KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-39


Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu, kini lebih tepat kita sebut Pek Hong Nio-cu karena selama melakukan perjalanan bersama Thian Liong dara ini tak pernah mengaku sebagai Puteri Moguhai, menunggang kuda di sebelah Thian Liong. Sepasang muda-mudi ini telah melakukan perjalanan jauh dan kini sudah mulai memasuki wilayah kerajaan Sung setelah kemarin mereka menyeberangi Sungai Yang-ce.

Selama perjalanan mereka di wilayah kerajaan Kin, yaitu di seberang utara Sungai Yang-ce, keduanya tidak menemui banyak kesulitan. Pek Hong Nio-cu selalu disambut dengan penuh kehormatan oleh para pembesar setempat sesudah mengetahui dari pedang tanda kekuasaannya bahwa dia adalah puteri kaisar.

Perjalanan itu dipergunakan pula oleh Pek Hong Nio-cu untuk menyelidiki para pembesar. Bila dia menemukan pembesar yang sewenang-wenang terhadap rakyat, jahat dan korup, seperti raja kecil yang lalim, ia segera turun tangan memberi hajaran dan memperingatkan mereka dengan keras.

Pada suatu pagi mereka memasuki kota Ciu-siang, kota pertama wilayah kerajaan Sung yang berada di daerah barat. Mereka tidak langsung memasuki wilayah Kerajaan Sung dari timur yang sebenarnya lebih dekat dan mereka dapat langsung tiba di Lin-an (Hang-chouw) atau kota raja Sung. Daerah timur itu merupakan tempat yang amat gawat karena wilayah perbatasan itu dijaga oleh kedua pihak sehingga mereka akan mengalami banyak gangguan dan bahaya kalau melakukan perjalanan lewat daerah itu.

Malam tadi mereka berdua melakukan perjalanan setengah malam di bawah cahaya bulan purnama, maka sekarang mereka dan juga kuda mereka merasa sangat lelah. Karena itu Pek Hong Nio-cu mengajak Thian Liong untuk segera mencari rumah penginapan supaya mereka dapat beristirahat. Memang, setelah memasuki wilayah kerajaan Sung yang lebih dikenalnya, kini pemuda itulah yang menjadi penunjuk jalan.

Atas nasehat Thian Liong, sebelum memasuki wilayah kerajaan Sung, Pek Hong Nio-cu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai para gadis pribumi Han. Hal ini amat penting karena bila dia tetap mengenakan pakaian gadis bangsawan bangsa Nuchen (Yuchen), maka hal itu akan menimbulkan banyak masalah dan mungkin saja dia akan dimusuhi oleh rakyat pribumi.

Pek Hong Nio-cu yang memang sudah mempersiapkan pakaian pengganti, sekarang telah mengenakan pakaian gadis Han, tetapi tetap saja pakaian itu terbuat dari sutera putih dan perhiasan burung Hong di kepalanya masih dipakainya, hanya bentuk gelung rambutnya sudah disesuaikan dengan bentuk gelung rambut gadis pribumi Han. Penampilannya tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali, karena wajah puteri itu memang lebih mirip gadis pribumi Han dari pada bangsa Nuchen. Hanya saja, karena ia memang amat cantik jelita, maka di mana saja, orang-orang, terutama para pria, yang melihatnya akan memandang dengan kagum.

Begitu tiba di pelataran sebuah rumah penginapan, mereka berdua cepat turun dari atas punggung kuda mereka. Seorang pelayan segera menyambut dan mengurus kedua kuda mereka. Mereka berjalan memasuki ruangan depan rumah penginapan itu, lalu minta dua buah kamar kepada pengurus penginapan yang duduk di belakang meja penerima tamu. Agaknya memang menjadi peraturan di kota dekat perbatasan itu bahwa para tamu harus memperkenalkan namanya.

“Namaku Souw Thian Liong dan nona ini adalah adikku, Souw-siocia (Nona Souw). Kami hendak pergi ke kota raja,” jawab Thian Liong dengan sikap tenang ketika ditanya.

Mereka menyewa dua buah kamar yang letaknya berdampingan, dan keduanya langsung memasuki kamar masing-masing untuk tidur karena merasa lelah dan mengantuk sekali.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi barulah keduanya terbangun dengan tubuh terasa segar kembali. Sesudah mandi dan bertukar pakaian, mereka berdua segera pergi ke rumah makan yang berada di samping rumah penginapan, kemudian memesan makanan.

Selagi mereka minum air teh sehabis makan, tiba-tiba mereka beserta semua orang yang sedang makan di dalam rumah makan itu dikejutkan oleh masuknya serombongan orang yang ternyata adalah prajurit-prajurit berpakaian seragam dan jumlah mereka ada belasan orang, dipimpin oleh seorang perwira yang bertubuh tinggi besar.

Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu bersikap tenang. Mereka memandang kepada perwira yang memimpin pasukan kecil itu, lantas melihat pula pengurus rumah penginapan yang juga tampak bergegas memasuki rumah makan. Orang ini segera mendekati sang perwira sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu. Mengikuti petunjuk pengurus rumah penginapan, perwira itu langsung melangkah lebar menghampiri Thian Liong, diikuti belasan orang anak buahnya.

Para tamu rumah makan menjadi ketakutan, maka mereka pun bergegas meninggalkan rumah makan itu setelah cepat-oepat menghentikan makan mereka dan membayar harga makanan di meja pengurus rumah makan. Berdasarkan pengalaman, setiap kali pasukan datang tentu akan terjadi keributan, sedangkan mereka tidak ingin tersangkut.

Tidak lama kemudian hanya tinggal Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu yang masih berada di dalam rumah makan itu. Para pelayan rumah makan juga sudah keluar semua dan kini mereka berkumpul di pelataran sambil menonton dari kejauhan.

Meski maklum bahwa perwira yang diikuti serombongan prajurit itu sedang menghampiri meja mereka, namun Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu masih tenang saja. Bahkan Pek Hong Nio-cu dengan sikap acuh mengangkat cangkir air tehnya kemudian minum.

Sesudah tiba di dekat meja Thian Liong, perwira yang usianya sekitar empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya brewok, matanya lebar itu memandang kepada Thian Liong lalu bertanya dengan suara parau dan sikap kasar.

“Hei, apakah kamu yang bernama Souw Thian Liong?”

Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya dan merasa tidak senang. Akan tetapi Thian Liong sudah memberi isyarat kepadanya agar diam, kemudian dengan sikap tenang dia sendiri menjawab. “Benar, aku bernama Souw Thian Liong. Ada apakah, ciangkun (perwira)?”

“Bagus!” Perwira itu mencabut pedangnya, diikuti belasan orang anak buahnya yang juga mencabut golok mereka.

“Souw Thian Liong, menyerahlah, kami harus menangkapmu. Jangan melawan agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!”

Thian Liong masih tetap duduk tenang. Pek Hong Nio-cu bahkan lebih tenang lagi. Tanpa mempedulikan pasukan kecil yang sudah mengepung itu, dan semua mata yang ditujukan kepadanya dengan pandang mata penuh kemarahan serta mulut menyeringai kurang ajar, dengan tenang dia menuangkan air teh dari poci hingga memenuhi cangkirnya.

“Aku tidak mempunyai kesalahan apa pun, ciangkun. Kenapa engkau hendak menangkap aku? Katakan dulu apa kesalahanku. Kalau aku memang bersalah, tentu dengan senang hati aku akan menyerah untuk kau tangkap,” kata Thian Liong, tanpa menunjukkan rasa penasaran di hatinya dalam ucapan atau sikapnya.

Perwira tinggi besar itu tertawa. “Ha-ha-ha-ha, engkau masih pura-pura bertanya? Engkau adalah seorang buronan pemerintah. Engkau adalah seorang pengkhianat yang menjadi antek bangsa Kin, tentu engkau hendak memata-matai daerah ini, bukan? Nah, sekarang menyerahlah untuk kutangkap lantas kuhadapkan kepada jaksa! Dan Nona ini harus kami tangkap pula karena dia berada bersamamu, apa lagi engkau mengaku sendiri bahwa dia adalah adikmu, tentu tersangkut dengan pengkhianatan dan kejahatanmu!” Perwira itu lalu menoleh kepada anak buahnya. “Belenggu tangan kedua pengkhianat ini!”

Akan tetapi pada saat itu Pek Hong Nio-cu telah menggerakkan cangkir tehnya dan tahu-tahu air teh dari cangkir itu menyiram muka si perwira dengan cepat sekali.

“Ahh... aduh...!” Perwira itu meraba mukanya yang terasa perih seperti ditusuki jarum dan matanya pedas tersiram air teh yang masih panas!

“Serang mereka!” bentaknya sambil menggosok-gosok matanya yang masih belum dapat dibuka.

Belasan orang prajurit itu langsung menerjang maju sambil menggerakkan golok mereka menyerang Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu!

“Nio-cu, jangan bunuh orang!” Thian Liong berseru kepada gadis itu.

Pek Hong Nio-cu menendang meja di depannya. Meja melayang kemudian menimpa para prajurit sehingga ada empat orang yang roboh terkena hantaman meja. Dua orang muda itu lantas melompat dan kaki tangan mereka bergerak cepat. Terdengar teriakan-teriakan mengaduh disusul golok beterbangan setelah terlepas dari tangan para prajurit, lalu tubuh mereka berpelantingan menabrak meja kursi di dalam ruangan rumah makan itu! Perwira yang belum sempat membuka matanya itu juga tersambar sebuah kaki mungil Pek Hong Nio-cu.

Tendangan itu mengenai perutnya sehingga terdengar suara berdebuk dan tubuh perwira itu terjengkang lalu terbanting ke atas lantai. Dia mengaduh sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa mulas melilit-lilit. Mungkin usus buntunya kena ditendang Pek Hong Nio-cu.

Dua orang muda itu mengamuk. Dengan tamparan dan tendangan, dalam waktu pendek saja belasan orang prajurit itu pun sudah berhasil mereka robohkan.

“Mari kita pergi!” kata Thian Liong.

Mereka berdua cepat meninggalkan rumah makan itu dan kembali ke rumah penginapan, bermaksud mengambil buntalan pakaian mereka. Akan tetapi ternyata buntalan pakaian itu sudah tidak ada lagi! Mereka cepat keluar kembali dan Thian Liong sudah menangkap leher baju pengurus rumah penginapan kemudian membentak,

“Katakan di mana buntalan pakaian kami!” Dia mengguncang orang itu yang menjadi amat ketakutan.

“Maaf... kami... kami tidak berdaya... buntalan-buntalan itu telah disita prajurit...!”

“Keparat!” Pek Hong Nio-cu berseru marah.

“Sudahlah, kita harus cepat pergi. Ambil kuda!”

Mereka berlari ke kandang kuda. Untung bahwa pedang dan bekal perhiasan Pek Hong Nio-cu tadi dibawa ketika makan sehingga yang tersita hanya pakaian saja.

Begitu tiba di kandang kuda, mereka melihat empat orang prajurit sedang menuntun kuda mereka. Mereka menjadi marah sekali dan cepat melompat ke depan, merobohkan empat orang prajurit itu dengan mudah lantas keduanya melompat ke atas punggung kuda dan membalapkan kuda mereka keluar dari kota Ciu-siang.

Mereka meninggalkan kota Ciu-siang menuju arah timur. Dengan menyusuri sungai Yang-ce akhirnya mereka tiba di luar kota Ki-bun. Di tempat yang sepi di luar kota yang sudah nampak tidak jauh di depan, barulah mereka berhenti lalu melompat turun dari kuda dan duduk di atas batu di tepi jalan. Tadi mereka sudah membalapkan kuda selama beberapa jam. Matahari mulai condong ke barat.

Pek Hong Nio-cu menghapus keringat dari dahi dan lehernya, menggunakan sehelai sapu tangan.

“Ah, aku merasa tidak enak kepadamu, Thian Liong. Agaknya pemerintah Kerajaan Sung telah menganggap engkau menjadi pengkhianat dan menjadi mata-mata Kerajaan Kin. Ini tentu akibat engkau membantu kami di sana.”

“Tidak perlu merasa begitu, Nio-cu. Aku membantu kerajaan ayahmu karena menentang pemberontakan di sana, bukan karena memusuhi kerajaan Sung. Ini tentu fitnah belaka. Akan tetapi sungguh heran, bagaimana mereka bisa tahu?”

Pek Hong Nio-cu tersenyum. “Aku tahu, Thian Liong. Pasti suheng-mu yang jahat itu yang telah menyebarkan fitnah ini sehingga engkau dicap sebagai buronan pemerintah kerajaan Sung.”

“Hemm, kalau memang benar demikian, Cia Song itu sungguh jahat sekali. Dia memutar-balikkan kenyataan. Sesungguhnya dialah pengkhianat yang sangat jahat, antek Perdana Menteri Chin Kui. Akan tetapi aku masih sangsi. Jangan-jangan hanya pembesar di kota Ciu-siang saja yang entah bagaimana memang membenciku.”

“Mari kita mencoba lagi. Kita memasuki kota di depan itu, sekalian kita membeli pakaian pengganti karena pakaian kita sudah habis disita di kota Ciu-siang.”

“Baik, mari kita memasuki kota di depan itu. Kalau tidak salah, itu adalah kota Ki-bun.”

“Akan tetapi sebaiknya kuda kita ditinggal di luar kota, Thian Liong. Kalau benar dugaanku bahwa namamu sudah dicap sebagai buronan pemerintah sehingga di kota Ki-bun engkau juga akan dikejar-kejar, kita lebih mudah untuk melarikan diri,” kata Pek Hong Nio-cu.

Thian Liong menyetujui usul ini, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Ki-bun dan menemukan sebuah rumah petani di luar kota. Mereka lalu menitipkan kuda dan pedang mereka kepada nenek petani pemilik rumah itu, kemudian mereka berdua berjalan memasuki kota Ki bun. Mereka meninggalkan pedang agar tidak menarik perhatian orang.

Benar saja, mereka dapat memasuki kota Ki-bun dengan aman. Pek Hong Nio-cu segera mengajak Thian Liong berbelanja pakaian di toko. Setelah membungkus pakaian mereka dalam buntalan dan menggendongnya di punggung, Thian Liong mengajak Pek Hong Nio-cu pergi ke sebuah rumah penginapan dan dengan sengaja Thian Liong memperkenalkan nama lengkapnya kepada pengurus rumah penginapan. Mereka lalu makan di salah satu rumah makan kemudian kembali ke rumah penginapan untuk melewatkan malam di dalam dua buah kamar yang mereka sewa.

Malam itu mereka tidur dalam keadaan siap siaga. Buntalan pakaian sudah dipersiapkan di atas meja dan mereka merebahkan diri dengan pakaian lengkap berikut sepatu supaya kalau ada apa-apa mereka dapat cepat melarikan diri sambil membawa buntalan pakaian yang baru mereka beli sore itu. Mereka menunggu dengan tenang-tenang saja dan dapat tidur pulas, tetapi mereka tetap waspada sehingga biar pun tertidur, mereka peka sekali.

Ternyata mereka tak perlu menunggu terlampau lama. Seperti yang mereka duga, umpan pancingan Thian Liong ternyata berhasil. Pengurus rumah penginapan itu memang sudah mencatat nama Souw Thian Liong sebagai seorang buronan pemerintah, seperti juga para pengurus semua penginapan.

Oleh karena itu, begitu mengetahui bahwa tamunya bernama Souw Thian Liong, pengurus penginapan cepat melapor kepada komandan pasukan keamanan setempat. Komandan itu segera membawa tiga puluh orang anak buahnya, dan kini mereka sudah mengepung dua kamar di mana Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berada.

Komandan pasukan lalu menggedor daun pintu kamar Thian Liong.

“Tok-tok-tok!”

“Souw Thian Liong, keluar dan menyerahlah!”

Mendengar gedoran pintu dan teriakan ini, Thian Liong cepat-cepat menyambar buntalan pakaian lantas menggendongnya, demikian pula yang dilakukan Pek Hong Nio-cu. Hampir bersamaan mereka berdua membuka daun pintu lantas menerjang keluar.

“Tangkap! Serang mereka!” Komandan pasukan itu memberi aba-aba.

Tiga puluh orang anak buahnya langsung bergerak dengan golok di tangan. Akan tetapi, seperti sudah mereka sepakati, Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong tidak melayani mereka berkelahi. Dua orang itu menerjang keluar, dengan tamparan atau tendangan merobohkan siapa saja yang menghadang. Mereka yang berani menghadang lantas roboh terpelanting dan bagaikan dua ekor burung saja, kedua orang muda itu lalu melompat jauh ke depan dan keluar dari rumah penginapan itu.

Komandan pasukan berteriak-teriak, memberi aba-aba untuk mengejar sehingga mereka semua mengejar keluar. Akan tetapi Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mempergunakan ilmu berlari cepat dan sebentar saja mereka telah menghilang di dalam kegelapan malam karena bulan belum lagi muncul.

Para pengejar kehilangan jejak dan arah. Dengan ngawur mereka menggeledahi rumah-rumah sehingga penduduk kota Ki-bun menjadi geger. Sementara itu, orang yang dikejar dan dicari sudah berada di luar kota…..

********************

Pek Hong Nio-cu memberi hadiah dua potong perak kepada nenek petani itu yang segera menerimanya dengan sangat gembira. Baginya, dua potong perak itu merupakan jumlah yang amat banyak.

Nenek janda ini berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Dia merasa heran akan tetapi tidak berani bertanya ketika malam-malam begitu dua orang tamunya hendak melanjutkan perjalanan mereka.

Sekarang mereka pun yakin bahwa nama Souw Thian Liong memang sudah disiarkan di semua kota sebagai buruan pemerintah, sebagai pengkhianat yang jahat dan berbahaya!

“Sungguh mengherankan! Jika benar Cia Song yang melakukan fitnah ini, bagaimana dia dapat menyiarkan fitnah itu ke semua kota, dan bagaimana pula para pembesar setempat percaya dengan keterangan palsunya itu?” kata Thian Liong ketika mereka berdua mulai melanjutkan kembali perjalanan mereka setelah meninggalkan kota Ki-bun.

“Mengapa harus heran, Thian Liong? Tentu saja fitnah itu tidak disiarkan oleh dia sendiri. Lupakah engkau bahwa dia adalah antek dari Perdana Menteri Chin Kui yang berkuasa? Tentu dia melaporkan kepada Chin Kui segala hal yang terjadi di kerajaan kami itu, lantas Chin Kui menyebar luaskan fitnah itu melalui para pembesar yang menjadi bawahannya. Dengan kekuasaan serta pengaruhnya yang besar, tentu saja dia dapat memerintahkan para pembesar untuk menangkapmu. Bahkan mungkin juga dia sudah membujuk Kaisar Sung Kao Tsung dengan meyakinkan hati kaisar itu bahwa engkau benar-benar seorang pengkhianat sehingga kaisar sendiri yang mengeluarkan perintah penangkapan dirimu.”

Thian Liong mengerutkan alisnya sambil mengepal tinjunya. “Ahh, alangkah jahatnya Cia Song dan Perdana Menteri Chin Kui!”

“Karena itu kita harus berhati-hati, Thian Liong. Menurut pendapatku, sebaiknya engkau jangan ke kota raja lebih dulu karena kalau sampai engkau ketahuan memasuki kota raja kemudian pasukan bergerak untuk menangkapmu, tentu akan sangat berbahaya bagimu. Bagaimana engkau, dibantu olehku sekali pun, akan dapat melawan pasukan besar kota raja, apa lagi di sana terdapat banyak jagoan jagoan yang tinggi ilmunya?”

“Hemm, agaknya pendapatmu itu ada benarnya, Nio-cu. Akan tetapi kalau aku tidak pergi ke kota raja, lalu bagaimana aku dapat melakukan tugasku menentang Perdana Menteri Chin Kui? Dan aku pun harus mencari Cia Song. Orang itu ternyata jahat dan palsu. Dia adalah seorang pengkhianat Siauw-lim-pai dengan menjadi murid Ali Ahmed datuk sesat itu dan juga telah mengkhianati kerajaan Sung. Malah dia juga membantu pemberontakan di kerajaan Kin. Aku harus menangkapnya dan membawanya ke Siauw-lim-pai supaya dia bisa mendapatkan keputusan peradilan di Siauw-lim-pai.”

“Akan tetapi, ketika dahulu kita akan ditangkap itu, Cia Song mengatakan bahwa engkau hendak ditawan lalu dibawa ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai untuk menerima hukuman. Apa artinya kata-kata itu?”

“Hemmm, sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu apa yang dia maksudkan. Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun terhadap Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Tapi aku masih bingung. Karena sekarang aku dinyatakan buronan oleh pembesar Kerajaan Sung, lalu bagaimana aku dapat pergi ke kota raja?”

“Nantikita akan mencari jalan, Thian Liong. Yang penting sekarang kita harus menghindari kota-kota besar. Rasanya tak mungkin jika pejabat kecil di desa sudah mendengar bahwa engkau dinyatakan buron oleh pemerintah. Kita melewati desa-desa saja, sambil mencoba mencari gadis baju merah yang sudah mencuri kitabmu itu. Nanti kita mencari jalan untuk melakukan penyelidikan di kota raja mengenai Chin Kui dan Cia Song. Untuk menentang Perdana Menteri itu, kurasa tak mungkin kau lakukan seorang diri saja. Dia tentu memiliki banyak pendukung dan pasukan.”

Thian Liong mengangguk-angguk. Diam-diam dia kagum kepada gadis ini. Selain lihai ilmu silatnya dan baik budi, ternyata Pek Hong Nio-cu juga berpandangan luas dan tampaknya bisa membuat perhitungan dengan teliti. Masih begitu muda namun pengertiannya tentang seluk beluk pemerintahan dan lawan-lawannya agaknya cukup luas.

“Ah, Nio-cu. Kalau tidak ada engkau yang membantuku, entah apa yang akan kulakukan. Aku sendiri amat bingung melihat pemerintah menganggap aku seorang pengkhianat yang harus ditangkap.”

“Tenanglah, Thian Liong. Dahulu engkau sendiri pernah menasehatiku bahwa orang yang benar selalu dilindungi Tuhan. Setidaknya kita berdua tahu benar bahwa engkau bukanlah pengkhianat, bukan mata-mata kerajaan Kin. Engkau tak bersalah, ini semua hanya fitnah yang dilakukan seorang yang jahat, yaitu Cia Song yang dibantu oleh seorang pembesar lalim seperti Chin Kui. Mereka akan kita lawan, dan kita harus yakin bahwa akhirnya kita akan dapat mengalahkan mereka.”

Bagaimana pun juga, keadaan dirinya yang menjadi buruan pemerintah tanpa melakukan kesalahan apa pun itu membuat Thian Liong menjadi murung. Dia berhutang budi kepada gurunya dan dia selalu menaati perintah gurunya.

Gurunya menyuruh dia mengantarkan kitab-kitab kepada mereka yang berhak. Perintah yang pertama ini belum dilaksanakan semua, malah mengalami kegagalan karena sebuah kitab milik Kun-lun-pai telah dicuri oleh gadis baju merah dan sampai sekarang dia belum dapat menemukannya kembali untuk diserahkan kepada Kun-lun-pai.

Kemudian, perintah kedua agar dia membela kerajaan dan menentang Perdana Menteri Chin Kui, belum dia laksanakan malah sekarang dia dianggap pengkhianat oleh kerajaan Sung dan menjadi orang buruan yang dikejar-kejar dan hendak ditangkap pemerintah.

Hal ini membuat dia murung dan kecewa kepada dirinya sendiri. Dia merasa malu kepada gurunya yang demikian baiknya. Bahkan ketika dia bersama Pek Hong Nio-cu terancam bahaya hingga tertawan oleh pemberontak kerajaan Kin, gurunya kemudian muncul dan menyelamatkannya! Dia merasa yakin bahwa gurunya yang berilmu tinggi itu pasti sudah tahu akan semua kegagalannya dan hal ini membuat dia merasa malu sekali.

Melihat wajah Thian Liong yang muram dan tidak bahagia, Pek Hong Nio-cu merasa iba.

“Thian Liong, sudah lama sekali, ketika aku masih kanak-kanak, ibuku bercerita kepadaku tentang keindahan sebuah telaga yang disebutnya See-ouw (Telaga Barat). Sekarang aku ingin sekali melihat keindahan telaga itu. Maukah engkau mengajak aku ke sana?”

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang manis dan bernada membujuk sehingga Thian Liong merasa tidak tega untuk menolak. Maka mereka mengurungkan perjalanan mereka menuju Lin-an, kota raja Kerajaan Sung Selatan, melainkan berbalik arah menuju Telaga Barat…..

********************

Sepasang suami isteri itu menjalankan kuda tunggangan mereka dengan perlahan-lahan, menyusuri sepanjang tepi See ouw (Telaga Barat) yang cukup luas itu.

Pagi itu matahari yang baru saja muncul dari balik bukit tampak berseri. Cahayanya yang masih lembut itu menghangatkan tubuh serta hati kedua orang suami isteri yang sedang menunggang kuda dengan santai itu. Mereka menikmati keindahan alam pagi hari itu, tak pernah merasa bosan biar pun sudah bertahun-tahun mereka selalu melakukan perjalanan seperti itu.

Yang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun, akan tetapi tampak lebih tua dari pada umurnya. Rambut di atas kedua telinganya sudah memutih dan ada garis-garis duka pada wajahnya. Wajahnya biasa saja, tidak terlalu tampan namun tidak pula jelek, tetapi pada mata dan mulut itu, juga pada sikap tubuh dan penampilannya, terbayang kejantanan dan kegagahan. Sebatang pedang yang berada di pungungnya menambah kegagahannya.

Dia memang seorang yang gagah perkasa, bahkan pernah menjadi komandan Pasukan Halilintar, sebuah pasukan dalam barisan yang dipimpin mendiang Jenderal Gak Hui yang sangat terkenal itu. Pria ini bukan lain adalah Han Si Tiong yang sudah kita kenal dalam bagian awal kisah ini.

Ada pun isterinya, yang menunggang kuda di sampingnya, adalah Liang Hong Yi, berusia sekitar tiga puluh delapan tahun. Wajahnya cantik manis, berbentuk bulat telur, terutama sekali bibirnya yang membuat dia nampak sangat menarik, apa lagi ada tahi lalat di dagu yang menambah kemanisannya. Juga wanita ini membawa pedang di punggungnya.

Pada awal kisah ini diceritakan betapa dua belas tahun yang lalu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi turut berjuang sebagai bawahan mendiang Jenderal Gak Hui, melawan pasukan Kin di perbatasan. Dengan Pasukan Halilintarnya suami isteri ini membuat kemenangan dan jasa, namun tiba-tiba saja mendiang Jenderal Gak Hui menerima perintah dari kaisar untuk menarik mundur pasukannya. Ini adalah akibat dari bujukan Perdana Menteri Chin Kui kepada Kaisar agar menghentikan perang terhadap kerajaan penjajah Kin. Kemudian Perdana Menteri Chin Kui juga berhasil membujuk Kaisar dan menjatuhkan fitnah kepada Jenderal Gak Hui sehingga panglima yang gagah perkasa dan setia ini dihukum mati.

Dalam satu pertempuran Han Si Tiong dan Liang Hong Yi berhasil menewaskan Pangeran Cu Si, pangeran Kerajaan Kin. Mereka mengambil pedang bengkok pangeran Kin ini untuk oleh-oleh puterinya, Han Bi Lan, yang ketika itu berusia kurang lebih tujuh tahun dan yang memang sudah memesan kepada ayahnya agar dioleh-olehi pedang bengkok itu. Namun ketika mereka berdua pulang ke Lin-an, mereka mendapatkan bahwa Lu-ma, pengasuh Bi Lan, tewas terbunuh orang dan puteri mereka itu lenyap diculik pembunuh itu!

Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lalu merantau untuk mencari puteri mereka yang hilang, tetapi semua usaha bertahun-tahun mereka sia-sia. Kemudian mereka mendengar betapa Jenderal Gak Hui sudah dijatuhi hukuman mati. Hal ini membuat mereka sangat berduka sehingga mereka tidak mau kembali ke kota raja, tidak mau mengabdi kepada Kaisar.

Setelah bertahun-tahun mencari puterinya dengan sia-sia, akhirnya mereka pun tinggal di sebuah dusun dekat Telaga Barat. Mereka membeli tanah di dusun Kian-cung, mendirikan rumah sederhana dan menjadi petani.

Di waktu pagi, sering kali suami isteri ini menunggang kuda berjalan-jalan menyusuri tepi telaga. Tidak ada seorang pun penduduk daerah telaga itu yang mengetahui bahwa Han Si Tiong, yang mereka sebut Han-sicu dan Liang Hong Yi yang mereka sebut Han-toanio adalah suami isteri yang dulu pernah memimpin Pasukan Halilintar yang terkenal itu. Para penduduk hanya mengenal mereka sebagai orang gagah yang memberantas kejahatan di sekitar telaga sehingga daerah itu menjadi aman dan tidak ada lagi perampok yang suka mengganggu penduduk pedusunan. Mereka dihormati semua orang yang tinggal di sekitar Telaga Barat.

Pagi itu, seperti biasa, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi berjalan-jalan menunggang kuda di tepi telaga. Ketika mereka sampai di bagian yang sepi karena daerah itu berhutan yang panjangnya sekitar dua lie (mil) dan melewati sebuah pohon besar, tiba-tiba saja dua ekor kuda tunggangan mereka meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas dengan ketakutan.


Han Si Tiong dan Liang Hong Yi cepat melompat turun agar tidak sampai terjatuh. Sambil memegang kendali kuda mereka berusaha menenangkan kuda mereka. Akan tetapi pada saat itu, seekor ular kobra melompat dari depan lantas dengan cepat sekali, seperti anak panah menyambar, ular itu menggigit kaki kedua ekor kuda itu.

Kuda-kuda itu meringkik keras, meronta hingga kendali yang dipegang oleh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi putus. Dua ekor kuda itu melompat, akan tetapi baru beberapa tombak jauhnya mereka Iari, mereka lalu roboh terguling dan tewas seketika.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner