling itu pakaiannya berganti warna? Atau setidaknya, sebagai wanita yang sama-sama pandai ilmu silat, mungkin saja Burung Hong Putih ini mengenal gadis berpakaian merah muda.

Tiba-tiba dua orang laki-laki muda berusia antara dua puluh lima sampai dua puluh tujuh tahun memasuki rumah makan itu. Melihat betapa keduanya berjalan terhuyung-huyung sambil menyeringai dan tertawa-tawa, mudah diduga bahwa keduanya sudah mabok.

“Kita baru saja minum, masa sekarang sudah mau minum lagi...?” kata seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.

“Ha-ha-ha, di sini tempatnya mi bakso yang terenak di dunia…! Ha-ha-ha, heii, pelayan, hidangkan dua porsi mi bakso komplit! Cepat...!” Kedua orang itu lalu mengambil tempat duduk di meja yang berdekatan dengan meja rombongan pertama.

Pelayan setengah tua itu agaknya sudah mengenal mereka karena dia langsung bergegas menghampiri meja mereka lalu menggunakan kain lap untuk membersihkan meja itu.

“Oh, Bouw-kongcu (Tuan Muda Bouw) dan Ban-kongcu (Tuan Muda Ban). Silakan duduk, silakan duduk...,” kata pelayan itu dengan sikap hormat.

“Cerewet!” bentak si tinggi kurus yang disebut Bouw-kongcu. “Hayo cepat sediakan bakmi bakso dua mangkok, bodoh!” bentak Ban-kongcu yang bertubuh tinggi besar dan sikapnya kasar.

“Baik, baik, ji-wi kongcu (tuan muda berdua)...” pelayan itu lalu cepat-cepat mengambilkan pesanan dua orang muda itu. Ketika dia lewat di dekat Thian Liong, dia berbisik, “Hemm... mereka adalah putera kepala Dusun Bouw dan Kepala Keamanan Ban...”

Thian Liong melirik ke arah dua orang itu. Mereka sudah mengeluarkan sebuah guci yang tadi dibawa Ban-kongcu lalu bergantian minum lagi sambil tertawa-tawa.

“Ehh? Manis sekali!” Tiba-tiba Bouw-kongcu yang tinggi kurus itu memandang pada gadis cantik yang duduk bersama rombongan pertama tadi. Gadis itu menundukkan mukanya.

“Heh-heh, kalau engkau suka, biarlah dia menemani kita makan minum,” kata Ban-kongcu sambil bangkit berdiri.

“Ya, heh-heh, tentu saja. Ajak dia ke sini... si manis itu... heh-heh…”

Orang muda she Ban yang bertubuh tinggi besar itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri meja rombongan empat orang itu. Dia langsung menghampiri nona tadi dan berkata,

“Nona manis, Bouw-kongcu mengundang engkau makan minum bersama kami. Hayolah, manis!”

Gadis itu nampak ketakutan dan menggeleng-getengkan kepala. Pemuda itu pun segera bangkit berdiri, diikuti laki-laki setengah tua.

“Sobat, apa artinya ini? Kami tidak mengenal anda, jangan paksa adik saya untuk makan bersama, itu tidak sopan namanya!” kata pemuda itu dengan sikap marah. Juga laki-laki setengah tua itu marah.

“Jangan ganggu anakku!” bentaknya.

Putera kepala keamanan dusun yang bernama Ban Gu itu membelalakkan matanya yang sudah lebar, memandang kepada ayah dan puteranya itu berganti-ganti. “Ha-ha-ha, kalian berani menentangku, ya? Kalian belum mengenal siapa aku dan siapa Bouw-kongcu itu?”

Mendengar ini, ayah pemuda itu mencoba untuk menyabarkan Ban Gu. “Sabarlah, sobat. Kami sekeluarga baru saja tiba di kota Leng-ciu. Kami tidak mengenal siapa kalian berdua dan kami juga tidak melakukan kesalahan apa pun. Karena itu harap jangan mengganggu puteri saya, jangan mengganggu kami yang hanya ingin makan di sini.”

“Bodoh! Aku Ban Gu adalah putera Kepala Pasukan Keamanan di sini dan Bouw-kongcu adalah putera kepala daerah yang berkuasa di sini, tahu? Hayo! Nona ini harus menemani kami makan minum dan siapa pun tidak boleh menghalangi!” Sesudah berkata demikian, Ban Gu menangkap pergelangan tangan gadis itu lalu menariknya berdiri.

Pemuda yang menjadi kakak gadis itu nampak marah sekali. “Engkau kurang ajar, hendak menghina adikku?”

Dia pun cepat maju hendak menangkap pundak Ban Gu untuk ditariknya supaya terlepas dari adiknya. Akan tetapi agaknya Ban Gu adalah seorang yang pandai ilmu silat. Sekali dia melayangkan tinjunya, pemuda itu terpelanting roboh.

Ayah pemuda itu segera maju hendak mencegah Ban Gu menarik puterinya. Tetapi sekali lagi Ban Gu mengayun tangan dan laki-laki setengah tua itu lantas terpelanting menabrak kursi. Sambil terbahak Ban Gu menangkap lagi tangan gadis itu dan menyeretnya menuju ke meja di mana Bouw-kongcu menunggu sambil menyeringai senang.

“Ting-yi...!” Ibu itu memburu.

Namun sebuah tendangan dari Ban Gu langsung membuat nyonya itu terjengkang. Gadis itu menjerit, akan tetapi dengan mudah Ban Gu mengangkatnya lalu memaksanya duduk di atas kursi di samping Bouw-kongcu.

Pada saat itu Thian Liong sudah hampir tidak dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi dia cepat menahan diri karena terdengar derap kaki kuda di luar rumah makan kemudian seorang gadis berpakaian serba putih berkilau melompat turun dari punggung kuda. Thian Liong yang tadinya sudah bangkit berdiri untuk menghajar dua orang pemuda berandalan itu duduk kembali saking heran dan kagumnya.

Gadis ini betul-betul mengingatkan dia akan gadis maling yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai. Bentuk tubuh yang denok semampai itu sama, wajahnya memang agak berbeda, tetapi keduanya sama cantik dan sepasang mata itu pun sama-sama mencorong. Bibirnya tersenyum nakal dan gerakannya gesit sekali. Tanpa disadarinya, Thian Liong mengamati dengan penuh perhatian.

Dara itu berusia sekitar sembilan belas tahun, pakaiannya terbuat dari sutera putih bersih berkilauan dan pinggangnya yang ramping itu dililit sabuk merah. Rambutnya yang tebal panjang dikuncir lantas diberi pita merah dan di atas kepalanya terhias sebuah perhiasan berbentuk burung Hong putih dari perak bermata mirah yang indah sekali. Agaknya gadis itu sengaja membuat perhiasan yang sesuai dengan julukan yang diberikan orang, atau orang-orang memberi julukan kepadanya karena melihat perhiasan itu.

Mukanya manis sekali, kulitnya putih bersih seperti biasa kulit wanita dari utara. Matanya mencorong seperti bintang dan senyumnya yang amat manis itu mengandung kenakalan. Tubuhnya ramping padat sangat menggairahkan, dengan lekuk lengkung yang sempurna. Dari pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang wanita bangsawan bangsa Kin, dengan hiasan bulu indah pada leher dan pada sepatunya yang terbuat dari kulit berwarna hitam mengkilat berbentuk sepatu tinggi membungkus betis (sepatu boot).

Gadis itu meloncat turun dari kudanya kemudian berlari memasuki rumah makan. Tangan kanannya masih memegang sebatang pecut kuda.

“Aku mendengar ada keributan di sini! Siapa yang membikin ribut?” suaranya nyaring dan merdu dan biar pun dia berbicara dalam bahasa pribumi Han, akan tetapi terdengar lucu karena aksennya terdengar asing mirip suku bangsa Kin.

Suami isteri setengah tua beserta putera mereka telah bangkit berdiri sambil menyeringai kesakitan. Melihat wanita itu datang dengan sikap begitu anggun dan berwibawa, mereka bertiga hanya dapat menuding ke arah gadis yang masih duduk sambil ketakutan, apa lagi dua orang pemuda yang duduk di kanan kirinya secara kurang ajar menowel-nowel serta meraba-raba dengan tangan mereka.

Gadis baju putih itu menoleh ke arah yang ditunjuk tiga orang itu dan kini alisnya berkerut melihat seorang gadis duduk di antara dua orang pemuda yang jelas sedang berbuat tidak sopan kepadanya, meraba-raba dada serta menowel dagu dan pipi.

“Hemm, kiranya kalian dua ekor buaya darat ini yang membikin ribut di sini!” bentak gadis itu sambil menghampiri meja di mana Bouw Kui sang putera kepala daerah, dan Ban Gu sang putera kepala pasukan keamanan kota Leng-ciu itu duduk mengapit gadis itu.

Dua orang pemuda itu terkejut sekali mendengar ada suara wanita yang memaki mereka sebagai buaya darat. Mereka segera bangkit berdiri, kemudian memutar tubuh menoleh dan memandang. Keduanya terbelalak kagum.

“Huihhh…! Alangkah cantiknya!” kata Bouw Kui sambil menyeringai kagum.

“Hebat! Seperti bidadari! Toako, engkau sudah punya yang itu, yang ini untukku, ya!” kata Ban Gu.

“Ah, tidak, Gu-te (adik Gu). Biar gadis pemalu dan penakut itu untukmu saja, aku memilih yang baru datang dan pemberani ini!” kata Bouw Kui.

Pelayan setengah tua itu tahu-tahu sudah berada di dekat meja Thian Liong.

“Uhh, mereka mencari penyakit. Mereka pasti akan celaka…!” bisiknya dan Thian Liong menonton dengan ingin tahu sekali.

“Hei, dua ekor katak buduk! Hayo cepat kalian berdua menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun seratus kali, atau nonamu akan menyiksa kalian sampai mampus!” bentak gadis itu sambil bertolak pinggang.

Ban Gu yang merasa dimaki-maki menjadi marah juga. “Hehh, jaga mulutmu, perempuan liar! Tahukah engkau siapa kami? Toako ini adalah Bouw-kongcu, putera kepala daerah Bouw! Dan aku adalah Ban Gu, putera kepala pasukan keamanan kota ini. Berani engkau memaki kami? Kau bisa kutangkap dan kumasukkan penjara!”

“Memaki kalian? Menyiksa dan membunuh kalian pun aku berani!” kata gadis itu dan tiba-tiba cambuk kuda di tangannya menyambar ke depan. Cepat bukan main ujung cambuk itu menyambar, seperti kilat menyambar.

“Tarr-tarrr...!”

Dua kali cambuk itu menyambar dan dua orang pemuda itu langsung mengaduh, kedua tangan mendekap muka mereka yang tampak ada balur memanjang merah dan berdarah! Tentu saja mereka marah sekali. Keduanya pernah belajar silat, terlebih lagi Ban Gu yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh dan dia terkenal sebagai pemuda ugal-ugalan yang suka mengandalkan kekuatannya dan terutama kedudukan ayahnya.

“Perempuan gila...!” Dia membentak. Tangan kanannya sudah mencabut sebatang. golok, lalu dia melompat ke depan dan menyerang dengan goloknya.

Bouw Kui juga tidak mau tinggal diam. Dia pun sudah mencabut goloknya dan menerjang ke depan pula. Gadis yang ketakutan itu segera berlari menghampiri orang tuanya, lantas mereka berempat segera keluar dari rumah makan tanpa pamit karena mereka pun belum makan apa-apa. Mereka merasa lebih cepat mereka meninggalkan Leng-ciu lebih baik.

“Tar-tar-tar-tarrrr...!” Pecut itu meledak-ledak.

Thian Liong memandang kagum. Bukan main gadis itu. Gerakan pecutnya bukan gerakan sembarangan, melainkan gerakan tangan yang mempunyai tenaga sinkang (tenaga sakti) yang sangat kuat sehingga pecut yang hanya terbuat dari bambu itu kini berubah menjadi senjata yang kuat untuk menangkis sambaran golok tanpa menjadi rusak!

“Trangg..! Tranggg...!”

Dua kali pecut itu meledak lagi, tepat mengenai pergelangan tangan kedua orang pemuda yang memegang golok. Golok itu terlepas lantas jatuh berkerontangan di atas lantai. Kini pecut itu menari-nari, meledak-ledak dan tubuh dua orang pemuda menjadi bulan-bulanan pecut.

Dua orang kongcu itu meloncat-loncat seperti dua ekor monyet yang menari karena tubuh mereka dihujani lecutan cambuk yang merobek-robek pakaian berikut kulit tubuh mereka sehingga tubuh mereka itu kini mandi darah! Mereka merasa betapa tubuh mereka nyeri semua, perih-perih dan panas, sakit sampai menusuk ke dalam tulang sumsum. Mereka jatuh terguling, kemudian tanpa malu-malu lagi mereka berlutut dan menyembah-nyembah sambil mengangguk-anggukkan kepala bagai dua ekor ayam makan padi sambil merintih-rintih.

“Aduh... ampun... ampun… jangan bunuh...” Keduanya minta-minta ampun.

Gadis itulah yang oleh orang-orang di banyak tempat dijuluki Pek Hong Nio-cu atau Nona Burung Hong Putih! Dia menghentikan cambukannya, hidungnya mendengus, kemudian dia pun berkata kepada Ban Gu.

“He, kau tikus she Ban! Cepat engkau panggil Kepala Daerah Bouw dan Kepala Pasukan Keamanan datang ke sini, dan tikus she Bouw ini biar berlutut terus di sini sampai kamu kembali bersama dua tikus yang kupanggil itu!”

Mendengar ini, diam-diam Ban Gu merasa girang sekali. Ia akan memanggil ayahnya dan Bouw-taijin. Biar tahu rasa engkau, perempuan iblis, pikirnya.

Maka dia segera mengangguk, cepat bangkit berdiri lalu berlari dengan terhuyung-huyung karena tubuhnya nyeri sekali, seluruh tubuhnya terasa seperti disayat-sayat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner