JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-05


Melihat nikouw itu, Liang Hong Yi segera turun dari pembaringan lantas menjatuhkan diri berlutut di depannya, kemudian dia meratap. “Mengapa saya ditolong? Kenapa saya tidak dibiarkan mati saja? Saya ingin mati, saya ingin berkumpul lagi dengan suami saya yang tercinta...!”

“Omitohud! Anak yang baik, lahir mau pun mati tidak dapat ditentukan oleh keinginan kita! Kalau dalam kehidupan ini engkau merasa sengsara, apakah kau kira setelah mati akan terlepas dari pada sengsara? Kalau suamimu telah meninggal dunia lalu engkau menyusul mati, apakah kau kira kalian akan bisa berkumpul lagi seperti ketika di dunia? Anak yang baik, mengapa engkau menjadi berputus asa seperti ini? Di dalam kehidupan ini tidak ada kesusahan yang tak bisa diatasi. Baik kesusahan mau pun kesenangan hanya permainan sementara saja dalam kehidupan manusia.”

“Akan tetapi tidak ada gunanya lagi saya hidup! Suami dibunuh orang, anak satu-satunya meninggalkan saya karena marah mendengar bahwa ibunya, yaitu saya, adalah seorang bekas pelacur. Hidup saya hanya akan mencemarkan nama baik anak saya dan tidak ada orang yang sudi mengambil anak pelacur menjadi mantunya. Ah, dosa yang saya lakukan di waktu muda dulu kini akibatnya ditanggung oleh anak saya! Hanya suami saya seorang yang menghargai saya, tidak memandang rendah walau pun saya bekas pelacur. Karena itu saya ingin ikut dia, saya...”

“Omitohud! Tidak ada manusia sempurna tanpa dosa di dunia ini. Berbahagialah manusia yang menyadari akan dosa-dosanya, bertobat lahir batin dan berjanji tak akan mengulang kesalahannya. Akan tetapi sebaliknya celakalah orang yang merasa dirinya suci sendiri, angkuh dan pongah, karena sewaktu-waktu dia dapat terjeblos ke dalam jurang dosa yang lebih parah lagi.” Kemudian nikouw itu berkata dengan suara penuh wibawa. “Liang Hong Yi, angkat mukamu dan lihat, siapa pin-ni (aku)?”

Liang Hong Yi terkejut dari heran sekali ketika mendengar nikouw itu menyebut namanya. Dia mengangkat muka mengamati wajah wanita itu dan matanya terbelalak melihat wajah yang tersenyum itu, ingatannya melayang kembali kedua puluh lima tahun yang lalu saat dia bertemu dengan seorang nikouw yang kemudian mengajar ilmu silat kepadanya.

“Subo (Ibu Guru)!” dia lalu merangkul kedua kaki nikouw itu sambil menangis.

“Subo..., teecu (murid) mohon ampun, Subo...!”

“Omitohud! Hong Yi, orang yang mengakui dosanya dan mau bertobat, sudah pasti diberi ampun oleh Yang Maha Pengampun. Semua peristiwa yang menimpa dirimu bersumber pada dirimu sendiri, muridku. Karena itu, kalau benar engkau mengakui dosa dan mohon ampun dari Yang Maha Kuasa, terimalah segala yang terjadi padamu dengan hati ikhlas. Anggaplah sebagai penebus dosamu yang dijatuhkan Yang Maha Adil padamu. Tahukah engkau bahwa keinginanmu untuk mati itu pun merupakan sebuah dosa baru yang tidak kalah buruknya?”

“Aduh, Subo... teecu tidak berani lagi, teecu mohon agar Subo dapat memenuhi sebuah permohonan terakhir dari teecu...”

“Ah, seorang guru sama dengan ayah ibu sendiri. Permohonan murid pasti akan dipenuhi asalkan permohonan itu masuk akal, pantas dan tidak melanggar kebenaran.”

“Subo, teecu ingin menjadi biarawati. Biarlah teecu menebus dosa dan mendekatkan hati kepada Yang Maha Suci supaya kelak teecu dapat membantu memberi penerangan dan petunjuk kepada orang-orang yang berada dalam kegelapan seperti yang sekarang teecu alami ini.”

“Bangkit dan duduklah. Untuk menerimamu menjadi nikouw, pinni harus mengetahui dulu keadaanmu, keluargamu dan apakah yang mendorongmu sehingga ingin menjadi nikouw. Duduklah dan ceritakan keadaanmu.”

Liang Hong Yi bangkit lantas duduk di atas sebuah bangku menghadapi Bian Hui Nikouw yang sudah duduk bersila di atas pembaringan. Dulu, ketika dia dilatih ilmu silat oleh Bian Hui Nikouw, pendeta wanita itu baru berusia hampir empat puluh tahun. Kini telah berusia enam puluh tahun, akan tetapi wajahnya masih segar seperti dulu, hanya ada garis-garis ketuaannya.

Setelah hatinya merasa tenang terpengaruh oleh sikap gurunya yang tenang penuh damai itu, Liang Hong Yi lalu menceritakan semua pengalamannya, mulai dari ketika ia terpaksa menjadi pelacur untuk membalas budi kepada bibinya sampai akhirnya dia menikah dan mempunyai seorang anak perempuan yang kini sudah dewasa.

Ia menceritakan tentang perjuangannya ikut suaminya membantu mendiang Jenderal Gak Hui, tentang kehidupannya sebagai suami isteri terhormat. Lalu dia menceritakan tentang Bi Lan yang diculik orang, sampai akhirnya anak yang hilang ketika berusia tujuh tahun itu kembali sesudah berusia sembilan belas tahun. Akan tetapi kembalinya terlambat karena suaminya dan dia sudah terluka oleh dua orang murid Ouw Kan yang membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si dari Kerajaan Kin dalam perang.

“Demikianlah, Subo. Karena teecu amat berduka kematian suami, maka teecu mengajak Bi Lan pergi ke kota raja untuk menemui keluarga Panglima Kwee Gi yang dahulu pernah menjanjikan hendak menjodohkan putera mereka dengan Bi Lan. Akan tetapi setibanya di rumah mereka... ternyata keluarga Kwee telah mengetahui akan masa lalu teecu sebagai seorang pelacur di kota Cin-koan dan mereka tidak mau mengambil Bi Lan sebagai mantu yang sah, hanya mau menerima Bi Lan untuk menjadi selir putera mereka. Teecu merasa malu sekali, Subo, dan terpaksa teecu mengaku kepada Bi Lan, menceritakan semuanya itu kepada Bi Lan. Anak teecu menjadi marah sekali dan tadinya dia hendak mengamuk kepada keluarga Kwee, akan tetapi teecu melarangnya. Ia lalu pergi meninggalkan teecu, katanya hendak membalas dendam kematian ayahnya. Sekarang teecu ditinggal seorang diri, suami dan anak sudah pergi sehingga teecu merasa kehilangan, kesepian dan putus asa. Teecu berjalan terus tanpa tujuan sampai akhirnya tidak kuat lagi lalu roboh di depan kuil. Begitulah riwayat teecu, Subo.”

“Omitohud…! Semoga saja penderitaanmu sebagai hukuman ketika masih hidup ini akan meringankan perjalananmu pulang kelak, Hong Yi. Ternyata sampai sekarang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan datuk utara itu masih belum sadar dari jalan sesat yang ditempuhnya. Karena kini engkau hidup sebatang kara, dan niatmu menjadi nikouw didasari keinginan untuk menebus dosa, baiklah pinni menerima permintaanmu.”

Liang Hong Yi menjatuhkan diri berlutut. “Terima kasih, Subo. Subo telah membuka jalan ke arah kehidupan baru bagi teecu.”

“Duduklah, Hong Yi. Ketahuilah bahwa secara kebetulan pinni memang memimpin para nikouw yang berada di biara (kuil) Kwan-im-bio (Kuil Dewi Kwan Im) ini. Sudah lima tahun pinni tinggal di kuil ini dan menghentikan perantauan pinni. Agaknya memang kita sudah berjodoh, Hong Yi, sehingga kebetulan pula engkau jatuh pingsan di luar kuil dan dibawa masuk oleh para nikouw.”

Demikianlah, mulai hari itu juga Liang Hong Yi mendapat pelajaran tentang keagamaan, mempelajari kitab suci dan setelah pengetahuannya tentang agama dirasa cukup, dia pun menjalani upacara cukur rambut sampai kepalanya gundul. Dia menjadi nikouw dan diberi nama biarawati Tiong Ceng Nikouw (Biarawati Lurus Bersih), tinggal bersama lima belas orang nikouw yang berusia mulai tujuh belas sampai lima puluh tahun, dipimpin oleh Bian Hui Nikouw.

Karena Bian Hui Nikouw melihat bahwa Liang Hong Yi atau yang kini bernama Tiong Ceng Nikouw memiliki bakat besar dalam ilmu silat, maka dia pun menambahkan pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi sehingga murid itu dapat memperdalam ilmu silatnya. Liang Hong Yi seakan-akan sebuah perahu yang tadinya diombang-ambingkan badai lautan dan hampir tenggelam, sekarang telah menemukan pelabuhan yang aman dan tenteram. Kwan-im-bio itu berdiri di lereng Bukit Awan, tak jauh dari kota raja.....

********************

Han Bi Lan melakukan perjalanan cepat sekali menuju kota Cin-koan. Selama perjalanan itu wajahnya sebentar pucat dan sebentar merah, tanda bahwa hatinya dihimpit berbagai perasaan yang mendatangkan perasaan marah, malu dan juga kecewa. Seperti terngiang di kedua telinganya suara orang-orang di sepanjang perjalanan itu seolah meneriakinya.

“Anak pelacur! Anak pelacur! Anak pelacur hina!”

“Keparat! Jahanam! Setan busuk!” Dia memaki lalu berlari kencang sekali laksana seekor kijang muda, sambil berlompatan sehingga mereka yang kebetulan lewat di situ terbelalak keheranan bercampur takjub melihat seorang dara cantik berpakaian merah berlari seperti angin cepatnya!

Dia lalu memasuki kota Cin-koan yang cukup ramai, di mana terdapat banyak toko penuh barang kebutuhan sehari-hari, toko pakaian dan sebagainya. Juga terdapat rumah makan dan losmen-losmen, gedung-gedung besar milik para hartawan dan bangsawan. Ketika Bi Lan berjalan-jalan di sepanjang jalan raya yang ramai, di dalam hatinya diam-diam merasa terharu karena kota inilah tempat tinggal ibunya di waktu kecil sampai dewasa.

Dia memperhatikan kanan kiri dan akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya. Sebuah rumah yang cukup besar, dicat merah dan tampaknya terpelihara, bahkan pekarangannya nampak bersih dan rapi, terdapat pot-pot tanaman bunga. Di depan rumah itu ada tulisan yang membuat dia berhenti melangkah dan memperhatikan.

Rumah Hiburan Bunga Merah’ demikian bunyi tulisan itu.

Inilah yang sedang dicarinya, pikir Bi Lan. Sebuah rumah hiburan, tentu rumah seperti ini yang dimaksudkan sebagai rumah pelesir di mana para pelacur menjajakan tubuhnya. Dia melihat banyak kuda bagus yang ditambatkan di kebun samping rumah. Tentu itu adalah kuda tunggangan para tamu. Melihat kuda-kuda yang besar dan bagus itu, Bi Lan dapat menduga bahwa pemiliknya tentu golongan hartawan atau bangsawan. Tanpa ragu-ragu dia memasuki pekarangan yang cukup luas itu.

Tiga orang tukang pukul penjaga rumah hiburan itu, tiga orang lelaki yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun, segera menyambut kedatangan Bi Lan. Melihat yang datang adalah seorang gadis yang cantik jelita, tiga orang jagoan itu menjadi heran. Apakah ini seorang ‘bunga’ baru? Mereka belum pernah melihatnya!

Sebagai jagoan penjaga rumah hiburan di mana terdapat banyak wanita cantik, mereka tidak biasa menggoda wanita karena hal itu memang dilarang oleh pemilik rumah hiburan. Akan tetapi mereka curiga kalau-kalau yang datang ini isteri seorang ‘tamu’ yang berada di rumah hiburan. Kalau benar demikian maka wanita ini dapat menimbulkan keributan di dalam.

“Tunggu dulu, Nona,” kata asalah seorang di antara mereka. “Siapakah engkau dan ada keperluan apakah Nona masuk ke tempat ini? Kami tidak biasa menerima tamu wanita, hanya menerima tamu pria.”

Biar pun hatinya sedang gundah, akan tetapi karena dia datang untuk mencari keterangan tentang ibunya, Han Bi Lan menahan kesabaran dan menjawab singkat.

“Aku datang untuk bertemu dengan pemilik rumah hiburan ini. Harap antarkan aku kepada dia atau laporkan kepadanya bahwa aku ingin bertemu dengannya.”

Tiga orang jagoan itu tersenyum. Hemm, agaknya memang seorang calon ‘bunga’ baru, pikir mereka. Hebat juga gadis ini. Kalau menjadi bunga di situ, pasti dapat mengalahkan semua bunga yang berada di situ!

“Baik, tunggulah sebentar, akan kulaporkan kepada Ciu-ma,” kata jagoan yang hidungnya pesek itu kemudian dia bergegas masuk ke dalam.

Dua jagoan yang menanti di luar bersama Bi Lan, memandang gadis itu penuh perhatian. Seorang di antara mereka yang matanya agak juling bertanya,

“Nona, siapakah namamu?”

“Aku hanya akan memberi tahu namaku kepada pemilik rumah ini,” jawab Bi Lan dengan suara datar dan sambil lalu, sama sekali tidak memandang orang itu.

“Hei, Nona engkau cantik sekali. Jika engkau menjadi bunga di sini, aku akan mencarikan seorang kongcu (tuan muda) yang kaya raya. Akan tetapi jangan lupa memberi uang jasa kepadaku.”

Bi Lan tidak mengerti jelas maksud kata-kata itu, akan tetapi dia dapat mengira-ngira dan wajahnya telah berubah merah. Sebelum dia naik darah, untunglah penjaga pertama tadi sudah muncul kembali dengan wajah menyeringai lebar.

“Nona dipanggil ke dalam. Ciu-ma menanti di serambi sebelah kiri sana.” Dia menuding ke samping kiri bangunan di mana terdapat serambi kecil. Bi Lan mengangguk lalu berjalan menuju ke tempat itu.

Begitu dia memasuki serambi, dari dalam keluar seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang berpakaian mewah dan berhiaskan emas permata. Wajahnya berbedak tebal dan bibirnya bergincu merah menyolok.

Begitu melihat Bi Lan, matanya terbelalak, wajahnya berseri dan senyumnya melebar dan dia tidak menyembunyikan kekagumannya. Pandang matanya yang amat berpengalaman itu mengamati wajah serta bentuk tubuh Bi Lan bagaikan seorang saudagar kuda meneliti seekor kuda yang akan dipilihnya. Di dalam hati dia mencatat bahwa pada diri gadis yang kini berdiri di depannya itu terdapat sumber uang yang deras mengalirkan uang memasuki koceknya! Maka dengan ramah dia lalu menyambut gadis itu.

“Ahh, selamat datang, Nona. Silakan duduk, mari-mari...!”

Bi Lan duduk berhadapan dengan wanita yang tubuhnya gembrot dan sikapnya genit itu, yang kalau bicara sering mengangkat-angkat sepasang alisnya yang dicukur kelimis lalu digambari garis hitam kecil melengkung.

“Nona, siapakah engkau dan bantuan apa yang dapat kuberikan kepadamu?” Manis sekali ucapan itu, belum apa-apa sudah menawarkan bantuan!

“Namaku Han Bi Lan. Apakah Bibi ini yang dipanggil Ciu-ma dan menjadi pemilik rumah hiburan ini?”

“Betul, Nona. Akulah yang dipanggil Ciu-ma. Mulai sekarang engkau pun boleh menyebut aku Ciu-ma. Nah, katakan, apa yang engkau inginkan?”

“Sudah lamakah engkau mengusahakan rumah hiburan ini, Ciu-ma?”

“Ehh? Mengapa engkau bertanya begitu, Nona jelita?”

“Aku hanya ingin tahu saja.”

“Tentu saja sudah lama sekali. Semenjak aku tidak menjadi gadis penghibur lagi, aku lalu menjadi penguasa rumah hiburan, sudah lebih dari dua puluh tahun.”

Hati Bi Lan girang bukan main. Orang ini tentu mengetahui dengan jelas keadaan dunia pelacuran pada dua puluh tahun yang lalu.

“Ciu-ma, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kurang Iebih dua puluh tahun yang lalu di kota ini terdapat seorang... pelacur yang bernama… Liang Hong Yi?”

“Dua puluh tahun yang lalu? Liang Hong Yi..., Hemm, kau maksudkan Liang Hong Yi yang kabarnya kini menjadi isteri panglima perang di kota raja itu? Tentu saja aku tahu! Siapa yang tidak mengenal Liang Hong Yi pada waktu itu? Dia adalah ratunya bunga hiburan di Cin-koan ini! Langganannya hanya terdiri dari para bangsawan dan hartawan! Dia adalah bintangnya rumah hiburan Bunga Seruni yang dipimpin Lu-ma, yang kabarnya sekarang ikut keponakannya, Liang Hong Yi itu, tinggal di kota raja. Mengapa engkau menanyakan dia, Nona manis? Dia memang pelacur pilihan, cantik jelita dan jika seorang gadis seperti Nona ini suka, aku akan dapat membuatmu menjadi bintang seperti Liang Hong Yi itu!”

Hati Bi Lan mulai panas, akan tetapi ia tahu bahwa wanita ini tidak mempunyai kesalahan apa pun, juga tidak ada sangkut pautnya dengan ibunya. Hatinya terasa panas karena kini dia yakin bahwa dahulu ibunya benar-benar seorang pelacur tersohor di kota ini! Melihat Bi Lan terdiam dan hanya menundukkan mukanya, Ciu-ma mengira bahwa gadis itu mulai tertarik dengan tawarannya.

“Nona Han Bi Lan, silakan kalau engkau ingin melihat-lihat keadaan di dalam,. Kehidupan di rumah ini penuh dengan kegembiraan dan bergelimang kemewahan, dan seorang gadis penghibur yang cantik dapat berenang di lautan uang. Mari ikut aku!”

Dalam keadaan hati tertekan oleh kenyataan pahit itu, Bi Lan menurut saja ketika diajak masuk ke dalam oleh Ciu-ma. Mereka segera memasuki sebuah ruangan yang luas sekali di mana terdapat banyak meja seperti di restoran besar dan ada bangku-bangku panjang terhias kain beraneka warna, lantainya juga ditutupi permadani, perabot-perabotnya serba indah, dan terdapat banyak orang. Bi Lan menyapu ruangan itu dengan pandang matanya kemudian dia pun bergidik.

Di situ ada belasan orang gadis, rata-rata cantik dan pesolek. Sikap mereka sangat genit dan mereka melayani belasan orang laki-laki yang semuanya berpakaian indah. Ada yang masih muda, ada pula yang setengah tua, tetapi kesemuanya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang kaya atau bangsawan.

Suasana di dalam ruangan itu sangat ramai dan meriah. Setiap orang memiliki pasangan. Ada dua pasang sedang makan minum di sebuah meja, tampaknya dua orang lelaki muda itu sudah mulai mabok dan tertawa-tawa, sedangkan kedua orang pasangannya dengan genit merayu mereka. Ada pula yang duduk berpasangan di atas bangku panjang sambil berpelukan dan saling berbisik mesra. Terlihat pula empat pasangan yang tengah bermain kartu di sebuah meja lain. Bahkan ada yang bercumbu di bangku yang terletak di sudut. Beberapa di antara mereka memasuki kamar yang banyak berderet di bagian belakang sambil berangkulan dan tertawa-tawa. Melihat semua ini, Bi Lan menjadi muak.

“Heiii, Ciu-ma! Barang barukah itu? Cantik nian!” Seru seorang lelaki sambil menyeringai memandang Bi Lan. Semua orang menoleh lantas memandang Bi Lan yang melangkah masuk dituntun Ciu-ma yang menyeringai lebar.

“Eh, Ciu-ma! Apakah dia belum pernah tersentuh? Jika belum pernah, berikan kepadaku. Aku mau membayar berapa saja yang kau minta!”' seru seorang lelaki berusia lima puluh tahun yang bertubuh gendut sekali sehingga kelihatan pendek. Tentu dia itu seorang yang kaya raya, melihat jari tangannya penuh cincin emas dengan batu-batu permata indah dan mahal. Dia sedang duduk sambil memangku seorang gadis yang usianya belum ada dua puluh tahun.

Tiba-tiba Bi Lan merasa kepalanya pening. Dia memandang kepada gadis yang dipangku lelaki gendut itu. Dia menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan, namun tetap saja yang dilihat dipangku dan dicumbu lelaki gendut itu adalah ibunya, Liang Hong Yi!

Tiba-tiba dia tidak dapat menahan gejolak hatinya. Ibunya dipangku dan dicumbu laki-laki gendut itu! Bi Lan mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah berkelebat, tahu-tahu sudah berada di depan Si Gendut itu.

“Jahanam! Kamu sampah masyarakat!” Tangannya menampar.

“Prokkk...!”


Tubuh laki-laki gendut itu terpelanting dan gadis yang dipangkunya juga terpental. Lelaki itu mengaduh-aduh sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan dan darah berlepotan di kedua tangannya karena bukit hidungnya telah remuk kena ditampar Bi Lan sehingga darahnya bercucuran.

Bi Lan mendengar suara para gadis menjerit dan ketika dia memutar tubuh memandang ke sekelilingnya, dia menjadi semakin marah karena wajah para gadis itu berubah menjadi wajah ibunya. Ibunya dipeluk, dicumbu, dipangku dan diajak bersenang-senang oleh para pria di ruangan itu. Bi Lan mengeluarkan pekik melengking berulang-ulang.

“Jahanam semua! Kalian adalah laki-laki yang mengotori dunia! Sudah sepatutnya laki-laki macam kalian ini dihajar!” Dan gadis itu bergerak cepat sekali, tubuhnya berkelebatan dan berturut-turut terdengar suara laki-laki mengaduh dan darah pun muncrat.

Ada yang bukit hidungnya hancur, ada yang daun telinganya tercabut putus, dan ada pula yang sebelah matanya buta karena biji matanya tercongkel keluar oleh jari tangan Bi Lan. Dalam waktu beberapa detik saja tiga belas orang laki-laki yang kesemuanya adalah para bangsawan dan hartawan hidung belang yang menjadi langganan rumah pelesir itu, tidak seorang pun terluput dari hajaran Bi Lan. Muka mereka dibikin cacad dan dibiarkan tidak ada yang dibunuh, tetapi mereka menjadi orang-orang yang bermuka cacad untuk selama hidup.

Para gadis pelacur itu tidak diganggu oleh Bi Lan. Mereka menjerit-jerit ngeri, bahkan Ciu-ma roboh pingsan.

Sesudah pria terakhir dihajarnya dan Bi Lan yang kedua tangannya ternoda darah hendak melompat keluar, tiga orang jagoan yang tadi berada di halaman dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu karena mendengar jerit ketakutan para gadis pelacur.

Begitu memasuki ruangan dan melihat para tamu sudah roboh malang-melintang sambil merintih-rintih dan muka mereka berdarah, para jagoan itu terkejut bukan main. Melihat Bi Lan ada di situ dan kedua tangan gadis itu berlepotan darah, tiga orang jagoan ini segera bisa menduga apa yang terjadi. Gadis itu telah membuat kekacauan dan menyerang para tamu pria!

Tiga orang jagoan cepat mencabut golok mereka dan tanpa banyak cakap lagi mereka bertiga lalu maju menerjang Bi Lan dengan bacokan golok mereka. Akan tetapi dengan sigap Bi Lan berkelebat lenyap. Selagi tiga orang itu kebingungan, tahu-tahu seorang dari mereka berteriak karena tiba-tiba tangan kanannya lumpuh dan goloknya telah dirampas Bi Lan. Dua orang yang lain cepat membalik dan menyerang.

“Trangg…! Tranggg...!”

Golok dua orang jagoan itu terpental dan terlepas dari pegangan mereka saking kuatnya Bi Lan menangkis dengan golok rampasannya.

“Hemm, kalian suka bertindak sewenang-wenang dengan tangan kanan kalian, karena itu kalian tidak patut mempunyai tangan kanan lagi!” Tiga kali sinar golok berkelebat disusul teriakan tiga orang itu dan ternyata lengan kanan mereka telah buntung sebatas siku!

Bi Lan membuang golok ke atas lantai, kemudian sekali berkelebat tubuhnya telah lenyap dari rumah itu.

Tentu saja rumah hiburan Bunga Merah menjadi gempar. Ketika berita tentang peristiwa mengerikan yang terjadi di rumah hiburan Bunga Merah itu tersebar keluar, pada saat itu terdengar pula berita bahwa di Rumah Hiburan Bunga Mawar dan Rumah Hiburan Teratai juga terjadi keributan dan peristiwa yang sama. Semua tamu pria dari dua rumah hiburan itu, yang masing-masing jumlahnya ada belasan orang, terdiri dari lelaki bangsawan dan hartawan, mukanya sudah dirusak sehingga cacad oleh seorang gadis cantik jelita yang mengamuk seperti orang gila tanpa alasan apa pun!

Tentu saja seluruh kota Cin-koan menjadi gempar. Para perwira keamanan juga geger dan mereka langsung mengerahkan pasukan keamanan untuk melakukan pengejaran hendak menangkap gadis pengacau itu. Namun Bi Lan sudah jauh meninggalkan kota Cin-koan. Berita ini mengejutkan sampai terdengar di kota raja karena banyak laki-laki bangsawan yang menjadi korban…..

********************

Ketika berita itu sampai ke rumah keluarga Panglima Kwee Gi, mereka pun menjadi kaget sekali. Panglima Kwee Gi duduk terhenyak di atas kursi, berhadapan dengan isteri serta puteranya. Kwee-ciangkun menghela napas berulang-ulang, lalu berkata,

“Ah, tak mungkin salah lagi. Berita itu menyebutkan bahwa gadis cantik yang mengamuk itu berpakaian serba merah muda. Siapa lagi kalau bukan Han Bi Lan? Agaknya dia pergi ke Cin-koan dan sesudah mendapat berita tentang ibunya, dia marah kepada semua laki-laki yang berkunjung ke rumah pelacuran kemudian menghajar mereka dengan membikin cacad wajah mereka! Tiga puluh orang lebih, hampir empat puluh orang bangsawan dan hartawan dihajarnya. Betapa mengerikan!”

“Aihh… jangan-jangan dia akan mengamuk pula di sini!” kata Nyonya Kwee dengan suara gemetar.

“Tidak mungkin dia mau melakukan itu karena dia tahu bahwa kita tidak menuduh palsu, tahu bahwa kita tidak bersalah. Sungguh kasihan gadis itu. Aku dapat merasakan betapa hancur hatinya mengetahui bahwa dia anak bekas pelacur. Maka dia mendendam kepada semua pria yang berkunjung ke rumah pelacuran. Aihh…, kalau tahu akan begini jadinya, pasti kularang engkau membuka rahasia tentang Liang Hong Yi sehingga rahasia itu akan tetap tertutup dan tidak diketahui oleh Bi Lan.”

Kwee Cun Ki diam saja, hanya menundukkan mukanya. Karena secara tegas Bi Lan telah mengatakan bahwa gadis itu tidak sudi menjadi selir atau isterinya yang sah sekali pun, maka dia sudah melepaskan perasaan cintanya terhadap gadis itu. Malah diam-diam dia bersyukur bahwa ikatan perjodohan itu tidak jadi karena biar pun dia sendiri seorang yang berjiwa pendekar, mempertahankan keadilan dan kebenaran, namun hatinya merasa ngeri juga mendengar sepak-terjang Bi Lan yang dianggap terlalu sadis…..!

********************

Sementara itu, Bi Lan melarikan diri dari kota Cin-koan. Dia berhenti di pinggir hutan lalu mencuci tangannya yang ternoda darah dengan air anak sungai. Di dalam hatinya timbul rasa puas karena telah menghajar para pria hidung belang itu.

“Akan kuhajar semua lelaki di dunia yang menyebabkan ibuku menjadi pelacur!” bisiknya kepada diri sendiri.

Kemudian dia merasa lelah sekali, lelah karena tadi sudah mengumbar nafsu amarahnya. Lelah, lapar dan haus. Dia pun duduk melamun di tepi anak sungai. Kini dia benar-benar sebatang kara, kehilangan ayah dan kehilangan ibu. Ayahnya dibunuh orang dan ibunya... ahh, dia tidak mau kembali kepada ibunya! Dia menganggap ibunya sudah mati, bersama ayahnya!

Sejak kecil Bi Lan dididik oleh Jit Kong Lhama, seorang pendeta Lhama dari Tibet yang termasuk golongan sesat. Karena itu Bi Lan tumbuh menjadi dewasa dengan watak yang keras liar dan pemberani. Namun, karena pada dasarnya dia bukan seorang yang berhati jahat, tidak mau menuruti tarikan nafsu, apa lagi setelah dia diaku sebagai murid Kun-lun-pai, dia dapat menyesuaikan dirinya dan meniru tindakan para pendekar.

Bi Lan mengepal tinju. Dia akan membalas dendam kematian ayahnya. Dia akan mencari Ouw Kan beserta kedua orang muridnya yang bernama Bong Siu Lan dan Bouw Kiang itu kemudian dia akan membunuh mereka bertiga. Dia akan membalas dendam ibunya yang dia anggap sudah mati. Ibunya dirusak dan ‘dibunuh’ oleh para lelaki hidung belang. Dia akan memberi hajaran kepada semua lelaki hidung belang. Dia anggap bahwa para lelaki hidung belang itulah biang keladi pelacuran, karenanya semua harus dihajar dan mukanya dibikin cacad!

Dia juga masih mempunyai musuh yang harus dihajarnya, yaitu Souw Thian Liong! Kalau teringat betapa pemuda yang semula dikaguminya dan sangat menarik hatinya itu sudah menghinanya dan memukuli pinggulnya seperti seorang yang menghukum anaknya yang nakal, maka hatinya menjadi panas sekali. Akan tetapi untuk dapat membalas pemuda itu, dia harus memperdalam ilmu silatnya karena Thian Liong merupakan lawan yang sangat tangguh!

Dia hanya mempunyai sebungkus pakaian, tidak memiliki uang sedikit pun untuk membeli makanan dan minuman. Mudah, pikirnya. Gurunya, Jit Kong Lhama, selalu mengatakan bahwa jika dia memerlukan uang, dia boleh mencuri uang para pembesar atau hartawan.

Para pembesar itu mengumpulkan uang dengan cara korupsi atau memeras rakyat. Ada pun para hartawan itu lupa bahwa di kanan kirinya ada banyak orang demikian miskinnya sehingga untuk makan setiap hari saja tidak mempunyai cukup uang! Sebagian besar dari mereka itu pelit, lupa bahwa keuntungan banyak yang diperolehnya itu asalnya juga dari uang rakyat!

Apa lagi sekarang, para bangsawan dan hartawan itu lebih senang menghamburkan uang di rumah pelacuran dari pada menolong rakyat yang kelaparan. Maka sudah sepantasnya kalau sebagian hartanya dikurangi, diambil untuk keperluan biaya perjalanan hidupnya!

Demikianlah, sejak peristiwa yang terjadi di kota Cin-koan dan yang menggegerkan itu, di dunia kang-ouw muncul seorang tokoh baru dengan sebutan Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah). Han Bi Lan disebut demikian karena dia dianggap terlalu sadis dan kejam seperti iblis betina yang selalu merusak muka pria yang melacur dan karena dia selalu berpakaian serba merah muda.

Semenjak nama ini muncul, rumah-rumah pelacuran di kota-kota besar menjadi sepi. Para kongcu (tuan muda) hidung belang merasa ngeri kalau-kalau Ang I Mo-li muncul sewaktu mereka sedang berpelesir di rumah pelacuran. Sedangkan para hartawan yang uangnya kecurian, tidak begitu peduli karena yang dicuri hanya tidak seberapa baginya, walau pun bagi Bi Lan uang yang diambilnya dari kamar seorang hartawan cukup untuk biaya hidup selama tiga bulan.....!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner