KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-45


Cia Song melihat orang itu berkelebat seperti bayang-bayang saja cepatnya, menghampiri empat orang prajurit yang tadi roboh dan sekarang sedang merangkak bangun. Dengan cepat bayangan itu bergerak di antara mereka, lantas empat orang prajurit itu tertotok dan roboh terkulai, tidak mampu bergerak lagi.

“Suhu...!” Thian Liong berseru.

“Paman Sie...!” Pek Hong Nio-cu juga berseru.

Cia Song terkejut bukan kepalang ketika mendengar Thian Liong menyebut suhu kepada orang itu. Jadi inikah tokoh besar bernama Tiong Lee Cin-jin yang amat terkenal sebagai seorang manusia setengah dewa yang dijuluki Yok-sian (Dewa Obat) itu? Pantas saja dia memiliki tenaga sakti sehebat itu. Cia Song menjadi ketakutan, maka dia cepat melompat lalu melarikan diri.

Bayangan yang ternyata seorang laki-laki berpakaian kuning berusia sekitar enam puluh dua tahun itu segera membuka pintu tahanan dengan sebuah kunci yang agaknya tadi dia ambil dari gardu penjaga penjara. Begitu daun pintu kamar tahanan itu terbuka, Pek Hong Nio-cu langsung melompat keluar sambil berseru penasaran.

“Mari kita kejar jahanam itu!”

Begitu keluar dari kamar tahanan, Thian Liong segera menjatuhkan diri di hadapan kaki Tiong Lee Cin-jin.

“Jangan kejar! Sekarang yang lebih penting cepat kalian ikut aku menyelamatkan kaisar!” kata Tiong Lee Cin-jin dan dia sudah berkelebat lantas berlari keluar dari rumah penjara, diikuti oleh Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.

Sebentar saja mereka sudah memasuki istana. Mendengar suara ribut-ribut banyak orang berkelahi di ruang sebelah dalam, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu cepat berlari masuk dan setelah tiba di ruangan dalam yang menjadi ruangan keluarga kaisar, mereka melihat di tempat itu sudah terjadi perkelahian seru. Tiga orang mengamuk, dilawan oleh belasan orang prajurit pengawal pribadi kaisar.

Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu segera mengenal tiga orang itu yang bukan lain adalah Hwa Hwa Cin-jin, Bu tek Mo-ko Teng Sui dan Bu-eng Mo-ko Gui Kong atau yang dikenal sebagai Siang Mo-ko (Sepasang Iblis). Tiga orang ini mengamuk dan sudah merobohkan beberapa orang prajurit pengawal, sedangkan sisanya sudah terdesak hebat.

Pada sudut ruangan itu tampak kaisar berdiri dengan muka pucat. Agaknya tak ada jalan keluar lagi bagi kaisar yang hanya mengandalkan para prajurit pengawal untuk melindungi dirinya. Keadaan sudah amat gawat bagi keselamatan kaisar. Sisa prajurit pengawal telah terdesak hebat sehingga makin lama semakin mundur ke arah kaisar yang berdiri di sudut.

Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu cepat mengambil pedang para prajurit yang tewas, lalu mereka berdua menyerbu ke depan dengan pedang mereka.

Tiga orang yang mengamuk dan yang bertugas membunuh kaisar itu terkejut bukan main ketika melihat Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu menyerang mereka.


Menurut keterangan Perdana Menteri Chin Kui, dua orang itu telah ditahan dalam penjara. Mengapa kini tiba-tiba mereka muncul di situ? Hwa Hwa Cin-jin yang merasa jeri terhadap Thian Liong, segera mendahului dan maju menyerang dengan pedangnya sambil mencari kesempatan untuk dapat melarikan diri.

Akan tetapi Thian Liong sudah memutar pedang dan menutup semua jalan keluar. Sinar pedangnya bergulung-gulung menghadang semua jalan keluar sehingga Hwa Hwa Cin-jin tidak dapat berbuat lain kecuali melawan mati-matian.

Pek Hong Nio-cu yang merasa marah melihat ketiga orang itu mengancam keselamatan nyawa kaisar, segera menerjang dan menyerang Bu-tek Mo-ko (lblis Tanpa Tanding) Teng Sui yang tubuhnya tinggi kurus dan yang sedang mengamuk dengan pedangnya. Melihat pedang menyambar cepat dan kuat, Bu-tek Mo-ko terkejut dan cepat menangkis.

“Tranggg...!”

Bunga api berpijar dan tubuh orang pertama dari Siang Mo-ko itu terhuyung ke belakang. Dia merasa terkejut dan gentar, tetapi Pek Hong Nio-cu sudah menerjang dan mendesak dengan pedangnya.

Orang kedua dari Siang Mo-ko, yaitu Bu-eng Mo-ko (Iblis Tanpa Bayangan), tidak dapat membantu kedua orang rekannya karena dia sendiri kini dikeroyok para prajurit pengawal yang masih bersisa sembilan orang itu. Tadi, pada saat mereka bertiga menghadapi para prajurit pengawal, mereka bertiga dalam keadaan di atas angin. Selain merobohkan enam orang prajurit pengawal, mereka juga mendesak sembilan orang prajurit yang lain. Namun kini Bu-eng Mo-ko harus menghadapi sembilan orang prajurit itu seorang diri saja, maka dia pun langsung terdesak hebat.

Pek Hong Nio-cu mengerahkan seluruh kepandaiannya. Gerakannya amat cepat dan juga tenaga saktinya masih jauh lebih kuat dibandingkan Bu-tek Mo-ko Teng Sui sehingga Iblis Tanpa Tanding ini terus mundur dan hanya dapat menangkis saja. Setiap kali menangkis, dia pasti terdorong dan terhuyung ke belakang. Dia menjadi panik dan setelah mendapat kesempatan, dia segera melempar diri ke atas lantai lalu melompat hendak melarikan diri. Akan tetapi Pek Hong Nio-cu membentak.

“Hendak lari ke mana kau? Makanlah pedang ini!” Dia pun melontarkan pedang itu yang segera meluncur bagai sebatang anak panah menuju sasarannya, yaitu punggung lawan.

“Singgg...! Cappp!”

Pedang itu tepat mengenai punggung Bu-tek Mo-ko Teng Sui. Begitu kuatnya lontaran itu sehingga pedang menancap di punggung dan menembus sampai ke dada! Tubuh Bu-tek Mo ko terjungkal dan dia pun tewas seketika.

Bu-eng Mo-ko juga mengalami nasib yang tidak lebih baik dari pada rekannya. Dia sudah melawan mati-matian, akan tetapi musuh terlalu banyak dan dia pun semakin panik ketika melihat rekannya roboh. Pada saat itu, sebatang pedang membacok betisnya dan dia pun mengaduh kemudian terpelanting roboh. Para prajurit itu langsung menghujaninya dengan pedang sehingga dalam sekejap saja tubuh Bu-eng Mo-ko Gui Kong yang pendek gendut itu sudah tercabik-cabik dan dia pun tewas dalam keadaan mengerikan!

Hwa Hwa Cin-jin menjadi semakin panik sesudah melihat dua orang rekannya roboh dan tewas. Karena merasa tidak mungkin dapat meloloskan diri lagi, dan dia tidak ingin tewas di tangan para prajurit yang tentu akan mencabik-cabik tubuhnya, Hwa Hwa Cin-jin lantas menggerakkan pedang di tangannya ke arah lehernya sendiri. Dia pun roboh mandi darah dengan leher hampir putus!

Melihat tiga orang pembunuh itu sudah tewas, kaisar lantas menghampiri Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu. Dua orang muda ini cepat memberi hormat dengan membungkuk.

“Kalian sudah menyelamatkan kami. Kami tidak akan melupakan jasa kalian,” kata kaisar yang lalu diungsikan ke ruangan lain oleh prajurit pengawal.

“Mari kita tangkap mereka yang hendak membunuh kita tadi untuk dijadikan saksi!” kata Thian Liong kepada Pek Hong Nio-cu sambil mencari-cari dengan pandangan matanya. Akan tetapi yang dicarinya, yaitu Tiong Lee Cin-jin, sudah tidak tampak bayangannya lagi.

Mereka berdua segera berlari keluar, kembali ke penjara untuk menangkap empat orang yang tadi membantu Cia Song menghujani mereka dengan anak panah tapi mereka lantas dirobohkan oleh Tiong Lee Cin-jin. Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, mereka melihat betapa empat orang itu telah tewas akibat senjata rahasia pisau beracun yang menancap pada tubuh mereka.

“Hemm, tentu mereka ini dibunuh supaya tidak membuka mulut,“ kata Thian Liong dengan hati gemas.

Ternyata musuh amat licik. Mengirim empat orang pembunuh ini dan agaknya telah diikuti orang lain yang bertugas membunuh mereka kalau pekerjaan itu gagal. Dengan demikian tidak ada yang bisa menjadi saksi untuk mengatakan siapa yang menyuruh mereka untuk membunuh tawanan. Juga sungguh disayangkan bahwa tiga orang datuk yang berusaha membunuh kaisar juga sudah tewas sehingga dalang semua ini tetap dalam gelap, tidak ada saksi yang dapat membongkar rahasianya.

“Ah, sayang sekali jahanam Cia Song dapat lolos. Tadi aku hendak menangkap Hwa Hwa Cin-jin, karena itu aku sengaja tidak menurunkan serangan yang mematikan. Tapi sayang sekali dia pun membunuh diri, tentu agar tidak dipaksa mengaku siapakah dalang di balik semua ini. Majikan mereka sungguh cerdik dan licik sekali!” kata Thian Liong.

“Kalau tidak licik dan cerdik, tidak mungkin dapat menjadi perdana menteri sampai sekian lamanya dan dapat mempengaruhi kaisar,” kata Pek Hong Nio-cu.

“Kau pikir yang menjadi dalang adalah Chin Kui?”

“Siapa lagi kalau bukan tikus busuk itu!” kata Pek Hong Nio-cu, gemas dan benci kepada Perdana Menteri Chin Kui yang telah bersekongkol dengan pemberontakan yang terjadi di kerajaan ayahnya.

Pada saat itu terdengar suara gedobrakan. Mereka cepat menengok dan mereka melihat ada tubuh seseorang yang agaknya dilempar dari luar pintu penjara. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu cepat melompat dan mendekati orang itu.

Ternyata dia adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian serba hitam dan dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu bergerak. Di baju bagian dadanya terdapat sehelai kertas yang ada tulisannya. Thian Liong cepat mengambil surat itu lalu membacanya bersama Pek Hong Nio-cu.

‘Hui-to-kui (Setan Pisau Terbang) inilah yang membunuh empat orang itu.’

“Suhu...!” Thian Liong cepat melompat keluar penjara, akan tetapi tidak melihat bayangan gurunya. Dia tahu pasti gurunya yang menangkap penjahat berjuluk Setan Pisau Terbang ini.

Dia kembali ke dalam dan mengambil kunci dari gardu penjaga, kemudian menyeret orang berpakaian hitam itu. Bersama Pek Hong Nio-cu mereka menghampiri kamar tahanan di mana Han Si Tiong dan isterinya dikeram. Pek Hong Nio-cu membuka kunci pintu penjara itu, sedangkan Thian Liong menyeret tawanannya ke dalam kamar penjara, melemparnya ke sudut kamar.

“Ah, Thian Liong, sejak tadi kami merasa tegang dan khawatir sekali melihat orang-orang menghujankan anak panah ke kamar tahanan kalian. Apakah yang terjadi? Dan siapakah orang ini?” tanya Han Si Tiong sambil menunjuk ke arah orang yang berjuluk Hui-to-kui itu.

Dengan singkat Thian Liong menceritakan tentang serangan kepada mereka berdua oleh Cia Song beserta empat orang kawannya. Lalu betapa mereka ditolong gurunya.

“Suhu merobohkan mereka dan menyelamatkan kami, paman.”

“Yang menyelamatkan kami adalah Paman Sie,” kata Pek Hong Nio-cu.

“Siapakah Paman Sie itu, tuan puteri... ehh, nona Pek Hong?” tanya Liang Hong Yi yang hampir lupa bahwa Puteri Kaisar Kin itu sedang menyamar sebagai seorang gadis Han yang bernama Pek Hong.

“Dia adalah suhu Tiong Lee Cin-jin!” kata Thian Liong.

Pek Hong Nio-cu cepat menoleh dan memandang kepada Thian Liong yang juga sedang memandang kepada gadis itu. Dua pasang sinar mata bertemu dan bertaut, akan tetapi keduanya lalu tersenyum dan untuk sementara mereka berdua menerima saja dulu bahwa Paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin, jadi yang berulang kali menolong mereka itu adalah Paman Sie alias Tiong Lee Cin-jin!

“LaIu bagaimana?” tanya Han Si Tiong dan isterinya.

“Kami diberi tahu bahwa kaisar sedang terancam bahaya. Kami langsung lari ke sana dan melihat kaisar terancam oleh tiga orang tokoh sesat, yaitu Hwa Hwa Cin jin dan Siang Mo-ko yang sedang mengamuk dilawan belasan orang prajurit pengawal pribadi kaisar. Kami segera turun tangan dan berhasil membunuh ketiga orang itu.”

“Ah, syukurlah Sri Baginda telah selamat!” kata Han Si Tiong. “Akan tetapi siapakah yang mengirim para pembunuh itu, yang hendak membunuh kalian berdua dan juga membunuh Sri Baginda?”

“Kami menduga bahwa dalangnya tentu Chin Kui, akan tetapi tak ada bukti dan saksinya. Empat orang anak buah Cia Song yang ditotok roboh, tahu-tahu dibunuh orang, demikian pula tiga orang tokoh yang hendak membunuh kaisar telah tewas. Akan tetapi untungnya suhu Tiong Lee Cin-jin... atau Paman Sie telah membantu kami menangkap orang ini. Dia ini Hui-to-kui dan dialah yang membunuh empat orang itu. Maka kami lalu membawanya ke sini agar paman berdua dapat menjaganya agar dia tidak sampai lolos atau bunuh diri karena dia adalah saksi yang sangat penting.”

Han Si Tiong mengangguk-angguk mengerti. “Baik, orang ini akan kami jaga baik-baik.”

Tiba-tiba seorang thai-kam (sida-sida) yang menjadi orang kepercayaan kaisar, seorang pelayan dalam, datang lalu menyampaikan perintah kaisar bahwa Souw Thian Liong dan Pek Hong malam itu juga dipersilakan pindah ke sebuah kamar tamu di istana, dan besok pagi-pagi akan dijemput pelayan untuk menghadap kaisar!

Thian Liong dan Pek Hong menghaturkan terima kasih, lalu Thian Liong memesan kepada Han Si Tiong dan isterinya agar menjaga baik-baik tawanan itu. Suami isteri itu menerima tugas itu dengan gembira dan mereka lalu mengikat kedua kaki tangan Hui-to-kui erat-erat sehingga penjahat itu tidak mungkin dapat meloloskan diri.

Thian Liong dan Pek Hong lalu mengikuti thai-kam itu. Mereka mendapat dua buah kamar yang berdampingan dan tentu saja mereka dapat mengaso dan tidur dengan pulas dalam kamar yang indah bersih itu.

Pada esok harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, yaitu pakaian yang oleh utusan kaisar diambil dari rumah Kwee-ciangkun untuk dua orang muda itu, Thian Liong dan Pek Hong lalu mengikuti thai-kam yang menjemput mereka untuk menghadap Sri Baginda.

Mereka memasuki ruangan rahasia yang merupakan kamar duduk pribadi kaisar, dan dua orang muda itu merasa heran akan tetapi juga girang bahwa selain kaisar yang duduk di atas kursi kebesarannya, di situ terdapat pula Kwee-ciangkun yang sudah terlebih dahulu menghadap kaisar. Thian Liong dan Pek Hong segera memberi hormat dengan berlutut, lantas duduk di atas kursi yang lebih rendah, sejajar dengan Kwee-ciangkun karena kaisar menghendaki mereka duduk di atas kursi.

“Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong, kami memanggil kalian berdua ke sini agar dapat menceritakan dengan sejujurnya apa yang sudah terjadi tadi malam. Kwee-ciangkun juga sengaja kami panggil untuk menjadi saksi atas keterangan kalian berdua,” Kaisar berkata sambil memandang kepada dua orang muda itu dengan wajah cerah karena dia maklum benar bahwa tanpa adanya dua orang itu yang membelanya, mungkin sekarang dia sudah tewas di tangan tiga orang pembunuh lihai itu.

“Ijinkan hamba yang menjadi pembicara menceritakan apa yang telah terjadi semalam, Sri Baginda,” kata Thian Liong karena dia khawatir apa bila Pek Hong yang membuka suara, maka akan ketahuan bahwa dia bukan seorang gadis Han.

“Baik, ceritakanlah,” kata kaisar.

“Malam tadi muncul Cia Song, pembantu Perdana Menteri Chin Kui bersama empat orang anak buahnya. Dari luar kamar penjara, mereka menyerang hamba berdua dengan anak panah dan ternyata mereka sudah membunuh lima orang prajurit yang berjaga di penjara. Hamba berdua tidak dapat melawan, hanya dapat menghindar dari serangan anak panah beracun yang menghujani hamba. Untunglah dalam keadaan amat gawat itu muncul suhu hamba yang merobohkan empat orang pemanah, dan juga membuat Cia Song melarikan diri. Suhu lalu membuka pintu penjara dan minta kepada hamba berdua untuk cepat-cepat melindungi paduka yang terancam bahaya. Hamba berdua lalu lari memasuki istana dan melihat betapa tiga orang jahat itu mengamuk, hamba berdua lalu turun tangan sehingga tiga orang itu dapat dibinasakan.”

“Tahukah engkau siapa tiga orang yang menyerang dan hendak membunuh kami itu?”

“Hamba dan Sie Pek Hong pernah bentrok dengan tiga orang itu, Sri Baginda. Mereka itu adalah Hwa Hwa Cin-jin, Bu-tek Mo-ko, dan Bu-eng Mo-ko. Pada saat itu mereka hendak membunuh Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi.”

“Ampunkan hamba, paduka. Hamba mohon diperkenankan menambah sedikit keterangan Souw Thian Liong tadi, yang mulia,” kata Kwee-ciangkun.

“Boleh, katakanlah, Kwee-ciangkun,” kata kaisar.

“Tiga orang itu memimpin pasukan untuk melakukan pengejaran dan mencari empat orang pelarian, yaitu Han Si Tiong, Liang Hong Yi, Souw Thian Liong, dan Sie Pek Hong yang bersembunyi di rumah hamba. Ketika hamba keluar, ketiga orang itu mengatakan bahwa mereka mencari empat orang penjahat atas perintah Perdana Menteri Chin Kui.”

Kaisar mengangguk-angguk. Kini kepercayaannya terhadap perdana menteri yang selalu dipercayanya itu mulai goyah.

“Baiklah, hal itu akan kami urus nanti. Sekarang kami hendak mengucapkan terima kasih kepada kalian, Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong. Untuk itu kalian berdua boleh minta imbalan jasa apa yang ingin kalian dapatkan dari kami.”

Sie Pek Hong menggeleng-gelengkan kepala menandakan bahwa ia tidak minta apa-apa, namun Thian Liong berkata, “Sri Baginda yang mulia, sekiranya paduka berkenan, hamba mohon, demi keselamatan paduka dan kerajaan paduka, agar Perdana Menteri Chin Kui diadili dan dijatuhi hukuman.”

Kaisar menarik napas panjang. Dia teringat betapa beberapa tahun yang lalu dia pernah menjatuhkan hukuman kepada tiga orang pejabat tinggi sebab mereka berani mengajukan permintaan yang sama, yaitu agar Perdana Menteri Chin Kui diadili! Pada saat itu tingkat kepercayaan terhadap Chin Kui demikian besarnya sehingga dia menganggap mereka itu melemparkan fitnah keji! Akan tetapi sekarang, yang mohon agar Chin Kui diadili adalah orang-orang muda yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari serangan orang-orang yang menjadi anak buah Chin Kui sehingga kepercayaannya terhadap perdana menteri itu menjadi goyah.

“Kita lihat saja nanti dalam persidangan,” katanya. “Akan tetapi lepas dari persoalan yang menyangkut Perdana Menteri Chin Kui, kami ingin memberi hadiah kepada kalian berdua atas jasa kalian semalam. Nah, apakah yang kalian minta?”

Karena tidak mengharapkan imbalan apa pun, Thian Liong lantas memberi isyarat dengan gerakan sikunya kepada Pek Hong, barang kali gadis itu yang hendak memohon sesuatu. Pek Hong lalu berkata dengan suara lantang sehingga dialek utara terdengar jelas. Akan tetapi karena dia adalah seorang puteri kaisar, tentu saja kata-katanya teratur baik sekali.

“Hamba berdua menghaturkan terima kasih yang tidak terhingga atas kebijaksanaan dan kebaikan paduka yang berkenan hendak memberi hadiah kepada hamba berdua. Namun hamba juga mohon beribu ampun bahwa hamba berani menolak segala macam hadiah karena sebenarnya, apa yang telah kami lakukan itu sudah merupakan kewajiban hamba, yaitu membela yang benar dan menentang yang jahat, Sri Baginda yang mulia.”

Kaisar memandang kagum sambil tersenyum, akan tetapi cepat bertanya. “Sie Pek Hong, bicaramu menunjukkan bahwa engkau orang dari daerah utara, benarkah?”

“Yang Mulia, hamba memang dilahirkan dan tumbuh dewasa di daerah Utara.

Kaisar mengangguk-angguk. Hatinya merasa sangat gembira dapat bicara secara leluasa dan akrab begini dengan dua orang muda itu, suatu hal yang jarang sekali terjadi karena biasanya ia hanya bicara secara resmi dengan orang-orang sehingga suasananya menjadi kaku. Dia memandang kepada dua orang muda itu dan berkata dengan sikap ramah.

“Souw Thian Liong, tadi engkau bercerita bahwa kalian berdua pernah diserang penjahat kemudian diselamatkan gurumu, dan gurumu pula yang membebaskan kalian dari kamar tahanan supaya kalian dapat menolong kami yang terancam bahaya. Kalau begitu, jasa gurumu itu bahkan lebih besar. Katakanlah, siapa gurumu itu?”

“Guru hamba seorang pertapa kelana yang bernama Tiong Lee Cin-jin, yang mulia,” jawab Thian Liong.

Kaisar membelalakkan kedua matanya. “Tiong Lee Cin-jin? Kami pernah mendengar nama besarnya! Bukankah dia yang dijuluki Yok-sian?”

“Benar, yang mulia.”

“Ahh, pantas engkau yang masih begini muda sudah berkepandaian tinggi dan berwatak bijaksana, Souw Thian Liong! Kiranya engkau adalah murid Dewa Obat itu! Bagaimana dengan engkau, Sie Pek Hong? Apakah engkau juga murid Dewa Obat?”

“Guru hamba adalah Paman Sie, yang mulia.”

“Paman Sie? Siapa dia?”

“Paman Sie adalah orang yang sudah menyelamatkan hamba dari serangan anak panah penjahat, dan juga membebaskan hamba berdua dari kamar tahanan kemudian menyuruh hamba berdua agar cepat menyelamatkan paduka dari ancaman bahaya,” kata Pek Hong dengan lantang. Dia menengok kepada Thian Liong dengan pandang mata menantang!

“Heiii? Bagaimana ini? Bukankah tadi Souw Thian Liong mengatakan bahwa yang sudah menolong kalian adalah gurunya, yaitu Tiong Lee Cin-jin? Sekarang engkau mengatakan bahwa yang menolong kalian adalah Paman Sie, guru Sie Pek Hong!”

“Ampun, Sri Baginda, hamba berdua tidak berbohong!” Thian Liong cepat-cepat berkata. “Sebenarnya, pada waktu suhu Tiong Lee Cin-jin menurunkan ilmu kepada Sie Pek Hong, beliau memakai nama Paman Sie.”

“Ampun, Sri Baginda Yang Mulia. Keterangan Souw Thian Liong itu kurang tepat, bahkan terbalik. Yang benar, pada saat Paman Sie mengajarkan ilmu kepada Souw Thian Liong, beliau memakai nama Tiong Lee Cin-jin!” kata Sie Pek Hong dan kembali dia mengerling kepada Thian Liong dengan sinar mata menantang dan tidak mau kalahl

Mendengar ucapan dua orang muda itu dan melihat betapa mereka saling berpandangan dengan sinar mata tidak mau kalah, kaisar pun tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, kalian adalah dua orang muda yang sangat lucu! Ingin sekali kami melihat bagaimana sikap guru kalian itu kalau mendengar dirinya diperebutkan dengan dua nama, ha-ha-ha!”

Dalam kesempatan itu kaisar tampak sangat gembira. Dia lalu menyuruh dua orang muda itu tinggal di kamar-kamar tamu dan menjadi tamu istana sambil menanti datangnya saat persidangan dan menanti panggilan. Ketika Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong mohon agar mereka diperkenankan membawa senjata mereka yang kemarin dulu dititipkan dan ditinggal di di rumah Panglima Kwee, kaisar pun segera mengijinkan.

Sesudah pertemuan itu selesai, Kwee-ciangkun segera pulang dan tak lama kemudian dia sudah mengutus pengawalnya untuk menyerahkan pedang Thian-liong-kiam dan pedang bengkok kepada Thian Liong dan Pek Hong.

Panglima Kwee Gi dan para panglima lain yang setia kepada kaisar dan yang menentang Perdana Menteri Chin Kui, secara diam-diam sudah mempersiapkan pasukan yang kuat untuk melindungi istana kalau-kalau Chin Kui dan sekutunya mengadakan pemberontakan dengan menggunaken pasukan dari para panglima yang bersekutu dengannya…..

********************

Hari dan saat yang ditunggu-tunggu oleh kedua pihak yang bersengketa itu akhirnya tiba. Kaisar Sung Kao Tsung memerintahkan mereka yang bersengketa menghadap di ruang persidangan. Tidak seperti biasanya, ketika Perdana Menteri Chin Kui mohon menghadap sebelum persidangan dimulai, kali ini kaisar tidak mau menerimanya dan memerintahkan agar Chin Kui langsung menghadap di ruang persidangan seperti para pejabat tinggi yang lain. Tentu saja hal ini membuat Chin Kui curiga seolah merupakan tanda bahaya baginya. Maka dia pun cepat menghubungi sekutunya untuk bersiap siaga melaksanakan rencana mereka kalau-kalau dia kalah dalam persidangan itu.

Semua pejabat tinggi sudah berkumpul di ruangan persidangan dan ketika kaisar muncul, semua orang cepat memberi hormat seperti biasa. Dengan sendirinya kedua pihak berikut sekutu mereka telah mengambil tempat yang berpisah, Kwee-ciangkun beserta sekutunya berada di bagian kanan sedangkan Chin Kui dan sekutunya berada di bagian kiri ruangan itu.

Kaisar membuka persidangan itu dengan mempersilakan Kwee-ciangkun yang bertindak sebagai penuduh untuk bicara.

Kwee-ciangkun tetap dengan tuduhannya semula, yaitu menuduh Perdana Menteri Chin Kui bersekutu dengan para pemberontak di Kerajaan Kin untuk menggulingkan Kaisar Kin dengan pamrih agar kelak kaisar baru di Kerajaan Kin akan membantunya menggulingkan pemerintah Kerajaan Sung.

“Apa yang hamba laporkan ini bukan merupakan tuduhan kosong, Sri Baginda yang mulia. Jelas bahwa Perdana Menteri Chin Kui mengirim wakilnya yang bernama Cia Song untuk bersekongkol dengan Pangeran Hiu Kit Bong. Mereka ingin mengadakan pemberontakan di Kerajaan Kin.”

Setelah diberi kesempatan, Perdana Menteri Chin Kui berkukuh membantah dengan sikap angkuh. “Semua itu fitnah belaka, Yang Mulia. Hamba selalu setia terhadap paduka, siap mengorbankan nyawa demi paduka dan Kerajaan Sung. Bagaimana mungkin hamba bisa berkhianat? Siapa itu Cia Song? Hamba tidak mengenalnya. Kalau memang benar hamba mengirim orang bernama Cia Song ke utara, silakan paduka memanggil orang itu supaya dapat menjadi saksi! Panglima Kwee berikut kawan-kawannya ini berani melempar fitnah kepada hamba, hal ini berarti mereka hendak mengadu domba hamba dengan paduka dan jelas mereka hendak memberontak terhadap paduka!”

Pada saat itu seorang pengawal memasuki ruangan dan setelah memberi hormat kepada kaisar, dia melaporkan bahwa sudah datang seorang utusan dari Kaisar Kin yang mohon untuk menghadap kaisar. Sebenarnya utusan ini adalah Pangeran Kuang, adik tiri Kaisar Kin, dan kedatangannya sudah sejak kemarin. Akan tetapi sudah diatur oleh kaisar sendiri agar utusan itu menghadap pada saat persidangan itu.

“Bawa dia masuk!” perintah kaisar kepada pengawal.

Tidak lama kemudian Pangeran Kuang sudah memberi hormat di hadapan kaisar, sambil memperkenalkan diri sebagai utusan Kaisar Kin dan menyerahkan segulung surat.

Surat segera diterima dan dibaca sendiri oleh kaisar. Sesudah selesai membaca, Kaisar lalu menyerahkan gulungan surat itu kepada seorang thai-kam yang melayaninya dalam urusan surat menyurat dan memerintahkan thai-kam itu untuk membacanya dengan suara lantang agar semua orang mendengarnya.

Dengan suara lantang thai-kam itu lalu membacakan surat dari Kaisar Kin. Surat itu jelas menyatakan bahwa Perdana Menteri Chin Kui telah bersekongkol dengan pemberontak di Kerajaan Kin dengan mengirim seorang utusan bernama Cia Song. Dikatakan pula bahwa menurut pengakuan para pemberontak, Perdana Menteri Chin Kui bersekongkol dengan para pemberontak dengan pamrih apa bila pemberontakan itu berhasil, para pemberontak kelak akan membantu Perdana Menteri Chin Kui merampas tahta Kerajaan Sung.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner