KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-29


“Wuuuttt...! Dukkk!”

Tubuh Pek Hong Nio-cu terdorong ke belakang sampai lima langkah! Gadis ini terbelalak dan menjadi marah karena melihat pemuda itu hanya mundur selangkah saja. Dalam adu tenaga sakti ini jelas bahwa dia kalah kuat.

“Srettt...!”

Tampak gulungan sinar merah berkelebat dan setelah sinar itu bergulung-gulung di sekitar tubuh Pek Hong Nio-cu, tiba-tiba sinar itu mencuat dan menyambar ke arah kepala Thian Liong. Itulah sabuk merah yang telah diloloskan Pek Hong Nio-cu dari pinggangnya.

“Hyaatttt...!”

Sinar merah itu menyambar cepat bukan kepalang, akan tetapi Thian Liong yang maklum akan berbahayanya senjata sabuk sutera merah itu, sudah cepat merendahkan badannya sehingga sabuk itu hanya lewat di atas kepalanya. Begitu sinar itu lewat di atas kepala, tangan Thian Liong cepat menyambar dan ujung sabuk sudah dapat dipegangnya!

Pek Hong Nio-cu terkejut. Dia mencoba untuk menarik sabuknya, namun tetap saja ujung sabuk berada di tangan Thian Liong, tak dapat terlepas dari pegangannya. Pek Hong Nio-cu marah sekali, cepat dia maju sambil mengirim tendangan berantai ke arah tubuh Thian Liong. Pemuda ini segera menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk menangkis tendangan-tendangan itu sehingga gadis itu merasa kakinya nyeri bertemu dengan tangan Thian Liong. Dia pun membetot sekuat tenaga.

Thian Liong khawatir kalau-kalau sabuk sutera merah itu putus. Dia tidak mau merusak senjata lawan, maka tiba-tiba dia melepaskan pegangannya dan otomatis tubuh Pek Hong Nio-cu terjengkang ke belakang.

Thian Liong terkejut sekali karena gadis itu tentu akan terbanting jatuh. Namun ternyata tidak. Dengan indahnya tubuh yang padat langsing itu membuat pok-sai (jungkir balik) ke belakang sampai lima kali dan tidak terbanting sama sekali, lantas kembali berdiri dengan tegak, bahkan sabuk sutera itu sudah dilibatkan kembali ke pinggangnya. Agaknya sambil berjungkir balik tadi dia masih sempat menyimpan kembali sabuknya.

“Hebat!” Thian Liong memuji kagum.

Memang gadis itu mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang bagus. Akan tetapi yang dia puji malah semakin marah. Pek Hong Nio-cu menganggap pujian Thian Liong itu sebagai ejekan dan kini begitu tangan kanannya bergerak, dia telah mengeluarkan pedang bengkoknya yang mengeluarkan cahaya berkilauan saking tajamnya!

“Manusia sombong!” bentak gadis itu. Kemarahannya memuncak karena dia sudah kalah dua kali. Pertama dalam ilmu silat tangan kosong, bahkan yang kedua kalinya, dia yang bersenjatakan sabuk sutera merah tidak mampu mengalahkan pemuda yang bertangan kosong itu. “Kalau memang engkau gagah, cabut pedangmu dan lawan pedangku ini!”

Thian Liong mulai menyesal mengapa dia malah menimbulkan permusuhan yang berlarut-larut dengan gadis yang galak, lihai dan jelas berjiwa pendekar ini, yang tadi menentang pembesar-pembesar jahat sewenang-wenang itu. Dan dia pun mulai curiga.

Dia sama sekali tidak merasa salah lihat. Gadis ini jelas Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li yang rambutnya dihias mawar merah dan pakaiannya serba hijau. Akan tetapi selain tanda-tanda itu, juga Ang Hwa Sian-li bersenjata sepasang pedang.

Akan tetapi gadis ini, yang wajahnya serupa benar, mengenakan pakaian serba putih dan bersenjata sabuk sutera merah. Pedangnya pun bukan sepasang pedang, tetapi sebatang pedang bengkok! Selain itu, ketika tadi bertanding dia melihat ilmu silat mereka pun sama sekali berbeda.

Ilmu silat yang dimainkan Thio Siang In memiliki dasar ilmu silat dari daerah barat, bahkan ganas dan keji seperti yang biasa dipergunakan orang-orang golongan sesat. Akan tetapi sebaliknya, ilmu silat yang dimainkan Pek Hong Nio-cu ini mempunyai dasar yang bersih. Ternyata ilmu silat antara kedua orang gadis itu sama sekali berbeda, biar pun tingkatnya kira-kira hampir sama.

Sesudah mempertimbangkan semua ini, dia lalu menjura dengan hormat. “Maafkan aku, nona, kalau aku telah salah mengenal orang. Biar pun nona serupa benar, bahkan persis seorang gadis bernama Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li, namun senjata dan ilmu silat nona sama sekali berlainan. Karena itu aku mulai yakin bahwa aku sudah salah mengenal orang. Maka harap engkau suka memaafkan aku karena aku tidak bermaksud buruk terhadap dirimu.”

Pek Hong Nio-cu memandang dengan sinar mata mencorong. Mulutnya merengut hingga jantung Thian Liong kembali berdebar. Kalau sedang cemberut marah seperti itu, gadis ini banar-benar persis sekali dengan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. Dulu Thio Siang In juga cemberut seperti ini ketika marah kepadanya!

“Engkau sudah memamerkan kepandaian, mengalahkan aku sampai dua kali dan masih bilang tidak bermaksud buruk terhadap aku? Hayo cabut pedangmu dan jangan kepalang kalau hendak mengujiku. Sebelum engkau mampu mengalahkan pedangku ini, aku masih belum mengaku kalah!”

“Nona, sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Aku Souw Thian Liong mengaku bersalah dan mohon maaf,” kembali pemuda itu berkata.

“Hemmm, aku tahu, engkau tentu Si Naga Langit yang selama ini disohorkan orang maka engkau menjadi begini sombong! Kalau engkau tidak mau mencabut pedangmu, terpaksa aku akan menyerangmu juga! Lihat pedang!”

Pek Hong Nio-cu telah menerjang dengan pedang bengkoknya dan begitu menyerang dia sudah mengeluarkan jurus yang lihai dari ilmu pedang Sin-coa Kiam-sut, yaitu jurus Sin-coa Jut-thong (Ular Sakti Keluar Goa). Pedangnya berubah menjadi sinar terang meluncur ke arah dada Thian Liong!

Thian Liong terkejut sekali. Tadi, serangan tangan kosong dan sabuk sutera merah gadis itu masih belum merupakan serangan yang terlalu berbahaya baginya. Namun serangan pedang bengkok ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Maka dia cepat melompat ke belakang sambil mencabut Thian-liong-kiam.

Melihat pemuda itu telah mencabut pedangnya, Pek Hong Nio-cu segera menyerang lagi, bahkan lebih ganas dari pada tadi. Pedangnya membuat gerakan seperti seekor ular, dan tahu-tahu pedang itu ‘mematuk’ dari samping. Serangannya sungguh tidak terduga-duga dan gerakannya selain cepat juga aneh.

Beberapa kali Thian Liong mengandalkan ginkang untuk mengelak sambil berlompatan ke sana sini. Akan tetapi bayangan gulungan sinar mengkilat dari pedang bengkok itu terus menerus mengejar tubuhnya. Pada saat pedang bengkok itu menyambar ke arah lehernya dengan bacokan dari samping, terpaksa Thian Liong menangkis dengan pedangnya.

“Trangggg...!” Bunga api berpijar terang ketika dua batang pedang bertemu.


Thian-liong-kiam adalah sebatang pusaka ampuh, akan tetapi pedang bengkok pemberian kaisar itu pun ternyata ampuh sekali sehingga tidak menjadi rusak. Akan tetapi Pek Hong Nio-cu merasa betapa tangannya yang memegang pedang gemetar dan terguncang amat hebat.

Kembali dia terkejut dan diam-diam dia harus mengakui bahwa lawannya yang berjuluk Si Naga Langit itu benar-benar lihai sekali. Akan tetapi dasar dia seorang gadis yang keras kepala, dia tidak mau mengaku kalah dan menyerang terus dengan mengeluarkan semua kemampuannya.

Thian Liong mengimbangi permainan pedang gadis itu. Dia memperoleh kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu benar-benar merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang amat hebat. Hanya sayang, agaknya gadis ini belum menguasai benar ilmu pedang itu, permainannya belum matang. Andai kata gadis itu sudah menguasai sepenuhnya, Thian Liong maklum bahwa pedangnya itu akan merupakan bahaya besar bagi lawannya.

Memang begitulah sebenarnya. Pek Hong Nio-cu atau yang nama aslinya Puteri Moguhai ini menerima ilmu pedang itu dari ‘pamannya’, yaitu yang oleh ibunya disebut sahabat she Sie, yang memberikan tiga kitab ilmu silat kepadanya, juga hiasan rambut burung Hong Perak. Sayang dia harus menyembunyikan ilmu pemberian ‘Paman Sie’ ini dari orang lain, maka terpaksa dia melatihnya sendiri secara diam-diam, tidak di bawah pimpinan seorang ahli sehingga dia tidak dapat menguasai ilmu itu sepenuhnya.

Thian Liong mengimbangi permainan pedang gadis itu. Dia tidak ingin membuat gadis itu sakit hati, tidak mau mengalahkan secara mutlak, apa lagi melukainya. Karena itu, setelah bertanding ramai selama tiga puluh jurus, tiba-tiba Thian Liong mengerahkan sinkang-nya, membuat pedang lawan melekat pada pedangnya. Pek Hong Nio-cu terkejut bukan main dan mencoba membetot lepas pedangnya, namun tanpa hasil. Tiba-tiba saja Thian Liong membentak,

“Lepas!”

Thian Liong menggerakkan pedangnya dengan sentakan dan Pek Hong Nio-cu tak dapat mempertahankan pedangnya lagi. Pedang itu seperti direnggut lepas dari tangannya, lalu melayang ke atas. Akan tetapi Thian Liong sengaja melompat ke belakang sehingga pada waktu pedang itu meluncur turun, Pek Hong Nio-cu dapat menangkapnya dengan tangan kanannya. Wajahnya berubah merah sekali dan dia menyimpan lagi pedangnya ke dalam sarung pedang.

Thian Liong cepat menghampiri lalu dia menjura dengan kedua tangan dirangkap di depan dada dan membungkuk hormat.

“Harap engkau suka maafkan aku, nona. Sebenarnya aku tidak berniat untuk bertanding denganmu dan aku tadi tidak berbohong ketika mengatakan bahwa engkau sungguh mirip dengan seorang pendekar wanita bernama Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li, karena itu, maafkan kesalahanku mengenal orang, nona.”

Sikap yang sopan dari Thian Liong ini sedikitnya menurunkan kadar kemarahan dan rasa penasaran di hati Pek Hong Nio-cu. Dia memandang pemuda itu dengan penuh perhatian, diam-diam merasa kagum karena pemuda itu benar-benar telah mengalahkannya. Begitu sederhana dan rendah hati, akan tetapi sebenarnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

“Hemm, engkau tentu hendak mengatakan bahwa ilmu kepandaian gadis pendekar yang menjadi sahabatmu itu jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku, bukan?” kata Pek Hong Nio-cu dengan suara mengandung kepahitan.

“Ahh, tidak sama sekali, nona! Tingkat kepandaian kalian sangat berimbang. Bahkan aku harus berterus terang, kalau ilmu pedangmu tadi sudah kau kuasai sepenuhnya dan kau latih dengan sempurna, jangankan Ang Hwa Sian-li, bahkan aku sendiri belum tentu dapat menang melawanmu.”

Pek Hong Nio-cu mulai merasa tertarik. Selama beberapa bulan ini dia sudah mendengar ketenaran nama Si Naga Langit yang disohorkan sebagai seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan. Tetapi biasanya, seperti yang dia dengar, selain menjadi pembela kebenaran dan keadilan, para pendekar itu juga bersikap memusuhi pemerintah Kerajaan Kin.

Sebagai seorang yang berjiwa pendekar, tentu saja gadis ini merasa cocok dengan sepak terjang para pendekar itu yang selalu menentang kejahatan. Akan tetapi sebagai seorang puteri Kaisar Kerajaan Kin, sebagai bangsa Nuchen yang mendirikan wangsa Kin, tentu saja dia merasa tidak senang kalau para pendekar menentang dan memusuhi pemerintah bangsanya! Memang, dia pun tahu bahwa ibunya adalah seorang pribumi, seorang wanita berbangsa Han, akan tetapi ayahnya adalah Kaisar berbangsa Nuchen, Kaisar Kerajaan Kin!

“Souw Thian Liong, benarkah engkau yang disohorkan banyak orang dengan sebutan Si Naga Langit?” Pek Nio-cu bertanya sambil menatap tajam wajah pemuda itu.

Seketika wajah Thian Liong berubah kemerahan. Dia merasa rikuh juga dengan namanya yang disohorkan orang. Semua sepak terjangnya hanya didorong sebagai kewajibannya semata, sama sekali bukan untuk mencari ketenaran nama.

“Yah, begitulah orang-orang menyebut saya, padahal itu adalah nama asli saya,” katanya malu-malu.

“Hemm, jadi engkau adalah seorang pendekar yang malang melintang di dunia kang-ouw, yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan?”

“Aku berusaha semampuku untuk membela kebenaran dan keadilan yang memang sudah menjadi kewajibanku, Pek Hong Nio-cu. Memang untuk itulah aku dengan susah payah mempelajari ilmu silat.”

“Dan sebagai seorang Han, engkau berkewajiban pula untuk menentang serta memusuhi pemerintah Kerajaan Kin?” gadis itu mendesakkan pertanyaan ini.

Tetapi Pek Hong Nio-cu memandang heran ketika pemuda itu menggeleng kepalanya lalu menarik napas panjang. “Kerajaan Sung Utara telah kalah dan kekalahan itu harus diakui. Urusan negara akan diselesaikan oleh negara melalui perang. Apa artinya bagi perorangan untuk melawan bala tentara negara? Tidak, Pek Hong Nio-cu, aku tidak mau mencampuri urusan negara. Kalau negaraku berperang, mungkin bisa saja aku membantu dan menjadi prajurit. Akan tetapi di luar itu, aku tak mau ikut campur. Aku menentang bangsa apa saja yang bertindak sewenang-wenang dan jahat. Biar bangsaku sendiri, kalau dia melakukan kejahatan tentu akan kutentang dan biar bangsa apa pun kalau dia berada di pihak benar dan tertindas, pasti akan kubela. Aku sangat setuju dengan tindakanmu di kota Leng-ciu tadi, Pek Hong Nio-cu.”

“Tindakan yang mana?” tanya gadis itu semakin tertarik.

“Engkau telah membela seorang gadis pribumi dan keluarganya ketika diganggu pemuda-pemuda putera pembesar, bahkan menghajar para pengawal mereka, kemudian engkau memberi hajaran keras kepada dua orang pembesar Kerajaan Kin. Tindakanmu itu sudah membuktikan bahwa engkau berjiwa pendekar, yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu sehingga para pembesarmu sendiri, jika mereka salah, akan kau hukum berat! Karena itulah aku merasa kagum sekali kepadamu, Pek Hong Nio-cu.”

Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya. “Pembesarku? Apa maksudmu dengan kata-kata itu, Souw Thian Liong?”

Thian Liong tersenyum. “Engkau tak perlu bersembunyi lagi, Pek Hong Nio-cu. Sekarang aku telah dapat menduga siapa engkau sebenarnya.”

“Hemm, begitukah? Coba katakan, siapa aku?” kata gadis itu dengan kepala ditegakkan, anggun menantang.

“Engkau tentu seorang puteri bangsawan yang berkedudukan tinggi sekali, dan kalau aku tidak keliru menduga, engkau tentu puteri dari istana, puteri Kaisar Kerajaan Kin sendiri.”

Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata itu berkilat, dan hati Pek Hong Nio-cu semakin tertarik. Selama ini tidak ada orang yang tahu bahwa dia adalah puteri kaisar. Ketika dia memperlihatkan pedang bengkoknya, dua orang pembesar itu pun hanya tahu bahwa dia memiliki kekuasaan dari kaisar untuk menghukum siapa saja yang bersalah, akan tetapi mereka pun sama sekali tidak tahu bahwa sesungguhnya dia adalah puteri kaisar.

“Bagaimana engkau dapat menduga begitu, Souw Thian Liong?” tanyanya.

“Mudah saja. Sikapmu begitu anggun dan agung, dan sikap seperti ini jelas menunjukkan bahwa engkau seorang puteri bangsawan tinggi. Kemudian, setelah engkau menunjukkan pedang bengkok itu kepada dua orang pembesar brengsek, mereka cepat-cepat berlutut ketakutan. Berarti pedang itu adalah tanda kekuasaan yang amat tinggi. Sesudah engkau mencabut pedang itu lantas kita bertanding, aku melihat ukiran naga emas pada pedang bengkok itu dan ternyata pedang itu juga merupakan pedang pusaka yang mampu beradu dengan pedangku. Lambang naga emas hanya patut dimiliki seorang kaisar, maka mudah menduga bahwa tentu engkau mendapatkan pedang itu dari Kaisar sendiri. Demikianlah, aku pun dapat menduga bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kerajaan Kin, melihat bahwa pakaianmu adalah pakaian seorang puteri bangsa Kin, Pek Hong Nio-cu.”

Pek Hong Nio-cu kini memandang kagum pada pemuda itu. Harus dia akui bahwa dalam hal ilmu silat, dia masih kalah jauh dibandingkan pemuda itu dan ternyata pemuda itu juga sangat cerdik sehingga dapat menduga bahwa dia adalah puteri kaisar sendiri.

“Hemm, selain ilmu silatmu lihai, kiranya engkau juga memiliki pikiran yang sangat cerdik, Souw Thian Liong. Aku girang dapat berkenalan dengan seorang pandai sepertimu, apa lagi aku sudah mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar penentang kejahatan yang dikenal sebagai Si Naga Langit!”

Puteri itu kini memandangnya dengan senyum manis. Hilanglah sudah kesan angkuh dan galak hingga wajah itu menjadi cantik jelita dan tampak manis sekali. Kembali Thian Liong terheran-heran karena dia ingat benar bahwa gadis di hadapannya ini adalah wajah Ang Hwa Sian-li Thio Siang In! Pandangan mata penuh keheranan dan penasaran dari mata pemuda itu agaknya dapat terlihat oleh sang puteri.

“Hei, Souw Thian Liong! Kenapa engkau memandangku seperti itu?” dia menegur dengan sepasang alis berkerut.

Thian Liong menyadari keadaannya dan dia pun cepat menjura dengan hormat. “Maafkan saya, tuan puteri...!”

“Hushh..., jangan sebut aku seperti itu. Walau pun engkau sudah mengetahui siapa aku sesungguhnya, tetapi jangan sebut-sebut itu dan anggap saja engkau berhadapan dengan Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita biasa, bukan seorang puteri kaisar!”

Thian Liong tersenyum maklum. “Baiklah, Pek Hong Nio-cu. Maafkan aku yang tadi sudah memandangmu dengan penuh perasaan heran dan penasaran. Memang wajahmu, gerak-gerikmu, tiada bedanya sedikit pun dengan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. Kalau engkau mengaku bahwa engkau adalah Thio Siang In yang sedang menyamar, aku tentu percaya sepenuhnya.”

Pek Hong Nio-cu memandang penuh selidik dan tampaknya dia sangat tertarik. “Hemm…, coba perhatikan dengan seksama. Sama benarkah aku dengan gadis bernama Ang Hwa Sian-li Thio Siang In itu?”

“Sungguh mati, sama sekali tidak ada bedanya. Bahkan tahi lalat pada ujung bibir itu juga sama benar! Wajah dan bentuk tubuh serupa, sedikit pun tiada bedanya. Yang berbeda hanyalah pakaian dan ilmu silat berikut senjatanya, juga gaya bahasanya.”

“Bagaimana perbedaannya?”

“Ang Hwa Sian-li Thio Siang In selalu berpakaian serba hijau dan rambutnya dihias bunga mawar merah. Senjatanya juga sebatang pedang tapi gerakan silatnya sungguh berbeda dengan gerakanmu, ilmu silatnya bersifat keji seperti biasa dimiliki golongan sesat. Akan tetapi dia sendiri bukan seorang gadis jahat yang sesat. Bahkan dia pun berjiwa pendekar, hanya wataknya agak keras dan galak, dan gaya bicaranya seperti logat orang-orang dari daerah barat.”

“Dia itu seorang... sahabat baikmu?” tanya Pek Hong Nio-cu yang sekarang duduk di atas sebuah batu di pinggiran jalan. Thian Liong juga duduk di atas sebatang akar pohon yang menonjol di atas tanah.

“Tidak juga, secara kebetulan saja kami saling jumpa ketika aku berkunjung ke Bu-tong-pai dan melerai perkelahian antara dia dengan pihak Bu-tong-pai karena salah paham.”

Dengan singkat dia lalu menceritakan tentang perjumpaannya dengan Ang Hwa Sian-li di Bu-tong-pai, di mana gadis itu berselisih dengan orang-orang Bu-tong-pai karena kesalah pahaman mereka.

“Hemm, kalau begitu gadis itu jelas bukan aku karena aku belum pernah pergi berkunjung ke Bu-tong-pai,” kata Pek Hong Nio-cu. “Akan tetapi tadi engkau juga mengira aku adalah seorang gadis yang mencuri kitab pusakamu. Apa artinya itu? Apakah Thio Siang In telah mencuri kitab pusakamu?”

“Bukan, bukan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In yang mencuri kitab itu. Akan tetapi seorang gadis cantik lain. Tadinya aku mengira engkau adalah dia karena perawakan kalian mirip. Gadis itu berpakaian serba merah muda, juga cantik jelita, cerdik dan galak. Gerakan ilmu silatnya seperti berdasarkan ilmu silat Tibet. Dia sangat lihai dan dia sudah mencuri kitab pusaka Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, kitab pusaka yang seharusnya kuserahkan kepada pemiliknya yang sah, yaitu Kun-lun-pai. Akan tetapi kitab itu dicurinya dan sekarang aku sedang mencari gadis itu untuk merampas kitab itu kembali.”

“Wahh, Souw Thian Liong! Agaknya di mana-mana engkau selalu bentrok dengan gadis-gadis cantik yang lihai! Tadi engkau juga mengatakan bahwa engkau bentrok dengan Thio Siang In itu karena dia juga ingin meminjam kitab!”

Thian Liong menghela napas panjang. “Memang nasibku yang buruk sekali. Thio Siang In hendak memaksa pinjam kitab Sam-jong Cin-keng yang harus kuserahkan kepada Siauw-lim-pai. Maka kami pun lalu bertanding dan aku menyesal sekali kenapa aku harus selalu bertanding dengan gadis cantik yang lihai. Dan sekarang di sini aku harus bertanding pula melawan engkau, Pek Hong Nio-cu. Aahhh, agaknya sudah nasibku harus dibenci semua gadis cantik yang lihai.”

“Akan tetapi aku tidak benci kepadamu, Souw Thian Liong. Aku bahkan kagum padamu. Akan tetapi untuk apa engkau membagi-bagikan kitab? Kepada Bu-tong-pai dan kepada Siauw-lim-pai, mungkin kepada partai persilatan lain? Mengapa engkau membagi-bagikan kitab kepada mereka?”

Mendengar kata-kata itu, Thian Liong tersenyum dan hatinya merasa girang. Gadis baju merah itu sudah mencuri kitab milik Kun-lun-pai sehingga dia kini harus bersusah payah mencarinya, padahal dia tidak tahu siapa nama gadis itu dan di mana tempat tinggalnya. Ang Hwa Sian-li Thio Siang In juga hendak memaksa pinjam kitab yang bukan miliknya sehingga terpaksa mereka harus bertanding, lantas gadis itu pergi dengan menangis dan benci kepadanya. Akan tetapi gadis ini, puteri kaisar Kerajaan Kin tidak benci kepadanya bahkan mengatakan kagum!

“Terima kasih, Pek Hong Nio-cu. Sungguh senang hatiku mendengar bahwa engkau tidak benci padaku. Baiklah kuceritakan kenapa aku membagi-bagi kitab kepada para pimpinan partai persilatan. Semua itu adalah atas perintah guruku. Ketika aku turun gunung, suhu menyerahkan tiga buah kitab kepadaku untuk diberikan kepada para pemiliknya masing- masing, yaitu kitab Sam-jong Cin-keng kepada Siauw-lim-pai, kitab Kiauw-ta Sin-na untuk Bu-tong-pai, dan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat kepada Kun-lun-pai. Tiga buah kitab itu tadinya dicuri orang dari pemiliknya masing-masing, dan kebetulan suhu yang berhasil menemukannya kembali kemudian menyuruhku mengembalikannya kepada yang berhak. Namun di tengah perjalanan gadis baju merah yang tidak kukenal itu sudah mencuri Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai. Kitab Sam-jong Cin-keng sudah kuserahkan kepada Siauw-lim-pai, begitu pula kitab Kiauw-ta Sin-na sudah kukembalikan kepada Bu-tong-pai. Tadinya Ang Hwa Sian-li Thio Siang In hendak pinjam kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dengan paksa kepadaku, akan tetapi kutolak sehingga kami bertanding lantas dia pergi dengan meninggalkan kebencian kepadaku. Sekarang terpaksa aku harus mencari gadis baju merah untuk minta kembali kitab milik Kun-lun-pai itu.”

“Hemm, siapakah gurumu itu, Thian Liong?”

“Guruku dikenal sebagai Yok-sian (Tabib Dewa) bernama Tiong Lee Cin-jin.”

“Ahhh, manusia sakti yang dikabarkan setengah dewa itu? Aku pernah mendengar nama besarnya! Pantas engkau begini lihai, kiranya engkau murid Si Tabib Dewa itu. Kau tahu, Thian Liong, ketika di istana ayahku berjangkit penyakit yang sangat berbahaya sehingga banyak orang yang pagi sakit sorenya mati dan sore sakit paginya mati, Si Tabib Dewa itu melayang di atas kota raja sambil membagi-bagikan obat penawar penyakit. Tak seorang pun dapat melihatnya dengan jelas, hanya melihat bayangannya saja berkelebat ketika dia meninggalkan obat itu.”

Thian Liong mengangguk-angguk. Dia percaya cerita itu karena memang gurunya sering melakukan hal-hal yang aneh. Dan dia pun tahu bahwa bagi gurunya, semua manusia itu, bangsa apa pun juga, sama saja sehingga suhu-nya siap menjulurkan tangan menolong.

“Suhu memang selalu siap menolong siapa pun juga,” katanya pendek.

“Wah, mendengar engkau membagi-bagikan kitab ilmu silat, aku jadi teringat pada Paman Sie!”

Thian Liong memandang wajah yang cantik jelita itu lalu bertanya, “Paman Sie? Siapakah dia?”

Pek Hong Nio-cu menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Entahlah. Kata Ibuku, dahulu dia adalah sahabat baik ibuku, tapi dia adalah guruku juga sebab seperti juga engkau, dia membagi tiga buah kitab kepadaku. Akan tetapi dia jauh lebih tua dari pada engkau, Thian Liong.”

“Nio-cu, setelah aku mengetahui bahwa engkau sesungguhnya puteri kaisar Kerajaan Kin, bolehkah aku mengetehui siapa namamu?”

“Namaku adalah Puteri Moguhai.”

“Dan gurumu?”

“Sudah kukatakan, guruku yang terakhir adalah Paman Sie yang memberi tiga buah kitab kepadaku, lalu aku melatih sendiri ilmu-ilmu dari tiga kitab itu. Guru-guruku yang pertama, yang mengajarkan ilmu silat dasar kepadaku adalah jagoan-jagoan istana.”

Thian Liong mengangguk-angguk. “Pemanmu itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Terus terang saja, Pek Hong Nio-cu, kalau ilmu sabuk dan ilmu pedangmu itu kau latih di bawah bimbingan seorang guru yang pandai, tentu engkau akan menguasainya secara baik dan dengan ilmu itu kurasa akan sukar dicari orang yang mampu menandingimu. Ilmu-ilmumu itu kulihat tadi amat hebat, dahsyat dan perubahannya sulit sekali diduga, hanya sayang engkau belum menguasainya secara matang.”

“Dugaanmu itu tepat sekali, Thian Liong. Aku merasa sangat gembira bertemu denganmu dan kuharap engkau mau memberi petunjuk kepadaku.”

“Ahh, mana mungkin, Nio-cu? Yang dapat memberi petunjuk tentu hanya pamanmu yang tentu sudah menguasai tiga kitab yang diberikan kepadamu itu.”

“Sekarang engkau hendak pergi ke mana, Thian Liong?”

“Sudah kukatakan tadi, kini aku harus mencari gadis baju merah yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai. Karena mengingat ilmu silatnya berdasar aliran Tibet, maka aku akan mencari ke barat.”

“Ah, kebetulan sekali, Thian Liong. Aku pun akan melakukan perjalanan ke sana. Di dekat perbatasan Sin-kiang ada seorang pamanku, Pangeran Kuang yang memimpin pasukan yang berjaga di perbatasan. Aku akan menemui dia untuk suatu keperluan penting sekali dan mungkin saja dia yang mempunyai banyak pengalaman akan dapat memberi petunjuk kepadamu tentang gadis baju merah yang sudah mencuri kitab itu. Kita dapat melakukan perjalanan bersama.”

Di dalam hati Thian Liong timbul perasaan rikuh. Melakukan perjalanan bersama seorang gadis yang demikian cantik jelita, puteri kaisar pula?

''Akan tetapi…,” dia meragu.

“Hemm, apakah engkau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku karena aku adalah seorang puteri kerajaan bangsa Nuchen yang memusuhi bangsa Han? Katakan saja terus terang!” kata Nio-cu sambil memandang tajam.

Thian Liong menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nio-cu. Permusuhan antara kerajaan tidak berarti permusuhan perorangan. Aku tidak memusuhimu tetapi... apa kata orang jika aku, seorang pemuda, melakukan perjalanan berdua saja dengan engkau, seorang gadis...?” Dia menahan mulutnya agar tidak mengatakan cantik jelita.

“Apakah salahnya? Yang penting kita bersahabat dan tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Kalau ada mulut usil bicara sembarangan, biar kupukul hancur mulut itu!”

Thian Liong menghela napas. Bagaimana dia dapat mencari alasan untuk menolak gadis ini? Dia tidak berdaya menghadapi gadis yang berhati keras namun tidak dapat dibantah karena ucapannya memang benar itu.

“Baiklah kalau memang engkau menghendaki demikian. Tapi kuperingatkan lebih dahulu, melakukan perjalanan bersama aku tidak akan menyenangkan karena aku seorang yang miskin dan sudah biasa hidup sederhana, terkadang harus melewatkan malam di tempat terbuka, di kuil-kuil kosong, di goa-goa, bahkan di bawah pohon. Mana mungkin engkau dapat melakukan perjalanan seperti itu?”

Pek Hong Nio-cu tertawa dan suara tawanya mengingatkan Thian Liong kepada Ang Hwa Sian-li. Alangkah miripnya. Sama-sama begitu bebas bila tertawa, tidak ditutup-tutupi atau malu-malu seperti gadis Han pada umumnya. Bebas membuka mulut sehingga tampaklah deretan gigi yang putih rapi bagaikan mutiara, bagian dalam mulut yang merah serta lidah yang merah muda.

“Tentu saja aku tak sudi tidur di tempat-tempat kotor seperti itu!” katanya setelah tawanya reda. “Akan tetapi aku pun tak perlu harus sengsara seperti itu. Kau tahu, aku membawa cukup banyak emas untuk membeli segala keperluan kita di dalam perjalanan. Pedangku ini juga dapat membuat semua pembesar di daerah bertekuk lutut dan melayani segala keperluanku. Karena itu, apa bila kita melakukan perjalanan bersama, perlu apa kita harus bersusah payah seperti yang kau gambarkan tadi? Mari kita berangkat. Tak jauh dari sini, di depan sana terdapat sebuah dusun dan kita dapat membeli seekor kuda untukmu.”

Thian Liong merasa rikuh bila selalu dibiayai gadis itu, tetapi dia tidak dapat membantah. Bagaimana pun juga gadis itu adalah puteri kaisar, tentu saja kaya raya dan mempunyai kekuasaan tinggi. Dia pun lalu berjalan cepat di samping kuda yang ditunggangi Pek Hong Nio-cu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner