JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-04


“Hemm, akal bagaimanakah yang kau dapatkan?”

“Kita bukan saja harus mengatasi semua persoalan ini tanpa mendatangkan akibat buruk terhadap kita, akan tetapi juga menjaga supaya anak kita tidak mengalami patah hati dan bersedih karena tampaknya dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Han Bi Lan.”

“Engkau benar, akan tetapi apa yang dapat kita lakukan selain menjodohkannya dengan gadis itu?”

“Ingat, suamiku yang baik. Sudah menjadi kebiasaan yang umum bahwa seorang laki-laki bangsawan dapat mengambil selir dari golongan apa pun juga. Coba lihat para pangeran itu. Di antara mereka memang ada yang mempunyai selir bekas pelacur! Nah, masih baik dan terhormat bagi Cun Ki kalau mengambil Han Bi Lan sebagai selirnya! Tidak akan ada orang mencela dan meremehkan nama dan kehormatan kita. Han Si Tiong dan isterinya juga tidak akan merasa ditolak atau dibatalkan ikatan perjodohan antara puterinya dengan anak kita. Dan yang paling penting anak kita tidak akan putus cinta, tidak akan patah hati karena dia bisa mendapatkan Han Bi Lan, walau pun hanya sebagai selirnya. Bagaimana pendapatmu?”

Wajah Kwee-ciangkun kini juga berseri dan dia pun memandang isterinya dengan kagum. Timbul kembali harapannya. “Wah, engkau hebat, isteriku! Akalmu itu benar-benar cerdik dan sekaligus dapat membereskan semua persoalan! Benar sekali itu! Mari kita beri-tahu anak kita. Panggil dia ke sini!”

Nyonya Kwee segera pergi ke kamar puteranya. Dia mendapatkan pemuda itu tidur pulas. “Ihh, anak ini! Orang tuanya pusing mencari jalan keluar yang baik, dia malah ngorok! Hei, Cun Ki, bangunlah. Ayahmu ingin bicara denganmu!” Nyonya Kwee mengguncang pundak Cun Ki sehingga pemuda itu terbangun.

“Ada apakah, Ibu?”

“Mari ikut, Ayahmu menantimu, ingin bicara soal penting denganmu.”

Cun Ki segera mengikuti ibunya ke ruangan di mana ayahnya sedang menunggu. Setelah puteranya duduk, Panglima Kwee lalu berkata, “Cun Ki, Ayah dan Ibu sudah menemukan cara yang tepat dan terbaik untuk mengatasi urusan perjodohanmu dengan Han Bi Lan.”

Pemuda itu memandang wajah ayahnya dengan sinar mata penuh selidik. “Dengan Han Bi Lan, Ayah? Apa yang Ayah maksudkan?”

“Begini, Cun Ki. Engkau tentu mengerti dengan jelas bahwa tidak mungkin engkau dapat melanjutkan perjodohanmu dengan Bi Lan setelah engkau mendengar sendiri kenyataan tentang riwayat Ibunya.”

Cun Ki mengerutkan alisnya: “Aku mengerti, Ayah, maka kiranya tidak ada gunanya lagi membicarakan lebih lanjut tentang itu, hanya akan mendatangkan kekecewaan saja.”

“Akan tetapi kami telah menemukan jalan terbaik, Cun Ki. Engkau masih dapat menikah dengan Bi Lan, maksudku bukan menikah secara resmi, akan tetapi engkau dapat hidup bersama Bi Lan sebagai suami isteri.”

“Maksud Ayah?”

“Begini, Cun Ki. Pinangan terhadap Bi Lan telah kita lakukan, maka kita tidak akan dapat mencabut kembali pinangan itu, hanya saja pelaksanaannya yang akan diubah.”

“Diubah bagaimana, Ayah?”

“Diubah supaya Bi Lan tetap menjadi isterimu akan tetapi nama dan kehormatan keluarga kita tidak sampai tercemar karenanya. Yaitu, Bi Lan akan menjadi selirmu. Jadi dia tetap menjadi isterimu, akan tetapi bukan isteri yang sah atau isteri pertama. Karena itu tidak perlu dirayakan dengan pernikahan. Kelak engkau akan kami pilihkan seorang gadis dari keluarga terhormat untuk menjadi isterimu dan Bi Lan tetap menjadi selirmu. Bukankah itu bagus sekali? Pertama, kita tidak perlu membatalkan pinangan kita sehingga tidak akan menyinggung perasaan Han Si Tiong, kedua, engkau akan tetap memiliki Bi Lan yang kau cinta, dan ketiga, perjodohanmu itu takkan mencemarkan nama dan kehormatan keluarga kita. Banyak pangeran dan bangsawan tinggi yang mengambil selir dari wanita golongan apa pun juga, bahkan ada yang menjadikan seorang pelacur sebagai selirnya. Sedangkan Bi Lan hanya anak bekas pelacur. Jadi segalanya dapat diatasi tanpa ada kekecewaan, kemarahan, permusuhan atau kedukaan. Bagaimana pendapatmu?”

Wajah pemuda itu juga berseri mendengar ucapan ayahnya. “Wah, itu baik sekali, Ayah! Akan tetapi, bagaimana kalau Bi Lan tidak mau dijadikan selir?”

“Kalau dia menolak berarti penolakan itu datang dari pihak mereka sehingga mereka tidak merasa ditolak dan tak akan tersinggung. Siasat ini memang baik sekali, hasil pemikiran Ibumu. Jadi atau tidak engkau berjodoh dengan Han Bi Lan, tetap saja tak akan ada yang tersinggung. Mengertikah engkau akan maksud kami, Cun Ki?”

Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepala. “Akan tetapi aku serahkan kepada Ayah dan Ibu untuk menyampaikan kepada mereka bahwa perjodohan ini hanya untuk menjadikan Bi Lan sebagai selirku, walau pun ini adalah perkawinanku yang pertama kali. Aku sendiri tidak berani menyampaikan urusan ini.”

“Serahkan saja kepadaku, Cun Ki! Aku yang akan bicara baik-baik kepada mereka. Kalau mereka berpikir bijaksana, tentu mereka akan dapat menerima dengan senang hati,” kata Nyonya Kwee.

Demikianlah, keputusan itu membuat keluarga Kwee menjadi tenang kembali dan mereka kini hanya menanti kembalinya comblang yang diutus Kwee-ciangkun untuk melamar Han Bi Lan ke dusun Kian-cung di Telaga Barat.....

********************

Tetapi pada keesokan harinya Keluarga Kwee mendapat kejutan besar. Mereka menanti-nanti kembalinya comblang yang diutus meminang Han Bi Lan akan tetapi pada siang hari keesokan harinya itu yang muncul bukan si comblang, melainkan Liang Hong Yi dan Han Bi Lan!

Tergopoh-gopoh Panglima Kwee, Nyonya Kwee beserta Kwee Cun Ki keluar menyambut dua orang tamu itu.

“Ehh, kalian datang?” seru Nyonya Kwee dengan heran karena tidak mengira sama sekali akan kedatangan ibu dan anak itu, padahal si comblang belum kembali.

“Mana Adik Han Si Tiong? Mengapa tidak ikut datang?” tanya Panglima Kwee.

Sedangkan Cun Ki hanya memandang saja kepada Bi Lan dan menurut penglihatannya, gadis itu semakin cantik menarik saja! Akan tetapi Bi Lan tidak memperhatikan pemuda itu sebab dia sibuk merangkul ibunya yang sudah langsung menangis tersedu-sedu ketika Panglima Kwee menanyakan suaminya.

“Aihh, mengapa engkau menangis? Apakah yang telah terjadi, Adik Liang Hong Yi?” tanya Nyonya Kwee.

Akan tetapi tangis Liang Hong Yi bahkan semakin mengguguk sehingga Panglima Kwee dan isterinya saling pandang dengan heran. Cun Ki segera bertanya kepada Bi Lan.

“Lan-moi, ceritakanlah kepada kami, apa yang terjadi sehingga Ibumu menangis seperti ini?”

Bi Lan masih merangkul ibunya yang duduk di atas kursi dan mendengar pertanyaan itu, dia lalu menjawab. “Ayah telah tewas dibunuh orang.”

Tentu saja keluarga Kwee terkejut sekali mendengar berita ini. Namun di balik kekagetan dan rasa iba ini terselip sedikit kelegaan hati Kwee-ciangkun, isteri dan puteranya karena dengan kematian Han Si Tiong, maka urusan yang mereka hadapi akan lebih ringan dan tak lagi menyinggung perasaan Han Si Tiong yang menjadi sahabat baik Kwee-ciangkun.

“Ahh, bagaimana hal itu dapat terjadi? Apakah pembunuhnya demikian saktinya sehingga engkau tidak mampu mencegahnya, Lan-moi?” tanya Cun Ki.

Sesudah ibunya berhenti menangis, Bi Lan bercerita dengan singkat. “Ketika aku datang, pembunuh-pembunuh itu telah pergi. Aku datang terlambat.”

Kini Liang Hong Yi yang menjawab. “Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, mereka diutus oleh guru mereka Ouw Kan untuk membunuh kami. Suamiku tewas dan aku terluka di pundak.”

“Jahanam Ouw Kan!” Panglima Kwee Gi mengumpat karena dia mengetahui bahwa yang dulu menculik Bi Lan adalah Ouw Kan juga.

“Paman Kwee berdua dan Kakak Cun Ki, aku harus mencari para pembunuh ayahku dan jahanam Ouw Kan itu, akan kubasmi mereka untuk membalas kematian ayah. Karena itu aku mohon kepada kalian agar untuk sementara Ibu dperkenankan tinggal di sini supaya dia tidak sendirian,” kata Bi Lan.

“Akan tetapi... hal itu...”

“Ah, boleh saja ibumu untuk sementara tinggal di sini, Bi Lan!” Panglima Kwee memotong kata-kata isterinya tadi.

“Kwee-ciangkun dan Kwee-hujin (Nyonya Kwee), perkara itu dapat dibicarakan nanti. Kini yang terpenting, yang mendorong aku pergi ke kota raja ini, selain untuk menghibur diri, juga sengaja kami berkunjung ke sini untuk menentukan ikatan perjodohan anak-anak kita seperti yang ciangkun berdua usulkan dahulu ketika aku dan suamiku berada di sini.”

Kwee-ciangkun dan isterinya saling pandang. Ah, tentu pinangan itu telah mereka terima, pikir mereka. Seperti yang sudah disepakati, usul baru itu akan disampaikan oleh Nyonya Kwee, maka Kwee-ciangkun memberi isyarat kepada isterinya.

Nyonya Kwee yang biasanya bersikap lembut itu, demi menjaga nama serta kehormatan keluarganya, kini memberanikan diri berkata dengan suara tegas.

“Adik Liang Hong Yi, kita sudah sama-sama menyetujui perjodohan itu, tapi terpaksa kami harus berterus terang bahwa kita tidak dapat merayakan pernikahan secara sah karena anakmu itu kami terima bukan sebagai isteri yang sah dari anak kami, melainkan sebagai seorang selir...”

“Ohhh...!” Liang Hong Yi terkejut sekali mendengar ini.

Sementara itu, Bi Lan yang semenjak tadi mendengarkan dengan heran dan bingung, kini tak dapat lagi menahan gejolak hatinya. “Ibu, apakah artinya semua ini? Siapa yang akan dijodohkan?!”

“Kwee-hujin mengapa begini?” teriak Liang Hong Yi tanpa menjawab pertanyaan anaknya karena hatinya sudah terlampau panas oleh ucapan Nyonya Kwee bahwa puterinya hanya akan dijadikan selir!

“Dengarlah dulu dengan hati tenang, Adik Liang Hong Yi,” kata Nyonya Kwee sehingga Bi Lan terpaksa menahan gejolak hatinya lantas ikut mendengarkan dengan hati penasaran. “Memang ada sedikit kesalahan ketika kami mengirim comblang ke tempat kalian, yaitu kami tidak menjelaskan sifat perjodohan itu. Yang kami kehendaki adalah melamar Bi Lan untuk menjadi selir anak kami, bukan sebagai isteri yang sah.”

“Gila! Ibu, apa-apaan ini?” Kembali Bi Lan berseru. Tetapi ibunya memandang kepadanya dengan muka merah karena Liang Hong Yi juga sudah menjadi marah dan penasaran.

“Tunggu dulu, Bi Lan!” katanya kepada puterinya, lalu dia menghadap Panglima Kwee dan isterinya. Terdengarlah suaranya yang lantang dan ketus. “Kwee-ciangkun dan Hujin, apa artinya penghinaan ini? Harap jelaskan, kenapa kalian memandang kami serendah itu?”

“Adik Liang Hong Yi, tenanglah. Kami sama sekali tidak memandang rendah, akan tetapi ketentuan ini adalah demi kebaikan kita semua. Terus terang saja, kami telah mendengar tentang riwayat masa lalumu di kota Cin-koan, di rumah pelesir Bunga Seruni...”

“Ahhh...!” Wajah Liang Hong Yi menjadi pucat sekali kemudian dia terkulai, agaknya akan terjatuh dari kursinya kalau saja Bi Lan tidak segera merangkulnya.

“Maafkan kami, Adik Liang Hong Yi. Dengan adanya kenyataan itu, tentu engkau maklum bahwa tidak mungkin putera kami menjadi mantumu yang sah. Tidak mungkin kita dapat berbesan. Akan tetapi kalau puterimu menjadi selir anak kami, hal itu lain lagi, tidak akan mencemarkan nama dan kehormatan keluarga kami, sementara itu anak kita tetap dapat hidup bersama...”

Tiba-tiba Liang Hong Yi menangis tersedu-sedu.

Bi Lan tidak dapat menahan kemarahannya. “Aku baru tahu sekarang! Paman Kwee dan Bibi maksudkan bahwa kalian melamarku untuk dijadikan selir Kakak Kwee Cun Ki? Dan kalian berani menghina ibuku seperti itu? Jahanam! Apa dikira aku sudi menjadi selirnya? Menjadi isterinya pun aku tidak sudi! Belum apa-apa kalian sudah menghina ibuku. Kalian sekeluarga tak pantas menjadi sahabat baik, patutnya menjadi musuh-musuh kami! Hayo kalian cepat minta maaf kepada ibuku atau aku harus menggunakan kekerasan?”

Bi Lan menjulurkan tangannya, dan sekali tangannya memegang kursi lalu meremasnya, terdengar suara berdetakan kemudian kursi itu patah-patah. Kini dia memegang sebatang kaki kursi untuk dijadikan senjata, matanya berapi-api penuh ancaman!

Kwee-ciangkun dan Kwee Cun Ki sudah bangkit, kemudian cepat mencabut pedang untuk membela diri kalau Bi Lan menyerang.

“Bi Lan, jangan...!” Tiba-tiba Liang Hong Yi menjerit dan menubruk puterinya.


“Akan tetapi, Ibu! Mereka ini keterlaluan sekali menghina Ibu! Merendahkan kita seperti itu. Mereka harus minta maaf kepada Ibu, atau kalau tidak aku akan mengamuk!”

“Jangan...! Jangan, anakku... mereka... mereka benar, aku... aku... memang tidak pantas berbesan dengan mereka. Bi Lan anakku, mari kita pergi, marilah, anakku...!” Liang Hong Yi menarik-narik tangan puterinya.

Dengan hati penuh kemarahan dan penasaran Bi Lan terpaksa menaati ibunya. Dia lantas melontarkan kaki kursi itu ke arah dinding, dan dengan suara nyaring kaki kursi dari kayu itu menancap di dinding seperti sebatang anak panah! Kemudian dia membiarkan dirinya digandeng dan ditarik ibunya keluar dari gedung itu.

Setelah ibu dan anak itu pergi, Panglima Kwee beserta isteri dan puteranya duduk sambil tertegun. Wajah mereka masih pucat karena tadi mereka merasa amat khawatir. Sungguh tidak mereka sangka akan begini akibatnya.

Terdengar Panglima Kwee menghela napas panjang. “Aduh, aku merasa menyesal sekali bahwa persahabatanku dengan Han Si Tiong akan menjadi putus seperti ini. Aku merasa menyesal sekali mendengar berita mengenai masa lalunya Liang Hong Yi yang memaksa kita mengambil keputusan seperti ini...”

“Aku pun menyesal, suamiku. Tetapi bukan berita itu yang patut kita sesalkan, melainkan masa lalu Liang Hong Yi itu sendiri. Betapa pun sakit dan tidak enaknya, namun sekarang kita telah bebas dari ikatan perjodohan yang tidak kita sukai itu.”

“Cun Ki, kami harap engkau tidak akan menjadi kecewa dan bersedih dengan terputusnya ikatan perjodohan ini,” kata Panglima Kwee sambil menatap wajah puteranya yang masih agak pucat.

Kwee Cun Ki menghela napas panjang. “Ayah dan Ibu, tidak dapat kusangkal bahwa aku tadinya sangat kagum dan mencinta Han Bi Lan. Akan tetapi melihat sikapnya tadi, baru aku melihat betapa betul kata-kata Ibu bahwa dia tidak pantas menjadi mantu Ibu karena dia begitu kasar dan liar. Di samping itu aku telah mendengar sendiri bahwa dia tidak sudi menikah denganku, maka aku tidak merasa sedih atau kecewa. Dia bukan satu-satunya wanita yang ada di dunia ini.”

Dalam hatinya, pemuda ini merasa mendongkol dan sakit juga mendengar betapa tadi Bi Lan menyatakan bahwa dia tidak sudi menjadi isterinya, apa lagi selirnya.

Nyonya Kwee kini bisa tersenyum. “Jangan khawatir, anakku. Aku akan mencarikan gadis yang lebih cantik, lebih terpelajar dan lebih lembut, lebih menghormat orang tua dan lebih dapat mencintamu, dari pada gadis-gadis binal itu.” Dalam benak Nyonya Kwee terbayang wajah Ciang Bi Hiang, puteri Pembesar Ciang Kui!

Demikianlah, biar pun Panglima Kwee merasa menyesal sekali karena terpaksa dia harus memutuskan hubungan yang tadinya erat sekali dengan keluarga mendiang Han Si Tiong, akan tetapi bagaimana juga dia merasa lega bahwa urusan perjodohan yang ruwet itu kini sudah lewat.....

********************

Liang Hong Yi menangis terisak-isak di dalam kamar losmen itu. Wanita ini duduk di tepi pembaringan sambil dirangkul oleh Bi Lan yang mencoba untuk menghiburnya. Nyonya itu merasa hatinya hancur. Kedukaan hatinya akibat kehilangan suaminya masih belum reda, sekarang dia ditimpa lagi kedukaan yang lebih menghancurkan hatinya karena dia melihat betapa kebahagiaan puterinya hilang akibat namanya yang tercemar. Baru sekarang dia merasa menyesal setengah mati bahwa dulu, ketika masih gadis, dia telah begitu rendah untuk mau menjual tubuhnya kepada para pemuda bangsawan demi membalas budi Lu-ma! Ahh, dia menyesal sekali!

Di dunia ini hanya suaminya seorang yang tidak memandang rendah dirinya yang pernah menjadi pelacur! Dan satu-satunya orang itu sekarang telah tiada! Semua orang tentu tak akan jauh bedanya dari sikap keluarga Kwee dalam memandang dirinya.

Seorang bekas pelacur! Seorang sampah masyarakat, wanita yang sehina-hinanya! Dan bukan dia seorang yang harus memetik buah pahit ini sebagai akibatnya, tetapi puterinya, anak satu-satunya yang tersayang, kini harus pula ikut merasakan buah akibat yang amat pahit itu!

“Aduh... Thian... sudikah Engkau mengampuni hambamu yang hina ini...?” Dia merintih di dalam tangisnya.

“Ibu..., Ibu...! Mengapa Ibu menangis seperti ini? Ibu, apakah artinya semua ini? Tuduhan Nyonya Kwee tadi, masa lalu Ibu di kota Cin-koan, apa artinya itu? Bagaimana sih masa lalu Ibu ketika tinggal di kota Cin-koan sehingga mereka berani menghina Ibu seperti itu? Semestinya tadi Ibu tidak mencegah aku membasmi orang-orang yang berani menghina lbu seperti itu!”

“Aihh, jangan, anakku…. Mereka tidak bersalah... mereka adalah orang-orang terhormat, orang-orang baik, sedangkan aku... Ibumu ini... ahh, aku seorang wanita hina yang sudah cemar namanya...”

“Ibu, ceritakanlah semua ini! Ibu membuat aku menjadi penasaran!”

Liang Hong Yi segera menyusuti air matanya. Dengan sepasang mata merah dan wajah sangat pucat, jantungnya berdebar tegang ketika membayangkan bagaimana nanti sikap anak tunggalnya apa bila mendengar riwayatnya yang hitam. Dia lalu berkata lirih, lambat-lambat, sambil memegangi kedua tangan anaknya, takut kalau ditinggal.

“Baiklah, anakku. Ibumu akan menceritakan, dengarkanlah baik-baik. Dahulu, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, ada seorang gadis berusia delapan belas tahun yang tinggal bersama bibinya. Gadis itu adalah seorang anak yatim-piatu sejak kecil sekali. Tentu dia sudah terlantar dan mungkin mati kelaparan kalau saja ketika baru berusia tiga tahun itu dia tidak diambil dan dirawat bibinya sehingga menjadi dewasa. Bibinya itu sangat sayang kepadanya. Dia diajar segala macam kepandaian yang patut dipelajari oleh seorang anak perempuan. Gadis itu berhutang budi besar sekali kepada bibinya. Akan tetapi bibinya itu adalah seorang janda dan untuk membiayai hidupnya dan keponakannya, dia mempunyai pekerjaan yang tidak terhormat, yaitu membuka sebuah rumah pelesir yang menampung beberapa orang pelacur. Maka sejak anak-anak gadis itu sudah hidup di lingkungan para pelacur. Pada waktu dia berusia tujuh belas tahun, para tamu banyak yang menginginkan dirinya, namun bibinya mempertahankan. Tetapi setelah para pemuda bangsawan tinggi yang menginginkannya, bibinya itu membujuknya agar mau melayani pemuda bangsawan karena bibinya mulai diperas oleh pembesar pemungut pajak sehingga kekurangan uang. Gadis itu merasa berhutang budi kepada bibinya dan dia tidak tahu cara lain untuk dapat membalas budinya. Maka dia pun menyerah, menuruti keinginan bibinya, mulai melayani para tamu bangsawan yang menginginkannya dengan bayaran tinggi. Dia menjadi pelacur tingkat tinggi, tetapi para langganannya hanya pemuda-pemuda bangsawan pilihan bibinya yang sebenarnya sangat sayang kepada keponakannya itu. Sesudah satu tahun lamanya menjadi pelacur, gadis itu bertemu dengan seorang pemuda kemudian saling jatuh cinta. Walau pun tahu bahwa gadis itu menjadi pelacur, pemuda itu tetap mau mengawininya. Mereka menikah lalu pindah ke kota raja di mana mereka mendapatkan pekerjaan yang cukup terhormat. Gadis yang menjadi isteri pemuda itu lantas melahirkan seorang anak. Engkaulah anak itu, Bi Lan. Gadis yang pernah menjadi pelacur di Cin-koan itu adalah... aku, Ibumu ini...” Liang Hong Yi menundukkan mukanya, tidak berani memandang wajah anaknya.

Bi Lan merasa seolah-olah disambar petir. Tubuhnya seperti kemasukan hawa panas dan dingin silih berganti, membuat wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Lalu meledaklah perasaan hatinya yang ditahan-tahan.

“Keparat busuk! Jahanam Bibi yang menjerumuskan Ibu itu! Akan kubunuh dia!” Suaranya gemetar saking marahnya.

“Bibiku itu telah tewas terbunuh, Bi Lan. Dia adalah Lu-ma yang mengasuhmu semenjak engkau lahir...”

Seketika lemas tubuh Bi Lan dan air matanya jatuh berderai, mulutnya merintih, “Ayah...!”

“Ayahmu seorang budiman. Ia adalah satu-satunya manusia yang tidak memandang hina padaku... dan kuharap, kumohon... engkau menjadi orang kedua yang tidak memandang hina...”

Tetapi Bi Lan telah melompat dari tempat tidur. Dia cepat membongkar buntalan pakaian, memisahkan dari pakaian ibunya, lalu mengambil pula sekantung uang bekal perjalanan mereka, meninggalkan pakaian ibunya dan bekal uang itu di atas meja, lalu membungkus pakaiannya sendiri. Wajahnya pucat sekali dan alisnya berkerut-kerut, sepasang matanya basah, bibir bawahnya digigitnya sendiri.

Liang Hong Yi memandang dengan kedua mata terbelalak, tubuhnya terasa lemah lunglai dan suaranya lirih gemetar, “Apa... apa... yang hendak... kau lakukan,... anakku...?”

“Aku tidak memandang hina kepada Ibu, akan tetapi aku tidak dapat tinggal bersama Ibu. Aku harus pergi membalaskan kematian Ayah. Ibu, aku pergi!” Setelah berkata demikian, tubuh Han Bi Lan berkelebat keluar dari kamar losmen itu.

“Bi Lan... anakku... Bi Lan... oohhhh...!” Liang Hong Yi berdiri, hendak mengejar, namun tubuhnya terkulai lemas dan dia pun roboh pingsan di atas lantai!

Namun Bi Lan tidak tahu apa yang terjadi dengan ibunya. Dia berlari cepat meninggalkan losmen itu dengan air mata bercucuran. Telinganya seakan-akan mendengar ejekan dan cemooh dengan suara menertawakan.

“Engkau anak pelacur... anak pelacur... anak pelacur...!”

Bi Lan mencoba menutupi kedua telinganya, akan tetapi suara itu masih terdengar terus, mengejar ke mana pun dia pergi. Dia menujukan langkahnya ke arah kota Cin-koan…..!

********************

Sampai cukup lama tubuh Liang Hong Yi rebah telentang di atas lantai kamar losmen itu. Seorang pelayan wanita setengah tua membawa poci air teh dan cangkirnya memasuki kamar itu tanpa mengetuk karena dia mendapatkan daun pintu kamar itu sudah terbuka. Dia terkejut sekali ketika melihat tubuh wanita yang menggeletak di atas lantai,. Cepat dia menaruh poci dan cangkir ke atas meja, lantas membungkuk dan mengguncang pundak Liang Hong Yi yang seperti tertidur itu.

“Toanio (Nyonya)..., Toanio..., bangunlah...! Aihh, mengapa engkau tidur di bawah?”

Pelayan itu terus mengguncang pundak Liang Hong Yi, mengira bahwa tamu itu ketiduran di bawah! Wanita ini memang belum pernah melihat orang pingsan sehingga tidak dapat membedakan antara orang pingsan dan orang tidur!

Akan tetapi karena Liang Hong Yi memang sudah cukup lama jatuh pingsan dan memang sudah waktunya siuman, maka dia pun membuka matanya ketika pundaknya diguncang-guncang. Dia segera teringat kepada puterinya, akan tetapi ketika membuka mata melihat wanita setengah tua, pelayan losmen itu, dia mengeluh kemudian bangkit duduk. Baru dia menyadari bahwa tadi dia rebah di atas lantai.

“Aih, Toanio, mengapa Toanio sampai tertidur di atas lantai?” pelayan itu bertanya sambil menyeringai, merasa lucu dan terheran.

Liang Hong Yi mencari-cari dengan pandangan matanya, akan tetapi tidak melihat Bi Lan. Teringatlah dia betapa puterinya itu telah melarikan diri meninggalkannya. Ia memandang ke arah meja dan melihat di situ terdapat tumpukan pakaiannya serta kantung uang.

“Enci pelayan, apakah tadi engkau melihat puteriku pergi dari sini?” Dia bertanya kepada pelayan itu walau pun dia sudah tahu bahwa anaknya pergi meninggalkannya.

“Ya, saya melihatnya, Toanio. Bukankah puteri Toanio gadis cantik yang berpakaian serba merah muda? Tadi saya melihat ia pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan losmen.”

“Enci, saya juga mau pergi. Berapa saya harus membayar sewa kamarnya?”

Pelayan itu memandangnya dengan bengong. “Toanio tidak jadi menginap di sini?”

“Tidak, aku ada urusan penting sehingga harus pergi sekarang juga,” kata Liang Hong Yi sambil membungkus pakaian dan kantung uang itu.

“Karena Toanio belum bermalam dan sekarang sudah hendak pergi, maka Toanio tidak usah membayar sewanya. Nanti akan saya laporkan kepada pengurus losmen.”

Liang Hong Yi mengambil beberapa potong uang lalu memberikannya kepada pelayan itu. “Ambillah uang ini untuk membayar kerugian losmen dan selebihnya untukmu.”

“Terima kasih, Toanio, terima kasih,” pelayan wanita itu membungkuk-bungkuk senang.

Uang itu lebih dari cukup untuk membayar sewa kamar satu malam. Maka kalau pengurus membolehkan tamu ini tidak membayar apa-apa karena belum sempat menginap, berarti semua uang itu untuknya!

Liang Hong Yi membawa buntalan pakaiannya dan keluar dari losmen itu. Setelah keluar dari losmen, barulah dia membiarkan air matanya turun berderai membasahi pipinya. Dia tidak peduli kalau orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan raya memandangnya dengan heran. DIa juga tidak tahu ke mana dia akan pergi. Dia tidak mampu memikirkan apa-apa lagi.

Puterinya sudah pergi meninggalkannya! Suaminya sudah terlebih dulu meninggalkannya. Tiba-tiba terasa betapa dia amat sangat merindukan suaminya. Dia seperti orang meraba-raba dalam gelap, ditinggalkan, kesepian, sendirian, hampa dan perasaan hatinya terasa pedih dan hancur.

“Kanda Han Si Tiong..., Tiong-ko suamiku, kenapa engkau meninggalkan aku...? Bawalah aku serta, suamiku...!”

Dia tersedu sambil melangkah tersaruk-saruk keluar dari kota raja. Para prajurit penjaga pintu gerbang kota raja juga merasa amat heran melihat dia menangis sambil melangkah terhuyung-huyung, akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Liang Hong Yi melangkah terus di bawah sinar matahari sampai menjelang senja. Hatinya perih, tubuhnya lunglai dan pikirannya kosong. Kedua kakinya sudah lemas. Air matanya telah kering. Mata yang membengkak dan merah karena tangis itu memandang ke depan dengan kosong, seperti mayat hidup karena mukanya pucat.

Dia tidak mempedulikan lagi perutnya yang perih dan lapar, kerongkongannya yang haus dan kering. Dia hanya tahu bahwa dia harus berjalan, entah ke mana. Dia seperti sudah mati walau pun anggota tubuhnya masih bergerak. Bibirnya yang kering itu tiada hentinya menyebut nama suaminya.

“Tiong-ko... Tiong-ko... Tiong-ko...!”

Ketika senja tiba, tanpa disadari dia sudah mendaki sebuah bukit dan melangkah tertatih-tatih sampai ke depan sebuah kuil. Pandang matanya kabur dan dia hanya samar-samar melihat kuil itu, lalu tubuhnya terguling roboh di atas tanah depan kuil. Pingsan…..!

********************

Pada saat Liang Hong Yi siuman dari pingsannya, pertama-tama hidungnya mencium bau yang sedap. Biasanya yang mengeluarkan aroma sedap yang khas ini adalah obat-obatan yang terdiri dari akar-akar, daun-daunan, dan rempah-rempah. Ia lalu membuka matanya.

Segera dia bangkit duduk sesudah melihat bahwa dia sedang rebah di atas sebuah dipan sederhana, di dalam sebuah kamar yang kecil dan sederhana pula. Dia melihat buntalan pakaiannya di sudut kamar itu. Kamar itu gundul tanpa hiasan apa pun. Tubuhnya terasa ringan dan hangat, juga perutnya terasa hangat. Mulutnya pun merasakan kepahitan jamu yang mungkin telah diminumkan orang selagi dia pingsan.

Dia teringat bahwa tadi dia berada di depan sebuah kuil ketika tiba-tiba segalanya menjadi gelap. Dia dapat menduga bahwa dia tadi tentu jatuh pingsan dan entah siapa yang sudah menolongnya. Lalu dia teringat akan keadaan dirinya. Suami mati dan anak meninggalkan dirinya!

Datang lagi kesedihan menyelimuti hatinya. Ahh, mengapa dia ditolong orang? Mengapa tidak dibiarkannya saja dia mati menyusul suaminya? Alangkah akan berbahagianya mati bertemu dan bersatu kembali dengan suaminya tercinta!

Langkah lembut dari sepasang kaki membuat dia menoleh ke arah pintu. Tampak olehnya seorang nikouw (Pendeta wanita Buddhis) memasuki kamar. Usianya sekitar enam puluh tahun, akan tetapi wajahnya masih nampak belum ada keriput dan sinar matanya sangat lembut, bibirnya tersenyum penuh kesabaran. Seraut wajah yang cerah, sabar dan penuh pengertian. Jubahnya warna kuning dan sederhana sekali. Kepalanya yang gundul ditutupi sebuah topi kain berwarna kuning pula.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner