KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-36


Keduanya memang tidak sampai terluka oleh serangan pukulan jarak jauh itu, akan tetapi mereka terjatuh ke dalam air yang dalam. Keduanya hanya dapat berenang sekedar tidak tenggelam saja. Akan tetapi, ketika mereka berusaha berenang, para prajurit berloncatan ke dalam air dan tidak lama kemudian, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu merasa betapa kaki mereka dipegang orang dari bawah lalu tubuh mereka diseret ke dalam air!

Tentu saja mereka terkejut bukan kepalang dan berusaha melepaskan kaki mereka yang dipegang orang. Akan tetapi, kini yang memegangi kaki mereka semakin banyak. Di darat boleh jadi mereka merupakan orang-orang yang amat lihai, tetapi di dalam air, mereka tak dapat berbuat banyak karena melawan air agar tidak tenggelam saja sudah membutuhkan sebagian besar tenaga mereka. Karena itu, sesudah kaki mereka dipegang banyak orang yang memang merupakan pakar dalam air, mereka pun tidak berdaya.

Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berusaha untuk menahan napas, tetapi mereka menjadi lemas sehingga akhirnya tak dapat meronta lagi. Mereka berdua dibelit-belit tali yang kuat, lalu dinaikkan ke darat dalam keadaan setengah pingsan!

Karena Cia Song tidak menghendaki mereka mati, maka dia segera memerintahkan para prajurit yang ahli dalam menolong orang yang hanyut dalam air untuk menyelamatkan dua orang tawanan itu. Tubuh Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu ditelungkupkan, dan banyak air yang tertelan dapat dikeluarkan melalui mulut. Akhirnya kedua orang tawanan itu sadar betul.

Thian Liong melihat bahwa seluruh kaki dan tangan mereka sudah terbelenggu, bahkan tubuh mereka tidak dapat digerakkan karena agaknya telah ditotok secara lihai sekali. Dia menduga bahwa yang menotok jalan darah mereka tentulah Cia Song.

Dia tidak berkata apa-apa, hanya memandang mereka yang berdiri menghadapinya. Thian Liong melihat lima orang yang membentuk Ngo-heng Kiam-tin yang tadi mengeroyoknya, dan di samping mereka berdiri Cia Song yang sedang memandang kepada Pek Hong Nio-cu dengan mulut menyeringai.

Di sebelah murid Siauw-lim-pai yang menjadi antek Chin Kui dan bersekutu dengan para pengkhianat kerajaan Kin itu berdiri seorang kakek yang bukan lain adalah tukang pancing tadi! Ternyata kakek tukang pancing itu adalah salah seorang di antara mereka, bahkan yang mengejutkan hati Thian Liong adalah ketika Cia Song bicara kepada kakek itu dan menyebutnya suhu. Jadi, di samping menjadi murid Siauw-lim-pai, secara diam-diam Cia Song telah berguru kepada kakek ini yang belum dia ketahui siapa orangnya.

“Suhu, sungguh kebetulan sekali suhu berada di sini. Teecu (murid) tadi sama sekali tidak mengenal suhu yang teecu kira seorang pemancing ikan biasa. Maafkan teecu dan terima kasih atas bantuan suhu tadi sehingga mereka berdua ini dapat ditangkap,” kata Cia Song yang membuat Thian Liong keheranan, maka kini dia mengamati kakek itu.

Kakek yang memakai caping lebar itu sudah sangat tua, kurang lebih delapan puluh tahun usianya. Dia bertubuh tinggi kurus dan sikapnya tampak lemah lembut. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu.

Kakek itu tertawa lirih. “He-heh-heh, memang akhir-akhir ini aku sedang suka sekali hidup di atas perahu dan setiap hari memancing ikan. Cia Song, aku sempat mendengar semua pembicaraan tadi. Jadi Pek Hong Nio-cu yang namanya sangat terkenal itu adalah puteri Kaisar kerajaan Kin? Bukan main! Dan pemuda ini, hemm… ilmu silatnya sungguh hebat. Murid siapakah dia?”

“Suhu, dia adalah Souw Thian Liong murid Tiong Lee Cin-jin,” jawab Cia Song.

“Ehh? Murid Tiong Lee Cin-jin? Kalau begitu mengapa dia tidak langsung kau bunuh saja? Jika dibiarkan hidup, kelak akan menjadi bahaya besar bagimu. Ilmu kepandaiannya lihai sekali, engkau tidak akan menang melawannya. Jika tidak dibantu air sungai ini, mustahil engkau dapat menangkapnya.” Kakek itu menggunakan tangan kiri mengelus jenggotnya yang tebal dan sudah berwarna putih.

“Tidak, suhu. Teecu akan membawa dia untuk menghadap para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Biar mereka yang akan mengadili dan menghukumnya.”

“Lalu apa yang hendak kau lakukan dengan puteri ini?” tanya pula kakek itu.

“Dia akan kami bawa kepada Pangeran Hiu Kit Bong untuk dijadikan sandera. Suhu, kalau suhu tidak mempunyai urusan apa pun, marilah suhu ikut dengan teecu. Sebaiknya kalau suhu membantu Pangeran Hiu Kit Bong supaya kelak di hari tua suhu akan mendapatkan kemuliaan dan kehormatan.”

“Ha-ha, baiklah, Cia Song. Aku pun sudah mulai bosan memancing ikan setiap hari. Aku akan ikut denganmu,” kata kakek itu lalu dia membuang pancing dan capingnya. Ternyata di bawah capingnya itu dia memakai sebuah sorban berwarna putih.

Pada saat itu Pek Hong Nio-cu baru sadar betul dan begitu sadar, dia lalu mencaci maki. “Jahanam keparat kalian para pengkhianat! Jika Sribaginda mendengar, tentu kalian akan mendapat hukuman siksa sampai mati! Dan engkau, tua bangka keparat, aku tahu siapa kamu! Kamu adalah Ali Ahmed, datuk bangsa Hui yang sudah terkenal jahat dan kejam. Engkau manusia terkutuk, sudah tua bangka mau mati masih tidak mencari jalan terang. Matimu tentu akan tersiksa dan engkau akan masuk neraka jahanam!”

Cia Song memerintah anak buahnya. “Bawa kereta itu ke sini!”

Ternyata rombongan itu sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk mengangkut kedua tawanan mereka. Setelah kereta yang ditarik dua ekor kuda itu datang, Cia Song berkata kepada Con Gu.

“Paman Con Gu, kau angkatlah Thian Liong dan aku yang mengangkat sang puteri, kita masukkan mereka dalam kereta. Ada pun suhu, teecu harap suka duduk di dalam kereta agar tidak lelah dalam perjalanan, sekalian suhu ikut menjaga dua orang tawanan ini agar tidak sampai lolos.”

“Hu-hu-ha-ha, baik, baik. Aku senang naik kereta,” kata kakek itu yang bukan lain adalah Ali Ahmed, yang sepuluh tahun lebih yang silam pernah mencoba untuk merampok kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee Cin-jin dari daerah barat. Dia memang pernah menjadi guru dari Cia Song selama beberapa tahun.

Thian Liong diangkut oleh Con Gu, dibantu oleh Koi Cu. Mereka memasukkan pemuda itu ke dalam kereta. Cia Song sendiri memondong tubuh Pek Hong Nio-cu, dan dia sengaja mendekap tubuh yang lunak hangat itu kuat-kuat ke dadanya hingga membuat jantungnya berdebar keras akibat dibakar gairah birahinya.

Pek Hong Nio-cu tidak dapat meronta karena seluruh tubuhnya, dari kaki sampai ke dada, telah dibelit tali dan kaki tangannya diborgol kuat-kuat. Hanya matanya yang memandang kepada Cia Song dengan kebencian yang meluap-luap. Begitu melihat sinar mata gadis ini, kuncup juga hati Cia Song dan dia mencoba mengambil hati.

“Pek Hong Nio-cu, kalau engkau mau bersikap manis kepadaku, aku jamin engkau akan diperlakukan dengan baik dan tidak akan ada yang berani mengganggumu.”

“Siapa sudi mendengar ocehanmu!” kata sang puteri dengan marah.

Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu didudukan di dalam kereta, berdampingan menghadap ke belakang, sedangkan Ali Ahmed duduk di bangku di depan mereka. Begitu duduk dan bersandar, kakek tua renta itu segera tertidur sambil memegang tongkat bambunya. Akan tetapi baik Thian Liong mau pun Pek Hong Nio-cu segera maklum bahwa kakek itu tidak kehilangan kewaspadaannya dan selalu memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.

“Nio-cu, aku menyesal sekali bahwa engkau sampai menjadi tawanan seperti ini. Semua ini gara-gara orang yang selama ini kuanggap sebagai suheng-ku (kakak seperguruanku). Tak tahunya dia adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang berkhianat, tidak saja terhadap Siauw-lim-pai, akan tetapi bahkan terhadap bangsa dan negara.”

“Tak usah menyesal, Thian Liong. Kalau ada yang menyesal, maka akulah orangnya. Jika engkau tidak melakukan perjalanan bersamaku, engkau tentu tidak akan mengalami nasib seperti sekarang ini.”

“Hemm, aku masih tidak mengerti mengapa jahanam itu menangkap aku. Engkau... tidak takut, Nio-cu?”

Dalam keadaan kaki tangannya terbelenggu dan tak berdaya seperti itu, puteri Kaisar Kin yang gagah perkasa itu masih dapat tersenyum manis sekali. “Takut? Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa hidup atau matinya seseorang berada di tangan Yang Maha Kuasa? Lalu mengapa aku mesti takut? Kalau Yang Maha Kuasa menghendaki kita mati, siapa yang akan sanggup mencegahnya? Sebaliknya kalau Dia menghendaki kita hidup, siapa yang akan mampu membunuh kita?”

“Bagus! Engkau benar, Nio-cu. Akan tetapi, apakah engkau tidak putus harapan?”

“Kenapa putus harapan? Selama masih hidup, kita masih dapat berusaha mengatasinya. Putus harapan berarti sudah menyerah sebelum berusaha. Aku tidak akan pernah putus harapan selagi masih hidup.”

Thian Liong merasa kagum, akan tetapi diam-diam dia juga merasa khawatir bukan main. Bukan khawatir kalau puteri itu akan dibunuh, melainkan khawatir akan bahaya yang lebih mengerikan dari pada kematian itu sendiri. Cara Cia Song memandang sang puteri tadi, cara dia memondong sambil mendekapnya yang sempat dilihatnya, membuat dia merasa khawatir sekali. Dia dapat merasakan betapa pemuda sesat itu menatap Pek Hong Nio-cu seperti seekor serigala memandang seekor kelinci!

Sesudah rombongan itu berjalan sekitar dua jam, mereka mulai memasuki sebuah hutan yang cukup lebat. Akan tetapi di dalam hutan itu terdapat sebuah jalan yang cukup lebar, jalan yang memang sengaja dibuat oleh pasukan kerajaan Kin untuk membuat hubungan dari daerah perbatasan sampai ke kota raja menjadi lancar.

Para pedagang yang biasa melakukan perjalanan dalam rombongan besar, yaitu dalam kafilah, membawa barang-barang dagangan dari timur ke barat dan sebaliknya, juga amat memerlukan jalan raya ini sehingga mereka pun turun tangan mengeluarkan biaya untuk memperbaiki jalan itu sehingga sekarang jalan itu merupakan jalan yang cukup lebar dan nyaman.

Akan tetapi, baru kurang lebih satu lie (mil) rombongan pasukan yang dipimpin Cia Song itu memasuki hutan, tiba tiba saja terdengar suara berisik di depan sehingga mereka pun segera menahan kuda masing-masing. Kereta yang berada di tengah-tengah rombongan itu juga segera dihentikan karena mereka semua melihat sebatang pohon besar tumbang menimbulkan suara berisik lalu jatuh berdembum melintang dan menghalangi jalan!

Semua orang merasa heran, lantas mendekati pohon yang tumbang itu. Pohon itu sangat besar, karena itu cabangnya malang melintang memenuhi jalan. Bagi kuda-kuda itu tentu dapat mengambil jalan melalui pohon-pohon di tepi jalan. Akan tetapi karena pohon-pohon itu letaknya berdekatan dan lebat sekali, juga banyak semak belukar, maka tidak mungkin bagi kereta untuk mendapatkan jalan lain kecuali jalan yang terhalang pohon roboh itu.

“Cepat singkirkan pohon itu!” Cia Song memberi perintah.

Para prajurit segera turun tangan. Beramai-ramai mereka memotongi batang pohon lantas menariknya ke pinggir jalan. Pekerjaan itu memakan waktu satu jam lebih, barulah kereta bisa lewat. Akan tetapi, baru saja kereta bergerak, belum ada dua puluh tombak jauhnya, kembali sebatang pohon di depan mereka roboh melintang di jalan!

Cia Song bersama lima orang Ngo-heng Kiam-tin mulai curiga. Robohnya pohon pertama mereka anggap sebagai hal yang kebetulan saja karena mungkin batang pohon itu sudah keropos. Akan tetapi robohnya pohon yang kedua ini tidak mungkin hanya kebetulan saja. Mereka berenam, juga para prajurit, memandang ke sekeliling. Akan tetapi tidak tampak bayangan seorang pun manusia lain di sekitar tempat itu.

Karena tidak dapat menemukan orang lain yang mungkin menjadi penyebab tumbangnya pohon itu, terpaksa Cia Song kembali memerintahkan para prajurit untuk menyingkirkan pohon kedua yang roboh itu. Kini dia melihat hal yang membuat dia bergidik dan merasa seram. Kalau pohon pertama itu tumbang dan patah batangnya, pohon kedua ini tumbang dan jebol berikut akar-akarnya! Tenaga apa yang mampu merobohkan pohon sebesar itu sampai jebol berikut akarnya? Seekor gajah pun belum tentu mampu melakukannya!

Kembali waktu lebih dari satu jam dipergunakan untuk menyingkirkan pohon kedua. Akan tetapi baru saja pohon itu disingkirkan, kembali terdengar bunyi berisik dan di depan sana, pohon berikutnya yang lebih besar lagi tumbang melintang di pinggir jalan!

Sekali ini Cia Song tidak merasa ragu lagi. Pasti ada yang merobohkan pohon pohon itu! Akan tetapi, kiranya tidak mungkin ada manusia yang sanggup merobohkannya. Dia cepat menghampiri kereta di mana gurunya masih duduk, tetapi agaknya Ali Ahmed tidak begitu peduli akan robohnya dua batang pohon tadi.

Sementara itu Thian Liong saling pandang dengan Pek Hong Nio-cu, kemudian pemuda itu tersenyum. Sang puteri juga tersenyum karena mereka merasa yakin bahwa robohnya pohon-pohon secara berturut-turut itu bukan hal kebetulan dan jelas merupakan halangan bagi pasukan itu. Halangan bagi pasukan yang menawan mereka, namun berarti harapan pertolongan bagi mereka.

“Suhu, pasti ada yang sengaja merobohkan pohon-pohon itu! Harap suhu suka keluar dan melakukan pemeriksaan,” katanya.

Ali Ahmed yang tua itu segera keluar lantas turun dari kereta sambil ditopang oleh tongkat bambunya. Dia menggelengkan kepalanya yang bersorban, lalu berkata, “Memang aneh. Kiranya sulit mencari orang yang kuat merobohkan pohon-pohon itu, baik dengan tenaga lahir mau pun batin, kecuali...”

“Kecuali siapa, suhu?”

“Hemm, kecuali setan itu.”

Mendengar ucapan datuk Hui ini, Cia Song dan lima orang Ngo-heng Kiam-tin merinding. Mereka adalah orang-orang yang amat percaya akan setan-setan dan ketahyulan macam itu, seperti juga hampir semua orang pada jaman itu. Bahkan Cia Song cepat menghadap ke arah depan, ke arah pohon yang tumbang lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Paduka yang menjaga dan menguasai hutan, harap maafkan kalau kami telah melanggar wilayah paduka. Hamba berjanji bahwa kelak akan mengirim orang untuk membakar dupa dan bersembahyang di sini. Sekarang ijinkanlah kami melewati jalan ini!”

Lima orang Ngo-heng Kiam-tin, bahkan semua prajurit yang juga tahyul turut pula berlutut di belakang Cia Song. Kusir kereta juga sudah turun lantas berlutut menghadap ke arah pohon ke tiga yang tumbang. Hanya Ali Ahmed yang tidak berlutut.

Dia berdiri, bertopang pada tongkat bambunya dan sepasang matanya yang masih tajam itu mencari-cari ke depan, ke kanan dan kiri. Ketika menyebut setan tadi, dia sama sekali tidak maksudkan hantu. Akan tetapi dia membiarkan saja muridnya serta para prajurit itu keliru menafsirkannya dan menyangka bahwa yang menumbangkan pohon-pohon benar-benar setan atau makhluk halus.

Sesudah berlutut sambil mengucapkan kata-kata minta maaf dan berjanji akan mengirim orang untuk menghormati ‘penguasa hutan’ itu, Cia Song kembali memerintahkan orang-orangnya untuk menyingkirkan pohon ketiga itu.

Akan tetapi tiba-tiba saja, mereka terkejut mendengar suara Pek Hong Nio-cu.

“Pengkhianat-pengkhianat jahanam!”

Cia Song beserta teman-temannya memutar tubuh mereka dan alangkah kaget dan heran hati mereka melihat Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu telah berdiri di atas tanah dan telah bebas dari semua belenggu. Bahkan yang membuat Cia Song amat terkejut adalah ketika melihat betapa dua orang tawanan itu telah memegang pedang masing-masing! Padahal dia sudah merampas kedua pedang mereka itu kemudian menaruhnya di atas punggung kudanya, menyelipkan di sela kuda. Otomatis dia segera menoleh ke arah kudanya yang ditambatkan di tepi jalan dan melihat betapa pedang-pedang itu sudah tidak berada di sela kudanya!

Bukan hanya Cia Song beserta semua temannya yang merasa heran. Bahkan Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu sendiri merasa sangat terheran-heran. Tadi, tepat ketika Ali Ahmed turun dari kereta, mendadak mereka melihat sinar berkelebat menyambar ke dalam kereta kemudian tahu-tahu ikatan tangan mereka sudah putus dan pedang mereka dilempar ke atas pangkuan mereka!

Dengan tangan bebas dan pedang di pangkuan mereka, tentu saja dengan sangat mudah mereka lalu membikin putus semua tali yang mengikat tubuh dan kaki mereka. Kemudian mereka turun dari kereta dengan pedang masing-masing di tangan, lalu Pek Hong Nio-cu mengeluarkan bentakan marah itu.

Dapatlah dibayangkan betapa kagetnya hati Cia Song melihat dua orang tawanan itu telah lolos, bahkan telah memegang pedang mereka kembali. Maka dia segera berkata kepada gurunya. “Suhu, harap suhu cepat robohkan mereka!”

Tadi ketika semua orang memutar tubuh, kakek itu pun turut memutar tubuh dan dia pun merasa terkejut melihat dua orang tawanan itu sudah bebas dari belenggu. Diam-diam dia merasa gentar juga karena sejak pohon pertama tadi dia sudah mempunyai dugaan yang membuat hatinya merasa jeri.

Dan kini, mendengar permintaan muridnya, dan juga untuk menyelamatkan dirinya sendiri mengandalkan bantuan banyak orang, maka dia segera menudingkan tongkatnya ke arah dua orang muda itu. Tongkatnya terbuat dari Bambu Sisik Naga, semacam bambu yang bentuk kulitnya mirip sisik ikan atau naga. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan dia pun mengerahkan ilmu sihirnya.

“Bummm...!”

Tampak asap hitam mengepul lantas tiba-tiba saja tongkat itu terlepas dari tangannya. Di dalam pandangan semua orang, tongkat itu kini telah berubah menjadi seekor naga yang terbang melayang ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu. Naga jadi-jadian itu sangat mengerikan. Matanya mencorong dan moncongnya terbuka lebar, lidahnya terjulur keluar dan mulutnya menyemburkan api!


Akan tetapi dari arah kiri tiba-tiba meluncur sebuah bola api sebesar tangan. Bola api itu tepat menghantam kepala naga jadi-jadian itu.

“Darrrrr...!”

Naga itu terpental dan asap hitam mengepul tebal. Naga lenyap dan tongkat bambu sisik naga itu terlempar ke dekat Ali Ahmed.

Semua orang menengok ke kiri dan tampaklah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih. Pria ini bertubuh sedang, mengenakan pakaian yang hanya terdiri dari kain kuning dilibatkan di tubuhnya, memakai sepatu dari kain yang berlapis besi dan rambutnya diikat pita kuning. Matanya tajam, hidungnya mancung dan mulutnya penuh kesabaran. Wajah yang masih terlihat tampan itu berbentuk bulat telur dengan dagu agak meruncing, bersih tanpa kumis atau jenggot.

Melihat laki-laki ini, Ali Ahmed menjadi marah sekali. Ia cepat berkemak-kemik membaca mantera, lalu sepasang tangannya didorongkan ke depan. Tampak asap hitam bergulung-gulung menyambar ke arah laki laki itu, membawa angin pukulan yang amat dahsyat dan berhawa panas.

“Siancai...!” Laki-laki itu berkata lirih, kemudian tangan kirinya didorongkan seperti hendak menahan serangan jarak jauh yang dahsyat dan berbahaya dari Ali Ahmed.

“Blarrrr...!”

Hawa pukulan berasap hitam yang dahsyat itu seolah bertemu perisai yang amat kuat dan membalik. Tubuh Ali Ahmed langsung terjengkang roboh tanpa dapat bergerak lagi, datuk berdarah Uigur ini sudah tewas seketika.

Cia Song melompat, menghampiri gurunya dan alangkah kagetnya melihat gurunya sudah tewas! Agaknya kakek yang sudah berusia delapan puluh lebih dan daya tahannya sudah lemah itu tidak kuat menerima tenaganya sendiri yang membalik.

“Suhu...!” Thian Long berseru ketika melihat laki-laki berpakaian kuning itu.

“Paman Sie...!” Pek Hong Nio-cu juga berseru.

Laki-laki yang bukan lain adalah Tiong Lee Cin-jin itu memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu, lalu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, nampaknya bahagia sekali, kemudian sekali berkelebat dia sudah lenyap dari sana.

Melihat dua orang tawanan itu telah lolos, Ngo-heng Kiam-tin segera mengerahkan semua prajurit untuk menerjang dan mengeroyok. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mengamuk dengan pedang mereka.

Lima orang jagoan dari Pangeran Hiu Kit Bong itu mencari-cari, akan tetapi batang hidung Cia Song sudah tak nampak lagi. Diam-diam pemuda ini sudah cepat melarikan diri ketika melihat gurunya tewas, apa lagi mendengar Thian Liong menyebut ‘suhu’ kepada laki-laki setengah tua yang tadi merobohkan gurunya. Maka tahulah dia bahwa kakek yang sangat lihai itu tentulah Tiong Lee Cin-jin sehingga dia menjadi ketakutan, diam-diam terus kabur dari situ!

Memang demikianlah watak seorang yang berbudi rendah. Paling penting menyelamatkan diri sendiri. Tidak peduli kepada orang-orang yang menjadi sahabat, rekan dan sekutunya, bahkan dia tidak peduli kepada gurunya yang tewas!

Sesudah tahu bahwa Cia Song yang mereka andalkan, bahkan yang menjadi pemimpin mereka itu tidak muncul karena jelas sudah melarikan diri, lima orang Ngo-heng Kiam-tin menjadi panik dan gentar. Tentu saja mereka segera menjadi ‘makanan empuk’ bagi Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong, walau pun lima orang itu dibantu oleh sembilan belas orang prajurit berikut seorang prajurit yang tadi menjadi kusir kereta.

“Jangan bunuh mereka, Nio-cu. Kita tawan mereka hidup-hidup untuk dijadikan saksi akan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong!” Tentu saja Thian Liong berseru begini terutama sekali untuk mencegah puteri itu menyebar maut.

Pek Hong Nio-cu dapat memaklumi kebenaran ucapan Thian Liong, maka pada waktu dia mengamuk, pedangnya hanya merobohkan para pengeroyok tanpa membunuhnya. Thian Liong juga merobohkan banyak orang dan tak lama kemudian, Ngo-heng Kiam-tin beserta dua puluh orang prajurit itu sudah roboh semua oleh tamparan, tendangan, atau terluka oleh pedang.

Thian Liong mempergunakan tali-tali yang dibawa oleh pasukan itu untuk mengikat kedua tangan mereka semua di belakang tubuh. Mereka menurut saja karena sudah terluka dan merasa sudah tidak mungkin dapat melawan dua orang muda sakti itu. Terutama mereka merasa takut sekali terhadap Pek Hong Nio-cu. Dari sikap puteri itu mereka pun maklum bahwa kalau tadi tidak dicegah Thian Liong, mereka semua pasti akan dibunuh oleh Puteri Moguhai yang sudah marah dan benci bukan kepalang kepada mereka yang menjadi kaki tangan pemberontak.

Setelah tangan mereka semuanya diikat, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu lalu membawa mereka ke markas pasukan penjaga tapal batas yang dipimpin Pangeran Kuang sebagai komandannya. Benteng pasukan itu sudah tak berapa jauh lagi dari situ sehingga setelah melakukan perjalanan cepat, pada sore harinya mereka pun tiba di benteng itu.

“Thian Liong, benarkah penolong kita tadi adalah suhu-mu?” tanya Pek Hong Nio-cu dalam perjalanan menggiring para tawanan itu menuju markas pasukan penjaga perbatasan.

“Tak salah lagi, Nio-cu. Masa aku bisa lupa kepada guruku sendiri? Akan tetapi, mengapa engkau menyebutnya paman Sie? Benarkah suhu adalah Paman Sie seperti yang pernah kau ceritakan kepadaku itu?”

“Benar, Thian Liong. Biar pun dulu ketika aku melihatnya dia berpakaian biasa, tetapi aku belum melupakan wajahnya. Dialah orangnya yang oleh ibu diakui sebagai sahabat baik dan yang disebut Paman Sie. Dialah yang memberi perhiasan kepala yang kupakai ini dan memberi tiga buah kitab pelajaran ilmu silat. Akan tetapi mengapa setelah menolong kita, dia pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu dan bicara dengannya?”

“Entahlah, Nio-cu. Akan tetapi asuhu adalah seorang yang arif bijaksana. Mungkin belum saatnya kita dapat berbicara dengan beliau. Kita tunggu saja, kalau sudah tiba saatnya, tentu aku dapat bertemu dengan guruku dan engkau dapat bertemu dengan pamanmu itu. Akan tetapi aku sungguh heran, bagaimana guruku itu menjadi sahabat ibumu dan dikenal sebagai Paman Sie? Sungguh aku tidak mengerti.”

“Apakah engkau tidak mengetahui she (Marga) gurumu itu?” tanya Pek Hong Nio-cu.

Thian Liong menggelengkan kepalanya.

“Suhu tidak pernah memperkenalkan nama aslinya. Yang aku tahu, beliau disebut Tiong Lee Cin-jin dan berjuluk Yok-sian (Dewa Obat atau Tabib Dewa). Beliau juga tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya.”

“Nanti akan kutanyakan kepada ibuku. Aku merasa heran sekali, bagaimana gurumu yang namanya juga sudah sering kudengar itu, Tong Lee Cin-jin, ternyata adalah seorang yang oleh ibuku diaku sebagai sahabatnya dan mengharuskan aku memanggilnya Paman Sie padahal dia juga menjadi guruku?”

“Sudahlah Nio-cu. Kalau tiba saatnya, suhu pasti akan mau menceritakan tentang hal itu. Sekarang engkau hendak membawa orang-orang ini ke mana?”

“Akan kuserahkan kepada Paman Kuang yang bentengnya tak jauh lagi dari sini. Engkau benar, orang-orang ini dapat menjadi saksi penting bagi pengkhianatan Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak. Aku akan minta Paman Kuang secepatnya kembali ke kota raja sambil membawa pasukannya untuk menumpas para pemberontak.”

Pada waktu mereka tiba di benteng, Pangeran Kuang yang menjadi komandan pasukan penjaga tapal batas menyambut mereka dengan gembira akan tetapi juga heran.

“Moguhai. Lagi-lagi engkau melakukan perjalanan begitu jauh! Bahkan sekarang engkau membawa tawanan begini banyak! Apa artinya ini dan siapa pula... pemuda ini?”

Pangeran Kuang berusia empat puluh tahun lebih, berpakaian sebagai seorang panglima dan berwajah tampan, tubuhnya tinggi besar.

Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu tersenyum. “Paman, apakah paman tidak mengajak kami duduk dulu dan memerintahkan orang-orangmu menahan orang orang yang kutawan itu? Kami lelah sekali, paman.”

Pangeran Kuang baru menyadari kelalaiannya. “Ah, aku sampai lupa karena kunjunganmu yang tiba-tiba ini benar-benar mengejutkan aku. Mari, silakan duduk di dalam dan engkau juga, orang muda.” Dia menyuruh para pengawal untuk mengurus tawanan.

Mereka memasuki ruangan lantas duduk berhadapan. Pek Hong Nio-cu segera bercerita karena dia tahu bahwa waktunya sudah mendesak sekali.

“Paman, orang yang kutawan itu... oh ya, aku lupa, ini adalah Souw Thian Liong, sahabat baikku yang membantuku menghadapi para pengkhianat itu! Ketahuilah, paman. Orang-orang yang kami tawan itu adalah anak buah Paman Pangeran Hiu Kit Bong yang sudah berkhianat dan sedang merencanakan pemberontakan!”

Pangeran Kuang membelalakkan matanya. “Apa?! Kanda Pangeran Hiu Kit Bong hendak memberontak?”

“Benar, paman. Hal ini memang sudah kucurigai dan kuduga. Akan tetapi sekarang sudah terbukti. Mereka ini diutus oleh Pangeran Hiu Kit Bong untuk menangkap aku, agar dapat dijadikan sandera dan memaksa Sribaginda untuk menyerahkan tahta kepadanya. Orang-orang ini dapat dijadikan saksi. Jika tidak ada bantuan Souw Thian Liong, tentu aku telah tertawan oleh mereka. Karena itu cepatlah, paman. Hanya Paman Kuang saja yang dapat menyelamatkan kerajaan dan membasmi para pemberontak itu. Cepat paman kerahkan pasukan dan kembali ke kota raja bersama kami. Aku khawatir kalau-kalau kita terlambat. Aku khawatir akan keselamatan ayah.”

Mendengar ini, Pangeran Kuang terkejut dan marah bukan main. Pangeran Hiu Kit Bong adalah kakak tirinya, satu ayah berlainan ibu. Dia diangkat menjadi panglima oleh kaisar, juga kakak tirinya, sesuai dengan kepandaiannya. Pangeran Hiu Kit Bong juga telah diberi kedudukan sebagai Menteri Kebudayaan merangkap penasehat kaisar. Kalau Pangeran Hiu Kit Bong sekarang hendak memberontak, sungguh dia merupakan seorang yang tidak tahu diri, tidak mengenal budi, angkara murka dan pengkhianat!

“Hemm, sungguh tidak disangka Kanda Pangeran Hiu Kit Bong akan melakukan tindakan terkutuk seperti itu!” kata Pangeran Kuang. “Baiklah, aku akan mempersiapkan pasukan dan kita berangkat sekarang juga!”

Demikianlah, Pangeran Kuang lalu mempersiapkan sebagian dari pasukannya berjumlah lima ribu orang dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah memimpin pasukan itu berangkat menuju ke kota raja.

Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong mendahului pasukan, membalapkan kuda pilihan yang diberikan Pangeran Kuang kepada mereka berdua…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner