KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-42


Suami isteri itu berjalan santai menuju ke rumah gedung tempat tinggal Panglima Kwee Gi. Ketika mereka tiba pada bagian jalan yang sunyi, tiba-tiba mereka melihat tiga orang berdiri menghadang di tengah jalan. Suami isteri itu segera memperhatikan dan merasa belum pernah mengenal mereka.

Yang seorang berpakaian seperti seorang tosu. Jenggotnya panjang dan tubuhnya agak pendek dengan perut gendut sekali. Mukanya berwarna kekuning-kuningan dan mulutnya tersenyum mengejek. Pada punggungnya tergantung sebatang pedang.

Orang kedua bertubuh jangkung kurus, mukanya seperti tengkorak dan dia pun memiliki sebatang pedang yang digantung di pinggang. Orang ketiga bertubuh pendek gendut dan membawa golok yang digantung di punggungnya. Kakek pertama itu berusia sekitar enam puluh lima tahun sedangkan dua orang terakhir berusia antara lima puluh dan empat puluh delapan tahun.

Mereka adalah Hwa Hwa Cin-jin, Bu-tek Mo-ko, dan Bu-eng Mo-ko yang memang sengaja menghadang di jalan sepi itu. Sesudah suami isteri itu melangkah dan sampai di hadapan mereka, Hwa Hwa Cin-jin menegur sambil tersenyum mengejek dan memandang rendah.

“Bukankah kalian berdua ini suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi?”

Karena tidak menyangka buruk, dan memang dia seorang yang jujur, maka Han Si Tiong menjawab. “Benar sekali. Totiang (bapak pendeta) siapakah dan ada keperluan apakah sehingga sam-wi (anda bertiga) menghadang perjalanan kami?”

Begitu mendengar jawaban itu, tiga orang yang ditugaskan untuk membunuh suami isteri itu segera mencabut senjata mereka dan Hwa Hwa Cin-jin berseru, “Kalian harus mati di tangan kami!” Tiga orang itu sudah menyerang dengan cepat dan ganas sekali.

Suami isteri itu pun cepat mencabut pedang mereka, lalu sambil melompat ke belakang mereka menangkis serangan itu. Liang Hong Yi menangkis pedang Hwa Hwa Cin-jin yang menyambar ke arah lehernya, sedangkan Han Si Tiong memutar pedangnya menangkis sambaran pedang dan golok dua orang jagoan yang di dunia kang-ouw dikenal sebagai Siang Mo-ko (Sepasang lblis Jantan).

“Tranggg...! Trangggg…!”

Bunga api berpijar dan suami isteri itu terhuyung ke belakang, terutama sekali Liang Hong Yi. Pertemuan pedang itu hampir saja membuat pedangnya terlepas dari pegangan dan dia merasa betapa telapak tangannya menjadi panas dan pedih sekali. Hampir saja wanita itu terjengkang, akan tetapi Han Si Tiong yang juga kalah kuat dan terhuyung langsung menyambar tangannya untuk mencegah isterinya terjatuh.

Tiga orang jagoan itu tertawa senang. Tadinya mereka khawatir kalau-kalau suami isteri itu memiliki kepandaian yang terlampau kuat bagi mereka sehingga sukar dibunuh. Akan tetapi ternyata dalam segebrakan saja, suami isteri itu telah terhuyung dan hampir roboh! Mereka bertiga tertawa kemudian mendesak lagi. Suami isteri itu repot sekali berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dan kadang kala mereka terpaksa menggunakan pedang menangkis.

Liang Hong Yi jelas bukan lawan Hwa Hwa Cin-jin. Tingkatnya masih kalah jauh sehingga dia menjadi repot sekali harus menghindarkan diri dari desakan pedang Hwa Hwa Cin-jin yang seolah-olah hendak mempermainkan calon korbannya.

Sementara itu, bila dibuat perbandingan maka tingkat kepandaian Han Si Tiong seimbang dengan Bu-tek Mo-ko atau Bu-eng Mo-ko. Jika bertanding melawan seorang dari mereka tentu akan ramai sekali dan belum tentu dia kalah. Akan tetapi dikeroyok dua, dia menjadi kerepotan dan seperti isterinya, dia pun hanya mampu mengelak dan menangkis.

“Cringgg...! Trakk...! Trakk...!”

Suami isteri itu melompat ke belakang dengan wajah berubah pucat, ada pun tiga orang itu tertawa-tawa melihat betapa pedang suami isteri itu sudah patah. Kini mereka bersiap untuk mengirim serangan maut.

“Tahan!” bentak Han Si Tiong. “Kami bukan orang-orang yang takut mati. Tetapi katakan dulu, siapa kalian dan mengapa kalian hendak membunuh kami?”

Tiga orang pembunuh itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Mereka memang dipesan agar jangan memberitahukan hal itu, khawatir kalau didengar orang lain dan mereka yang kagum terhadap suami isteri itu tentu akan merasa tidak senang kalau mendengar bahwa kedua suami isteri itu dibunuh atas perintah Perdana Menteri Chin Kui. Maka, tiga orang itu hanya tertawa kemudian mereka menerjang ke depan untuk mengirim serangan maut dengan senjata mereka kepada suami isteri yang sudah tidak berdaya itu.

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawa suami isteri itu, tiba tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat bagaikan dua ekor burung garuda menyambar.

“Tranggg...! Cringgg...!”

Hwa Hwa Cin-jin terkejut bukan main saat pedangnya terpental akibat ditangkis sebatang pedang lain yang gerakannya sangat cepat dan kuat sekali. Dia cepat-cepat memandang dan ternyata yang menangkisnya adalah seorang gadis yang cantik jelita dan kini gadis itu berdiri di depannya dengan pedang di tangan kanan.

Sementara itu Siang Mo-ko juga terkejut bukan kepalang karena senjata mereka bertemu dengan sebatang pedang yang demikian kuat dan tajam sehingga ketika mereka melihat, ujung pedang Bu-tek Mo ko dan ujung golok Bu-eng Mo-ko telah rompal!

Sementara itu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi girang bukan kepalang ketika pada saat kematian sudah di depan mata, ada dua orang penolong muncul dan menangkis serangan maut tiga orang lawan mereka itu. Mereka berdua segera mengenal gadis yang mengaku bernama Sie Pek Hong namun sesungguhnya puteri Kaisar Kin itu, yang muncul bersama seorang lelaki berkumis dan berjenggot tebal. Akan tetapi ketika mereka melihat dengan penuh perhatian, mereka segera mengenal bahwa orang yang berkumis dan berjenggot itu bukan lain adalah Thian Liong. Tentu saja mereka menjadi girang sekali, tetapi melihat betapa pemuda itu menyamar, mereka pun tidak mau memanggil namanya.

Sementara itu, Pek Hong Nio-cu yang sudah marah sekali, tanpa banyak cakap lagi telah bergerak ke depan, menerjang Hwa Hwa Cin-jin dengan serangan pedangnya. Juga Thian Liong langsung memutar pedangnya menyerang dua orang Siang Mo-ko. Serangan Thian Liong demikian hebatnya sehingga terdengar suara berdencing nyaring ketika dua orang itu menangkis pedang Thian-liong-kiam.

“Cringggg...!”


Dua orang itu terhuyung, ada pun pedang dan golok mereka patah di bagian tengahnya. Kemudian dua kali Thian Liong menendang dan dua orang kakak beradik seperguruan itu tak mampu menghindarkan diri lagi sehingga mereka terguling roboh. Mereka merangkak bangun dan melihat betapa Hwa Hwa Cin jin juga kerepotan menghadapi serangan gadis cantik itu, mereka berdua segera berseru.

“Cin-jin, lari! Kita mencari bantuan!”

Mendengar ini Hwa Hwa Cin-jin maklum bahwa keadaannya sangat berbahaya, maka dia pun melarikan diri bersama dua orang Siang Mo-ko untuk mencari bantuan.

Melihat tiga orang itu melarikan diri sambil berteriak bahwa mereka hendak mencari bala bantuan, Han Si Tiong berbisik kepada isterinya. “Cepat ajak mereka lari ke rumah Kwee-ciangkun!”

Liang Hong Yi maklum akan maksud suaminya. Mereka lari menghampiri dua orang muda itu dan Han Si Tiong memegang tangan Tian Liong sedangkan Liang Hong Yi memegang tangan Pek Hong, lalu menarik mereka untuk cepat berlari memasuki lorong kecil.

“Cepat lari bersama kami sebelum mereka kembali membawa pasukan!”

Thian Liong dan Pek Hong maklum akan maksud mereka, maka mereka menurut saja. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah pintu kecil yang merupakan pintu belakang gedung tempat tinggal Panglima Kwee Gi. Pintu kecil ini biasanya dipergunakan oleh para pelayan kalau hendak bepergian ke luar gedung untuk suatu keperluan. Han Si Tiong dan isterinya masih hapal akan keadaan rumah ini, maka tanpa ragu-ragu mereka memasuki pintu kecil itu lalu menutupkannya kembali.

Dua orang pelayan wanita yang kebetulan sedang berada di bagian belakang rumah itu amat terkejut melihat masuknya empat orang dari pintu itu. Mereka hendak menjerit, akan tetapi dengan cepat sekali Pek Hong dan Liang Hong Yi sudah menangkap lalu menutup mulut mereka dengan tangan.

“Jangan berteriak! Kami bukan orang jahat. Kami adalah sahabat-sahabat Kwee-ciangkun yang sedang membutuhkan perlindungan karena dikejar orang-orangnya Perdana Menteri Chin Kui. Cepat bawa kami ke dalam untuk bertemu dengan Kwee-ciangkun atau Kwee-hujin (Nyonya Kwee}!” kata Liang Hong Yi.

Dua orang pembantu itu masih ketakutan. Pada saat itu pula dari dalam muncul seorang pemuda tinggi besar yang berwajah tampan dan berusia sekitar dua puluh tahun.

“Heii, ada apa ini? Siapa kalian berempat?” Pemuda yang bukan lain adalah Kwee Cun Ki itu membentak dan meraba gagang pedangnya.

“Kwee-kongcu... mereka ini menerobos masuk... mengaku sebagai sahabat Thai-ciangkun (panglima besar)...” seorang di antara dua pelayan itu berkata gagap.

Mendengar ini Han Si Tiong cepat berkata. “Ahh, Kwee-kongcu? Engkau ini tentu Kwee Cun Ki, bukan?”

Liang Hong Yi juga berseru girang, “Benar, dia pasti Cun Ki! Cun Ki, apakah engkau telah lupa dengan kami? Ini adalah pamanmu Han Si Tiong dan aku...”

“Ahh…, engkau bibi Liang Hong Yi! Paman Han, bagaimana saya dapat mengenal paman kalau sekarang berjenggot dan berkumis seperti ini?” Cun Ki berseru girang, kemudian dia memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong. “Dan mereka ini siapa, paman?”

“Cun Ki, nanti saja kita bicara dan kuperkenalkan. Sekarang cepatlah ajak kami menemui ayah ibumu. Kami sedang dikejar-kejar oleh kaki tangan Chin Kui!”

“Ah, marilah, paman!” kata pemuda itu lalu dia pun mendahului mereka memasuki gedung meninggalkan para pembantu rumah tangga yang merasa lega bahwa tuan muda mereka mengenal baik para pendatang itu.

Kebetulan sekali Panglima Kwee Gi dan isterinya berada di rumah. Mereka sedang duduk di ruangan dalam ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan putera mereka, Kwee Cun Ki menerobos masuk diikuti empat orang asing. Kwee-ciangkun cepat bangkit berdiri dengan terkejut dan heran. Dia tidak segera mengenal sahabat baiknya itu.

“Ayah, ibu, lihat siapa yang datang berkunjung! Paman Han Si Tiong dan bibi Liang Hong Yi!”

Kini barulah suami isteri itu mengenali suami isteri yang menjadi sahabat baik mereka dan yang sudah belasan tahun tidak pernah mereka temui dan tidak mereka ketahui di mana tempat tinggalnya itu.

“Han-siauwte (adik Han)...!”

“Kwee-twako (kakak Kwee)...!”

Dua orang sahabat itu saling menghampiri dan mereka segera berangkulan. Juga Liang Hong Yi berangkulan dengan nyonya Kwee. Setelah menumpahkan rasa rindu dan girang hati mereka, empat orang tamu itu dipersilakan duduk.

“Han-siauwte, siapakah pemuda dan nona ini?” tanya Kwee-ciangkun sambil memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong.

“Nanti dulu, Kwee-twako. Sebelumnya ketahuilah bahwa tadi kami berempat diserang oleh orang-orangnya Chin Kui. Mereka lari memanggil bala bantuan lalu kami cepat melarikan diri ke sini! Mungkin mereka akan mengejar dan mencari sampai ke sini!”

Kwee-ciangkun mengerutkan alisnya sambil mengangguk-angguk. “Jangan khawatir, Han-siauwte. Kalian bersembunyilah di dalam ruangan rahasia, biar diantar oleh isteriku. Aku akan keluar untuk menemui mereka!”

Kwee-hujin (Nyonya Kwee) lalu mengajak empat orang itu ke ruangan belakang. Di dekat dapur nyonya itu menggerakkan sebuah patung yang berada di atas meja, lantas dinding ruangan itu tiba-tiba terangkat naik dan mereka lalu memasuki pintu rahasia itu. Sesudah tiba di dalam, dinding itu menutup kembali.

Ternyata ruangan di balik dinding ini cukup luas. Kwee-hujin mempersilakan empat orang itu duduk mengelilingi sebuah meja besar kemudian ia pun bercakap-cakap dengan Liang Hong Yi.

Sementara itu Kwee-ciangkun keluar dari gedung dan dia bertemu dengan pasukan yang dipimpin Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko. Dia mengenal tiga orang ini sebagai jagoan-jagoan Perdana Menteri Chin Kui.

“Ehh, Totiang hendak ke manakah membawa pasukan ini?” tanya Kwee-ciangkun.

Para jagoan Perdana Menteri Chin Kui itu sedang melaksanakan tugas rahasia, dan tentu saja mereka tidak ingin tugas itu diketahui oleh orang lain, apa lagi diketahui oleh seorang panglima kerajaan.

“Kami diutus Chin-taijin (Pembesar Chin) untuk mencari penjahat-penjahat. Mereka adalah dua pasang laki-laki perempuan yang masih muda dan setengah tua. Apa bila ada anak buah Kwee-ciangkun yang melihatnya, harap segera memberitahukan kami,” jawab Hwa Hwa Cin-jin.

“Ahh, begitukah? Baik totiang, akan kupesan kepada anak buahku!”

Mereka berpisah. Pasukan itu melanjutkan pencarian mereka dan Kwee-ciangkun kembali ke rumahnya. Setelah tiba di rumah, cepat dia memasuki ruangan rahasia di mana isteri dan empat orang tamunya itu telah menunggu.

“Benar saja, Han-siauwte. Tiga orang jagoan kaki tangan Chin Kui itu membawa tiga losin orang prajurit mencari kalian berempat. Sebaiknya kalian berdiam di sini dulu dan jangan keluar sampai keadaan di luar benar-benar aman.”

Sesudah Kwee-ciangkun duduk menghadapi meja, Han Si Tiong lantas memperkenalkan. “Twako perkenalkan. Pemuda ini bernama Souw Thian Liong dan nona ini bernama... Sie Pek Hong. Mereka berdua satu haluan dengan kita, menentang kelaliman Chin Kui. Tadi kami berdua diserang oleh tiga orang jagoan kaki tangan Chin Kui itu. Kami nyaris celaka. Untung muncul mereka berdua ini sehingga para penyerang itu melarikan diri. Sebelum mereka kembali membawa pasukan, aku mengajak mereka lari ke sini.” Setelah berkata demikian, Han Si Tiong menoleh kepada Thian Liong dan Pek Hong.

“Souw-sicu dan Sie-siocia, perkenalkanlah. Tuan rumah kita ini adalah Panglima Kwee Gi dan Nyonya Kwee, dan pemuda gagah ini adalah putera mereka, Kwee Cun Ki.”

Thian Liong mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat, diikuti oleh Pek Hong. “Maafkan kalau kami berdua mengganggu ketenteraman keluarga ciangkun,” kata Thian Liong dengan sikap hormat.

“Ah, sama sekali tidak mengganggu, Souw-sicu,” kata Kwee-ciangkun yang lalu menoleh dan memandang kepada Han Si Tiong.

“Han-siauwte, bagaimana asal mulanya maka setelah menghilang selama belasan tahun, engkau dan isterimu tiba-tiba muncul di kota raja dan diserang oleh kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui?”

“Ceritanya panjang, twako,” Han Si Tiong mulai bercerita. “Twako berdua tentu telah tahu bahwa sejak pulang dari perbatasan kemudian memperoleh kenyataan betapa bibi Lu-ma terbunuh dan anak kami diculik orang, kami segera meletakkan jabatan dan meninggalkan kota raja. Selama bertahun-tahun kami mencoba untuk mencari anak kami, namun semua usaha kami sia-sia sehingga akhirnya kami tinggal di tempat sunyi, di sebuah dusun dekat See-ouw (Telaga Barat). Kami sudah merasa putus asa untuk dapat menemukan Bi Lan, anak kami yang hilang itu...”

“Kami tidak tahu apakah anak kami itu masih hidup ataukah...” sambung Liang Hong Yi dengan suara gemetar saking sedihnya.

“Paman dan bibi! Adik Han Bi Lan masih hidup!” tiba-tiba Cun Ki berseru, nada suaranya amat gembira.

Dua pasang mata itu terbelalak. Han Si Tiong dan Liang Hong Yi bangkit berdiri dengan wajah berubah merah. Air mata bercucuran dari kedua mata Liang Hong Yi dan sepasang mata Han Si Tiong juga menjadi basah.

“Cun Ki, apa... apa... maksudmu...?” tanya Han Si Tiong gagap, seolah-olah tidak percaya akan apa yang didengarnya tadi.

“Cun Ki berkata benar, siauw-te. Bi Lan masih hidup, dalam keadaan sehat, bahkan kini dia menjadi seorang gadis yang lihai sekali!” kata Kwee-ciangkun.

Han Si Tiong melompat kemudian memegang kedua lengan sahabatnya dengan erat, ada pun Liang Hong Yi sudah menubruk kemudian merangkul Nyonya Kwee sambil menangis sesenggukan. Rasa bahagia yang terlampau besar memukul perasaan mereka sehingga mendatangkan keharuan yang amat mendalam.

“Ceritakan, twako, ceritakan tentang Bi Lan!”

“Tolong, Kwee-twako... cepat katakan... di mana anakku Bi Lan sekarang...?” kata pula Liang Hong Yi di antara tangisnya.

Pek Hong bangkit, lalu menghampiri Liang Hong Yi yang masih merangkul nyonya Kwee sambil menangis. Dengan lembut dia menarik pundak wanita yang menangis itu.

“Tenangkanlah hatimu, bibi.”

“Benar, paman Han dan bibi, harap tenang dan duduklah dulu. Tentu Kwee-ciangkun akan segera menceritakan tentang puteri paman dan bibi itu,” kata pula Thian Liong.

Suami isteri itu segera menyadari keadaan mereka. Mereka lalu duduk kembali dan Han Si Tiong berkata, “Twako dan so-so (isteri kakak), maafkanlah kelemahan kami.”

Kwee Gi tersenyum. “Tidak mengapa, siauw-te, kami dapat memaklumi perasaan kalian yang dilanda kegembiraan dan keharuan. Kurang lebih dua bulan yang lalu, puteri kalian Han Bi Lan memang datang di kota raja ini dan dia sempat membikin geger kota raja.”

“Apa yang telah dilakukan anakku, Kwee-twako?” tanya Liang Hong Yi.

“Ia datang ke kota raja untuk mencari kalian di rumah kalian yang dulu. Akan tetapi rumah itu kini telah menjadi tempat kediaman Jenderal Ciang Sun Bo dan ketika Bi Lan datang berkunjung, Jenderal Ciang mengaku sebagai sahabat kalian kemudian menerima Bi Lan dengan ramah.”

“Huh, mana mungkin Jenderal Ciang yang jahat itu menjadi sahabat kami? Dia bohong!” kata Liang Hong Yi gemas.

“Memang dia berbohong, akan tetapi tentu saja Bi Lan tidak tahu akan hal itu, maka dia menerima dengan senang hati ketika keluarga Ciang menjamunya dengan pesta makan. Ketika makan minum, mereka menaruh racun ke dalam anggurnya untuk membuat Bi Lan terbius dan pingsan...”

“Jahanam busuk! Kubunuh Jenderal Ciang keparat itu!” Liang Hong Yi membentak sambil mengepal tinju.

Pek Hong tersenyum geli. Nyonya itu wataknya seperti dia, paling benci melihat kelicikan orang. “Harap bibi tenang dulu. Kalau melihat wajah Kwee-ciangkun, kukira akhir ceritanya tidak begitu mengkhawatirkan.”

Kwee Gi tersenyum. “Penglihatan Nona Sie sungguh tajam. Memang benar, harap Han-siauwte berdua tidak menjadi gelisah dulu. Bi Lan tidak akan dapat bertemu dengan kami kalau dia sampai celaka di tangan mereka. Dia memang jatuh pingsan dan dia sempat dipondong oleh Ciang Ban ke dalam kamarnya. Akan tetapi Bi Lan ternyata cerdik bukan main. Dia telah merasa curiga, maka dia hanya pura-pura pingsan saja. Ia murid seorang ahli racun, maka tentu saja dia tidak mudah diracuni orang. Setelah tiba di kamar, melihat Ciang Ban bermaksud keji kepadanya, dia lalu membunuh Ciang Ban. Jenderal Ciang Sun Bo berikut Lui-ciangkun, pembantunya yang mengeroyok Bi Lan, dibunuh pula oleh puteri kalian itu, akan tetapi Hwa Hwa Cin-jin berhasil lolos.”

“Hebat! Bagus sekali. Ah, Bi Lan anakku...!” Liang Hong Yi berseru dan dia menangis lagi, penuh kegembiraan dan kebanggaan! Han Si Tiong juga meneteskan air mata karena ikut merasa girang dan bangga.

Sama sekali tidak pernah mereka bayangkan bahwa puteri mereka, anak tunggal mereka yang hilang itu, kini masih hidup dan menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai!

“Bi Lan dikepung oleh banyak prajurit. Dia mengamuk dan merobohkan banyak prajurit, lalu lolos dari rumah Jenderal Ciang. Ia dikejar banyak prajurit dan sebentar saja pasukan sudah dikerahkan untuk mengejarnya. Aku mendengar dari para penyelidikku bahwa yang membunuh Jenderal Ciang dan puteranya, juga membunuh Perwira Lui To serta banyak prajurit, adalah Han Bi Lan, puteri kalian. Mendengar ini aku menjadi sangat terkejut dan cepat keluar. Beruntung sekali aku bertemu dengan Bi Lan di lorong sepi dan aku segera memperkenalkan diri lalu mengajaknya sembunyi di rumah kami ini.”

“Ahh, lagi-lagi engkau yang sudah menolong, twako. Pertama engkau menyelamatkan Bi Lan dan hari ini engkau menyelamatkan kami!” kata Han Si Tiong terharu.

“Hemm, inilah gunanya persahabatan, siauwte. Jika bukan sahabat yang saling menolong, lalu siapa lagi? Biar kulanjutkan ceritaku tentang Bi Lan. Dia bersembunyi di sini selama seminggu dan selama itu dia menceritakan semua pengalamannya sejak dia diculik oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan. Ouw Kan datang ke rumah kalian di sini, lalu membunuh Lu-ma dan menculik Bi Lan. Di tengah perjalanannya melarikan Bi Lan, Ouw Kan bertemu dengan Jit Kong Lama, datuk persilatan dari Tibet dan pendeta Lama ini lalu merampas Bi Lan sesudah mengalahkan Ouw Kan. Sejak saat itu Bi Lan menjadi murid Jit Kong Lama sampai sebelas tahun lamanya. Dari Jit Kong Lama dia mempelajari ilmu-ilmu silat, sihir dan juga tentang racun sehingga dia menjadi lihai sekali. Selama itu dia tinggal di sebuah puncak dari pegunungan Kun-lun-san dan katanya akhir-akhir ini dia pun sempat menjadi murid Kun-lun-pai.”

“Ahh, anak kita menjadi seorang yang lihai! Terima kasih kepada Thian (Tuhan) ...!” kata Liang Hong Yi.

“Akan tetapi ke manakah Bi Lan pergi setelah meninggalkan rumahmu ini, twako?” tanya Han Si Tiong.

Kwee Gi menghela napas panjang. “Kami tidak tahu, siauw-te. Kami menyelundupkan dia keluar kota raja setelah tinggal di sini selama satu minggu. Dia tidak mengatakan ke mana akan pergi. Sebetulnya kami bermaksud menahannya di sini karena kami mempunyai niat untuk... menjodohkan Bi Lan dengan putera kami Cun Ki ini.”

“Ohhh... kami akan senang sekali dan setuju sekali!” seru Liang Hong Yi.

“Ya, tentu saja kalau Bi Lan juga menyetujui,” sambung Han Si Tiong sambil memandang kepada Kwee Cun Ki. Pemuda ini berwajah tampan dan nampak gagah perkasa, maka cukup membanggakan kalau dapat menjadi mantunya.

Cun Ki hanya tersenyum mendengar percakapan tentang perjodohannya dengan Bi Lan, gadis yang dikaguminya dan yang membangkitkan rasa cintanya itu. Di dalam hatinya dia merasa girang mendengar betapa ayah ibu Bi Lan tidak keberatan apa bila dia berjodoh dengan Bi Lan. Bahkan ibu gadis itu menyetujui.

“Nah, sekarang giliranmu menceritakan kepada kami mengenai perjalananmu sampai ke sini, Han-siauwte,” tanya Kwee Gi.

Han Si Tiong memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong, lalu dia menjawab. “Kwee-twako, sebetulnya kedatangan kami berdua di kota raja ini erat hubungannya dengan dua orang muda, Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong ini. Belum lama ini, tempat tinggal kami diketahui oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, datuk yang telah membunuh Bibi Lu-ma dan menculik Bi Lan itu. Karena dia gagal membunuh kami, bahkan gagal pula menculik Bi Lan, dia malu bertemu dengan Kaisar Kin yang mengutusnya membunuh kami. Kaisar Kin merasa sakit hati mendengar betapa puteranya, Pangeran Cu Si, tewas oleh kami dalam pertempuran di perbatasan dahulu. Maka selama ini Ouw Kan terus mencari kami hingga akhirnya dia menemukan kami di dekat Telaga Barat. Kami nyaris tewas oleh datuk yang amat sakti itu, tetapi kebetulan Souw-sicu dan Sie-siocia ini muncul lalu menolong kami, mengusir Ouw Kan yang dipaksa melarikan diri. Kemudian kami saling bercerita dan kami berdua mendengar bahwa Souw-sicu sedang dikejar-kejar pasukan kerajaan yang harus menangkap atau membunuhnya karena dia dituduh sebagai seorang pengkhianat yang menjadi kaki tangan Kerajaan Kin. Padahal dia sama sekali tidak berkhianat, bahkan dia hendak menentang Perdana Menteri Chin Kui. Tentu Chin Kui yang melempar fitnah dan dapat membujuk Sri Baginda agar mengeluarkan perintah menangkap Souw-sicu dengan tuduhan pengkhianat. Nah, karena kami yakin bahwa dia bukan pengkhianat, maka kami sengaja datang ke sini untuk minta bantuan twako mencari jalan untuk menyakinkan Sri Baginda bahwa Souw Thian Liong bukanlah pengkhianat dan tidak menjadi kaki tangan Kerajaan Kin seperti yang dituduhkan.”

Sekarang Panglima Kwee Gi memandang bergantian kepada Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong dengan sinar mata penuh selidik.

“Souw-sicu dan Sie-siocia, kami tidak mengenal kalian. Akan tetapi sesudah mendengar cerita Han-siauwte, kami percaya sepenuhnya pada kalian berdua. Kalau sekiranya kami dapat membantumu agar terlepas dari tuduhan itu, kami akan senang sekali membantu. Akan tetapi tentu saja kami harus mendengar penjelasan darimu, sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga kalian dituduh sebagai pengkhianat dan kaki tangan Kerajaan Kin?”

Thian Liong mengerutkan keningnya. Dia pun belum mengenal orang macam apa adanya Kwee Gi ini, maka dia menoleh dan memandang kepada Han Si Tiong dengan sinar mata bertanya. Han Si Tiong dapat memaklumi perasaan pemuda itu, maka dia pun berkata.

“Souw-sicu, engkau dan nona Sie telah mempercayai kami suami isteri. Kalau kini kalian mempercayai Panglima Kwee Gi, kami yang menanggung bahwa kepercayaanmu itu tak akan keliru.”

Mendengar ucapan Han Si Tiong itu, Thian Liong kini memandang kepada Sie Pek Hong. Gadis ini tersenyum lalu berkata.

“Liong-ko, aku juga dapat melihat dan merasakan bahwa Paman Kwee Gi adalah seorang yang baik dan bijaksana, maka aku tidak keberatan bila engkau menceritakan segalanya kepadanya.”

Lega hati Thian Liong mendengar ini. Dia lalu memandang kepada Panglima Kwee dan berkata, “Kwee-ciangkun...”

“Nanti dulu, tadi nona ini sudah memberi contoh baik, menyebut Paman Kwee kepadaku. Sebaiknya engkau pun menyebut kami paman dan bibi saja, Souw Thian Liong.”

Senang hati Thian Liong melihat sikap dan mendengar ucapan yang ramah itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner