KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-34


Pangeran Hiu Kit Bong hanya menguasai ilmu silat yang rendah, oleh karena itu dia tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan. Gerakan enam orang itu terlampau cepat baginya sehingga pandang matanya menjadi kabur. Kilatan sinar pedang yang mencuat ke sana-sini, kadang bergulung-gulung, diselingi dengan suara berdentangan nyaring membuat dia hanya dapat memandang kagum.

“Bagaimana pendapatmu, ciangkun?” Dia bertanya kepada Panglima Kiat Kon yang juga menonton pertandingan itu dengan tertarik sekali.

Tingkat kepandaian silat panglima ini sudah cukup tinggi, seimbang apa bila dibandingkan dengan tingkat masing-masing anggota Ngo-heng Kiam-tin itu. Maka, dia dapat mengikuti pertandingan itu dan menjadi kagum bukan main melihat betapa Cia Song selalu mampu mempertahankan diri bahkan mengimbangi serangan gabungan yang sangat dahsyat itu. Dia sendiri akan kalah dalam waktu pendek kalau harus menandingi pengeroyokan Ngo-heng Kiam-tin itu.

“Hebat, Pangeran. Ngo-heng Kiam-tin memang dahsyat, akan tetapi kepandaian Cia-sicu juga benar-benar luar biasa sehingga dia dapat mengimbangi pengeroyokan itu,” katanya sambil mengangguk-angguk dengan hati kagum.

Pertandingan itu memang hebat bukan main. Semua serangan dari barisan pedang lima orang itu dapat dihindarkan dengan baik oleh Cia Song, sungguh pun serangan itu datang bergelombang dan bertubi-tubi.


Namun sebaliknya serangan balasan dari Cia Song juga selalu dapat ditangkis. Setiap Cia Song hendak mengandalkan kelebihan tenaganya, dia pun gagal karena yang menangkis pedangnya tentu sedikitnya dua orang, bahkan kadang ada tiga empat pedang sekaligus yang menyambut pedangnya sehingga kelebihan tenaganya diimbangi tenaga gabungan para pengeroyok. Sampai seratus jurus mereka bertanding dan belum tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Cia Song merasa sudah cukup menguji jagoan itu dan dia merasa girang. Ternyata Ngo-heng Kiam-tin memang tangguh dan boleh diandalkan. Dibantu lima orang seperti ini, apa lagi masih dikawal pula oleh dua losin prajurit pilihan, dia akan merasa kuat menghadapi Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong. Maka dia ingin menyudahi ujian itu.

Akan tetapi dasar dia mempunyai watak yang sombong, walau pun disembunyikan di balik sikapnya yang halus dan sopan, maka dia tidak akan merasa puas kalau tidak lebih dulu mengalahkan mereka agar dia mendapat kesan yang baik dan agar lima orang itu tunduk kepadanya sehingga dapat menjadi pembantu-pembantu yang taat kepadanya.

Diam-diam Cia Song mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan ilmu pukulan jarak jauh bercampur kekuatan sihir yang dipelajarinya dari Ali Ahmed.

“Hyaaaattt...! Ahhhh…!”

Tangan kirinya mendorong ke depan sambil tubuhnya berputar sehingga sasaran pukulan jarak jauh itu diarahkan kepada lima orang pengeroyok yang mengepungnya. Dari telapak tangan kirinya keluar asap hitam yang menyambar ke arah lima orang itu.

Terdengar teriakan-teriakan kaget kemudian kelima orang itu satu demi satu terhuyung ke belakang. Cia Song bergerak secepat kilat. Pedangnya menyambar-nyambar dan ketika dia melompat mundur ke belakang menjauhi mereka, lima orang itu melihat betapa ujung baju mereka sudah terbabat putus oleh sinar pedang Cia Song selagi mereka terhuyung tadi!

Lima orang itu membungkuk sampai dalam dan Con Gu mewakili para rekannya berkata, “Ilmu pedang Cia-sicu hebat bukan main! Kami mengaku kalah!”

Cia Song menyimpan kembali pedangnya dan berkata, “Ngo-heng Kiam-tin amat tangguh. Aku girang sekali mendapatkan pembantu seperti kalian berlima!”

Mendengar ini, Pangeran Hiu Kit Bong dan Panglima Kiat Kon bertepuk tangan.

“Kami sangat gembira bahwa mereka berlima lulus ujian, Cia-sicu. Bagaimana pendapat sicu? Apakah dengan ditemani mereka yang akan memimpin dua losin prajurit pilihan bisa dianggap cukup kuat?”

“Lebih dari cukup, Pangeran. Dengan bantuan mereka bersama dua losin prajurit pilihan, hamba yakin kami dapat menangkap Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong.”

“Bagus! Duduklah kalian berenam!” kata Pangeran Hiu Kit Bong. “Memang Puteri Moguhai jangan dibunuh, tetapi sebaliknya pemuda lihai yang menjadi temannya itu harus dibunuh karena dia dapat membahayakan kita.”

“Tidak, Pangeran. Souw Thian Liong juga akan hamba tangkap hidup-hidup karena harus mempertanggung jawabkan seluruh dosa-dosanya kepada Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Dia harus menerima hukumannya,” kata Cia Song.

“Hemm, apa sih yang telah dilakukannya? Ah, sudahlah, itu bukan urusan kami. Terserah kepadamu kalau engkau hendak menangkap pemuda itu, Cia-sicu. Yang terpenting bagi kami adalah menawan Puteri Moguhai agar dapat dijadikan sandera,” kata Pangeran Hiu Kit Bong.

Setelah mengadakan perundingan sampai matang dan membuat persiapan, berangkatlah Cia Song bersama lima orang Ngo-heng Kiam-tin, memimpin dua losin prajurit yang telah terlatih baik dan rata-rata pandai ilmu silat, melakukan pengejaran kepada Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong yang kini sedang melakukan perjalanan menuju ke barat. Mereka menunggang kuda-kuda pilihan sehingga dapat melakukan perjalanan cepat…..

********************

Thian Liong mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya. Setelah melakukan perjalanan dengan Pek Hong Nio-cu selama hampir satu bulan, dia mendapat kenyataan betapa perjalanan itu amat menggembirakan.

Pek Hong Nio-cu ternyata adalah teman seperjalanan yang sangat baik. Wataknya lincah gembira, pandai bicara dan di mana saja pendekar wanita yang sesungguhnya puteri raja ini memperlihatkan watak aslinya yang mengagumkan.

Dia sangat ramah terhadap rakyat jelata, murah hati dan siap menolong rakyat yang hidup sengsara, namun begitu ringan tangan dalam menghajar orang-orang yang mengandalkan kekerasan serta kekuasaannya untuk menindas rakyat. Terutama sekali dia sangat keras terhadap para pembesar kecil yang suka bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

Dan di mana saja, para pembesar itu langsung mati kutu dan ketakutan sesudah melihat pedang bengkok dari emas yang menjadi lambang kekuasaan Kaisar kerajaan Kin. Selain cantik jelita dan menarik hati, puteri raja ini juga gagah perkasa dan memiliki watak yang budiman.

Di lain pihak, diam-diam Pek Hong Nio-cu juga kagum bukan main terhadap Thian Liong. Pemuda itu selalu sopan dan penuh perhatian. Tidak pernah sedikit pun memperlihatkan watak mata keranjang, tidak pernah mencoba-coba untuk merayunya seperti yang banyak ditemuinya pada diri para pria jika bertemu dengannya. Sungguh seorang pemuda yang hebat, berjiwa pendekar dan juga pandai bicara dan suka berkelakar dengan sopan.

Seperti kita ketahui, ketika mereka berdua tiba di kota Kiang-cu dan bermalam di sebuah rumah penginapan, Cia Song menemui Thian Liong kemudian membujuk agar Thian Liong cepat-cepat meninggalkan kota Kiang-cu karena Kim Lan dan Ai Yin sedang mencarinya untuk memaksa Thian Liong menikahi Kim Lan atau kalau tidak mau, dua orang gadis itu hendak membunuhnya.

Setelah Cia Song pergi, Pek Hong Nio-cu lalu mendengar dari Thian Liong tentang gadis murid Kun-lun-pai yang hendak memaksa dia mengawini dengan alasan bahwa gadis itu telah bersumpah akan berjodoh dengan pria yang dapat mengalahkannya. Kalau dia tidak mau maka Thian Liong akan dibunuhnya! Mendengar ini, Pek Hong Nio-cu marah sekali.

Tanpa setahu Thian Liong, pada malam itu Pek Hong Nio-cu pergi mengunjungi rumah penginapan di mana Kim Lan dan Ai Yin bermalam. Dia mengirim surat celaannya dengan cara ditusukkan pada sebuah pisau yang kemudian disambitkan ke atas meja. Setelah itu dia pun cepat meninggalkan atap rumah penginapan karena dia melihat bayangan orang.

Pada keesokan harinya Thian Liong mengajaknya segera pergi meninggalkan kota Kiang-cu. Pemuda ini ingin menghindarkan diri dari kejaran dua orang gadis Kun-lun-pai itu. Pek Hong Nio-cu sendiri tidak pernah lagi bicara tentang dua orang gadis itu, juga tidak pernah menceritakan mengenai perbuatannya mengirim surat teguran yang isinya mencela murid wanita Kun-lun-pai sebagai wanita yang tak tahu malu karena hendak memaksa seorang pria untuk menjadi suaminya!

Matahari sudah naik tinggi dan udara cukup panas. Dua muda-mudi ini menjalankan kuda mereka perlahan-lahan, menyusuri sepanjang tepi Sungai Han, yaitu sungai yang menjadi cabang Sungai Yang-ce yang besar. Pemandangan alam di lembah sungai itu amat indah. Jumlah penduduk di daerah ini tidak terlalu banyak sehingga tempat yang mereka lalui itu amat sunyi.

Thian Liong menjalankan kudanya di sebelah kiri kuda yang ditunggangi Pek Hong Nio-cu. Dua ekor kuda itu berjalan seenaknya karena kedua penunggangnya tidak ingin memaksa binatang yang juga sudah tampak kelelahan itu. Thian Liong melamun.

Dia melamun tentang keadaan dirinya. Sungguh tak pernah disangka sama sekali bahwa dia dapat melakukan perjalanan berdua saja dengan puteri dari Raja Kin! Dan perjalanan bersama itu sudah dilakukan selama kurang lebih satu bulan!

Sungguh amat mengherankan dan tentu banyak yang tidak percaya apa bila dia bercerita kepada orang lain. Di sepanjang jalan dia selalu disambut oleh pejabat-pejabat pemerintah Kin dengan sikap sangat hormat karena dia diperkenalkan oleh Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu sebagai sahabatnya. Dan puteri itu begitu manis, begitu ramah dan demikian akrab dengan dia.

Akan tetapi yang menunggang kuda di sisinya ini adalah seorang puteri bangsawan tinggi, Puteri Raja Kin, sedangkan dia apa? Hanya seorang pemuda yatim piatu yang bodoh dan miskin, bahkan rumah pun tidak punya! Akan tetapi Thian Liong tidak merasa rendah diri. Mengapa harus rendah diri?

Dia tidak mempunyai pamrih apa pun dalam persahabatannya dengan Pek Hong Nio-cu. Memang harus diakuinya bahwa dia sangat tertarik, kagum dan suka sekali kepada gadis bangsawan ini. Gadis ini sungguh jauh berbeda dibandingkan gadis-gadis yang pernah dia jumpai. Berpikir sampai di sini, terbayang olehnya wajah seorang gadis yang manis.

Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang dengan anak rambut melingkar pada dahi dan pelipisnya. Dahinya halus dan putih sekali, dengan alis hitam kecil panjang dan tebal, matanya bagaikan sepasang bintang, bersinar tajam dan penuh gairah hidup, hidungnya mancung dan mulutnya amat menggairahkan, dengan bibir merah basah dan lesung pipit menghias kanan kiri mulut itu. Dagunya runcing dan kulitnya putih mulus. Tubuhnya padat ranum dengan pinggang ramping.

Gadis yang lincah dan liar, galak penuh semangat, berpakaian merah muda. Gadis yang sudah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari buntalan pakaiannya, kitab yang seharusnya dia serahkan kepada para ketua Kun-lun-pai seperti yang dipesan gurunya.

Gadis cantik jelita dan juga gagah perkasa. Akan tetapi sayang, dia sudah mencuri kitab, dan lebih sayang lagi, dia tidak tahu siapa nama gadis itu dan di mana tempat tinggalnya. Perjalanannya ke barat ini pun untuk mencari gadis pencuri itu. Dia hanya menduga-duga bahwa gadis itu tentu berada di daerah barat mengingat bahwa ilmu silatnya seperti ilmu silat aliran Tibet.

Apa bila dibuat perbandingan antara gadis baju merah itu dengan Pek Hong Nio-cu, maka alangkah jauh bedanya. Memang mereka berdua sama-sama cantik menarik, sama-sama gagah perkasa, bahkan sama-sama lincah, agak liar dan galak bersemangat. Akan tetapi gadis baju merah yang liar itu adalah seorang gadis kang-ouw tulen dan seorang pencuri, sebaliknya Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri raja yang baik hati.

Akan tetapi aneh sekali, dia sukar dapat melupakan gadis baju merah itu dan bila teringat kepadanya, jantungnya berdebar dan wajahnya berseri. Padahal dia sudah berjanji bahwa kalau bisa menemukan dara baju merah itu, maka dara itu akan direbahkan menelungkup di atas kedua pahanya lalu akan ditamparnya pinggul gadis itu seputuh kali seperti orang tua mengajar anaknya yang nakal!

Bayangan wajah gadis baju merah yang mencuri kitab milik Kun-lun pai itu lantas terganti dengan wajah seorang gadis lain. Wajah yang setelah kini jelas terbayang olehnya, makin tampak betapa wajah itu tidak ada bedanya dengan wajah Pek Hong Nio-cu! Itulah wajah Thio Siang In yang berjuluk Ang-hwa Sian-li, gadis yang senang memakai pakaian serba hijau itu. Dia mencoba untuk mencari perbedaan antara dua wajah itu. Namun seingatnya, tidak ada bedanya sama sekali!

Ada bunga mawar merah di rambutnya. Cantik jelita dan cerdik sekali. Juga ilmu silatnya sangat lihai. Hebatnya, seingatnya Thio Siang In juga mempunyai setitik tahi lalat di dekat mulutnya, di ujung bibir, sama dengan Puteri Moguhai!

Kedua wajah itu serupa benar. Kalau ada perbedaan yang sangat mencolok adalah warna dan bentuk pakaian mereka. Pek Hong Nio-cu berpakaian serba putih, ada pun Ang-hwa Sian-li berpakaian serba hijau. Akan tetapi, walau pun tidak sampai mencuri seperti yang dilakukan gadis baju merah, Thio Siang In itu pun seorang gadis yang ugal-ugalan.

Dia hendak meminjam kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dengan paksa! Ketika dia tidak mau menyerahkan kitab itu, Ang-hwa Sian-li Thio Siang In marah lalu mengajak bertanding! Sungguh sayang, padahal gadis itu gagah perkasa dan tadinya sudah menjadi kawan akrabnya. Seperti juga bayangan gadis baju merah, bayangan Ang-hwa Sian-li ini selalu muncul dalam ingatannya.

Kemudian dia pun teringat akan wajah Kim Lan, murid Kun-lun-pai itu, beserta sumoi-nya (adik seperguruannya) yang bernama Ai Yin. Mereka juga gadis-gadis yang manis, cantik menarik, gagah perkasa dan sebagai murid-murid Kun-lun-pai, tentu saja mereka memiliki kepandaian yang tinggi dan watak mereka pun seperti pendekar.

Akan tetapi sayang, terutama sekali Kim Lan. Gadis cantik itu diikat sumpah yang sangat aneh sehingga ketika kalah bertanding melawannya, kini mengejarnya untuk memaksa dia mengawininya dan kalau dia menolak, maka gadis itu akan membunuhnya!

Thian Liong menarik napas panjang. Aneh-aneh saja pengalamannya dengan gadis-gadis itu! Dan biar pun mereka, yang tiga orang itu, gadis baju merah, Ang-hwa Sian-li, dan Kim Lan tidak dapat disamakan dengan Pek Hong Nio-cu yang anggun, bangsawan tinggi dan tidak mempunyai kesalahan kepadanya, namun tetap saja di dalam hatinya ada rasa suka pula terhadap mereka. Dan wajah mereka selalu bermunculan dalam kenangannya.

“Souw Thian Liong, kenapa engkau menghela napas panjang setelah sejak tadi melamun seorang diri?” tiba-tiba suara Pek Hong Nio-cu menyadarkannya dan seolah menyeret dia kembali ke alam sadar.

“Ehh? Apa maksud paduka, Puteri?” tanya Thian Liong gagap, seperti orang baru bangun tidur.

“Hushh! Berapa kali aku memperingatkan agar engkau jangan menyebut aku paduka dan puteri, kecuali kalau berhadapan dengan para pembesar dan dalam suasana resmi!” tegur Pek Hong Nio-cu dengan kening berkerut. “Dalam percakapan pribadi, aku ini bukan lain adalah Pek Hong Nio-cu, seorang sahabat yang sederajat denganmu.”

“Ah, maafkan, Nio-cu. Aku memang pelupa, akan tetapi apa yang kau maksudkan dengan pertanyaanmu tadi?”

“Hemm, bagaimana sih pertanyaanku tadi, Thian Liong?”

Thian Liong menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tidak ingat lagi.”

“Nah, itu tandanya bahwa engkau tenggelam ke dalam lamunanmu,” kata Pek Hong Nio-cu sambil menahan dan menghentikan kudanya.

Melihat ini, Thian Liong juga menghentikan kudanya.

“Thian Liong, semenjak tadi aku melihat engkau melamun dengan pandang mata kosong, kadang sambil tersenyum-senyum, kemudian engkau menghela napas panjang. Nah, tadi aku bertanya mengapa engkau melamun terus dan menghela napas panjang?”

“Ahh, itukah yang kau tanyakan? Nio-cu, marilah kita mengaso sambil berteduh di bawah pohon itu,” kata Thian Liong.

“Baiklah, memang sinar matahari panas bukan main dan kuda kita juga sudah lelah,” kata Pek Hong Nio-cu.

Mereka menuju ke sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi Sungai Han, turun dari kuda, lantas menambatkan kuda di batang pohon kecil tak jauh dari situ.

“Kota Yun-sian berada tidak jauh lagi di depan. Sebelum sore kita sudah dapat memasuki kota itu.”

“Nio-cu, agaknya engkau mengenal betul daerah ini,” kata Thian Liong.

“Tentu saja, aku telah beberapa kali mengunjungi Paman Kuang yang memimpin pasukan menjaga perbatasan. Tapi engkau belum menjawab pertanyaanku tadi, Thian Liong.”

Pemuda itu duduk di atas batu di bawah pohon yang teduh itu dan Pek Hong Nio-cu juga ikut duduk di atas batu di depannya. Pemandangan di situ amat indah. Di dekat mereka, hanya empat meter jauhnya, tampak Sungai Han dengan tenang mengalirkan airnya yang masih jernih.

Di tepi sungai, kanan kiri, tumbuh subur segala macam pohon dan semak. Sebuah perahu terapung di tepi sungai tak jauh dari tempat mereka duduk. Seorang pengail duduk di atas perahu itu, duduk seperti patung, memegangi tangkai pancingnya, bahkan menengok pun tidak ketika Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berhenti di bawah pohon. Dia tenggelam di dalam keasyikan memancing ikan.

Pengail itu memakai caping lebar, akan tetapi ada sedikit bagian mukanya yang kelihatan dan ternyata dia adalah seorang laki laki yang sudah tua. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu tidak mempedulikan kakek itu yang dari bentuk capingnya dapatlah diduga bahwa dia tentu seorang bersuku bangsa Hui.

“Aku harus menjawab bagaimana, Pek Hong Nio-cu? Aku tadi memang sedang melamun. Panasnya sinar matahari dan kuda kita yang berjalan perlahan membuat aku mengantuk lalu melamun.”

“Hemm, melamun sambil cengar-cengir, tersenyum dan menghela napas. Apa saja yang kau lamunkan tadi?”

Tentu saja Thian Liong merasa malu untuk menuturkan lamunannya tadi membayangkan gadis-gadis yang pernah berurusan dengannya! Hal ini tidak mengherankan karena dalam cerita ini, oleh pengarang dia sudah berkali-kali dipaksa melamun membayangkan gadis-gadis itu mulai dari pangkal rambut sampai ujung kaki.

“Ahh, aku melamun tentang masa laluku sampai saat ini.”

“Mengapa pakai senyum-senyum dan menghela napas segala? Seperti orang bergembira kemudian bersedih!” desak puteri itu.

“Aku gembira waktu teringat ketika aku masih kanak-kanak, lalu bersedih jika mengingat keadaanku sekarang, mengejar pencuri kitab yang tidak kuketahui namanya dan tidak aku ketahui tempat tinggalnya. Kitab itu harus kudapatkan kembali untuk kuserahkan kepada yang berhak di Kun-lun-pai, kalau tidak berarti aku gagal melaksanakan perintah suhu.”

Pek Hong Nio-cu menatap wajah pemuda itu penuh perhatian. Agaknya hatinya tertarik sekali. “Souw Thian Liong, maukah engkau menceritakan rlwayatmu ketika engkau masih kecil, tentang orang tuamu, tentang gurumu? Aku sudah lama mendengar tentang Tiong Lee Cin-jin yang amat terkenal sebagai orang sakti yang berilmu tinggi, dan juga dikenal sebagai Tabib Dewa, suka menolong siapa saja tanpa pilih bulu. Bahkan semua keluarga ayahku di istana mengenal nama itu dan merasa kagum sekali.”

“Tidak ada apa-apa yang menarik tentang diriku, Nio-cu. Aku hanya seorang anak desa yang tinggal di sebuah dusun kecil di lereng Mao-mao-san. Saat berusia lima tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena wabah penyakit perut yang mengamuk di dusun kami.”

“Aduh, kasihan sekali engkau. Pada usia lima tahun sudah yatim piatu ditinggal mati ayah dan ibu,” kata Pek Hong Nio-cu sambil memandang wajah Thian Liong dengan hati iba.

“Aku hidup berdua dengan nenekku. Sesudah berusia sepuluh tahun aku bekerja kepada Lurah Coa di dusun kami. Pekerjaanku menggembala kerbau.”

Pek Hong Nio-cu tersenyum lebar. “Ahh, aku jadi teringat akan dongeng Ibuku. Ketika aku masih kecil ibu mendongeng tentang seorang pemuda penggembala kerbau yang dengan tiupan sulingnya menarik perhatian seorang bidadari sehingga bidadari itu turun dari langit kemudian menjadi isteri si penggembala kerbau.”

Thian Liong tertawa. “Ha-ha, kalau meniup suling aku pun bisa, akan tetapi mana mungkin ada bidadari memperhatikan aku?”

“Hemm, siapa tahu? Engkau juga seorang penggembala kerbau yang sangat istimewa, Thian Liong. Lanjutkan ceritamu yang amat menarik itu.”

Thian. Liong merasa heran. Bagaimana kisah tentang seorang penggembala kerbau saja menarik hati gadis ini? Akan tetapi dia kemudian teringat bahwa gadis ini adalah seorang puteri raja, tentu saja merasa tertarik mendengar kehidupan seorang penggembala seperti juga seorang penggembala akan tertarik mendengar mengenai kehidupan seorang puteri raja. Setiap orang selalu tertarik akan hal yang baru, akan hal yang tak pernah dialaminya atau keadaan yang berlawanan dengan keadaannya sendiri.

“Ketika berusia sepuluh tahun, pada suatu hari aku menggembala kerbau dan kebetulan aku bertemu dengan suhu Tiong Lee Cin-jin. Nenekku yang sudah berusia delapan puluh tahun, keika itu kebetulan pula meninggal dunia sehingga aku lalu ikut dan menjadi murid suhu. Selama sepuluh tahun aku mempelajari ilmu dari suhu. Kemudian, satu tahun lebih yang lalu, suhu menyuruhku turun gunung dan aku diberi tugas untuk menyerahkan kitab-kitab kepada Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Sayang sekali, kitab untuk Kun-lun-pai dicuri oleh gadis baju merah yang kini sedang kucari itu. Nah, itulah riwayatku, Nio-cu. Sekarang aku pun ingin mendengar riwayat seorang puteri raja, kalau saja engkau tak keberatan untuk menceritakan kepada seorang penggembala kerbau.”

Pek Hong Nio-cu tertawa. “Heh-heh, engkau membalas atau menagih? Riwayatku ketika masih kecil lebih tak menarik lagi. Aku hidup di dalam istana, serba tertutup, tidak bebas seperti engkau. Ke mana-mana selalu dikawal, sungguh menyebaikan. Akan tetapi untung bagiku, setelah aku remaja ayah memberi kebebasan kepadaku, bahkan mengijinkan aku mempelajari segala macam ketangkasan. Menunggang kuda sudah bisa kulakukan sejak aku berusia lima tahun, tapi masih kalah olehmu. Sejak kecil engkau berani menunggang kerbau, sedangkan aku, sampai kini pun nanti dulu kalau disuruh menunggang kerbau!”

“Siapakah yang mengajarimu ilmu silat sehingga engkau kini mempunyai kepandaian yang tinggi?”

“Guruku sangat banyak. Jagoan istana yang mana saja tentu bersedia mengajarkan ilmu silatnya kepadaku kalau aku memberitahu ayah. Ayah yang memerintahkan mereka untuk mengajariku dengan baik.”

“Wah, agaknya engkau seorang anak yang manja dan nakal!” Thian Liong berkata sambil tertawa.

Pek Hong Nio-cu juga tertawa dan bukan main manisnya bila puteri ini tertawa. Tawanya bebas sehingga tampak deretan giginya yang putih rapi seperti mutiara dan lidahnya yang kecil merah sehat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner