KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-31


“Souw-sute (adik seperguruan Souw)…!”

Mendengar seruan itu, Thian Liong yang bersama Pek Hong Nio-cu tengah berjalan keluar dari rumah penginapan itu menjadi terkejut dan cepat menengok.

“Ehh, suheng (kakak seperguruan) Cia Song...!” Dia berseru heran sekali ketika mengenal Cia Song.

Semenjak Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai memberi dia pelajaran ilmu silat dari kitab Sam-jong Cin-keng, Thian Liong telah diakui sebagai murid Siauw-lim-pai. Oleh karena itu Cia Song menyebutnya sute (adik seperguruan), sedangkan dia menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Cia Song.

Cia Song melangkah cepat, menghampiri Thian Liong yang berdiri di samping Pek Hong Nio-cu. Gadis ini pun memandang dengan tatapan penuh selidik kepada pemuda tampan gagah yang menegur Thian Liong sebagai sute-nya.

“Aih, Souw-sute, kejutan ini sungguh menyenangkan bagiku, dapat bertemu denganmu di tempat ini!” kata Cia Song, kemudian seolah baru melihat Pek Hong Nio-cu yang berdiri di samping Thian Liong, dia menyambung ragu, “Ehh... maaf, kalau boleh aku mengetahui, siapakah nona yang terhormat ini?”

Melihat di ruangan depan rumah penginapan itu sudah terdapat beberapa tamu yang kini mulai memperhatikan mereka, Thian Liong segera berkata, “Suheng, marilah kita bicara di dalam. Marilah Nio-cu.” Ajaknya kepada Pek Hong Nio-cu.

Mereka bertiga lalu memasuki rumah penginapan dan tak lama kemudian mereka bertiga sudah memasuki kamar Thian Liong lalu duduk berhadapan terhalang meja.

“Cia-suheng, terlebih dahulu perkenalkan. Ini adalah Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita yang sudah terkenal di daerah ini. Nio-cu, ini adalah suheng Cia Song, murid suhu Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai.”

Dengan sikap lembut dan hormat Cia Song bangkit berdiri, lantas memberi hormat kepada gadis itu yang dibalas oleh Pek Hong Nio-cu dengan sikap anggun dan angkuh. Melihat sikap wanita itu, semakin yakinlah hati Cia Song bahwa Pek Hong Nio-cu tentulah puteri seorang pembesar yang berkedudukan tinggi.

“Souw-sute, tidak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini. Engkau... ehh, kalau aku boleh bertanya, engkau dan nona Pek Hong Nio-cu hendak pergi ke manakah?”

“Saudara Cia Song tidak usah bersikap sungkan, sebut saja aku Nio-cu,” gadis itu berkata dengan sikap wajar. Kembali Cia Song mendapat kenyataan betapa dalam ucapannya itu gadis ini memiliki wibawa dan keanggunan yang amat kuat.

“Ahh, terima kasih, Nio-cu,” katanya.

“Cia-suheng, tentu engkau masih ingat bahwa kitab pusaka milik Kun-lun-pai sudah dicuri orang....”

“Ah, pencuri wanita baju merah yang tidak kau kenal siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya itu?” sambung Cia Song.

“Benar, suheng. Aku hanya ingat bahwa gerakan silatnya memiliki dasar-dasar ilmu silat Tibet, sebab itu aku hendak mencari ke daerah barat. Kebetulan Pek Hong Nio-cu ini juga hendak melakukan perjalanan ke perbatasan Sin-kiang, maka kami melakukan perjalanan bersama. Dan engkau sendiri hendak pergi ke manakah suheng?”

“Ahh, aku... aku hanya hendak melihat-lihat keadaan di utara ini saja. Akan tetapi tiba-tiba aku mendapatkan suatu urusan yang teramat penting, yang menyangkut pribadimu juga. Aku… hemm, agaknya urusan ini hanya dapat kau dengarkan sendiri saja, sute...”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Pek Hong Nio-cu bangkit berdiri kemudian berkata kepada Thian Liong, “Thian Liong, bicarakanlah urusan pribadimu dengan saudara Cia Song. Aku hendak keluar sebentar. Nanti kita bertemu lagi!”


“Maafkan aku, Nio-cu,” kata Cia Song.

“Ahh, tidak mengapa!” kata Pek Hong Nio-cu dan gadis ini segera melangkah keluar dari kamar itu.

Thian Liong mengerutkan kedua alisnya, merasa tak enak karena dia maklum bagaimana perasaan Pek Hong Nio-cu sesudah mendengar kata-kata Cia Song yang jelas hendak membicarakan sesuatu yang dirahasiakan bagi orang lain itu.

“Cia-suheng, sesungguhnya ada apakah maka engkau bicara seperti ada rahasia besar?” tanya Thian Liong. “Tentu saja Nio-cu menjadi tidak enak lalu pergi meninggalkan kita.”

“Maafkan aku, Souw-sute. Akan tetapi aku tidak mengada-ada. Memang ada hal penting yang harus kuberitahukan kepadamu seorang diri saja dan amat tidak enak kalau sampai terdengar oleh orang lain, apa lagi oleh seorang gadis seperti Nio-cu tadi.”

“Akan tetapi ada urusan apakah, suheng? Rasanya aku tidak mempunyai urusan pribadi yang harus disembunyikan dari orang lain!” kata Thian Liong penasaran.

“Hemm, Souw-te, ingatkah engkau akan nama Kim Lan dan Ai Yin?”

“Kim Lan dan Ai Yin?” Thian Liong mengingat-ingat.

Tentu saja mudah baginya mengingat dua nama gadis itu yang membuatnya penasaran setengah mati. Kim Lan dan Ai Yin pernah mengeroyoknya, bahkan dibantu guru mereka, Biauw In Su-thai. Mereka hendak memaksanya untuk menikah dengan Kim Lan! Sumpah aneh dan gila itu!

“Maksudmu... dua orang murid wanita dari Biauw In Su-thai, tokoh Kun-lun-pai itu?”

“Hemmm, ternyata engkau masih ingat dengan baik. Ya, mereka sedang mencarimu dan ingin memasamu menikah dengan Kim Lan. Kalau engkau tidak mau menjadi suaminya, mereka berdua hendak membunuhmu!”

“Hemm, sumpah gila itu? Aku sudah tahu, suheng, tetapi aku tidak peduli. Salah mereka sendiri kenapa mereka mau membuat sumpah gila itu? Aku tidak ingin menjadi suaminya Kim Lan atau suami siapa pun juga. Biar saja mereka mengancam akan membunuhku. Bagaimana pun juga, mereka berada jauh di Kun-lun-pai!”

Cia Song tersenyum. “Siapa bilang mereka berada jauh di Kun-lun-pai? Sekarang mereka berada dekat sekali, sute. Mereka berada di sini, di kota ini!”

Thian Liong terkejut. Berita ini tak pernah diduganya sehingga benar-benar mengejutkan. “Di sini? Di mana mereka? Biar kutemui mereka dan akan kujelaskan, kusadarkan mereka bahwa sumpah mereka itu benar-benar gila dan tidak ada artinya!”

“Ssttt, tenanglah, Souw-sute, sebab secara kebetulan aku telah bertemu dengan mereka. Aku melihat mereka sedang dikeroyok oleh segerombolan penjahat di tepi hutan, dan aku yang kebetulan lewat di sana lantas membantu mereka. Kemudian mereka menceritakan semuanya tentang urusanmu dengan Kim Lan dan Kim Lan sudah mengambil keputusan nekad. Dia hendak mengajak engkau menikah. Tetapi kalau engkau tidak mau, maka dia dan Ai Yin akan mengeroyokmu dan membunuhmu!”

“Aku tidak takut, Cia-suheng. Kalau mereka hendak mengeroyokku, aku dapat mengatasi mereka. Akan tetapi kuharap engkau mau membantu menyadarkan mereka dari sumpah gila itu.”

“Hemmm, mudah saja kau bicara. Apa yang dapat kau lakukan kalau mereka membunuh diri?”

Thian Liong terbelalak, “Membunuh diri...?”

“Nah, inilah yang agaknya tidak kau ketahui, Souw-sute. Kim Lan mengatakan kepadaku bahwa kalau engkau menolak, dia dan Ai Yin akan mengeroyokmu. Kalau mereka kalah, mereka akan membunuh diri di depanmu, karena kalau tidak, mereka juga akan dibunuh oleh guru mereka.”

“Gila betul…!”

“Gila atau tidak, tetapi apa yang dapat kau lakukan kalau mereka membunuh diri? Berarti mereka mati karena engkau, sute. Sama saja dengan engkau yang membunuh mereka.”

“Wah-wah, cialat (celaka) betul kalau begitu!” Thian Liong bingung. “Lalu apa yang harus kulakukan, suheng?”

“Apa lagi? Ya harus menjadi suami Kim Lan, itu adalah jalan yang paling aman.”

“Aihh, mana bisa begitu, Cia-suheng. Jika setiap ada gadis mengancam bunuh diri kalau tidak dinikahi, bisa repot! Tolonglah, suheng, berikan aku nasehat, bagaimana sebaiknya yang harus kulakukan. Apakah tidak baik jika kutemui mereka, lalu kubujuk dan nasehati supaya mereka tidak usah memenuhi sumpah mereka yang gila-gilaan itu?” tanya Thian Liong yang benar-benar merasa bingung sekali.

Cia Song meraba-raba dagunya dan berpikir-pikir. “Kukira cara itu tidak baik, sute, karena engkaulah orang yang mereka cari. Jika engkau yang menemui mereka dan menasehati, jelas mereka akan menganggap engkau terang-terangan menolak. Hal ini akan membuat mereka menjadi sakit hati dan lebih marah lagi. Soal membujuk dan menasehati mereka, kurasa aku akan lebih berhasil. Pertama, aku bukan orang yang mereka kejar, dan kedua kalinya, bagaimana pun juga mereka berhutang budi padaku.”

“Dan aku? Bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan?”

“Hemmm, tidak ada jalan lain, sute. Sebaiknya engkau cepat pergi meninggalkan kota ini. Jangan sampai mereka mengetahui bahwa engkau berada di sini. Jangan sampai mereka melihatmu! Lebih cepat engkau lari lebih baik, lebih jauh dari mereka lebih baik!”

“Begitukah, suheng? Hemm, agaknya memang sebaiknya begitu. Terima kasih, suheng, engkau telah menolongku!” kata Thian Liong dengan girang.

“Sudahlah, Souw-sute. Sekarang aku harus cepat-cepat mendatangi mereka. Akan kujaga agar jangan sampai mereka meninggalkan rumah penginapan sehingga tak akan bertemu denganmu. Akan tetapi sore ini juga engkau harus sudah meninggalkan kota ini.”

“Baik, akan kuusahakan, suheng. Terima kasih!”

Cia Song segera meninggalkan rumah penginapan itu, dan bergegas dia pergi ke rumah penginapan di mana dia bersama kedua orang murid wanita Kun-lun-pai itu menyewa dua buah kamar, untuk dia dan untuk mereka berdua. Rumah penginapan itu berada di sudut kota Kiang-cu, agak jauh dari rumah penginapan di mana Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu bermalam.

Tidak lama sesudah Cia Song pergi, muncullah Pek Hong Nio-cu. Ternyata gadis itu tidak pergi jauh, hanya duduk di rumah makan yang berada di bagian depan rumah penginapan itu. Setelah melihat Cia Song pergi, dia pun cepat menemui Thian Liong.

“Thian Liong, walau pun Cia Song itu suheng-mu, akan tetapi terus terang saja aku tidak suka padanya,” kata Pek Hong Nio-cu sejujurnya.

“Ehh, kenapa tidak suka? Dia memang bukan suheng-ku secara langsung, hanya karena kebetulan Hui Sian Hwesio melatih sebuah ilmu kepadaku, maka dia lalu menganggapku sebagai sute-nya. Tapi dia yang orang baik, Nio-cu, bahkan baru saja dia telah menolong aku keluar dari keadaan yang amat menyulitkan diriku.”

“Hemm, jika engkau hendak merahasiakan urusan pribadimu yang besar dan penting itu, maka tidak perlu kau bicarakan denganku!” kata Pek Hong Nio-cu ketus. “Pendeknya aku tak suka padanya, mungkin kata-katanya yang terlalu manis, sikapnya yang terlalu manis, sikapnya yang terlalu sopan, dan pandang matanya yang kadang-kadang aneh. Aku tidak percaya terhadap orang itu, Thian Liong.”

“Maafkan dia kalau tadi dia merahasiakan urusan itu, Nio-cu. Akan tetapi aku tidak perlu merahasiakannya kepadamu karena urusan ini amat aneh dan lucu. Apa lagi aku terpaksa harus mengajak engkau untuk meninggalkan kota ini sekarang juga.”

“Hemm, kenapa begitu?” Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.

“Nio-cu, mari kita bicara di dalam agar tidak terdengar orang lain.” Thian Liong mengajak.

Tanpa rikuh-rikuh lagi Pek Hong Nio-cu lalu mengikuti Thian Liong masuk kamar pemuda itu dan membiarkan daun pintu kamar terbuka sehingga mereka akan dapat melihat kalau ada orang yang mendekati kamar itu.

Setelah mereka duduk saling berhadapan, Thian Liong lalu menceritakan tentang sumpah Kim Lan kepada subo-nya. Betapa sekarang Kim Lan, dibantu sumoi-nya yang bernama Ai Yin, mencarinya sampai ke kota Kiang-cu itu dan hendak memaksa dia mengawininya, dan jika dia menolak maka mereka akan mengeroyok dan membunuhnya!

“Hemm, dan engkau tidak mau menjadi suami Kim Lan itu?” tanya Nio-cu.

“Tentu saja aku tidak mau. Aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikatkan diriku dengan sebuah perjodohan. Kalau aku mau tentu aku tidak akan melarikan diri dari mereka.”

“Dan engkau takut menghadapi pengeroyokan dua orang gadis itu? Apakah mereka lihai sekali?”

“Tidak, aku tidak takut. Kurasa aku mampu mengatasi mereka, Nio-cu,” kata Thian Liong sejujurnya.

“Hemm, kalau begitu mengapa engkau harus cepat-cepat melarikan diri? Lawan saja jika mereka menyerangmu. Hajar perempuan-perempuan tidak tahu malu itu!”

“Ah, engkau tidak tahu, Nio-cu. Masalahnya tidak sesederhana itu. Tadi suheng Cia Song memberi tahu bahwa Kim Lan sudah mengatakan kepadanya bahwa kalau dia dan sumoi-nya tidak dapat membunuhku maka mereka berdua akan membunuh diri di depanku.”

“Perempuan-perempuan gila…!” desis Pek Hong Nio-cu.

“Mereka berbuat demikian karena terpaksa, Nio-cu. Mereka telah bersumpah kepada guru mereka. Andai kata mereka tidak membunuh diri, mereka pun akan dibunuh guru mereka sendiri.”

“Huhh, orang-orang gila! Mengapa engkau sangat peduli? Kalau mereka mau bunuh diri, biarkan saja, bukan urusanmu!”

“Ahh, bagaimana aku dapat membiarkan hal itu terjadi, Nio-cu? Kalau mereka membunuh diri karena tidak dapat mengalahkan aku, berarti mereka mati karena aku. Itu sama saja dengan aku yang membunuh mereka.”

“Huh, lalu apakah selama hidup engkau akan terus berlari-larian menjadi buruan mereka? Gila benar!”

“Tidak, Nio-cu. Suheng Cia Song sudah berjanji bahwa dia akan membujuk mereka untuk tidak melanjutkan pelaksanaan sumpah mereka itu.”

“Perempuan dari manakah mereka itu? Begitu tidak tahu malu!”

“Mereka bukan perempuan sembarangan, Nio-cu. Mereka adalah murid-murid Kun-lun-pai tetapi subo merekalah yang gila, menyuruh mereka bersumpah seperti itu.”

“Tidak peduli mereka itu murid partai mana, kelakuan mereka itu sangat memalukan! Jadi engkau tetap akan melarikan diri meninggalkan kota ini sekarang?”

“Benar, Nio-cu. Terpaksa, maafkan aku.”

“Tidak, aku tidak mau pergi sekarang!” kata wanita itu dengan suara tegas.

“Nio-cu, sekali ini harap engkau suka mengalah,” pinta Thian Liong.

“Tidak, aku baru mau berangkat besok pagi-pagi. Apa bila engkau takut bertemu mereka, malam ini tinggal saja di kamar, jangan keluar-keluar. Aku ingin sekali melihat orang-orang macam apa sih murid-murid Kun-lun-pai itu!”

“Aih, Nio-cu, harap jangan membuat gara-gara dengan mereka. Urusanku dengan mereka sudah cukup membuat aku pusing.”

“Siapa mau cari gara-gara dengan mereka? Aku hanya ingin melihat macam apa mereka itu dan aku hanya mau pergi besok pagi-pagi. Terserah jika engkau mau pergi sekarang!” Setelah berkata demikian, dengan sikap marah Pek Hong Nio-cu meninggalkan kamar itu.

Sambil menghela napas Thian Liong menutup daun pintu kamarnya, lantas merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Pikirannya pusing! Para wanita itu, selalu membikin pusing saja!

Mula-mula gadis baju merah. Lalu Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. Kemudian Kim Lan dan sekarang dia pun pusing melihat sikap keras Pek Hong Nio-cu! Mengapa mereka semua keras kepala? Terpaksa dia mengalah kepada Pek Hong Nio-cu.

Malam ini dia tak akan keluar kamar. Dia akan bersembunyi saja di dalam kamarnya dan besok pagi-pagi berangkat meninggalkan kota Kiang-cu bersama Pek Hong Nio-cu. Puteri itu sudah membeli seekor kuda untuknya dan sekarang dua ekor kuda mereka berada di kandang rumah penginapan.

Terpaksa dia pun tidak keluar untuk makan malam. Namun begitu malam tiba daun pintu kamarnya diketuk pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman untuknya.

“Nio-cu yang memerintahkan untuk mengantar ini kepada sicu (tuan),” kata pelayan itu.

Thian Liong tersenyum dan kejengkelannya terhadap Pek Hong Nio-cu mereda. Puteri itu ternyata memperhatikan kebutuhan makannya juga. Akan tetapi malam itu dia tidak mau keluar kamar, khawatir kalau-kalau sampai ketahuan oleh Kim Lan dan Ai Yin…..

********************

Begitu tiba kembali di rumah penginapan, Cia Song segera disambut oleh dua orang gadis murid Kun-lun-pai dengan perasaan ingin tahu sekali. Apa lagi Kim Lan. Gadis ini segera menyongsong kedatangan Cia Song sambil bertanya dengan hati berdebar tegang.

“Bagaimana, Cia-twako? Apakah engkau berhasil bertemu dia?”

Cia Song tersenyum dan mengangguk. “Beres! Aku sudah bertemu dengan Souw Thian Liong dan sesudah aku membujuk dan berbantahan dengan dia, akhirnya dia menyatakan bersedia bertemu denganmu, Lan-moi.”

“Ahh, dia mau menikah dengan suci, twako?” tanya Ai Yin girang.

“Dia tidak mengatakan demikian, akan tetapi dia bersedia mengadakan pertemuan dengan kalian untuk membicarakan hal itu baik-baik. Aku yakin akhirnya dia akan mau menerima juga.”

“Mana dia sekarang, Cia-twako? Kenapa tidak datang bersamamu?” tanya Kim Lan tidak sabar karena dia ingin segera mendapat keputusan akan masa depannya.

“Dia tidak dapat datang sekarang. Sepeti yang telah kukatakan kepada kalian, dia sedang bersama puteri bangsawan Kin itu. Akan tetapi tadi dia bilang bahwa malam ini dia pasti datang mengunjungi kalian. Karena itu kalian bersiap saja menerima kunjungannya malam ini.” Sesudah berkata demikian, Cia Song mengajak dua orang gadis yang sudah mandi dan berganti pakaian itu untuk makan malam.

“Mari kita makan minum untuk merayakan keberhasilanku membujuk Souw Thian Liong!” katanya, kemudian mereka menuju ke rumah makan.

Pemuda itu memesan banyak macam masakan berikut arak wangi. Untuk menyenangkan hati Cia Song yang mereka anggap sudah menolong dengan sungguh-sungguh itu, Kim Lan dan Ai Yin memaksa diri ikut merayakan keberhasilan itu. Bahkan mereka tidak dapat menolak ketika beberapa kali Cia Song mengajak mereka minum arak sehingga sesudah perjamuan makan itu selesai, dua orang gadis itu merasa agak pening karena pengaruh arak yang cukup keras. Wajah mereka menjadi kemerahan dan keadaan setengah mabok membuat mereka gembira dan mudah terkekeh senang. Dengan langkah agak tidak tetap kedua orang gadis itu lalu diajak kembali ke rumah penginapan oleh Cia Song.

“Sekarang kalian tunggu saja di dalam kamar. Nanti jika keadaan sudah agak sepi, tentu dia akan datang berkunjung. Sebaiknya pintu kamar kalian hanya ditutup saja, tapi jangan dipalang dari dalam sehingga bila dia datang, aku mudah memberitahu kalian tanpa harus menggedor daun pintu. Maklumlah, Souw Thian Liong menghendaki agar tidak ada orang lain yang tahu akan persoalan dia dengan kalian.”

Dua orang gadis itu mengangguk. Mereka pun memasuki kamar, kemudian menutupkan daun pintu kamar tanpa memalangnya dari dalam. Pengaruh arak membuat mereka agak pening dan mengantuk.

Mereka merebahkan diri di atas pembaringan tanpa mematikan lilin besar yang bernyala menerangi kamar itu, dan tanpa membuka sepatu. Karena merasa yakin bahwa Cia Song tidak berbohong, dan bahwa pemuda itu tentu menunggu kedatangan Souw Thian Liong lalu akan memberitahu mereka, maka dua orang gadis itu berbaring dengan santai dan akhirnya tak kuasa menahan kantuk sehingga mereka pun tertidur.

Cia Song memang tidak tidur. Dia duduk di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar dua orang gadis itu. Dia menelan sebutir obat pulung yang berwarna merah. Obat ini merupakan obat penawar minuman keras sehingga minuman beberapa cawan arak di rumah makan tadi tidak akan mempengaruhinya dan dia tetap sadar.

Tiba-tiba pendengarannya yang terlatih dapat menangkap suara lembut yang datang dari atas genteng. Dia terkejut dan menduga-duga. Benarkah Thian Liong datang berkunjung? Kalau benar, sungguh gila orang itu. Bukankah dia sudah memesan supaya Thian Liong segera melarikan diri meninggalkan kota Kiang-cu?

Dia tetap waspada dan segera menyelinap keluar lalu melompat ke atas genteng melalui bagian belakang. Akhirnya dia dapat melihat sesosok bayangan mendekam di atas kamar Kim Lan dan Ai Yin. Jantung Cia Song berdebar tegang.

Benarkah Thian Liong datang berkunjung? Kalau benar dia yang datang, kenapa caranya seperti itu, mengintai dari atas dan membuka genteng seperti kelakuan seorang pencuri?

Dia hendak menegur dengan bentakan, akan tetapi cepat ditahannya karena setelah bisa melihat lebih jelas, dia mendapatkan bahwa orang itu berpakaian serba putih dan ketika berjongkok, pinggulnya berbentuk bulat indah dan pinggangnya ramping. Seorang wanita! Ahh, dia teringat sekarang. Bayangan itu tentulah Pek Hong Nio-cu, gadis bangsawan Kin itu! Mau apa dara itu datang seperti pencuri? Karena cuaca memang terlampau gelap, dia tidak melihat betapa Pek Hong Nio-cu melemparkan sesuatu ke dalam kamar dari lubang genteng yang dibuatnya.

Cia Song bergerak mendekati, namun gerakannya itu agaknya terdengar oleh Pek Hong Nio-cu. Gadis ini cepat menutupkan kembali genteng yang dibukanya kemudian tubuhnya berkelebat cepat menghilang dari tempat itu.

Cia Song kagum melihat ginkang (ilmu meringankan tubuh) gadis itu yang sangat hebat. Akan tetapi dia tidak melakukan pengejaran. Untuk apa? Dia mempunyai rencana sendiri dan kemunculan orang tadi bahkan membantu rencananya.

Tidak lama kemudian, menjelang tengah malam setelah keadaan menjadi amat sunyi dan dia yakin bahwa dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu sudah tertidur di dalam penantian mereka, Cia Song lalu menghampiri kamar itu. Dia mendorong daun pintu hingga terbuka, menggunakan sinkang (tenaga sakti) sehingga dari jauh dapat meniup padam lilin di atas meja, menutupkan daun pintu dan memalangnya dari dalam, lalu berjingkat menghampiri pembaringan.

Kim Lan dan Ai Yin terbangun dan terkejut. Mereka hendak meronta, akan tetapi mereka hanya dapat menggerakkan kaki tangan dengan lemah sekali, tanpa tenaga. Jalan darah mereka telah tertotok secara lihai sehingga mereka tak mampu mengerahkan tenaga dan tubuh mereka menjadi lemas! Mereka hendak berteriak, namun dengan kaget mendapat kenyataan bahwa leher mereka telah tertotok sehingga mereka tak mampu mengeluarkan suara! Keadaan kamar dengan sedikit cahaya yang menerobos lewat celah-celah di atas jendela, yang datangnya dari sinar lampu di luar, hanya membuat keadaan dalam kamar itu remang-remang, namun terlalu gelap untuk melihat jelas.

Kemudian bisa dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati kedua orang gadis Kun-lun-pai itu ketika mereka berdua melihat bayangan seorang laki-laki di dalam kamar mereka. Meski pun mereka tidak dapat melihat jelas wajah dan bentuk tubuh orang itu, akan tetapi mereka dapat melihat garis bayangan seorang laki-laki.

Bayangan itu segera mendekati mereka. Mereka hendak melompat dan meronta, namun hanya mampu menggerakkan tangan dan kaki dengan lemah saja, tanpa tenaga. Ketika laki-laki itu menyentuh mereka, dunia bagaikan kiamat bagi dua orang gadis itu!

Mereka tidak dapat melawan, tidak dapat mempergunakan tenaga. Mereka hanya mampu menangis tanpa bisa mengeluarkan suara, hanya air mata yang bercucuran dan akhirnya mereka jatuh pingsan. Terlalu ngeri mala petaka yang menimpa diri mereka sehingga tak tertahankan lagi. Sebelum ketidak sadaran menyelimuti mereka, dua orang dara itu masih sempat mendengar suara laki-laki itu berbisik sinis.

“Kalian ingin mengenal Souw Thian Liong?” Ucapan itu kemudian disusul suara tawa lirih laki-laki itu dan selanjutnya mereka tidak mendengar apa-apa lagi karena keduanya sudah jatuh pingsan.

Bila keadaan sudah terbalik, yaitu kalau manusia yang seharusnya menjadi majikan dari nafsu-nafsunya sendiri yang merupakan hamba atau pelayannya itu malah menjadi hamba dari nafsu-nafsunya, maka manusia itu dapat saja melakukan segala macam perbuatan yang keji dan terkutuk! Manusia terlahir di dunia memang sudah disertai nafsu-nafsunya sebagai pelayan, sebagai penggerak hidup, sebagai pendorong semangat dan memberi kemungkinan manusia menikmati kehidupannya di dunia.

Kita tidak mungkin dapat hidup wajar tanpa disertai nafsu-nafsu kita, alat-alat hidup atau hamba-hamba kita yang amat penting ini. Akan tetapi kita tak boleh lengah sama sekali. Iblis tahu bahwa menusia tidak dapat hidup tanpa nafsu, karena itu iblis mempergunakan nafsu-nafsu ini untuk menyeret kita ke dalam lembah dosa. Dengan umpan kesenangan-kesenangan duniawi, yang serba enak dan nikmat, maka nafsu-nafsu manusia berkobar dan dari keadaan sebagai hamba, nafsu berbalik menjadi majikan.

Manusia menjadi hamba, hidupnya sepenuhnya bergantung kepada ulah nafsu sehingga untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan seperti yang dipamerkan dan dibisikkan iblis melalui nafsu akal pikiran, manusia tak segan-segan melakukan apa saja. Rusaklah semua pertimbangan, patahlah semua ukuran manusiawi, dan manusia tak ada ubahnya sebagai binatang yang hanya bergerak dalam hidup sebagai abdi nafsu-nafsunya sendiri.

Seperti juga nafsu lainnya, nafsu birahi merupakan nafsu alami yang murni, bahkan suci. Selain menjadi puncak pernyataan rasa kasih sayang yang paling dalam, nafsu birahi juga menjadi sarana perkembang-biakan segala makhluk hidup termasuk manusia.

Tidak ada yang buruk atau kotor dalam nafsu ini. Akan tetapi dia akan menjadi buruk, kotor, busuk dan keji kalau dia telah menjadi alat iblis untuk menguasai manusia. Yang tadinya bersih murni seperti malaikat berubah menjadi kotor dan jahat seperti iblis! Kalau manusia yang diperhamba nafsu birahi, iblislah yang menang dan si manusia melakukan segala hal yang amat keji seperti perjinahan, pelacuran, bahkan perkosaan…..!


********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner