KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-46


Suasana menjadi sunyi sekali pada saat thai-kam yang bersuara lantang itu membacakan surat itu sampai habis. Kaisar Sung Kao Tsung lalu memandang kepada Chin Kui.

“Perdana Menteri Chin Kui, bagaimana tanggapanmu dengan surat dari Kaisar Kin ini?”

“Sri Baginda yang mulia! Semua ini adalah fitnah yang sudah direncanakan lebih dulu oleh Panglima Kwee dan sekutunya. Jelaslah bahwa justru Panglima Kwee yang bersekongkol dengan Kerajaan Kin untuk menjatuhkan hamba sehingga Panglima Kwee dan Kaisar Kin sekarang mengeroyok hamba dengan fitnah keji. Hamba dituduh bersekutu dengan kaum pemberontak di Kerajaan Kin. Tidak masuk akal dan fitnah belaka! Mengapa hamba harus membantu pemberontakan di sana? Apa untungnya bagi hamba? Mereka melempar fitnah keji bahwa hamba mengutus wakil yang bernama Cia Song ke utara. Apa ada buktinya? Kenapa Cia Song itu tidak ditangkap saja lalu diseret ke sini agar dia dapat menceritakan hal yang sebenarnya? Hamba tidak mengenalnya! Selama ini hamba selalu setia dan tak pernah berbohong kepada paduka, Sri Baginda. Hamba berani bersumpah bahwa hamba tetap setia dan jujur. Mereka sengaja menjatuhkan fitnah kepada hamba!” Sesudah Chin Kui selesai bicara, kaisar lalu menoleh kepada Panglima Kwee.

“Kwee-ciangkun, sekarang giliranmu untuk memberi tanggapan.”

“Sri Baginda yang mulia, pembelaan diri Perdana Menteri Chin Kui itu hanya dibuat-buat saja. Telah terbukti nyata bahwa dia adalah seorang pengkhianat yang berhati palsu, pada lahirnya bersikap baik dan setia kepada paduka, akan tetapi dalam batinnya dia seorang pengkhianat besar. Hal ini sudah dibuktikan dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, terjadi di dalam istana. Perdana menteri yang khianat ini telah mengirim orang-orang untuk membunuh Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong, juga mengirim pembunuh yang nyaris dapat membunuh Sri Baginda Kaisar!”

Semua orang yang mendengar tuduhan ini menjadi terkejut hingga terbelalak. Tentu saja Kaisar tidak terkejut karena sudah mengetahui akan peristiwa yang memang dirahasiakan itu.

“Penasaran!” Chin Kui berteriak. “Sri Baginda yang mulia, apakah paduka bisa menerima dan mendiamkan saja fitnah-fitnah keji dan jahat yang mereka lontarkan kepada hamba? Hamba menolak semua tuduhan itu karena hamba tidak merasa melakukannya! Apakah buktinya dan siapa saksinya untuk membenarkan semua fitnah keji itu? Orang she Kwee, berani benar engkau menyebar kebohongan keji di depan Sri Baginda yang mulia!”

Chin Kui tidak merasa kalah karena dia merasa yakin bahwa orang-orang yang bertugas membunuh akan tetapi telah gagal itu sudah mati semua, kecuali Cia Song yang berhasil meloloskan diri dan sekarang telah pergi entah ke mana. Karena sangat yakin bahwa tak mungkin ada bukti serta saksinya, maka Chin Kui merasa sangat tenang dan menantang para penuduhnya.

Kwee-ciangkun berkata kepada kaisar, “Ampun, Sri Baginda yang mulia. Mohon perkenan paduka agar hamba dapat mendatangkan Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong sebagai saksi.”

Kaisar mengangguk kemudian Panglima Kwee segera memberi isyarat kepada pengawal. Empat pengawal mengiringkan Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong memasuki ruangan dan kedua orang muda itu segera menghadap kaisar lalu memberi hormat.

Pangeran Kuang memandang dengan mata terbelalak kepada Sie Pek Hong, lantas tanpa disadari dia berseru dengan girang.

“Puteri Moguhai...”

Pek Hong Nio-cu yang memakai nama Sie Pek Hong padahal nama aslinya adalah Puteri Moguhai itu tersenyum.

“Paman Pangeran Kuang!” katanya.

Kaisar Sung Kao Tsung memandang heran.

“Apa artinya ini?” tanyanya kepada Pangeran Kuang.

“Maafkan hamba, Sri Baginda. Sebenarnya gadis ini adalah keponakan hamba. Dia adalah Puteri Moguhai, puteri Sri Baginda Kaisar Kerajaan Kin.”

“Ahh...! Puteri Moguhai, mengapa engkau mempergunakan nama Sie Pek Hong dan tidak berterus terang kepada kami bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kin?”

“Ampun, Sri Baginda, ceritanya agak panjang...,” kata Pek Hong Nio-cu sambil tersenyum manis kepada kaisar.

“Sri Baginda, sekarang semakin jelas! Souw Thian Liong ini datang bersama puteri Kaisar Kin, apa lagi maksudnya kalau bukan hendak bersekongkol dengan Kerajaan Kin untuk menjatuhkan paduka? Mereka sudah mengatur semuanya. Mula-mula menyerang hamba, untuk kemudian menjatuhkan paduka dan merampas tahta!” teriak Chin Kui yang merasa mendapat kemenangan.

Kaisar mengangkat kedua tangan, memberi isyarat supaya mereka semua diam dan tidak ribut. Setelah suasana menjadi tenang, Kaisar lalu menoleh kepada Panglima Kwee.

“Kwee-ciangkun, coba jelaskan dan ceritakan laporanmu tadi tentang usaha pembunuhan di istana!”

Dengan suara lantang Panglima Kwee berkata, “Sri Baginda, yang lebih mengetahui dan mengalami sendiri peristiwa itu adalah Souw Thian Liong dan... ehhh, Puteri Moguhai ini, oleh karena itu hamba rasa seyogianya mereka yang menceritakan terjadinya peristiwa itu sebenarnya.”

Puteri Moguhai tersenyum mendengar ini. Kaisar mengangguk-angguk, kemudian berkata kepada puteri itu. “Puteri Moguhai, sekarang ceritakan semuanya. Mengapa engkau dapat terlibat dalam urusan ini dan apa yang sudah terjadi beberapa malam yang lalu di dalam istana.”

Pek Hong Nio-cu memberi hormat kepada Kaisar. “Hamba siap, Sri Baginda dan biarlah semua orang, terutama Chin Kui si pengkhianat itu, mendengarkan baik-baik!” Suaranya lantang dan jelas biar pun kata-katanya berdialek utara.

“Seperti yang sudah dilaporkan dalam persidangan yang lalu, di Kerajaan Kin kami terjadi pemberontakan dan di sana muncul orang yang bernama Cia Song yang menjadi utusan Chin Kui untuk berhubungan dengan pemberontak dan membantu usaha pemberontakan itu. Saya, dibantu Souw Thian Liong berhasil menghubungi Paman Pangeran Kuang yang mengerahkan pasukan dan menghancurkan pemberontak. Tetapi sayang Cia Song dapat meloloskan diri. Karena mengingat bantuan Souw Thian Liong kepada kerajaan kami, juga karena ingin menentang Chin Kui yang sudah membantu pemberontakan di utara, saya mengambil keputusan untuk membantu Souw Thian Liong. Karena itulah maka saya ikut dengan dia datang ke Lin-an ini.”

“Bohong! Kami sama sekali tidak ikut campur dalam urusan pemberontakan di Kerajaan Kin!” teriak Chin Kui.

“Diam!” bentak kaisar yang marah melihat Chin Kui yang berulang kali bersikap lancang. “Lanjutkan, Puteri Moguhai.”

“Sampai di sini kami dikejar-kejar anak buah Chin Kui, lalu kami bertemu Paman Han Si Tiong dan isterinya. Kami berempat lantas bersembunyi di rumah Paman Panglima Kwee. Sesudah berunding kami memutuskan hendak menghadap Sri Baginda yang mulia untuk membongkar pengkhianatan, kecurangan dan kejahatan Chin Kui. Beberapa malam yang lalu Cia Song beserta empat orang anak buahnya memasuki penjara lalu membunuh lima orang penjaga dan menyerang kami berdua dengan anak panah beracun yang dihujankan ke arah kami dari luar pintu kamar tahanan. Untung muncul Paman Sie...” sampai di sini Pek Hong Nio-cu mengerling ke arah Thian Liong yang mengerutkan alisnya akan tetapi pemuda itu diam saja. “Untung muncul Paman Sie yang merobohkan dan menotok empat pemanah itu. Sayang Cia Song kembali dapat meloloskan diri. Manusia iblis yang licik itu memang lihai. Kami mendapat petunjuk dari Paman Sie, guruku, untuk menyelamatkan Sri Baginda yang terancam bahaya. Setelah kami berdua sampai di ruangan dalam, kami melihat tiga orang datuk sesat, yaitu Hwa Hwa Cin-jin bersama kedua orang Siang Mo-ko, sedang mengamuk hendak membunuh Sri Baginda. Para prajurit pengawal sudah banyak yang tewas, sisanya telah terdesak dan Sri Baginda terancam. Kami berdua lalu melawan tiga orang itu dan berhasil merobohkan mereka. Ketika kami hendak menawan Hwa Hwa Cin-jin, dia membunuh diri. Tiga orang itu adalah orang-orangnya Chin Kui yang tadinya mengejar-ngejar kami berempat sebelum kami berlindung di rumah Panglima Kwee. Kami segera kembali ke penjara untuk menangkap empat orang pemanah yang tadinya ditotok oleh guruku. Akan tetapi ternyata mereka telah tewas, tentu terbunuh oleh orangnya Chin Kui supaya mereka tidak dapat mengaku dan membocorkan rahasia bahwa Chin Kui yang mendalangi semua usaha pembunuhan itu! Hemm..., Chin Kui iblis tua yang khianat, hayo sangkal kalau kamu bisa!” kata Puteri Moguhai kepada Perdana Menteri Chin Kui.

“Sri Baginda, semua yang diceritakan hanya isapan jempol belaka. Andai kata benar ada pembunuh di istana, jelas itu bukan hamba yang mendalanginya. Mungkin buatan mereka saja untuk menjatuhkan hamba. Mana bukti dan saksinya? Hamba menyangkal semua itu. Hamba tidak tahu menahu dengan usaha pembunuhan itu!”

Kini Kaisar Sung Kao Tsung sudah tak sabar lagi mendengar bantahan dan penyangkalan Chin Kui yang sudah jelas bersalah itu. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali sambil berseru kepada pengawal.

“Bawa masuk saksi terakhir itu!”

Semua orang segera menengok ke arah pintu, memandang dua orang prajurit pengawal yang membawa masuk seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kedua lengan orang itu dibelenggu ke belakang tubuhnya. Orang itu didorong sehingga jatuh berlutut di depan Sri Baginda Kaisar.

Melihat masuknya orang ini sebagai saksi, Perdana Menteri Chin Kui langsung terbelalak dan mukanya seketika berubah pucat. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa jagoan yang diutus untuk membunuh para petugas pembunuhan itu kalau mereka gagal, ternyata tertawan! Dia menyangka bahwa orang ini juga sudah tewas ketika tidak datang melapor karena tidak ada berita dari para mata-matanya di istana bahwa orang itu tertawan.

“Siapa namamu?” bentak kaisar.

“Nama hamba Lui Ki, Sri Baginda yang mulia,” kata orang tinggi kurus itu.

“Nah, sekarang ceritakan semua yang kau alami di istana, ceritalah sejujurnya dan jangan takut kepada ancaman siapa pun juga. Pengakuanmu yang sejujurnya akan meringankan hukumanmu, sebaliknya hukumanmu akan semakin berat kalau engkau berbohong!”

“Ampunkan hamba, Sri Baginda yang mulia. Pada malam hari itu hamba mendapat tugas untuk mengawasi mereka yang melakukan tugas pembunuhan atas dua orang tawanan, yaitu Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong. Tugas hamba adalah membunuh mereka bila usaha pembunuhan itu gagal. Hamba diselundupkan sebagai pengawal istana, karena itu dengan mudah hamba dapat mengawasi lima orang pembunuh itu. Dan ternyata mereka gagal membunuh dua orang tawanan, malah ditotok roboh oleh seorang kakek yang sakti. Setelah semuanya pergi, hamba lalu melaksanakan tugas, yaitu membunuh empat orang pemanah. Akan tetapi petugas utama yang bernama Cia Song sudah lolos. Hamba tidak mungkin bisa membunuhnya sebab ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari kemampuan hamba. Sesudah melakukan pembunuhan terhadap empat orang itu dan sebelum hamba dapat melarikan diri, tiba-tiba saja hamba telah dirobohkan oleh kakek sakti itu sehingga akhirnya hamba tertawan. Demikianlah keterangan hamba yang sejujurnya, Sri Baginda. Hamba berani bersumpah bahwa semua keterangan hamba itu benar dan tidak bohong.”

“Hemmm, engkau melupakan satu hal yang terpenting, Lui Ki. Engkau lupa menyebutkan siapa yang mengutus engkau, siapa yang menjadi dalang semua rencana pembunuhan itu? Siapa yang menyuruh tiga orang datuk itu mencoba untuk membunuh kami?”

Wajah Lui Ki menjadi pucat, lalu dia memandang ke arah Chin Kui dan berkata, suaranya gemetar namun cukup lantang dan jelas terdengar oleh semua yang hadir dalam ruangan persidangan itu.

“Yang menjadi dalang dan mengutus hamba semua adalah Perdana Menteri Chin Kui!”

Kini semua orang menoleh lantas memandang kepada Perdana Menteri Chin Kui. Wajah Chin Kui berubah pucat dan dia maklum bahwa kini tidak ada gunanya lagi menyangkal. Akan tetapi tiba tiba dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Dia bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling dengan gaya seorang kaisar yang berkuasa. “Pasukan-pasukan pendukungku saat ini sudah mengepung istana ini! Saya anjurkan Sri Baginda serta semua pamong praja untuk menakluk dan menyerah agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan dan membantai kalian semua. Ha-ha-ha!”

Semua orang amat terkejut karena pada saat itu di luar istana terdengar suara hiruk-pikuk dan gaduh dari suara tambur dan genderang yang dipukul gencar, menandakan bahwa di luar istana terdapat banyak pasukan!

Akan tetapi Panglima Kwee segera memberi isyarat ke arah pintu dan tak lama kemudian para prajurit menggiring masuk belasan orang panglima pendukung Chin Kui yang sudah tertawan dengan kedua tangan terbelenggu! Kiranya Panglima Kwee dan rekan-rekannya sudah lebih dahulu mengadakan pembersihan dengan menangkapi panglima sekutu Chin Kui sebelum mereka sempat bergerak dengan pemberontakan mereka!

Chin Kui terbelalak ketika melihat belasan orang panglima pendukungnya menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar. Peristiwa ini terlalu hebat baginya, mengguncang hatinya dengan hebat, memporak-porandakan semua harapan dan cita-citanya. Dia merasa seakan-akan ada sesuatu yang pecah di dalam kepalanya. Perasaan kaget, kecewa, marah, dan takut bercampur menjadi satu teraduk dalam otaknya dan mengacaukan hatinya.

“Ha-ha-ha-ha...!” Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak hingga mengejutkan semua orang yang memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

“Hu-hu-hu-huuhh...!” Tiba-tiba tawanya yang bergelak itu berubah menjadi tangis tersedu-sedu.

Semua orang menghela napas panjang. Perdana Menteri Chin Kui yang sangat berambisi dan sudah berkhianat itu kini telah menjadi gila!

Kaisar memerintahkan pengawal untuk menangkap Chin Kui. Dia lalu dibawa ke penjara bersama para panglima yang telah menjadi tawanan,.


Hari itu juga kaisar memerintahkan kepada Panglima Kwee agar melakukan pembersihan, menangkapi mereka yang tadinya menjadi sekutu Chin Kui. Souw Thian Liong dan Puteri Moguhai kembali mendapat tawaran dari kaisar untuk minta hadiah apa pun yang mereka sukai, tetapi kedua orang muda itu menolak dengan hormat.

Sesudah semua selesai, mereka berdua lalu meninggalkan istana. Juga Han Si Tiong dan Liang Hong Yi meninggalkan istana. Suami isteri ini sangat berterima kasih kepada Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu, dan mereka mengulang permintaan mereka kepada dua orang muda itu agar memberitahu kepada Han Bi Lan di mana mereka tinggal kalau kebetulan dapat berjumpa dengan gadis itu. Setelah itu Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berpisah dari suami isteri yang akan kembali ke dusun Kian cung di dekat Telaga Barat.

Mereka berdua keluar dari kota raja setelah berpamit dari Panglima Kwee. Begitu tiba di luar pintu gerbang kota raja Lin-an, Thian Liong bertanya kepada Pek Hong Nio-cu, “Nio-cu, sekarang engkau hendak pergi ke mana?”

Pek Hong Nio-cu menatap wajah pemuda itu dan dia menghela napas panjang. Berat rasa hatinya untuk berpisah dengan pemuda ini. Akan tetapi dia adalah seorang puteri kaisar. Tidak mungkin kalau dia harus terus mengikuti Thian Liong yang tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.

Bahkan kemarin dia langsung menolak ketika Pangeran Kuang, pamannya, mengajak dia pulang ke utara. Dia mengatakan bahwa dia akan pulang sendiri, padahal penolakan itu dilakukannya karena dia merasa berat untuk berpisah dari Thian Liong yang dianggapnya sebagai seorang sahabat yang amat baik.

“Aku hendak pulang ke utara,” katanya dengan nada suara datar. “Engkau sendiri hendak ke manakah, Thian Liong?”

Sejenak Thian Liong termenung. Dia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Tugas-tugas yang diberikan gurunya kepadanya masih belum dapat dia selesaikan dengan sempurna. Memang dia sudah berhasil membantu dan membela Kerajaan Sung hingga terbebas dari pengaruh Chin Kui yang berkhianat. Tapi di antara kitab-kitab yang harus dia kembalikan kepada para pemiliknya, masih ada satu yang belum berhasil dia kembalikan, yaitu kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun lun-pai yang dicuri oleh gadis berbaju merah itu. Tugas utamanya sekarang adalah mencari gadis pencuri itu, lalu merampas kembali kitab itu untuk dikembalikan kepada yang berhak, yaitu Kun-lun-pai.

“Hei, kenapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?” kata Pek Hong Nio-cu dengan suara keras.

Thian Liong terkejut sekali dan baru teringat bahwa gadis itu tadi mengajukan pertanyaan kepadanya. “Apa? Oya, aku akan melanjutkan perantauanku, Nio-cu. Engkau tahu bahwa aku masih memiliki sebuah tugas penting, yaitu mencari gadis pakaian merah yang telah mencuri kitab kuno yang harus kuserahkan kembali kepada Kun-lun-pai. Kalau aku belum dapat merebut kembali kitab itu dan mengembalikannya kepada Kun-lun-pai yang berhak, berarti tugas yang diberikan suhu kepadaku belum kulaksanakan dengan baik.”

“Hemm, agaknya gurumu itu tukang membagi-bagi kitab, ya? Engkau harus menyerahkan kitab ke Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, dan Kun-lun-pai!” kata Pek Hong Nio-cu berkelakar.

“Hemm, dan juga membagikan sebagian kitabnya kepadamu, bukan?”

Pek Hong Nio-cu tersenyum, akan tetapi matanya memandang wajah pemuda itu penuh selidik lalu bertanya dengan nada serius. “Thian Liong, katakan sebenarnya, apakah betul bahwa Paman Sie yang menjadi sahabat ibuku, juga yang memberi kitab-kitab dan hiasan rambut padaku ini adalah gurumu juga, Tiong Lee Cin-jin?”

“Benar tidaknya tentu saja aku tidak dapat memastikan karena aku belum pernah melihat pamanmu itu. Akan tetapi kita berdua sama-sama pernah berhadapan dengan dia ketika dia membebaskan kita dari kamar tahanan. Dia itu benar-benar suhu-ku Tiong Lee Cin-jin. Masa aku lupa kepada guruku sendiri yang telah mendidik aku selama sepuluh tahun? Dia itu benar-benar guruku, buktinya dia menolongku dan menyuruh aku menolong Kaisar.”

“Hemm, kalau begitu sama saja dengan aku. Walau pun baru satu kali aku melihat Paman Sie di taman itu ketika dia sedang bercakap-cakap dengan ibuku, tetapi aku tidak pernah bisa melupakan wajahnya. Yang menolong kita di utara dulu dan di kamar tahanan istana itu jelas Paman Sie!”

“Wah, kalau begitu tidak salah lagi. Aku tidak berbohong dan aku yakin engkau juga tidak berbohong. Kesimpulannya adalah Paman Sie itu adalah juga guruku, dan suhu Tiong Lee Cin-jin itu juga pamanmu.”

“Nah, itu baru adil namanya. Kalau begitu engkau adalah suheng-ku.”

“Dan engkau adalah sumoi-ku!”

“Mulai sekarang aku akan menyebutmu suheng!”

“Dan aku akan menyebutmu sumoi!”

“Suheng, engkau hendak mencari pencuri kitab itu? Ke mana engkau hendak mencari dia?”

“Itulah yang menjengkelkan, sumoi. Aku tidak mengetahui siapa nama pencuri itu, hanya mengenal mukanya dan aku sama sekali tidak tahu di mana dia berada.”

“Hemm, kalau begitu ke mana engkau hendak mencarinya? Ahh, aku jadi ingat sekarang. Engkau pernah bercerita kepadaku bahwa ilmu silat gadis pencuri itu memiliki dasar-dasar ilmu silat para pendeta Lama di Tibet. Dan dia pun mencuri kitab itu ketika engkau berada di pegunungan Kun-lun-san. Maka, menurut pendapatku dia pasti tinggal di daerah barat, di sekitar pegunungan Kun-lun-pai dan daerah Tibet. Kukira engkau harus mencarinya ke sana, suheng!”

Thian Liong mengangguk-angguk. “Kurasa pendapatmu benar sekali. Baiklah, aku akan mencarinya di daerah barat itu, sumoi.”

“Bagus, kalau begitu aku akan pergi bersamamu!” Pek Hong Nio-cu berkata dengan suara pasti dan wajah berseri.

“Ahh...?” Thian Liong memandang gadis itu dengan heran. “Akan tetapi, bukankah engkau harus pulang ke utara, sumoi? Orang tuamu tentu akan menanti-nanti kepulanganmu. Lagi pula, perjalananku mencari maling itu belum pasti berapa lamanya!”

Pek Hong Nio-cu menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata tajam penuh selidik. “Suheng, engkau merasa keberatan kalau aku ikut denganmu? Kalau keberatan katakan saja!”

Ditanya demikian itu, tentu saja Thian Liong menjadi tersudut dan serba salah. Tentu saja hatinya tidak pernah merasa keberatan karena melakukan perjalanan bersama gadis yang baik budi, gagah perkasa dan sangat menyenangkan ini membuat perjalanannya menjadi tidak membosankan, bahkan terasa sangat menggembirakan. Akan tetapi bagaimana pun juga Pek Hong Nio-cu adalah seorang gadis, puteri Kerajaan Kin pula. Tentu saja hal ini akan dipandang orang-orang sebagai hal yang tidak pantas!

“Hei, mengapa diam saja, suheng? Kalau engkau merasa keberatan katakan saja dengan sejujurnya!” Pek Hong Nio-cu membentak sehingga Thian Liong terkejut sekali dan sadar dari lamunannya.

“Ehh... ohhh... tidak sama sekali, sumoi. Aku senang melakukan perjalanan bersamamu. Akan tetapi engkau harus pulang dan...”

“Ini pun merupakan perjalananku untuk pulang, hanya saja melalui daerah barat. Aku ingin membantumu menemukan maling itu, suheng. Dari daerah itu kita dapat menemui Paman Kuang yang bentengnya berada di sana dan kita minta bantuannya agar dia mengerahkan para penyelidik untuk disebar dan mencari gadis pakaian serba merah yang telah mencuri kitabmu itu. Sekarang persoalannya hanya pada keputusanmu, engkau boleh atau tidak aku melakukan perjalanan bersamamu. Jika tidak boleh, sekarang juga kita berpisah. Aku akan kembali ke utara dan agaknya tidak mungkin kita akan saling bertemu lagi...”

“Ahh, tentu saja boleh sekali, sumoi!” potong Thian Liong.

“Kalau boleh, marilah kita melanjutkan perjalanan kita, menuju ke Kun-lun-san dan Tibet!” Suara Pek Hong Nio-cu seperti bersorak. Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar, dan mulutnya tersenyum sehingga Thian Liong terpesona karena gadis itu tampak cantik jelita sekali.

Setelah berkata begitu, Pek Hong Nio-cu segera melarikan kudanya dengan cepat. Thian Liong juga cepat mengejar dan dua ekor kuda pemberian Kwee-ciangkun itu, kuda-kuda yang tinggi besar dan kuat, kini seperti berlomba berlari cepat menuju ke barat laut…..

********************

Sesudah melakukan perjalanan berkuda selama beberapa pekan, pada suatu pagi yang cerah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu sampai di kaki pegunungan di Propinsi Shansi. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah mereka menjalankan kuda mereka perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan alam yang indah di daerah pegunungan itu.

Ketika mereka tiba di lereng bukit pegunungan Cin-ling-san itu, Pek Hong Nio-cu menahan kudanya dan memandang ke bawah di mana terbentang pemandangan alam yang sangat indah. Sinar matahari yang putih kekuningan itu memandikan permukaan bumi di bawah sana.

Thian Liong juga menghentikan kudanya berdampingan dengan Pek Hong Nio-cu. Melihat wajah gadis itu berseri, matanya berbinar serta mulutnya tersenyum, pemuda ini nampak terpesona dan berbahagia. Dia juga memandang ke arah yang dipandang Pek Hong Nio-cu.

“Aahhh…” gadis itu menghela napas panjang sesudah tadi seolah dia menahan napasnya saking kagum menyaksikan pemandangan indah itu. “Alangkah indahnya... bukan main... sungguh luar biasa. Suheng, lihat itu air danau kecil berkilauan, puncak pepohonan seperti berhiaskan emas dan gundukan bukit-bukit itu. Ahh, semuanya seolah tersenyum, begitu hidup...”

Thian Liong tersenyum. “Sumoi, apakah engkau tahu di mana sesungguhnya keindahan itu terdapat?”

“Eh? Di bawah sana itu, pemandangan alam ini, sinar matahari, lihat burung-burung kecil beterbangan... aihh, semua inilah tempat keindahan!”

“Bukan, sumoi. Keindahan itu terdapat di dalam hatimu!”

“Hemm, bagaimana maksudmu, suheng?”

“Begini, sumoi. Kalau hati sedang tenteram bahagia, tidak terganggu perasaan nafsu apa pun, maka segala sesuatu tampak indah bukan main. Bahkan di waktu hujan atau dalam keadaan apa dan bagaimana pun, akan tampak indah karena segala sesuatu mempunyai sifat dan ciri yang khas. Keindahan itu pencerminan kebahagiaan. Kalau hatimu sedang bahagia, maka apa pun akan tampak indah. Sebaliknya, kalau hati sedang tidak tenteram bahagia, terganggu ulah nafsu yang menimbulkan khawatir, kecewa, marah, benci, takut, dengki, iri, bingung, sedih dan sebagainya, maka apa pun yang kita hadapi akan tampak jelek dan sama sekali tidak menyenangkan!”

Pek Hong Nio-cu tertegun, berpikir, merenungkan ucapan Thian Liong, kemudian berkata, “Hemm, aku mulai dapat mengerti apa yang kau maksudkan, suheng. Akan tetapi berilah contoh agar jelas!”

“Kalau hati kita tenteram bahagia maka segalanya akan tampak indah. Hujan atau panas, siang atau malam, apa saja, selalu tampak indah karena keadaan tenteram bahagia akan mendatangkan kasih. Kalau hati kita sedang tenteram bahagia, semua orang, siapa saja, akan tampak seperti sahabat yang menyenangkan. Sebaliknya bila mana hati diusik nafsu menimbulkan segala macam perasaan tadi, hujan mau pun panas tampak mengganggu, siang mau pun malam terasa menjengkelkan dan setiap bertemu orang, siapa saja, akan tampak menjengkelkan seperti bertemu musuh. Kalau hati kita tenteram bahagia, lalu ada seekor kucing mendekat, maka kita ingin membelainya dengan hati sayang. Sebaliknya, kalau kita sedang kehilangan tenteram bahagia, lalu ada kucing mendekat, maka kita ingin menendangnya dengan perasaan benci.”

Pek Hong Nio-cu tersenyum. “Sekarang aku dapat merasakan kebenaran kata-katamu itu, suheng! Akan tetapi bagaimana caranya agar hati kita selalu tenteram bahagia agar segala sesuatu tampak indah menyenangkan?”

“Tidak ada caranya, sumoi. Kita hanya membuka hati sanubari dan mohon kepada Thian (Tuhan) untuk bersemayam dalam hati kita. Kalau sudah begitu, dalam keadaan apa pun juga, sehat atau sakit, untung atau rugi, hati kita akan selalu tenteram bahagia.”

“Wah, mungkinkah itu, suheng? Bagaimana kita dapat merasa tenteram bahagia dalam keadaan sakit dan tertimpa mala petaka?” gadis itu membantah.

“Mengapa tidak dapat, sumoi? Kebahagiaan bukanlah kesenangan badan dan pikiran. Di dalam keadaan apa pun juga, kita akan merasa tenteram bahagia selama kita merasa yakin bahwa Thian beserta kita. Kesengsaraan badan tak akan mempengaruhi batin yang sudah menyerah sebulatnya berdasarkan iman kepadaNya.”

“Hebat...! Dari mana engkau mendapatkan pengertian seperti itu, suheng?”

“Suhu Tiong Lee Cin-jin banyak memberi petunjuk, akan tetapi hanya Kekuasaan Thian yang membimbing sehingga kita dapat mengerti. Tidak ada yang mustahil, tidak ada yang aneh, dan tidak ada yang sukar bagi Thian. Di dalam tanganNya, kita akan selalu merasa tenteram bahagia, dalam keadaan apa dan bagaimana pun juga.”

“Wah, sungguh beruntung engkau bisa menjadi murid Paman Sie dan langsung mendapat petunjuk dari beliau! Kalau begitu, sekarang engkau adalah seorang yang selalu merasa tenteram bahagia, suheng?”

Thian Liong tersenyum dan menghela napas panjang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner