KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-32


Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu mereka dapat mempergunakan tenaga, dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu cepat berloncatan turun dari pembaringan. Air mata mereka sudah terkuras habis di sepanjang malam sesudah mereka siuman dari pingsan. Tangis tanpa suara, bercucuran seperti hujan.

Sesudah dapat mempergunakan tenaga dan dapat bersuara lagi, sambil terisak keduanya cepat-cepat membereskan pakaian mereka, kemudian mereka saling berangkulan sambil menahan jerit. Saling bertangisan dan menangisi nasib diri sendiri yang terkutuk!

“Jahanam Souw Thian Liong…!” Ai Yin menangis tersedu-sedu sambil tetap menjaga agar supaya tangisnya jangan sampai terdengar orang.

“Lebih baik aku mati saja...!” Tiba-tiba Kim Lan melompat ke dekat meja, cepat mencabut pedangnya yang tergeletak di atas meja dan berniat menghabisi nyawanya sendiri.

Akan tetapi Ai Yin cepat melompat kemudian merangkulnya, memegangi lengannya yang memegang pedang.


“Tunggu dulu, suci! Kenapa engkau begitu bodoh? Kita harus membalas dendam ini! Kita harus membunuh iblis itu, baru boleh membunuh diri. Mari kita selidiki!”

Kim Lan tersadar, lalu meletakkan pedangnya di atas meja. Wajahnya amat pucat dan dia pun mengepalkan tinju. “Engkau benar, sumoi. Aku bersumpah tak akan berhenti sebelum membunuh iblis busuk Souw Thian Liong!”

Kini Ai Yin sudah berdiri dekat jendela. “Lihat, suci. Jendela ini dipaksa terbuka dari luar, kaitannya putus. Jahanam itu tentu masuk dan keluar dari jendela.” Dia lantas membuka daun jendela sehingga cahaya lampu kini menyinar ke dalam.

“Lihat, ini ada surat!” kata Kim Lan.

Ai Yin menghampiri. Sesudah kamar itu agak terang oleh cahaya lampu dari luar jendela, mereka bisa melihat sehelai kertas bersurat di atas meja, tertancap sebilah pisau runcing. Keduanya lalu membaca kertas itu.

Murid-murid perempuan Kun-lun-pai tak tahu malu! Memaksa orang menjadi suaminya. Begitukah pelajaran yang kalian dapatkan dari Kun-lun-pai?

Demikian bunyi surat itu, tanpa tanda tangan. Kim Lan hendak meremas surat itu, akan tetapi Ai Yin berkata, “Jangan merusak surat itu, suci. Kelak dapat kita jadikan bukti untuk kita perlihatkan kepada para suhu dan subo di Kun-lun-pai!”

Kim Lan melipat lalu menyimpan surat itu. “Sekarang mari kita cari Cia-twako! Barangkali dia mengetahui sesuatu tentang jahanam itu!” kata Kim Lan.

“Benar juga,” kata Ai Yin. “Kenapa Cia-twako tidak memberi tahu kita tentang kedatangan jahanam itu?”

“Mungkin dia tidak tahu. Bukankah jahanam itu datang masuk dan keluar melalui jendela? Mari kita tanya Cia-twako!” Dua orang gadis itu setelah membereskan pakaian mereka lalu bergegas keluar dan mengetuk daun pintu kamar Cia Song.

Karena dua orang gadis itu mengetuk pintu dengan gencar, Cia Song terkejut dan ketika dia membuka pintu, dua orang gadis itu melihat wajah yang pucat dan rambut pemuda itu pun kusut.

“Ehh, Lan-moi dan Yin-moi, ada apakah...?” tanyanya dengan kaget.

“Cia-twako, apakah engkau melihat dia?” tanya Kim Lan yang matanya masih merah dan bengkak, seperti juga mata Ai Yin karena keduanya terlalu banyak menangis.

“Ahh, maksudmu Souw Thian Liong? Hemm, keparat itu tidak memegang janji. Dia tidak jadi datang, bukan? Semalam aku sempat melihat dia.”

“Di mana? Di mana engkau melihat dia, twako?” tanya Ai Yin.

“Semalam aku mendengar suara di atas genteng. Aku langsung naik ke atas dan melihat sesosok bayangan di atas genteng, tepat di atas kamar kalian. Tapi begitu melihatku, dia menutup kembali genteng lantas pergi menghilang dalam gelap. Dia tidak jadi berkunjung kepada kalian, bukan?”

Dua orang gadis itu saling pandang. Keduanya merasa yakin bahwa yang dilihat Cia Song itu pastilah Souw Thian Liong yang kemudian berhasil memasuki kamar mereka, menotok mereka sehingga mereka tak berdaya lalu melakukan kekejian terkutuk terhadap mereka.

“Eh, Kalian kenapa...? Sungguh mengherankan, kalian begini pucat dan... mata kalian itu. Apakah kalian habis menangis? Apakah yang telah terjadi, Lan-moi dan Yin-moi?”

Melihat dua orang gadis itu nampak kebingungan dan seperti hendak menangis lagi, Cia Song segera berkata, “Mari kita masuk saja dan bicara di dalam.”

Dua orang gadis yang juga khawatir kalau ada orang lain melihat keadaan mereka itu pun tidak membantah lantas memasuki kamar Cia Song. Kini mereka duduk di sekeliling meja dan kembali Cia Song bertanya,

“Sebetulnya apakah yang telah terjadi? Kalian tampak begitu bingung, wajah kalian pucat, dan terlihat jelas bahwa kalian habis menangis. Ada apakah?”

Sekarang dua orang gadis itu tidak dapat lagi menahan tangis mereka. Mereka menangis sesenggukan, namun menahan agar tidak bersuara. Kim Lan mengeluarkan lipatan kertas lalu menyerahkannya kepada Cia Song tanpa berkata-kata.

Cia Song membaca tulisan di surat itu kemudian alisnya berkerut.

“Jahanam busuk! Berani dia menghina kalian dengan mengirim surat ini kepada kalian?” kata Cia Song dengan nada suara marah sekali.

“Bukan hanya itu, twako,” Ai Yin berkata sambil menangis. “Lebih celaka lagi...”

“Apa maksudmu, Yin-moi? Apa yang terjadi?” tanya Cia Song.

“Dia... dia memasuki kamar kami dari jendela…. dan... dan dia telah memperkosa kami...”

Cia Song melompat bangun. “Apa…?! Dan kalian tidak melawan?”

“Bagaimana kami dapat melawan? Dia telah lebih dulu menotok kami sehingga kami tidak mampu melawan, tidak mampu berteriak...,” kata Kim Lan.

“Dan surat ini?” tanya Cia Song.

“Dia meninggalkan surat di atas meja, ditusuk dengan pisau ini,” kata Kim Lan, kemudian dia mengeluarkan pisau runcing yang disimpannya. Cia Song mengamati pisau itu.

“Hemm, kalian sempat melihat dia?”

“Dia memadamkan lilin sehingga keadaan di dalam kamar menjadi gelap, karena itu kami hanya dapat melihatnya secara samar-samar saja,” kata Ai Yin.

“Bagaimana kalian dapat yakin bahwa dia adalah Souw Thian Liong?” desak Cia Song.

“Kami yakin sekali dia adalah jahanam Souw Thian Liong. Bahkan dia mengaku sendiri,” kata Kim Lan gemas.

“Mengaku? Bagaimana dia mengaku?” kejar Cia Song.

“Aku mendengar betul. Dia telah membisikkan kalimat ‘Kalian ingin mengenal Souw Thian Liong?’. Begitulah bisikannya, kemudian dia tertawa. Iblis jahanam terkutuk itu. Aku harus membunuhnya!” kata pula Kim Lan penuh dendam.

“Keparat busuk! Alangkah keji dan jahatnya dia! Ahh, kalau saja aku tahu dia begitu jahat! Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya Cia Song.

“Kami akan laporkan penghinaan ini kepada suhu dan subo di Kun-lun-pai. Penghinaan ini bukan hanya urusan pribadi, melainkan sudah menghina Kun-lun-pai pula!” kata Ai Yin.

“Itu benar sekali! Aku pun akan melaporkan kejahatan Souw Thian Liong ini kepada suhu di Siauw-lim-pai. Bagaimana pun juga dia sudah diakui sebagai murid Siauw-lim-pai, maka berarti dia telah mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai. Jangan khawatir, kelak aku yang akan menjadi saksi tentang kejahatannya itu, Lan-moi dan Yin-moi!” kata Cia Song penuh semangat.

“Terima kasih, Cia-twako. Dengan bukti surat ini dan kesaksian kami berdua, dibantu pula dengan kesaksianmu, maka semua orang tentu akan percaya. Jahanam busuk itu harus membayar kejahatannya!” kata Kim Lan.

“Kalau begitu, sebaiknya sekarang klta saling berpisah dahulu, Lan-moi dan Yin-moi. Aku hendak pergi melaporkan kejahatan Souw Thian Liong ke Siauw-lim-pai, sedangkan kalian kembali ke Kun-lun-pai untuk melaporkan kepada para guru kalian,” kata Cia Song.

Dua orang gadis itu menerima baik usul ini, maka pada pagi hari itu juga mereka saling berpisah. Kim Lan dan Ai Yin melakukan perjalanan ke Kun-lun-pai. Mereka menanggung derita batin yang sangat hebat, dan gairah hidup mereka hanya terdorong oleh keinginan membalas dendam kepada Souw Thian Liong…..

********************

Cia Song memasuki kota Ceng-goan yang merupakan kota besar kedua setelah kota raja Peking di sebelah utaranya. Tanpa ragu-ragu dia lalu memasuki halaman sebuah gedung besar yang berada di ujung barat kota.

Dua orang prajurit Kin keluar dari gardu penjagaan kemudian menghadangnya. Cia Song tersenyum, dari saku bajunya dia mengeluarkan sebuah kartu merah lalu memperlihatkan kepada mereka.

Dua orang prajurit itu memberi hormat, lalu mempersilakan Cia Song masuk ke ruangan depan gedung besar itu. Seorang prajurit lain menyambutnya, dan sesudah melihat kartu merah yang diperlihatkan Cia Song, prajurit itu segera mengantarkan Cia Song memasuki sebuah ruangan tamu di sebelah kanan depan gedung itu. Sesudah pemuda ini masuk ke dalam ruangan tamu, barulah prajurit itu pergi melapor ke sebelah dalam gedung.

Cia Song memasuki ruangan tamu yang luas dan mewah sekali. Dia memandang kagum kepada hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan tulisan bersajak. Tidak lama kemudian dua orang muncul dari pintu sebelah dalam.

Cia Song cepat memutar tubuh. Sesudah berhadapan dengan mereka, dia cepat memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam sambil merangkap kedua tangannya di depan dada kepada salah seorang di antara mereka yang mengenakan pakaian sebagai seorang bangsawan tinggi bangsa Kin.

“Sebelumnya hamba mohon beribu ampun karena berani datang menghadap ke sini tanpa paduka panggil sehingga mengganggu waktu paduka yang amat berharga, Pangeran.”

Laki-laki berpakaian bangsawan tinggi itu bertubuh tinggi kurus. Pakaiannya amat mewah, usianya sekitar lima puluh tahun, wajahnya tampan. Senyumnya yang khas dan pandang matanya membayangkan kecerdikan dan kelicikan. Jenggotnya panjang, tetapi kumisnya dicukur pendek. Jari-jari tangannya berkuku panjang namun tampak terpelihara.

Pria ini adalah Pangeran Hiu Kit Bong, kakak dari kaisar Kerajaan Kin yang berkedudukan tinggi. Sebagai kakak tiri kaisar yang terlahir dari salah satu ibu selir, dia diangkat menjadi Menteri Kebudayaan dan juga Penasehat kaisar. Gedung di kota Ceng-goan merupakan rumah peristirahatannya, dan Pangeran Hiu Kit Bong sering kali beristirahat di gedungnya itu, meninggalkan kota raja yang bising di mana dia selalu sibuk dengan tugas-tugasnya.

Ada pun orang kedua yang muncul bersamanya adalah seorang lelaki yang mengenakan pakaian sebagai seorang panglima perang. Pria ini berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah, tampak bertubuh kuat.

“Ahh, Cia-sicu (orang gagah Cia), selamat datang. Kami gembira menerima kunjunganmu. Silakan duduk, sicu!” Pangeran Hiu Kit Bong berkata dengan nada ramah. Mereka bertiga lalu duduk mengelilingi sebuah meja besar.

“Cia-sicu, perkenalkan terlebih dahulu. Ini adalah panglima Kiat Kon seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Dan Kiat-ciangkun, inilah sicu Cia Song, orang kepercayaan yang menjadi utusan rahasia Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung Selatan.” Pangeran itu memperkenalkan.

Cia Song cepat bangkit berdiri, lantas memberi hormat kepada panglima tinggi besar itu. “Terimalah hormat saya, ciangkun. Sudah lama saya mendengar dan mengagumi nama besar ciangkun!”

Jenderal tinggi besar itu tersenyum, senang melihat sikap Cia Song yang begitu ramah. “Ha-ha-ha-ha, terima kasih, Cia-sicu. Aku pun sudah banyak mendengar tentang jasamu. Silakan duduk!”

Cia Song duduk kembali. Tampak seorang pelayan masuk membawa minuman sehingga percakapan mereka terhenti. Setelah pelayan pergi, Pangeran Hiu Kit Bong baru bertanya kepada Cia Song.

“Cia-sicu, kabar apa yang kau bawa dari selatan? Engkau datang berkunjung secara tiba-tiba begini, tentu engkau membawa berita yang sangat penting.”

Cia Song yang menjadi murid yang disayang oleh Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, yang dikenal sebagai seorang pendekar Siauw-lim-pai itu, ternyata memiliki peran ganda dalam hidupnya. Di satu pihak, umum mengenalnya sebagai seorang pendekar Siauw-lim-pai yang suka membela kebenaran dan keadilan, sebagai murid Hui Sian Hwesio. Namun di lain pihak, secara rahasia dan sama sekali tidak diketahui, bahkan tak pernah disangka oleh para golongan bersih, diam-diam Cia Song telah berguru kepada Ali Ahmed, seorang datuk bangsa Hui yang berasal dari Mongolia Dalam.

Dengan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari datuk bangsa Hui itu, yaitu ilmu silat dan sihir, Cia Song pun menjadi semakin lihai. Akan tetapi dia sangat cerdik. Dia tidak pernah menonjolkan atau memperlihatkan ilmu-ilmu asing itu.

Dia sangat pandai memasukkan tenaga-tenaga yang dahsyat dari ilmu barunya ke dalam ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah dikuasainya, pandai menggabungkan ilmu-ilmu dari Ali Ahmed dengan ilmu silatnya sendiri sehingga tidak kentara bahwa dia menggunakan ilmu yang asing. Dan mulailah dia dikenalkan oleh Ali Ahmed kepada Pangeran Hiu Kit Bong.

Bergaul dengan orang-orang yang selalu menjadi hamba nafsu, orang-orang yang hanya mengejar kenikmatan serta kesenangan daging dan dunia, langsung menyeret Cia Song ke lembah hitam. Dia sudah mengesampingkan pelajaran tentang kebajikan yang dulu dia pelajari dari Hui Sian Hwesio dan mulailah dia menjadi hamba nafsunya, sering melakukan perbuatan-perbuatan yang sesat.

Bahkan di dalam pergaulan itu dia kemudian diperkenalkan kepada Perdana Menteri Chin Kui yang bersekutu dengan Kerajaan Kin, yang telah mempengaruhi Kaisar Sung supaya berbaik dengan Kerajaan Kin, bahkan Kaisar Sung tidak segan-segan mengirimkan upeti sebagai tanda damai dengan Kerajaan penjajah itu!

Sebentar saja Cia Song sudah menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui dan menjadi utusan rahasia. Kecuali para sekutunya, tak ada yang tahu bahwa Cia Song telah menjadi antek dari Perdana Menteri Chin Kui yang sudah mempengaruhi dan menguasai kaisar Sung itu!

Sekarang sudah terjadi perubahan besar dalam hubungan gelap antara Perdana Menteri Chin Kui dan Kaisar Kerajaan Kin. Karena Kaisar Kerajaan Kin mulai tak percaya kepada Perdana Menteri Chin Kui, maka diam-diam timbul kerenggangan. Dalam keadaan seperti itu, maka terjalinlah persekutuan antara Perdana Menteri Chin Kui dengan Pangeran Hiu Kit Bong.

Sudah sejak lama pangeran Hiu Kit Bong merencanakan hendak menggulingkan Kaisar Kin yang masih merupakan adik tirinya dan menduduki tahta kerajaan Kin sendiri! Untuk itu dia sudah menghimpun tenaga di kota raja Peking, bersekutu dengan beberapa orang perwira yang dipimpin oleh Jenderal Kiat Kon.

Jenderal ini hanya memperoleh kedudukan yang terendah di antara jajaran para panglima. Karena inilah maka dia pun tergiur oleh bujukan Pangeran Hiu Kit Bong yang menjanjikan kedudukan Panglima tertinggi kepadanya apa bila usaha mereka merebut tahta kerajaan berhasil. Bahkan Pangeran Hiu Kit Bong mengadakan persekutuan gelap dengan Perdana Menteri Chin Kui dari kerajaan Sung Selatan melalui Cia Song yang lebih dulu mengenal Pangeran Hiu Kit Bong.

Mendengar pertanyaan dari Pangeran Hiu Kit Bong tadi, Cia Song mengangguk-angguk. “Berita dari selatan yang hamba bawa kurang begitu menggembirakan, Pangeran. Saat ini banyak para pendekar mulai memperlihatkan sikap menentang Perdana Menteri Chin Kui secara berterang. Semua ini sebenarnya disebabkan kekeliruan Perdana Menteri sendiri yang dulu terlalu tergesa-gesa mengusahakan pembunuhan terhadap Jenderal Gak Hui. Akibatnya, para pendekar dan juga banyak pejabat tinggi yang menghormati dan merasa kagum terhadap Jenderal Gak Hui, kini merasa sakit hati kepada Perdana Menteri Chin Kui. Hal ini bukan saja menyurutkan pengaruhnya, bahkan juga Sribaginda mulai berubah sikapnya terhadap Perdana Menteri.”

Mendengar laporan ini, Panglima Kiat Kon langsung berkata dengan suaranya yang besar parau. “Ahh, itu mudah saja! Kenapa pusing-pusing? Bukankah Perdana Menteri Chin Kui mempunyai banyak jagoan yang amat lihai? Suruh saja para jagoannya itu bertindak dan membunuhi mereka yang menentangnya. Habis perkara!”

“Hemm, tidak begitu mudah, ciangkun. Di antara para pendekar itu terdapat banyak orang yang sangat lihai pula,” kata Cia Song.

“Ah, memang repot menghadapi ahli-ahli silat petualang itu!” kata Pangeran Hiu Kit Bong. “Di sini kami sendiri dibuat pusing oleh seorang puteri yang pandai ilmu silat. Ilmu silatnya tinggi dan puteri itu benar-benar merupakan batu sandungan bagi kami. Kalau dia berada dekat dengan ayahnya, yaitu Sribaginda, maka sukarlah untuk mengganggu Sribaginda.”

Diam-diam Cia Song menjadi heran. Seorang puteri raja Kin memiliki ilmu silat tinggi?

“Siapakah puteri itu, Pangeran? Hamba menjadi tertarik sekali tiba-tiba mendengar bahwa ada puteri Sribaginda Raja Kin yang ilmu silatnya amat lihai.”

“Namanya Puteri Moguhai. Kami rasa nama itu tak ada artinya dan tidak terkenal bagimu. Akan tetapi ada julukannya yang lain dan mungkin saja engkau pernah mendengar nama julukan itu. Puteri Moguhai adalah Pek Hong Nio-cu. Pernahkah engkau mendengar nama itu?”

“Ohhh...!” Cia Song terkejut. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Pek Hong Nio-cu yang pernah dilihatnya itu adalah Puteri Moguhai, puteri Raja Kin! “Jadi Pek Hong Nio-cu itu Puteri Moguhai, puteri Sribaginda Kerajaan Kin?”

“Nah, ternyata engkau mengenalnya, Cia-sicu. Gadis itu sungguh membuat kami pusing, bahkan pernah menghajar beberapa orang pejabat yang menjadi pembantu-pembantuku. Dia tidak takut kepada siapa pun dan ini tidak aneh karena dia memegang pedang emas dari Kaisar sebagai tanda kekuasaan. Tak ada pejabat yang berani menentangnya karena sebagai pemilik pedang emas, berarti dia mewakili kehadiran kaisar sendiri. Beberapa kali dia memperlihatkan sikap tidak suka dan menentangku. Jika gadis itu tidak dibinasakan, kelak dia akan menjadi penghalang besar bagi gerakan kita bersama.”

“Ahh, hamba tahu di mana adanya Pek Hong Nio-cu itu, Pangeran! Belum lama ini hamba berjumpa dengannya. Dia sedang melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang hamba kenal. Mereka sedang menuju ke barat, tetapi hamba bertemu dengan mereka di kota Kiang-cu.”

“Hemm, menuju ke barat. Ahh, tidak salah lagi. Puteri Moguhai tentu akan berkunjung ke perbatasan Sin-kiang di mana adik tiriku, Pangeran Kuang, menjadi komandan pasukan yang menjaga di tapal batas barat. Wah, hal ini harus dicegah! Moguhai tentu mempunyai maksud tertentu hendak mengunjungi Pangeran Kuang dan ini amat berbahaya. Pangeran Kuang merupakan orang yang sangat setia kepada Sribaginda. Cia-sicu, maukah engkau membantu kami?”

“Tentu saja, Pangeran. Bukankah selama ini hamba juga membantu paduka dan Perdana Menteri Chin Kui?”

“Ya, kami menghargai semua bantuanmu, Cia-sicu. Akan tetapi permintaan bantuan kami kali ini amat istimewa, penting dan juga berat. Maukah engkau mengejar dan membunuh Puteri Moguhai yang berarti akan melancarkan jalannya semua rencana kami?”

Cia Song terkejut bukan main. Kalau dia disuruh membunuh orang lain, tentu akan segera dia sanggupi dan baginya merupakan pekerjaan yang tak terlalu sulit untuk dilaksanakan. Akan tetapi Pek Hong Nio-cu? Dia sama sekali belum tahu sampai di mana kelihaian dara yang kecantikannya pernah membuat dia tergila-gila begitu melihatnya itu.

Akan tetapi, ketika Pek Hong Nio-cu berada di atas genteng penginapan, ketika gadis itu melemparkan surat dan pisau ke atas meja Kim Lan dan Ai Yin, dia melihat gerakan Pek Hong Nio-cu yang begitu cepat dan ringan ketika melarikan diri. Harus diakui bahwa gadis bangsawan itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sekali dan mungkin saja ilmu silatnya juga sangat lihai.

“Bagaimana, Cia-sicu? Sanggupkah engkau?” Pangeran Hiu Kit Bong mendesak.

Cia Song menghela napas panjang lalu menjawab, “Tugas itu berat sekali, pangeran.”

“Hemm, engkau hendak mengatakan bahwa engkau merasa jeri kepada Puteri Moguhai?” tanya pangeran itu.

“Sama sekali tidak, Pangeran. Mungkin ilmu kepandaiannya memang tinggi, tetapi hamba tidak takut padanya. Hanya saja hamba melihat bahwa sekarang Pek Hong Nio-cu tengah melakukan perjalanan bersama seorang pemuda. Pemuda inilah yang merupakan lawan yang amat berat karena hamba sudah mengenalnya dan tahu betapa tangguhnya dia.”

“Hemm, siapakah pemuda itu?” tanya Pangeran Hiu Kit Bong dengan alis dikerutkan.

“Namanya Souw Thian Liong, Pangeran. Dia adalah murid Tiong Lee Cin-jin.”

“Cia-sicu jangan takut. Kami pun tidak ingin engkau turun tangan seorang diri. Kami selalu melakukan sesuatu sesudah yakin bahwa kami pasti berhasil. Kami akan mempersiapkan sebuah pasukan khusus, pasukan istimewa terdiri dari dua losin orang yang dipimpin oleh lima orang jagoan kami yang lihai dan kemampuannya boleh diandalkan. Mereka bukan saja pandai ilmu silat dan sangat tangguh, akan tetapi juga merupakan ahli-ahli mengatur siasat pertempuran. Dengan bantuan mereka, engkau tidak perlu ragu dan khawatir. Pasti rencana kita berjalan dengan baik dan lancar.”

Cia Song sudah tahu benar betapa tinggi ilmu kepandaian Thian Liong. Bahkan Hui Sian Hwesio telah memberi pelajaran ilmu dari kitab Sam-jong Cin-keng, hal yang membuat dia merasa iri hati sekali. Walau pun dia belum mengukur sampai di mana tingkat kepandaian Pek Hong Nio-cu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa gadis itu pasti bukan lawan yang mudah dikalahkan. Maka dia akan menghadapi dua lawan yang benar-benar tangguh!

Oleh karena itu, agar merasa yakin dia harus menguji dulu sampai di mana kelihaian lima orang jagoan yang hendak diperbantukan padanya itu. Sedikitnya lima orang pembantu itu harus mampu menandinginya, barulah bantuan mereka dan dua losin prajurit pilihan akan ada artinya.

“Maaf, pangeran. Siapakah lima orang jagoan yang hendak diperbantukan kepada hamba itu? Hamba tetap merasa ragu sebelum menguji sampai di mana kemampuan mereka.”

Pangeran Hiu Kit Bong tidak marah, bahkan tersenyum. Kehati-hatian Cia Song itu justru menyenangkan dia karena ini berarti bahwa pemuda itu seorang yang teliti sehingga boleh diandalkan akan berhasil dalam melaksanakan tugasnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner