KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-30


Dua orang gadis itu melewati perbatasan kerajaan Sung Selatan dan kini mulai memasuki wilayah Kerajaan Kin utara. Keduanya berjalan kaki dan jika melihat langkah mereka yang tegap dan gesit, apa lagi melihat pedang yang tergantung pada punggung mereka, mudah diduga bahwa mereka berdua adalah gadis-gadis kang-ouw yang pandai ilmu silat.

Yang pertama berusia dua puluh tahun. Wajahnya cantik berbentuk bulat, tubuhnya tinggi ramping. Yang kedua bertubuh lebih pendek, juga cantik dengan mukanya yang berbentuk bulat telur, usianya sekitar sembilan belas tahun.

Keduanya mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang menggiurkan sehingga di sepanjang perjalanan mereka, banyak mata pria mencuri pandang dengan kagum. Namun jarang ada yang berani mengganggu mereka, melihat pedang yang tergantung di pungung mereka.

Memang mereka bukan gadis sembarangan, melainkan dua orang murid Kun-lun-pai yang pandai ilmu silat, terutama ilmu pedang mereka yang sangat lihai. Yang pertama adalah Kim Lan dan yang kedua adalah sumoi-nya (adik seperguruannya) Ai Yin.

Seperti yang sudah diceritakan di bagian depan, sesuai dengan sumpah yang diharuskan oleh guru mereka, yaitu Biauw In Su-thai, karena dikalahkan oleh Thian Liong maka Kim Lan harus menjadi isteri Thian Liong, tetapi jika pemuda ini menolak, maka Kim Lan harus membunuhnya!

Sakit hati akibat cintanya ditolak pria, membuat Biauw In Su-thai mengambil sumpah para murid wanitanya seperti itu. Dia merasa sangat menyesal ketika ditegur Kui Beng Thaisu ketua Kun-lun-pai, kemudian dihukum harus menjalani tapa di pondok pengasingan. Akan tetapi Kim Lan sudah terlanjur pergi untuk mencari dan membunuh Thian Liong yang tidak mau menjadi suaminya. Ai Yin yang amat mencinta suci-nya (kakak seperguruannya) ikut pergi bersama Kim Lan.

Demikianlah, setelah melakukan perjalanan selama hampir dua bulan Kim Lan belum juga dapat menemukan Thian Liong. Dia lantas mengajak sumoi-nya untuk pergi mengunjungi bibinya yang tinggal di dusun Lui-touw di Propinsi Shantung, di lembah Sungai Huang-ho. Ai Yin menurut saja kepada suci-nya.

“Suci, jika tinggal di dusun tempat tinggal bibimu itu ternyata enak, lebih baik kita tinggal saja di sana. Kita tidak usah kembali ke Kun-lun-pai, tidak perlu bersusah payah mencari Souw Thian Liong. Bagaimana mungkin mencari seseorang yang tidak diketahui ke mana perginya? Ke mana kita harus mencarinya? Kita hidup di dusun sambil bertani saja, suci,” kata Ai Yin.

Mereka melepaskan lelah di bawah pohon besar di pinggir sebuah hutan. Siang itu hawa udara amat panasnya dan mereka telah melakukan perjalanan sejak pagi tadi.

Kim Lan menyusut keringat dari lehernya, menatap wajah sumoi-nya dengan alis berkerut dan pandang mata sedih. Kemudian dia menghela napas panjang. “Aih, mana bisa begitu, sumoi? Kita berdua telah yatim piatu, sejak kecil kita dirawat dan dididik oleh subo Biauw In Su-thai dengan penuh kasih sayang. Selama ini subo menganggap kita seperti anaknya sendiri seolah dia menjadi pengganti orang tua kita. Bagaimana kita dapat menjadi murid murtad? Apa lagi kita telah bersumpah. Sungguh memalukan seorang gagah mengingkari sumpahnya sendiri!”

Tiba-tiba tampak debu mengepul tinggi dan terdengar derap kaki banyak kuda mendatangi dari utara. Setelah dekat ternyata mereka adalah sepasukan prajurit terdiri dari dua puluh empat orang yang dipimpin oleh dua orang perwira. Dari pakaian seragam mereka mudah diketahui bahwa mereka adalah pasukan Kerajaan Kin yang menguasai daerah di sebelah utara Sungai Yang-ce.

Ketika kedua orang perwira itu melihat dua orang gadis yang duduk di tepi hutan di pinggir jalan itu, salah seorang di antara mereka cepat mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukannya berhenti. Semua kuda lalu berhenti, dan hal ini tentu saja menimbulkan debu mengepul tinggi di siang hari terik itu.

“Menyebaikan!” kata Kim Lan yang pemarah dan dia telah bangkit berdiri sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan sehelai sapu tangan. Ai Yin juga menutupi hidung dan mulut, dan ikut bangkit berdiri pula.

Dua orang perwira bersama anak buah mereka sudah melihat bahwa dua orang gadis itu berparas cantik dan hanya berdua saja, sebab itu timbullah keisengan mereka. Dua orang perwira itu segera saling bicara, kemudian sambil tertawa keduanya melompat turun dari atas kuda masing-masing lantas melangkah dengan gagah menghampiri Kim Lan dan Ai Yin.

Dua losin prajurit itu pun segera berlompatan dari atas kuda mereka, tertawa-tawa melihat tingkah kedua orang pimpinan mereka yang mereka anggap lucu. Sudah berbulan-bulan mereka meronda di perbatasan dan haus akan hiburan, maka peristiwa ini mereka anggap sebagai hiburan yang menarik.

Kim Lan berbisik kepada sumoi-nya. “Sumoi, hati-hati, agaknya mereka hendak mencari perkara.”

Dua orang gadis itu memandang penuh perhatian. Kedua perwira itu berusia empat puluh tahun lebih, yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka merah halus, sedangkan yang kedua bertubuh lebih pendek dan gempal, dengan muka penuh brewok. Dengan langkah gagah dibuat-buat kedua orang perwira itu menghampiri dua orang gadis itu. Kini Kim Lan dan Ai Yin telah melepaskan tangan dari muka mereka sehingga tampaklah wajah mereka yang cantik. Dua orang perwira itu memandang penuh gairah dan menyeringai lebar.

Sesudah mereka berhadapan, dua orang perwira itu cengar-cengir memandang kepada dua orang gadis itu dan yang tinggi besar itu bertanya kepada Kim Lan.

“Nona berdua siapakah dan mengapa berada di sini?”

Kim Lan mengerutkan kedua alisnya. Pada dasarnya gadis ini memang berwatak angkuh dan galak, maka dia segera menjawab dengan sikap galak dan suara ketus. “Kami berada di tempat umum dan tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Ada urusan apa engkau bertanya-tanya?”

“Ha-ha-ha!” Perwira tinggi besar itu tertawa bergelak lalu menoleh kepada temannya yang brewokan. “Lihat, betapa galaknya nona ini! Aku suka yang galak-galak begini, makin liar semakin menyenangkan. Ha-ha-ha…! Biarlah engkau mendapat yang satunya itu, Koan-te (adik Koan)!”

“Ha-ha-ha!” Yang brewokan juga tertawa senang. “Aku lebih suka dengan yang sikapnya halus!”

“Nona, jangan galak-galak. Marilah kalian ikut bersenang-senang dengan kami, dari pada kesepian di sini!” Sesudah berkata demikian, perwira tinggi besar menjulurkan tangannya hendak mengusap pipi Kim Lan.

Bukan main marahnya Kim Lan.

“Wwuutt...! Plakk!”


Tiba-tiba saja Kim Lan telah maju menampar dengan tangannya, mengenai pipi si perwira tinggi besar hingga orang itu terhuyung ke belakang. Agaknya perwira itu memiliki tubuh yang kuat maka tamparan itu hanya membuatnya terhuyung.

“Jahanam, engkau bosan hidup!” Kim Lan membentak dan sekali tangannya bergerak, dia sudah mencabut pedangnya. Ai Yin juga langsung mencabut pedangnya dan kedua orang gadis itu sudah memasang kuda-kuda dengan gagahnya, siap untuk bertempur!

Dua orang perwira itu marah sekali, terutama si tinggi besar yang pipinya kena ditampar. Dia segera mencabut golok yang tergantung di pinggangnya, diikuti perwira yang brewok. “Berani kalian melawan kami! Kalian tentu mata-mata dari pemberontak di Kerajaan Sung Selatan!” kata si perwira tinggi besar.

“Kalau kami laporkan kepada Perdana Menteri Chin Kui, kalian tentu akan ditangkap dan dihukum berat!” kata pula perwira brewokan.

Mereka berdua lalu memberi isyarat kepada para anak buahnya. Maka dua losin prajurit itu segera bergerak maju mengepung dengan senjata tajam di tangan.

“Kalian dua orang gadis Han, hayo cepat buang pedang kalian dan menyerah, atau kalian akan mati dengan tubuh hancur!” bentak pula perwira tinggi besar.

“Jahanam busuk, kalian semua yang akan mampus oleh pedang kami!” bentak Kim Lan dan dia pun telah menerjang maju dengan gerakan pedangnya, menyerang Perwira tinggi besar.

Ai Yin tidak tinggal diam, dia pun menggunakan pedangnya menyerang perwira brewokan. Gerakan pedang dua orang gadis murid Kun-lun-pai ini hebat bukan main, amat cepat dan dahsyat karena mereka sudah memainkan Tian-lui Kiam-sut (ilmu Pedang Kilat Guntur).

Dua orang perwira itu cepat menggerakkan golok mereka, menangkis sambil berlompatan ke belakang. Mereka terkejut sekali menghadapi serangan kilat yang dahsyat itu. Prajurit-prajurit lalu bergerak mengeroyok sehingga dua orang gadis itu menghadapi pengeroyokan dua puluh empat orang prajurit yang dipimpin dua orang perwira itu.

Kim Lan dan Ai Yin mengamuk bagaikan dua ekor singa betina yang haus darah. Mereka menggerakkan pedang dengan menggunakan ilmu pedang andalan mereka, yaitu Tian-lui Kiam-sut.

Para murid wanita Kun-lun-pai yang berada di bawah bimbingan langsung Biauw In Su-thai memang sudah terbiasa dengan sifat galak dan keras guru mereka itu sehingga mereka sendiri rata-rata memiliki sifat yang keras. Berbeda sekali dengan para murid wanita yang langsung ditangani oleh Hui In Sian-kouw yang berwatak lembut. Mereka ini pun rata-rata berwatak lembut seperti Hui In Sian-kouw.

Sebagai murid-murid kesayangan Biauw In Su-thai, memang Kim Lan dan Ai Yin memiliki watak yang keras pula, biar pun Ai Yin masih sedikit lebih lembut dibandingkan Kim Lan yang sangat galak. Mereka berdua mengamuk dengan pedang mereka sehingga sebentar saja sudah ada empat orang prajurit yang terjungkal mandi darah dan pedang kedua orang gadis itu sudah mulai berlumuran darah.

Akan tetapi dua orang perwira itu kiranya bukan orang-orang yang lemah. Mereka berdua merupakan lawan yang lumayan tangguh, sehingga dengan bantuan banyak prajurit dapat pula merepotkan Kim Lan dan Ai Yin yang kini mulai terdesak karena hujan serangan dari para pengeroyoknya yang jauh lebih banyak itu.

Meski pun mereka dapat merobohkan dua orang prajurit lagi, namun Kim Lan dan Ai Yin kini merasa lelah sekali. Mereka terpaksa harus saling membelakangi supaya tidak dapat diserang dari belakang dan mereka hanya mampu mempertahankan diri, memutar pedang untuk menghalau semua senjata yang datang menyerang seperti hujan itu.

Kim Lan dan Ai Yin mulai merasa lelah sekali. Mereka sudah kehabisan tenaga dan tidak punya kesempatan lagi untuk melarikan diri. Lagi pula, andai kata mereka bisa melarikan diri, pasukan itu tentu dapat mengejar mereka dengan naik kuda. Tiada jalan lain, mereka harus melawan terus mempertahankan diri sampai akhir.

Akan tetapi dua orang perwira itu agaknya tidak menghendaki mereka berdua mati begitu saja. “Kepung terus, tetapi jangan bunuh mereka. Tangkap hidup-hidup!” teriak dua orang perwira itu.

Inilah yang ditakuti oleh dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu. Mereka merasa ngeri bila membayangkan harus tertawan hidup-hidup oleh segerombolan orang ini. Lebih baik mati dari pada tertawan hidup-hidup, pikir mereka sambil mengamuk terus.

Pada saat yang amat gawat bagi kedua orang gadis itu, tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring. “Ji-wi lihiap (dua wanita pendekar) jangan khawatir, marilah kita basmi tikus-tikus busuk ini!”

Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu lima orang prajurit Kin terpelanting, diterjang seorang pemuda yang gerakannya sangat dahsyat. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh enam tahun, berkulit putih, wajahnya bundar dan tampan dengan alis tebal dan sepasang mata tajam. Sikapnya gagah, tubuhnya sedang dan tegap dan pakaiannya bersih rapi. Dia memegang sebatang pedang dengan ronce merah. Begitu menerjang dengan pedangnya, lima orang prajurit langsung berpelantingan.

Para pengeroyok terkejut sekali, apa lagi ketika dengan gerakan pedangnya yang sangat dahsyat pemuda itu menerjang kepada dua orang perwira dan dalam beberapa jurus saja dua orang perwira itu telah terjungkal mandi darah dalam keadaan tewas! Tentu saja para prajurit menjadi terkejut dan gentar.

Sebaliknya Kim Lan dan Ai Yin menjadi sangat girang dan bersemangat. Mereka berdua mengamuk dan sebentar saja sudah merobohkan empat orang pengeroyok lagi.

Akhirnya sisa pasukan itu menjadi jeri. Mereka segera melarikan diri, berloncatan ke atas punggung kuda mereka lantas membalapkan kuda meninggalkan tempat yang berbahaya itu, meninggalkan mayat-mayat dua orang perwira serta kawan-kawan mereka.

Kini Kim Lan dan Ai Yin berhadapan dengan pemuda yang sudah menyelamatkan mereka dari ancaman bahaya yang bagi mereka bahkan lebih mengerikan dari pada maut itu. Kim Lan merangkap kedua tangan ke depan dada memberi hormat kepada pemuda itu, diturut pula oleh Ai Yin.

“Terima kasih atas bantuan taihiap (pendekar besar) yang telah menyelamatkan kami dari pengeroyokan pasukan itu.”

Pemuda ini membalas penghormatan mereka, lalu dengan sikap halus dan senyum ramah dia menjawab, “Harap ji-wi lihiap (pendekar wanita berdua) tidak bersikap sungkan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu dalam menentang kejahatan. Marilah kita bicara di tempat lain. Tempat ini tidak nyaman untuk bicara, lagi pula kalau sisa pasukan tadi datang membawa bala bantuan yang besar jumlahnya, kita bisa repot.”

Setelah berkata demikian, dengan sikapnya yang hormat pemuda itu lalu mengajak kedua orang gadis meninggalkan tempat itu dan memasuki hutan. Kim Lan dan Ai Yin mengerti bahwa ucapan pemuda itu memang benar, maka mereka pun mengikuti pemuda itu dan sebentar saja mereka bertiga yang menggunakan ilmu berlari cepat sudah meninggalkan tempat di mana mayat-mayat para prajurit bergelimpangan itu. Mereka berhenti di bagian terbuka dalam hutan itu.

“Nah, di sini kita dapat bicara dengan lebih nyaman,” kata pemuda itu. “Perkenalkan, nona berdua, namaku Cia Song, seorang murid Siauw-lim-pai. Kalau tadi aku tidak salah lihat, permainan pedang kalian tadi adalah dari Kun-lun-pai. Benarkah?”

“Tidak salah dugaanmu, Cia-taihiap (pendekar besar Cia)...”

“Aihh, nona. Harap jangan sebut taihiap kepadaku. Kita murid-murid dua partai persilatan besar yang segolongan, jadi seperti saudara saja. Kalian seperti adik-adik seperguruanku sendiri.”

“Ahh, engkau baik sekali, Cia-twako (kakak Cia)!” kata Ai Yin kagum.

“Baiklah, Cia-twako. Perkenalkan, aku bernama Kim Lan dan dia ini adalah sumoi-ku (adik seperguruanku) bernama Ai Yin, murid-murid Kun-lun-pai.”

“Hemm, Lan-moi dan Yin-moi, senang sekali aku dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian di sini. Akan tetapi mengapa kalian berdua sampai dikeroyok tikus-tikus tadi?” tanya Cia Song, murid Siauw-lim-pai yang pernah kita kenal.

Dia adalah murid Hui Sian Hwesio yang pernah bertemu dengan Thian Liong ketika Thian Liong berkunjung ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab Sam-jong Cin-keng kepada Hui Sian Hwesio. Cia Song inilah yang dulu menangkap kemudian membunuh Hui-houw-ong Giam Ti yang dituduh sebagai pemerkosa Kwee Bi Hwa, puteri Kwee Bun To.

“Kami berdua sedang melakukan perjalanan. Ketika baru tiba di sini, rombongan pasukan itu muncul lalu mereka hendak mengganggu kami, maka kami melawan dan dikeroyok,” kata Ai Yin. Diam-diam dara ini merasa kagum kepada Cia Song yang tampan dan gagah, dan yang telah menyelamatkan dia dan suci-nya itu.

“Akan tetapi kalau aku boleh bertanya, ada urusan apakah kalian berdua jauh-jauh datang ke sini? Siapa tahu aku dapat membantu kalian,” Cia Song berkata dengan sikapnya yang lemah lembut dan ramah.

Kim Lan dan Ai Yin saling bertukar pandang. Mereka setuju untuk berterus terang kepada pemuda yang menarik hati dan menyenangkan itu. Siapa tahu dia dapat membantu untuk menemukan orang yang mereka cari-cari.

“Cia-twako, sesungguhnya aku sedang mencari seseorang dan sumoi ini ikut denganku. Susahnya, aku tidak tahu ke mana harus mencari orang itu,” kata Kim Lan.

“Hemm, siapakah orang yang kau cari itu, Lan-moi? Barang kali saja aku mengenalnya,” tanya Cia Song sambil lalu karena sebenarnya dia tidak tertarik kepada orang yang dicari oleh kedua orang gadis cantik ini.

Akan tetapi jawaban Kim Lan sungguh tak disangka-sangka sehingga amat mengejutkan hatinya. “Cia-twako, engkau tentu tidak mengenalnya. Dia adalah seorang pemuda yang bernama Souw Thian Liong.”

“Souw Thian Liong...?” tanya Cia Song, tertarik sekali.

“Apakah engkau mengenal dia, Cia-twako?” tanya Ai Yin.

“Hemm, bukankah yang kalian maksudkan adalah Souw Thian Liong murid dari Tiong Lee Cin-jin?”

“Benar sekali, twako!” seru Kim Lan girang. “Apakah engkau tahu di mana dia?”

Cia Song mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengetahui di mana Thian Liong berada! Di Siauw-lim-si dia sudah bergaul akrab dengan Thian Liong dan dia mendengar bahwa sebuah di antara kitab-kitab pelajaran ilmu silat, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang merupakan kitab pusaka milik Kun-lun-pai, yang harusnya oleh Thian Liong dikembalikan kepada Kun-lun-pai, telah dicuri oleh seorang gadis berpakaian merah yang tak diketahui siapa nama dan di mana tempat tinggalnya. Dia tahu pula bahwa setelah pergi dari Siauw-lim-si, Thian Liong tentu akan mencari gadis pencuri kitab itu sampai dapat diketemukan untuk merampas kembali kitab pusaka Kun-lun-pai itu.

Tanpa diketahui Thian Liong, diam-diam Cia Song membayangi pemuda itu karena timbul keinginannya untuk menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai itu! Maka dia tahu bahwa Thian Liong sedang berada di kota Kiang-cu, tak jauh dari tempat itu, dan dia pun melihat Thian Liong telah menyewa kamar di sebuah rumah penginapan.

Karena memang niatnya hendak mendahului Thian Liong menemukan gadis yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai, maka selagi Thian Liong berada di kota itu, dia sengaja keluar kota untuk menyelidiki kalau-kalau dara berpakaian merah itu berada di sekitar daerah itu, kemudian secara kebetulan dia melihat Kim Lan dan Ai Yin yang dikeroyok prajurit Kin.

“Mungkin aku bisa membantu kalian menemukan Souw Thian Liong. Akan tetapi aku juga ingin sekali mengetahui, mengapa kalian mencari dia?”

“Suci Kim Lan yang mencarinya, twako. Dia adalah calon suami suci!” kata Ai Yin.

Cia Song terkejut, lantas memandang wajah Kim Lan yang berubah kemerahan. “Ahh, jadi engkau telah bertunangan dengan Souw Thian Liong, Lan-moi? Sungguh tidak kusangka! Kalau begitu, kionghi (selamat)!” Cia Song mengucapkan selamat sambil menjura. “Akan tetapi kenapa sekarang engkau mencari dia sampai ke sini? Apakah dia pergi tanpa pamit dan ada urusan yang amat penting? Katakanlah terus terang karena aku adalah kenalan baiknya dan aku pasti akan dapat menemukan dia untukmu.”

Dengan muka masih kemerahan, Kim Lan berkata, “Sebetulnya, dia... memang melarikan diri dan aku ingin bertemu dengan dia untuk minta keputusannya apakah dia mau menjadi suamiku atau kalau tidak...”

“Hemm, kalau tidak bagaimana?” kejar Cia Song yang menjadi semakin heran.

“Kalau tidak maka aku... aku harus membunuhnya!”

Cia Song terbelalak heran. “Bagaimana pula ini?” tanyanya dengan perasaan heran. “Apa yang terjadi, Lan-moi?”

“Pendeknya, bagiku hanya ada dua pilihan. Dia bersedia menjadi suamiku atau kalau dia menolak maka aku harus membunuhnya!” kata pula Kim Lan.

Cia Song mengerutkan alisnya, lalu dia mengangguk-angguk. “Hemm, begitukah? Jadi dia dan engkau... hemm, dia telah...”

“Bukan, bukan begitu, Cia-twako!” bantah Ai Yin yang tahu apa yang diduga pemuda itu. “Tidak pernah ada hubungan apa pun antara Souw Thian Liong dan suci. Akan tetapi suci harus melakukan itu untuk memenuhi sumpahnya, sumpah kami.”

“Sumpah? Aku tidak mengerti...,” kata Cia Song, semakin heran.

Kim Lan menghela napas panjang kemudian berkata, “Begini, Cia-twako. Karena engkau sudah bersikap baik kepada kami, biarlah kami anggap saudara sendiri dan engkau boleh mengetahui persoalannya. Kami murid-murid subo telah disumpah oleh subo bahwa kami tidak boleh menikah dengan pria mana pun kecuali jika ada pria yang mengalahkan kami dalam pertandingan. Akan tetapi, bila pria itu menolak, maka kami harus membunuhnya. Kebetulan Souw Thian Liong sudah mengalahkan aku dalam pertandingan, akan tetapi dia menolak untuk menjadi suamiku, bahkan lalu melarikan diri. Karena itu aku harus mencari dia untuk minta kepastian darinya.”

Cia Song mengangguk-angguk, dalam hatinya diam-diam dia tertawa mendengar tentang sumpah yang sangat aneh itu. “Hemm, begitukah? Apakah semua murid wanita Kun-lun-pai harus bersumpah seperti itu?”

“Tidak, twako,” kata Ai Yin. “Hanya subo Biauw In Su-thai yang memiliki peraturan seperti itu dan sebagai murid-muridnya kami harus memenuhi sumpah kami.”

“Hemmm, aku pernah mendengar bahwa Souw Thian Liong sudah datang ke Kun-lun-pai untuk menyerahkan sebuah kitab pusaka. Benarkah begitu?” tanya Cia Song.

“Ahh, ternyata engkau tahu juga akan hal itu, Cia-twako?” kata Kim Lan. “Memang benar, tetapi menurut pengakuannya, kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu telah dicuri orang.”

“Hemm, itu menurut pengakuannya, ya? Aku sudah curiga padanya, aku sudah menduga bahwa Souw Thian Liong sebetulnya bukan orang baik-baik. Kitab pusaka Kun-lun-pai itu tentu ingin dia kuasai sendiri, lalu dia berbohong mengatakan bahwa kitab itu dicuri orang agar mendapat kesempatan untuk mempelajarinya sendiri. Dan jika dia memang seorang gagah, tentu dia akan menghormati sumpahmu, Lan-moi. Bukannya mengalahkanmu lalu meninggalkan pergi, membiarkan engkau kebingungan dengan sumpahmu. Sementara itu, tahukah kalian apa yang sedang dia lakukan? Hemm, aku melihat dia justru berhubungan dengan seorang puteri bangsawan Nuchen.”

“Apa? maksudmu, seorang puteri bangsawan kerajaan Kin?” tanya Ai Yin penasaran.

“Ya, aku melihatnya sendiri. Dia sekarang berada di kota Kiang-cu, tak jauh dari sini dan dia telah menyewa kamar di sebuah penginapan bersama puteri bangsawan Kerajaan Kin itu.”

“Tidak tahu malu!” kata Ai Yin, hatinya ikut panas mendengar betapa pemuda yang sudah mengalahkan suci-nya namun menolak menikah dengan Kim Lan itu kini bergaul dengan seorang wanita Kin, bahkan bersama-sama menginap di sebuah rumah penginapan.

“Cia-twako, tolong tunjukkan tempatnya padaku. Aku harus menemuinya untuk memenuhi sumpahku!” kata Kim Lan dengan muka berubah kemerahan karena hatinya mulai terasa panas pula.

Memang Cia Song tidak berbohong. Dia melihat betapa Thian Liong berkenalan dengan Pek Hong Nio-cu. Meski pun dia sendiri tidak mengenal Pek Hong Nio-cu, akan tetapi dari pakaiannya serta dari keterangan orang yang ditanyainya di jalan, tahulah dia bahwa Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri bangsawan yang selain lihai kepandaian silatnya, juga memiliki kekuasaan besar sehingga ditakuti dua orang pembesar di kota Leng-ciu itu.

Cia Song terus membayangi dan melihat Thian Liong bergaul akrab dengan Pek Hong Nio-cu. Diam-diam dia sendiri juga kagum kepada gadis cantik jelita yang lihai itu. Lagi pula kedatangannya di daerah yang diduduki Kerajaan Kin juga bukan semata-mata hendak membayangi Thian Liong dan jika mungkin bisa menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai yang katanya dicuri seorang gadis berbaju merah itu. Akan tetapi dia mempunyai tugas pribadi yang teramat penting.

“Baiklah, aku akan mengantarkan kalian ke sana, tetapi kalian harus menaati petunjukku karena kalau tidak, keadaannya malah tidak menguntungkan, bahkan sangat berbahaya bagi untuk kita semua. Seperti yang telah kalian ketahui, Souw Thian Liong adalah orang yang sangat lihai. Walau pun agaknya aku masih dapat dan mampu menandinginya, akan tetapi temannya itu, gadis bangsawan Kin itu, dia juga seorang yang lihai bukan main. Dia berjuluk Pek Hong Nio-cu dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.”

“Kami tidak takut!” kata Kim Lan.

“Biar gadis kerajaan musuh itu kami hajar sekalian!” kata pula Ai Yin.

“Agaknya kalian ini sudah lupa sedang berada di mana!” kata Cia Song sambil tersenyum. “Sekarang kita sedang berada di daerah yang dikuasai Kerajaan Kin, hal ini harus kalian ingat benar. Di mana-mana terdapat pasukan Kin. Kalau kita bentrok begitu saja melawan puteri bengsawan Kin itu, lantas dia mendatangkan pasukan yang berjumlah besar, maka celakalah kita!”

Dua orang gadis itu bertukar pandang dan baru menyadari kesalahan mereka. “Habis, lalu apa yang harus kita lakukan, twako?” tanya Kim Lan bingung.

“Nah, karena itulah tadi kukatakan bahwa kalian harus menaati petunjukku. Kalian jangan tergesa-gesa turun tangan. Nanti sesudah memasuki kota Kiang-cu, kita menyewa kamar di rumah penginapan, lalu aku akan menemui Thian Liong yang sudah kukenal baik. Aku akan membujuk dia agar mau menerimamu sebagai isterinya sehingga engkau tidak akan melanggar sumpahmu, Lan-moi. Kalau dia dapat kubujuk, maka segalanya menjadi beres. Kalau dia menolak, maka aku akan mencoba memancingnya ke tempat sunyi di luar kota, tanpa ditemani Pek Hong Nio-cu. Di sana kita dapat memaksa dan menyerang dia.”

“Kita?” Kim Lan bertanya.

“Ya, tentu saja aku akan membantumu, Lan-moi. Kalau tidak, lalu bagaimana kalian akan mampu mengalahkannya?”

Diam-diam Kim Lan sangat berterima kasih kepada Cia Song dan Ai Yin menjadi semakin kagum kepadanya. Mereka bertiga lalu meninggalkan hutan itu dan menuju kota Kiang-cu yang jaraknya hanya belasan lie (mil) dari situ…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner