KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-43


“Baiklah, Paman Kwee. Saya akan berterus terang kepada paman dan bibi, seperti kami juga sudah berterus terang kepada Paman dan Bibi Han. Pada mulanya saya melakukan perjalanan ke utara untuk...” Thian Liong berhenti karena dia tidak tahu atau belum ingin menceritakan bahwa dia mencari gadis pencuri kitab yang kini dia ketahui adalah Han Bi Lan, puteri Han Si Tiong. Tidak enak rasanya terhadap suami isteri Han itu bila dia harus menceritakan bahwa anak gadis mereka adalah seorang pencuri!

“Maksud saya... semula saya melakukan perjalanan merantau ke utara untuk meluaskan pengalaman. Di dalam perjalanan itu saya berkenalan dengan dia ini yang menghajar para pembesar Kerajaan Kin yang menindas rakyat. Tadinya saya mengenal dia sebagai Pek Hong Nio-cu, yaitu nama julukannya sebagai seorang pendekar wanita pembela keadilan dan kebenaran. Kemudian saya baru mengetahui bahwa Pek Hong Nio-cu yang sekarang menggunakan nama Han yaitu Sie Pek Hong ini bukan lain adalah Puteri Moguhai, puteri Kaisar Kerajaan Kin.”

“Ahh...!” Panglima Kwee dan isterinya berseru kaget.


Siapa orangnya yang tidak akan kaget mendengar bahwa gadis yang kini berada di rumah mereka itu ternyata adalah puteri Kaisar Kin? Mereka berdua memandang kepada ‘puteri’ itu dengan heran bercampur kagum.

Namun Pek Hong Nio-cu yang menjadi perhatian hanya tersenyum manis! Melihat betapa pandangan mata suami isteri itu kini agak berbeda, pandang mata yang menghormat, dia lalu berkata ramah.

“Paman dan Bibi Kwee. Keadaan diriku ini harap paman berdua rahasiakan. Anggap saja aku adalah gadis Han bernama Sie Pek Hong dan sebut saja namaku Pek Hong. Dengan demikian paman berdua sudah membantu penyamaranku dan aku berterima kasih sekali kepadamu.”

Suami isteri itu saling pandang lalu pecah ketawa Panglima Kwee. “Ha-ha-ha, luar biasa sekali! Seperti dongeng saja! Hebat, engkau sangat hebat dan kami benar-benar merasa kagum sekali padamu, Pek Hong!”

“Kepadamu aku juga minta hal yang sama, koko Kwee Cun Ki,” kata Pek Hong kepada pemuda tinggi besar itu. Cun Ki tersipu dan dia pun mengangguk.

“Baik, percayalah kepadaku. Aku bukan seorang yang suka panjang mulut, Hong-moi.”

Thian Liong tersenyum. “Nah, Hong-moi, agaknya kita sedang berada di antara keluarga yang bijaksana dan patut dihormati.”

Pek Hong mengangguk dan Han Si Tiong tertawa pula. “Ha-ha-ha-ha! Kepercayaan kalian berdua takkan sia-sia. Aku jamin bahwa kalian pasti aman berada di dalam rumah Kwee-toako.”

Kwee Gi tersenyum. “Sudahlah, cukuplah semua pujian itu. Sekarang lanjutkan ceritamu, Thian Liong!”

“Sesudah kami berdua berkenalan, kami sempat tertawan oleh orang-orang yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Kin. Untung kami berhasil lolos.” Dia tidak menceritakan mengenai pertotongan yang dilakukan suhu-nya yang menurut Pek Hong adalah Paman Sie.

“Kami jadi mengetahui rahasia pemberontakan itu yang diatur oleh Pangeran Hiu Kit Bong yang bersekongkol dengan Perdana Menteri Chin Kui yang diwakili oleh seorang pemuda bernama Cia Song. Kami berdua menentang pemberontakan itu dan berhasil mengundang pasukan yang berjaga di perbatasan barat sehingga akhirnya pemberontakan itu berhasil ditumpas. Sayang bahwa Cia Song, utusan Perdana Menteri Chin Kui itu bisa meloloskan diri. Agaknya dialah yang melapor kepada Chin Kui dan mereka melempar fitnah kepada diriku sehingga aku dijadikan orang buronan pemerintah Sung. Memang aku membantu pemerintah Kerajaan Kin, tetapi membantu dari ancaman pemberontak yang bersekutu dengan Perdana Menteri Chin Kui.”

“Hemm, sekarang aku mulai mengerti duduknya perkara. Dan Pek Hong, kenapa engkau meninggalkan... istana dan ikut Thian Liong ke sini, padahal di sini banyak bahaya yang mengancammu?”

Pek Hong tersenyum. “Liong-ko telah membantuku menyelamatkan kerajaan ayah, sebab itu aku ingin membalas budinya dan ingin membantu dia menyelamatkan Kerajaan Sung dari tangan Chin Kui yang kotor. Mengingat Chin Kui bersekutu dengan pemberontak di Kerajaan Kin, berarti dia juga musuhku, bukan? Dan ayahku, Raja Kin, juga menyetujui kepergianku ikut Liong-ko ke selatan.”

“Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu untuk membersihkan namamu, Thian Liong. Kalau tidak, engkau akan menjadi buronan pemerintah dan hidupmu tak akan aman lagi.”

“Akan tetapi bagaimana caranya, Kwee-toako? Kalau hanya Chin Kui yang mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap atau membunuh Thian Liong, maka hal itu tidak terlalu berbahaya dan juga tentu saja dapat dilawan. Tetapi apa bila pengejaran itu atas perintah dari Sribaginda, tentu seluruh negeri akan mengawasi Thian Liong dan kalau dia melawan pasukan pemerintah, tentu dia akan dituduh sebagai pemberontak,” kata Han Si Tiong.

“Agaknya tidak ada jalan lain kecuali satu, yaitu membunuh si jahat Chin Kui!” kata Pek Hong.

Liang Hong Yi berseru, “Tepat! Memang jahanam itu harus dibunuh karena dialah biang keladi semua kekacauan ini!”

Panglima Kwee Gi menggeleng kepala sambil tersenyum melihat dua orang wanita yang bersikap galak seperti harimau betina itu.

“Tidak begitu mudah untuk membunuh perdana menteri itu. Selain dia selalu dikawal oleh banyak jagoan yang tangguh, dia pun memiliki pasukan pengawal khusus yang jumlahnya sampai seratus orang. Ke mana pun pergi dia selalu terlindung. Selain itu, aku mendengar bahwa di dalam gedungnya yang seperti istana itu dipasangi banyak alat rahasia sehingga tidak mudah mencari tempat persembunyiannya.”

“Kalau begitu kita tunggu sampai dia keluar dari gedungnya lalu kita menyergapnya!” kata pula Pek Hong. “Kalau dia dilindungi seratus orang pengawal, kukira Paman Kwee tentu dapat pula mengerahkan pasukan yang lebih besar, mengingat paman adalah komandan pasukan keamanan kota raja!”

Kembali Panglima Kwee tersenyum sambil menggeleng kepala walau pun dia kagum akan semangat yang demikian hebat dari puteri Raja Kin itu. “Hal itu tidak mungkin dilakukan, Pek Hong. Sekarang pengaruh Chin Kui terhadap Kaisar sangat besar dan dia dipercaya penuh. Kalau kita mengerahkan pasukan lantas membunuhnya, jelas kita akan dianggap sebagai pemberontak terhadap kerajaan. Hal ini bahkan akan membuat keadaan menjadi semakin buruk dan merugikan bagi kita.”

Kwee Cun Ki yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, kini ikut merasa penasaran dan bertanya, “Wah, kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan, ayah?”

“Ya, apa yang harus kami lakukan sekarang, Kwee-twako?” tanya pula Han Si Tiong.

Semua orang memandang kepada Kwee Gi, menunggu jawabannya karena semua orang merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan bila jalan jang diusulkan Pek Hong tadi sama sekali tidak boleh dilakukan.

Panglima Kwee mengerutkan alisnya yang tebal. Sesudah berpikir sejenak kemudian dia berkata, “Hemm, kupikir sekaranglah saatnya yang amat tepat untuk bertindak. Aku telah mengumpulkan semua rekan pejabat yang sehaluan untuk menentang Chin Kui. Semua panglima yang sehaluan sudah pula menyiapkan pasukan masing-masing untuk melawan jika Chin Kui menggunakan kekerasan dan mengerahkan pasukan yang mendukungnya.”

“Dan apa yang dapat kami berempat lakukan untuk membantu?” tanya pula Thian Liong.

“Dua hari lagi akan ada persidangan, pada waktu mana para pejabat tinggi dan panglima datang menghadap Kaisar. Selama dua hari ini aku akan dapat mematangkan persiapan kami, akan kuajak semua rekan untuk berunding. Kemudian, setelah saatnya menghadap Kaisar tiba, kalian berempat, Han-siauwte bersama isterimu, Thian Liong dan Pek Hong ikut bersamaku menghadap Kaisar.”

“Heh? Ini sama saja dengan menyerahkan diri! Liong-ko sedang diburu pemerintah, kalau dia ikut menghadap Kaisar, bukankah itu berarti dia menyerahkan diri dan akan langsung ditangkap?” seru Pek Hong terkejut.

“Memang, dan menyerahkan diri itu menunjukkan bahwa Thian Liong bukan pengkhianat yang hendak memberontak. Di depan Kaisar akulah yang akan menjelaskan persoalannya pada saat dia membantu Kaisar Kin menghadapi pemberontakan yang bersekutu dengan Chin Kui. Justru fitnah terhadap Thian Liong itu akan kupergunakan untuk membongkar persekutuan Chin Kui dengan Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak kepada Kaisar Kin. Dan semua rekan sehaluan yang hadir akan mendukung laporanku kepada Kaisar.”

“Akan tetapi Perdana Menteri Chin Kui akan membantah dan memutar-balikkan fakta, dan di antara para pejabat yang menghadap Kaisar tentu banyak pula kaki tangannya yang akan mendukung semua laporannya,” kata Liang Hong Yi.

“Benar sekali, hal itu sudah kami perhitungkan.”

“Akan tetapi karena Kaisar lebih mempercayai Chin Kui yang sudah menguasainya, tentu Kaisar akan membenarkan perdana menteri itu. Liong-ko akan ditangkap dan dihukum!” protes Pek Hong.

“Kami sudah memperhitungkan demikian. Kalau benar seperti yang kau khawatirkan, Pek Hong, mungkin Thian Liong dan engkau hanya akan ditahan dulu di penjara istana. Aku mengenal watak Kaisar. Sesungguhnya beliau seorang bijaksana, hanya dipengaruhi Chin Kui. Kalau terjadi pertentangan pendapat di antara para pejabat tinggi tentu dia tidak akan tergesa-gesa menghukum kalian, melainkan menahan dahulu untuk dipertimbangkan lagi dan diselidiki oleh Kaisar. Dan untuk sementara ini tidak ada tempat yang lebih aman bagi kalian berdua, atau mungkin berempat dengan Han-siauwte dan isterinya, kalau omongan Chin Kui berhasil dipercaya oleh Kaisar. Setidaknya di sana kalian tidak akan dikejar-kejar lagi.”

“Akan tetapi, kalau kami dipenjara, tentu akan mudah bagi Chin Kui untuk membinasakan kami!” lagi-lagi Pek Hong memprotes.

“Jangan khawatir, Pek Hong. Kami juga sudah memperhitungkan segala kemungkinan itu. Ketahuilah bahwa kepala penjara istana adalah orang kita sendiri, sehaluan dengan kita, menentang Chin Kui. Maka kalau kalian ditahan di dalam penjara istana, aku yakin kalian akan diperlakukan dengan baik dan keselamatan kalian pasti terjamin.”

“Lalu, jika hal itu terjadi dan kami berempat ditahan dalam penjara, kemudian selanjutnya bagaimana, Kwee-twako?” tanya Han Si Tiong.

“Aku berpendapat bahwa engkau dan isterimu tidak akan dapat difitnah Chin Kui, Hian-te. Kalian hanya dimusuhi Chin Kui karena sebagai bekas bawahan mendiang Jenderal Gak Hui kalian dianggap berbahaya baginya. Akan tetapi pemerintah tak pernah menyalahkan kalian, bahkan kalian sudah berjasa besar ketika bala tentara Sung melawan pasukan Kin di perbatasan. Kalian turut kuhadirkan di depan Kaisar hanya untuk menjadi saksi betapa Chin Kui berniat jahat, hendak membunuh kalian yang telah berjasa kepada negara. Andai kata benar terjadi, setelah Thian Liong ditahan, tidak usah khawatir. Selain kepala penjara istana merupakan orang kita sendiri, juga kami akan berusaha menyadarkan Kaisar dan siap bertindak kalau Chin Kui mempergunakan kekerasan. Pendeknya, sekarang saatnya bagi kita untuk melakukan perlawanan habis-habisan terhadap Perdana Menteri Chin Kui.”

“Baiklah, Paman Kwee. Saya siap untuk dibawa menghadap Kaisar!” Thian Liong berkata penuh semangat. Dia teringat akan pesan gurunya agar dia membela Kerajaan Sung dari pengaruh dan kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui.

“Aku pun siap!” kata Pek Hong penuh semangat.

Empat orang yang dicari dan diburu oleh kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui itu tinggal dalam ruang rahasia gedung Panglima Kwee sampai dua hari. Selama itu Kwee-ciangkun mengadakan persiapan yang matang dengan para rekannya. Mereka semua menyiapkan laporan dalam usaha mereka menjatuhkan Perdana Menteri Chin Kui di depan Kaisar…..

********************

Ruang persidangan dalam istana Kaisar Sung Kao Tsung itu luas sekali. Meski pun pada pagi hari itu puluhan orang yang menduduki jabatan tinggi dan merupakan orang-orang penting di Kerajaan Sung berdiri menanti munculnya Kaisar Sung Kao Tsung, akan tetapi ruangan itu masih tampak lega karena ruang itu akan mampu menampung ratusan orang!

Para pejabat militer dan sipil sudah berdiri menanti dan mereka tidak berani berisik, berdiri diam menanti dengan sabar. Di sekeliling ruangan itu tampak para prajurit pengawal istana berjaga, ada dua losin pasukan tombak dan dua losin lagi pasukan golok. Sebagian besar berjaga di luar ruangan.

Panglima Kwee berdiri di depan. Di samping kirinya berdiri Han Si Tiong, Liang Hong Yi, Souw Thian Liong, dan Sie Pek Hong. Pek Hong menoleh ke kanan kiri, memperhatikan ruangan sidang itu, agaknya membandingkan dengan ruangan sidang di istana ayahnya.

Para pejabat tinggi yang menjadi rekan-rekan Panglima Kwee, tidak merasa heran melihat kehadiran empat orang pengikut Panglima Kwee ini. Tetapi mereka yang menjadi sekutu Perdana Menteri Chin Kui, memandang dengan curiga dan mereka itu saling berbisik-bisik lirih.

Tak lama kemudian suara pelapor terdengar lantang memenuhi ruangan itu.

“Yang Mulia Kaisar telah tiba...!”

Suara itu seakan merupakan komando karena semua orang yang berdiri di ruangan itu, menghadap singgasana, segera menjatuhkan diri berlutut dengan khidmat. Pek Hong juga ikut berlutut karena dia telah biasa dengan adegan macam ini. Hanya biasanya, dia berdiri di samping ayahnya, tidak ikut menghadap dan berlutut seperti ini.

Rombongan kecil itu melangkah perlahan, masuk ke ruangan dari pintu besar di samping singgasana. Kaisar Sung Kao Tsung berjalan perlahan-lahan dengan pakaian gemerlapan, sikapnya anggun dan dia tersenyum melihat para pejabat berlutut.

Di belakangnya berjalan seorang lelaki berusia sekitar enam puluh dua tahun, akan tetapi nampak jauh lebih tua dari pada usianya. Wajahnya penuh keriput dan rambutnya sudah putih semua. Akan tetapi pakaiannya mewah sekali, tak kalah dibandingkan pakaian yang dikenakan kaisar, dan dari pandang matanya mau pun senyum di wajahnya yang kurus itu tampak jelas keangkuhan dan kelicikannya. Itulah Perdana Menteri Chin Kui yang seperti biasanya dalam persidangan, selalu menghadap Kaisar lebih dulu dengan alasan memberi laporan lengkap lebih dulu sebelum kaisar dihadap semua pejabat tinggi.

Di belakang Perdana Menteri Chin Kui tampak beberapa orang thai-kam (orang kebiri atau sida-sida) yang menjadi pelayan pribadi kaisar dan paling belakang berjalan selosin orang prajurit pengawal pribadi kaisar. Begitu kaisar duduk di atas singgasana, semua pejabat tinggi yang menghadap segera berseru dengan suara berbareng.

“Ban-swe...! Ban-ban-swe...! (Panjang umur selaksa tahun!)''

Kaisar Sung Kao Tsung memberi isyarat dengan tangan kanannya, dan seorang thai-kam pelayan pribadi yang bertugas mengumumkan isyarat kaisar lalu berseru lantang.

“Para pejabat dipersilakan duduk!”

Dalam persidangan umum para pejabat tetap berdiri, akan tetapi kalau yang bersidang itu para pejabat tinggi, maka disediakan tempat duduk bagi mereka. Peraturan ini ditentukan kaisar mengingat bahwa dalam persidangan dengan para pembantu utamanya itu kadang-kadang makan waktu lama sehingga mereka akan kelelahan kalau harus berdiri terus.

Para penghadap itu segera mengambil tempat duduk masing-masing, dan tempat duduk mereka itu sudah ditentukan. Maka Han Si Tiong, Liang Hong Yi, Souw Thian Liong, dan Sie Pek Hong tentu saja tidak kebagian tempat duduk sehingga mereka hanya berlutut di dekat tempat duduk Panglima Kwee. Karena semua orang duduk dan hanya empat orang itu berlutut, maka mereka menjadi pusat perhatian.

Baru sekarang Perdana Menteri Chin Kui melihat mereka. Dia tidak mengenal Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong, akan tetapi dia mengenal Han Si Tiong dan isterinya, walau pun bekas perwira itu kini memelihara kumis dan jenggot.

Tentu saja perdana menteri itu terkejut dan marah bukan main, juga heran, akan tetapi dia tak berani membuat ribut di situ karena yang memusuhi suami isteri itu adalah dia sendiri. Bahkan kaisar tidak tahu tentang suami isteri bekas pembantu mendiang Jenderal Gak Hui itu.

Kaisar Sung Kao Tsung juga segera melihat empat orang yang berlutut itu, maka dia pun merasa heran. Melihat betapa empat orang itu berlutut dekat Kwee Gi, maka kaisar lalu bertanya kepadanya.

“Kwee-ciangkun, siapakah empat orang yang berlutut itu?”

“Ampunkan hamba, Sri Baginda Yang Mulia, hamba telah berani menghadapkan mereka berempat kepada paduka tanpa perintah paduka. Suami isteri ini adalah Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang pada dua belas tahun yang lalu pernah menjadi pimpinan Pasukan Halilintar yang telah berjasa memerangi bala tentara Kin di perbatasan.”

Kaisar Sung Kao Tsung mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Hemm, rasanya pernah kami mendengar tentang pasukan Halilintar yang gagah berani itu. Dan dua orang muda ini, siapakah mereka?”

“Sri Baginda Yang Mulia, pemuda dan gadis ini bernama Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong...”

“Wah, celaka!” tiba-tiba Perdana Menteri Chin Kui memotong. “Sri Baginda, pemuda inilah pengkhianat itu, antek Kerajaan Kin yang telah hamba laporkan kepada paduka. Inilah dia orang yang menjadi buruan kita. Berani benar memasuki ruangan ini, tentu berniat jahat terhadap paduka. Pengawal, tangkap pemuda itu!”

Kwee-ciangkun cepat berlutut dan berkata, “Ampun Yang Mulia, hamba yang menanggung bahwa Souw Thian Liong tidak akan berbuat jahat di sini.”

“Wah, ini jelas komplotan!” Chin Kui berteriak-teriak. “Yang Mulia, mohon paduka berhati-hati, agaknya Kwee-ciangkun sudah bersekongkol dengan pengkhianat ini, juga dengan suami isteri bekas anak buah Jenderal Gak Hui, tentu dengan maksud untuk menjatuhkan Paduka dan merebut kedudukan mahkota raja!” Chin Kui menudingkan tangannya kepada Kwee Gi dan empat orang yang berlutut. “Para pengawal! Cepat tangkap kelima orang ini sebelum mereka menyerang Sri Baginda!”

Akan tetapi pada saat itu pula lima orang panglima serta lima orang pembesar sipil turun dari kursi mereka lalu maju dan berlutut menghadap kaisar.

“Sri Baginda Yang Mulia…” Seorang pembesar sipil, Menteri Kebudayaan yang sudah tua dan amat dihormati oleh kaisar, berkata mewakili sembilan orang rekannya. “Hamba para abdi setia paduka yang bertanggung jawab apa bila Kwee-ciangkun mempunyai niat jahat atau memberontak. Mohon paduka sudi mendengarkan dulu semua penjelasan sebelum menjatuhkan perintah menangkap mereka. Hamba semua hanya merupakan abdi paduka yang setia, dan yang selalu menjaga keselamatan paduka dan Kerajaan Sung.”

“Wah, ini pengkhianatan besar! Mereka semua merupakan persekutuan pemberontak! Sri Baginda, sebelum terlambat, mereka harus cepat ditangkap dari dihukum gantung!” teriak Perdana Menteri Chin Kui.

Meski pun amat percaya dan sudah berada dalam pengaruh perdana menterinya yang dia anggap sangat setia dan pandai, akan tetapi sekali ini Kaisar Sung Kao Tsu meragukan ucapan itu.

“Kami kira mereka tidak akan memberontak. Bukan begini sikap orang-orang yang hendak memberontak. Biar kami memeriksa mereka.”

Mendengar ucapan kaisar itu, Kwee-ciangkun dan rekan-rekannya tampak amat gembira. Sebaliknya Perdana Menteri Chin Kui mengerutkan alisnya, wajahnya tampak muram dan penasaran sekali. Namun dia tidak takut karena merasa betapa kaisar tentu lebih percaya kepadanya dari pada kepada yang lain, apa lagi mengingat betapa kuat kedudukannya.

Kaisar Sung Kao Tsung memandang Thian Liong dengan tajam, lantas berkata, suaranya membentak. “Hei, orang muda. Kami mendengar bahwa engkau telah berkhianat kepada Kerajaan Sung dengan membantu Kerajaan Kin. Kamu menjadi mata-mata Kerajaan Kin untuk menyelidiki kerajaan kami, benarkah itu?”

Souw Thian Liong menjawab dengan hormat. “Berita itu hanya fitnah belaka, Sri Baginda Yang Mulia. Hamba memang berada di utara, di wilayah Kerajaan Kin, dalam perjalanan hamba mencari seorang maling yang mencuri sebuah kitab pusaka milik hamba. Di sana hamba melihat usaha pemberontakan terhadap Kaisar Kin yang dilakukan oleh Pangeran Hiu Kit Bong. Melihat ini hamba lalu membantu Kaisar Kin untuk menghancurkan kaum pemberontak. Hamba memang telah membantu Kaisar Kerajaan Kin, akan tetapi bantuan itu hanya untuk melawan pemberontakan di sana. Sama sekali hamba tidak menjadi kaki tangan Kerajaan Kin, apa lagi untuk menjadi mata-mata di sini.”

“Dia berbohong, Sri Baginda! Hamba mendengar jelas bahwa Souw Thian Liong ini sudah menjadi kaki tangan Kerajaan Kin, bahkan hamba mendengar keterangan dari penyelidik hamba bahwa Souw Thian Liong bergaul akrab dengan puteri Kaisar Kin!”

“Heiii, Perdana Menteri Chin Kui! Siapa penyelidikmu itu? Tentu dia penjahat busuk yang bernama Cia Song, bukan? Cia Song itu adalah utusanmu dalam persekutuanmu dengan pemberontak Pangeran Hiu Kit Bong, bukan?” Pek Hong berteriak.

“Perempuan jahat! Jaga mulut busukmu itu! Sri Baginda, perempuan ini sudah menghina hamba, berarti merendahkan paduka. Dia berani berteriak-teriak di depan paduka. Tentu dia sangat jahat dan tentu dia adalah tokoh di utara yang menjadi mata-mata, teman baik pengkhianat Souw Thian Liong.”

Kaisar Sung Kao Tsung mengerutkan alis. Sudah biasa dia mempercaya semua omongan perdana menterinya, dan tadi dia pun merasa agak tersinggung dan tidak senang melihat sikap Pek Hong yang begitu berani seolah tak peduli bahwa dia sedang berada di tengah persidangan dalam istana, bukan dalam pasar atau di jalan umuml Akan tetapi kaisar itu juga amat terkejut mendengar ucapan gadis itu yang menuduh Perdana Menteri Chin Kui bersekongkol dengan Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak terhadap Kaisar Kin.

“Sribaginda Yang Mulia, apakah paduka lebih percaya dengan obrolan kosong perempuan berlidah utara mata-mata bangsa Kin ini, dari pada keterangan hamba yang selalu setia kepada paduka? Hamba bersumpah tidak pernah berhubungan dengan pangeran mana pun juga dari kerajaan Kin, apa lagi dengan pemberontak. Untuk apa hamba bersekutu dengan pemberontak? Apa keuntungan hamba? Harap paduka memberi hukuman kepada perempuan jahat yang menjatuhkan fitnah ini, juga kepada Souw Thian Liong ini!”

Melihat kaisar bimbang, Panglima Kwee cepat berkata, “Mohon ampun Sri Baginda Yang Mulia. Kalau memang kedua orang muda ini memiliki niat jahat, untuk apa mereka berdua berani datang menghadap paduka? Hamba yang bertanggung jawab. Harap paduka suka mempertimbangkan dan tidak tergesa gesa menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang tidak berdosa. Jika paduka masih meragukan kebersihan Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong, hamba usulkan agar mereka berdua ini untuk sementara ditahan dulu di dalam penjara istana, kemudian paduka selidiki siapa yang bersalah dan siapa yang benar, baru paduka menjatuhkan keputusan hukuman kepada siapa pun yang bersalah. Harap paduka ampunkan hamba yang berani mengajukan saran, akan tetapi semua ini hamba lakukan demi mempertahankan kebijaksanaan dan keadilan paduka.”

Menteri Kebudayaan Pui yang tua itu mewakili teman-temannya yang kesemuanya masih berlutut bersama Panglima Kwee segera berkata, “Hamba semua abdi paduka yang setia mendukung saran dari Kwee-ciangkun, Yang Mulia.”

“Wah, kalian semua pengkhianat dan pemberontak! Berani sekali kalian bersikap kurang ajar terhadap Sri Baginda Yang Mulia? Sejak kapan pejabat-pejabat macam kalian boleh memberi perintah kepada Sri Baginda Yang Mulia? Ini adalah penghinaan namanya! Aku akan membasmi semua pengkhianat dan pemberontak! Pengawal! Tangkap mereka para pengkhianat ini!” Perdana Menteri Chin Kui berteriak-teriak dengan marah sekali, amarah yang timbul dari rasa gelisah melihat betapa orang-orang itu berani hendak membongkar rahasia dan kesalahannya di depan Sri Baginda Kaisar.

Sebagian dari para prajurit pengawal itu ada yang telah dipengaruhi Perdana Menteri Chin Kui dan menerima sogokan, namun karena Kaisar tidak memberi tanda untuk bergerak menangkap, tentu saja mereka tidak berani bergerak, hanya menanti tanda dari Kaisar.

“Hentikan semua perdebatan ini! Memusingkan kami saja!” kata Kaisar Sung Kao Tsung sambil mengerutkan alisnya. “Pengawal, tangkap Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong ini dan tahan mereka dalam penjara! Kelak kami baru akan mengambil keputusan!”

Empat orang pengawal maju memberi hormat, lalu mereka menghampiri Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong. Dengan tertib mereka berempat menyuruh dua orang muda itu berdiri, kemudian mengawal mereka berdua keluar dari ruangan itu.

Karena sebelumnya memang sudah direncanakan oleh Kwee-ciangkun, maka Thian Liong dan Pek Hong tenang-tenang saja ketika dikawal menuju ke penjara istana yang terletak di bagian belakang bangunan istana yang luas itu. Bahkan ketika meninggalkan ruangan itu, Pek Hong cengingisan, senyum-senyum dan ketika melihat Perdana Menteri Chin Kui memandang kepadanya, dia melotot sambil menjulurkan lidahnya kepada perdana menteri itu.

Chin Kui merasa diejek di depan para pejabat tinggi, karena itu sukar sekali dia menahan kemarahannya. Dia mengamangkan tinjunya ke arah Pek Hong yang dibalas oleh gadis ini dengan meruncingkan bibirnya ke arah Chin Kui.

Semua orang melihat ini dan diam-diam mereka heran sekali dengan keberanian gadis itu. Hanya Kwee Gi, Han Si Tiong, dan Liang Hong Yi saja yang tidak merasa heran karena mereka maklum bahwa gadis itu adalah puteri Kaisar Kin, tentu saja tidak merasa rendah diri atau takut menghadap semua penghuni istana termasuk kaisarnya sendiri!

Biar pun belum ada keputusan hukuman Kaisar, namun hati Chin Kui sudah merasa lega bahwa dua orang itu sudah ditahan di dalam penjara. Untuk sementara dia merasa aman dan sesudah mereka berada di dalam penjara, bukan merupakan pekerjaan sukar baginya untuk membunuh dua orang muda yang berbahaya itu.

Kini Kaisar Sung Kao Tsung memandang kepada Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, lantas bertanya. “Kalian suami isteri yang dulu menjadi pimpinan Pasukan Halilintar, kami ingat bahwa setelah perang berhenti, kalian langsung mengundurkan diri dari jabatan. Sekarang apa kehendak kalian, berani ikut Kwee-ciangkun menghadap dalam persidangan ini tanpa kami panggil?”

“Ampunkan hamba berdua, Sri Baginda Yang Mulia. Dua belas tahun yang silam, hamba berdua mengundurkan diri sebab hamba berdua hendak mencari puteri kami yang hilang diculik orang. Kemudian, karena merasa rindu kepada para sahabat hamba di kota raja, hamba berdua kembali ke sini untuk berkunjung kepada para sahabat, terutama kepada Kwee-ciangkun yang sudah hamba anggap sebagai saudara sendiri. Akan tetapi di dalam perjalanan, tiba-tiba saja hamba berdua diserang hendak dibunuh oleh tiga orang jagoan yang diutus oleh Perdana Menteri Chin Kui. Hamba berdua tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap dia, akan tetapi kemudian hamba mengetahui bahwa Perdana Menteri Chin Kui memang ingin membasmi semua orang yang pernah berjuang membela negara di bawah pimpinan mendiang Jenderal Gak Hui.”

“Bohong, itu fitnah! Sri Baginda, harap jangan percaya fitnah itu. Hei, orang she Han, apa buktinya bahwa aku mengutus orang untuk membunuh kalian? Mana buktinya? Hayo kau tunjukkan buktinya, jangan bicara bohong dan menyebar fitnah!” bentak Chin Kui.

“Buktinya memang tidak ada, tetapi saksinya banyak. Saksi pertama adalah Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong tadi, karena dua orang muda itulah yang menyelamatkan kami berdua dan membuat para pembunuh melarikan diri. Kemudian, ada lagi saksinya, yaitu Kwee-ciangkun yang bertemu dengan ketiga orang pembunuh itu, yang bukan lain adalah Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko, jagoan-jagoan yang kau kirim untuk membunuh kami!” kata Liang Hong Yi dengan berani.

“Bohong! Semua saksi itu adalah komplotan kalian yang sengaja mengatur muslihat untuk menjatuhkan aku! Sri Baginda Yang Mulia, Han Si Tiong bersama isterinya ini adalah dua orang yang jahat sekali. Tentu Paduka sudah mendengar bahwa Jenderal Ciang Sun Bo dan puteranya, Ciang Ban, telah dibunuh orang. Paduka tahu siapakah yang membunuh mereka? Pembunuhnya bukan lain adalah seorang gadis bernama Han Bi Lan, puteri dari suami isteri jahat ini!”

Kaisar Sung Kao Tsung terkejut sekali mendengar ucapan Perdana Menteri Chin Kui ini. Dia memandang kepada suami isteri itu dan bertanya, “Han Si Tiong, benarkah puterimu membunuh Jenderal Ciang dan puteranya?”

“Benar sekali, Yang Mulia. Jenderal Ciang dan puteranya menipu puteri hamba. Mereka menjamu sekaligus meracuni puteri hamba, maka puteri hamba lalu membunuh mereka yang jahat itu,” jawab Han Si Tiong dengan tenang.

“Nah, laporan hamba benar, Sri Baginda. Kalau puterinya pembunuh kejam, orang tuanya tentu bukan orang baik-baik. Karena itu mereka berdua ini harus dihukum!” teriak Perdana Menteri Chin Kui.

Kaisar Sung Kao Tsung benar-benar menjadi bingung dan pusing. Baru sekali ini di dalam persidangan terjadi perbantahan dan percekcokan saling tuduh seperti itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner