JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-01


Pemuda itu menuruni puncak bukit di mana dia semalam tinggal melewatkan malam yang dingin. Akan tetapi pagi ini udara cerah dan hangat. Dia melangkah perlahan dari puncak, lenggangnya kokoh dan mantap bagaikan langkah seekor harimau. Dada serta perutnya berkembang kempis karena tarikan napas yang dalam dan panjang. Hawa udara demikian bersihnya, segar memasuki rongga dada dan perut sehingga mendatangkan rasa nikmat dan nyaman.

Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Tubuhnya sedang, kulitnya putih dan wajahnya tidak terlalu tampan sungguh pun juga tidak buruk. Wajah yang lebih tepat disebut ganteng dan gagah, dengan rambut hitam. Alisnya berbentuk golok seolah melindungi sepasang mata yang mencorong namun lembut. Hidungnya mancung dan mulutnya selalu menyungging senyum sehingga wajah yang agak bulat dengan dagu runcing itu nampak ramah penuh pengertian. Pakaiannya sederhana saja seperti seorang pemuda dusun atau juga seorang pemuda kota yang miskin. Dia menggendong sebuah bungkusan kain kuning yang terisi beberapa potong pakaian.

Dilihat keadaannya yang sederhana, sikapnya yang lembut, dan tanpa adanya sepotong pun senjata pada dirinya, tak akan ada orang yang menyangka bahwa dia adalah seorang ahli silat. Padahal sesungguhnya pemuda itu adalah Souw Thian Liong, seorang pendekar yang pernah menggegerkan dua kerajaan.

Di utara dia membantu Kerajaan Kin dalam membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Hiu Kit Bong. Kemudian di Kerajaan Sung Selatan dia pun memegang peranan penting dalam menghancurkan kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui yang terkenal dalam sejarah sebagai seorang pembesar yang korup, lalim dan jahat, yang sudah menguasai kaisar.

Souw Thian Liong mempunyai ilmu silat yang tinggi berkat bimbingan gurunya, yaitu Tiong Lee Cin-jin yang berjuluk Yok-sian (Tabib Dewa) dan yang terkenal di seluruh negara, baik di Kerajaan Kin di utara mau pun di Kerajaan Sung di selatan.

Selama beberapa bulan terakhir Souw Thian Liong melakukan perantauan tanpa tujuan tertentu, hanya menuruti saja ke mana kedua kaki dan perasaan hatinya membawanya. Ia tertarik dengan keindahan alam di bukit itu, maka kemarin dia mendaki bukit, melewatkan malam di puncak dan pagi hari ini dia menuruni puncak bukit dengan santai.

Pada waktu dia tiba di lereng pertama dekat puncak dan melihat tempat itu terbuka, tidak terhalang apa pun sehingga dia dapat menyaksikan tamasya alam yang berada di bawah, dia berhenti, terpesona akan keindahan alam di bawah sana. Hamparan yang amat luas, dengan warna-warni bagaikan sebuah lukisan yang amat indahnya.

Sawah ladang dengan warna hijau dan kuning, bukit-bukit di belakang sana yang tampak kebiruan, sungai yang tampak bagaikan naga yang meliuk-liuk, rumah-rumah di sana-sini dengan gentengnya yang kemerahan. Di sebelah kiri terdapat sekelompok ternak kerbau yang digembala seorang anak remaja. Para petani yang berangkat ke sawah memanggul cangkul.

Bukan hanya penglihatannya yang berpesta menikmati segenap pemandangan indah itu. Juga sepasang telinganya menikmati bunyi-bunyian yang membuat pagi hari itu semakin cerah dan riang. Kicau burung di pohon-pohon, kokok ayam jantan dari kejauhan, diseling suara kerbau menguak dan kambing mengembik, salak anjing dan teriakan penggembala yang menghalau ternak kerbau supaya jangan makan padi-padian yang tumbuh di sawah ladang.

Penciumannya juga menikmati keharuman rerumputan, daun dan bunga yang tumbuh di sekitar lereng itu, dan bau tanah yang basah oleh embun menghangatkan perasaannya. Sinar matahari pagi seolah menggugah segala yang berada di permukaan bumi, baik yang bergerak mau pun yang tidak bergerak, dan mencuci semuanya itu dengan sinarnya yang keemasan dan hangat.

Thian Liong duduk di atas batu besar, seolah-olah menelan semua keindahan itu. Dalam keadaan seperti, di mana hati akal dan pikiran tidak disibukkan dengan urusan tentang diri pribadinya, tanpa disadarinya sebetulnya dia sedang berada dalam keadaan yang disebut bahagia.

Dalam keadaan seperti itu dia bersatu dengan alam, terangkum dalam kekuasaan Tuhan, sumber segala keindahan, pusat segala kebahagiaan. Tidak ada ‘si-aku’ yang susah atau senang, kecewa atau puas, si-aku yang tidak lain hanyalah ciptaan hati akal pikiran, yang sangat lemah terhadap godaan iblis yang menunggangi nafsu sehingga manusia semakin menjauhi Tuhan, kemudian mulailah dia menjadi permainan suka duka buatan nafsu yang diperalat iblis.

Tak lama kemudian keadaan penuh kebahagiaan yang menyelimuti diri Thian Liong itu pun berlalu, lewat bagaikan hembusan angin pagi itu. Begitu pikirannya disibukkan kenangan masa lalu, dia pun mulai menghela napas panjang, bukan lagi helaan napas kebahagiaan, melainkan helaan napas sedih dan haru, mengingat betapa hidupnya amat kesepian.

Keheningan lahir batin yang tadi mendatangkan kebahagiaan, sekarang mulai terganggu kesibukan pikiran Thian Liong yang mengenang masa lalunya. Kesunyian di sekelilingnya membuat lamunannya berlarut-larut.

Terbayang dalam ingatannya ketika ayah dan ibunya meninggal dunia terserang penyakit perut yang melanda dusunnya ketika dia baru berusia lima tahun. Kini sulit baginya untuk mengingat bagaimana wajah ayah dan ibunya. Yang masih teringat olehnya hanya adegan ketika dia menangis di depan peti kedua orang tuanya, dipangku serta dihibur neneknya, Nenek Souw, ibu dari ayahnya. Kemudian neneknya yang sudah tua itu bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Lurah Coa Lun, dan dia sendiri bekerja sebagai penggembala kerbau.

Tadi pada waktu melihat penggembala kerbau di bawah itu, maka mulailah kenangannya tergugah sehingga membuat pikirannya kini sibuk mengenang masa silamnya. Dia bekerja pada Lurah Coa selama lima tahun. Dalam usia sepuluh tahun itu dia berjumpa dengan Tiong Lee Cin-jin atau Yok-sian yang kemudian menjadi gurunya. Dia pergi meninggalkan dusun di lereng Mou-mou-san sesudah neneknya meninggal dunia, menjadi murid Tiong Lee Cin-jin. Ketika itu dia baru berusia sepuluh tahun dan diajak oleh gurunya ke Puncak Pelangi di Pegunungan Go-bi.

Thian Liong memandang ke atas. Langit cerah sekali, matahari pagi mulai meninggi dan sinarnya yang tadi lembut mulai mengeras, panas menyengat kulit. Dia melihat segumpal awan memanjang dan jantungnya berdebar. Dalam pandangannya awan itu membentuk seekor naga. Thian Liong (Naga Langit), itulah namanya.

Awan putih berbentuk naga itu bergerak terbawa angin, maju perlahan, sendiri saja sebab tidak nampak awan lain di langit yang biru. Persis seperti dirinya, seorang diri, sebatang kara mengembara di dunia ini tanpa tujuan tertentu!

Kembali Thian Liong menarik napas panjang. Dia teringat akan semua pengalaman dalam perantauannya selama dua tahun ini. Dia telah banyak terlibat dalam urusan dunia, urusan dua kerajaan. Urusan yang menyebabkan dia bertemu dengan beberapa orang gadis yang sampai sekarang tak mudah dia lupakan, bahkan wajah-wajah mereka kini terbayang dan tersenyum manis kepadanya.

Mula-mula yang nampak adalah wajah Han Bi Lan, gadis berusia sekitar sembilan belas yang selalu berpakaian merah muda, seorang gadis cantik manis yang lincah, galak dan nakal, tapi cerdiknya bukan main. Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang dengan sinom (anak rambut) menghias dahi dan pelipis.

Dahinya berkulit halus, alisnya hitam kecil, matanya laksana bintang, bersinar tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat. Hidungnya mancung, bibirnya menggairahkan dan terdapat lesung pipit di kanan kiri mulutnya, ditambah dagunya yang meruncing, membuat wajah itu nampak manis bukan main. Kulitnya putih kemerahan, tubuhnya padat ramping penuh daya pikat.

Bagaimana dia dapat melupakan gadis yang satu ini? Gadis yang pernah mencuri kitab yang harus dia serahkan kepada perguruan Kun-lun-pai, gadis yang kemudian membantu dia ketika dia difitnah, dan gadis itu pula yang dia tangkap, dia telungkupkan di atas kedua pahanya lalu dia hukum dengan tamparan pada pinggulnya sebanyak sepuluh kali untuk menghukum perbuatannya mencuri kitab!

Peristiwa ini akhirnya membuat dia menyesal karena kemudian baru dia tahu bahwa gadis ini adalah puteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, suami isteri di dusun Kian-cung dekat Telaga Barat yang dia hormati itu! Dia merasa amat menyesal karena Han Bi Lan pernah mengancam akan membalas dendam karena perbuatannya itu. Dara itu meninggalkannya dengan pandang mata penuh kebencian dan dendam!

Thian Liong menghela napas panjang dan berusaha menghilangkan kenangan akan Han Bi Lan itu dengan membayangkan wajah gadis lain. Yang pertama tampak menggantikan bayangan Bi Lan adalah bayangan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In.

Gadis lihai yang berpakaian serba hijau dan memakai bunga mawar merah di rambutnya ini juga cantik jelita dan cerdik sekali, cerdik dan jenaka. Wajahnya bulat dan dia memiliki kerling mata dan senyum bibir yang menggairahkan. Tahi lalat kecil di pipi kiri dekat ujung bibir, menambah manisnya. Tubuhnya ramping dan gadis berusia sekitar dua puluh tahun ini bagaikan setangkai bunga sedang mekar indah.

Siang In bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga seorang ahli racun dan senjata rahasianya Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun) benar-benar berbahaya bagi lawannya. Walau pun tidak lama, pergaulannya dengan gadis ini cukup erat dan gadis ini pun sudah membantu dia ketika dia difitnah dan dimusuhi oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai.

Setelah bayangan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In menghilang, muncul bayangan seorang gadis lainnya, yaitu Pek Hong Nio-cu yang nama aslinya adalah Moguhai. Dia puteri Kaisar Kerajaan Kin di utara, akan tetapi sesungguhnya dia lebih pantas disebut gadis kang-ouw dari pada seorang puteri istana yang biasanya hanya dipingit (tak boleh keluar) di istana.

Puteri Moguhai biasanya mengenakan pakaian sutera serba putih. Rambutnya yang hitam panjang dan digelung rapi itu dihias dengan burung Hong dari perak, atau kadang-kadang dikuncir tebal dengan pita merah. Pakaiannya yang serba putih itu berpotongan pakaian puteri Kin, dengan leher baju berhiaskan bulu indah. Senjatanya adalah sebatang pedang bengkok dengan ukiran naga emas, menjadi tanda bahwa puteri ini memiliki kekuasaan karena pedang itu merupakan pemberian Kaisar Kin.

Gadis puteri kaisar Kin ini memiliki wajah yang sama benar dengan wajah Ang Hwa Sian-li Thio Siang In, hanya pakaian serta sanggul rambutnya saja yang berbeda. Memang luar biasa sekali, dan hal ini masih membuat dia heran dan bingung bagaimana ada dua orang gadis yang demikian persis sama. Tetapi dia tahu perbedaan antara mereka. Kalau Puteri Moguhai yang usianya juga sama dengan Thio Siang In itu mempunyai tahi lalat kecil di sebelah kanan mulutnya, sebaliknya Thio Siang In mempunyai tahi lalat pada sebelah kiri mulutnya.

Dia tersenyum mengingat betapa dua orang gadis itu pernah menggoda dan mengujinya dengan berpakaian dan bersanggul yang persis sama. Tentu saja dia dapat membedakan mereka dari tahi lalat mereka, tapi dia sengaja menebak salah untuk menyenangkan hati mereka dan untuk menyimpan di dalam hati bahwa sesungguhnya dia tahu akan ‘rahasia’ perbedaan antara mereka itu, yaitu pada letak tahi lalat kecil itu.

Thian Liong menarik napas panjang. Pengalamannya dengan Puteri Moguhai dalam suka duka membasmi pemberontakan di Kerajaan Kin, dan ketika membasmi pemberontakan di Kerajaan Sung yang dipimpin oleh Menteri Chin Kui, membuat mereka bergaul dengan akrab sekali.

Dia sangat kagum kepada Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu, akan tetapi dia tahu diri. Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri kaisar, bangsawan tinggi yang dimuliakan orang. Sedangkan dia hanya seorang pemuda yatim piatu yang sebatang kara dan tidak memiliki apa-apa. Bahkan rumah tempat tinggal pun dia tidak punya!

Dalam lamunannya, bermunculan wajah gadis murid Kun-lun-pai yang bernama Kim Lan itu, gadis yang karena peraturan gurunya hendak memaksa dia menjadi suaminya! Gadis yang cantik, tetapi galak dan angkuh. Bukan hanya ingin memaksa dia menjadi suaminya karena dia sudah mengalahkannya, bahkan kemudian menuduh dia memperkosa Kim Lan dan sumoi-nya, Ai Yin! Akibat dari tuduhan itu dia lalu dimusuhi para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai!

Untung ada gurunya, Tiong Lee Cin-jin yang membelanya sehingga terbongkarlah rahasia Cia Song yang melakukan perkosaan dan membantu semua pemberontakan itu, menjadi kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui. Cia Song yang tersesat itu akhirnya tewas setelah roboh tidak berdaya akibat mengadu tenaga sakti dengannya, kemudian dihujani bacokan pedang oleh tiga orang gadis yang pernah diperkosanya, yaitu Kim Lan, Ai Yin, dua orang murid Kun-lun-pai itu, dan Kwee Bi Hwa, puteri guru silat Kwee Bun To yang lihai pula.

Kembali Thian Liong menghela napas panjang, menghentikan lamunannya yang berakhir dengan munculnya bayangan Han Bi Lan lagi. Entah kenapa bayangan Han Bi Lan selalu mengikutinya dan teringat akan gadis yang menangis ketika pinggulnya dia tampari lantas mengancam akan membalas dendam itu, dia merasa menyesal bukan main.

Setelah menghentikan lamunannya dia pun menepuk dahi sendiri sambil berkata, “Hemm, cengeng!” Dia mencela diri sendiri lalu bangkit dari batu yang didudukinya, menerawang jauh ke bawah, sampai ke kaki langit yang samar-samar dilatar belakangi bukit-bukit.

“Benar, aku harus menghadap Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi. Aku harus menjelaskan duduk perkaranya sampai aku menampar pinggul Bi Lan seperti menghukum anak kecil supaya mereka tidak akan salah paham lalu menganggap aku tidak sopan dan kurang ajar terhadap puteri mereka.”

Sesudah hatinya mengambil keputusan ini, wajahnya yang tadi agak suram tenggelam ke dalam lamunan tentang masa lalu, menjadi cerah kembali. Pemandangan indah di bawah kakinya yang tadi lenyap, sama sekali tak tampak olehnya ketika dia melamun, sekarang tampak lagi dengan indahnya.

Dengan hati terasa ringan dan nyaman, serta pikiran terasa jernih, Thian Liong menghirup udara pegunungan yang sejuk nyaman itu. Di bawah siraman sinar matahari yang sudah mulai menyengat kulit, Thian Liong menuruni bukit itu dengan langkah ringan dan mantap. Sekarang perjalanannya sudah memiliki tujuan tertentu, yaitu menuju Telaga Barat untuk mengunjungi kediaman Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.....

********************

Kita mendahului perjalanan Thian Liong dan menjenguk keadaan Han Si Tiong serta Lian Hong Yi. Setelah suami isteri pendekar ini bersama Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu membantu para pejabat menggulingkan kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui di depan Kaisar Kao Tsung dari Kerajaan Sung Selatan, suami isteri ini kembali ke rumah mereka di dusun Kian-cung dekat See-ouw (Telaga Barat) yang luas dan indah pemandangannya.

Kini mereka merasa gembira kembali dan penuh harapan karena mereka mendengar dari Panglima Kwee Gi di kota raja bahwa Han Bi Lan, anak mereka yang hilang diculik orang ketika berusia tujuh tahun, kini ternyata masih hidup bahkan pernah mengunjungi Kwee-ciangkun. Dari Kwee-ciangkun (Panglima Kwee) mereka mendengar bahwa puteri mereka telah menjadi seorang gadis yang berkepandaian tinggi.

Memang ada suatu hal yang membuat mereka kecewa dan khawatir, yaitu bahwa Bi Lan belum mengetahui di mana mereka berada. Mereka tidak pernah memberi kabar kepada siapa pun juga bahwa mereka mengasingkan diri di dekat telaga itu. Karena itu Panglima Kwee Gi juga tidak dapat memberi tahu Bi Lan di mana mereka berada. Namun mereka yakin bahwa Bi Lan yang kini sudah menjadi gadis yang lihai itu tentu akhirnya akan dapat menemukan mereka.

Namun sudah lebih dari setahun mereka menanti secara sia-sia. Biar pun mereka merasa sangat yakin bahwa puteri mereka masih hidup, tetapi kerinduan dan kesedihan meliputi hati mereka karena sampai setahun lebih belum juga mereka dapat melihat anak mereka.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang, mandi dan makan, mereka duduk di serambi depan rumah mereka. Seperti biasa setiap sore mereka duduk di serambi itu menghadapi minuman air teh dan makanan kecil yang dihidangkan oleh seorang wanita setengah tua yang menjadi pelayan mereka.

Kini Han Si Tiong sudah menjadi pria berusia sekitar empat puluh empat tahun. Wajahnya tetap gagah dan jantan, dengan kumis serta jenggot pendek. Pakaiannya sederhana saja seperti seorang petani biasa, tapi sikapnya yang tegap dan tegak membayangkan bahwa dia bukanlah seorang petani biasa yang lemah dan rendah diri.

Isterinya Liang Hong Yi, kini sudah berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun. Masih kelihatan cantik manis dan tubuhnya juga masih padat langsing walau pun pandang matanya sayu dan wajahnya diliputi mendung sehingga tampak muram. Dia pun berpakaian sederhana.

Suami isteri ini kembali kehilangan kegembiraannya. Mereka telah menanti lebih dari satu tahun, namun anak tunggal mereka belum juga muncul. Akan tetapi yang amat menderita adalah Liang Hong Yi yang merasa amat rindu kepada puterinya.

Melihat kehidupan suami isteri yang seperti petani sederhana itu, takkan ada orang yang mengira bahwa dahulu suami isteri ini pernah menjadi perwira-perwira andalan mendiang Jenderal Gak Hui, memimpin pasukan berani mati yang dikenal dengan sebutan Pasukan Halilintar!

Suami isteri ini memang bukan orang-orang lemah. Han Si Tiong adalah seorang pendekar yang di waktu mudanya mempelajari berbagai ilmu silat dari beberapa aliran. Akan tetapi yang paling menonjol adalah ilmu silat aliran Siauw-lim-pai utara yang amat sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.

Sementara itu Liang Hong Yi juga bukan wanita lemah. Dia pernah menjadi murid Bian Hui Nikouw. Kepandaiannya yang paling hebat adalah ilmu ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat dia dapat bergerak amat cepat dan lincah.

“Tiong-ko, kita sudah menunggu setahun lebih sejak kita mendengar dari Kwee-ciangkun bahwa anak kita masih hidup. Akan tetapi mengapa sampai sekarang dia belum muncul juga? Jangan-jangan dia tidak dapat mencari tempat tinggal kita. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi ke kota raja saja? Siapa tahu dia akan mendatangi rumah Kwee-ciangkun lagi,” kata Liang Hong Yi dengan suara sedih.

Han Si Tiong menggeleng kepalanya. “Kurasa kurang tepat kalau kita pergi ke kota raja, Yi-moi. Bagaimana kalau kita pergi kemudian Bi Lan datang dan melihat kita tidak berada di rumah? Hal itu akan membuat dia kecewa dan bingung. Jika kita tidak menemukan dia di kota raja, lalu kita harus mencari ke mana? Kita tidak tahu dia berada di mana, Yi-moi. Andai kata dia datang kepada Kwee-ciangkun, tentu Kwee-ciangkun akan memberi tahu kepadanya di mana tempat tinggal kita karena kita sudah memberi tahu Kwee-ciangkun bahwa kita tinggal di dusun ini.”

Liang Hong Yi menghela napas lalu mengangguk. “Engkau benar, Tiong-ko. Baiklah, aku akan menunggu di sini dengan sabar, akan tetapi sampai kapan? Sudah dua belas tahun aku selalu menunggu dan mengharapkan bertemu kembali dengan anakku.” Suara wanita itu gemetar dan dia pun menggigit bibirnya untuk menahan tangis.

“Sudahlah, Yi-moi, kita tidak boleh terlalu bersedih, tidak boleh putus asa. Kita harus rajin berdoa semoga Thian (Tuhan) melindungi anak kita dan menuntunnya agar dapat datang bertemu dengan kita di sini.”

Liang Hong Yi mengangguk-angguk membenarkan pendapat suaminya walau pun dia tak dapat bicara lagi karena hatinya merasa terharu.

Ketika memandang keluar serambi tiba-tiba Liang Hong Yi terbelalak lalu dia memegang tangan suaminya sambil bangkit berdiri.

“Tiong-ko, anak kita...?”

Han Si Tiong memandang keluar dan dia melihat seorang gadis dengan seorang pemuda berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah mereka! Gadis itu cantik dan pemuda itu tampan. Gadis itu memang sebaya dengan puteri mereka yang kini berusia kurang lebih sembilan belas tahun. Akan tetapi tentu saja Han Si Tiong dan Liang Hong Yi tidak dapat memastikan apakah gadis itu anak mereka atau bukan.

Han Si Tiong dan Liang Hong Yi sudah bangkit lalu cepat menuruni serambi, menjemput gadis dan pemuda itu di pekarangan. Jatung mereka berdebar-debar penuh ketegangan dan harapan. Liang Hong Yi menahan diri untuk tidak berseru memanggil nama anaknya karena dia masih ragu apakah gadis ini benar Han Bi Lan, anaknya yang kedatangannya dia nanti-nantikan.

Pemuda dan gadis itu kini berhenti melangkah. Mereka saling berhadapan dengan suami isteri itu. Suami isteri itu semakin bimbang dan ragu karena melihat betapa gadis itu tidak segera berlari menghampiri mereka. Kalau gadis itu Han Bi Lan, tentu akan segera berlari dan merangkul ibunya! Tak mungkin anak mereka lupa kepada mereka. Akan tetapi gadis ini hanya berdiri sambil memandang dengan bibir tersenyum seperti orang mengejek! Han Si Tiong dan Liang Hong Yi memandang penuh perhatian.

Gadis itu memang cantik sekali, wajahnya bulat telur dan kulitnya putih mulus. Sepasang matanya lebar dan kerlingnya tajam, hidungnya mancung dan mulutnya agak lebar namun menggairahkan dengan bibirnya yang merah. Rambutnya digelung seperti sanggul wanita bangsawan dan dihias dengan perhiasan emas permata, tubuhnya yang padat langsing itu pun mengenakan pakaian yang mewah. Pada punggungnya tergantung sepasang pedang beronce merah.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar dan terlihat kokoh kuat. Wajahnya dapat dibilang tampan, namun mukanya hitam, demikian pula kulit pada leher serta kedua tangannya. Sepasang matanya mencorong dan tampaknya pemuda ini sangat cerdik. Di pinggangnya tergantung sebatang tongkat hitam yang panjangnya hanya selengan. Pemuda ini juga mengenakan pakaian yang indah dan mewah.

“Anda berdua siapakah dan ada keperluan apa datang berkunjung ke rumah kami?” tanya Han Si Tiong sambil menahan perasaannya yang terguncang agar suaranya tak gemetar. Pandang matanya tak pernah lepas dari wajah gadis itu. Demikian pula dengan isterinya, memandang gadis itu dengan penuh perhatian dan penuh harapan yang mulai meragu.

Gadis itu hanya tersenyum manis, akan tetapi senyumnya mengandung ejekan. Pemuda tinggi besar bermuka hitam itulah yang kemudian menjawab dengan sikap angkuh, tanpa memberi hormat kepada suami isteri itu sebagai mana layaknya sikap tamu terhadap tuan rumah.

“Aku bernama Bouw Kiang dan sumoi-ku ini bernama Bong Siu Lan. Apakah kami tengah berhadapan dengan Han Si Tiong dan isterinya, bekas perwira yang memimpin Pasukan Halilintar dan dahulu dalam pertempuran telah membunuh Pangeran Cu Si dari Kerajaan Kin?” Pertanyaan langsung ini diajukan dengan suara yang mengandung kesombongan.

Dari pertanyaan itu saja Han Si Tiong dan Liang Hong Yi segera dapat menduga bahwa kedatangan pemuda dan gadis ini pasti tak mengandung maksud baik. Akan tetapi suami isteri ini adalah orang-orang gagah yang berwatak pendekar. Maka dengan tegas Han Si Tiong menjawab.

“Benar, aku adalah Han Si Tiong dan ini isteriku Liang Hong Yi. Ada keperluan apa kalian mengunjungi kami?” tanya Han Si Tiong.

“Kami berdua adalah murid-murid suhu Ouw Kan dan kami ditugaskan untuk membunuh kalian sebagai pembalasan atas kematian Pangeran Cu Si. Nah, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, bersiaplah kalian untuk mati di tangan kami!” Sesudah berkata demikian, Bouw Kiang segera mengambil tongkat hitam dari gantungan pada pinggangnya dan Bong Siu Lan menghunus sepasang pedangnya.

Melihat ini, dengan tenang Han Si Tiong berkata. “Apakah kalian hendak menyerang kami yang bertangan kosong?”

Bong Siu Lan tertawa mengejek. “Hemm, kami bukan pengecut. Ambil dan keluarkanlah semua senjata kalian. Kami tidak tergesa-gesa karena kalian tidak akan dapat lolos dari kematian!”

“Biar aku yang mengambil senjata-senjata kami!” kata Liang Hong Yi.

Wanita ini lalu berlari cepat memasuki rumah, langsung ke dalam kamar untuk mengambil pedangnya dan pedang suaminya. Akan tetapi selain mengambil dua batang pedang itu, dia pun tidak lupa mengambil sehelai kain putih yang ada tulisannya, menyelipkan kain putih itu pada ikat pinggangnya kemudian cepat berlari keluar. Dia menyerahkan pedang suaminya itu kepada Han Si Tiong dan keduanya sudah siap menghadapi lawan.

Liang Hong Yi mengambil kain putih bertulis itu kemudian berkata kepada suaminya. “Kita perlihatkan ini kepada mereka?”

Han Si Tiong mengambil kain putih itu dan menyelipkan ke ikat pinggangnya. “Tidak perlu. Kita berani mempertanggung-jawabkan perbuatan kita dan tidak takut mati!”

Pendekar ini memang gagah dan jantan, jujur tetapi keras dan kasar. Malu baginya untuk berlindung di belakang surat di atas kertas putih pemberian Puteri Moguhai dari Kerajaan Kin itu.

Dahulu, ketika Ouw Kan sendiri datang dan hendak membunuh mereka, Puteri Moguhai datang pula bersama Souw Thian Liong lantas menolong mereka dan mengusir Ouw Kan yang tak kuat menandingi mereka sehingga melarikan diri. Kemudian, setelah berkenalan, Puteri Moguhai menulis di atas kain putih itu dan mengatakan bahwa jika Ouw Kan berani datang mengganggu lagi, agar surat di atas kain putih itu diperlihatkan kepada Ouw Kan.

Namun melihat bahwa yang mengancam mereka hanya dua orang muda yang mengaku sebagai murid-murid Ouw Kan, Han Si Tiong tak mau menunjukkan surat Puteri Moguhai yang ditujukan kepada Ouw Kan itu. Kalau dua orang muda itu menolak dan tidak menaati surat itu, dia akan merasa malu sekali, disangka bersembunyi di balik surat karena takut!

“Kami sudah siap!” kata Han Si Tiong sambil melintangkan pedangnya depan dada. Liang Hong Yi terpaksa memasang kuda-kuda karena suaminya tak mau memperlihatkan surat itu kepada dua orang muda yang mengancam mereka.

“Lihat serangan!” pemuda bernama Bouw Kiang itu menerjang dengan pedangnya. Bagai kilat menyambar pedang itu menusuk ke arah leher Han Si Tiong. Pendekar ini menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

“Tranggg...!”

Bunga api berpijar dan Han Si Tiong terpental mundur tiga langkah. Dia terkejut sekali dan maklum bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali, Namun dia tidak gentar dan cepat mengirim serangan balasan. Mereka segera saling serang dengan serunya.

Sementara itu, melihat suaminya sudah diserang, Liang Hong Yi tak mau tinggal diam dan dialah yang mendahului menyerang gadis bernama Bong Siu Lan itu.

“Singgg...! Tranggg...!”

Liang Hong Yi juga terhuyung ke belakang ketika pedangnya ditangkis gadis itu. Dia pun tahu bahwa lawannya ini tangguh bukan main. Akan tetapi semenjak membantu suaminya memimpin Pasukan Halilintar berperang dan setiap saat terancam maut, kini Liang Hong Yi sudah menjadi seorang wanita yang amat berani. Meski maklum bahwa dia kalah kuat, namun dia melawan mati-matian sehingga dua orang wanita ini pun saling serang dengan serunya.


Akan tetapi, biar pun suami isteri itu mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga mereka, segera ternyata bahwa mereka berdua sama sekali bukan lawan seimbang bagi kedua orang muda murid Ouw Kan itu. Baru lewat tiga puluh jurus saja, di mana suami isteri itu kebanyakan hanya mampu menangkis dan mengelak, Liang Hong Yi sudah roboh dengan pundak terluka pedang Bong Siu Lan!

Melihat ini Han Si Tiong cepat-cepat melompat untuk melindungi isterinya, akan tetapi dia sendiri lantas menerima tusukan pedang Bouw Kiang yang menembus dadanya sehingga dia tergulling roboh di atas tubuh isterinya. Darah bercucuran dari dadanya, membasahi pakaian Liang Hong Yi yang telah berlepotan darahnya sendiri yang keluar dari luka pada pundaknya.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner