KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-37


Cia Song berhasil melarikan diri sebelum Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mengamuk. Nyalinya sudah terbang begitu dia melihat munculnya kakek sakti yang membuat gurunya tewas terpukul tenaganya sendiri yang membalik. Datuk Hui yang menjadi gurunya saja, sekali menyerang Tiong Lee Cin-jin lantas roboh sendiri. Apa lagi dia. Baru menghadapi Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu saja dia akan sulit mendapatkan kemenangan, apa lagi di sana ada manusia setengah dewa yang sakti itu!

Cia Song berlari cepat sekali menuju ke kota raja kerajaan Kin dan langsung menghadap Pangeran Hiu Kit Bong. Melihat malam-malam Cia Song datang menghadapnya dengan muka pucat dan basah keringat, Pengeran Hiu Kit Bong menjadi kaget dan heran. Dia pun dapat menduga apa yang sudah terjadi, maka tiba-tiba saja dia menggebrak meja dengan marah sekali.

“Sialan! Ternyata kepercayaanku kepadamu selama ini salah tempat, Cia-sicu! Melakukan tugas begitu saja engkau gagal sama sekali, bahkan semua anak buahmu kini terancam bencana. Celaka!”

“Akan tetapi saya sama sekali tidak menyangka bahwa di sana akan muncul Tiong Lee Cin-jin, Pangeran! Tadinya kami sudah berhasil menangkap Souw Thian Liong dan Puteri Moguhai, mereka sudah kami belenggu dan hendak kami bawa pulang ke sini. Siapa kira di tengah jalan muncul Tiong Lee Cin-jin yang mempunyai ilmu kepandaian seperti dewa. Bahkan Ali Ahmed, guru saya sendiri, tewas ketika menyerangnya!

Pangeran Hiu Kit Bong berteriak memanggil pengawal, lalu memerintahkan pengawal itu mengundang para panglima sekutunya supaya malam itu juga datang berkumpul. Mereka segera datang satu demi satu, dan sesudah semua berkumpul lengkap, Pangeran Hiu Kit Bong lalu berkata,

“Saudara-saudara semua, Puteri Moguhai sudah pergi ke perbatasan barat mengunjungi Pangeran Kuang. Tentu dia bermaksud untuk mengadu dan minta bantuan pasukan yang berjaga di perbatasan. Karena itu kita tidak boleh tinggal diam. Malam ini juga kita harus mempersiapkan pasukan dan besok pagi-pagi kita menyerbu istana, kita tangkap Kaisar. Jangan sampai kita terlambat. Kalau kaisar sudah kita sandera, biar pun Pangeran Kuang datang bersama pasukannya, dia tidak akan mampu berbuat apa-apa demi keselamatan Kaisar.”

Pangeran Hiu Kit Bong tidak menceritakan kegagalan orang-orangnya menangkap Puteri Moguhai karena hal itu akan membuat sekutunya gentar dan patah semangat.

Setelah merundingkan bagaimana caranya melakukan pengepungan terhadap istana, para Panglima yang dipimpin Panglima Kiat Kon itu lantas meninggalkan gedung Pangeran Hiu Kit Bong untuk mempersiapkan pasukan masing-masing. Mereka terdiri dari empat orang perwira, dikepalai Panglima Kiat Kon.

Sementara itu, Cia Song sendiri ditugaskan menjadi pengawal pribadi Pangeran Hiu Kit Bong. Sebetulnya Cia Song segan menjadi pengawal pribadi pangeran itu dan dia sudah ingin pulang saja ke selatan untuk melapor kepada Perdana Menteri Chin Kui. Akan tetapi dia merasa sungkan juga karena sudah gagal menangkap Puteri Moguhai, malah semua anak buahnya mungkin sudah tertawan sehingga hal itu tentu saja membahayakan karena rahasia Pangeran Hiu Kit Bong akan terbongkar. Karena itu maka Pangeran Hiu Kit Bong hendak melakukan serangan mendadak sebelum terlambat.

Akan tetapi, ketika persekutuan pemberontak itu tengah mengumpulkan pasukan mereka, ternyata ada prajurit yang diam-diam masih setia kepada Kaisar dan pada malam itu juga berhasil meloloskan diri dari kesatuannya lalu pergi melaporkan persiapan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong kepada Panglima Muda Ceng yang setia kepada Kaisar kerajaan Kin.

Panglima Muda Ceng terkejut bukan main. Malam hari itu juga dia mengumpulkan teman-teman yang masih setia kepada Kaisar, lalu menarik pasukan seadanya untuk dikerahkan menjaga istana! Juga diam-diam Panglima Muda Ceng melaporkan kepada kaisar yang tentu saja menjadi terkejut, khawatir dan marah bukan kepalang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rakyat yang tinggal di kota raja menjadi geger karena melihat banyak sekali tentara mengepung istana kaisar. Akan tetapi, dari tembok istana muncul pasukan lain yang menghadang. Terjadilah pertempuran hebat di sekeliling luar istana.

Pangeran Hiu Kit Bong terkejut dan marah sekali melihat betapa istana dijaga oleh banyak prajurit. Dia memerintahkan pasukannya supaya bergerak dan menyerbu. Maka terjadilah pertempuran hebat sehingga rakyat yang menjadi penduduk kota raja cepat berserabutan melarikan diri mengungsi keluar dari kota raja!

Karena merasa penasaran, Pangeran Hiu Kit Bong segera keluar untuk memimpin sendiri pasukannya yang dipimpin oleh Panglima Kiat Kon dan para perwira sekutunya. Cia Song yang ingin menebus kegagalannya memperlihatkan kepandaiannya. Di hadapan Pangeran Hiu Kit Bong dia mengamuk dengan pedangnya sehingga banyak tentara pihak pasukan pembela kaisar yang roboh dan tewas di tangannya.

Walau pun pasukan pemberontak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan pasukan pembela kaisar, namun pasukan yang dipimpin Panglima Muda Ceng dan rekan-rekannya itu melakukan perlawanan mati-matian! Maka, setelah pertempuran berlangsung sampai satu hari lamanya, pasukan pemberontak belum juga dapat menduduki istana.

Pasukan pembela kaisar cepat menutup pintu benteng istana lantas memperkuat benteng istana dengan balok-balok yang kokoh. Biar pun banyak prajurit mereka yang tewas, akan tetapi semangat mereka masih tetap berkobar. Sepanjang malam itu mereka melakukan penjagaan ketat secara bergiliran, memberi kesempatan kepada prajurit untuk beristirahat sambil merawat luka-luka mereka.

Kaisar dan keluarganya sudah merasa khawatir sekali. Mereka tahu bahwa pasukan yang melindungi mereka jumlahnya kalah besar jika dibandingkan pasukan para pemberontak. Mereka mendengar pula bahwa kalau siang tadi pertempuran masih terjadi di luar istana, maka sekarang semua prajurit pembela kaisar sudah mundur memasuki benteng istana dan pintu gerbang telah ditutup. Kini mereka hanya bisa mempertahankan benteng istana. Apa bila benteng istana sampai bobol, berarti pasukan pembela kaisar kalah dan pasukan pemberontak tentu akan menyerbu istana…..!

********************

Malam itu gelap sekali, bahkan bintang-bintang di langit juga tidak tampak karena tertutup mendung tebal. Hawa udara dingin bukan kepalang. Pasukan kedua pihak menggunakan kesempatan itu untuk melepas lelah sesudah sehari tadi bertempur mati-matian. Benteng istana dijaga ketat oleh pasukan pembela kaisar. Ronda berjalan terus sepanjang malam dan dilakukan secara bergiliran.

Akan tetapi pada malam yang gelap dan dingin itu tampak dua bayangan berkelebat cepat sekali. Ilmu meringankan tubuh mereka begitu hebat sehingga tidak ada penjaga di dalam benteng yang sempat melihat mereka saking cepatnya mereka bergerak.

Tubuh kedua bayangan itu melayang ke atas tembok benteng, kemudian meluncur turun ke sebelah dalam. Mereka menyelinap di antara kegelapan yang sangat pekat dan tidak lama kemudian tubuh mereka sudah melayang naik ke atas wuwungan istana!

Dua orang itu adalah Cia Song dan Panglima Kiat Kon sendiri! Mereka berdua menerima tugas istimewa dari Pangeran Hiu Kit Bong.

Melihat betapa pasukan pembela kaisar tetap melawan secara mati-matian, Pangeran Hiu Kit Bong menjadi tidak sabar lagi. Dia segera memanggil Cia Song lantas mengingatkan pemuda ini akan kegagalannya menangkap Puteri Moguhai.

“Aku mempunyai tugas penting dan kuharap sekali ini engkau bisa melaksanakan dengan baik dan berhasil, Cia-sicu, untuk menebus kegagalanmu menawan Puteri Moguhai,” kata Pangeran itu.

Diam-diam Cia Song mendongkol. Tadi siang dia sudah memperlihatkan jasanya dengan merobohkan banyak prajurit pembela kaisar, namun tetap saja pangeran ini masih merasa penasaran karena kegagalannya menangkap Puteri Moguhai.

“Tugas apa yang harus saya lakukan, pangeran?”

“Malam ini mereka tentu sedang beristirahat dan lengah. Oleh karena itu aku perintahkan engkau bersama Panglima Kiat Kon untuk mempergunakan kepandaian kalian menyusup masuk istana dan menawan Sri Baginda lalu membawanya ke sini. Kalau kalian berhasil, berarti besok kita tidak perlu bertempur lagi. Kalau pun pasukan Pangeran Kuang datang, mereka juga takkan mampu berbuat apa-apa dan tidak berani menyerang kita yang sudah menyandera Sri Baginda Kaisar.”

“Saya siap melaksanakan perintah itu, pangeran!” kata Panglima Kiat Kon dengan tegas. “Kalau Cia-sicu menemani saya, tugas itu pasti akan dapat kami lakukan dengan berhasil baik!”

“Bagaimana dengan engkau, Cia-sicu?” tanya Pangeran Hiu Kit Bong sambil memandang wajah pemuda itu dengan tatapan tajam.

Meski pun di dalam hatinya dia mendongkol sekali, namun Cia Song tidak dapat menolak. Dia mengangguk dan menjawab, “Saya sanggup, hanya tidak berani memastikan hasilnya karena di istana tentu sudah diadakan penjagaan yang sangat kuat.”

Demikianlah, Cia Song dan Panglima Kiat Kon lalu menerobos malam yang gelap dingin itu. Dengan ginkang (ilmu meringankan tubuh) mereka yang sudah tinggi, mereka berhasil melompati benteng tanpa diketahui prajurit pembela kaisar sehingga akhirnya mereka pun berhasil tiba di wuwungan istana!

Dengan petunjuk Panglima Kiat Kon yang mengenal daerah itu, mereka lantas meneliti di mana kiranya kamar kaisar berada. Namun, selagi mereka berdua baru saja melangkah, tiba-tiba kaki mereka terpeleset genteng wuwungan istana yang agaknya bergerak sendiri! Mereka terkejut dan merasa aneh. Akan tetapi, ketika mereka memandang ke sekeliling yang gelap, mereka tidak mendengar apa pun.

Mereka lantas melangkah lagi. Akan tetapi baru beberapa langkah, genteng yang mereka injak kembali bergerak sehingga mereka terpeleset dan hampir saja jatuh. Untung mereka masih mampu bertahan sehingga tidak terjatuh.

“Ehh, apa ini, sicu?”

Cia Song merasa bulu tengkuknya meremang. “Entahlah, ciangkun, mungkin ini kebetulan saja…”

Mendadak mereka berdua merasa betapa ada benda kecil menyambar ke arah mereka. Mereka cepat-cepat mengelak, akan tetapi sungguh luar biasa, benda kecil itu tetap saja mengenai pundak mereka seolah benda itu adalah benda hidup yang terbang mengejar ketika mereka mengelak.

Mereka menahan seruan kaget karena pundak yang terkena benda itu terasa sangat nyeri dan untuk beberapa detik lamanya lengan di pundak itu menjadi kesemutan dan lumpuh. Ketika dua buah benda kecil itu jatuh ke atas genteng, terdengar suara berketikan seperti batu kerikil yang jatuh ke atas genteng.

Mereka terkejut bukan main. Penyambit batu kerikil itu pasti memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga mereka tidak mampu mengelak sama sekali. Maklumlah keduanya bahwa di situ ada orang sakti yang sengaja mengganggu mereka. Bila tadi dua kali kaki mereka sampai terpeleset, tentu juga akibat ulah orang yang mengganggu mereka itu.

“Ciangkun, kita pergi. Cepat!” kata Cia Song yang menjadi ketakutan. Kalau sampai orang sakti itu muncul dan mereka berdua ketahuan lantas dikepung ribuan orang prajurit, maka akan celakalah mereka!

Keduanya cepat meninggalkan wuwungan istana dan dengan ginkang mereka yang tinggi, mereka berlompatan dan keluar dari benteng istana itu. Tetapi setibanya di luar benteng, dalam kegelapan malam itu Panglima Kiat Kon tidak dapat menemukan Cia Song.

Dia memanggil-manggil, akan tetapi Cia Song tidak menjawab. Maka tahulah panglima itu bahwa diam-diam Cia Song telah meninggalkannya. Dia merasa dongkol sekali. Tentu Cia Song takut bertemu Pangeran Hiu Kit Bong karena lagi-lagi gagal melaksanakan tugasnya malam ini.

Kiat Kon kembali kepada Pangeran Hiu Kit Bong, menceritakan mengenai kegagalannya. “Entah siapa yang mengganggu kami berdua, akan tetapi jelas bahwa dia adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Maka terpaksa kami tidak dapat melanjutkan rencana itu, Pangeran, karena dengan adanya orang yang demikian saktinya, tentu usaha kami akan gagal, bahkan tidak mustahil kalau kami akan tertangkap atau terbunuh. Maka kami segera meninggalkan wuwungan istana.”

Pangeran Hiu Kit Bong mengepal tinju. “Sialan, gagal lagi! Mana orang she Cia itu?”

“Ketika saya meloncat keluar dari benteng istana, Cia-sicu sudah tidak terlihat, Pangeran. Saya kira dia sengaja pergi meninggalkan kota raja karena tidak berani bertemu dengan paduka.”

Pangeran Hiu Kit Bong marah sekali. Dia memerintahkan sekutunya supaya menyiapkan pasukan untuk besok pagi-pagi melakukan penyerangan besar-besaran. Dia berpendapat bahwa besok benteng istana harus berhasil dibobolkan dan kaisar harus dapat ditangkap. Kalau tidak maka dia khawatir pasukan Pangeran Kuang keburu datang dan menyerang mereka.

Namun ternyata Pangeran Hiu Kit Bong masih mempunyai rencana jahat lain yang belum dilaksanakan, akan tetapi mengandung harapan besar sekali akan lebih berhasil dari pada tugas yang gagal dilaksanakan oleh Cia Song dan Kiat Kon tadi. Pangeran yang amat licik ini diam-diam telah berhasil memperalat dua orang pengawal pribadi kaisar.

Dengan menyandera keluarga dua orang pengawal pribadi kaisar dan mengancam akan membunuh isteri dan anak-anak mereka, pangeran itu telah memerintahkan mereka untuk membunuh kaisar malam itu. Kalau hal ini tidak dilakukan maka seluruh keluarga mereka yang telah disandera akan dibunuh…..!

********************

Malam itu Kaisar kerajaan Kin berkumpul dengan semua isteri dan anak-anaknya di ruang dalam. Mereka tak berani tidur di kamar masing-masing seperti biasanya. Mereka semua duduk di dalam ruangan dengan wajah membayangkan ketakutan, bahkan di antara para isteri dan puteri istana ada yang terisak perlahan. Mereka semua maklum bahwa kalau pasukan yang melindungi mereka kalah, mereka akan terjatuh ke tangan pemberontak.

Kaisar sendiri berdiri dengan tegar dan sama sekali tidak nampak ketakutan. Di wajahnya yang tampan dan gagah membayang penasaran dan kemarahan. Dia merasa penasaran sekali mendengar bahwa pemimpin pemberontakan itu ternyata adalah Pangeran Hiu Kit Bong, kakak tirinya, orang yang telah diberikan kedudukan tinggi. Sama sekali tak pernah disangkanya! Sekarang dia merasa menyesal kenapa dia tidak mendengarkan peringatan Moguhai, puterinya yang kini tidak berada di istana.

Puteri Moguhai pernah memperingatkan supaya dia berhati-hati terhadap kakak tirinya itu dan jangan terlalu percaya kepadanya. Akan tetapi dia malah menertawakan puterinya itu yang dianggapnya terlalu berprasangka buruk. Sekarang peringatan puterinya itu menjadi kenyataan!

Dia menghela napas panjang. Ketika dia melayangkan pandang matanya kepada belasan orang selir-selirnya, dia melihat Tan Siang Lin, ibu kandung Moguhai, sedang duduk tidak jauh darinya. Hanya selir keturunan pribumi Han ini sajalah yang kelihatan tabah dan tidak membayangkan ketakutan. Dia tetap tenang dan anggun sehingga kaisar teringat kembali kepada puteri mereka.

“Dinda Siang Lin, sungguh disayangkan Moguhai tidak berada di sini. Tahukah engkau ke mana dia pergi?” tanya kaisar dengan suara lembut kepada selirnya tercinta ini.

Tan Siang Lin memandang kepada kaisar. Sejak tadi wanita ini sering kali menengok dan memandang kepada suaminya. Di dalam hati dia merasa kagum dan juga bangga melihat pria yang menjadi suaminya itu sama sekali tidak tampak khawatir atau takut menghadapi keadaan yang amat gawat dan berbahaya itu.

“Hamba tidak tahu, Sri Baginda. Paduka mengetahui sendiri betapa puteri kita itu senang sekali berkelana.”

Kaisar mengangguk-angguk. “Aku percaya bahwa Moguhai tentu sudah mendengar akan peristiwa di kota raja ini dan dia pasti akan datang untuk menyelamatkan kita semua.”

“Semoga saja demikian, Sri Baginda,” kata Tan Siang Lin.

Dalam ruangan yang luas itu terdapat belasan orang prajurit pengawal pribadi kaisar yang melindungi keluarga istana itu. Mereka berdiri dengan pedang di tangan, menjaga di pintu dan jendela-jendela yang terbuka. Rata-rata wajah mereka terlihat tegang, karena mereka pun maklum bahwa kalau pertahanan pasukan pembela kaisar bobol, maka mereka harus melindungi keluarga kaisar dengan taruhan nyawa.

Dua orang prajurit pengawal pribadi yang berdiri menjaga di sebelah belakang Kaisar pada jarak lima meter mendadak bergerak maju sambil mengangkat pedang menyerbu ke arah Kaisar!


“Ampunkan hamba, Sribaginda!” seru yang seorang.

“Ampunkan hamba, hamba... terpaksa membunuh paduka!” seru orang kedua.

Semua orang menjadi terkejut dan tertegun. Para prajurit pengawal lainnya juga terpukau, sama sekali tidak sempat mencegah karena dua orang itu sudah menyerang kaisar. Yang seorang membacokkan pedang dari atas, orang kedua menusukkan pedangnya.

Tetapi tiba-tiba tampak dua sinar hijau kecil meluncur dari arah jendela dan dua sinar hijau ini langsung menyambar ke arah tangan kedua orang prajurit pengawal yang memegang pedang. Mereka berdua berteriak mengaduh, lalu pedang mereka terlepas dari pegangan, jatuh berdenting ke atas lantai dan dengan tangan kiri mereka memegangi lengan kanan masing-masing di mana menancap sehelai daun hijau! Para prajurit segera berlompatan dan meringkus dua orang prajurit pengawal yang tiba-tiba menyerang kaisar itu.

Tan Siang Lin segera bangkit berdiri dari kursinya, memandang ke arah jendela dari mana sinar hijau tadi meluncur masuk. Wajahnya nampak berseri, kedua matanya bersinar dan dia pun berseru girang.

“Sie-ko (kanda Sie)...!” Tetapi dia segera sadar dan cepat menahan seruannya sehingga tidak terdengar jelas.

“Jangan bunuh. Seret mereka ke hadapanku!” kata kaisar dengan tegas, sama sekali tak menjadi panik oleh peristiwa itu. Dua orang itu segera didorong berlutut di hadapan kaisar di mana mereka menyembah-nyembah sambil menangis!

“Ampun, Yang Mulia…! Ampunkan hamba berdua yang terpaksa...,” keluh mereka dalam tangisan mereka.

“Hemm, siapa yang telah memaksa kalian melakukan pengkhianatan hendak membunuh kami?” bentak kaisar.

Seorang dari mereka cepat menyembah dan berkata ketakutan, “Hamba berdua terpaksa melaksanakan perintah Pangeran Hiu Kit Bong untuk membunuh paduka. Apa bila hamba tidak mau, maka seluruh keluarga hamba berdua yang sudah disandera akan dibunuh.”

Kaisar dan semua orang melihat jelas betapa sehelai daun menancap pada pergelangan kedua orang itu hingga lengan mereka berdarah. Semua orang merasa takjub. Bagaimana mungkin sehelai daun dapat menancap pada lengan tangan dua orang itu hingga mereka gagal membunuh kaisar? Padahal daun hijau basah itu amat lunak dan lentur sekali!

“Jebloskan mereka dalam tahanan, jangan bunuh,” kata kaisar kepada para pengawalnya.

Kedua orang itu membentur-benturkan dahi mereka di lantai sambil menghaturkan terima kasih kepada kaisar. Akan tetapi dua orang prajurit segera memegang lengan mereka lalu menarik mereka keluar dari ruangan itu.

Kaisar menoleh kepada Tan Siang Lin, “Dinda Siang Lin, tadi engkau memandang ke arah jendela sambil memanggil seseorang. Siapa yang kau panggil itu? Apakah engkau melihat seseorang?”

Wajah Siang Lin berubah kemerahan. “Hamba tidak melihat seseorang, Sribaginda, akan tetapi hamba dapat menduga siapa orangnya yang sudah menyelamatkan paduka. Pasti dia adalah guru puteri kita Moguhai, sebab hanya dialah kiranya yang mampu melukai dua orang tadi hanya dengan menggunakan sehelai daun.”

“Luar biasa! Siapakah nama guru Moguhai itu?” tanya kaisar. Kehadiran seorang manusia sesakti itu sedikit banyak telah membesarkan hatinya sehingga dia merasa terlindung oleh suatu kekuatan yang hebat.

Jantung di dalam dada Siang Lin berdebar. Dia merasa serba salah, akan tetapi dia harus menjawab pertanyaan kaisar yang menjadi suaminya itu.

“Hamba hanya mendengar bahwa guru Moguhai itu bermarga Sie, Sri baginda.”

“Hemm, kenapa dia melindungiku secara diam-diam? Kalau dia mau muncul, mungkin dia dapat memberi tahu kami di mana adanya Moguhai sekarang ini.”

Tiba-tiba saja tampak benda putih melayang masuk dari lubang jendela. Seorang prajurit pengawal cepat menangkapnya dan ternyata benda itu adalah sehelai kertas putih.

“Apa itu?” tanya kaisar.

“Sehelai kertas putih yang ada tulisannya, Yang Mulia,” kata pengawal itu.

“Cepat bawa ke sini!” perintah Sri Baginda dan prajurit itu segera menyerahkan kertas itu kepada kaisar.

Kaisar membacanya dan seketika wajahnya berseri. Dia menengok ke arah jendela lantas berkata dengan suara lantang.

“Orang gagah, siapa pun adanya engkau, kami berterima kasih sekali padamu!”

Dengan wajah berseri Kaisar lalu menyerahkan surat itu kepada Siang Lin yang langsung membacanya. Kedua mata selir kaisar ini menjadi basah saking bahagia dan terharunya membaca isi kertas bertulis itu.

Sekarang Moguhai sedang menuju kota raja bersama Pangeran Kuang dan pasukannya. Pertahankan istana sampai mereka datang.

Surat itu lalu berpindah-pindah tangan. Mula-mula Siang Lin memberikan surat itu kepada permaisuri yang setelah membacanya menyerahkan kepada para selir. Mereka bergantian membaca dan semua wajah menjadi berseri gembira. Timbul harapan dalam hati mereka. Pasukan yang dipimpin Pangeran Kuang dan Pureri Moguhai akan menolong mereka!

“Biar aku sendiri yang memimpin pertahanan istana!” Kaisar timbul semangatnya dan dia pun melangkah keluar dari ruangan itu menemui para perwira yang setia kepadanya untuk mengawasi sendiri pasukan yang mempertahankan istana.

Dengan munculnya kaisar sendiri ke tengah-tengah mereka, para prajurit yang membela kaisar segera bersorak gembira dan semangat mereka menjadi berkobar, apa lagi setelah mereka mendengar bahwa bala bantuan segera datang…..!

********************

Pada esok harinya, diiringi sorak-sorai yang gegap gempita serta bunyi terompet, tambur dan canang, pasukan pemberontak menyerbu sambil berusaha mendobrak pintu gerbang tebal yang terbuat dari baja itu. Ada pula yang mempergunakan tangga untuk naik ke atas tembok benteng istana. Pasukan pembela kaisar segera menyambut dari dalam sehingga terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian.

Anak panah meluncur dari luar dan dalam seperti hujan. Bunyi denting beradunya senjata bercampur sorak-sorai, teriakan-teriakan marah, dan jerit-jerit kesakitan memenuhi udara bersama debu yang mengepul tebal. Darah mulai berceceran membasahi bumi. Perang! Puncak ulah nafsu yang menguasai hati dan pikiran manusia, membuat manusia bahkan lebih ganas dari pada binatang.

Karena jumlah pasukan pemberontak hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan pasukan pembela kaisar, maka pasukan pembela kaisar tentu saja mulai kewalahan dan terdesak hebat. Bahkan sudah banyak pihak penyerang yang berhasil naik ke atas tembok benteng dan di sana sudah terjadi pertempuran seru.

Pasukan pemberontak mulai mendekati pintu gerbang dan mereka mempergunakan kayu balok besar yang digotong beramai-ramai untuk mendobrak pintu gerbang baja. Suaranya nyaring menggelegar setiap kali ujung balok itu menghantam pintu gerbang.

Dengan mengandalkan benda-benda berat, para prajurit pembela kaisar mempergunakan segala daya untuk mempertahankan pintu gerbang itu. Namun mereka kalah kuat karena kalah banyak sehingga akhirnya pintu gerbang yang tebal dan besar itu jebol lalu roboh ke dalam sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk dan belasan orang prajurit di sebelah dalam yang tadi mempertahankan pintu itu, tertimpa pintu besi yang amat berat itu hingga tewas terhimpit.

Bagai air bah mengamuk para prajurit pemberontak menyerbu melalui pintu gerbang yang sudah terbuka itu. Prajurit pembela kaisar yang berada di sebelah dalam menyambut dan terjadilah pertempuran seru. Karena lubang pintu itu tidak terlalu besar, hanya sekitar tiga tombak lebarnya, maka para penyerbu tidak dapat masuk terlalu banyak. Hal ini membuat pertahanan sebelah dalam masih kuat.

Puluhan orang prajurit penyerbu yang berhasil masuk disambut oleh ratusan orang prajurit pembela kaisar dan yang di luar terhalang oleh yang berada di depan. Karena itu untuk sementara pertahanan masih kuat. Betapa pun juga keadaan sudah sangat gawat karena dapat diramalkan bahwa tidak lama lagi pasti pasukan pemberontak akan dapat menyerbu ke dalam bangunan istana.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner