KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-44


“Ampun, Sri Baginda Yang Mulia. Hamba bersedia menjadi penanggung jawab mengenai kebenaran keterangan Han Si Tiong. Mendiang Jenderal Ciang Sun Bo adalah anak buah Perdana Menteri Chin Kui, maka dia hendak mencelakai puteri Han Si Tiong itu. Mohon kebijaksanaan paduka untuk menyelidiki kebenaran laporan hamba,” kata Panglima Kwee dan sepuluh orang pejabat tinggi itu pun mengeluarkan pendapat mereka melalui Menteri Kebudayaan Pui.

“Hamba semua mendukung kebenaran laporan Panglima Kwee Gi!”

Dengan pusing Kaisar mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa semua orang harus diam, kemudian dia berkata. “Kami akan menyelidiki siapa yang bersalah dan siapa yang benar dalam hal ini. Untuk sementara, Han Si Tiong bersama isterinya ditahan seperti dua orang muda tadi. Pengawal! Tahan Han Si Tiong dan Liang Hong Yi di dalam penjara, tapi pisahkan dari dua orang muda tadi!”

Empat orang pengawal maju, lantas suami isteri itu digiring keluar dari ruangan itu menuju ke penjara istana. Sesudah Han Si Tiong dan Liang Hong Yi dibawa pergi para pengawal, maka mulailah para pejabat tinggi itu, dipimpin oleh Panglima Kwee Gi, berganti-ganti dan sambung-menyambung, membuat pelaporan kepada Sri Baginda.

Semua memberi laporan yang membongkar keburukan Perdana Menteri Chin Kui. Ada yang melaporkan tentang penindasan Chin Kui dan kaki tangannya terhadap rakyat jelata dengan tindakan yang sewenang-wenang, pemerasan lewat pajak yang berlebihan, sogok-menyogok, dan berbagai korupsi. Semua laporan itu membongkar kenyataan yang sangat jauh bedanya dengan laporan Chin Kui kepada Kaisar yang selalu baik-baik saja.

Kwee-ciangkun sendiri melaporkan betapa kehidupan Chin Kui amat berlebihan, istananya bahkan lebih mewah dari pada istana kaisar sendiri, kekayaannya amat besar dan semua itu adalah hasil korupsi dan pemerasan terhadap rakyat. Tentu saja Perdana Menteri Chin Kui dengan kemarahan meluap-luap berteriak-teriak menyangkal semua tuduhan itu.

“Sri Baginda Yang Mulia. Mereka semua ini, Kwee Gi dan konco-konconya, adalah orang-orang yang merasa tidak senang dengan kekuasaan paduka sebagai kaisar! Mereka tidak berani terang-terangan menyerang paduka, sebab itu mereka alihkan kepada hamba yang merupakan abdi paling setia dari paduka. Mereka sengaja menyebarkan fitnah-fitnah keji untuk mengadu domba antara paduka dengan hamba, dan semuanya itu ditujukan untuk melemahkan kedudukan paduka. Apa bila muslihat mereka berhasil menjatuhkan hamba, barulah tiba giliran paduka karena hamba sudah tidak ada lagi untuk membela paduka. Mereka ini jelas bermaksud hendak memberontak dan menggulingkan kekuasaan paduka, Sri Baginda!” Sesudah Perdana Menteri Chin Kui berteriak demikian, para sekutunya juga mendukung dan membenarkannya.

Sebaliknya Kwee-ciangkun dan sepuluh orang rekannya membantah. Terjadi perbantahan dan masing-masing bahkan sudah menjadi panas dan hampir terjadi perkelahian di depan Kaisar!

Kaisar Sung Kao Tsung bangkit berdiri, memegangi kepala dengan kedua tangannya, lalu membentak. “Semua diam! Apakah kalian semua sudah tidak menganggap aku sebagai junjungan kalian lagi? Di dalam persidangan, di hadapanku, kalian berani membikin ribut seperti di dalam pasar!”

Semua pejabat cepat menjatuhkan diri berlutut dan hampir berbareng mulut mereka, baik dari pihak Perdana Menteri Chin Kui dan sekutunya, mau pun dari pihak Kwee-ciangkun dan rekan-rekannya, berseru memohon ampun kepada Sri Baginda Kaisar.

“Sudah, aku sudah cukup pusing! Persidangan ditunda sampai satu minggu, barulah aku akan mengambil keputusan!”

Setelah berkata demikian, dengan sikap kasar Kaisar Sung Kao Tsung lantas bangkit dan melangkah keluar dari ruangan sidang itu, diikuti para thaikam dan pengawal pribadinya. Agaknya sesudah berada di dalam kaisar memerintahkan kepada para perwira pengawal pribadi sebab setelah kaisar pergi, tak lama kemudian semua prajurit pengawal berkumpul di ruangan sidang itu, melakukan penjagaan kalau-kalau para pejabat tinggi itu membuat ribut lagi.

Kwee-ciangkun serta sepuluh orang rekannya cepat meninggalkan istana, demikian pula Perdana Menteri Chin Kui segera keluar bersama kelompoknya yang terdiri dari beberapa panglima dan menteri, berjumlah sekitar lima belas orang. Para pejabat lainnya yang tidak memihak, akan tetapi sebagian besar adalah pejabat yang setia kepada kaisar, juga turut bubaran…..

********************

Kedua pihak yang bertentangan itu masing-masing berunding dengan kelompoknya. Pihak yang menentang Chin Kui, dipimpin Kwee-ciangkun, segera membuat persiapan dengan pasukan mereka, berjaga-jaga kalau pihak lawan menggunakan kekerasan. Ada pun Chin Kui yang penasaran dan marah sekali, kemarahan yang timbul dari kekhawatiran, segera berunding pula dengan sekutunya.

Semua orang yang berada di pihak Perdana Menteri Chin Kui merasa terancam. Apa bila para penentang itu berhasil, berarti kedudukan mereka akan goyah dan penghasilan besar yang mengalir masuk secara berlimpah ke kantung mereka tentu saja akan berhenti atau terganggu. Tak seorang pun di antara mereka merasa rela kehilangan kedudukan mereka yang amat tinggi itu.

Kedudukan atau jabatan tinggi berarti kekuasaan, dan kekuasaan berarti lancarnya aliran harta yang masuk ke kantung mereka. Kemuliaan, kemewahan dan kekuasaan yang telah membuat mereka selalu menang dan selalu benar itu menjadi sebab utama kemelekatan pinggul mereka pada kursi kedudukan sehingga tentu saja mereka akan mempertahankan kursi kedudukan itu dengan cara apa pun juga, apa bila perlu dengan kekerasan, bahkan dengan taruhan nyawa sekali pun!

Setelah berunding selama semalam suntuk dan Chin Kui mengumpulkan saran-saran dari para sekutunya, kemudian dia mengambil keputusan dengan suara tegas.

“Kita semua mengetahui bahwa kedudukan kita sedang terancam bahaya dengan adanya tuduhan dari Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong, juga dari Han Si Tiong dan isterinya. Akan celakalah kita kalau sampai Kaisar memperoleh bukti akan keterlibatan kita dengan pemberontakan di Kerajaan Kin. Semua ini karena keteledoran Cia Song hingga mereka dapat mengetahui bahwa aku mengirim Cia Song ke utara. Karena itu, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri adalah membunuh empat orang tahanan itu. Sesudah mereka berada di dalam tahanan, tidak begitu sukar untuk membunuh mereka. Dan engkau, Cia Song, engkau harus menebus keteledoranmu di utara itu. Engkau yang harus melakukan pembunuhan terhadap mereka berempat. Engkau boleh membawa bantuan, tetapi jangan sampai tugas itu gagal!”

Cia Song yang memang telah merasa betapa dialah yang menyebabkan perdana menteri itu ketahuan mengadakan persekutuan dengan Pangeran Hiu Kit Bong yang mengadakan pemberontakan di Kerajaan Kin, hanya dapat mengangguk menyanggupi.

“Akan tetapi apa artinya jika hanya membunuh empat orang itu saja? Kepercayaan Kaisar terhadap anda tentu sekarang sudah hilang, Chin-taijin (pembesar Chin), setidaknya telah berkurang banyak!” kata seorang panglima yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam.

“Anda memang benar, Lo-ciangkun. Seperti diusulkan oleh beberapa orang saudara tadi, sekali ini kita tidak boleh bekerja kepalang tanggung. Selain menugaskan Cia Song untuk membunuh empat orang tahanan yang sangat berbahaya bagiku itu, pada malam itu juga kita pun harus membunuh kaisar. Bila usaha ini berhasil baik, kita segera menggunakan pasukan yang telah dipersiapkan untuk menyerbu dan menduduki istana. Jika kaisar telah tewas, tentu mereka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi kalau usaha membunuh kaisar gagal, maka kita harus bersabar, tidak boleh menyerbu istana. Kita harus mencari jalan dan kesempatan lain yang lebih menguntungkan. Bagaimana pun juga, kurasa kaisar masih menaruh kepercayaan kepadaku karena semua yang dituduhkan oleh gerombolan pengacau itu belum dapat dibuktikan.”

Setelah berunding dengan matang, para pemberontak ini bubaran untuk mempersiapkan diri dengan tugas masing masing. Cia Song juga membuat persiapan. Karena dia sudah ketahuan sebagai penghubung Chin Kui dengan pemberontak di Kerajaan Kin dan perdana menteri itu menyangkal, maka pemuda ini tidak boleh memperlihatkan diri kepada umum dan diharuskan bersembunyi di ruangan rahasia dalam istana Perdana Menteri Chin Kui.

Cia Song mengajak empat orang kaki tangan Chin Kui yang selama ini diselundupkan dan menjadi prajurit dalam pasukan pengawal istana untuk menemaninya melaksanakan tugas pembunuhan terhadap empat orang tahanan itu. Dia tak mau mengajak para jagoan yang berada di rumah Chin Kui karena kemungkinan ketahuan akan lebih besar. Jika mengajak empat orang itu, tentu akan mudah menyusup ke dalam penjara istana karena dia dapat menyamar sebagai salah seorang dari mereka.

Sedangkan Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko ditugaskan untuk melakukan pembunuhan terhadap kaisar! Tiga orang ini memang merupakan jagoan-jagoan kepercayaan Chin Kui dan kepandaian mereka sudah cukup tinggi sehingga perdana menteri itu menganggap bahwa mereka cukup kuat untuk melakukan tugas itu dengan berhasil baik.

Perdana Menteri Chin Kui adalah seorang yang sangat licik dan cerdik sekali. Dia selalu mendahulukan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri. Sebab itu dalam setiap tugas yang diberikan kepada kaki tangannya, dia selalu menjaga agar namanya jangan sampai tersangkut kalau tugas itu gagal.

Oleh karena itu, setelah memberi tugas kepada Cia Song untuk membunuh empat orang tawanan di dalam penjara istana, juga memberi tugas kepada Hwa Hwa Cin-jin dan kedua Siang Mo-ko untuk membunuh kaisar di dalam istana, diam-diam dia menugaskan orang-orangnya yang sudah ditanam di istana sebagai pengawal-pengawal, untuk membayangi mereka yang bertugas itu.

Dua orang diharuskan membayangi Cia Song dan dua orang pula membayangi Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko dengan pesan bahwa apa bila para petugas itu sampai gagal dan tidak mampu lolos dari dalam istana, maka para petugas itu harus dibunuhnya. Sekali-kali tak boleh ada yang tertangkap sehingga akan mengaku bahwa mereka disuruh oleh Chin Kui!

Malam kedua sesudah persidangan dalam istana yang kacau dan penuh perdebatan dan percekcokan sehingga membuat kaisar menjadi pusing dan marah itu adalah malam yang sepi, gelap dan dingin. Hujan baru saja berhenti setelah turun lebat semenjak sore. Di luar rumah basah semua dan udara menjadi bersih namun dingin bukan main sehingga orang orang segan keluar rumah dan membuat malam itu terasa sepi. Dalam cuaca seperti itu, yang paling nyaman adalah tidur.

Di kompleks bangunan istana juga tampak sepi. Para penjaga yang merupakan pengawal istana bagian luar berjaga di gardu masing-masing dan agak malas melakukan perondaan pada malam yang dingin itu. Pula, selama ini tidak pernah terjadi sesuatu di istana.

Tidak mungkin ada pencuri berani memasuki kompleks istana yang terjaga oleh tiga lapis pasukan. Pertama pasukan pengawal luar istana, kemudian ada pasukan pengawal dalam istana dan pasukan pengawal keluarga kaisar. Masih ada lagi pasukan pengawal bagian keluarga wanita istana dan para prajurit di sini adalah para thai-kam (sida-sida, kebiri).

Cia Song yang menyamar, berpakaian sebagai prajurit pengawal bagian dalam, bersama empat orang prajurit pengawal yang menjadi kaki tangan Chin Kui, berhasil masuk dengan mudah. Bersama empat prajurit itu dia lalu melakukan perondaan.

Sementara itu Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko, yaitu Bu-tek Mo-ko dan Bu-eng Mo-ko, masuk secara menggelap, sesudah mereka dapat melewati pintu gerbang benteng istana yang dijaga oleh para prajurit kaki tangan Chin Kui yang malam itu memang dipersiapkan bertugas jaga di situ. Mereka telah mendapatkan keterangan lengkap tentang jalan masuk ke taman istana melalui pintu kecil di bagian belakang.

Malam yang gelap dan sunyi amat membantu calon-calon pembunuh itu. Dengan mudah mereka dapat mendekati sasaran masing-masing. Dengan jalan meronda, Cia Song dan empat orang prajurit pengawal itu akhirnya mengambil jalan menuju ke belakang di mana terdapat sebuah bangunan yang menjadi tempat tahanan istana yang penting.

Tepat seperti yang dikatakan Panglima Kwee, empat orang yang ditahan di penjara istana itu mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari kepala penjara itu. Memang dia adalah pendukung perjuangan Panglima Kwee serta rekan-rekannya dalam menentang Perdana Menteri Chin Kui. Kepada anak buahnya kepala penjara itu memperingatkan.

“Empat tahanan ini adalah orang-orang gagah, para pendekar dan mereka hanya ditahan selama urusan mereka masih dipertimbangkan oleh Sri Baginda Kaisar. Mereka itu belum dinyatakan bersalah, belum dihukum. Maka bila kalian memperlakukan mereka berempat secara kasar, aku takkan mengampuni kalian sebab Sri Baginda tentu akan menyalahkan aku. Aku yang bertanggung jawab di sini. Mengerti?”

Tentu saja para anak buahnya takut untuk membantah. Betapa pun juga ucapan kepala penjara itu benar. Oleh karena itu Han Si Tiong, Liang Hong Yi, Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong diperlakukan dengan baik. Memang kamar tahanan mereka itu sangat kokoh, terbuat dari baja tebal dengan jeruji yang kokoh dan tidak mungkin dipatahkan begitu saja. Tetapi mereka diperlakukan dengan baik, tidak ada yang berani mengejek atau menghina dan mereka tidak kekurangan makanan dan minuman.

Thian Liong dan Pek Hong berada dalam satu kamar tahanan, sedangkan Han Si Tiong berdua dengan isterinya di dalam kamar yang lain. Thian Liong merasa rikuh juga berada dalam satu kamar dengan Pek Hong. Akan tetapi gadis itu bersikap biasa.

Di dalam setiap kamar terdapat dua bangku batu sebagai tempat tidur, juga setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus. Biar pun para penjaga bersikap baik, namun para tahanan itu tetap waspada dan di waktu malam, tidur mereka pun tidak pulas benar. Sedikit suara saja sudah cukup untuk membangunkan mereka.

Pada malam kedua yang sepi dan dingin itu, Thian Liong duduk di atas pembaringan batu, bersila sambil menenangkan hati dan pikiran, mengumpulkan hawa murni agar dia dapat selalu siap menghadapi segala kemungkinan, baik atau buruk. Mendadak dia mendengar Pek Hong bersenandung. Lirih saja akan tetapi suaranya merdu. Lagunya terdengar asing namun indah. Thian Liong membuka mata dan memandang.

Gadis itu duduk di atas pembaringan batunya yang berada dekat dinding seberang, kedua kakinya digantung dan wajahnya tampak tenang saja. Diam-diam dia merasa kagum!

Gadis ini memang luar biasa. Menjadi tahanan, dikeram dalam kamar penjara, tapi sama sekali tidak tampak sedih atau khawatir, malah bersenandung, seperti orang yang sedang santai dan gembira. Padahal dia adalah seorang puteri yang biasa hidup di dalam istana yang indah dan mewah!

Tapi Thian Liong segera teringat bahwa Puteri Moguhai ini juga Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita yang tentu sudah biasa merantau dan hidup dalam keadaan seadanya, bahkan tentu pernah kekurangan makan dan tidur di mana saja, mungkin di dalam hutan. Maka hilanglah rasa herannya walau pun dia tetap saja masih merasa kagum.

“Hong-moi, kenapa engkau begini gembira?” tanya Thian Liong.

Gadis itu memandang kepadanya dengan senyum manis sekali. “Habis, apakah engkau lebih suka melihat aku menangis, Liong-ko?”

Mau tidak mau Thian Liong tersenyum juga. 'Tentu saja tidak, Hong-moi. Akan tetapi aku merasa kagum akan ketenanganmu, dalam keadaan terancam begini engkau masih dapat bersenandung dan tersenyum!”

“Karena aku yakin bahwa keadaan ini pasti tidak akan selamanya dan hanya sementara saja.”

“Engkau yakin kalau perjuangan Paman Kwee dan rekan-rekannya akan berhasil? Kulihat Chin Kui itu benar-benar telah mempengaruhi Kaisar.”

“Aku percaya kepada Paman Kwee, tetapi bukan kepadanya dan para rekannya saja. Aku pun yakin bahwa ayahku tidak akan diam saja membiarkan aku terancam bahaya, Liong-ko.”

“Ehh? Apa maksudmu?”

“Ayah percaya akan kemampuanku, akan tetapi dia juga amat sayang padaku. Mengingat bahwa aku pergi ke selatan, ke wilayah Kerajaan Sung, aku yakin bahwa ayah tentu tidak akan melepaskan aku begitu saja. Secara diam-diam ayahku tentu mengirim orang-orang untuk mengawasi dan menjagaku sehingga bila aku mendapatkan kesulitan mereka akan dapat menolongku.”

“Hemm, kau pikir begitukah, Hong moi?”

“Bukan itu saja Liong-ko. Kau ingat ketika kita terancam bahaya pada saat kita tertawan kaki tangan pemberontak di utara itu? Paman Sie menolong kita...”

“Maksudmu, suhu Tiong Lee Cin-jin?”

“Bukan, maksudku Paman Sie, sahabat ibuku dan juga guruku! Aku yakin dia tidak akan membiarkan aku celaka.”

Kata-kata itu dikeluarkan dengan suara demikian penuh keyakinan sehingga Thian Liong menjadi terpengaruh dan percaya juga. Dia pun percaya bahwa gurunya adalah seorang sakti yang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Dia tidak mau berdebat dengan Pek Hong mengenai siapakah penolong mereka dahulu itu, apakah gurunya Tiong Lee Cin-jin ataukah paman gadis itu yang disebut Paman Sie, ataukah keduanya itu memang sama orangnya. Maka dia pun diam saja tidak mau membantah.

Sekarang keduanya duduk diam, seolah-olah tenggelam dalam lamunan masing-masing. Karena keduanya diam, maka ruang tahanan itu terasa sunyi sekali.

Hawa dingin menembus dinding tebal dan menyusup ke dalam kamar tahanan itu. Thian Liong memandang gadis itu.

Gadis yang begitu cantik jelita, begitu lihai, juga gagah perkasa dan pemberani. Seorang puteri kaisar lagi! Akan tetapi sekarang gadis itu meringkuk dalam kamar tahanan, duduk di tempat tidur batu yang dingin! Semua ini karena gadis itu hendak membantunya untuk membela Kerajaan Sung dan menentang Chin Kui!

“Hong-moi, maafkan aku. Aku menyesal sekali.” Setelah menghela napas berulang-ulang, Thian Liong berkata lirih.

Gadis yang tadinya menundukkan mukanya itu, kini mengangkat muka memandang. “Apa maksudmu, Liong-ko? Maaf? Menyesal?”

“Ya, aku merasa sangat menyesal. Aku minta maaf kepadamu karena sekarang engkau harus menderita dan terancam bahaya hanya karena aku! Apa bila engkau tidak ikut dan membantuku, tentu sekarang engkau berada di kamarmu sendiri, di istana ayahmu yang indah.”

Sepasang alis hitam melengkung itu berkerut. Sepasang mata bintang itu bersinar marah. “Liong-ko, apakah dulu ketika engkau membantu aku menghadapi pemberontak di utara lalu kita tertawan dan terancam maut, aku juga minta maaf dan menyatakan penyesalan karena engkau membantuku? Kalau engkau merasa menyesal bahwa aku membantumu, berarti engkau menyesal pula dahulu pernah membantu aku!”

“Wah, sama sekali tidak, Hong-moi! Bukan begitu maksudku...”

“Syukurlah kalau tidak begitu dan janganlah kita membicarakan hal itu lagi!” Pek Hong lalu memutar duduknya, menghadap ke arah pintu baja di mana terdapat jeruji baja yang amat kokoh sehingga mereka masih dapat memandang keluar pintu melalui celah celah jeruji.

Thian Liong tahu bahwa gadis itu marah. Dia pun tidak berani lagi berbicara dan merasa bahwa memang dia tadi telah salah omong. Semestinya penyesalan itu untuk diri sendiri saja, disimpan dalam hati tanpa perlu dikeluarkan melalui omongan. Dia pun memandang ke luar pintu.

Malam makin larut. Penjara istana itu dijaga ketat oleh lima orang secara bergiliran. Lima orang penjaga yang baru saja mendapat giliran menggantikan lima orang rekannya yang berjaga semenjak sore tadi, masih tampak segar dan belum mengantuk. Melakukan tugas jaga di penjara itu, di waktu penjara ada penghuninya, bukan merupakan pekerjaan berat.

Penjara itu kokoh dan kuat. Orang yang ditahan dalam ruangan penjara itu tidak mungkin dapat membobol pintu untuk melarikan diri. Juga teramat sulit bagi orang luar untuk dapat memasuki penjara ini guna membebaskan mereka yang ditahan. Mulai dari pintu gerbang benteng istana sampai ke penjara itu harus melewati penjagaan yang berlapis-lapis. Maka lima orang prajurit pengawal yang melakukan penjagaan ini pun santai saja. Selama ini memang belum pernah terjadi ada tahanan yang dapat kabur meloloskan diri.

Apa lagi sekarang, penjara itu hampir kosong, hanya terdapat dua pasang tahanan. Dan menurut kepala penjara, mereka itu pun bukan merupakan tahanan yang berbahaya dan harus diperlakukan dengan baik. Sebab itu lima orang ini tidak mengkhawatirkan sesuatu. Empat orang dari mereka segera asyik bermain kartu, ada pun yang seorang lagi duduk melakukan penjagaan kalau-kalau ada atasan mereka melakukan pemeriksaan, agar dia dapat memperingatkan kawan-kawan yang sedang bermain kartu.

Cia Song diiringi empat orang prajurit pengawal itu berjalan dengan tenang menghampiri tempat penjagaan di depan bangunan penjara. Prajurit yang melakukan penjagaan segera berbisik ke arah teman-teman yang sedang berjudi.

“Ssstt... ada yang datang!”

Empat orang itu segera menyembunyikan kartu, kemudian mereka duduk seolah sedang melakukan penjagaan ketat. Ketika prajurit yang menjadi kepala regu melihat bahwa yang datang adalah lima orang prajurit pengawal, dia bertanya heran.

“He, kawan-kawan! Kami baru saja datang dan belum waktunya diganti!”

Cia Song yang berpakaian sebagai seorang prajurit pengawal mendekati kepala regu dan berkata dengan sikap ramah, “Kami hanya ditugaskan untuk melihat apakah keadaan di sini baik-baik dan aman saja.”

Seperti yang telah diatur sebelumnya, empat orang prajurit pengawal yang menemani Cia Song juga mendekati para penjaga itu dengan ramah bersahabat.

Lima orang penjaga itu pun tidak merasa curiga, maka mereka menjadi lengah. Mendadak dengan cepat sekali Cia Song menggerakkan dua tangannya, berturut turut dia menotok roboh tiga orang penjaga itu tanpa mereka sempat berteriak karena mereka bertiga sudah terkena totokan ampuh sehingga mereka roboh dalam keadaan pingsan.

Dua orang penjaga lainnya terkejut bukan main. Saking kagetnya, mereka tidak mampu mengeluarkan suara dan pada saat itu pula empat batang golok menyambar dan mereka pun roboh mandi darah, tewas tanpa sempat berteriak.

Empat orang prajurit itu lantas mengayunkan golok mereka, membunuh tiga orang prajurit penjaga yang tadi roboh tertotok oleh Cia Song. Setelah yakin bahwa lima orang penjaga itu tewas, Cia Song lalu memasuki lorong di luar kamar-kamar tahanan, diikuti oleh empat orang prajurit pengawal yang telah mengeluarkan gendewa berikut sebuah kantung yang penuh berisi anak panah berukuran kecil.

Semua ini memang sudah dipersiapkan dengan baik oleh Cia Song. Dia tahu betapa lihai Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu. Perdana Menteri Chin Kui sudah menerangkan bahwa Souw Thian Liong ditemani seorang gadis cantik yang bicaranya seperti orang dari daerah utara, maka hanya dia seorang yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu Puteri Kerajaan Kin yang juga mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu silat itu.

Sekali ini dia tidak mau gagal lagi, maka dia sudah mempersiapkan diri dengan baik. Dia maklum, meski pun dua orang itu telah berada dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh dan takkan mampu keluar, namun membunuh mereka bukan merupakan hal yang mudah. Karena itu, tahu bahwa empat orang prajurit yang menemaninya itu pandai menggunakan senjata panah, dia lalu membekali mereka dengan gendewa kecil serta anak panah yang mengandung racun yang amat kuat.

Kalau dua orang yang berada di dalam ruangan itu diberondong dengan anak panah oleh empat orang prajurit ini, dan dia pun membantu menyerang dari luar, maka mustahil bagi Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu untuk dapat menyelamatkan diri!

Cia Song sudah memperhitungkan dengan matang. Dia menduga bahwa kedua orang itu pasti tidak membawa senjata untuk melindungi diri mereka dari hujan anak panah, dan di dalam kamar penjara itu pun tidak terdapat sesuatu yang dapat dijadikan perisai.

Sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi dia telah memperhitungkan bahwa Souw Thian Liong sendiri tidak akan dapat mengelak terus. Tidak mungkin menghindarkan diri dari serbuan anak-anak panah dan sebatang saja mengenai tubuhnya, cukup untuk membunuhnya.

Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong yang kebetulan tengah menghadap dan memandang ke arah pintu yang berjeruji, melihat munculnya lima orang yang berpakaian prajurit itu di depan pintu. Tadinya mereka mengira bahwa kelima prajurit itu adalah para penjaga yang sedang melakukan perondaan, namun ketika mereka melihat Cia Song, keduanya terkejut bukan main.

“Ha-ha-ha!” Cia Song tertawa. “Bersiaplah kalian untuk mampus!”

“Jahanam busuk kau!” Pek Hong memaki.

Akan tetapi Cia Song segera memberi isyarat kepada empat orang yang memang sudah mempersiapkan anak panah mereka. Begitu mereka berempat bergerak, sinar-sinar hitam langsung meluncur masuk ke dalam ruangan tahanan itu dan menyambar ke arah tubuh Thian Liong dan Pek Hong yang masih duduk di atas pembaringan batu masing-masing.

Dua orang muda ini cepat melompat dan mengelak. Akan tetapi empat orang prajurit yang memang sudah tahu akan kelebihan dua orang yang harus mereka bunuh, melepas lagi anak panah secara bertubi-tubi. Thian Liong dan Pek Hong tidak dapat berbuat lain untuk menghindarkan diri kecuali dengan mengelak.

Mereka berloncatan ke sana-sini dengan sangat cekatan. Dari bau anak panah hitam itu keduanya maklum bahwa anak panah itu mengandung racun, maka tentu saja mereka tak ingin terluka oleh senjata kecil beracun itu.

Melihat betapa dua orang itu dapat mengelak, Cia Song berseru.

“Arahkan kepada seorang saja!”

Empat orang prajurit itu langsung mengerti. Apa bila mereka berempat hanya menyerang salah seorang saja, maka akan sukar sekali, bahkan tidak mungkin orang itu akan mampu menghindarkan diri dari hujan anak panah mereka berempat.

Akan tetapi, sebelum penyerangan kepada seorang saja ini dilakukan, tiba tiba ada angin menyambar dari kanan. Angin itu demikian dahsyatnya sehingga empat orang prajurit itu tidak dapat bertahan dan mereka segera roboh bergulingan.

Cia Song sendiri juga terkejut, cepat menengok ke kanan dan melihat betapa ada seorang lelaki mendorongkan tangan kirinya ke arah para prajurit itu. Dia pun cepat mengerahkan tenaga sinkang kemudian menggunakan kedua tangan untuk mendorong ke arah orang itu untuk menyambut pukulannya dan membuat orang itu roboh.

“Wuuuttt...! Blarrrrr...!”


Dua tenaga sinkang bertemu dan akibatnya, tubuh Cia Song terpental seperti daun kering tertiup angin dan dia harus berjungkir balik sampai lima kali agar tidak sampai terbanting jatuh. Cia Song terkejut bukan main. Celaka, pikirnya, orang ini memiliki tenaga sinkang yang luar biasa, jauh lebih kuat dari pada tenaganya sendiri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner