JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-03


Panglima Kwee dan isterinya saling pandang. Sejenak mereka tertegun mendengar kata-kata Cun Ki, anak tunggal mereka tadi. Kwee-ciangkun menghela napas panjang.

“Tidak kusangka anak itu agaknya sudah jatuh cinta betul kepada Han Bi Lan.”

Sementara itu, Nyonya Kwee yang amat menyayang puteranya, menjadi pucat wajahnya. “Ah, kalau dipikir, betul juga omongan Cun Ki. Bi Lan anak orang baik-baik, tentu dia bisa dididik agar menjadi mantu yang baik. Jika dia kukuh tidak mau menikah, celakalah kita. Siapa yang akan menyambung keturunan kita? Dia anak kita satu-satunya. Biar kubujuk dia dan aku setuju dia berjodoh dengan Han Bi Lan!” Sesudah berkata demikian, Nyonya Kwee bangkit dan bergegas menuju ke kamar puteranya.

Panglima Kwee hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Dia sendiri memang tidak keberatan memiliki mantu Bi Lan. Yang tidak setuju adalah isterinya. Dan sekarang setelah Cun Ki ngambek dan mengancam tak akan menikah, isterinya menjadi khawatir sendiri dan tentu sekarang sedang membujuk-bujuk anaknya yang ngambek itu!

Nyonya Kwee memasuki kamar Cun Ki yang tidak terkunci. Dia melihat puteranya rebah telentang dengan muka merah dan tidak peduli ketika mendengar ibunya masuk, seolah-olah tidak melihatnya. Nyonya Kwee lalu duduk di tepi pembaringan.

“Cun Ki anakku, jangan engkau lalu marah begini. Tegakah engkau menyakiti hati Ibumu dengan marah-marah?”

“Ibu sendiri amat tega menolak permintaanku, padahal aku sudah jatuh cinta kepada Han Bi Lan!”

“Kalau ada persoalan dapat kita rundingkan dulu, anakku. Kalau pilihanmu memang sudah tidak dapat diubah lagi, baiklah, demi kebahagiaanmu Ibumu mau mengalah, akan tetapi dengan syarat bahwa kelak engkau harus mampu mendidik Bi Lan supaya menjadi mantu yang dapat menyenangkan hatiku dengan pelayanan yang lembut sebagaimana lajimnya seorang mantu perempuan terhadap mertua perempuannya.”

Bagaikan mendapat semangat baru, serentak Cun Ki bangkit duduk kemudian merangkul ibunya. “Terima kasih, Ibu. Tentu saja aku akan membimbing Bi Lan agar dapat menjadi mantu yang menyenangkan hati Ibu!”

Panglima Kwee dan isterinya lalu merencanakan mengirim seorang comblang (perantara pernikahan) ke dusun Kian-cung dekat Telaga Barat. Mereka lalu memilih-milih comblang mana yang pantas mewakili mereka dan yang pandai bicara. Mereka tidak mau mengirim comblang sembarangan karena mereka hendak membuat Han Si Tiong merasa terhormat menerima comblang yang pandai berbicara dan tentu saja yang akan membawa berbagai hadiah.

Pada suatu pagi tampak sebuah kereta yang sangat indah memasuki pekarangan rumah Panglima Kwee, kemudian dari dalam kereta itu turun seorang wanita yang mengenakan pakaian bangsawan. Setelah pengawal memberi tahu ke dalam bahwa Nyonya Ciang Kui datang berkunjung, Nyonya Kwee segera bergegas keluar menyambut tamunya.

Tamu itu seorang wanita yang usianya sebaya dengan nyonya Kwee, sekitar empat puluh lima tahun, berpakaian bangsawan indah, dan wajahnya juga cantik. Dia adalah isteri dari Ciang-taijin (Pembesar Ciang) yang menjabat pegawai tinggi bagian perpajakan dan sudah lama menjadi kenalan baik Nyonya Kwee. Antara suami mereka juga terdapat hubungan antara pejabat tinggi, sungguh pun Panglima Kwee adalah seorang tentara dan Pembesar Ciang adalah seorang pegawai sipil.

“Aihh…, Nyonya Ciang! Selamat datang di rumah kami. Angin apa yang meniup Anda ke sini?” sambut Nyonya Kwee yang segera mempersilakan tamunya duduk di ruangan tamu yang luas dan indah.

“Baik, Nyonya Kwee, kami semua dalam keadaan baik. Suamiku sehat dan pekerjaannya juga lancar. Anak tunggalku Bi Hiang juga baik-baik saja, setiap hari rajin menyulam dan mengatur para pelayan menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Eh, bagaimana kabarnya dengan puteramu, Kwee-kongcu?”

“Kami semua juga baik-baik saja, Nyonya Ciang. Anak kami Cun Ki juga dalam keadaan sehat dan baik. Apakah ada keperluan khusus yang membawamu datang berkunjung?”

“Ahh, aku datang hanya untuk melepas rasa rindu. Sudah lama kita tidak saling berjumpa. Padahal telah lama kita bersahabat, juga suamiku adalah sahabat baik suamimu. Apakah kedatanganku ini mengganggu kesibukanmu?”

“Sama sekali tidak! Bahkan aku senang sekali menerima kedatanganmu, Nyonya Ciang! Memang sudah lama kita tidak bercakap-cakap.”

Pelayan datang menghidangkan minuman dan makanan kecil. Kedua nyonya bangsawan itu mengobrol dengan asyiknya karena Nyonya Ciang adalah seorang wanita yang sangat pandai dan banyak bicara, dapat menceritakan semua kabar tentang apa saja yang terjadi di antara para bangsawan, terutama isteri-isteri mereka.

Dia senang sekali menceritakan kabar burung tentang hal-hal rahasia yang terjadi dalam rumah tangga para bangsawan, tentang percekcokan antara suami isteri bangsawan anu, tentang bangsawan ini mengambil selir baru, tentang isteri bangsawan itu yang dicurigai ada main dengan seorang pemuda pegawai suaminya, dan lain-lain. Nyonya Kwee hanya mendengarkan saja dan seperti lajimnya para wanita, biar pun dia tidak menanggapi, akan tetapi berita-berita seperti itu amat menarik hatinya, seolah mendengarkan bunyi nyanyian merdu!

Sesungguhnya kunjungan Nyonya Ciang ini mempunyai maksud tertentu. Sudah lama dia mencari-cari seorang pemuda yang kiranya pantas untuk menjadi jodoh puterinya, yaitu Ciang Bi Hiang yang kini telah berusia sembilan belas tahun, dan pilihannya jatuh kepada Kwee Cun Ki. Dia telah merundingkan niatnya itu dengan suaminya, Pembesar Ciang Kui yang langsung menyetujui karena Panglima Kwee terkenal sebagai pembesar militer yang terhormat, setia kepada Kaisar, dan disukai para pembesar lainnya.

Akan tetapi, sebelum Nyonya Ciang sempat membicarakan hal ini kepada nyonya Kwee yang telah lama dikenalnya dengan baik, pada suatu hari dia mendengar berita yang amat mengejutkan.

Nyonya Ciang mempunyai banyak kaki tangan yang suka mencari berita yang aneh-aneh untuk menjadi bahan percakapan dan pergunjingan. Dari salah seorang pembantunya dia mendengar bahwa keluarga Kwee sedang mencari-cari seorang comblang yang baik untuk mengajukan pinangan kepada Han Bi Lan, puteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang tinggal di Telaga Barat, untuk dijodohkan dengan Kwee Cun Ki! Tentu saja ia terkejut dan khawatir, lalu dia cepat-cepat merundingkan hal ini dengan suaminya.

Pembesar Ciang Kui sangat terkejut dan heran mendengar bahwa Kwee-ciangkun hendak melamar Han Bi Lan puteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi untuk puteranya. Dia pun lalu bercerita kepada isterinya bahwa Han Bi Lan itulah yang dahulu telah membunuh saudara sepupunya, yaitu Ciang-goanswe (Jenderal Ciang) dan puteranya, Ciang Ban.

Dia juga menceritakan bahwa Liang Hong Yi dahulu adalah seorang pelacur kelas tinggi di kota Cin-koan, bahkan dialah yang ketika itu masih tinggal di Cin-koan dan belum menjadi pimpinan yang kini tinggal di kota raja, pernah memberi surat kepada Liang Hong Yi untuk diserahkan kepada Jenderal Ciang Sun Bo agar Liang Hong Yi yang baru menikah dengan Han Si Tiong diberi pekerjaan.

Demikianlah, dengan bekal keterangan ini Nyonya Ciang kemudian bergegas naik kereta mengunjungi Nyonya Kwee.

“Nyonya Kwee, kalau aku boleh bertanya, berapa sih usia puteramu sekarang?”

“Ahh, kau maksudkan Cun Ki? Tahun ini dia berusia dua puluh empat tahun.”

“Puteriku Bi Hiang sudah berusia sembilan belas tahun. Ahh, Nyonya Kwee, apakah kau pikir usia sebegitu belum cukup untuk menikah? Alangkah baiknya kalau puteramu dapat dijodohkan dengan puteriku,. Hubungan kita yang tadinya sahabat dapat dipererat menjadi keluarga! Bukankah hal itu baik sekali?”

Wajah Nyonya Kwee yang tadinya cerah karena gembira bercakap-cakap dengan Nyonya Ciang yang pandai mengobrol itu, tiba-tiba berubah keruh mendengar usul ini. Kalau saja Cun Ki tidak rewel dan bersikeras ingin menikah dengan Han Bi Lan, tentu saja dia akan menyambut baik uluran tangan ini!

Tentu seratus kali lebih baik memilih Ciang Bi Hiang, seorang gadis bangsawan asli, yang pandai dan halus budi, seorang mantu yang pasti akan memuaskan hatinya dibandingkan dengan Han Bi Lan yang pandai bermain pedang dan suka membunuh orang! Akan tetapi dia tidak dapat mengubah keinginan puteranya itu.

“Ah, sayang sekali, Nyonya Ciang. Walau pun aku setuju sekali dengan usulmu itu, tetapi keinginan kita tak mungkin terlaksana karena kami telah mendapat seorang jodoh untuk Cun Ki, bahkan kini kami sedang mencari seorang comblang yang baik untuk mengajukan pinangan kepada orang tua gadis itu.”

“Aduh-aduh..., sungguh kami tidak beruntung karena terlambat mengajukan usul ini. Akan tetapi tidak mengapa, Nyonya Kwee, jika memang keluargamu telah menentukan pilihan. Barang kali puteramu memang bukan jodoh puteriku. Bolehkah aku mengetanui, siapakah gadis beruntung yang akan menjadi mantu perempuanmu itu? Puteri bangsawan manakah dia? Tentu dia cantik sekali. Siapa namanya?”

Wajah Nyonya Kwee berubah agak kemerahan. “Ayahnya dahulu bekas seorang perwira kerajaan, akan tetapi sekarang telah mengundurkan diri dan tinggal di dekat Telaga Barat. Gadis pilihan puteraku itu bernama Han Bi Lan.”

“Gadis she (bermarga) Han...? Han Bi Lan... rasanya aku sudah pernah mendengar nama itu! Oh, ya... ya..., bukankah Han Bi Lan itu yang dulu menjadi buruan pemerintah karena dengan kejamnya dia telah membunuh Jenderal Ciang Sun Bo yang masih kakak sepupu suamiku? Bahkan puteranya, Ciang Ban, juga sudah dibunuhnya! Gadis itukah yang kau maksudkan, Nyonya Kwee?”

Nyonya Kwee tersipu, tetapi demi puteranya, dia harus membela apa yang telah diperbuat oleh Han Bi Lan. “Memang dialah gadis itu, Nyonya Ciang. Akan tetapi kini dia bukan lagi seorang buruan pemerintah dan perbuatannya itu tidak disalahkan karena selain Jenderal Ciang dan puteranya berniat mencelakakannya, juga akhirnya diketahui bahwa Jenderal Ciang itu adalah seorang di antara sekutu pemberontak Chin Kui.”

Nyonya Ciang mengangguk-angguk. “Aku juga mengerti akan hal itu, Nyonya Kwee, akan tetapi kiranya engkau tidak dapat menyangkal bahwa gadis itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin! Hih, ngeri aku membayangkan hidup dekat seorang gadis liar seperti itu!”

“Nyonya Ciang, engkau tidak boleh menghina gadis yang akan menjadi mantuku. Betapa pun juga gadis itu adalah pilihan puteraku!” kata Nyonya Kwee agak tersinggung.

“Baiklah, baiklah…, harap engkau bersabar! Akan tetapi, apakah engkau sudah mengenal orang tuanya?”

“Tentu saja! Ayahnya adalah Han Si Tiong dan siapa yang tidak mengenal namanya? Dia pernah menjadi pemimpin Pasukan Halilintar yang tersohor itu!”

“Maksudku, ibunya, Nyonya Kwee.”

“Ibunya juga seorang wanita gagah yang membantu suaminya dalam perang. Dia adalah Liang Hong Yi.”

“Apakah engkau mengenal baik siapakah Liang Hong Yi itu, Nyonya Kwee?”

“Tentu saja! Dia seorang wanita yang gagah perkasa, baik budi dan terhormat!”

“Terhormat? Aku menyangsikan hal itu, Nyonya Kwee!”

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar dari suamiku bahwa sebelum menjadi isteri Han Si Tiong, Liang Hong Yi adalah seorang gadis yang tinggal di kota Cin-koan. Dia ikut dengan bibinya, yaitu Lu-ma yang menjadi mucikari dan mendirikan rumah pelesir Bunga Seruni. Liang Hong Yi adalah salah seorang kembangnya yang paling terkenal di antara para pelacur itu...”

“Nyonya Ciang!” Nyonya Kwee berseru memotong ucapan tamunya, lantas bangkit berdiri dengan marah sekali sehingga mukanya berubah merah.

“Aku tidak berbohong, Nyonya Kwee. Dulu suamiku adalah salah seorang di antara para langganan Liang Hong Yi.”

“Fitnah yang keji! Pergilah dari sini, Nyonya Ciang, sebelum kuusir seperti anjing!”

Nyonya Ciang bangkit berdiri lalu tersenyum mengejek. “Kawinkan saja puteramu dengan puteri pelacur itu dan seluruh kota raja pasti akan membicarakannya sambil tertawa geli!” Setelah berkata demikian, Nyonya Ciang cepat keluar dari ruangan tamu itu, terus keluar dan cepat memasuki kereta yang dijalankan pulang oleh kusirnya.

Nyonya Kwee terkulai lemas di atas kursinya, wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Dia marah sekali, namun juga gelisah bukan main. Bagaimana kalau cerita nyonya bawel tadi ternyata benar? Puteranya, anak satu-satunya, akan menjadi mantu seorang pelacur? Ya ampun...!

Nyonya Kwee tidak dapat menahan air matanya. Sambil menangis dia memasuki ruangan di mana suaminya sedang duduk melaksanakan pekerjaannya mencatat dalam bukunya.

Ketika melihat isterinya memasuki kamar kerjanya sambil menangis tersedu-sedu, tentu saja Panglima Kwee terkejut bukan main. Dia segera bangkit untuk menyambut isterinya, cepat merangkulnya karena tubuh isterinya terhuyung-huyung seperti akan roboh, lantas membawanya duduk di atas kursi.

“Tenanglah, isteriku. Kenapa engkau menangis seperti ini? Bukankah tadi engkau sedang menerima tamu, kalau tidak salah Nyonya Ciang? Di mana dia sekarang?”

Sampai lama Nyonya Kwee tak mampu bicara, hanya menangis. Setelah tangisnya reda, dia lalu bicara dengan suara gemetar. “Dia sudah pergi... ahh, dia menceritakan hal yang amat mengejutkan, yang membuat hatiku hancur...” Dia sesenggukan lagi.

“Ada apakah? Apa yang dia ceritakan?”

“Kalau dia mengatakan bahwa Han Bi Lan adalah orang yang telah membunuh Jenderal Ciang Sun Bo dan puteranya, hal itu masih dapat kuterima karena memang kenyataannya demikian, akan tetapi dia bilang... dia bilang...”

“Dia bilang apa?”

“Dia mengatakan bahwa dahulu di Cin-koan, di rumah pelesir Bunga Seruni yang dikelola oleh Lu-ma, Liang Hong Yi sebagai keponakan Lu-ma adalah seorang pelacur!”

“Fitnah keji!!” Panglima Kwee berseru marah.

“Dia juga mengatakan bahwa dulu suaminya adalah langganan Liang Hong Yi.”

“Jahanam, aku tidak bisa menerima begitu saja penghinaan ini. Ini fitnah keji! Kalau Ciang Kui dengan isterinya tidak dapat membuktikan fitnah itu, mereka akan kutuntut ke depan pengadilan!”

“Nanti dulu, suamiku. Sebagai seorang laki-laki engkau tentu tahu apakah benar di kota Cin-koan ada rumah pelesir itu dan apakah benar Liang Hong Yi...”

“Kau tahu bahwa aku seorang pria yang tidak suka keluyuran ke rumah pelacuran seperti Ciang Kui! Akan kucari dia!”

“Jangan terburu nafsu dulu, suamiku. Sebaiknya lebih dahulu mencari keterangan apakah kata-katanya itu benar, baru bertindak kalau itu hanya fitnah kosong.”

“Baik, akan kuurus sekarang juga. Aku tidak terima! Selain kita berniat mengambil Han Bi Lan sebagai mantu, juga Han Si Tiong dan Liang Hong Yi adalah sahabat-sahabat baikku. Sekarang aku pergi dulu!”

Panglima Kwee Gi lalu keluar dari rumahnya dengan muka merah. Belum lama dia keluar, Kwee Cun Ki memasuki kamar kerja ayahnya dan mendapatkan ibunya menangis sedang di situ.

“Ibu, apakah yang telah terjadi? Aku melihat Ayah keluar dan tampaknya marah sekali.”

Nyonya Kwee merangkul puteranya. “Aduh, Cun Ki, sekali ini celaka kita. Nama keluarga kita akan hancur!”

“Ehh? Ada apakah, Ibu?”

“Tadi Nyonya Ciang Kui datang bertamu dan dia menceritakan hal yang amat memalukan, yang kalau terdengar orang akan mencemarkan nama baik dan kehormatan kita!”

“Hal apa yang dia ceritakan, Ibu?”

“Bahwa ibu Han Bi Lan, calon ibu mertuamu Liang Hong Yi itu, dulu pada waktu gadisnya adalah seorang... pelacur terkenal di kota Cin-koan.”

“Itu fitnah keji sekali, Ibu! Nyonya Ciang yang mengatakan begitu?”

“Dia mendengar dari suaminya, Pembesar Ciang Kui yang katanya dulu adalah seorang di antara langganan Liang Hong Yi.”

“Keparat busuk! Dan tadi Ibu mengatakannya kepada Ayah?”

“Ya, sekarang ayahmu hendak mencari Pembesar Ciang untuk minta penjelasan.”

“Baik, aku akan menyusul ke sana. Ciang Kui itu harus mempertanggung-jawabkan fitnah keji ini!” Setelah berkata demikian, Cun Ki langsung berlari keluar…..

********************

Dengan langkah lebar Panglima Kwee memasuki pekarangan gedung pembesar Ciang Kui. Para pengawal sudah mengenalnya dan cepat memberi hormat kepada panglima ini.

“Katakan kepada Pembesar Ciang bahwa aku, Panglima Kwee, minta bertemu sekarang juga. Cepat laksanakan!” Perintahnya kepada kepala regu penjaga.

Pengawal itu masuk ke dalam dan tidak lama kemudian dia keluar lagi menemui Panglima Kwee. “Ciang-taijin mempersilakan Ciangkun masuk, ditunggu di kamar tamu.”

Tiba-tiba terdengar seruan dari luar. “Ayah, tunggu!” Panglima Kwee menoleh dan melihat Cun Ki datang berlari-lari.

“Mau apa kau ke sini?” tanya Panglima Kwee ketus karena kalau saja puteranya itu tidak rewel minta dijodohkan dengan Bi Lan maka berita mengenai Liang Hong Yi tentu takkan menimbulkan geger dalam keluarganya seperti ini.

“Ayah, aku sudah mendengarnya dari ibu. Ciang-taijin harus mempertanggung-jawabkan fitnahnya itu! Aku ikut menemuinya, Ayah!”

Panglima Kwee dapat memaklumi betapa remuknya hati puteranya mendengar berita itu. Maka dia pun mengangguk dan mengajak puteranya masuk.

“Di depan Ciang-taijin nanti jangan bicara apa-apa. Biar aku saja yang bicara dengannya.”

Cun Ki mengangguk.

Pembesar Ciang sudah mendengar dari isterinya bahwa tadi isterinya telah membongkar rahasia Liang Hong Yi kepada Nyonya Kwee, maka kedatangan Panglima Kwee bersama puteranya tidak mengejutkan hatinya. Dia bangkit dan tersenyum ramah ketika Panglima Kwee dan Cun Ki memasuki ruangan tamu.

“Ahh, Kwee-ciangkun dan Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee)! Silakan duduk.” Dia segera mempersilakan.

Sambil menahan kesabaran mereka, dua orang tamu itu duduk berhadapan dengan tuan rumah.

“Ciang-taijin, kami tidak berpanjang kata. Kedatangan kami ini ingin minta pertanggungan-jawabmu atas apa yang diceritakan isteri Anda kepada isteriku!”

Ciang Kui tersenyum sambil meraba kumisnya yang tipis. Dalam usianya yang sudah lima puluh tahun itu dia adalah seorang pria yang masih tampak tampan.

“Tenanglah, Kwee-ciangkun. Cerita isteriku yang manakah yang kau minta pertanggungan-jawabku?”

“Cerita tentang Liang Hong Yi, bahwa dahulu dia adalah seorang pelacur di Cin-koan dan Anda adalah seorang di antara para langganannya!” Kwee-ciangkun berkata dengan muka merah dan nada suaranya terdengar marah sekali.

“Ohh, itu? Aihh, mulut wanita memang jauh jangkauannya. Berita itu hanya membuat aku malu saja, Kwee-ciangkun. Akan tetapi kenapa engkau tanyakan hal itu kepadaku? Kalau aku yang mengatakan, mungkin engkau tidak akan percaya dan menuduh aku menyebar fitnah. Mengapa engkau dan puteramu tidak langsung saja pergi ke Cin-koan dan mencari keterangan di sana betul tidak dahulu ada Rumah Pelesir Bunga Seruni yang diasuh oleh Lu-ma dan bahwa Liang Hong Yi adalah kembangnya rumah pelesir itu? Apa bila engkau telah menyelidiki di sana dan ternyata bahwa omonganku bohong, barulah engkau ke sini minta pertanggungan-jawabku. Bukankah itu adil, dari pada belum apa-apa engkau sudah marah-marah?”

Kwee-ciangkun bangkit berdiri, diikuti oleh Cun Ki. Dia mengangguk dan menjawab. “Baik, dan kalau ternyata Anda bohong, aku pasti akan menuntutmu, Ciang-taijin!”


“Aku siap dituntut kalau omonganku ternyata tidak benar, Kwee-ciangkun.”

Panglima Kwee dan Cun Ki segera pulang ke rumah mereka. Nyonya Kwee menyambut mereka dengan wajah masih gelisah dan kedua pipi masih basah air mata.

“Bagaimana...?” tanyanya.

“Kami pulang hanya untuk mengambil kuda, Ibu. Ayah dan aku akan menyelidiki apakah cerita tentang kota Cin-koan itu adalah fitnah ataukah benar!” kata Cun Ki kepada ibunya.

“Yang sungguh celaka kalau berita itu benar adalah...,“ kata Kwee-ciangkun.

“Ada apa, suamiku?”

“Aku telah mendapatkan seorang comblang dan kemarin dia sudah kusuruh berangkat ke dusun Kian-cung di dekat Telaga Barat untuk mengajukan pinangan itu!”

“Wah, celaka...!” kata Nyonya Kwee.

“Jangan khawatir. Andai kata mereka menerima pinangan itu, masih belum terlambat bagi kita untuk membatalkan ikatan perjodohan yang belum resmi itu!” Kwee-ciangkun berkata sambil menoleh kepada puteranya. “Tentu engkau setuju, bukan?”

Cun Ki menunduk. “Aku menurut bagaimana keputusan Ayah saja.”

Pikirannya sendiri sedang kalut. Jika benar Ibu Bi Lan dahulunya adalah seorang pelacur, ke manakah dia harus menyembunyikan mukanya bila semua orang mencemoohkannya bahwa ibu mertuanya seorang bekas pelacur? Maka dia tidak dapat mengambil keputusan dan menyerahkan saja kepada orang tuanya.

Panglima Kwee dan puteranya segera membalapkan kuda menuju ke kota Cin-koan.

Nyonya Kwee menanti dengan hati berdebar-debar. Berbagai perasaan mengaduk hatinya. Ada rasa khawatiir, marah, malu, gelisah, akan tetapi di balik semua perasaan tidak enak ini tersembunyi rasa senang yang penuh harapan.

Memang pada dasarnya dia tidak senang mempunyai mantu seorang gadis liar, pendekar pedang seperti Bi Lan. Dia hanya mengalah karena tidak ingin melihat puteranya mogok tidak mau menikah. Kini timbul harapan baru dalam hatinya. Kalau berita itu benar, sudah pasti Cun Ki tidak akan sudi memperisteri anak seorang bekas pelacur!

Akan tetapi diam-diam dia pun merasa kasihan juga kepada Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang telah dikenalnya dengan baik sejak mereka berdua masih tinggal di kota raja. Dia merasa sulit membayangkan apakah dia dan suaminya dapat menjadi sahabat baik suami isteri itu kalau mendengar akan masa lalu Liang Hong Yi.

Maka terjadilah kebimbangan dalam hati Nyonya Kwee. Kalau berita itu tidak benar, maka tentu suaminya akan menuntut Pembesar Ciang dan terjadi permusuhan atau setidaknya perasaan tidak enak di antara kedua keluarga itu. Padahal dia akan merasa senang sekali kalau Cun Ki dapat menjadi suami Ciang Bi Hiang yang telah dikenalnya sebagai seorang gadis yang cantik dan lemah lembut.

Menjelang sore barulah Panglima Kwee dan Cun Ki pulang. Pelayan segera menyambut dan mengurus kuda mereka. Keduanya lalu memasuki gedung dan disambut oleh Nyonya Kwee di pendapa karena semenjak tadi nyonya ini sudah menanti dengan tidak sabar. Dia melihat suami dan puteranya tampak lesu.

“Bagaimana...?” tanya Nyonya Kwee kepada suami dan puteranya.

“Kita berbicara di dalam saja!” kata Panglima Kwee dengan ketus, tanda bahwa dia dalam keadaan marah.

Mereka bertiga lantas masuk ke dalam ruangan keluarga di mana para pelayan tidak ada yang berani masuk kalau tidak dipanggil. Mereka duduk mengelilingi meja setelah Cun Ki menutup daun pintu dan jendela.

“Nah, ceritakan, bagaimana hasilnya?” tanya Nyonya Kwee.

Panglima Kwee menghela napas panjang. “Sungguh tidak pernah kusangka...! Siapa yang menyangka, siapa yang dapat percaya bahwa seorang wanita yang begitu gagah perkasa, setia kepada suami dan kepada negara, yang begitu pandai membawa diri, tetapi...”

“Jadi benarkah apa yang dikatakan Nyonya Ciang itu?” tanya isterinya.

Panglima Kwee mengangguk. “Kami telah menyelidiki di kota Cin-koan dan hampir semua penduduk kota itu yang berusia empat puluh tahun ke atas, tahu belaka akan kenyataan itu. Memang benar Lu-ma mempunyai sebuah rumah pelesir yang disebut Bunga Seruni dan Liang Hong Yi adalah keponakannya. Walau pun dia hanya mau menerima langganan para bangsawan dari Cin-koan atau kota raja, akan tetapi jelas bahwa di waktu gadis dia menjadi seorang... pelacur. Setelah dia menikah dengan Han Si Tiong, mereka berdua lalu meninggalkan Cin-koan...“

“Ahh! Kalau begitu tidak mungkin Cun Ki menjadi calon suami Han Bi Lan! Mana mungkin kita berbesan dengan seorang bekas pelacur? Dan alangkah rendah serta hinanya dalam pandangan semua orang kalau Cun Ki menjadi mantu pelacur. Bukankah begitu, Cun Ki?” kata Nyonya Kwee sambil menatap wajah puteranya.

Cun Ki menundukkan mukanya dan menghela napas berulang kali.

“Ibu, pikiranku kalut dan bingung, hatiku tertekan dan terpukul hebat oleh kenyataan pahit ini, maka mengenai perjodohan terserah saja kepada Ayah dan Ibu. Aku menurut saja..., aku bingung, aku ingin tidur...!” Cun Ki segera meninggalkan orang tuanya dan memasuki kamar, terus merebahkan diri tidur!

Suami isteri itu masih duduk berhadapan sambil saling pandang dengan alis berkerut.

“Hemm, bagaimana sekarang? Mungkin comblang yang kusuruh itu sekarang sudah tiba di sana dan mengajukan pinangannya.”

Isterinya mengerutkan alis. “Kenapa engkau begitu tergesa-gesa, tidak membicarakannya dulu dengan aku tetapi langsung saja mengirim comblang ke sana?” Suara Nyonya Kwee mengandung teguran.

“Sudahlah, hal itu sudah terlanjur, tidak perlu dibicarakan lagi. Sekarang yang terpenting adalah membicarakan hal yang akan datang. Kenyataannya aku telah mengirim comblang untuk menyampaikan pinangan secara resmi. Masih baik kalau pinangan itu ditolak...“

“Huhh, pinangan kita ditolak? Tidak mungkin sama sekali! Dulu pun ketika mereka berdua berada di sini, mereka menyatakan setuju kalau puteri mereka menjadi mantu kita. Aku yakin mereka berdua pasti menerima pinangan kita itu dengan hati senang dan bangga, merasa derajatnya terangkat. Huhh…!”

“Mungkin Han Si Tiong dan isterinya menerima dan menyetujui, akan tetapi bisa juga Han Bi Lan yang menolak lamaran itu.”

“Gadis liar itu berani menolak pinangan kita untuk dijodohkan dengan anak kita? Hemm, memangnya siapa dia? Anak siapa? Mana mungkin menolak untuk menjadi isteri putera kita!” kata Nyonya Kwee, gemas.

“Jangan begitu. Bagaimana pun juga yang pernah melakukan kesalahan adalah ibunya. Gadis itu sama sekali tidak berdosa.”

“Tidak berdosa? Dia anak pelacur, dan dia seorang pembunuh kejam!”

“Sudahlah, sungguh tak baik membiarkan kebencian seperti itu. Mereka kan tidak pernah mengganggu atau merugikan kita, kenapa engkau menjadi begitu benci?”

“Mereka merupakan ancaman yang dapat merusak nama baik dan kehormatan keluarga kita,” Nyonya Kwee berseru marah.

“Sekarang kita bicarakan hal yang lebih penting. Tadi kukatakan andai kata pinangan itu ditolak maka tidak ada masalah lagi. Yang kupikirkan, bagaimana jika mereka menerima pinangan kita itu? Apa yang harus kukatakan kepada Han Si Tiong untuk membatalkan pinangan yang sudah diterima? Kita baru saja meminang, masa dibatalkan begitu saja?”

“Katakan saja terus terang bahwa kita tidak sudi berbesan dengan seorang bekas pelacur, habis perkara! Mereka harus tahu diri, dong! Masa bekas pelacur mau berbesan dengan keluarga Panglima?”

“Hushh, jangan begitu. Redam saja kemarahanmu dan marilah kita bicara dengan kepala dan hati dingin. Biar bagaimana pun juga kita sudah terlanjur meminang! Dan ini harus kita pertanggung-jawabkan. Bagaimana mungkin kita lalu tidak mengacuhkan mereka?”

“Kenapa pusing-pusing? Batalkan saja!”

“Kalau Han Si Tiong dan isterinya bertanya mengapa kita yang meminang lalu kita pula yang membatalkan? Apa alasan kita?”

“Bilang saja terus terang bahwa kita telah mendengar akan masa lalunya Liang Hong Yi dan kita tidak mau berbesan dengan seorang bekas pelacur!”

“Itu bukan pemecahan yang baik! Alasan seperti itu hanya akan memancing permusuhan. Ingat, Han Si Tiong adalah orang yang telah berjasa terhadap kerajaan. Biar pun dia tidak mau memangku jabatan, namun Sribaginda sendiri tentu akan marah kalau mendengar dia diperlakukan sewenang-wenang. Dan jika suami isteri itu marah, apa lagi dibantu anak mereka yang sangat lihai, sungguh keselamatan kita akan terancam. Kita harus mencari jalan yang baik agar urusan ini dapat diselesaikan dengan damai dan baik.”

Suami isteri itu lalu berdiam diri, agaknya memutar otak dan mencari jalan keluar terbaik menghadapi persoalan itu. Nyonya Kwee mencari jalan terbaik, bukan saja yang terbaik bagi dia dan suaminya, namun terutama sekali untuk puteranya karena tadi dia melihat bahwa biar pun puteranya menyerahkan keputusannya kepada mereka berdua, tetap saja dia mengetahui bahwa puteranya itu mengalami patah hati dan menjadi sedih sekali.

Tiba-tiba wajahnya yang tadinya muram dan alisnya berkerut karena merasa bingung dan khawatir menghadapi persoalan itu, kini menjadi cerah. Bibirnya tersenyum merekah dan sepasang matanya berbinar-binar.

“Hai, aku sudah mendapat akal! Akal yang baik sekali, suamiku!” serunya gembira.

Kwee-ciangkun memandang isterinya. Alisnya masih berkerut karena dia tidak mengerti apa yang membuat isterinya bergembira menghadapi keadaan yang serba sulit itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner