PEDANG AWAN MERAH : JILID-23


Ketika Cin Mei mendengar dari Han Lin bahwa Cu Kiat Hin, ayah suci-nya itu sudah dapat dikeluarkan dari tahanan, hatinya merasa gembira sekali. Akan tetapi dia menjadi terkejut setengah mati mendengar dari Han Lin tentang rencana busuk Kui-thaikam yang hendak membunuh Kaisar dan Pangeran Mahkota, apa lagi ketika diceritakan oleh Han Lin bahwa pembunuhan terhadap Kaisar akan dilakukan dengan menggunakan racun!

“Menurut pendapatku, Tabib Liang juga sudah dipengaruhi oleh Kui-thaikam. Sesudah dia mengujiku dalam ilmu pengobatan, diam-diam dia menyuruh seorang pembantunya untuk menyampaikan laporan kepada Kui-thaikam. Jika pembunuhan itu akan dilakukan dengan racun, sudah tentu sekali tangan Tabib Liang yang akan digunakan untuk keperluan itu.”

“Aku khawatir sekali, Cin Mei. Karena engkau merupakan pembantunya yang baru, bukan tidak mungkin engkau akan diperalat sehingga kalau kelak sampai ketahuan bahwa Kaisar keracunan, maka mereka dapat melempar fitnah itu kepadamu. Karena itu engkau harus waspada mengamati gerak-gerik tabib kurus itu.”

“Jangan khawatir, Lin-koko, aku akan selalu waspada dan berhati-hati. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, tentu secepatnya akan kuberi tahu kepadamu.”

Demikianlah, mereka berdua bersepakat untuk bekerja sama menggagalkan rencana jahat dari Kui-thaikam, dan juga untuk saling memberi keterangan dengan Leng Si dan San Ki yang tentu saja akan dilakukan oleh Han Lin yang lebih leluasa bergerak keluar dari pada Cin Mei.

Han Lin sudah mengambil keputusan untuk memberi tahu kepada Kaisar serta Pangeran Mahkota tentang komplotan busuk itu. Maka, pada suatu saat sesudah persidangan para menteri bubar dan dia mendapat kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Kaisar, dia lalu berbisik tanpa terdengar oleh siapa pun juga.

“Yang Mulia, hamba mempunyai berita penting sekali, menyangkut keselamatan paduka dan Pangeran Mahkota. Sedapat mungkin hamba mohon untuk berbicara dengan paduka dan Pangeran Mahkota, bertiga saja tanpa diketahui orang lain.”

Kaisar mengerutkan alisnya, hampir marah karena permintaan ini dianggapnya melanggar aturan dan lancang sekali. Namun ketika melihat sinar mata pemuda itu yang mencorong penuh kejujuran, dia pun mengangguk lalu meninggalkan ruangan sidang, segera dijemput oleh para thaikam dan pengawal.

Pada keesokan harinya barulah Han Lin dipanggil oleh Kaisar dan thaikam yang diperintah memanggil itu mengantar Han Lin masuk ke dalam sebuah ruang tertutup di mana Kaisar dan Pangeran Mahkota telah menanti. Thaikam itu disuruh keluar dan menutupkan daun pintu, menjaga dengan ketat di luar pintu agar tidak ada orang yang turut mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.

“Nah, Sia Han Lin, sekarang kami berdua hanya berbicara denganmu. Kita hanya bertiga, engkau boleh bicara dengan terus terang. Ada peristiwa penting apakah yang hendak kau laporkan secara rahasia ini?”

“Ampun, Yang Mulia. Hamba khawatir Sribaginda Yang Mulia tidak akan percaya kepada laporan hamba, maka sebelumnya hamba mohon agar paduka berdua tidak keburu marah dan dapat menerima laporan ini dengan tenang.”

“Hemm, engkau penuh rahasia. Katakan, kami tidak akan marah kepadamu.”

“Sebelumnya hamba ingin menceritakan keadaan hamba yang sesungguhnya agar kelak tidak akan menimbulkan kecurigaan dan keraguan di hati paduka. Sesudah dahulu hamba mendapatkan Ang-in Po-kiam, sesungguhnya pedang itu sempat terampas oleh penjahat kemudian jatuh ke tangan Ku Ma Khan, pemuka orang Mongol itu. Ku Ma Khan memaksa hamba untuk menikah dengan puterinya, baru dia akan mengembalikan pedang. Sesudah hamba menjadi mantunya, kemudian dia hendak menjadikan hamba sebagai mata-mata di sini demi kepentingan orang Mongol.”

“Ahh...!” Kaisar dan Putera Mahkota menjadi terkejut bukan main sehingga wajah mereka menjadi pucat. Kaisar sudah hampir berteriak memanggil para pengawal, akan tetapi Han Lin cepat berkata.

“Yang Mulia, kalau hamba berniat jahat tidak perlu hamba menceritakan semua ini kepada paduka!”

“Benar juga. Lalu kenapa engkau menceritakan hal ini kepadaku dan apa kehendakmu?”

“Hamba menerima syarat Ku Ma Khan itu hanya dengan maksud supaya pedang segera dikembalikan kepada hamba, dan puteri yang dinikahkan kepada hamba itu pun sekarang telah tewas karena terbunuh oleh musuhnya. Jadi hamba bukan lagi mantu Ku Ma Khan. Dan pedang pusaka itu hamba kembalikan kepada paduka atas kehendak hamba sendiri, karena hambalah yang menemukannya.”

“Hemm, setelah kau ceritakan semua ini, lalu apa kepentingannya?”

“Keadaan hamba ini justru sangat menguntungkan, Yang Mulia. Karena hamba disangka masih mantu yang setia dari Ku Ma Khan, maka para sekutu Ku Ma Khan mempercayai hamba sehingga terbukalah semua rahasia mereka.”

“Apa? Sekutu Ku Ma Khan? Siapa dia?”

“Banyak, Yang Mulia. Akan tetapi terutama sekali, pemimpinnya adalah Kui-thaikam yang merencanakan pemberontakan.”

Ayah dan anak itu seketika bangkit berdiri, wajah mereka memperlihatkan rasa kaget dan juga tidak percaya. “Kui-thaikam? Sia Han Lin, tahukah engkau bahwa fitnahmu ini dapat membuat engkau dihukum mati?”

“Hamba siap menerima hukuman mati kalau hamba melakukan fitnah. Akan tetapi hamba hanya berbicara yang sebenarnya, Yang Mulia. Bahkan komplotan pemberontak ini sudah membuat rencana jahat untuk membunuh paduka dan Putera Mahkota lalu menggantikan paduka dengan Pangeran Kim Seng.”

Kedua orang bangsawan itu saling pandang. Muka mereka menjadi pucat, namun mereka masih belum percaya. “Ceritakan semua dengan jelas,” kata Kaisar sambil duduk kembali dan Pangeran Mahkota Tek Tsung menghapus keringatnya dengan sapu tangan.

Kemudian Han Lin menceritakan semuanya mengenai usaha pemberontakan Kui-thaikam yang bersekongkol dengan Kwan-ciangkun di Lok-yang, dengan Gubernur Coan di Nan-yang, serta dengan beberapa orang pembesar di kota raja seperti yang didengarnya dari penuturan Leng Si.

“Bila mana rencana mereka berhasil, yaitu membunuh paduka dan Putera Mahkota, maka pasukan Kwan-ciangkun dari Lok-yang akan menyerbu kota raja, dibantu dari dalam oleh panglima-panglima yang telah menjadi sekutunya, sementara pasukan Ku Ma Khan akan menyerbu pula dari utara dan barat.” Han Lin menutup ceritanya yang diceritakan dengan jelas.

“Hemm, lalu bagaimana caranya mereka hendak membunuh aku dan Pangeran Mahkota, padahal engkau sudah berada di sini sebagai pengawal pribadiku?”

“Justru karena hamba menjadi kepala pengawal inilah maka mereka mengira hal itu akan mudah dilakukan, karena mereka menganggap hamba adalah menantu Ku Ma Khan yang tentu akan bersetia kepada mereka. Menurut Kui-thaikam, pembunuhan terhadap paduka akan dilakukan dengan menggunakan racun dari Tabib Liang...”

“Keparat!”

“Tenang, Yang Mulia, harap paduka jangan khawatir. Adik hamba Cin Mei berada di sana. Dia akan selalu waspada menjaga agar hal itu tidak dapat dilakukan.”

“Bagaimana dengan aku? Bagaimana mereka hendak membunuh aku?” tanya Pangeran Mahkota Tek Tsung dengan suara gemetar.

“Paduka akan diajak berburu binatang, kemudian akan diatur agar terjadi kecelakaan yang menimpa paduka.”

“Ahh... sungguh mengerikan...!” Pangeran itu menggigil.

“Kalau begitu sekarang juga akan kusuruh tangkap semua pemberontak keparat itu, akan kujatuhi hukuman mati dengan seluruh keluarganya!” kata Kaisar sambil bangkit berdiri.

“Mohon paduka tenang dan bersabar dulu, Yang Mulia. Kalau paduka melakukan itu, apa buktinya? Mereka bahkan akan menuntut hamba dengan mengatakan bahwa hamba telah melakukan fitnah. Tanpa bukti paduka tidak akan dapat menuduh mereka. Oleh karena itu haruslah dibuktikan terlebih dulu.”

“Dan membiarkan diri kami dan Pangeran Mahkota terancam bahaya maut?”

“Harap paduka jangan khawatir. Masih banyak orang yang setia terhadap paduka. Hamba dan kawan-kawan sudah mengatur agar paduka dan Pangeran Mahkota selalu dilindungi. Hamba yakin bahwa kalau sudah tiba waktunya untuk mereka turun tangan, hamba akan dapat menangkap mereka. Kalau sudah begitu, barulah ada bukti tentang pemberontakan mereka sehingga paduka dapat menjatuhkan hukuman berat kepada mereka.”

Kaisar termenung dan mempertimbangkan ucapan pemuda itu. Akhirnya dia pun berkata, “Han Lin, kalau semua yang kau laporkan ini benar, maka nyawa kami berada di tangan engkau dan kawan-kawanmu. Baiklah, kami mempercayakan kepadamu untuk mengatasi semua kemelut ini sampai tuntas.”

“Harap paduka jangan khawatir. Kawan-kawan hamba sudah menghubungi para panglima yang masih setia terhadap paduka untuk melucuti mereka yang hendak memberontak dan mengusir pasukan Mongol yang telah bersiap di perbatasan. Seperti yang hamba katakan tadi, hamba siap untuk menerima hukuman berat apa bila hamba berbohong, akan tetapi hamba hendak memohon agar paduka berdua pura-pura tidak tahu akan adanya rencana pemberontakan itu sehingga sikap paduka berdua tidak mencurigakan. Hamba khawatir mereka akan mengubah rencana dan siasat kalau melihat sikap paduka mencurigakan.”

“Tapi, apa yang harus kami perbuat?” tanya pula Kaisar, masih merasa ngeri.

“Menurut rencana mereka, Pangeran Mahkota akan lebih dulu diajak berburu. Jika ajakan itu datang, harap paduka menerima saja tanpa menaruh curiga. Jangan paduka khawatir, pangeran, karena diam-diam kami mengawasi paduka dan melindungi paduka. Tidak akan ada bahaya. Kalau pun hal itu terjadi, maka paduka akan kami selamatkan dan ungsikan untuk sementara waktu.”

Pangeran Mahkota mengangguk, walau pun anggukannya tampak mengandung keraguan dan kekhawatiran.

“Lalu bagaimana dengan kami?”

“Paduka tidak perlu khawatir. Semua hidangan yang akan diberikan kepada paduka telah diperiksa oleh adik Cin Mei, maka paduka tidak akan keracunan. Kalau ternyata mereka sudah menaruh menaruh racun itu, walau pun paduka tidak keracunan, namun sebaiknya kalau paduka pura-pura keracunan dan jatuh sakit. Ini untuk memancing tindakan mereka selanjutnya. Harap paduka jangan khawatir, kami telah menyusun siasat sebaliknya untuk melawan siasat mereka.”

Akhirnya Kaisar dan Pangeran Mahkota dapat menerima usul-usul yang diajukan Han Lin dan menyerah saja karena mereka pun tidak tahu harus berbuat apa menghadapi rencana siasat para pemberontak itu. Untuk bertindak menangkap mereka memang tidak mungkin selama belum ada bukti.

Setelah menghadap Kaisar dan Putera Mahkota, Han Lin lalu mengadakan kontak dengan Cin Mei di dalam istana, juga dengan Leng Si dan San Ki di luar istana. Sekarang mereka semua telah siap, bahkan San Ki beserta Leng Si sudah menghubungi Lo-ciangkun yang segera mengadakan pembicaraan serius dengan para panglima yang masih setia kepada Kaisar dan mereka juga sudah menyiapkan pasukan. Mereka semua tinggal menanti saat pelaksanaan rencana siasat para pemberontak dengan hati diliputi ketegangan…..

********************

Pada suatu hari, ketika Han Lin sedang berjalan di dalam kota raja dengan tujuan hendak mengunjungi rumah Leng Si, tiba-tiba dia melihat Bi Lan berjalan dengan seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

“Lan-moi...!” Han Lin memanggil dan segera menghampiri.

Bi Lan menoleh dan seketika itu pula mukanya berubah pucat setelah dia melihat Han Lin. Teringatlah dia betapa dia telah membunuh Mulani, isteri Han Lin.

“Lin-ko... kau... kau?” katanya gagap.

Melihat sikap gadis yang dicintanya, Ting Bu segera berkata, “Ah, inikah saudara Sia Han Lin yang sering kali kau ceritakan padaku itu, Lan-moi?” lalu Ting Bu menghadapi Han Lin, memberi hormat dan berkata, “Perkenalkan, saudara Sia Han Lin, saya bernama Ting Bu, sahabat baik nona Can Bi Lan.”

Akan tetapi Bi Lan masih tetap memandang Han Lin dengan sinar mata bingung. “Lin-ko, sudahkah engkau mendengar... tentang Mulani...?”

Han Lin mengangguk dan menarik napas panjang. “Sudah kudengar semua dari saudara misanku Souw Kian Bu. Aku tidak menyalahkanmu, Lan-moi. Engkau membela saudara, hal itu sudah sepatutnya.”

“Akan tetapi, aku tidak tahu betapa jahatnya mendiang kakakku itu, Lin-ko. Sungguh aku merasa menyesal sekali telah membunuh Mulani. Aku bersalah, Lin-ko, dan kalau engkau hendak membalas kematian isterimu itu, silakan. Aku siap menerima hukuman.”

“Sudahlah, Lan-moi. Sudah kukatakan bahwa aku tidak menyalahkanmu. Semua itu telah terjadi dan sudah lewat. Sekarang kita bicarakan soal lain saja. Mari kita masuk ke rumah makan itu supaya kita dapat berbicara dengan leluasa,” kata Han Lin dan mereka semua memasuki rumah makan itu, memilih meja di sudut yang jauh dari tamu lain.

“Sekarang ceritakan, apa yang menyebabkan engkau datang ke kota raja ini, Lan-moi?”

Tanpa ragu lagi Bi Lan segera bercerita tentang Kwan-ciangkun, panglima Lok-yang yang bersekongkol dengan Sam Mo-ong. “Mereka tentu bermaksud melakukan pemberontakan dan aku sudah melapor kepada ayah. Aku berada di kota raja ini karena memang tempat tinggalku di sini. Lupakah engkau, Lin-ko, bahwa Pek-eng Bu-koan berada di sini? Ayahku tinggal di kota raja.”

“Ah, benar juga. Kebetulan sekali, Lan-moi, engkau dan ayahmu bisa membantu usahaku. Apa yang kau ceritakan tadi memang betul dan aku telah mengetahui semuanya, bahkan aku mengetahui lebih banyak dari itu.”

Dengan berbisik-bisik Han Lin lantas menceritakan tentang rencana pemberontakan yang dipimpin oleh Kui-thaikam. Mendengar ini Bi Lan terkejut bukan main, demikian pula Ting Bu.

“Kalau begitu, kita tidak boleh tinggal diam,” kata Ting Bu, “kita harus berbuat sesuatu!”

“Benar, saudara Ting Bu, memang kita telah siap siaga menghadapi semua ini. Kebetulan aku menjadi kepala pengawal pribadi Kaisar dan rencana pemberontakan itu sudah kuberi tahukan kepada Kaisar dan Putera Mahkota. Sekarang kita hanya tinggal membagi tugas. Bi Lan, bagaimana jika engkau dan saudara Ting Bu menggunakan kekuatan para murid Bu-koan untuk melindungi Pangeran Mahkota?”

“Tentu kami siap, Lin-ko.”

“Kalau begitu mari kita bicarakan dengan ayahmu,” ajak Han Lin. Mereka pun membayar harga minuman lalu meninggalkan rumah makan itu.

Can-kauwsu (guru silat Can) menjadi terkejut bukan main ketika mendengar berita itu dari puterinya. “Tentu saja kami siap untuk membantu, Sia-taihiap,” katanya kepada Han Lin. “Dan puteriku sudah menceritakan semua tentang perbuatan mendiang puteraku terhadap engkau dan isterimu. Pada kesempatan ini, sebagai ayahnya aku hendak mintakan maaf kepadamu atas segala perbuatan jahat puteraku. Mengingat dia kini sudah tewas, harap engkau suka memaafkan dia.” Suara orang tua itu tergetar karena haru dan duka.

“Sudahlah, paman. Aku sudah melupakan lagi urusan itu.”

“Juga aku mintakan maaf bagi anakku Bi Lan yang terlampau terburu nafsu menewaskan isterimu.”

“Aku tidak menyalahkan Lan-moi, paman. Sekarang kita menghadapi urusan yang besar, maka sebaiknya kita melupakan urusan pribadi,” kata pula Han Lin.

“Sia-taihiap, aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari Bi Lan, akan tetapi setelah berhadapan, baru aku tahu bahwa engkau memang seorang pendekar besar yang sangat bijaksana.”

“Paman tidak perlu terlalu memuji. Yang penting sekarang, apakah paman sanggup untuk melindungi dan menyelamatkan Pangeran Mahkota? Pada waktu dia pergi berburu, harap dibayangi dan kalau ada bahaya mengancam, harap paman melindunginya lantas secara diam-diam membawa Pangeran pergi mengungsi dahulu ke rumah paman tanpa ada yang mengetahui. Sanggupkah paman?”

“Kami sanggup, dan akan kami lakukan dengan taruhan nyawa!” jawab Can-kauwsu.

Han Lin merasa lega sekali. Tentu akan lebih mudah kalau rombongan Can-kauwsu yang melindungi Putera Mahkota dari pada kalau dia mengerahkan tenaga para pengawal. Dia dan Cin Mei tidak boleh meninggalkan istana karena mereka harus melindungi Kaisar.

Han Lin sudah tahu hingga di mana kelihaian Bi Lan, maka ayahnya yang juga merupakan gurunya tentu lebih lihai lagi. Dengan dibantu Ting Bu yang dia duga tentu saling mencinta dengan Bi Lan, hal yang melegakan hatinya, serta anak-anak buah Pek-eng Bu-koan, dia percaya bahwa keselamatan Pangeran Mahkota pasti akan terjaga. Dia sendiri tentu akan ikut pula mengawasi.

Setelah mengadakan perundingan masak-masak, Han Lin lalu berpamit dan berjanji akan memberi tahu kalau saatnya tiba, yaitu kalau Pangeran Mahkota hendak pergi berburu.

Sesudah Han Lin pergi, Can-kauwsu terus memuji-muji pemuda itu, bahkan Ting Bu juga memujinya. “Memang dia hebat sekali. Dia lebih mementingkan keselamatan negara dari pada urusan pribadi. Aku kagum sekali pada sahabatmu itu, Lan-moi.”

Bi Lan diam saja. Dia tidak pernah menceritakan bahwa dulu dia amat mencinta Han Lin, akan tetapi cintanya itu menghilang ketika dia mendengar bahwa Han Lin sudah menikah dengan Mulani, apa lagi kemudian dialah yang menewaskan Mulani. Dan terutama sekali setelah dia berjumpa dengan Ting Bu, dia merasa sudah menemukan pengganti Han Lin yang tidak mungkin dapat diharapkannya lagi…..

********************

Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nanti, baik oleh Kui-thaikam dan kawan-kawannya, mau pun oleh Pangeran Mahkota beserta para pelindungnya. Kui-thaikam mengajak Pangeran Mahkota untuk berburu binatang di dalam hutan buatan di luar kota raja. Dengan tenang Pangeran Mahkota menerima ajakan itu karena maklum dan percaya sepenuhnya bahwa secara diam-diam dia telah dilindungi oleh Han Lin dan kawan-kawannya.

Kui-thaikam dan Pangeran Mahkota menunggang kuda, sambil dikawal oleh selosin orang pengawal berkuda pula. Mereka membawa perlengkapan berburu dan tak lama kemudian tibalah mereka di dalam hutan buatan yang cukup luas itu. Hutan itu adalah hutan buatan di mana dilepas banyak binatang hutan untuk dapat diburu oleh Kaisar dan keluarganya.

Han Lin segera memberi kabar kepada Can-kauwsu yang langsung membawa lima puluh orang anak buahnya bersembunyi di hutan itu. Bi Lan dan Ting Bu tidak ketinggalan, ikut pula bersembunyi di hutan untuk melindungi Pangeran Mahkota.

Segera mereka dapat melihat Pangeran itu dan Kui-thaikam yang diiringi selosin pasukan pengawal memasuki hutan. Pangeran Mahkota tidak memperlihatkan kekhawatiran, tetapi seperti biasa dia berburu binatang dengan gembira.

Pada saat mereka tiba di tengah hutan, tiba-tiba saja bermunculan kurang lebih tiga puluh orang yang mengenakan topeng dan mereka itu langsung saja menyerbu, akan tetapi para pengawal itu sama sekali tidak melindungi Putera Mahkota!

Melihat ini, sesuai dengan rencana yang sudah diatur sebagaimana diberi tahu oleh Han Lin, Putera Mahkota segera membedal lalu membalapkan kudanya meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Kui-thaikam yang pura-pura kelihatan ketakutan.

Tiba-tiba saja muncullah puluhan orang yang membiarkan Pangeran Mahkota lewat tetapi menghadang para pengejar itu. Tiga puluh orang perampok bertopeng yang dibantu oleh selosin pengawal lalu saling serang dengan para anggota Pek-eng Bu-koan yang dipimpin oleh Can-kauwsu, Bi Lan dan Ting Bu. Pertempuran hebat tidak dapat dihindarkan lagi.

Tapi para perampok yang ditugaskan membunuh Pangeran Mahkota itu menjadi bingung karena sama sekali tidak menyangka akan menemui halangan seperti ini. Mereka menjadi kacau balau kehilangan pegangan, terutama sekali karena amukan Can-kauwsu dan Ting Bu, sedangkan Bi Lan sendiri segera mengejar Pangeran Mahkota dan Kui-thaikam untuk melindunginya dari kemungkinan ancaman lain.

Melihat Kui-thaikam dengan pedang di tangan seolah melindungi Pangeran, diam-diam Bi Lan merasa kagum. Thaikam ini memang amat cerdik, begitu melihat usaha pembunuhan itu gagal, cepat dia mengubah taktik dan pura-pura melindungi sehingga dia tidak terlibat dalam usaha pembunuhan Putera Mahkota itu.

Akan tetapi Bi Lan tidak peduli. Sesuai petunjuk Han Lin, dia menyambar tali kendali kuda sang Pangeran, menendang jatuh Kui-thaikam dari atas kudanya lalu mengajak Pangeran itu melarikan diri. Pangeran Tek Tsung hanya menurut saja karena memang sudah diberi tahu oleh Han Lin bahwa dia harus ikut dengan gadis berpakaian merah muda yang akan membawanya lari mengungsi.

Setelah sampai di tepi hutan, Bi Lan lantas menyerahkan pakaian pengganti untuk Putera Mahkota. “Paduka harus menyamar sebagai penduduk biasa ketika memasuki kota raja, Pangeran,” katanya.

Kembali Pangeran itu menurut saja. Pakaian petani yang longgar itu dipakainya menutupi pakaiannya yang serba indah. Ketika Pangeran Mahkota sedang memakai pakaian petani itu, Bi Lan mencambuk kuda sang Pangeran sehingga kuda itu langsung kabur kembali ke dalam hutan.

Akhirnya gadis itu mengajak sang Pangeran melanjutkan perjalanan ke kota raja dengan berjalan kaki. Mereka berhasil memasuki kota raja tanpa menarik perhatian orang dan Bi Lan mengajak Pangeran itu bersembunyi ke dalam rumah orang tuanya, yaitu di Pek-eng Bu-koan…..

********************

Sementara itu pertempuran tidak berlangsung lama. Walau pun di antara para perampok bertopeng itu terdapat Thian-te Siang-kui yang lihai, tapi tugas mereka adalah membunuh Pangeran Mahkota, bukan bertempur. Mereka lalu meninggalkan gelanggang pertempuran dan melakukan pengejaran, akan tetapi mereka hanya menemukan Kui-thaikam dan kuda Pangeran Mahkota, sedang Pangeran itu sendiri tidak dapat mereka temukan.

Kui-thaikam menyumpah-nyumpah. Kepada para sekutunya, malam itu dia menceritakan bahwa Pangeran Mahkota diselamatkan seorang wanita yang tidak dikenalnya.

“Kita harus segera melaksanakan rencana selanjutnya. Putera Mahkota dilindungi banyak orang, jika rencana selanjutnya tidak cepat dilaksanakan, maka kami khawatir semuanya akan menjadi gagal,” katanya.

Semua orang setuju dan Tabib Liang segera dihubungi agar besok segera melaksanakan rencana mereka untuk meracuni Kaisar! Para pengawal yang selosin orang itu memang anak buah Kui-thaikam.

Sekembalinya dari hutan, Kui-thaikam langsung melaporkan kepada Kaisar bahwa ketika berburu Pangeran telah memisahkan diri dari rombongan dan sekarang sedang dicari-cari oleh pasukan. Kaisar menerima berita ini dengan hati tenang saja karena dia sudah tahu dari Han Lin bahwa Pangeran telah diselamatkan dan untuk sementara disembunyikan.

Ketika hidangan makan siang sudah dipersiapkan, Cin Mei melihat sikap Liang Sinshe tak seperti biasanya. Dia kelihatan gugup dan ketika dia melihat tabib itu menuangkan bubuk putih ke dalam guci emas yang menjadi guci arak Kaisar, Cin Mei segera maklum bahwa inilah saatnya untuk meracuni Kaisar. Dan racunnya berada di dalam guci emas itulah.

Kemudian dia melihat betapa Tabib Liang mengundang seorang thaikam lantas menyuruh thaikam ini untuk menghidangkan sambil membawa guci emas itu kepada Kaisar sebagai pelengkap makan siang. Dari peristiwa ini saja Cin Mei tahu bahwa thaikam itu tentu anak buah Kui-thaikam. Tentu untuk membawa guci emas itu tidak boleh dipercayakan kepada orang lain. Ia pura-pura tidak tahu dan segera mendahului pergi ke kamar makan di mana Kaisar akan makan siang dilayani oleh para gadis pelayan dan thaikam.

Siang itu makan siang berlangsung tidak seperti biasanya. Kaisar yang sudah mendapat bisikan dari Han Lin yang menerima kontak dari Cin Mei, malah menyuruh semua pelayan dan thaikam pergi. Sesudah semua orang pergi dan di situ hanya terdapat Cin Mei, Kaisar lalu memanggil masuk thaikam yang membawa guci emas tadi. Semua pintu ditutup dan tak seorang pun diperbolehkan masuk.

“Engkau yang tadi membawa guci arak ini?” tanya Kaisar kepada thaikam.

Karena pertanyaan itu tidak biasa, maka seketika wajah thaikam itu menjadi pucat. Sambil berlutut dia menjawab, “Benar, Yang Mulia.”

“Apa isinya guci itu?”

“Tentu saja isinya arak, Yang Mulia. Hamba mengambilnya dari dapur.”

“Bagus, engkau telah bekerja dengan baik sekali, oleh karena itu kami berkenan memberi hadiah secawan arak kepadamu. Majulah!”

Wajah thaikam itu menjadi bertambah pucat. Dengan mata terbelalak dia melihat betapa Kaisar menuangkan arak dari guci emas ke dalam sebuah cawan lalu menjulurkan tangan memberikan cawan itu kepadanya. Thaikam itu ketakutan dan hendak melarikan diri, akan tetapi sekali tangan Cin Mei bergerak, thaikam itu menjadi lemas dan tak mampu bangkit kembali.

“Hayo minum!” kata Kaisar yang menghampirinya dan memaksanya minum secawan arak itu.

Karena sudah tak bertenaga lagi dan tidak dapat melawan, akhirnya thaikam itu terpaksa menelan arak dari cawan itu. Sejenak kemudian dia pun roboh dan tewas seketika dengan mulut berubah menghitam!

Kaisar berseru lirih. “Jahanam keji...!”

Sesuai rencana, Cin Mei lalu memanggil pengawal kepercayaan Han Lin. Dengan bantuan pengawal ini mereka lalu mengangkut jenazah itu dan merebahkan ke dalam pembaringan Kaisar, sedangkan Kaisar sendiri lalu menyembunyikan diri.

Segera tersiar berita bahwa Kaisar menderita sakit keras, bahkan kemudian disusul berita bahwa Kaisar sudah meninggal dunia! Tentu saja geger di dalam istana, kecuali keluarga istana yang telah diberi tahu terlebih dahulu tentang adanya usaha pemberontakan itu.

“Kita harus meneruskan rencana, sekarang juga sebelum Putera Mahkota muncul. Cepat! Dan sekarang juga harus diadakan persidangan besar. Jangan lupa untuk mengirim berita kepada Kwan-ciangkun di Lok-yang, juga kepada Ku Ma Khan dan para panglima lain di sini!” demikian perintah Kui-thaikam kepada para sekutunya.

Mereka nampak sibuk sekali karena saat besar itu akan tiba. Bahkan Pangeran Kim Seng juga sudah siap dengan pakaian kebesaran.

Persidangan darurat diadakan dengan dihadiri oleh semua menteri, pejabat dan panglima. Menurut perhitungan, pada saat persidangan darurat diadakan istana telah dikepung oleh pasukan yang memberontak, di bawah pimpinan para panglima yang sebelumnya sudah ditentukan.

Tak seorang pun pejabat tinggi yang tidak hadir dalam persidangan yang diadakan secara darurat itu. Para pejabat tinggi yang tidak tersangkut pemberontakan, merasa heran sekali dan juga bingung mendengar berita bahwa Kaisar telah wafat. Mereka seolah tak percaya karena sebelumnya tidak ada berita Kaisar menderita sakit. Juga berita tentang lolosnya Pangeran Mahkota dari istana tanpa diketahui ke mana perginya sudah membuat semua orang bertanya-tanya. Maka, ketika diadakan persidangan darurat, berbondong-bondong mereka mendatangi persidangan itu.

Singgasana itu kosong. Kui-thaikam berdiri di dekat singgasana, ditemani oleh Pangeran Kim Seng. Semua yang hadir tahu bahwa pangeran sinting tukang pelesir ini adalah adik Kaisar dan karena Putera Mahkota tidak ada maka tentu saja Pangeran Kim Seng dapat dibilang sebagai anggota tertua dan terpenting dari keluarga Kaisar.

“Cu-wi yang mulia,” Kui-thaikam mulai berkata. “Ada berita yang amat menyedihkan, yaitu Yang Mulia Sribaginda Kaisar tiba-tiba saja wafat karena terserang penyakit berat. Tabib Liang tidak mampu mengobatinya karena sudah parah sekali. Menurut Tabib Liang, Yang Mulia menderita pendarahan di lambung yang sangat parah. Dan di samping berita yang amat menyedihkan ini, ada lagi berita yang membingungkan, yaitu bahwa Putera Mahkota Tek Tsung sudah lolos dari istana, entah ke mana tak seorang pun yang mengetahuinya. Kami masih berusaha mencarinya, akan tetapi sementara mencarinya, sungguh tidak baik kalau singgasana dibiarkan kosong. Sebelum sang Pangeran dapat ditemukan, harus ada orang yang sementara menggantikan kedudukan Kaisar untuk mengatur pemakaman dan mengatur hal-hal yang terpenting. Namun mengingat bahwa pengganti Yang Mulia Kaisar, yaitu Pangeran Mahkota Tek Tsung tidak ada, maka satu-satunya pengganti yang tepat adalah Pangeran Kim Seng karena sebagai paman dari Putera Mahkota, beliau ini dapat dibilang menjadi walinya. Biarlah untuk sementara ini Pangeran Kim Seng menggantikan kedudukan Pangeran Mahkota yang lolos. Bagaimana pendapat cu-wi yang terhormat?”

Para pejabat yang telah menjadi sekutu Kui-thaikam serta merta mengancungkan tangan menyatakan setuju dengan suara riuh rendah. Tentu saja mereka menyetujui hanya demi kepentingan sendiri karena mereka tentu mengharapkan kenaikan pangkat dari penguasa yang baru. Akan tetapi banyak pula di antara para menteri yang menyatakan tidak setuju.

“Jenazah Yang Mulia belum juga dimakamkan, mengapa malah ribut-ribut soal pengganti Kaisar?”

“Yang penting harus menemukan Pangeran Mahkota dulu, setelah itu barulah ditentukan pengganti Yang Mulia Kaisar.”

“Kematian Yang Mulia perlu diteliti karena mencurigakan sekali.”

Terdengar bermacam-macam suara memprotes keputusan yang hendak diambil oleh Kui-thaikam. Akan tetapi Kui-thaikam mengangkat tangannya dan nampak berwibawa sekali.

“Cu-wi semua tahu bahwa saya adalah orang yang menjadi kepercayaan Yang Mulia, dan Pangeran Kim Seng adalah adik dari Yang Mulia. Semua keputusan ini sudah benar dan merupakan satu-satunya jalan. Kalau ada yang tidak setuju maka itu berarti menghalangi kelancaran pemerintahan dan bisa dianggap hendak mengacau dan memberontak. Untuk itu kami telah siap siaga dengan pasukan dan kalau perlu, mereka yang tidak setuju dapat ditangkap. Istana ini sudah dikepung pasukan yang mendukung keputusan kami!”

Mendengar ini semua pejabat menjadi amat terkejut, maka tahulah mereka semua bahwa sesungguhnya Kui-thaikamlah yang memberontak dan ingin memaksakan kehendaknya dengan dukungan pasukan.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner