JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-02


Bong Siu Lan hendak mengirim tusukan maut kepada Liang Hong Yi yang sudah terluka pundaknya, akan tetapi Bouw Kiang cepat memegang lengannya.

“Tahan dulu, sumoi (adik seperguruan)!”

Bong Siu Lan memandang heran, tetapi Bouw Kiang membungkuk dan mencabut sehelai kain putih yang terselip di ikat pinggang Han Si Tiong. Dia tertarik karena tadi Liang Hong Yi hendak memperlihatkan surat itu kepada mereka akan tetapi Han Si Tiong mencegah isterinya. Bong Siu Lan turut membaca tulisan di kain putih yang dipegang suheng (kakak seperguruan) itu.

Begitu selesai membaca sedikit tulisan di atas kain putih itu, wajah kedua orang muda itu tiba-tiba saja berubah pucat. Keduanya saling pandang dan mata mereka terbelalak, jelas bahwa mereka tampak sangat ketakutan.

“Celaka...!” kata ini hampir berbareng keluar dari mulut mereka, lalu keduanya melompat pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat sambil membawa kain putih yang terdapat tulisan Puteri Moguhai itu.

Sesudah mereka pergi, Liang Hong Yi segera keluar dari tindihan tubuh suaminya. Melihat suaminya terluka dengan napas terengah itu, dia pun menjerit dan menangis, lalu dengan susah payah dia hendak mengangkat tubuh suaminya yang mandi darah untuk dibawa ke dalam. Dia sendiri terluka cukup berat pada pundak kirinya, maka sukarlah untuk dapat mengangkat tubuh suaminya. Dia lalu berseru memanggil pelayannya.

Wanita yang usianya sudah lima puluh tahun itu, yang tadi bersembunyi di dalam rumah ketakutan, tergopoh keluar mendengar panggilan majikan wanitanya. Melihat suami isteri itu mandi darah, dia pun menangis.

“Bantu aku mengangkat ke dalam...,” kata Liang Hong Yi.

Pelayan itu membantunya, akan tetapi tetap saja mereka sukar dapat mengangkat tubuh Han Si Tiong yang berat. Pada saat itu pula tampak bayangan merah muda berkelebat dan seorang gadis berpakaian serba merah muda sudah memasuki pekarangan. Gadis ini memandang dengan mata terbelalak kepada kedua orang wanita yang sedang mencoba mengangkat tubuh Han Si Tiong yang berlumuran darah.

“Ibuuuu...! Ayaaah...!” gadis itu menjerit sambil berlari menghampiri.

Liang Hong Yi menengok, matanya terbelalak. Biar pun anaknya kini sudah menjadi gadis dewasa, tetapi dia tidak ragu lagi bahwa gadis itu adalah Han Bi Lan, puterinya. Pandang matanya saja sudah membuat dia yakin.

“Bi Lan... anakku...!” Sesudah berkata demikian dia pun langsung terkulai lemas dan tentu akan roboh kalau Bi Lan tidak segera menangkap tubuhnya.

“Ayah..., kalian kenapa...?” katanya.

Akan tetapi dia tidak mau tenggelam dalam kekagetan dan keharuan, melainkan dengan sigap dia memondong tubuh ayah ibunya itu dengan kedua tangan, disampirkan di kedua pundaknya lalu dia membawa keduanya melangkah masuk rumah, diikuti pelayan itu yang merasa lega bahwa ada orang yang menolongnya. Pelayan itu sudah lima tahun menjadi pembantu rumah tangga suami isteri itu dan dia sudah mendengar dari kedua majikannya bahwa puteri mereka hilang ketika berusia tujuh tahun.

Dengan cekatan Han Bi Lan merebahkan tubuh ayah ibunya di atas pembaringan, lalu dia menotok jalan darah pada tubuh ayahnya untuk menghentikan keluarnya darah, juga pada tubuh ibunya sehingga darah berhenti mengalir keluar.

Liang Hong Yi siuman terlebih dulu. Begitu bangkit dia memandang puterinya, kemudian memandang suaminya yang masih belum sadar dan Bi Lan sedang duduk mencoba untuk memperkuat keadaan tubuh ayahnya yang terluka parah sekali itu.

“Tiong-ko...! Tiang-ko..., suamiku... sadarlah, Tiong-ko. Ini anak kita, Han Bi Lan, sudah pulang...!” Dia mengguncang tubuh suaminya. Pendekar itu mengeluh lirih dan membuka kedua matanya.

“Ayah... ini aku, Bi Lan. Ayah...!” Bi Lan tak dapat menahan runtuhnya air mata karena dia tahu benar bahwa ayahnya terluka sangat parah dan agaknya tidak mungkin dapat diobati lagi.

Han Si Tiong membuka sepasang matanya. Pertama-tama dia memandang isterinya, lalu memandang wajah Bi Lan dan dia pun tersenyum! Pendekar yang telah berada di ambang kematian itu tersenyum dan senyumnya jelas membayangkan kegirangan hatinya.


“Terima kasih kepada Thian! Engkau selamat, Yi-moi, dan... engkau telah pulang, Bi Lan. Jaga ibumu baik-baik, anakku... Yi-moi... aku tak kuat lagi... selamat tinggal...” Kepala itu terkulai dan Han Si Tiong menghembuskan napas terakhir.

Pedang tadi sudah menusuk hingga mengenai jantungnya. Sudah luar biasa sekali kalau dia mampu bertahan sampai dapat siuman dan bicara kepada isteri dan puterinya.

“Tiong-ko...!” Liang Hong Yi kembali jatuh pingsan, bagian atas tubuhnya menindih tubuh suaminya.

“Ayah...!” Bi Lan juga menangis, akan tetapi dia lalu sibuk mengangkat tubuh ibunya dan merebahkan di pembaringan lain.

Sambil menangis pelayan wanita itu lalu memberi tahu para tetangga, maka sebentar saja para tetangga berdatangan melayat karena suami isteri itu dihormati para tetangga yang banyak menerima bantuan mereka.

Masih bagus bahwa Bi Lan sudah kembali kepada ibunya. Kalau tidak, belum tentu Liang Hong Yi akan kuat menahan kedukaannya. Ia amat mencinta suaminya. Suaminya itulah yang mengangkatnya dari kehidupan yang gelap dan hitam. Suaminya yang membuat dia bisa melepaskan diri dari dunia sesat di mana dia terpaksa menjadi wanita panggilan bagi para bangsawan dan hartawan. Biar pun ketika itu derajatnya tidak serendah para pelacur biasa karena dia hanya melayani orang-orang bangsawan, tetap saja dia adalah seorang pelacur.

Pertemuannya dengan Han Si Tiong sudah membebaskannya dari kehidupan itu. Dengan suaminya dia mengalami suka dukanya. Dia amat mencinta dan dicinta suaminya dan kini suaminya sudah pergi meninggalkannya. Karena itu kehadiran Bi Lan merupakan hiburan besar dan mengembalikan gairahnya untuk melanjutkan hidup yang lebih banyak dukanya dari pada sukanya itu.

Selama masa perkabungan Han Bi Lan selalu menahan diri untuk tidak banyak bertanya. Sesudah pemakaman jenazah ayahnya diurus dengan baik, barulah dia mengajak ibunya bercakap-cakap di malam hari setelah pemakaman itu.

Mula-mula dia mengobati luka di pundak ibunya. Setelah luka itu dibalut, mereka duduk di tepi pembaringan, saling pandang dan tiba-tiba Liang Hong Yi merangkul puterinya lantas menangis tersedu-sedu. Bi Lan tidak dapat menahan keharuannya. Dia merasa iba sekali kepada ibunya dan balas merangkul.

Mereka bertangisan sampai beberapa lamanya. Bi Lan lalu melepaskan rangkulannya dan sambil memegangi kedua lengan ibunya dia berkata dengan suara lembut.

“Sudah, Ibu. Tidak baik bila kita terus membenamkan diri di dalam kedukaan. Ayah tentu tidak akan senang melihat kita berduka terus. Jangan sampai kedukaan itu menggerogoti hati Ibu sehingga mendatangkan penyakit. Marilah kita bicara, Ibu. Sejak aku pulang, baru sekarang inilah kita sempat bicara.”

Ibunya mengangguk-angguk sambil menyusut air matanya. Dia menghentikan tangisnya, lalu memandang puterinya sampai lama, seolah sedang menilai sebuah batu permata, lalu dirangkulnya puterinya itu dan diciumnya kedua pipi Bi Lan.

“Aih, Bi Lan, betapa selama belasan tahun ini setiap hari aku dan ayahmu mengharapkan pertemuan ini. Satu tahun yang lalu kami mendengar dari Panglima Kwee Gi di kota raja bahwa engkau masih hidup dan sudah berkunjung ke sana. Engkau membunuh Jenderal Ciang Sun Bo dan puteranya hingga menggegerkan kota raja. Kami bangga dan gembira sekali mendengar keterangan Panglima Kwee Gi itu, anakku. Kemudian kami menunggu-nunggu engkau pulang, akan tetapi selama setahun lebih belum juga engkau datang. Dan begitu engkau datang keadaan sudah terlambat, anakku, Ayahmu terluka parah...”

“Itulah yang mengganggu hatiku sejak aku datang. Aku sengaja menunda pertanyaan ini sampai pemakaman selesai. Ibu, sebenarnya apakah yang telah terjadi sehingga Ibu dan Ayah sampai terluka? Siapakah yang melakukan hal itu, Ibu?” Gadis itu bertanya dengan suara lembut, akan tetapi di dalam suara itu terkandung ancaman terhadap orang-orang yang telah melukai ibunya dan membunuh ayahnya.

“Bi Lan anakku, pengalaman Ayah dan Ibumu hanya akan mendatangkan kenangan sedih bagiku, maka sebaiknya engkau yang lebih dahulu menceritakan tentang dirimu. Apa saja yang kau alami selama engkau diculik orang dan Lu-ma dibunuh. Aku dan Ayahmu sudah mendengar sedikit tentang dirimu, yaitu bahwa engkau diculik oleh seorang datuk Bangsa Uigur bernama Ouw Kan, kemudian engkau dirampas oleh pendeta Tibet yang bernama Jit Kong Lhama lalu menjadi muridnya, dan yang terakhir engkau menjadi murid Kun-lun-pai. Cerita yang kudengar hanya sampai kunjunganmu di kota raja, membunuh Jenderal Ciang dan puteranya sehingga menggegerkan kota raja, kemudian engkau diselundupkan oleh Panglima Kwee keluar kota raja dengan selamat. Kemudian bagaimana selanjutnya, anakku? Bagaimana pula engkau dapat mengetahui bahwa kami tinggal di sini?”

“Benar seperti yang telah Ibu dengar dari Panglima Kwee itu. Sesudah tamat belajar ilmu silat dari Suhu Jit Kong Lhama, aku lalu pergi ke kota raja untuk pulang ke rumah. Akan tetapi rumah kita telah ditempati Jenderal Ciang Sun Bo dan anaknya, Ciang Ban. Mereka pura-pura menyambutku dengan baik dan mengaku sebagai sahabat baik ayah, padahal mereka hendak mencelakai aku, sebab itu aku lalu membunuh mereka. Untung Panglima Kwee bisa menolong dan menyelundupkan aku keluar kota raja. Aku lalu merantau untuk mencari Ayah dan Ibu karena Panglima Kwee sendiri tidak tahu di mana adanya Ayah dan Ibu. Akan tetapi usahaku tidak berhasil.”

“Dan engkau menjadi murid Kun-lun-pai?”

“Benar, Ibu. Pada saat itu aku belum meninggalkan Suhu Jit Kong Lhama. Aku meminjam kitab pusaka milik Kun-lun-pai kemudian mempelajarinya di bawah bimbingan Suhu. Pada saat aku mengembalikan kitab itu, aku diakui sebagai murid Kun-lun-pai oleh para ketua Kun-lun-pai.”

“Setelah itu, lalu bagaimana? Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa kami tinggal di sini?” tanya Liang Hong Yi.

Bi Lan tidak ingin menceritakan pengalamannya dengan Thian Liong, terlebih lagi dia tidak mau menceritakan bahwa dia telah ditampari oleh pemuda itu, ditampari pinggulnya!

“Aku bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Souw Thian Liong dan dialah yang memberi-tahu kepadaku di mana Ibu dan Ayah tinggal. Begitu tahu aku segera langsung pergi mencari ke sini.”

“Souw Thian Liong? Ahh, pemuda yang sangat lihai dan baik budi itu! Dia adalah seorang pendekar sejati, dan dialah yang sudah berjasa besar menyelamatkan Sri Baginda Kaisar dengan membongkar rahasia kejahatan Perdana Menteri Chin Kui! Benar-benar pemuda yang gagah perkasa dan pantas sekali dia mendapatkan jodoh seperti Puteri Moguhai itu! Mereka sungguh merupakan pasangan yang sangat tepat. Prianya tampan dan lihai, ada pun wanitanya amat cantik dan juga tidak kalah lihainya!”

“Puteri Moguhai, Ibu? Siapakah dia?”

“Engkau sudah mengenal Souw Thian Liong tetapi tidak mengenal Puteri Moguhai? Ahh, namanya di dunia kang-ouw adalah Pek Hong Nio-cu, dan dia adalah sahabat baik Souw Thian Liong!”

“Ohh, gadis cantik yang memakai perhiasan rambut Burung Hong perak itu? Hemm…, dia itu seorang puteri? Aku pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu bahwa dia adalah seorang puteri.”

“Dia adalah puteri Raja Kin, anakku. Akan tetapi hatinya amat baik, bahkan dia membantu Sri Baginda Kaisar Kerajaan Sung pada waktu Perdana Menteri Chin Kui memberontak. Dan dia akrab sekali dengan Souw Thian Liong itu.”

Ada perasaan tidak enak menyelimuti hati Bi Lan. Entah kenapa, mendengar Thian Liong akrab dengan puteri Kerajaan Kin, hatinya menjadi makin marah dan benci sekali kepada pemuda itu!

“Sekarang ceritakanlah Ibu, apa yang sudah terjadi dan siapa yang melukai Ayah dan Ibu sampai Ayah tewas karena lukanya?”

Liang Hong Yi menarik napas panjang, teringat lagi akan kematian suaminya. Akan tetapi kehadiran Bi Lan sudah menguatkan hatinya, maka dia pun mulai bercerita.

“Mungkin engkau masih ingat. Waktu itu engkau baru berusia tujuh tahun ketika Ayahmu dan aku pergi memenuhi tugas memimpin pasukan membantu barisan Jenderal Gak Hui untuk berperang melawan pasukan Kerajaan Kin di utara.”

“Aku masih ingat, Ibu. Bahkan kalau tidak salah aku sempat memesan kepada Ayah agar membawakan sebuah pedang bengkok seperti yang biasa digunakan orang-orang utara.”

“Benar, Bi Lan. Kau tunggulah sebentar!”

Liang Hong Yi berlari meninggalkan anaknya, memasuki kamarnya lalu dia kembali sambil membawa sebatang pedang bengkok yang indah sekali, terbalut emas dan terukir indah.

“Nah, inilah pedang yang kau pesan itu. Ayahmu sengaja membawa pedang ini untukmu. Dia mengambil pedang ini dari Pangeran Cu Si, seorang pangeran dari Kerajaan Kin yang tewas di tangan ayahmu dalam perang itu. Akan tetapi ketika kami kembali ke rumah kita di kota raja, engkau telah hilang diculik orang dan Lu-ma telah terbunuh!”

“Hemm, Ouw Kan yang melakukan itu. Dialah yang membunuh Lu-ma dan untuk itu aku akan mencarinya kemudian membalaskan kematian Lu-ma!” kata Bi Lan.

“Ya, kami segera mendapatkan keterangan dari Perwira Kwee dan kami sudah menduga bahwa yang membunuh Lu-ma, melukai tukang kebun dan menculikmu adalah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan. Kami mengembalikan kedudukan kami kepada Kaisar kemudian pergi merantau ke utara untuk mencari Ouw Kan, akan tetapi setelah dua tahun merantau kami tetap tidak berhasil menemukan Ouw Kan atau menemukan engkau. Kami menjadi putus asa dan akhirnya kami tinggal di sini, tak ingin kembali ke kota raja. Kami hidup tenteram di tempat ini meski siang malam kami mengharapkan kedatanganmu. Kemudian, kurang lebih dua tahun yang silam, pada suatu hari Ouw Kan muncul di sini dan dia menyerang kami, katanya untuk membalaskan kematian Pangeran Cu Si di tangan kami ketika terjadi perang. Kami berdua tidak dapat menandinginya, bahkan aku telah terluka pada pahaku. Kami berdua nyaris tewas di tangan Ouw Kan. Untung ketika itu mendadak muncul Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai itu yang menolong kami. Ouw Kan lalu melarikan diri karena tidak kuat menandingi mereka berdua. Kalau Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu tidak datang menolong, tentu pada waktu itu Ayah dan Ibumu sudah tewas.”

Bi Lan termenung. Jadi orang tuanya berhutang budi, bahkan nyawa kepada Thian Liong! Hal ini membuat hatinya penuh kebimbangan. Jika dia ingat akan perbuatan Thian Liong, menghajarnya seperti anak kecil, menelungkupkan tubuhnya di atas kedua pahanya lalu menampari pinggulnya sampai sepuluh kali, timbul amarah dan bencinya kepada pemuda itu! Dia akan memperdalam ilmunya, kemudian membalas dendam itu.

Tetapi Thian Liong yang telah memberi-tahu kepadanya akan tempat tinggal orang tuanya, bahkan Thian Liong sudah menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya! Pembalasan apa yang pantas dia lakukan terhadap pemuda itu? Tak mungkin dia membunuh atau melukai berat, mengingat akan budi pemuda itu!

Ahh, dia akan membalas tamparan itu. Bukan pada pinggulnya, akan keenakan dia kalau ditampari pinggulnya. Dia akan menampari kedua pipi pemuda itu sebagai pembalasan!

“Bi Lan, mengapa engkau termenung?”

Bi Lan terkejut sekali. “Ahh, aku hanya merasa penasaran kepada Ouw Kan itu. Aku pasti akan membalas dendam ini.”

“Bukan itu saja yang dia lakukan, Bi Lan. Baik kulanjutkan ceritaku agar engkau menjadi paham. Thian Liong bercerita kepada kami bahwa karena dia sudah membantu Kaisar Kin membasmi pemberontakan di Kerajaan Kin, maka hal itu kemudian dijadikan alasan oleh Perdana Menteri Chin Kui untuk menjatuhkan fitnah kepadanya. Chin Kui melapor kepada Kaisar bahwa Thian Liong menjadi pengkhianat dan menjadi antek Kerajaan Kin. Karena itu Thian Liong menjadi orang buruan pemerintah. Mendengar itu, ayahmu dan aku segera pergi ke kota raja untuk membela Thian Liong, kalau perlu kami hendak menjadi saksi di pengadilan atau kepada Sri Baginda Kaisar bahwa fitnah itu tidak benar. Tetapi ketika tiba di kota raja, kami berdua lalu diserang oleh orang-orangnya Chin Kui dan kembali muncul Thian Liong bersama Pek Hong Nio-cu menolong kami. Kami berempat lalu bersembunyi di rumah Panglima Kwee Gi. Nah, pada waktu itulah aku mendengar dari Kwee-ciangkun bahwa engkau telah datang ke kota raja sehingga harapan kami yang telah hampir padam itu bernyala kembali.”

“Paman Kwee Gi memang seorang yang baik hati, Ibu. Jika tidak ada dia yang menolong menyelundupkan aku keluar kota raja, aku pun tidak tahu bagaimana aku bisa meloloskan diri dari pencarian para prajurit karena aku membunuh Jenderal Ciang dan puteranya.”

“Ya, dia memang baik hati,” kata Liang Hong Yi yang teringat akan niat Panglima Kwee Gi untuk menjodohkan puteranya, Kwee Cun Ki, dengan Bi Lan dan dia bersama suaminya telah menyetujui niat itu. Akan tetapi sekarang belum waktunya memberi-tahu puterinya.

”Dengan bantuan Panglima Kwee, Ayah dan Ibumu, bersama Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong, kemudian dihadapkan kepada Kaisar dan kami berbantahan dengan Perdana Menteri Chin Kui. Kami sempat ditahan, akan tetapi rencana pemberontakan Chin Kui lalu terbongkar sehingga dia dapat dijatuhkan, ditangkap dan dihukum. Souw Thian Liong dan Puteri Moguhai mendapat pujian dari Sri Baginda Kaisar, sementara kami berdua segera pulang ke sini karena kami harapkan engkau sewaktu-waktu akan dapat mencari kami.”

“Hemm, aku pun sampai lama mencari-cari tanpa hasil, Ibu. Baru setelah mendengar dari Thian Liong, aku segera datang ke sini. Akan tetapi ternyata terlambat, engkau dan Ayah sudah terluka parah. Siapa pelakunya, Ibu?”

“Siapa lagi kalau bukan orang yang memusuhi orang tuamu karena dulu telah membunuh Pangeran Kin itu!”

“Si jahanam Ouw Kan?”

“Kali ini bukan dia sendiri yang melakukan, melainkan dua orang muridnya, yaitu seorang pemuda bernama Bouw Kiang yang melukai Ayahmu serta seorang gadis bernama Bong Siu Lan yang melukai aku. Mereka terlalu lihai bagi kami, Bi Lan.”

“Mereka membunuh Ayah, akan tetapi mengapa Ibu dapat lolos?”

“Begini, dulu ketika Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu menolong kami dari serangan Ouw Kan, setelah Ouw Kan melarikan diri, Pek Hong Nio-cu lalu memberi sepotong kain putih yang ditulisi dan dia berpesan bahwa kalau Ouw Kan berani mengganggu lagi, agar tulisan itu diperlihatkan. Ketika dua orang murid Ouw Kan itu datang mengatakan bahwa mereka hendak membunuh kami, aku ingin memperlihatkan surat dari Puteri Moguhai itu. Akan tetapi Ayahmu yang keras hati melarang. Aku tahu bahwa Ayahmu adalah seorang yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia malu kalau memperlihatkan surat Puteri Moguhai itu, malu kalau dikira takut dan hendak berlindung di balik surat itu. Nah, setelah Ayahmu tertusuk dadanya dan aku terluka di pundak, pemuda itu mengambil kain putih bersurat itu dari ikat pinggang Ayahmu. Mereka membaca tulisan Puteri Moguhai dan mereka menjadi pucat, lantas melarikan diri tanpa mengganggu aku lagi. Aku berteriak memanggil pelayan untuk mengangkat Ayahmu, dan ketika itulah engkau muncul.”

Bi Lan mengepal tinju, lantas dengan muka berubah merah karena marah dia berkata, “Si keparat Ouw Kan dan dua orang muridnya! Juga keparat Raja Kin, karena tentu dia yang menyuruh Ouw Kan untuk membalaskan kematian Pangeran Cu Si kepada Ayah dan Ibu. Jangan khawatir, Ibu. Aku pasti akan membalaskan kematian Ayah. Akan kucari mereka semuanya dan akan kubunuh mereka satu demi satu!”

Liang Hong Yi langsung merangkul puterinya. “Tenanglah, anakku. Apakah engkau sudah hendak pergi lagi mencari mereka? Bi Lan, aku tidak mau berpisah lagi darimu, aku tidak mau kau tinggalkan seorang diri di sini!”

Bi Lan mencium ibunya. “Tidak sekarang, Ibu. Aku pun harus memperdalam ilmu-ilmuku dulu karena selain orang-orang dari Kerajaan Kin itu masih ada banyak orang yang harus kulawan dan kukalahkan!” Bi Lan membayangkan wajah Thian Liong karena pada saat dia mengucapkan kata-kata terakhir tadi, wajah pemuda itulah yang diingatnya!

Akan tetapi pada saat itu Liang Hong Yi berpikir dan membayangkan hal lain lagi. Kini dia hanya hidup berdua dengan puterinya dan melihat betapa puterinya telah menjadi seorang gadis berusia sembilan belas tahun, sudah lebih dari dewasa pada jaman itu, maka tentu saja timbul pikiran tentang perjodohan puterinya. Dia segera teringat akan niat Panglima Kwee untuk menjodohkan puteranya, Kwee Cun Ki, dengan Bi Lan.

Kwee Cun Ki adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Orang tuanya pun seorang panglima yang bijaksana dan baik hati, malah sahabat yang setia dan baik dari mendiang suaminya. Bi Lan akan bahagia menjadi isteri Kwee Cun Ki, dan dia sendiri akan merasa terhormat kalau menjadi besan Panglima Kwee dan isterinya yang manis budi dan lemah lembut.

Sebaiknya kalau perjodohan itu dipercepat, pikirnya. Akan tetapi, biar pun baru berkumpul selama beberapa hari dengan Bi Lan, dia tahu bahwa puterinya mempunyai watak yang keras hati seperti mendiang suaminya. Tidak baik bila sekarang dia menceritakan tentang rencana perjodohan itu kepada Bi Lan.

“Bi Lan, andai kata engkau ingin memperdalam ilmu silatmu pun jangan berpisah dariku. Aku tak mau kau tinggalkan lagi, anakku. Aku tidak tahan hidup seorang diri. Bahkan aku mempunyai keinginan untuk mengajakmu pergi ke kota raja.”

“Ke kota raja, Ibu? Mau apa kita ke kota raja?”

“Sekarang tak perlu khawatir lagi akan pembunuhan yang kau lakukan terhadap Jenderal Ciang dan puteranya. Mereka juga merupakan antek Chin Kui, maka Sri Baginda Kaisar tidak akan menganggapmu sebagai pembunuh yang harus ditangkap.”

“Aku tidak khawatir, Ibu. Akan tetapi mengapa kita harus pergi ke kota raja?

“Bi Lan, rasanya Ibumu tidak akan betah berada di sini. Aku akan selalu teringat kepada Ayahmu dan akan tenggelam terus ke dalam kesedihan. Karena itu, ajaklah aku ke kota raja. Kita kunjungi keluarga Panglima Kwee dan kita lihat-lihat pemandangan di kota raja. Aku sudah rindu kepada kota raja di mana aku tinggal bersama Ayahmu sampai engkau lahir dan berusia tujuh tahun. Bi Lan, aku memerlukan hiburan dan kurasa di sanalah aku akan mendapatkan hiburan, mengunjungi bekas sahabat-sahabat Ayahmu.”

Dalam suara itu Bi Lan bisa mendengar permohonan ibunya, maka tentu saja dia merasa tidak enak dan tidak tega untuk menolaknya.

“Baiklah, Ibu, kalau Ibu memang menghendaki ke kota raja, marilah kita ke sana. Kapan kita berangkat, Ibu?”

Liang Hong Yi tersenyum. Puterinya ini sungguh mirip dengan ayahnya, begitu mengambil keputusan langsung saja hendak dilaksanakan.

“Nanti dulu, Bi Lan. Sebaiknya kita tunggu sampai perkabungan sedikitnya satu bulan, lalu kita harus menyerahkan rumah kita agar ada yang menjaganya. Kita siapkan segalanya, baru kita berangkat.”

“Terserah kepada Ibu. Aku setuju dan hanya menurut saja.”

“Engkau anak yang baik!” Liang Hong Yi merangkul anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga gadis itu merasa terharu sekali. Baru sekarang dia merasakan cinta kasih yang begitu besar, yang menggetarkan hatinya.....

********************

Kwee-ciangkun (Panglima Kwee) duduk di ruangan dalam bersama isteri dan puteranya. Mereka membicarakan Han Bi Lan, sebab sudah hampir dua tahun sejak gadis itu berada di rumah mereka, tak pernah ada kabar berita tentang gadis itu.

Mula-mula Nyonya Kwee yang menegur puteranya. “Cun Ki, tahun ini umurmu sudah dua puluh empat tahun. Orang lain seusiamu ini tentu sudah mempunyai sedikitnya dua orang anak. Akan tetapi engkau masih belum menikah juga. Mau tunggu sampai kapan, Cun Ki? Ayah Ibumu sudah makin tua dan kami amat mengharapkan seorang cucu. Pilihlah gadis mana yang kau inginkan dan kami akan mengajukan pinangan!”

Cun Ki memandang kepada ayah dan ibunya. “Ibu, apakah Ibu dan Ayah sudah lupa akan pembicaraan Ayah kepada Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi itu?”

“Pembicaraan tentang apa?” tanya Panglima Kwee Gi.

“Ahh, Ayah benar-benar sudah lupa? Bukankah ketika itu Ayah mengajukan usul kepada mereka untuk menjodohkan aku dengan Han Bi Lan, puteri mereka? Dan mereka sudah menyetujuinya!”

“Oh, itu?” Kwee-ciangkun menarik napas panjang dan memandang isterinya, lalu berkata kepada puteranya dengan suara tegas. “Dengar baik-baik, Cun Ki. Setelah Han Si Tiong dan isterinya meninggalkan kota raja, Ibumu dan aku membicarakan tentang usulku yang kulakukan secara tergesa-gesa itu. Ibumu menyatakan ketidak setujuannya akan rencana perjodohan itu dan aku menganggap alasan Ibumu memang tepat sekali.”

Cun Ki mengerutkan alisnya yang tebal dan memandang kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu tidak setuju? Apa alasannya?” Suaranya mengandung rasa penasaran.

“Begini, anakku… Ayahmu dan aku tidak menyangkal bahwa Han Bi Lan adalah seorang gadis yang sangat baik dan gagah perkasa. Akan tetapi Ibu membayangkan betapa akan sukarnya bagiku untuk menyesuaikan diri dengan seorang mantu yang terbiasa bersikap kasar, bahkan yang tak segan-segan membunuh orang. Ibu tahu bahwa yang dibunuhnya adalah orang-orang jahat, namun tetap saja dia adalah seorang pembunuh. Dan Ibu harus mempunyai mantu seperti itu? Sejak dulu Ibu membayangkan seorang mantu yang lemah lembut, pandai dalam semua pekerjaan wanita, pandai melayani aku sebagai ibu mertua, terampil dalam pekerjaan mengatur rumah seperti menjahit, memasak, dan sebagainya. Kita tidak mungkin mengharapkan Bi Lan akan dapat melakukan segala pekerjaan yang membutuhkan kelembutan itu. Anakku hanya engkau seorang, maka mantuku juga hanya seorang. Kalau yang seorang itu kelak hanya akan membuat Ibumu merasa kecewa dan menyesal, bukankah hal itu akan membikin Ibumu hidup sengsara? Kalau Bi Lan menjadi mantuku kemudian tinggal serumah, tentu aku harus menurut semua kata-katanya, tidak berani membantah karena takut kalau...” Nyonya Kwee tidak melanjutkan kata-katanya dan tampak bingung karena dia merasa telah kelepasan bicara.

“Takut apa, Ibu?”

Tentu saja Nyonya Kwee tidak mengatakan bahwa dia takut dibunuh, maka dia menjawab sekenanya. “Takut... ya takut kepadanya.”

“Tapi alasan itu tidak masuk akal, Ibu! Aku yakin bahwa Bi Lan bukan seorang gadis yang kasar dan kejam. Pembunuhan seperti itu dapat dilakukan siapa saja yang merasa dirinya sebagai pendekar, karena membela kebenaran dan keadilan serta menentang kelaliman! Aku yakin bahwa Bi Lan dapat belajar menjadi seorang mantu perempuan yang baik dan tahu kewajiban!”

“Cun Ki!” Suara Panglima Kwee tegas. “Engkau adalah anak kami satu-satunya, apakah engkau tak ingin membalas lbumu dengan menyenangkan hatinya? Ibumu menginginkan seorang menantu perempuan yang Iemah lembut, bukan seorang pendekar yang pandai bermain pedang namun tidak pandai memegang pisau dapur. Menuruti keinginan Ibumu dan menyenangkan hatinya merupakan balas budi seorang anak yang u-hou (berbakti). Apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang put-hou (tidak berbakti)?”

Cun Ki menundukkan kepalanya. Dia maklum bahwa di dalam setiap perbedaan pendapat antara seorang anak dengan orang tuanya, orang tua selalu menggunakan senjata ampuh itu, yaitu mengatakan bahwa kalau si anak tidak menurut maka dia itu tidak berbakti alias murtad! Dia tidak berani membantah lagi. Akan tetapi dia telah terlanjur jatuh cinta kepada Han Bi Lan, maka dia menggunakan senjata yang terakhir.

“Baiklah, Ayah dan Ibu. Aku menerima saja keputusan Ayah dan Ibu untuk tidak berjodoh dengan Han Bi Lan, akan tetapi...”

“Nah, engkau anak Ibu yang u-hou dan baik sekali, Cun Ki!” ibunya berseru girang.

“Akan tetapi apa, Cun Ki?” tanya Sang Ayah sambil memandang dengan alis berkerut dan sinar mata penuh selidik.

Sambil menundukkan muka Cun Ki berkata, suaranya berat.

“Kalau aku tidak boleh berjodoh dengan Han Bi Lan maka selama hidup aku tidak ingin menikah!” Sesudah berkata demikian, dia bangkit dan berkata, “Maaf, Ayah dan Ibu, aku ingin beristirahat dalam kamarku.” Pemuda itu lalu melangkah pergi memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner