KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-28


Kini banyak orang yang menonton peristiwa itu. Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani mendekat, hanya menonton dari jarak agak jauh sehingga rumah makan itu nampak sepi ditinggalkan orang. Bahkan mereka yang hendak melalui jalan di depan rumah makan itu tidak berani lewat.

Semua orang berbisik-bisik dan merasa tegang. Apa bila sang pembesar yang merupakan raja dan panglimanya itu muncul bersama pasukannya, tentu gadis itu akan celaka. Akan tetapi mereka yang sudah pernah melihat sepak terjang Burung Hong Putih, secara diam-diam merasa gembira sekali dan tahu bahwa mereka akan memperoleh tontonan yang menyegarkan hati mereka yang selama ini banyak mengalami penindasan itu.

Tidak Iama kemudian rombongan dua orang pembesar itu sudah datang. Agaknya karena tergesa-gesa dan agar mereka dapat cepat tiba di tempat itu, kedua orang pembesar itu naik sebuah kereta dan di belakang kereta mereka terdapat dua puluh orang lebih prajurit penjaga keamanan yang biasanya suka mereka gunakan untuk melakukan ‘pembersihan’ terhadap rakyat jelata untuk memaksa mereka membayar pajak atau melakukan apa saja yang dikehendaki kepala daerah atau komandan pasukan itu.

Begitu kereta berhenti di depan rumah makan, Ban Gu yang tak sempat berganti pakaian, masih berpakaian koyak-koyak dengan tubuh berlumuran darah, segera turun diikuti oleh ayahnya yang bertubuh tinggi besar berperut gendut sekali, berpakaian layaknya seorang perwira yang serba gemerlapan dan gagah. Ban Ho Tung, kepala pasukan keamanan ini, wajahnya penuh dengan brewok sehingga tampak menyeramkan, dan dari wajah itu saja sudah membayangkan bahwa dia biasa bersikap keras dan galak.

Orang kedua yang usianya sebaya dengan Ban Ho Tung, adalah Bouw Ti, kepala daerah Leng-ciu yang berpakaian sebagai seorang bangsawan. Tubuhnya tinggi kurus, kumisnya seperti kumis tikus, sikapnya angkuh dan sombong sekali. Cara jalannya saja dibuat-buat segagah mungkin, namun malah tampak lucu karena tubuhnya terlalu kerempeng seperti seorang pemadat berat itu.

“Mana dia perempuan iblis, penjahat dan pemberontak itu?” tanya Ban-ciangkun (Perwira Ban) kepada puteranya, sikapnya petentang-petenteng.

“Ia tadi berada di dalam rumah makan ini, ayah,” kata Ban Gu sambil menuding ke dalam.

“Siapa mencari aku?” terdengar bentakan nyaring merdu.

Dari dalam rumah makan melangkah keluar gadis berpakaian putih itu. Tangan kanannya memegang pecut dan ujung pecut itu melingkar di leher Bouw Kui yang diseret sehingga pemuda itu berjalan merangkak dengan kaki tangannya seperti seekor anjing.

“Tikus kecil Ban, cepat kau ke sini. Berlutut!” Gadis itu membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya kepada Ban Gu.

Pemuda ini memang merasa sakit hati dan marah sekali. Sekarang dia tak merasa takut lagi. Bukankah di sini ada ayahnya dan ada Bouw-taijin beserta dua puluh lebih prajurit di belakangnya?

“Perempuan iblis, engkau akan tahu rasa nanti…!”

“Wuuuttt...! Tarrrr...!”

Pecut itu sudah melayang dan tepat membelit kaki Ban Gu, kemudian sekali tarik tubuh Ban Gu segera terseret ke depan kaki gadis itu dalam keadaan berlutut! Ban Gu menjadi pucat dan dia pun berteriak-teriak.

“Tolooonggg...! Ayah, toloonggg...!”

“Hemm, kalian ini dua orang pemuda brengsek mengandalkan kedudukan orang tua untuk menghina para wanita, sudah sepantasnya kalian dihajar!” Sesudah berkata demikian, dia kembali menggerakkan cambuknya dua kali.

“Tarrrr…! Tarrr…!”

Dua orang itu menjerit lalu tangan mereka mendekap pinggir kepala yang berdarah-darah karena daun telinga kanan mereka telah putus terpenggal oleh ujung cambuk dan kini dua potong daun telinga itu menggeletak di atas tanah! Keduanya cepat merangkak melarikan diri ke arah orang tua mereka.

“Perempuan jahat! Betapa beraninya engkau menyiksa dan menghina putera kami! Kami adalah kepala daerah di Leng-ciu ini!”

“Keparat jahanam! Dan aku adalah kepala pasukan keamanan di Leng-ciu. Engkau sudah berani menghina kami, berarti engkau sudah bosan hidup!” Ban Ho Tung membentak pula sambil mencabut pedangnya, lantas memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya agar menangkap atau mengeroyok gadis berpakaian putih itu. Para prajurit yang sudah turun dari kuda masing-masing segera maju mengepung.

Gadis itu mengeluarkan suara melengking seperti suara burung, dan tiba-tiba tangannya sudah melolos ikat pinggangnya yang berupa sabuk sutera merah. Begitu para prajurit itu menyerbu, dia bergerak bagaikan seekor burung cepatnya. Tubuhnya melesat dan seolah lenyap, hanya merupakan sesosok bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar merah yang menyambar-nyambar.

Terdengarlah teriakan-teriakan mengaduh dan para prajurit itu roboh berpelantingan ketika mereka disambar sinar merah dari sabuk sutera merah yang digerakkan secara amat lihai itu.

Thian Liong yang sudah keluar dan ikut melihat perkelahian itu diam-diam merasa kagum sekali. Kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat yang dimiliki gadis maling berpakaian merah muda atau tingkat Ang Hwa Sian-li Thio Siang In, agaknya tingkat kepandaian silat gadis ini tidak kalah atau sukar ditentukan siapa yang paling lihai di antara mereka, walau pun gerakan gadis ini terlihat aneh dan asing.

Sesudah merobohkan dua puluh empat orang prajurit pengawal itu, Si Burung Hong Putih melihat betapa dua orang pembesar itu ketakutan dan hendak melarikan diri. Akan tetapi dia melompat mengejar, lalu sinar merah sabuk suteranya meluncur ke depan. Tahu-tahu leher kedua orang itu telah terbelit ujung sabuk yang ternyata menjadi panjang sekali dan sekali tarik, dua orang itu roboh terguling-guling ke arah kakinya!

Dua orang itu bangkit berdiri dengan leher masih terbelit ujung sabuk merah. Walau pun ketakutan setengah mati melihat puteranya terpotong daun telinga kanannya dan semua prajurit pengawalnya dihajar sampai berjatuhan, namun Pembesar Bouw yang berwatak angkuh dan sombong itu masih mencoba untuk menggertak gadis itu.

“Nona, engkau telah berdosa besar sekali! Pasukan kerajaan akan datang menangkapmu sebagai seorang pemberontak yang jahat!”

“Srattt...!”

Gadis itu menggerakkan tangan kirinya dan dia telah mencabut sebatang pedang bengkok berukir gambar seekor naga, yang mengkilap berkilauan saking tajamnya dan ukiran naga itu terbuat dari emas!

“Kalian ingin kupenggal leher kalian dengan ini?”

Begitu Bouw Ti dan Ban Ho Tung melihat pedang bengkok yang diukir gambar naga dari emas itu, seketika itu pula mata mereka terbelalak, wajah mereka berubah menjadi pucat, tubuh mereka gemetar dan kedua kaki menggigil. Mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu, membentur-benturkan dahi di tanah sambil berkata dengan suara penuh ketakutan.


“Ampun beribu ampun, hamba sama sekali tidak tahu bahwa paduka yang mulia adalah...”

“Tidak peduli aku siapa! Apakah kalian berdua mengakui dosa-dosa kalian?” bentak gadis itu sambil mengancam dengan pedang bengkoknya dan melepaskan sabuk sutera merah itu dari leher mereka.

“Hamba... hamba... tidak tahu kesalahan dan dosa apa yang sudah hamba perbuat, yang mulia...” Bouw Ti meratap.

Melihat sikap dua orang pejabat itu yang berlutut lalu menyebut yang mulia kepada nona itu, Bouw Kui dan Ban Gu yang masih kesakitan terkejut dan ketakutan, lalu ikut berlutut mendekam di atas tanah tanpa berani bergerak, bahkan berusaha menahan napas agar tubuh mereka tidak membuat gerakan.

Demikian pula para prajurit pengawal, mereka juga ketakutan dan berlutut di atas tanah. Di antara mereka yang sudah lama menjadi prajurit, ada yang mengenal pedang bengkok dengan ukiran naga emas itu. Pedang itu adalah pedang tanda kekuasaan yang diberikan oleh Sribaginda Kaisar sendiri. Pemegang pedang itu boleh menghukum dan membunuh pembesar mana saja tanpa lebih dulu minta ijin kepada Kaisar!

“Hemm, orang she Bouw dan orang she Ban. Kalian berdua adalah orang-orang pribumi yang dipercaya oleh Sribaginda, diberi kedudukan dan kekuasaan untuk mengatur rakyat di daerah ini, menjaga keamanan serta mengusahakan kesejahteraan dan ketenteraman bagi seluruh rakyat. Tetapi ternyata kalian malah menindas rakyat, bangsamu sendiri, dan membiarkan anak-anak kalian menjadi pemuda berandalan yang jahat dan kejam. Dan sekarang kalian masih bertanya dosa apa yang kalian lakukan? Hayo jawab!”

Dua orang pembesar itu menjadi semakin ketakutan. “Hamba layak dihukum... akan tetapi hamba mohon beribu ampun dan hamba berdua berjanji tak akan melakukan penindasan lagi, akan melaksanakan tugas kewajiban hamba sebaik-baiknya.”

“Hemm, benarkah itu? Kalian akan berusaha agar kehidupan rakyat di daerah ini menjadi sejahtera dan makmur? Kalian akan bertindak seadil-adilnya?”

“Hamba bersumpah!” Dua orang pembesar itu menjawab dengan berbareng.

“Baik, sekarang disaksikan oleh semua orang yang melihat kejadian ini dari jauh itu,” dia menuding ke arah banyak orang yang berdiri di kejauhan, “biarlah sekarang aku memberi hukuman ringan kepada kalian!” Berkata demikian, secepat kilat sinar pedang berkelebat dan dua orang pembesar itu mengaduh lantas memegangi tangan kiri mereka yang sudah kehilangan jari kelingking masing-masing akibat terbabat putus oleh pedang yang sangat tajam itu. “Sekarang hanya jari kelingking kiri kalian yang kuambil. Jika aku masih melihat atau mendengar kalian berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, maka lain kali kalian akan kutangkap dan kuseret ke pengadilan kota raja, atau leher kalian akan kupenggal di sini juga kalau aku sudah tidak sabar lagi!”

“Ampunkan hamba…!” Dua orang itu menyembah-nyembah. Dua orang putera mereka juga menyembah-nyembah ketakutan.

Gadis itu menyarungkan pedangnya dan melibatkan sabuk sutera merah di pinggangnya lagi, lalu menghampiri kudanya, melompat ke punggung kuda dan menjalankan kudanya meninggalkan tempat itu. Ketika dia melewati orang-orang yang berkerumun nonton dari kejauhan, terdengar ada yang berseru,

“Hidup Pek Hong Nio-cu….!”

Seperti dikomando, serentak semua mulut berseru, “Hidup Pek Hong Nio-cu…!”

Akan tetapi gadis itu hanya tersenyum dan membedal kudanya meninggalkan kota Leng-ciu. Dia tidak tahu bahwa ada bayangan orang berkelebat lantas mengikutinya keluar dari pintu gerbang kota sebelah utara…..

********************

Yang dijuluki Pek Hong Nio-cu itu sebetulnya adalah seorang puteri kaisar yang lahir dari seorang selir kaisar yang cantik. Selir ini adalah seorang pribumi (bangsa China asli yang menyebut dirinya bangsa Han). Biar pun dia hanya puteri seorang selir, tetapi karena selir itu menjadi kesayangan kaisar Dinasti Kin, maka tentu saja anak perempuan ini juga amat disayang dan dimanja oleh kaisar.

Dia diberi nama Moguhai dan semenjak kecil dia memiliki watak yang bengal dan lincah seperti seorang anak laki-laki. Dalam usia lima tahun saja dia sudah berani menunggang kuda dan membalapnya, berlomba dengan para putera bangsawan, bahkan yang usianya lebih tua dari padanya. Dia suka pula bermain panah-panahan sehingga sejak kecil dapat melepaskan anak panah dengan jitu.

Ketika para putera bangsawan yang sudah berusia sepuluh tahun ke atas mulai berlatih ilmu silat, Puteri Moguhai yang berusia enam tahun juga tidak mau ketinggalan, ikut-ikutan berlatih ilmu silat. Tentu saja guru silatnya tidak berani melarang karena dia adalah puteri kaisar. Apa lagi ketika guru-guru silat melihat betapa bocah perempuan ini memiliki bakat yang luar biasa, mereka bahkan bersemangat untuk mengajarkan ilmu silat kepadanya.

Karena itu tidak mengherankan apa bila Puteri Moguhai memperoleh kemajuan pesat dan sesudah berusia sepuluh tahun, di dalam latihan dia dapat mengalahkan murid-murid pria yang usianya lebih beberapa tahun dari padanya! Para gurunya tentu saja menjadi girang dan bangga dan mereka seolah berlomba untuk menurunkan ilmu-ilmu simpanan mereka kepada sang puteri, bukan hanya karena senang memiliki murid yang demikian cerdiknya, melainkan tentu saja ada pamrih untuk menyenangkan hati sang kaisar!

Ketika Puteri Moguhai berusia sepuluh tahun, pada suatu hari, ketika itu senja telah tiba, dia berjalan-jalan di dalam taman istana yang luas. Cuaca remang-remang, akan tetapi dia masih bisa menikmati bunga-bunga yang bermekaran karena waktu itu musim semi telah tiba. Ketika dia mendekati sebuah pondok yang berada di tengah taman itu, pondok kecil tempat peristirahatan keluarga kaisar, dari kejauhan dia melihat ibunya memasuki pondok itu bersama seorang lelaki. Jelas tampak olehnya bahwa laki-laki itu bukan kaisar, bukan ayahnya!

Puteri Moguhai baru berusia sepuluh tahun sehingga belum dapat menduga apa-apa yang melanggar susila. Dia hanya merasa sangat heran, tetapi tidak berani mendekati pondok, hanya merunduk-runduk lebih dekat lantas bersembunyi di balik semak-semak di samping pondok untuk mengintai ke arah pintu dengan maksud agar dia bisa melihat siapa laki-laki itu kalau nanti keluar dari pondok. Di atas pondok itu tergantung sebuah lampu sehingga dia akan dapat melihat wajah laki-laki itu nanti.

Dia mendekam di sana, hati-hati sekali tidak berani banyak bergerak. Bahkan, ketika ada nyamuk menggigitnya, dia hanya mengusir nyamuk itu tanpa berani menamparnya.

Sementara itu, yang memasuki pondok itu memang Ibu Puteri Moguhai yang dulu adalah seorang wanita pribumi bernama Tan Siang Lin. Kini dia adalah seorang selir terkasih dari Kaisar Kin. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun tetapi masih tampak cantik jelita dan gerak-geriknya lembut sekali seperti seorang gadis muda.

Selir kaisar ini memasuki pondok yang diterangi lampu gantung itu bersama seorang pria. Pria itu berpakaian sederhana. Tubuhnya sedang namun tegap, wajahnya bersih, tampan dan senyumnya menawan. Sikapnya juga lembut tetapi sinar matanya mencorong. Begitu memasuki pondok dan daun pintunya ditutup, selir kaisar itu lalu mengeluh.

“Sie-koko (Kanda Sie)…!” Dan dia sudah menubruk hendak merangkul pria itu.

Akan tetapi pria itu menyambut dengan memegang dan menahan kedua pundak wanita itu, lalu berkata dengan suara halus namun penuh wibawa.

“Tidak, Lin-moi. Jangan lakukan itu. Ingat, engkau adalah isteri dari seorang pria, bahkan seorang kaisar! Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang isteri yang melakukan hal yang tidak patut dan mengkhianati suami. Mari, duduklah, kita bicara secara baik-baik dan pantas.”

Dia mendorong wanita itu duduk di atas buah kursi, sedangkan dia sendiri lantas duduk di kursi lain yang ada di hadapan wanita itu. Tan Siang Lin atau yang kini menjadi selir kaisar itu menggigit bibir sambil mengusap beberapa butir air mata yang menetes di atas kedua pipinya.

“Akan tetapi, Sie-ko, aku... aku rindu padamu... apakah engkau tidak cinta lagi kepadaku, koko?” Dalam suara itu terkandung kesedihan yang ditahan-tahan.

Laki-laki itu menghela napas panjang.

“Lin-moi, justru karena mencintaimu dengan sepenuh hatiku, maka aku tidak ingin melihat engkau menyimpang dari kebenaran. Aku ingin melihat engkau bahagia sebagai seorang isteri kaisar yang dimuliakan, dihormati, dan bersih dari pada noda.”

“Lalu, mengapa engkau datang berkunjung ke taman ini, koko? Padahal kunjunganmu ini amat berbahaya, apa bila sampai ketahuan, pasti nyawamu taruhannya. Apa maksudmu berkunjung ini, kalau bukan karena… rindu padaku seperti juga aku merindukanmu?”

Pria itu tersenyum. “Aku hanya ingin menyaksikan sendiri bahwa engkau hidup bahagia di sini, Lin-moi. Aku mendengar dan kini melihat sendiri bahwa engkau menjadi seorang selir yang dikasihi kaisar, dihormati dan dimuliakan orang, walau pun engkau seorang pribumi Han. Juga aku mendengar tentang... siapa lagi nama anak itu…?”

“Puteri Moguhai…”

“Ya, nama yang indah, walau pun agak asing terdengarnya. Aku mendengar pula tentang anak itu. Kabarnya dia sangat cerdik dan berbakat baik sekali dalam ilmu silat. Karena itu aku datang untuk menyerahkan kitab-kitab ini kepadamu. Kelak, setelah anak itu berusia empat belas tahun dan sudah memiliki dasar ilmu silat yang baik, kau berikan kitab-kitab ini dan suruh dia melatihnya sendiri. Dalam kitab-kitab ini sudah kuberi petunjuk-petunjuk jelas. Hanya ini yang dapat kuberikan kepadanya, Lin-moi, dan ini, suruh dia supaya kelak selalu memakai ini dan semoga Tuhan selalu melindunginya.“

Selir kaisar itu menerima tiga buah kitab dan sebuah perhiasan rambut berbentuk burung Hong dari perak dengan mata mirah. Dia menerimanya dengan terharu sekali.

“Kini aku harus pergi, Lin-moi. Hati-hatilah engkau menjaga diri dan hati-hati pula mendidik serta menjaga puterimu.” Pria itu bangkit berdiri dan hendak melangkah ke pintu.

“Nanti dulu, koko. Masih ada satu hal yang ingin kuceritakan kepadamu... ini... merupakan rahasia pribadiku... dan hanya engkau saja yang boleh mendengarnya.”

Pria itu duduk kembali lalu menatap wajah Tan Siang Lin dengan sinar mata mencorong. “Apakah itu, Lin-moi?”

“Ketika aku melahirkan... sebetulnya anakku itu terlahir kembar, keduanya perempuan...”

Pria itu membelalakkan kedua matanya. “Kembar? Dan... yang seorang lagi...?”

“Ketika aku melahirkan, yang membantu adalah seorang wanita tua yang menjadi bidan dan ditemani seorang sahabat baikku. Dia seorang janda pangeran, suaminya sudah mati dan dia tidak mau menikah lagi, padahal dia masih amat muda, sebaya dengan aku. Kami menjadi sahabat yang akrab sekali, bahkan kami sudah bersumpah mengangkat saudara. Dia seorang puteri kepala suku bangsa Uigur, namanya Miyana. Pada waktu melihat aku melahirkan bayi perempuan kembar, Miyana malah menangis dan mengatakan kepadaku bahwa kaisar adalah seorang yang percaya bahwa anak kembar wanita akan membawa mala petaka, maka besar kemungkinan anak kembarku itu akan dibunuh! Oleh karena itu, atas usul Miyana, anak yang satunya lagi dia selundupkan keluar dari kamarku sehingga aku dianggap melahirkan seorang anak perempuan saja, yaitu Moguhai. Bidan tua itu pun dipesan supaya menyimpan rahasia, akan tetapi beberapa hari kemudian dia mati karena sakit mendadak. Aku menduga bahwa itu perbuatan Miyana yang takut kalau-kalau bidan itu membuka rahasia.”

Pria itu mengangguk-angguk. “Hemm, lalu... anak yang satunya lagi itu?”

“Tak lama kemudian, Miyana yang sudah menjadi janda itu pulang kepada orang tuanya, kepada ayahnya yang menjadi kepala suku Uigur. Tentu saja secara diam-diam anak itu dibawanya dan sampai sekarang aku tidak pernah lagi mendengar tentang dia dan anak itu. Nah, itulah rahasiaku, koko, dan hanya engkau seorang yang mengetahui.”

Pria itu menghela napas panjang. “Aihh, sungguh nasib sudah mempermainkan keturunan kita, Lin-moi. Inikah hukuman akibat dosa kita herdua? Baiklah, terima kasih atas semua ceritamu, Lin-moi dan jangan lupa berikan kitab-kitab itu kepada Moguhai. Sekarang aku harus pergi.”

Laki-laki itu melangkah keluar, diikuti oleh selir kaisar itu. Moguhai yang mengintai di luar melihat mereka keluar dan dia menatap wajah pria itu dengan penuh perhatian. Ia melihat mereka berdiri berhadapan di luar pintu, kemudian pria itu memegang pundak ibunya dan berkata dengan suara lirih,

“Nah, selamat tinggal, Lin-moi, semoga engkau hidup berbahagia. Selamat tinggal!”

“Selamat jalan, Sie-koko... jaga dirimu baik-baik!” kata ibunya dengan suara mengandung isak.

Tiba-tiba pria itu mengerakkan kedua kakinya dan sekali berkelebat dia sudah lenyap dari situ. Moguhai terbelalak! Setankah yang dilihatnya tadi? Apa bila manusia, mana mungkin dia bisa menghilang begitu saja? Ibunya bergaul dengan setan yang disebutnya Sie-koko? Saking tidak dapat menahan keheranannya, gadis cilik itu lalu berlari menghampri ibunya.

“Ibu...!”

“Ehh, engkau Moguhai? Dari mana engkau...?” Ibunya bertanya kaget, sama sekali tidak mengira anaknya muncul begitu tiba-tiba. Jangan-jangan anak itu telah melihat...

“Ibu, apakah ibu mempunyai sahabat setan?”

“Ehh? Setan...?”

“Tadi aku melihat ibu bersama seorang laki-laki yang ibu sebut Sie-koko, akan tetapi dia menghilang seperti setan!”

Siang Lin cepat merangkul anaknya kemudian diajaknya masuk ke dalam pondok itu. Dia memeluk dan berkata dengan nada suara serius.

“Anakku, dia bukan setan, melainkan seorang pendekar yang mempunyai ilmu yang amat tinggi. Dia seorang sakti, Moguhai dan dia... dia itu dahulu menjadi sahabat baik ibumu. Lihat, dia meninggalkan kitab-kitab dan perhiasan rambut ini untukmu. Kalau kelak engkau mempelajari tiga buah kitab ini, berarti dia itu juga gurumu, Moguhai. Akan tetapi ingatlah, anakku, jangan ceritakan mengenai dia itu kepada siapa pun juga. Kalau sampai diketahui Kaisar, ibumu ini tentu akan dihukum mati, dan mungkin engkau juga tidak akan terluput dari hukuman.”

“Akan tetapi kenapa, ibu? Ayahanda Kaisar tentu tidak akan marah kalau mendengar aku mendapatkan seorang guru yang sakti.”

“Engkau tidak mengerti, anakku. Dia adalah seorang pendekar bangsa Han, tentu ayahmu akan menaruh curiga dan mengira dia adalah mata-mata dari kerajaan Sung yang hendak menyelidiki keadaan istana. Karena itu, demi keselamatan kita sendiri, jangan ceritakan kepada siapa pun juga. Engkau berjanji?”

Moguhai mengangguk-angguk. “Baik, ibu.”

Demikianlah, Moguhai hanya tahu dari ibunya bahwa laki-laki yang memberikan tiga buah kitab kepadanya itu adalah ‘Paman Sie’ dan dia tak pernah bertemu lagi dengannya. Tiga kitab itu merupakan kitab-kitab pelajaran ilmu silat yang ampuh dan tinggi.

Yang pertama mengajarkan cara berlatih menghimpun sinkang (tenaga sakti) sehingga di samping mempunyai tenaga dalam yang sangat hebat, dia juga bisa mengerahkan tenaga sakti untuk membuat dirinya ringan dan dapat bergerak cepat seperti terbang. Kitab kedua berisi pelajaran ilmu silat yang mempergunakan senjata sabuk dan ilmu ini dilatih Moguhai dengan sehelai sabuk sutera panjang merah. Sedangkan kitab ketiga berisi pelajaran ilmu pedang yang aneh tetapi hebat sekali. Itulah ilmu pedang Sin-coa-kiamsut (Ilmu Pedang Ular Sakti) yang dimainkan dengan pedang bengkoknya, pedang khas bangsa Kin.

Dan kini, setelah berusia sembilan belas tahun, Moguhai menjadi seorang gadis yang lihai bukan main hingga dia mendapat julukan Pek Hong Nio-cu atau Nona Burung Hong Putih karena perhiasan rambutnya juga berupa burung Hong perak bermata mirah!

Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai meninggalkan kota Leng-ciu menunggang kudanya. Biar pun dia puteri Kaisar, namun dia berjiwa pendekar. Hal ini berkat ibunya yang sering menceritakan tentang sepak terjang para pendekar persilatan yang selalu berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, selalu menentang kejahatan, melawan para pejabat penindas dan membela rakyat kecil yang tertindas.

Karena itulah, dia sering kali meninggalkan istana dan merantau ke daerah-daerah. Setiap bertemu kejahatan, dia pasti menentang yang jahat dan memberi hajaran keras. Banyak pembesar korup yang menerima hajaran keras darinya dan banyak gerombolan penjahat dibasminya.

Akhirnya kaisar mendengar juga akan sepak terjang puterinya ini. Dia merasa kagum dan bangga, maka lalu menghadiahkan pedang bengkok berukir naga emas yang merupakan tanda kekuasaan kaisar. Semua pembesar maklum bahwa pemilik pedang naga emas itu berkuasa seperti kaisar sendiri, boleh menghukum atau membunuh siapa saja tanpa perlu ijin dari kaisar!

Ketika Pek Hong Nio-cu menjalankan kudanya dengan santai keluar kota Leng-ciu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dari belakangnya dan tahu-tahu di tengah jalan berdiri seorang pemuda. Jalan itu sepi, tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Pemuda itu berdiri tegak di tengah jalan, jelas bermaksud menghadang perjalanan kudanya.

Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya. Dia memperhatikan seorang pemuda yang terlihat biasa saja, menggendong buntalan seperti orang-orang yang melakukan perjalanan jauh. Pakaiannya sederhana dan wajah pemuda itu biasa saja, walau pun bisa dibilang tampan namun tidak ada yang terlalu menonjol atau mencolok. Seorang pemuda dusun biasa!

“Hei, minggir kamu! Apa tidak melihat kudaku hendak lewat? Apa ingin tertubruk kudaku?” tegurnya.

Pemuda itu adalah Thian Liong. Dengan tenang dia lalu mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil membungkuk sedikit sebagai penghormatan.

“Maafkan aku, Pek Hong Nio-cu...”

“Ehh! Dari mana engkau mengenal nama julukanku?” Pek Hong Nio-cu menegur, merasa agak kesal karena perjalanannya terganggu.

“Tadi aku sempat mendengar dari orang-orang yang menyaksikan engkau menghajar dua orang pembesar brengsek di kota Leng-ciu! Tindakanmu tadi sungguh hebat sekali, nona. Aku merasa kagum sekali padamu!”

“Hemm, aku tidak butuh pujianmu!” bentak Pek Hong Nio-cu.

Ia telah sering mendengar laki-laki memujinya yang sebetulnya hanya merupakan rayuan untuk menyenangkan hatinya. Dia sudah mendapatkan kenyataan bahwa semua laki-laki adalah perayu-perayu gombal apa bila telah berhadapan dengan wanita cantik!

“Aku tidak memuji kosong, nona, melainkan bicara sebenarnya!”

“Sudahlah, aku tidak mau mendengar ocehanmu. Sekarang apa maksudmu menghadang perjalananku? Minggir, atau kutabrak engkau!”

“Maaf, Pek Hong Nio-cu. Tadi, ketika melihat engkau beraksi, aku mengira bahwa engkau adalah seorang gadis yang pernah kukenal, gadis yang mencuri pusakaku.”

“Tikus busuk!” Pek Hong Nio-cu yang pada dasarnya berwatak keras dan galak itu sudah melompat turun dari punggung kudanya. Agar kuda itu tidak melarikan diri, ia mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon di tepi jalan, kemudian dia cepat berdiri menghadapi Thian Liong dengan sikap menantang. “Kurang ajar, berani engkau mengira aku sebagai pencuri?”

Thian Liong memandang dengan kedua mata terbelalak. Bukan, gadis ini bukanlah gadis berpakaian merah pencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai itu. Hanya bentuk tubuhnya saja yang sama, juga sama-sama cantik jelita.

Thian Liong lalu memandang wajah gadis itu dengan lebih teliti, dan dia terbelalak. Wajah yang bulat itu, pandang mata tajam serta senyum mengejek itu, dan terutama tahi lalat di ujung bibir kanan itu! Tidak salah lagi! Siapa lagi kalau bukan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In?

Memang benar Ang Hwa Sian-li berpakaian serba hijau, akan tetapi pakaian mudah saja diganti, dari yang berwarna hijau kini menjadi yang berwarna putih. Tetapi tahi lalat itu, tak salah lagi! Thian Liong tertawa, kemudian melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung gadis itu.

“Hei! Bukankah engkau Thio Siang In?”

“Ngawur! Siapa itu Thio Siang In?” bentak Pek Hong Nio-cu yang kehilangan kesabaran karena menganggap pemuda itu main-main.

“Aihh, In-moi (adik In), masa engkau sudah lupa padaku? Atau pura-pura lupa? Aku Souw Thian Liong! Jangan marah padaku dan lupakanlah hal yang lalu. Sekarang kitab itu telah kukembalikan kepada yang berhak, yaitu Siauw-lim-pai yang menjadi pemilik sah kitab itu. Maafkan kalau dulu aku tidak dapat meminjamkannya kepadamu, In-moi.”

“Ngaco! Jangan kira engkau dapat main-main dan kurang ajar kepadaku. Sambutlah ini!” Bentak Pek Hong Nio-cu dan dia sudah menerjang dengan pukulan kilat ke arah ulu hati Thian Liong.

Melihat pukulan yang cepat dan kuat sekali itu, Thian Liong cepat mengelak mundur. “In-moi, aku tidak main-main, dan aku tidak ingin berkelahi denganmu.”

Tapi Pek Hong Nio-cu malah menyerang semakin ganas dan gencar. Serangan-serangan gadis itu sungguh tak bisa dipandang ringan karena pukulannya mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Thian Liong menjadi terkejut, tetapi segera timbul kegembiraannya untuk menguji kembali kepandaian gadis ini yang dahulu sudah pernah dia kalahkan. Siapa tahu Siang In sudah mempelajari ilmu-ilmu baru yang lebih lihai. Maka dia pun cepat mengelak dan membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparannya yang kuat.

Kini Pek Hong Nio-cu yang merasa terkejut dan heran. Pemuda yang disangkanya hanya pemuda dusun biasa itu ternyata lihai bukan main. Tidak saja dia berhasil menghindarkan serangannya yang cepat dan bertubi, bahkan mampu membalas dengan tamparan yang mengandung tenaga sakti yang kuat.

Pek Hong Nio-cu menjadi amat penasaran, lalu mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya dan menyerang dengan dorongan telapak tangannya. Thian Liong ingin mengukur tenaga gadis itu, maka dia pun menyambut dengan tangkisan sambil mengerahkan sinkang-nya pula.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner