KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-35


“Memang aku dimanja oleh ayahku, akan tetapi aku tidak nakal!” katanya. “Dan guruku yang terakhir malah belum pernah berhadapan muka dan belum pernah bicara denganku, sungguh pun aku pernah melihatnya satu kali.”

“Lho, bagaimana mungkin? Lalu bagaimana kau dapat menganggap dia sebagai gurumu dan bagaimana pula caramu mempelajari ilmunya?” tanya Thian Liong heran.

“Begini ceritanya. Pada suatu waktu, aku melihat ibu... bicara dengan seorang laki-laki di dalam taman. Aku tidak berani mengganggu, maka aku menanti sampai laki-laki itu pergi. Ketika aku bertanya kepada ibu, ibu hanya mengatakan bahwa laki-laki itu adalah seorang sahabat lama dan aku disuruh menyebutnya paman Sie. Menurut ibu, paman Sie adalah guruku juga karena dia sudah memberikan tiga buah kitab pelajaran silat seperti yang dulu pernah kuperlihatkan padamu dan sebuah perhiasan rambut yang kupakai ini.” Pek Hong Nio-cu meraba perhiasan rambut berbentuk burung Hong yang berada di kepalanya.

“Hemm, jadi karena engkau memakai perhiasan itu maka engkau mendapat julukan Pek Hong Nio-cu (Nona Burung Hong Putih?”

“Kira-kira begitulah, akan tetapi ibuku berpesan supaya aku merahasiakan dari siapa juga tentang kunjungan Paman Sie itu. Bahkan kepada ayah pun aku tidak menceritakannya.”

“Akan tetapi kenapa kepadaku engkau mau menceritakan?”

“Ahh, entahlah. Aku percaya padamu, Thian Liong. Dan pula, aku kira ibuku melarang aku bercerita karena ibuku adalah seorang wanita berbangsa Han dan agaknya Paman Sie itu juga berbangsa Han. Aku takkan menceritakan kepada seorang pun dari bangsa Nuchen (Kin). Aku hanya menceritakan kepadamu, karena engkau adalah seorang pemuda Han juga dan aku percaya sepenuhnya kepadamu.”

“Terima kasih, Nio-cu. Apakah sejak itu engkau tidak pernah bertemu atau melihat Paman Sie itu?”

“Tidak pernah. Aku sangat berterima kasih kepadanya karena aku memperoleh kemajuan yang sangat pesat sesudah mempelajari ilmu-ilmu dari kitabnya. Aku ingin sekali bertemu dan menghaturkan terima kasih padanya, akan tetapi aku tidak tahu di mana dia berada. Ketika aku bertanya kepada ibu, bahkan ibu sendiri juga tidak mengetahuinya dan hanya mengatakan bahwa Paman Sie adalah seorang perantau besar.”

“Tiga buah kitab itu memang mengandung pelajaran ilmu silat yang sangat hebat, Nio-cu. Paman Sie itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Oya, kalau ibumu seorang wanita Han, siapakah namanya?”

“Namanya Tan Siang Lin. Nama yang bagus, bukan? Thian Liong, sesudah nanti engkau berhasil menemukan gadis pencuri kitab dan merampasnya lalu mengembalikan kepada Kun-lun-pai, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Suhu masih memberi sebuah tugas lain yang tak kalah pentingnya. Aku harus membantu para pendekar yang sedang berusaha menyelamatkan Kerajaan Sung dari cengkeraman kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui.”

Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya. “Ah, aku tahu siapa itu Perdana Menteri Chin Kui. Dia banyak membantu Kerajaan Kin, akan tetapi ibuku sering kali bilang bahwa Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung itu adalah seorang pengkhianat besar dan seorang jahat. Bahkan akhir-akhir ini ayahku, Raja Kerajaan Kin, juga mengecamnya dan pernah bilang kepadaku bahwa Chin Kui adalah seekor ular berkepala dua yang amat berbahaya dan tidak boleh dipercaya. Sebagai perantara hubungan Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung, Chin Kui itu sering kali menjegal dan telah ketahuan bahwa dia juga mencuri sebagian dari hadiah-hadiah yang dikirimkan oleh Raja Sung untuk Raja Kin. Sebab itu sekarang ayahku mulai tidak percaya dan merenggangkan hubungannya dengan pembesar Chin Kui itu.”

“Wah, agaknya engkau mengerti banyak mengenai keadaan politik kerajaan Kin, Nio-cu!” kata Thian Liong sambil menatap kagum. Ternyata gadis ini memiliki banyak kemampuan dan pengetahuan yang mengejutkan. Biasanya jarang ada wanita yang mau tahu tentang pemerintahan.

“Tentu saja. Aku juga bertanggung jawab atas keselamatan pemerintahan Kerajaan Kin yang dipimpin ayah, bukan? Aku sering melakukan penyelidikan secara diam-diam. Setiap kali aku menemukan pembesar Kin yang lalim, tidak jujur dan tidak setia, maka aku akan menentang dan memberantas mereka. Aku juga tahu bahwa diam-diam ada persekutuan di kota raja, dan aku mendengar bahwa persekutuan untuk memberontak itu dibantu pula oleh pembesar Chin Kui dari Kerajaan Sung.”

“Ahh, begitukah?”

“Karena itulah sekarang aku sedang pergi ke barat untuk mengunjungi Paman Pangeran Kuang. Dia menjadi panglima yang memimpin bala tentara yang menjaga perbatasan. Aku akan menceritakan semua itu kepada Paman Pangeran Kuang karena dia adalah seorang ahli siasat yang setia kepada ayah, juga menjadi komandan pasukan besar dan kuat. Dia tentu akan datang ke kota raja membawa pasukannya untuk menghancurkan komplotan pemberontak itu.”

“Siapakah yang memimpin persekutuan para pemberontak, Nio-cu?” Thian Liong merasa heran. Kerajaan Kin yang merupakan kerajaan bangsa Nuchen, yang dapat menjajah dan terkenal kuat itu pun ternyata keadaannya sama saja dengan kerajaan Sung yang karena penyerangan bangsa Nuchen terpaksa pindah ke sebelah selatan Sungai Yang-ce, yaitu ada saja orang-orang yang berkhianat. “Atau, barangkali aku tidak boleh mengetahui?”

“Ah, aku percaya padamu, Thian Liong. Engkau pun tadi sudah bicara blak-blakan tentang Perdana Menteri Chin Kui kepadaku. Penggerak persekutuan para pemberontak itu adalah seorang pangeran juga, jadi masih pamanku sendiri, paman tiri. Dia bernama Pangeran Hiu Kit Bong. Namun karena belum mendapatkan bukti bahwa dia akan memberontak dan menyusun kekuatan secara diam-diam, bahkan mungkin sekali sudah bersekutu dengan Chin Kui, maka aku tidak dapat berbuat sesuatu. Jika melapor kepada ayah pun pasti tak akan dipercaya karena tidak ada buktinya. Maka jalan satu-satunya adalah menceritakan kepada Paman Pangeran Kuang yang tentu akan dapat membasmi para pemberontak.”

“Hemm, kalau ada kesempatan, aku siap untuk membantumu, Nio-cu,” kata Thian Liong.

Pek Hong Nio-cu menatap wajah Thian Liong, seolah ingin menjenguk isi hati pemuda itu. “Akan tetapi, Thian Liong, engkau seorang pemuda berbangsa Han!”

“Hemm, memang aku adalah seorang Han, lalu kenapa, Nio-cu?”

“Bagaimana bisa engkau hendak membela kepentingan kerajaan Kin? Bukankah kerajaan Kin telah menyebabkan kerajaan Sung harus mengungsi ke selatan? Apakah engkau tak menaruh dendam terhadap bangsa Nuchen yang mendirikan kerajaan Kin yang menjajah tanah airmu?”

Thian Liong merasa heran. Bagaimana puteri raja Kin dapat berkata begitu kepadanya? Ini tentu pengaruh ibu puteri itu, yang juga seorang wanita berbangsa pribumi Han.

“Suhu mengajarkan kepadaku agar aku tidak mencampuri urusan antara kerajaan Kin dan kerajaan Sung. Menurut suhu, yang terpenting adalah menyejahterakan kehidupan rakyat, melenyapkan kejahatan dan kebodohan, karena jika rakyat hidup sejahtera dan kejahatan dapat dibasmi atau setidaknya dikurangi, maka negara akan menjadi kuat. Kalau seluruh pejabat melakukan tugasnya secara baik, jujur dan setia, mementingkan kebutuhan rakyat jelata, maka rakyat pasti akan mendukung pemerintah dan pemerintah pun menjadi kuat. Tetapi kalau terjadi sebaliknya, yaitu kalau para pejabat saling berebutan kekuasaan dan harta benda, tanpa mempedulikan rakyat bahkan menindas rakyat, pasti pemerintah yang tidak didukung rakyat akan menjadi lemah dan mudah dikalahkan musuh, seperti halnya kerajaan Sung dahulu. Mengingat akan ajaran suhu itu, aku tak mau mendendam kepada kerajaan Kin, bahkan aku siap membantu selama kerajaan Kin mempunyai pemeritahan yang baik dan yang memperhatikan kepentingan rakyat jelata.”

“Bagus! Aku pun berpendirian seperti engkau, Thian Liong. Apa lagi aku mempunyai darah campuran, ayahku orang Nuchen dan ibuku orang Han. Apa billa engkau mau membantu aku menentang pemberontak di kerajaan Kin, kelak aku pasti akan membantumu untuk menentang kekuasaan Chin Kui yang berkhianat terhadap kerajaan Sung.”

Tiba-tiba saja terdengar suara derap kaki banyak kuda. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu masih tetap duduk dengan tenang sambil memandang ke arah rombongan berkuda yang mengakibatkan debu mengepul itu. Ketika rombongan itu tiba di dekat mereka, terdengar seruan nyaring.

“Berhenti...!”

Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong masih duduk dengan tenang. Kini mereka memandang kepada rombongan itu dengan penuh perhatian. Keduanya melihat bahwa mereka semua terdiri dari sekitar tiga puluh orang, namun wajah mereka tidak dapat terlihat jelas karena debu masih mengepul dan banyak di antara mereka yang wajahnya tertutup debu seperti dibedaki. Tapi melihat pakaian seragam pasukan itu, Pek Hong Nio-cu mengenal mereka sebagai pasukan kerajaan Kin. Maka dia cepat bangkit dan melangkah maju menghadapi mereka.

Kembali terdengar aba-aba dan semua prajurit berlompatan turun dari atas kuda mereka. Beberapa orang di antara mereka yang bertugas mengatur kuda segera mengumpulkan kuda-kuda itu agak menjauh lalu menambatkannya pada batang-batang pohon.

Lima orang jagoan yang memimpin pasukan itu cepat maju sehingga berhadapan dengan Pek Hong Nio-cu. Tentu saja puteri ini segera mengenal mereka karena dahulu, ketika dia masih remaja dan lima orang itu masih menjadi pengawal-pengawal pribadi Raja Kin, dia pernah juga menerima pelajaran silat dari mereka. Akan tetapi kelima orang ini kemudian melakukan pelanggaran sehingga dikeluarkan dari istana. Maka tentu saja Pek Hong Nio-cu tidak lagi menganggap mereka sebagai gurunya, bahkan memandang mereka sebagai orang-orang yang jahat dan khianat.

Dengan alis berkerut Pek Hong Nio-cu memandang lima orang yang berdiri dengan sikap sungkan itu, lantas dia menegur mereka. “Mau apa kalian datang ke sini? Hayo pergi dan jangan mengganggu aku!”

Betapa pun juga Puteri Moguhai sangat terkenal dan disegani segenap orang di kerajaan Kin. Dia memiliki wibawa yang sangat kuat sehingga ketika puteri itu membentak mereka, lima orang jagoan itu menjadi gentar dan mereka saling pandang, menjadi salah tingkah.

Con Gu mewakili rekan-rekannya berkata kepada Pek Hong Nio-cu setelah membungkuk dalam-dalam. “Harap paduka sudi memaafkan kami kalau kami mengganggu. Kami hanya melaksanakan perintah Sri baginda Kaisar untuk mengajak paduka pulang ke kota raja.”

Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya. “Kenapa aku harus pulang? Apa yang telah terjadi di istana?” terkandung kekhawatiran dalam suaranya.

“Kami tidak tahu, tugas kami hanya mengajak paduka segera kembali ke kota raja,” kata Con Gu.

Pek Hong Nio-cu adalah seorang gadis yang cerdik. Dia pun cepat berpikir. Jika ayahnya memanggilnya puIang, tidak mungkin ayahnya mengutus lima orang ini. Apa lagi pasukan itu bukan pasukan pengawal istana karena dia tidak mengenal mereka. Ada sesuatu yang ganjil di sini, sesuatu yang agaknya tidak beres.

“Kalau Sribaginda memanggil aku pulang dan memerintahkan kalian menjemputku, cepat perlihatkan kepadaku surat perintahnya!” katanya sambil menatap tajam wajah Con Gu.

Con Gu menjadi salah tingkah. Kembali dia saling pandang dengan empat orang rekannya dan tampak bingung. “Akan tetapi...” Dia berkata gagap.

“Tidak ada tapi, cepat keluarkan surat perintah Sribaginda Kaisar!” bentak Pek Hong Nio-cu sambil menghunus pedang bengkok yang menjadi tanda kekuasaannya sebagai wakil Kaisar itu.

Con Gu menjadi semakin bingung. Akan tetapi Koi Cu, orang kedua dari lima jagoan itu, yang hatinya lebih tabah, tiba-tiba berkata, “Surat perintahnya berada di tangan Pangeran Hiu Kit Bong dan kami menerima perintah dari beliau. Harap paduka suka menurut dan ikut saja dengan kami!”

Wajah Pek Hong Nio-cu yang putih itu sekarang berubah agak kemerahan, sinar matanya menyambar penuh kemarahan. “Keparat! Kalian tidak melihat pedang kekuasaan ini? Aku tidak mau pulang bersama kalian, habis kalian mau apa?”

Melihat keberanian Koi Cu tadi, kini Con Gu pulih kembali ketabahannya dan dia berkata, “Kalau paduka menolak, terpaksa kami menggunakan kekerasan.”

“Berani kalian melawan aku yang membawa pedang kekuasaan ini? Berarti kalian berani melawan Sribaginda Kaisar, berarti kalian pengkhianat dan pemberontak!”

“Kami hanya melaksanakan perintah Pangeran Hiu Kit Bong!” kata Con Gu.

“Kalau begitu paman Pangeran Hiu Kit Bong itulah yang hendak memberontak! Aku tetap tidak mau ikut kalian pulang. Hendak kulihat kalian mampu berbuat apa terhadapku!” Pek Hong Nio-cu membentak marah.

“Kalau begitu, terpaksa kami akan menangkap paduka!” Con Gu berkata lalu dia memberi isyarat.

Dua losin prajurit itu lalu bergerak mengepung kanan kiri dan depan Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong yang masih duduk. Di belakang kedua orang muda ini adalah sungai sehingga mereka tidak mempunyai jalan keluar karena sudah terkepung rapat.

Thian Liong lalu melompat dan berdiri di sisi Pek Hong Nio-cu. Tadi dia diam saja karena tidak ingin mencampuri Pek Hong Nio-cu yang bicara dengan pimpinan pasukan kerajaan Kin dan dia merupakan orang luar. Akan tetapi melihat perkembangannya, mau tidak mau dia harus mencampurinya.

“Hei, apakah kalian berlima ini tidak malu? Yang hendak kalian lawan ini adalah puteri dari Sribaginda Kaisar kerajaan Kin, junjungan kalian sendiri! Berarti kalian ini terang-terangan menjadi pengkhianat dan pemberontak!” kata Thian Liong sambil menatap tajam kepada mereka berlima.

Dari bagian belakang pasukan itu tiba-tiba menerobos seorang pemuda yang pakaiannya menunjukkan bahwa dia bukan anggota pasukan.

“Souw Thian Liong, engkau harus kutangkap untuk menerima pengadilan di hadapan para ketua Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai!” bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Cia Song yang tadi memang bersembunyi di belakang pasukan.

Melihat pemuda itu, Thian Liong terbelalak kaget dan heran bukan main.

“Cia-suheng (kakak seperguruan Cia)! Engkau di sini, bersama pasukan pengkhianat ini? Apa artinya ini, suheng?”

“Tak usah engkau mengurus hal itu. Menyerahlah engkau untuk kubawa menghadap para ketua Siauw-lim-pai dan Kun lun-pai untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu!”

“Perbuatan apakah itu, Cia-suheng?” Thian Liong bertanya, heran dan penasaran.

“Jangan pura-pura bertanya! Menyerah saja dan engkau akan diadili!”

Mendadak Pek Hong Nio-cu berseru keras, “Ahh, sekarang aku tahu, Thian Liong. Orang yang kau sebut suheng-mu ini tentulah seorang utusan Perdana Menteri Chin Kui untuk menghubungi pengkhianat Pangeran Hiu Kit Bong itu!”

Thian Liong terbelalak memandang kepada Cia Song. “Ahh…! Benarkah engkau menjadi anak buah Perdana Menteri Chin Kui dan bersekutu dengan pangeran yang memberontak di kerajaan Kin? Cia-suheng, bagaimana engkau bisa...”

“Tangkap mereka! Keroyok pemuda itu, biarlah aku yang menangkap Pek Hong Nio-cu!” kata Cia Song dan dia pun segera menerjang maju, menyerang Pek Hong Nio-cu dengan pedang beronce merah yang dia cabut dari punggungnya.

“Tranggg...!”

Pek Hong Nio-cu menangkis sambil mengerahkan tenaga dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar, menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga sinkang yang tidak berselisih jauh kekuatannya.

Sementara itu, lima orang jagoan Kin sudah membentuk Ngo-heng Kiam-tin mengeroyok Thian Liong. Melihat masing-masing anggotanya menggerakkan pedang samurai dengan begitu dahsyat, tahulah Thian Liong bahwa barisan itu hebat sekali. Maka dia pun segera mencabut Thian-liong-kiam kemudian memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan yang datangnya bertubi-tubi dari lima jurusan itu.

Thian Liong maklum bahwa kini dia menghadapi orang-orangnya para pengkhianat, baik pengkhianat kerajaan Sung mau pun pengkhianat kerajaan Kin dan pasti mereka itu tidak memiliki niat baik terhadap Pek Hong Nio-cu. Akan tetapi dia merasa heran sekali kenapa Cia Song yang sama sekali tak diduganya telah menjadi antek Chin Kui dan bersekongkol dengan pengkhianat kerajaan Kin itu, sekarang hendak menangkapnya untuk dihadapkan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai untuk diadili! Apa yang terjadi? Dia tidak melakukan sesuatu kesalahan terhadap dua perkumpulan besar itu! Karena merasa penasaran, Thian Liong lalu mengamuk.

Thian-liong-kiam di tangannya lalu berubah menjadi sinar bergulung-gulung sehingga Ngo-heng Kiam tin itu pun tidak mampu mendesaknya. Serangan mereka selalu terpental apa bila bertemu dengan sinar pedang itu. Akan tetapi Thian Liong juga mendapat kenyataan bahwa barisan pedang yang terdiri dari lima orang itu tidak boleh dipandang ringan. Kerja sama mereka rapi sekali, saling melindungi dan saling memperkuat daya serang sehingga dia harus berhati-hati.

Sementara itu, Pek Hong Nio-cu menjadi sangat marah ketika Cia Song berkata dengan suara merayu, “Ahh, puteri jelita, sebaiknya engkau menyerah saja dari pada kulitmu yang putih mulus itu menjadi lecet. Sayang kalau engkau sampai terluka, manis.”

“Singgg...!”

Itulah jawaban Pek Hong Nio-cu. Pedangnya langsung menyambar dahsyat sehingga Cia Song menjadi sangat terkejut dan dia harus cepat-cepat mengelak sambil menggerakkan pedangnya menangkis.

“Cringgg...!”

Akan tetapi, begitu tertangkis pedang di tangan Pek Hong Nio-cu sudah menyambar lagi, sekali ini dengan babatan seperti kilat menyambar ke arah leher lawan!

Cia Song kembali harus melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, kemudian mau tak mau dia harus membalas dengan serangannya karena tak mungkin melawan gadis ini hanya dengan bertahan saja. Pek Hong Nio-cu terlampau tangguh untuk dilawan dengan seenaknya.

Dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya supaya dapat mengimbangi gadis bangsawan itu. Bahkan Pek Hong Nio-cu sama sekali tak terpengaruh ketika dia mencoba untuk mempergunakan ilmu sihirnya, mengeluarkan bentakan dengan suara yang mengandung sihir dan dayanya melumpuhkan. Hal ini adalah karena dara itu juga telah menghimpun tenaga sakti yang sangat kuat sehingga dapat menolak pengaruh sihir lawan.

Melihat betapa tidak mudah baginya untuk mengalahkan Pek Hong Nio-cu, apa lagi untuk menangkapnya, dan sempat pula melihat sekelebatan betapa keadaan Ngo-heng Kiam-tin juga tidak lebih baik karena mereka itu agaknya bahkan kewalahan menghadapi gulungan sinar pedang Thian Liong, Cia Song lantas berseru kepada pasukan yang terdiri dari dua losin prajurit itu.

“Pasukan segera bergerak, serbuuu...!”

Dua losin prajurit itu bergerak, terpecah menjadi dua bagian. Selosin prajurit mengeroyok Thian Liong dan yang selosin lagi mengeroyok Pek Hong Nio-cu.

Pek Hong Nio-cu yang mendapatkan lawan seimbang, bahkan merasa betapa Cia Song merupakan lawan yang amat tangguh, menjadi sangat marah ketika selosin orang prajurit itu membantu Cia Song mengeroyoknya. Dia segera berseru melengking dan pedangnya yang membentuk sinar keemasan itu menyambar-nyambar.

Dua orang prajurit mengaduh dan terpelanting roboh. Melihat ini, Cia Song memperhebat desakannya dan para prajurit yang mengeroyok mulai khawatir. Mereka adalah prajurit pilihan, namun dalam beberapa jurus saja gadis itu telah mampu merobohkan dua orang!

Thian Liong juga segera mempercepat gerakan pedangnya setelah selosin orang prajurit ikut mengeroyok. Dia masih dapat mengatasi jika hanya menghadapi Ngo-heng Kiam-tin. Akan tetapi, sebelum dapat merobohkan lima orang samurai itu, kini maju selosin prajurit mengeroyoknya. Sebab itu dia pun cepat menerjang sehingga tiga orang prajurit langsung roboh oleh sambaran sinar pedangnya.

Tiba-tiba Cia Song mengeluarkan aba-aba. Memang sesungguhnya dialah yang menjadi pemimpin pasukan itu dan Ngo heng Kiam-tin hanya merupakan pembantu-pembantunya. Setelah dia mengeluarkan aba-aba, para prajurit yang masih tersisa sembilan belas orang itu segera mengeluarkan jaring yang memang sudah dipersiapkan.

Mereka adalah prajurit-prajurit yang terlatih mempergunakan senjata istimewa ini. Begitu mereka menyerang maka jaring-jaring ditebarkan ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu!

Dua orang muda itu mengelak ke sana-sini dan menggunakan pedang untuk menangkis dan merobek jaring yang menyambar. Akan tetapi mereka terkejut karena ternyata jaring-jaring itu terbuat dari tali istimewa yang tidak mudah dirusak senjata tajam! Akhirnya tubuh Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu tertangkap jaring!

Thian Liong mengerahkan tenaga saktinya, meronta dan menggerakkan pedangnya. Dua orang yang berhasil menangkapnya dengan jaring dan memegangi tali jaring itu, disambar sinar pedangnya yang mencuat keluar dari jaring. Dua orang ftu terpelanting roboh. Thian Liong segera meronta keluar dari selimutan jaring-jaring itu.

Dia melihat betapa Pek Hong Nio-cu juga tertangkap oleh dua jaring dan dara itu meronta-ronta, mengamuk dengan pedangnya namun tidak dapat melepaskan dirinya. Melihat ini, Thian Liong mengeluarkan pekik melengking dan getaran suara pekik yang amat lantang ini membuat para pengeroyok mundur beberapa langkah. Dia lantas melompat mendekati Pek Hong Nio-cu. Pedangnya digerakkan menangkis sambaran pedang Cia Song.

“Tranggg...!”

Bunga api berpijar dan Cia Song terpental mundur beberapa langkah. Biar pun tubuhnya sudah diselimuti jaring, namun Pek Hong Nio-cu masih mampu melindungi dirinya dengan pedangnya yang dapat keluar dari sela-sela tali jaring.

Thian Liong segera mendesak maju dan begitu pedangnya berkelebat, dua orang prajurit yang menangkap Pek Hong Nio-cu dengan jaring mereka terpelanting roboh. Thian Liong cepat membuka tali jaring lalu menyambar tangan Pek Hong Nio-cu. Keadaannya menjadi terlalu berbahaya setelah para prajurit mempergunakan senjata jaring itu.

“Kita pergi!” katanya.

Dia mengajak Pek Hong Nio-cu melompat ke tepi sungai, lalu sekali menggerakkan kaki, mereka berdua melompat ke atas perahu di mana kakek tadi masih memegang tangkai pancingnya dengan tenang seolah tidak mendengar atau melihat adanya pertandingan di dekat sungai. Dengan ginkang-nya yang sangat tinggi, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu dapat hinggap di atas perahu pengail ikan itu tanpa menyebabkan perahu itu oleng terlalu kuat.

“Maafkan, paman. Kami menumpang di perahumu...” kata Thian Liong.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika pengail ikan yang tua itu tiba-tiba saja menggerakkan kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.


Dorongan itu mendatangkan angin yang sangat dahsyat. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berusaha menangkis, namun karena mereka berdiri di atas perahu yang kecil, maka tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka terdorong sehingga keduanya terjengkang lantas terjatuh ke dalam air.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner