KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-33


“Mereka adalah bekas pengawal-pengawal pribadi Sribaginda sendiri, tetapi mereka telah diusir dari istana karena melakukan pelanggaran kesusilaan di istana. Kami menampung mereka dan ternyata mereka memiliki perasaan dendam kepada Sribaginda, maka dapat menjadi pembantu-pembantu yang sangat setia. Mereka adalah jagoan-jagoan yang telah memiliki banyak ilmu, bukan saja ilmu silat aliran utara, tetapi juga menguasai ilmu gulat dari Mongolia dan ilmu silat dari Jepang. Mudah saja untuk menguji mereka karena dapat segera dipanggil ke sini.” Setelah berkata demikian, Pangeran Hiu Kit Bong lalu mengutus seorang prajurit untuk memanggil lima orang jagoannya itu.

Sambil menunggu kedatangan lima orang jagoan itu, mereka bertiga bercakap-cakap dan mengatur siasat selanjutnya, bukan hanya untuk membunuh Pek Hong Nio-cu, melainkan juga untuk gerakan pemberontakan dan menggulingkan kedudukan Kaisar Kin.

Cia Song teringat akan kecantikan Pek Hong Nio-cu yang membuat dia tergila-gila hingga gairahnya bangkit, maka dia mengajukan usul kepada Pangeran Hiu Kit Bong. “Pangeran, menurut pendapat hamba, akan lebih baik apa bila Puteri Moguhai itu tidak dibunuh, tetapi ditawan saja.”

“Ehh? Kenapa begitu? Dia bisa menjadi batu sandungan bagiku, mengganggu kelancaran rencanaku. Tidak, dia harus dibunuh, Cia-sicu. Untuk membunuh puteri itulah kami minta bantuanmu!”

“Harap paduka pertimbangkan dulu usul hamba. Apa bila puteri itu dibunuh, paduka hanya mendapatkan satu keuntungan yang tidak begitu berharga. Akan tetapi kalau dia ditawan, berarti paduka memperoleh dua keuntungan, seperti sebatang pedang yang tajam kedua sisinya, satu kali bergerak mendapatkan dua hasil yang amat baik.”


“Hemm, apa maksudmu, sicu?”

“Begini, Pangeran. Hamba akan menawan Puteri Moguhai itu dan dengan tawanan yang sangat penting itu, paduka dapat menjadikan dia sebagai sandera kemudian paduka dapat mengancam Sribaginda supaya suka menyerahkan tahta kerajaan kepada paduka untuk ditukar dengan nyawa puteri Sribaginda. Dengan demikian paduka akan dapat mengambil alih singgasana tanpa banyak kesukaran lagi.”

Mendengar usul ini, Pangeran Hiu Kit Bong menjadi tertegun sejenak, lalu saling pandang dengan Panglima Kiat Kon yang merupakan sekutu utamanya dalam ambisinya merebut kekuasaan kerajaan Kin. Keduanya saling pandang kemudian mengangguk-angguk.

“Siasat itu sungguh hebat dan baik sekali, Pangeran!” kata Panglima Kiat Kon.

Pangeran Hiu Kit Bong juga mengangguk-angguk sambil tersenyum kepada Cia Song.

“Bagus, Cia-sicu, gagasanmu itu sangat cemerlang! Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu? Ha-ha-ha, tidak percuma Perdana Menteri Chin Kui mengangkatmu menjadi penghubung antara kami! Baik, siasatmu itu amat baik dan harus dilaksanakan begitu. Puteri Moguhai, keponakan tiriku itu, si cantik yang liar itu, jangan dibunuh, melainkan ditangkap saja lalu dijadikan sandera! Bagus sekali!”

“Akan tetapi, Pangeran. Biar pun gagasan itu bagus dan sudah sepatutnya dilaksanakan, namun tetap saja kita harus menyusun pasukan dengan kekuatan yang besar. Siapa tahu Sribaginda akan nekat dan tidak mau menyerahkan mahkota sehingga kita terpaksa harus menggunakan kekerasan, menyerbu istana dan untuk itu kita memerlukan pasukan yang amat kuat,” kata Panglima Kiat Kon. Pangeran Hiu Kit Bong mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka bercakap cakap dan berunding, mencari siasat-siasat terbaik.

Ada dua tujuan terpenting yang hendak dicapai oleh persekutuan antara Pangeran Hiu Kit Bong dengan Perdana Menteri Chin Kui. Pertama, mahkota kerajaan Kin harus terjatuh ke tangan Pangeran Hiu Kit Bong dan kedua, kedudukan Perdana Menteri Chin Kui haruslah diperkuat dengan menyingkirkan orang-orang yang menentang kekuasaannya sehingga dia dapat makin kuat mencengkeram Kaisar Sung dalam kekuasaannya. Dengan begitu maka Kerajaan Kin akan dapat tetap bersahabat dengan Kerajaan Sung Selatan.

Percakapan mereka terhenti ketika muncul lima orang memasuki ruangan itu. Lima orang itu segera memberi hormat kepada Pangeran Hiu Kit Bong dengan membungkuk dalam-dalam.

Pangeran Hiu Kit Bong tersenyum gembira menyambut mereka. “Ah, kalian telah datang? Duduklah!”

Dia segera mempersilakan mereka duduk dan lima orang itu lalu duduk di atas kursi-kursi yang sudah tersedia di depan pangeran itu. Cia Song memandang mereka dengan penuh perhatian. Pangeran Hiu Kit Bong kemudian memperkenalkan Cia Song kepada mereka.

“Nah, kalian berlima kenalkanlah. Ini adalah pendekar besar Cia Song yang menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung!”

Lima orang itu agaknya sudah pernah mendengar nama Cia Song, maka mereka segera bangkit lalu memberi hormat kepada Cia Song, juga dengan membungkuk dalam-dalam. Cia Song membalas dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

Dia pernah melihat cara penghormatan membungkuk seperti itu, yakni kebiasaan orang-orang Jepang. Agaknya lima orang ini pernah berguru kepada orang Jepang, pikirnya dan perkiraan ini agaknya tidak salah karena dia pun dapat melihat betapa di pinggang mereka berlima itu masing-masing tergantung sebatang pedang samurai, yaitu pedang pendekar bangsa Jepang yang bentuknya agak melengkung dan gagangnya agak panjang sehingga dapat dipegang dengan kedua tangan dan hanya bermata sebelah seperti golok.

Setelah Pangeran Hiu Kit Bong memperkenalkan lima orang jagoannya kepada Cia Song, pemuda ini lalu memperhatikan mereka. Orang pertama bernama Con Gu, berusia empat puluh lima tahun dan bertubuh tinggi kurus. Mukanya panjang dan berwarna kuning sekali. Orang kedua bernama Koi Cu, usianya empat puluh tiga tahun, bertubuh pendek gendut dan kepalanya botak.

Orang ketiga bernama Jiu Hon. Dia berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok sehingga nampak menyeramkan. Orang keempat bernama Kian Su, berusia tiga puluh lima tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan. Ada pun orang kelima bernama Hayasi, berusia tiga puluh tahun, tubuhnya pendek dengan tangan dan kaki yang juga pendek akan tetapi kokoh berotot.

Mereka berlima memiliki mata yang tampak cerdik, bersinar tajam dan dari sikap mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh. Mereka berlima memiliki sebatang pedang samurai. Koi Cu dan Hayasi yang bertubuh pendek membawa pedang samurai mereka di punggung, akan tetapi tiga orang yang lainnya menggantung pedang samurai mereka di pinggang.

“Pangeran memanggil kami menghadap, ada tugas apakah yang harus kami laksanakan, Pangeran?” tanya Con Gu, orang tertua yang agaknya juga menjadi juru bicara mereka berlima.

“Ada tugas penting sekali untuk kalian berlima. Sebetulnya tugas itu telah kami serahkan kepada Cia-sicu, namun karena tugas itu sangat berbahaya dan akan menghadapi lawan yang amat kuat, maka kami juga memerlukan bantuanmu yang akan memimpin dua losin prajurit pilihan untuk membantu tugas Cia-sicu,” kata Pangeran Hiu Kit Bong.

“Bolehkah kami mengetahui, tugas apa yang harus kami lakukan, Pangeran?” tanya Con Gu.

“Kalian berlima bersama pasukan yang kalian pimpin itu harus membantu Cia-sicu untuk menangkap seseorang.”

“Menangkap seorang saja mengapa harus memakai begitu banyak orang?” tanya Hayasi, dari logat bicaranya jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang berbangsa Jepang.

“Kalian harus menangkap Puteri Moguhai yang di luar istana terkenal sebagai Pek Hong Nio-cu!” kata Pangeran Hiu Kit Bong.

Lima orang itu terkejut bukan main.

“Ohh...! Sang Puteri Moguhai...?” kata Con Gu, lalu dia mengangguk-angguk. “Pangeran, kami tahu bahwa Puteri Moguhai memang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan lihai. Memang harus hamba akui, kalau kami berlima maju satu-satu agaknya masih akan sukarlah menangkapnya. Akan tetapi kalau kami maju berlima, agaknya sudah pasti kami akan dapat menangkapnya. Mengapa harus menyusahkan Cia-sicu dan bahkan ditambah dua losin prajurit lagi?”

“Wah, tidak semudah itu, Con Gu!” kata Pangeran Hiu Kit Bong. “Ketahuilah bahwa selain Puteri Moguhai sendiri adalah seorang yang tangguh, sekarang dia sedang ditemani oleh seorang pemuda yang namanya... ehh, siapa tadi namanya, Cia-sicu?”

“Namanya Souw Thian Liong, Pangeran.”

“Ya, temannya itu bernama Souw Thian Liong dan menurut keterangan Cia-sicu, pemuda itu sangat lihai karena dia adalah murid Tiong Lee Cin-jin.”

Lima orang jagoan itu saling bertukar pandang dan dari sinar mata mereka Cia Song tahu bahwa mereka amat terkejut dan merasa gentar mendengar nama Tiong Lee Cin-jin yang dikenal sebagai seorang manusia setengah dewa itu!

“Kami akan membantu Cia-sicu sekuat tenaga kami!” kata Con Gu.

“Karena akan menghadapi pekerjaan penting, Cia-sicu masih ragu apakah bantuan kalian berlima berikut dua losin prajurit pilihan sudah cukup. Oleh karena itu, untuk menyakinkan hatinya, dia minta agar diperbolehkan menguji ketangguhan kalian berlima.”

Mendengar ucapan pangeran ini, kelima orang jagoan itu segera memandang kepada Cia Song dengan sinar mata tajam.

“Bagaimana, sobat-sobat? Apakah kalian tidak keberatan kalau aku hendak menguji ilmu silat kalian?” tanya Cia Song.

Lima orang itu menggelengkan kepala dan Con Gu berkata sambil tersenyum. “Tentu saja tidak, Cia-sicu. Kami siap untuk diuji sewaktu-waktu.”

Pangeran Hiu Kit Bong tertawa. “Ha-ha-ha, bagus. Waktunya sekarang saja dan agaknya ruangan ini cukup luas untuk dipakai sebagai tempat ujian. Bagaimana pendapatmu, Cia-sicu?”

Cia Song bangkit berdiri. “Memang cukup luas, Pangeran. Marilah, sobat-sobat, kita mulai saja.” Dia lalu melangkah ke tengah ruangan yang luas.

Con Gu juga bangkit dan sesudah membungkuk di depan sang pangeran, dia pun segera melangkah lebar menghampiri Cia Song. Sesudah berhadapan dia pun berkata, “Cia-sicu, kami telah siap. Biarlah saya yang maju pertama untuk menerima ujian.”

“Bukan satu-satu, maksudku kalian berlima maju berbareng. Aku ingin melihat apakah jika kalian maju berbareng cukup kuat untuk melawan musuh yang tangguh.”

“Kami berlima maju berbareng? Mengeroyokmu, sicu? Ah, jangan bergurau!” kata Con Gu sambil tertawa. Empat orang rekannya juga tertawa, meski pun hanya lirih karena mereka berada di hadapan Pangeran.

“Aku sama sekali tidak bergurau. Ketahuilah bahwa lawan-lawan yang akan kita hadapi itu benar-benar tangguh dan lihai sekali, karena itu aku harus yakin bahwa kalian cukup kuat untuk menandingi seorang di antara mereka. Nah, marilah, kalian berlima maju berbareng dan jangan sungkan mengeroyok aku, keluarkan seluruh kemampuan kalian supaya aku dapat merasa yakin bahwa tugas kita akan dapat terlaksana dengan hasil baik.”

“Hayolah, kalian berlima jangan ragu. Turuti perintah Cia-sicu. Dalam tugas ini dia adalah pemimpin kalian!” kata Pangeran Hiu Kit Bong.

Mendengar perintah pangeran, tentu saja lima orang itu tidak berani membantah lagi dan empat orang jagoan yang lain segera bangkit berdiri lalu menghampiri Cia Song. Mereka berlima berdiri berjajar menghadapi Cia Song dengan sikap setengah ragu-ragu.

Mereka adalah jagoan-jagoan pilihan, bahkan pernah menjadi pengawal pribadi Raja Kin yang jarang menemui tanding. Bagaimana sekarang mereka berlima disuruh mengeroyok seorang lawan saja? Bagi mereka hal ini sangat memalukan. Andai kata mereka menang sekali pun, tidak dapat dibanggakan. Akan tetapi karena pangeran yang memerintah dan Cia Song juga hanya bermaksud untuk menguji, maka mereka berlima telah bersiap.

Melihat mereka berdiri dengan kedudukan berjajar, bukan mengepung seperti lima orang yang hendak mengeroyok, Cia Song maklum bahwa mereka masih merasa sungkan. Dan dia pun maklum akan perasaan mereka. Mereka adalah jagoan-jagoan istana Kin dan usia mereka juga lebih tua dari pada dia, maka tentu saja mereka sungkan untuk melakukan pengeroyokan.

“Sekarang begini saja,” katanya, “agar kalian tidak merasa sungkan, biarlah kalau sampai pakaianku robek sedikit akibat terkena ujung pedang kalian, maka kuanggap kalian sudah lulus ujian dan dapat mengalahkan aku. Nah, sekarang aku hendak bertanya dan kuharap kalian menjawab dengan sejujurnya. Aku ingin agar kalian mengeluarkan ilmu kalian yang paling ampuh. Kalau kalian maju berlima, ilmu pedang apakah yang kalian anggap paling ampuh untuk kalian pergunakan?”

“Cia-sicu, sebenarnya kami berlima merasa malu maju berbareng untuk mengeroyokmu. Akan tetapi karena Pangeran telah memerintahkan dan sicu hanya hendak menguji, maka apa boleh buat, kami akan menaati perintah. Kami masing-masing memiliki keistimewaan sendiri, akan tetapi kalau kami maju bersama, kami telah menciptakan permainan pedang gabungan yang kami namakan Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima Unsur). Dengan memainkan Ngo-heng Kiam tin, kami berlima belum pernah terkalahkan.”

“Bagus! Aku menghendaki agar kalian berlima mengeroyok aku dengan Ngo heng Kiam-tin itu dan jangan sungkan. Serang aku sekuat kalian dan kalahkan aku secepat mungkin. Aku percaya bahwa ahli-ahli pedang seperti kalian tentu tidak akan salah tangan, tak akan sampai melukai tubuhku, cukup dengan merobek pakaianku saja.” Cia Song bicara sambil tersenyum ramah, sama sekali tidak terkandung nada atau sikap mengejek.

“Baiklah, Cia-sicu. Maafkan kami,” kata Con Gu.

Dia memandang kepada empat orang rekannya dan mereka berlima lalu menggerakkan tangan kanan. Tampak kilatan lima sinar ketika mereka sudah mencabut pedang samurai mereka masing masing.

Lima batang pedang panjang yang agak melengkung itu berkilauan dan ini menunjukkan bahwa pedang-pedang itu sangat tajam. Ketika dicabut dengan amat cepatnya, terdengar suara berdesing yang menandakan bahwa lima orang itu memiliki tenaga yang amat kuat. Sesudah mencabut pedang samurai masing-masing, lima orang itu lalu mulai melangkah dengan geseran-geseran kaki dan mereka telah mengepung Cia Song dari lima penjuru.

“Bersiaplah, Cia-sicu!” kata Con Gu yang memberi kesempatan kepada Cia Song untuk mengeluarkan senjatanya.

Dari gerakan mereka saja Cia Song pun maklum bahwa akan sukar menandingi mereka berlima kalau dia bertangan kosong. Maka dia pun segera mencabut pedang yang berada di punggungnya, sebatang pedang beronce merah.

Dia mencabutnya dengan perlahan, lalu melintangkan pedangnya di depan dada. Biar pun dia tidak memasang kuda-kuda secara khusus, akan tetapi Cia Song bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa lima orang lawannya ini benar-benar tangguh. Dia harus menjaga agar dia jangan sampai kalah atau kalau dikalahkan juga dia harus mampu melakukan perlawanan yang cukup kuat dan seimbang.

Setelah melihat Cia Song mencabut pedang, Con Gu mewakili rekan-rekannya bertanya, “Cia-sicu, apakah kami sudah boleh mulai menyerang?”

“Boleh, silakan, aku sudah siap!” kata Cia Song.

“Sambut serangan Unsur Swee (Air)!” bentak Con Gu.

Dia lalu menyerang dari depan Cia Song. Pedang samurainya berkelebat menyambar dan gerakannya datang bergelombang bagaikan ombak sehingga cocok sekali kalau tadi Con Gu memperkenalkan dirinya sebagai pemain Unsur Air dalam Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima Unsur) itu. Cia Song sengaja menggunakan pedangnya menangkis dengan pengerahan tenaga karena dia ingin mengukur tenaga Con Gu melalui serangan pedang samurainya itu.

“Tranggg…!”

Pedang samurai itu tergetar dan Con Gu melangkah ke belakang lima kali. Cia Song juga merasakan pedangnya tergetar, dan tahulah dia bahwa tenaga Con Gu cukup kuat walau pun masih jauh kalau dibandingkan dengan sin-kang (tenaga sakti) yang dikuasainya.

“Cia-sicu, sambutlah serangan Unsur Hwe (Api)!” teriak Koi Cu yang berkepala botak dan bertubuh pendek gendut dari sebelah kanan Cia Song. Pedang Samurai yang terlampau panjang bagi tubuh yang sangat pendek itu menyambar lurus, dari bawah ke atas seperti berkobarnya api dan gerakannya dahsyat sekali.

Cia Song sudah mengukur kekuatan Con Gu dan dia menduga bahwa tentu tenaga orang pertama itulah yang paling kuat di antara mereka berlima. Maka dia menghadapi serangan Unsur Api ini dengan mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya. Dia segera mengelak sehingga pedang Koi Cu menyambar di samping tubuhnya.

“Sekarang sambutlah serangan Unsur Bhok (Kayu)!” teriak Jiu Hon yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok.

Orang ketiga ini menyerang dari arah belakang, maka Cia Song memutar tubuhnya sambil menggeser kakinya dan melihat pedang samurai Jiu Hon menusuk ke arah lambungnya. Cia Song cepat memiringkan tubuhnya sambil menggunakan pedangnya untuk menangkis dari samping sehingga serangan Jiu Hon gagal dan pedang samurainya terpental.

“Awas, serangan Unsur Kim (emas, logam) datang!” bentak Kian Su, orang keempat yang berwajah tampan. Pedangnya meluncur dan menyerang dari sebelah kiri tubuh Cia Song. Kembali Cia Song mengelak dengan mengandalkan ginkang-nya yang bertingkat tinggi.

“Sambut pula serangan Unsur Tho (Tanah)!” bentak Hayasi.

Orang yang paling pendek ini sudah turut menyerang dan pedangnya berputar menyerang ke arah kedua kaki Cia Song. Serangannya tak kalah dahsyat dibandingkan empat orang rekannya. Dengan tenang tetapi cepat Cia Song meloncat untuk menghindarkan serangan itu.

Setelah lima orang itu masing-masing mengeluarkan jurus serangannya secara bergiliran dan semua serangan itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Cia Song, mereka berlima maklum bahwa Cia Song benar-benar lihai sehingga mereka tidak merasa ragu lagi untuk mengeroyok. Con Gu cepat memberi isyarat kepada empat orang rekannya dan mulailah mereka berlima menyerang dari lima penjuru dengan berbareng!

Serangan mereka datang bergelombang dan bertubi-tubi. Hebatnya, serangan mereka itu saling menunjang, saling melengkapi sesuai dengan sifat ngo-heng (lima unsur) sehingga serangan beruntun yang saling menunjang dan saling melengkapi tapi yang sifatnya juga saling berlawanan itu menjadi membingungkan, aneh dan dahsyat bukan main!

Diam-diam Cia Song terkejut. Dia tahu bahwa kalau mereka itu maju satu demi satu maka tak begitu sukar baginya untuk mengalahkan mereka. Akan tetapi, dengan maju bersama membentuk Barisan Pedang Lima Unsur, mereka sungguh merupakan lawan yang sangat tangguh dan berbahaya.

Supaya dapat melakukan perlawanan yang kuat, Cia Song segera memainkan ilmu silat gabungan, yaitu pada dasarnya merupakan ilmu silat pedang aliran Siauw-lim-pai namun dia memasukkan unsur ilmu yang dipelajarinya dari Ali Ahmed, datuk suku bangsa Hui itu. Ilmu pedangnya seketika menjadi aneh tetapi kuat sekali.

Sekarang tubuh Cia Song lenyap dibungkus sinar pedangnya yang bergulung-gulung dan berkelebatan, bukan hanya sinar pedang itu menangkis lima batang pedang samurai yang mengancamnya dari lima jurusan yang kadang berputaran, tapi juga mengirim serangan balasan yang tgaak kalah dahsyatnya.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner