KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-40


Han Si Tiong dan Liang Hong Yi marah sekali ketika melihat kuda mereka tewas digigit ular kobra. Mereka mencabut pedang dan bermaksud hendak membunuh ular kobra itu. Akan tetapi tiba-tiba ular kobra itu melayang ke bawah pohon besar.

Suami isteri itu memandang. Mereka terbelalak kaget dan heran melihat betapa ular kobra itu ditangkap seorang kakek dan sesudah berada di tangan kakek itu ular kobra yang tadi menggigit mati dua ekor kuda mereka, kini berubah menjadi sebatang tongkat ular kobra kering! Dengan pedang masih di tangan, kedua suami isteri itu memandang kepada kakek itu dengan penuh perhatian.

Kakek itu sudah tua, tentu usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Rambut, kumis dan jenggotnya yang lebat sudah putih semuanya. Kepalanya yang berambut putih itu ditutupi sebuah topi yang biasa dipakai oleh suku bangsa Uigur. Tubuhnya sedang, sedikit kurus akan tetapi masih membayangkan ketegapan dan kekuatan. Wajahnya yang berkumis dan berjenggot lebat itu tampak menyeramkan, terutama karena sepasang matanya liar, bergerak gerak ke kanan kiri dan bersinar tajam dan mengandung kekuatan dan wibawa.

Kakek yang tadinya duduk bersandar pada batang pohon besar itu kini terkekeh aneh lalu bangkit berdiri, bertopang pada tongkatnya yang ternyata merupakan seekor ular kobra kering yang tentu saja sudah mati dan kaku keras. Sepasang suami isteri itu menatap ke arah tongkat itu dan hati mereka merasa ngeri.

Bagaimana mungkin seekor ular kobra yang sudah mati, kaku dan kering, tiba-tiba dapat hidup kembali lantas menggigit dua ekor kuda mereka sampai mati keracunan? Mereka berdua adalah ahli-ahli silat yang pandai, akan tetapi menghadapi peristiwa tadi, mereka maklum bahwa kini mereka berhadapan dengan seorang ahli sihir yang berbahaya. Hanya dengan kekuatan sihir saja ular yang mati dapat menyerang seperti ular hidup!

Han Si Tiong maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan orang pandai, maka dia pun mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, diturut oleh isterinya.

“Locianpwe, kami suami isteri merasa amat heran dan tidak mengerti mengapa locianpwe membunuh dua ekor kuda kami? Apakah kesalahan kami?” tanya Han Si Tiong, menahan kemarahannya.

Kakek itu terkekeh sambil menudingkan tongkatnya ke arah Han Si Tiong, lalu memukul-mukulkan tongkat itu di atas tanah. “He-he-he-he! Dia bertanya apa kesalahannya? Kalian adalah Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang dua belas tahun silam memimpin Pasukan Halilintar di bawah mendiang Jenderal Gak Hui, bukan?”

Karena kakek itu sudah mengetahui hal itu, Han Si Tiong tidak menyangkal lagi. “Benar, kalau begitu, kenapa?”

Wajah yang tadinya tertawa itu mendadak berubah cemberut dan tambah menyeramkan. Sepasang mata itu semakin lebar melotot dan sinarnya berapi-api.

“Han Si Tiong! Engkau dan isterimu membuat hidupku merana selama belasan tahun ini. Engkau mempermalukan aku, membuat aku tampak rendah di mata dunia kang-ouw dan terutama di dalam pandangan Kaisar Kerajaan Kin sehingga aku tak berani menemuinya. Selama belasan tahun ini kerjaku hanya merantau untuk mencari kalian berdua agar bisa membalas dendam! Hari ini kebetulan aku dapat bertemu kalian dan memang aku sengaja menghadang kalian di tempat sepi ini. Sekarang tibalah saatnya bagiku untuk membalas dendam. Kalian harus mati di tanganku!”

Han Si Tiong dan Liang Hong Yi adalah pasangan suami isteri gagah perkasa yang pernah maju perang, bahkan menjadi pemimpin Pasukan Halilintar, pasukan yang terkenal gagah berani sebagai bagian dari bala tentara yang dulu dipimpin oleh Jenderal Gak Hui. Mereka berdua sering terancam maut dalam perang melawan pasukan Kin.

Oleh karena itu mereka sama sekali tidak merasa gentar ketika mendengar ancaman itu. Bagi bekas pejuang seperti mereka, mati dalam pertempuran bukan hal aneh yang perlu ditakuti. Akan tetapi mereka merasa sangat penasaran karena mereka sama sekali tidak tahu mengapa kakek ini mendendam kepada mereka, dan mengancam akan membunuh mereka. Padahal mereka sama sekali tidak pernah mengenalnya!

“Nanti dulu, locianpwe. Sebenarnya siapakah locianpwe ini dan apa pula sebabnya maka locianpwe mendendam terhadap kami suami isteri, padahal kami sama sekali tidak kenal dengan locianpwe? Apa artinya ketika locianpwe mengatakan bahwa kami membuat hidup locianpwe merana selama belasan tahun? Kami sungguh tidak mengerti dan tidak pernah merasa bermusuhan dengan locianpwe,” kata Han Si Tiong dengan suara dan sikap masih menghormat.

“Ha-ha-ha, baik! Kalian memang berhak mengetahui supaya jangan mati menjadi setan-setan penasaran. Aku adalah Ouw Kan datuk dari Uigur yang lebih dikenal dengan julukan Toat-beng Coa ong (Raja Ular Pencabut Nyawa)! Aku adalah orang yang dekat dengan Kaisar Kerajaan Kin dan sangat dihormati olehnya. Belasan tahun yang lalu, ketika kalian memimpin Pasukan Halilintar dalam perang di perbatasan, pada satu pertempuran kalian telah membunuh Pangeran Cu Si, putera Kaisar Kerajaan Kin. Nah, Kaisar Kin lalu minta kepadaku agar mencari kalian yang telah kembali ke selatan kemudian membunuh kalian untuk membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si yang sudah kalian bunuh dalam pertempuran itu.”

“Tetapi peristiwa itu terjadi di dalam perang. Kami membunuh orang bukan karena urusan pribadi. Dalam perang, semua orang hanya melaksanakan tugasnya sebagai prajurit dan pertempuran dalam perang berarti membunuh atau dibunuh. Bagaimana kematian dalam perang bisa mendatangkan dendam pribadi?” bantah Han Si Tiong.

“Hemm, yang kalian bunuh itu bukanlah prajurit biasa, melainkan pangeran, putera Kaisar Kin! Kaisar Kin lalu memanggil aku dan minta kepadaku agar aku membunuh kalian. Akan tetapi ketika aku sampai di rumah kalian, di Lin-an (Hang chouw) kota raja Kerajaan Sung, kalian tidak berada di rumah karena belum kembali dari perbatasan. Yang ada hanyalah puteri kalian, maka aku lalu menculik puteri kalian itu.”

“Kakek jahat! Kiranya engkaulah yang menculik anak kami dan membunuh Lu-ma! Hayo katakan, di mana sekarang Bi Lan anakku!” Liang Hong Yi berseru marah sekali.

“Aku menculik anak itu untuk kuserahkan kepada Kaisar Kin supaya Kaisar merasa puas karena dapat melakukan apa saja terhadap anak dari suami isteri yang telah membunuh puteranya. Akan tetapi di tengah perjalanan anak itu lolos dari tanganku. Hal ini membuat aku merasa malu sekali kepada Kaisar Kin. Aku langsung kembali ke Lin-an, tetapi kalian sudah pergi. Peristiwa itu membuat aku merasa malu untuk bertemu dengan Kaisar Kin. Selama bertahun-tahun ini aku merantau ke mana-mana, hanya untuk dapat menemukan kalian dan membunuh kalian agar aku ada muka untuk bertemu dengan Kaisar Kin yang sudah mempercayaiku dan baru hari ini dapat menemukan kalian. Karena itu, bersiaplah kalian umtuk mampus di tanganku!”

“Nanti dulu, Toat-beng Coa-ong!” kata Han Si Tiong. “Sebelum engkau menyerang kami, katakan dulu di mana adanya anak kami itu sekarang!”

Tentu saja datuk itu merasa malu kalau harus menceritakan bahwa Jit Kong Lama sudah merampas anak itu dari tangannya sesudah dia kalah melawan pendeta Lama dari Tibet yang amat lihai itu.

“Sudah kukatakan bahwa dia lolos dari tanganku dan aku tidak tahu di mana dia berada. Sambutlah ini! Hyaaaattt...!”

Begitu selesai berkata, Toat-beng Coa-ong segera menyerang dengan tongkat ular kobra kering. Gerakannya cepat dan kuat bukan main sehingga tongkat itu mengeluarkan suara bersuitan ketika menyambar ke arah Han Si Tiong.

Pendekar ini melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. Liang Hong Yi juga sudah mencabut pedangnya. Melihat suaminya diserang, dia lalu menggerakkan pedangnya dan menyerang datuk Uigur itu dari samping. Pedangnya berkelebat, laksana kilat membacok ke arah kepala Ouw Kan. Datuk ini cepat menggerakkan tongkat ularnya dari bawah untuk menangkis sambil mengerahkan senjatanya.

“Singgg...! Tranggg...!”

Pedang itu langsung terpental dan Liang Hong Yi meloncat ke belakang dengan perasaan sangat terkejut. Hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena ketika pedangnya tertangkis tongkat ular, telapak tangannya terasa panas dan pedih sekali. Maka tahulah dia bahwa kakek itu merupakan lawan yang amat lihai.

Melihat isterinya melompat mundur dengan wajah menunjukkan kekagetan, Han Si Tiong cepat melompat ke depan kemudian menusukkan pedangnya ke arah lambung Ouw Kan. Namun datuk itu memutar tubuh ke kanan menghadapi Han Si Tiong. Tongkat ular kobra itu diputar cepat membentuk gulungan sinar hitam yang menangkis pedang Han Si Tiong yang menyerangnya.

“Cringgg...!”

Kembali terdengar dentingan nyaring ketika dua senjata bertemu, dan Han Si Tiong juga merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat. Dia pun maklum bahwa kakek itu benar-benar lihai dan di dalam adu senjata tadi dia mendapat kenyataan bahwa dia kalah kuat dalam hal tenaga sakti.

Maklum bahwa kepandaiannya kalah jauh dibandingkan Ouw Kan, terpaksa Liang Hong Yi tidak berani mendekat, hanya membantu saja suaminya dengan sekali-kali menyerang lawan dari belakang atau samping. Yang menghadapi Ouw Kan dari depan adalah Han Si Tiong.

Suami isteri itu maklum bahwa mereka berdua takkan mampu mengalahkan lawan, tetapi mereka juga tidak mempunyai pilihan lain kecuali melawan dan membela diri mati-matian. Tidak mungkin melarikan diri dari lawan yang amat tangguh itu.

Han Si Tiong mengeluarkan segenap kemampuannya, dibantu oleh Liang Hong Yi, namun setelah lewat lima puluh jurus, perlahan-lahan suami isteri itu terdesak hebat dan agaknya kematian mereka hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi saja. Mereka sudah sangat kewalahan sehingga hanya mampu melindungi diri dengan memutar pedang, sama sekali tidak dapat menyerang lagi. Keadaan mereka gawat sekali!

Melihat suaminya terdesak hebat, Liang Hong Yi menjadi nekat dan ia menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah lambung Ouw Kan sambil membentak nyaring.

“Haiiiitttttt...!”

Pedangnya meluncur bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Ouw Kan miringkan tubuhnya, tongkatnya menangkis dengan gerakan memutar sehingga pedang itu terpental dan terlepas dari tangan Liang Hong Yi. Tiba-tiba saja kaki kiri Ouw Kan mencuat sambil menendang ke arah perut wanita itu. Liang Hong Yi segera miringkan tubuh mengelak, namun ujung tongkat Toat-beng Coa-ong Ouw Kan tetap menyerempet pahanya sehingga wanita itu terpelanting jatuh.

Ouw Kan maju menghantamkan tongkat ularnya.

“Tranggg...!”

Pedang di tangan Han Si Tiong menangkis untuk menyelamatkan nyawa isterinya. Tetapi pertemuan dua senjata itu membuat Han Si Tiong terpaksa melepaskan pula pedangnya karena tangannya terasa panas sekali.

Kembali tongkat itu berkelebat untuk membunuh Liang Hong Yi yang masih duduk di atas tanah karena pahanya yang terkena tongkat ular itu terasa panas dan nyeri bukan main. Melihat berkelebatnya sinar hitam ke arah dadanya, wanita itu tidak dapat mengelak lagi dan sudah siap menerima datangnya maut.

“Singgg...! Tranggg...!”

Toat-beng Coa ong Ouw Kan terkejut bukan main. Tangkisan pada tongkatnya membuat tongkatnya terpental dan dia melompat jauh ke belakang. Ketika dia memandang, di sana telah berdiri seorang pemuda yang memegang sebatang pedang dan agaknya pemuda itu yang tadi menangkis tongkatnya dengan pedang yang dipegangnya. Di samping pemuda itu berdiri seorang gadis yang cantik jelita, yang memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Juga gadis itu membawa sebatang pedang di punggungnya.

Puteri Moguhai memang sengaja menyamar sebagai seorang gadis Han. Karena pedang bengkok sebagai tanda kekuasaan pemberian kaisar itu takkan ada gunanya bagi orang-orang di Negeri Sung, maka dia tidak membawanya dan sebagai gantinya dia membawa sebatang pedang biasa untuk melengkapi penyamarannya.

Melihat kakek itu, Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu segera mengenalnya. Walau pun sudah sepuluh tahun lebih tidak pernah berjumpa, akan tetapi dia masih ingat. Pada saat itu dia baru berusia kurang lebih delapan tahun, dan dia sering melihat kakek itu datang berkunjung menghadap ayahnya. Dia pun masih ingat bahwa kakek bangsa Hui itu adalah seorang datuk persilatan yang lihai dan bernama Ouw Kan. Akan tetapi tentu saja dia tak mau memperkenalkan diri karena dia sedang menyamar sebagai seorang gadis Han dan pula urusan datuk itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Ketika tadi dia dan Thian Liong sampai di tempat itu dan melihat seorang wanita terancam bahaya maut, Thian Liong segera melompat lalu menyelamatkannya dengan menangkis tongkat ular maut itu.

Toat Beng Coa-ong Ouw Kan marah bukan kepalang. Dengan tongkat ular kobranya dia menuding ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu lalu membentak marah.

“Hemm, bocah-bocah lancang! Sungguh berani kalian hendak menentang aku, Toat-beng Coa-ong?” Kakek itu hendak menggertak dengan nama julukannya yang terdengar sangat menyeramkan dan sudah terkenal sekali di dunia kang-ouw itu.

Thian Liong menjawab dengan sikap tenang. “Locianpwe, kami berdua sama sekali tidak menentangmu.”

“Tidak menentang? Engkau telah mencampuri urusanku dan berani menangkis tongkatku dan kau bilang tidak menentang?”

“Maaf, locianpwe. Maksudku bukan ingin menentang, hanya karena melihat ada seorang wanita hendak dibunuh dengan kejam, maka kami tidak mungkin membiarkan saja hal itu terjadi tanpa turun tangan mencegahnya.”

“Hehh! Berarti kalian berani mencampuri urusanku, menghalangi tindakanku dan itu sama saja dengan menentangku. Karena itu kalian juga akan mampus bersama mereka berdua, akan tetapi sebelum mati, beritahukan dahulu nama kalian agar jangan sampai kalian mati tanpa meninggalkan nama!” Ouw Kan membentak dengan sikap galak!

Pek Hong Nio-cu tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia hanya tahu bahwa Ouw Kan sering menjadi tamu ayahnya dan hubungan mereka tampak akrab, akan tetapi ketika itu dia terlampau masih kecil dan tidak tahu orang macam apa adanya Ouw Kan. Akan tetapi melihat sikapnya sekarang, dia dapat menduga bahwa Ouw Kan seorang yang berwatak kejam dan sombong. Maka dia lalu maju dan berkata dengan nyaring.

“Hei, tua bangka sombong! Kamu sudah tua hampir mati tidak mencari jalan yang terang, malah kejam dan sombongnya setengah mati. Apa kau sangka nama Raja Ular Pencabut Nyawa itu membikin kami merasa takut? Buka mata dan telingamu itu lebar-lebar lantas dengarkan. Aku bernama Sie Pek Hong dan dia ini bernama Souw Thian Liong. Lebih baik kamu cepat pergi dari sini. Jangan mengganggu paman dan bibi ini kalau kamu tidak ingin lebih cepat mampus!”

Thian Liong sendiri amat terkejut mendengar ucapan Pek Hong Nio-cu yang begitu pedas dan menusuk perasaan. Dia mengenal gadis itu sebagai seorang yang keras hati dan tak mengenal takut, akan tetapi sekali ini ucapannya sungguh membuat orang menjadi marah sekali dan dia tahu bahwa kakek ini bukan lawan sembarangan melainkan seorang yang sakti.

Akan tetapi karena ucapan itu sudah dikeluarkan, dia diam saja dan hanya dapat menanti sambil melihat reaksi kakek itu. Juga dia merasa heran mengapa tiba-tiba Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai itu menggunakan nama Sie Pek Hong.

Kini Ouw Kan memandang kepada Pek Hong Nio-cu dan bertanya dengan pandang mata penuh selidik. “Kamu bukan orang selatan. Kamu tentu dari kerajaan Kin di utara! Siapa kamu sebenarnya?”

Pek Hong Nio-cu tersenyum mengejek.

“Tidak peduli aku datang dari mana, dari utara, selatan, barat mau pun timur, yang jelas aku benci sekali dengan orang yang kejam dan sombong macam kamu!”

Ouw Kan yang sudah marah itu kini menjadi semakin geram. Kemarahannya memuncak karena dia dihina oleh gadis muda itu. Maka dia segera mengerahkan kekuatan sihirnya, menudingkan tongkat ular itu ke arah Pek Hong Nio-cu kemudian terdengarlah suaranya membentak nyaring penuh wibawa.

“Pek Hong! Aku adalah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, junjunganmu! Hayo cepat berlutut dan menyembah kepadaku!”

Di dalam suara itu terkandung kekuatan sihir yang amat kuat sehingga Pek Hong Nio-cu tidak mampu bertahan lagi. Semua perlawanan dalam batinnya seperti lumpuh dan kedua kakinya seperti dipaksa untuk berlutut. Akan tetapi sebelum ia berlutut di atas tanah, baru bergetar dan bergoyang tubuhnya, terdengar suara Thian Liong memasuki telinganya lalu menembus ke dalam batinnya bagaikan secercah sinar memasuki ruangan batinnya yang mendadak gelap tadi.

“Nio-cu, bangkit dan mundurlah!”

Pek Hong Nio-cu sadar kembali dan dia pun cepat melangkah mundur karena menyadari betapa berbahayanya lawan yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki ilmu sihir yang amat kuat itu.

Thian Liong melangkah maju menghadapi Ouw Kan dan mereka berdua saling pandang. Biar pun mereka berdua hanya berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan, akan tetapi sesungguhnya sudah terjadi adu kekuatan batin di antara kedua orang ini. Ouw Kan mencoba untuk mempengaruhi pemuda itu melalui pandangan matanya, sedangkan Thian Liong melawannya dengar kekuatan batinnya.

Akhirnya Ouw Kan merasa bahwa pemuda itu tidak dapat dikuasainya dengan ilmu sihir, bahkan pemuda itu telah berhasil melumpuhkan serangan sihirnya yang ditujukan kepada gadis itu. Karena itu dia segera mengerahkan kekuatan batinnya lagi, lalu melemparkan tongkatnya ke atas sambil berseru kepada Thian Liong.

“Sambut seranganku!”

Tongkat itu melayang ke atas kemudian menukik, dan seolah hidup kembali, ular kobra itu meluncur ke arah Thian Liong. Tadi dengan ilmu ini tongkat itu telah membunuh dua ekor kuda sebelum ‘terbang’ kembali ke tangan Ouw Kan.

Serangannya yang masih menggunakan ilmu sihir ini memang amat berbahaya. Tadi Ouw Kan tidak mempergunakan ilmu sihir ketika menghadapi Han Si Tiong dan Liang Hong Yi sebab dia merasa yakin bahwa dua orang itu bukan lawannya sehingga lebih memuaskan baginya kalau dia membunuh mereka dengan tangannya sendiri, tidak melalui sihir. Akan tetapi lawannya sekarang, pemuda ini adalah lawan yang amat tangguh, maka dia hendak mencoba menyerangnya dengan keampuhan tongkat ularnya didorong kekuatan sihirnya.

Thian Liong maklum bahwa serangan tongkat ular itu bukan serangan yang wajar, namun mengandung kekuatan sihir. Oleh karena itu dia pun maklum bahwa jika mempergunakan kekerasan maka dia akan terancam bahaya. Maka dia lalu mengerahkan tenaga saktinya, dikumpulkan pada kedua tangannya lalu dia mendorong ke depan, menyambut luncuran tongkat ular itu sambil berseru nyaring.

“Hyaaaattttt...!”

“Blarrrrr...!”

Tongkat yang berubah menjadi ular hidup itu diterjang gelombang hawa pukulan dahsyat sekali sehingga terpental ke atas, lalu terjatuh kembali ke tangan Ouw Kan dalam bentuk semula, yaitu seekor ular kobra kering yang berupa tongkat!

“Keparat busuk, mampuslah kau!” Ouw Kan yang kini sudah marah sekali melompat dan menerjang ke arah Thian Liong dengan serangan tongkatnya.

“Tranggg...!” Kini pedang Pek Hong Nio-cu yang menangkis tongkat itu.

Ouw Kan juga mendapat kenyataan bahwa gadis muda itu pun memiliki tenaga yang amat kuat, bahkan dapat mengimbangi tenaganya sendiri! Begitu menangkis tongkat, pedang di tangan Pek Hong Nio-cu sudah membalik ke bawah menusuk ke arah perut lawan. Ouw Kan terkejut dan cepat memutar tongkat ularnya ke bawah sehingga kembali pedang dan tongkat itu beradu hingga mengeluarkan suara berdencing nyaring.

Ouw Kan kini menyerang dengan tongkatnya, menyambar ke arah kepala gadis itu, ada pun tangan kirinya juga memukul dengan dorongan ke arah Thian Liong.

Thian Liong menyambut pukulan jarak jauh itu dengan dorongan tangannya sendiri, ada pun Pek Hong Nio-cu kembali menangkis dengan pedangnya.


“Tranggg...!”

Tubuh Ouw Kan terhuyung akibat dorongan tangan Thian Liong yang sudah menyambut serangannya tadi. Tentu saja dia kalah kuat, apa lagi karena pada waktu itu dia membagi tenaganya, yang kanan memegang tongkat menyerang Pek Hong Nio-cu sedangkan yang kiri menyerang Thian Liong dengan pukulan jarak jauh.

Sekarang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan maklum benar bahwa apa bila dia nekat melawan dua orang muda remaja ini, dia akan kalah, belum lagi diperhitungkan kalau Han Si Tiong dan Liang Hong Yi membantu dan mengeroyoknya. Maka, begitu terhuyung, dia sengaja menjatuhkan diri dan bergulingan. Tangan kirinya mencengkeram tanah dan pasir lalu dia menyambitkan pasir itu ke arah dua orang lawannya.

Thian Liong cepat berseru kepada Pek Hong Nio-cu. “Nio-cu, awas...!”

Gadis itu pun cepat mengelak ketika tampak sinar lembut hitam menyambar. Thian Liong menduga bahwa kakek yang julukannya Raja Ular itu tentu ahli racun dan bukan mustahil kalau pasir yang disambitkannya itu mengandung racun pula.

Ketika dua orang muda yang lihai itu mengelak dengan meloncat ke samping, Ouw Kan lalu meloncat berdiri dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Pek Hong Nio-cu yang marah kepada kakek itu hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita mengaduh sehingga Thian Liong tidak jadi mengejar.

“Nio-cu, tidak perlu dikejar, orang itu sangat curang dan licik bukan main, amat berbahaya kalau engkau mengejar seorang diri.”

Pek Hong Nio-cu tidak jadi mengejar dan ketika dara ini menengok, ia melihat Thian Liong sudah berjongkok di dekat laki-laki setengah tua yang merangkul wanita yang mengaduh-aduh itu. Ternyata sedikit luka pada paha Liang Hong Yi itu sekarang membuat pahanya mulai menghitam dan membengkak, rasanya nyeri dan panas bukan main.

Melihat ini, Thian Liong segera berkata kepada laki-laki itu. “Paman, biarkan aku mencoba untuk mengobatinya. Luka ini mengandung racun ular yang sangat berbahaya!”

Han Si Tiong mengangguk, maka Thian Liong sudah mencabut Thian-liong-kiam kembali, lalu berkata kepada Han Si Tiong.

“Harap paman robek saja celana di bagian yang terluka itu.”

Dalam keadaan seperti itu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi tidak mempedulikan tentang kesopanan lagi. Keadaan yang membahayakan nyawa Liang Hong Yi itu adalah keadaan darurat, maka Han Si Tiong lalu merobek celana di bagian paha yang terluka.

Sesungguhnya luka itu tidak besar, bahkan hanya tergores dan pecah kulitnya sehingga berdarah. Akan tetapi racun pada tongkat ular kobra itu membuat kulit pahanya berubah menghitam dan membengkak.

Souw Thian Liong menggunakan pedang Thian-liong-kiam seperti yang pernah diajarkan gurunya. Ia menggores luka kecil itu hingga melebar dan mengeluarkan darah menghitam, lalu pedang itu ditempelkan pada luka yang berdarah.

Pedang itu memang merupakan benda pusaka yang mengandung daya sedot terhadap racun. Perlahan-lahan pedang yang putih bersih itu mulai berubah hitam dan paha itu pun perlahan-lahan berubah menjadi putih mulus seperti semula. Hal ini berarti bahwa hawa beracun itu sudah dihisap oleh Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) yang kini berubah hitam. Setelah paha yang terluka itu tidak ada tanda hitam lagi, Thian Liong menghentikan pengobatannya. Han Si Tiong dan Liang Hong Yi merasa girang sekali.

“Ini aku mempunyai obat luka yang amat manjur. Pakailah ini, bibi,” kata Pek Hong Nio-cu sambil membuka sebuah bungkusan obat bubuk putih.

Ketika bubuk putih itu ditaburkan di atas kulit paha yang robek oleh ujung Thian-liong-kiam tadi, Liang Hong Yi merasa betapa luka itu kini menjadi sejuk dan rasa nyerinya lenyap sama sekali. Setelah pengobatan selesai, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi mengucapkan terima kasih kepada Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.

“Kalau kalian dua orang-orang muda yang memiliki kepandaian tinggi tidak muncul, tentu sekarang kami berdua sudah menjadi mayat, terbunuh oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu. Kami berterima kasih sekali kepada kalian yang sudah menyelamatkan nyawa kami,” kata Han Si Tiong. “Perkenalkan, Souw-sicu dan Pek-siocia, aku bernama Han Si Tiong dan ini adalah isteriku bernama Liang Hong Yi. Kami tinggal di dusun Kian-cung, tak jauh dari telaga ini. Mari, kami mengundang kalian berdua untuk singgah di rumah kami. Di situ kita dapat bicara dengan leluasa.”

Thian Liong saling pandang dengan Pek Hong Nio-cu dan pemuda itu melihat kawannya mengangguk.

“Baiklah, paman Han. Kami pun ingin sekali mengetahui akan peristiwa tadi,” kata Thian Liong dan dia bersama Pek Hong Nio-cu lalu mengikuti kedua orang suami isteri itu.

Pondok tempat tinggal suami isteri itu berada di tengah dusun Kian-cung dan merupakan pondok yang nampak mungil, dengan taman bunga di sebelah kiri rumah yang terpelihara baik.

Han Si Tiong memberi tahu seorang pembantunya, lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, supaya mengajak beberapa orang tetangga untuk mengubur dua ekor kuda mereka yang mati di dekat telaga. Kemudian dia dan isterinya mempersilakan dua orang tamu muda itu memasuki ruangan dalam dan mereka duduk mengelilingi meja bundar dari marmer. Liang Hong Yi lalu menghidangkan arak, akan tetapi karena Thian Liong tak biasa minum arak, atas permintaan Thian Liong nyonya rumah itu lalu menghidangkan air teh.

“Nah, paman dan bibi, sekarang ceritakanlah tentang penyerangan yang dilakukan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan tadi. Kenapa dia hendak membunuh paman dan bibi? Kami ingin sekali mengetahui sebabnya,” kata Pek Hong Nio-cu setelah minum secawan arak.

Han Si Tiong menghela napas panjang sebelum menjawab. “Tadinya kami sendiri juga merasa heran. Ketika kami berdua menunggang kuda, berjalan-jalan di sekeliling telaga, tiba-tiba dua ekor kuda kami diserang ular hingga roboh mati. Ular itu kembali ke tangan kakek itu lantas berubah menjadi tongkat. Kami baru tahu sesudah dia memperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dia hendak membunuh kami. Sebelumnya kami sama sekali tidak pernah mengenalnya dan belum pernah berjumpa dengannya.”

“Toat-beng Coa-ong itu adalah seorang datuk suku bangsa Hui yang tinggal jauh di utara, bagaimana dia dapat mendendam kepada paman dan bibi?” tanya Pek Hong Nio-cu.

“Sebenarnya peristiwa itu terjadi kurang lebih sebelas tahun lebih yang lampau, Ketika itu kami berdua ikut berjuang memimpin Pasukan Halilintar di bawah mendiang Jenderal Gak Hui. Pasukan kami bertempur melawan pasukan Kin di perbatasan, dan di dalam sebuah pertempuran, kami berhasil menewaskan seorang pangeran Kin yang bernama Pangeran Cu Si.”

“Hemm, begitukah?” kata Pek Hong Nio-cu.

Dia masih ingat betul. Ketika itu dia baru berusia kurang lebih delapan tahun. Pada suatu hari pasukan membawa pulang jenazah Pangeran Cu Si, kakak tirinya yang tewas dalam perang melawan pasukan Sung. Seluruh keluarga istana berkabung.

Thian Liong merasa tidak enak mendengar cerita itu karena dia dapat menduga bahwa Pangeran Cu Si itu pasti masih ada hubungan keluarga dengan Pek Hong Nio-cu.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner