KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-38


Kaisar memimpin sendiri para prajurit yang setia kepadanya. Dia memberi komando. Ada yang menyambut serbuan lewat gapura atau gerbang yang daun pintunya sudah roboh, ada yang diperintahkan tetap menjaga di atas tembok benteng untuk menghalau musuh yang memasuki benteng lewat tembok.

Pada saat yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar sorak-sorai bercampur suara terompet, genderang dan canang. Para prajurit pemberontak kaget bukan main dan tiba-tiba mereka menjadi kacau-balau ketika diserang oleh pasukan yang baru saja datang, pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Kuang dan Puteri Moguhai bersama Thian Liong!

Puteri Moguhai didampingi Thian Liong lalu mengamuk, membuka jalan darah memasuki kerumunan prajurit-prajurit pemberontak, merobohkan siapa saja yang berani menghalangi mereka. Melihat betapa pintu gerbang yang telah terbuka itu penuh orang, mereka berdua lalu melompat ke atas tembok benteng.


Para prajurit pembela kaisar yang bertempur di atas tembok benteng melihat datangnya pasukan penolong itu. Ketika mereka melihat dua orang melompat ke atas benteng lantas mengenal seorang di antara mereka adalah Puteri Moguhai, mereka segera bersorak dan semangat mereka berkobar. Apa lagi ketika Puteri Moguhai dan Thian Liong mengamuk, merobohkan banyak prajurit pemberontak yang berhasil naik ke atas benteng, mereka pun bersorak sambil mengamuk.

Puteri Moguhai segera melompat ke dalam dan Thian Liong mengikuti Pek Hong Nio-cu atau Moguhai itu memasuki istana. Para prajurit pengawal kaisar yang melihat sang puteri juga bersorak gembira. Mereka semua telah mendengar bahwa pasukan Pangeran Kuang sudah berada di luar dan kini sedang menyerang pasukan pemberontak.

Moguhai dan Thian Liong memasuki ruangan di mana keluarga istana berkumpul. Melihat puterinya, Tan Siang Lin segera berlari menyambut.

“Moguhai...!”

“Ibu...!” Mereka berangkulan. “Semua keluarga selamat, bukan?”

Tan Siang Lin mengangguk sambil tersenyum, sangat gembira melihat puterinya datang bersama pasukan Pangeran Kuang. Ternyata isi surat yang melayang masuk tadi benar adanya. Dan dia tahu siapa orangnya yang menulis surat itu. Siapa lagi kalau bukan dia yang tadi merobohkan dua orang penyerang suaminya dengan sambitan daun?

“Di mana Sribaginda?” tanya Moguhai ketika tidak melihat ayahnya di antara mereka.

Permaisuri yang juga menghampiri kemudian merangkul Moguhai karena hatinya merasa lega dan gembira, lalu berkata, “Moguhai, ayahmu sedang memimpin sendiri pasukan kita melawan serbuan pemberontak.”

“Ahh, mari ikut aku keluar, Thian Liong!” kata Puteri Moguhai kepada pemuda itu.

Mereka berdua cepat-cepat keluar dan benar saja, gadis itu melihat kaisar sendiri sedang memberi perintah kepada para perwira pasukan yang mempertahankan benteng. Serbuan pasukan yang datang membuat kaum pemberontak panik dan yang sedang menyerbu ke dalam juga telah mendengar akan datangnya pasukan Pangeran Kuang itu. Tentu saja hal ini melemahkan semangat mereka dan mereka segera dapat didesak keluar oleh pasukan yang berada di dalam benteng istana.

“Sribaginda...!” seru Puteri Moguhai dengan hati bangga melihat betapa ayahnya sendiri turut maju memberi dorongan semangat kepada para prajurit.

Kaisar cepat menengok dan wajahnya yang berkeringat itu segera berseri ketika melihat puterinya. “Ahhh, Moguhai! Kedatanganmu bersama Pangeran Kuang dengan membawa pasukan sungguh tepat pada waktunya! Kami semua merasa gembira sekali!”

“Biarlah pasukan Paman Pangeran Kuang menghancurkan pasukan pemberontak, tidak. perlu paduka sendiri bersusah payah. Harap paduka mengaso dan saya bersama sahabat saya Souw Thian Liong ini yang akan membantu pasukan menyerbu keluar!”

Kaisar mengangguk-angguk ketika Thian Liong memberi hormat dengan mengangkat dua tangannya di depan dada sambil membungkuk sampai dalam.

“Baiklah, kukira sekarang bahaya sudah lewat,” kata Kaisar dan dia lalu kembali ke dalam istana, diikuti lima orang pengawal pribadi yang sejak tadi tidak pernah meninggalkannya dan selalu mengikuti dari jarak dekat ke mana pun kaisar pergi.

Puteri Moguhai bersama Thian Liong lalu membantu pasukan dan dengan mudah mereka mendesak para pemberontak keluar dari benteng. Kini para pemberontak menjadi dihimpit dari dalam dan luar. Mereka menjadi panik sehingga banyak di antara mereka yang tewas atau terluka.

Panglima Kiat Kon yang tinggi besar, gagah dan mukanya penuh brewok itu mengamuk seperti seekor harimau terluka. Dia sudah merasa kepalang tanggung. Ambisinya adalah untuk menjadi panglima besar jika Pangeran Hiu Kit Bong berhasil menduduki singgasana Kerajaan Kin.

Tadi penyerbuan mereka sudah hampir berhasil. Akan tetapi mendadak muncul pasukan yang dipimpin Pangeran Kuang sehingga kini pasukannya terjepit antara pasukan dari luar dan dalam. Dia sendiri mengamuk di tengah-tengah pertempuran di dekat benteng istana, tak mungkin keluar dari pertempuran. Juga dia tidak ingin melarikan diri. Sudah kepalang karena andai kata dia berhasil melarikan diri, keluarganya tentu tidak luput dari hukuman. Maka dia pun mengamuk dengan pedangnya yang besar dan berat. Sudah banyak prajurit pembela kaisar yang roboh dan tewas akibat terkena babatan pedangnya.

Ketika dia membabatkan pedangnya ke arah seorang prajurit musuh berikutnya, tiba-tiba saja pedangnya tertangkis.

“Trangggg...!”

Bunga api berpijar dan Kiat Kon merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat. Telapak tangannya yang memegang pedang terasa panas sekali sehingga dia hampir melepaskan pedangnya. Akan tetapi dia masih dapat mempertahankan pedangnya dan cepat menoleh ke kanan untuk melihat siapa yang menangkis pedangnya itu.

Ketika dia melihat siapa orangnya yang memegang pedang bengkok dan tadi menangkis serangannya, mukanya berubah pucat. Kiranya Puteri Moguhai yang berdiri di depannya dengan mata bersinar penuh kemarahan.

“Puteri... Moguhai…..!” dia berseru gagap.

“Panglima Kiat Kon, pengkhianat tak mengenal budi!” bentak Pek Hong Nio-cu atau puteri Moguhai. “Sri Baginda telah memberi kedudukan tinggi kepadamu, tetapi apa balasanmu? Engkau malah menjadi pengkhianat dan pembantu pemberontak! Sekarang aku tidak bisa mengampunimu lagi!” Setelah berkata demikian, Pek Hong Nio-cu lalu menerjang dengan dahsyat.

Panglima Kiat Kon sudah tahu akan kelihaian puteri ini, maka dia menjadi gugup dan jeri. Akan tetapi tidak ada jalan keluar lagi baginya. Pasukan pembela kaisar sudah berada di mana-mana dan kiranya tidak mungkin melarikan diri dari Puteri Moguhai.

Puteri itu memang pernah belajar ilmu silat dari dia sendiri. Akan tetapi itu dahulu, ketika Puteri Moguhai masih remaja. Sekarang dia telah memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri. Maka Kiat Kon lalu melawan mati-matian.

Sementara itu, Thian Liong melihat betapa tak jauh dari situ, seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus, jenggotnya panjang dan kumisnya pendek, pakaiannya memperlihatkan bahwa dia adalah seorang bangsawan tinggi, sedang berdiri dengan pedang di tangan. Ada lima orang pengawal melindunginya, melawan para prajurit istana yang mengepung bangsawan tinggi itu, dan ternyata lima orang pengawal itu cukup lihai sehingga banyak prajurit istana yang roboh oleh amukan lima orang yang memegang golok besar itu.

Ketika melihat bangsawan itu, Thian Liong langsung teringat akan Pangeran Hiu Kit Bong seperti yang pernah digambarkan oleh Pek Hong Nio-cu. Tinggi kurus berjenggot panjang berkumis pendek. Tentu inilah pangeran yang menjadi biang keladi pemberontakan itu!

Dia cepat melompat ke arah orang itu. Dua orang pengawal menyambutnya dengan golok mereka. Namun dua kali tangan Thian Liong menampar, kemudian dua orang itu segera terpelanting roboh. Thian Liong lalu menerjang ke depan.

Pangeran Hiu Kit Bong mencoba untuk membacok Thian Liong dengan pedangnya. Akan tetapi sekali menampar dengan tangan kirinya, pedang itu sudah terlepas dari pegangan sang pangeran kemudian secepat kitat Thian Liong telah menotoknya sehingga Pangeran Hiu Kit Bong tidak mampu bergerak lagi.

Thian Liong lalu membawa tubuh Pangeran itu melompat ke atas tembok benteng dan dari tempat tinggi itu dia berseru sambil mengerahkan khikang-nya hingga suaranya terdengar lantang sampai jauh.

“Haiii! Para prajurit pemberontak! Lihatlah ke sini! Pemimpin kalian sudah ditawan, kalian yang tidak ingin mati cepat lemparkan senjata dan menyerah!”

Suara itu lantang sekali sehingga terdengar oleh semua orang. Akan tetapi karena semua prajurit pemberontak tak mengenal pemuda di atas tembok benteng yang telah menawan Pangeran Hiu Kit Bong, maka mereka menjadi ragu.

Pada saat itu pula sesosok bayangan berkelebat, melompat ke atas tembok benteng dan ternyata dia adalah Pek Hong Nio-cu. Puteri ini sudah berhasil merobohkan Panglima Kiat Kon dengan sebuah tusukan yang menewaskan panglima pemberontak itu. Setelah berdiri di samping Thian Liong yang merangkul Pangeran Hiu Kit Bong yang sudah tidak mampu bergerak, puteri itu lalu berteriak melengking.

“Semua prajurit pengikut Pangeran Hiu Kit Bong, cepat lepaskan senjata kalian kemudian menyerahlah. Kalau tidak, kalian akan dibasmi habis! Lihat, pemimpin pemberontak telah kami tawan dan Panglima Kiat Kon juga sudah tewas!”

Semua prajurit pemberontak tentu saja mengenal Puteri Moguhai. Mereka menjadi putus asa ketika melihat betapa Pangeran Hiu Kit Bong benar-benar sudah ditawan. Tanpa ragu lagi mereka membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah.

Melalui para perwira pembantunya, Pangeran Kuang lantas menyerukan agar para prajurit pemberontak tidak dibunuh. Mereka segera ditawan lalu digiring ke benteng pasukan yang tadi membela kaisar.

Pertempuran berhenti. Para tawanan dibawa ke dalam benteng. Di bawah pimpinan para panglima yang setia kepada kaisar, para prajurit melakukan penangkapan-penangkapan terhadap semua orang yang menjadi kaki tangan Pangeran Hiu Kit Bong. Ada pula yang bertugas membersihkan benteng istana, merawat yang terluka dan mengurus penguburan mereka yang tewas.

Dengan kedua tangan diborgol Pangeran Hiu Kit Bong beserta beberapa orang pembesar yang menjadi anak buah dan sekutunya, dihadapkan kepada kaisar, diikuti oleh Pangeran Kuang, Puteri Moguhai dan Thian Liong. Semula Thian Liong tak ingin menghadap kaisar karena dia tidak mengharapkan imbalan jasa untuk bantuannya. Tetapi Pek Hong Nio-cu memaksanya. Sambil menarik tangan Thian Liong Puteri Moguhai berkata,

“Hayolah, Thian Liong. Kau ikut denganku menghadap ayahku. Engkau sudah membantu kami, maka sudah sepantasnya jika ayah bertemu dan mengenalmu. Kali ini engkau yang membantu aku, nanti aku akan membantumu mencari gadis berpakaian merah yang telah mencuri kitab itu. Marilah!”

Thian Liong merasa tidak enak hati kalau menolak, maka dia pun ikut Puteri Moguhai dan Pangeran Kuang menggiring tawanan yang jumlahnya tujuh orang itu menghadap kaisar kerajaan Kin.

Thian Liong merasa janggal. Dia memasuki istana Kaisar Kin yang merupakan kerajaan yang telah mengusir Kerajaan Sung dan menjajah tanah air bangsanya. Akan tetapi Thian Liong tidak merasa bersalah.

Dia pasti takkan mau membantu Kerajaan Kin sekiranya kerajaan ini berperang melawan kerajaan Sung. Apa bila sekarang dia membantu kerajaan Kin adalah karena dia memihak kepada yang benar dan menentang para pemberontak yang tentu saja merupakan pihak yang tidak benar karena memberontak.

Apa lagi bila mengingat bahwa Pangeran Hiu Kit Bong, pengkhianat dan pemberontak itu bersekutu dengan Perdana Menteri Chin Kui yang harus ditentangnya karena pembesar itu hendak menguasai dan menanamkan pengaruh buruk kepada Kaisar kerajaan Sung.

Begitu mereka semua memasuki ruangan di mana sang Kaisar menerima mereka, Puteri Moguhai segera berlari menghampiri ibunya lalu duduk di dekat ibunya. Pangeran Kuang memberi hormat kepada kakak tirinya, dengan sikap gagah sebagai seorang panglima. Para tawanan segera didorong sehingga jatuh berlutut di hadapan kaisar.

Thian Liong meragu. Kalau berhadapan dengan kaisar bangsanya sendiri, kaisar kerajaan Sung, dia takkan ragu-ragu untuk menjatuhkan diri berlutut sebagai penghorrmatan. Akan tetapi dia sedang berhadapan dengan kaisar kerajaan Kin, kerajaan bangsa Nuchen yang menjajah. Maka dia hanya mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk sebagai penghormatan. Moguhai sudah mendekati kaisar dan berkata lirih.

“Sri Baginda, pemuda itu adalah Souw Thian Liong yang membantu kita dan dia pula yang menangkap Pangeran Hiu Kit Bong sehingga perlawanan pasukan pemberontak itu dapat dihentikan.”

Kaisar telah mendengar akan bantuan seorang pendekar bangsa Han itu. Dia tersenyum sambil memandang kepada Thian Liong, lantas mengangguk-angguk. “Souw sicu, silakan duduk di kursi itu. Engkau juga, Pangeran Kuang!”

Kaisar kerajaan Kin ini telah banyak mengalami perubahan setelah mengambil Tan Siang Lin sebagai selir terkasih. Kalau dahulu dia terkenal keras, kini dia berubah menjadi lebih lunak. Banyak nasehat yang dia terima dari Tan Siang Lin sehingga dia menjadi seorang penguasa yang bijaksana dan tidak lalim.

Sekarang tiba saatnya Kaisar menjatuhkan hukuman kepada para pimpinan pemberontak.
Semua orang tentu mengira bahwa kaisar akan menghukum mati pimpinan pemberontak itu. Akan tetapi kenyataannya tidak.

Seperti yang diharapkan Siang Lin, Pangeran Hiu Kit Bong beserta para sekutunya tidak dijatuhi hukuman mati, namun dihukum buang bersama keluarga masing-masing. Mereka harus tinggal jauh di utara dan hidup dalam pengasingan bersama suku-suku yang masih terbelakang sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.

Sesudah semua tawanan dibawa pergi, barulah Pangeran Kuang melaporkan gerakannya menumpas pemberontakan, dimulai dari kunjungan Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong yang membawa tawanan, yaitu Ngo-heng Kiam-tin dan belasan orang prajurit yang diutus Pangeran Hiu Kit Bong untuk membunuh Moguhai, sampai pengerahan pasukan yang dia pimpin ke kota raja dan berhasil membasmi para pemberontak pada saat yang tepat.

Setelah Pangeran Kuang selesai bercerita, tiba giliran Puteri Moguhai untuk menceritakan pengalamannya bersama Souw Thian Liong. Cerita Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai menarik perhatian semua keluarga istana yang hadir di sana dan mereka merasa kagum sekali.

Sesudah mendengar betapa Souw Thian Liong, seorang pemuda pribumi Han menolong kerajaan Kin dan berjasa besar, Kaisar segera berkata sambil memandang kepada Thian Liong dengan senyum ramah.

“Souw-sicu, jasamu besar sekali dan kami mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Katakan, apa yang kau inginkan dari kami? Permintaanmu pasti akan kami penuhi untuk membalas budi dan jasamu.”

Thian Liong cepat-cepat memberi hormat. “Maafkan hamba, Sri Baginda. Harap Paduka tidak salah paham. Hamba sama sekali tidak menginginkan sesuatu. Semua yang hamba lakukan sama sekali bukan perbuatan jasa atau pun pelepasan budi, apa lagi berpamrih untuk mendapatkan imbalan, melainkan memang sudah menjadi kewajiban hamba untuk melakukannya. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah dari Paduka, tetapi memang hamba tidak mengharapkan imbalan apa pun.”

“Harap Sribaginda tidak menghadiahkan apa-apa kepada Souw Thian Liong. Dia seorang pendekar sejati. Memberi hadiah kepada dia sama saja dengan merendahkannya, bahkan menghinanya. Hamba mempunyai cara yang terbaik untuk membalas budinya. Dia tengah mencari seorang gadis berpakaian merah yang sudah mencuri sebuah kitab miliknya, dan dia juga memperoleh tugas untuk menentang Perdana Menteri Chin Kui di kerajaan Sung. Hamba akan membantunya untuk kedua hal itu, dengan demikian hamba bisa membalas budi kebaikannya,” kata Puteri Moguhai kepada kaisar.

Kaisar langsung mengerutkan alisnya ketika mendengar nama Perdana Menteri Chin Kui disebut. Bagaimana pun juga, dulu Chin Kui merupakan orang yang berjasa bagi kerajaan Kin. Chin Kui yang mencegah bala tentara Sung yang dipimpin Jenderal Gak Hui, jenderal yang amat pandai dan ditakuti kerajaan Kin, melanjutkan gerakannya menyerang ke utara untuk menghalau kerajaan Kin yang menguasai setengah dari daratan Cina bagian utara. Chin Kui yang dapat membujuk Kaisar Sung untuk berdamai dengan kerajaan Kin, bahkan kerajaan Sung mengirim upeti tahunan kepada kerajaan Kin.

Tetapi akhir-akhir ini dia melihat kecurangan Perdana Menteri Chin Kui yang mengurangi sebagian dari upeti kerajaan Sung itu untuk dimilikinya sendiri. Hal ini membuat hubungan mereka menjadi renggang.

“Kenapa hendak menentang Perdana Menteri Chin Kui dari kerajaan Sung?” dia bertanya sambil memandang kepada puterinya.

Puteri Moguhai mengerti jalan pikiran ayahnya, maka dia pun berkata, “Sri Baginda, Souw Thian Liong hendak menentangnya karena Chin Kui terkenal sebagai seorang pembesar yang korup dan khianat terhadap kerajaan Sung. Di samping itu ternyata dia juga menjadi sekutu Paman Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak kepada paduka.”

Kaisar mengerutkan sepasang alisnya. “Bersekutu dengan pemberontak?” Ia memandang puterinya dengan sinar mata penuh keheranan. “Apa buktinya kalau dia bersekutu dengan pemberontak?”

“Buktinya sudah jelas, Sri Baginda,” kata Puteri Moguhai. “Memang Cin Kui secara diam-diam menjalin persekutuan dengan Pangeran Hiu Kit Bong dan yang paling jelas buktinya, dia mengirim seorang utusan yang bernama Cia Song untuk menangkap hamba. Mereka hendak menangkap hamba, lalu dijadikan sandera untuk memaksa paduka menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Hiu Kit Bong.”

Kaisar mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya. “Hemm, aku memang sudah tahu bahwa Chin Kui adalah seorang yang licik dan curang, sama sekali tidak boleh dipercaya. Dia pernah minta kepada kami agar kami mengirim pasukan untuk membantunya merebut tahta kerajaan Sung dari tangan Kaisar Kao Tsu, akan tetapi aku tidak mau mengkhianati perdamaian yang sudah diadakan antara kerajaan Kin dan kerajaan Sung.”

“Kakanda Kaisar, bagaimana kalau hamba membawa pasukan untuk menghukum Chin Kui yang bersekongkol dengan pemberontak itu?” tiba-tiba Pangeran Kuang mengusulkan.

Kaisar menggelengkan kepala. “Tidak boleh, adinda pangeran. Kalau engkau membawa pasukan ke selatan, hal itu akan dapat menimbulkan salah paham dengan kerajaan Sung. Jika di sana Chin Kui memang hendak mengadakan pemberontakan, biarlah Kaisar Sung Kao Tsung sendiri yang menghadapinya. Itu adalah urusan dalam negeri kerajaan Sung, maka kita tidak berhak mencampurinya.”

“Benar sekali, Sri Baginda. Akan tetapi, kalau hamba seorang diri yang pergi membantu Souw Thian Liong, hamba tidak mewakili kerajaan kita melainkan sebagai tindakan pribadi hamba, tentu hal ini tak akan menjadi masalah. Hamba hendak membalas budi kebaikan Souw Thian Liong, karena itu harap paduka tidak melarang hamba.”

“Ha-ha-ha-ha, siapakah yang mampu melarangmu, Moguhai? Apakah selama ini ayahmu pernah melarangmu? Engkau merantau ke sana sini hingga mendapat julukan Pek Hong Nio-cu, dan aku tak pernah melarangnya. Baiklah, engkau pergilah membantu Souw-sicu, akan tetapi jangan lupa untuk segera pulang. Engkau harus ingat bahwa sekarang engkau sudah dewasa, usiamu sudah hampir dua puluh tahun, maka sudah tiba masanya bagimu untuk menikah!”

“Aihh... paduka…! Hamba… belum ingin menikah,” kata Pek Hong Nio-cu dengan tersipu dan tergagap sehingga ditertawakan semua anggota keluarga istana.

Atas permintaan Pek Hong Nio-cu, terpaksa Souw Thian Liong tinggal di istana selama beberapa hari karena gadis itu ingin melepaskan kerinduannya kepada keluarganya lebih dahulu sebelum kembali meninggalkan mereka untuk melakukan perjalanan dengan Souw Thian Liong menuju ke selatan.

Pada malam hari itu, Puteri Moguhai bercakap-cakap dengan ibunya di dalam kamarnya. Ibunya, Tan Siang Lin, merasa berat dan khawatir sekali mendengar puterinya akan pergi ke selatan untuk membantu Thian Liong menentang Perdana Menteri Chin Kui.

“Moguhai, anakku, aku benar-benar merasa gelisah sekali mendengar engkau akan pergi ke selatan. Jika orang-orang kerajaan Sung tahu bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kin, tentu engkau akan dimusuhi dan amatlah berbahaya bagimu.”

Moguhai merangkul ibunya. “Jangan khawatir, ibu. Di dalam istana ini, aku adalah Puteri Moguhai. Akan tetapi di luar sana, aku dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu. Di selatan nanti orang-orang akan mengenal aku sebagai Pek Hong Nio-cu, maka tidak ada seorang pun akan mengetahui bahwa aku adalah Puteri Moguhai.”

“Akan tetapi pemuda she Souw itu mengetahuinya. Bagaimana kalau dia memberitahukan kepada orang-orang lain?”

“Tidak mungkin, ibu. Dia adalah seorang sahabat yang baik dan setia. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah tertimpa mala petaka. Dia boleh dipercaya, ibu.”

Tan Siang Lin menghela napas panjang. “Bagaimana pun juga aku tetap merasa khawatir. Biar pun engkau sudah memiliki ilmu silat yang tinggi dan tangguh, namun di selatan sana banyak terdapat penjahat yang sakti.”

Moguhai tersenyum. “Ibu tidak perlu khawatir. Selain aku sendiri mampu membela dan menjaga diri, juga ada Souw Thian Liong yang memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku. Dia lihai sekali, ibu. Lihai dan bijaksana. Dan tahukah ibu siapa gurunya? Gurunya adalah seorang sakti yang amat terkenal, yaitu bukan lain adalah Tiong Lee Cin-jin!”

Wajah Tan Siang Lin berubah. Begitu mendengar nama itu disebut, matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan seruan, “Ahh...!”. Akan tetapi dia lalu menundukkan mukanya dan diam saja.

Moguhai memperhatikan sikap ibunya. “Ibu, ada satu hal yang merupakan kejutan besar.”

“Hemm, apakah itu, anakku?”

“Aku telah bertemu dengan paman Sie!”

“Ehh…?! Benarkah? Bagaimana engkau mengetahui bahwa yang kau temukan itu adalah Paman Sie?”

“Aku tidak lupa dengan wajahnya, ibu. Aku pernah melihat dia ketika beberapa tahun yang lalu dia datang menemui ibu di taman itu. Dia benar-benar paman Sie yang telah memberi kitab-kitab dan perhiasan rambut ini kepadaku melalui ibu. Dia pula yang menyelamatkan kami ketika aku dan Thian Liong tertawan oleh kaki tangan pemberontak.”

“Ahh...!” Selir kaisar itu memandang wajah puterinya. “Apakah dia menemuimu dan bicara denganmu?”

“Sayang sekali tidak, ibu. Aku hanya melihat dia di kejahuan, lalu dia menghilang setelah menolong aku dan Thian Liong.” Kini gadis itu memandang wajah ibunya dengan tajam. “Dan ada satu lagi kejutan besar, ibu.”

Agaknya Tan Siang Lin sudah dapat menguasai perasaannya. Dia memandang puterinya sambil tersenyum, lantas berkata, “Ahh, engkau ini penuh dengan kejutan. Apa lagi yang hendak kau ceritakan, Moguhai?”

“Paman Sie itu ternyata adalah Tiong Lee Cin-jin, guru Souw Thian Liong!”

Moguhai melihat betapa kini tidak ada perubahan pada wajah ibunya. Dia tahu bahwa hal ini jelas menunjukkan bahwa ibunya pasti telah tahu bahwa paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin. Dan Tan Siang Lin masih tersenyum ketika bertanya kepada puterinya.

“Bagaimana engkau dapat memastikan bahwa paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin?”

“Ketika dia muncul setelah menyelamatkan Thian Liong dan aku, Thian Liong lalu berseru memanggilnya dengan sebutan suhu. Suhu-nya adalah Tiong Lee Cin-jin, maka jelaslah bahwa paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin. Benarkah itu, ibu? Tentu ibu lebih mengenal dan mengetahui, bukan?”

Tan Siang Lin menghela napas. Dia diam saja tanpa menjawab dan hanya menundukkan mukanya, kemudian malah melamun dan kedua matanya menjadi basah! Puteri Moguhai merangkul ibunya. Biasanya dia sangat manja kepada ibunya, akan tetapi begitu melihat ibunya seperti orang yang berduka, dia merasa gelisah dan ingin sekali menghiburnya. Dia amat menyayang ibunya.

“Ibu, ada apakah, ibu? Agaknya ibu menyimpan rahasia! Ceritakanlah kepadaku, ibu.”

Tan Siang Lin menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak ada apa-apa, anakku. Aku hanya merasa amat terharu mendengar sahabat baikku itu, Paman Sie itu, telah menyelamatkan engkau. Dia pun sudah menyelamatkan ayahmu ketika ayahmu terancam oleh dua orang pengawal yang agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Hiu Kit Bong.”

“Ahh, benarkah ibu? Kenapa Sri Baginda tidak bercerita tentang hal itu!” kata Moguhai.

Dia turut gembira karena bagaimana pun juga dia merasa amat dekat dengan ‘Paman Sie’ yang telah memberi tiga buah kitab pelajaran ilmu silat tinggi serta perhiasan rambut, dan dia menganggap ‘Paman Sie’ sebagai gurunya walau pun dia belum pernah bertemu dan bercakap-cakap dengannya.

“Mungkin ayahmu belum sempat bercerita karena masih terdapat banyak persoalan yang harus diurus ayahmu sehubungan dengan pemberontakan itu.”

“Ibu saja yang bercerita! Bagaimana terjadinya peristiwa itu, Ibu?”

“Malam kemarin kami berkumpul di ruangan tengah, dalam keadaan tegang karena pada siang harinya terjadi pertempuran hebat dan pasukan kita telah terdesak mundur sehingga hanya dapat menjaga di dalam benteng istana dan pintu gerbang ditutup rapat. Malam itu tidak terjadi pertempuran akan tetapi kami semua dapat menduga bahwa besok paginya para pemberontak tentu akan menyerang kembali. Kemudian, dua orang pengawal pribadi ayahmu tiba-tiba menyerang ayahmu dengan golok di tangan. Mereka telah menjadi antek Pangeran Hiu Kit Bong. Karena serangan itu dilakukan tiba-tiba, maka agaknya tidak ada yang akan bisa menyelamatkan ayahmu. Akan tetapi dari luar jendela mendadak ada dua sinar hijau meluncur masuk lantas mengenai kedua orang penyerang itu sehingga senjata mereka terlepas dan mereka sendiri terpelanting. Mereka lantas ditangkap oleh pengawal lainnya dan ternyata yang menancap di tangan mereka hanyalah dua helai daun hijau!”

Moguhai memandang ibunya dengan sinar mata kagum. “Hebat! Bukan main! Daun basah dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia! Alangkah saktinya!”

“Aku tahu bahwa hanya paman Sie saja yang mampu melakukan hal itu. Aku memandang keluar jendela dan aku yakin melihat bayangannya berkelebat di luar jendela. Kemudian, selagi ayahmu sedang bertanya-tanya di mana adanya engkau, dari luar jendela tiba-tiba melayang sehelai kertas bertulisan.” Tan Siang Lin mengambil sebuah lipatan kertas dari ikat pinggangnya kemudian menyerahkannya kepada Moguhai. “Inilah surat itu, masih aku simpan.”

Moguhai yang sudah merasa kagum sekali cepat-cepat menerima surat itu lalu membuka lipatannya dan membacanya.

Sekarang Moguhai sedang menuju kota raja bersama Pangeran Kuang dan pasukannya. Pertahankan istana sampai mereka datang.

“Ibu yakin bahwa surat ini pun dilayangkan oleh Paman Sie?” tanya puteri itu.

Ibunya mengangguk. “Aku yakin sekaIi. Aku mengenal tulisannya yang indah itu.”

Diam-diam Moguhai menduga bahwa hubungan antara ibunya dan Paman Sie tentu amat akrab, kalau tidak begitu tentu ibunya takkan dapat mengenal tulisan Paman Sie! Apakah mereka pernah saling bersurat-suratan? Moguhai tidak berani menanyakan hal ini karena takut menyinggung perasaan ibunya dengan dugaan yang terlalu jauh itu.

“Ibu menurut cerita Thian Liong, Tiong Lee Cin-jin itu melakukan perantauan jauh ke barat sampai belasan tahun dan ketika dia pulang, dia membawa banyak kitab milik aliran-aliran persilatan yang dulunya hilang. Dia mengembaIikan kitab-kitab itu kepada pemilik aslinya. Paman Sie juga telah memberi tiga jilid kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi kepadaku. Juga ilmu kepandaian mereka berdua itu sangat tinggi. Aku kira mereka berdua itu hanya satu orang saja. Benarkah bahwa paman Sie itu adalah Tiong Lee Cin-jin?”

Tan Siang Lin menarik napas panjang. “Mungkin sekali begitu, Moguhai. Dia tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia juga disebut Tiong Lee Cin-jin walau pun... eh, dia juga telah pergi selama belasan tahun lamanya dan kami tidak pernah saling berjumpa.”

“Hemm, dan ibu baru berjumpa lagi dengannya di taman itu setelah belasan tahun saling berpisah?”

Tan Siang Lin mengangguk sambil kembali menghela napas. “Sudahlah, Moguhai. Jangan banyak membicarakan dia, tidak enak apa bila didengar orang lain, nanti disangkanya ada apa-apa…”

“Jangan khawatir, ibu. Aku selalu merahasiakan Paman Sie seperti yang ibu pesan dulu.”

“Bagus sekali kalau begitu, anakku. Ingat saja bahwa Paman Sie itu adalah gurumu dan dulu, dulu sekali, dia adalah sahabat baik ibumu.”

Moguhai amat menyayang ibunya. Setelah ibunya berkata demikian maka dia pun segera membelokkan percakapan tentang hal lain dan tidak menyinggung nama Paman Sie lagi. Sesudah melepaskan kerinduannya kepada keluarga istana selama tiga hari, Moguhai lalu ikut Thian Liong melakukan perjalanan ke selatan…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner