KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-47


“Sumoi, kita adalah manusia, makhluk yang bergelimang dosa. Selamanya Thian takkan pernah meninggalkan kita walau sedetik pun. KekuasaanNya bekerja juga dalam diri kita. Kalau sebentar saja kekuasaanNya meninggalkan kita dan tidak bekerja, kita akan mati. Kita manusia lemah dan aku juga seorang manusia, sumoi, dengan segala kelemahanku pula. Bukan Thian yang menjauhkan diri dari kita, melainkan kitalah yang menjauhkan diri dari Thian kalau kita terseret oleh nafsu-nafsu yang menguasai diri kita lahir batin. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, sumoi. Yang Maha Sempurna hanyalah Thian. Pada awalnya segala ciptaanNya adalah sempurna, tetapi kesempurnaan itu lalu dicemari oleh dosa kita manusia sendiri. Kita harus belajar, sumoi, belajar dan mengajar diri sendiri agar selalu mendekatkan diri dengan penyerahan yang tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Kuasa.”

Dua muda-mudi itu turun dari atas punggung kuda dan membiarkan kuda mereka makan rumput yang hijau segar. Tempat mereka berhenti itu berupa padang rumput yang cukup luas dan landai. Mereka ingin menikmati keindahan itu lebih lama lagi, maka mereka pun duduk di atas batu gunung.

Tiba-tiba Pek Hong Nio-cu berseru, “Hei, itu ada banyak orang mendaki ke sini, suheng!”

Thian Liong memandang ke arah yang ditunjuk oleh Pek Hong Nio-cu dan benar saja, dia melihat ada belasan orang mendaki lereng bukit itu ke arah mereka. Dan melihat betapa mereka itu berlari cepat mendaki bukit, dapat diketahui bahwa mereka bukan orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Setelah rombongan itu tiba cukup dekat hingga wajah mereka tampak jelas, Thian Liong bangkit berdiri dan berseru, “Hei, mereka adalah orang-orang Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai!”

Pek Hong Nio-cu juga ikut bangkit dan berseru, “Dan itu adalah si jahanam Cia Song dan dua orang gadis Kun-lun-pai tak tahu malu itu!”

Thian Liong mengerutkan alisnya. Dia mengenal Hui In Sian-kouw dan Biauw In Su-thai, juga Kim Lan dan Ai Yin di antara para tokoh Kun-lun-pai. Dengan kaget dia pun segera mengenal Hui Sian Hwesio, Cu Sian Hwesio dan Cia Song di antara para tokoh Siauw-lim-pai. Jumlah para tokoh Kun-lun-pai ada sembilan orang dan para tokoh Siauw-lim-pai ada enam orang! Hemm, ada apa lagi ini, pikirnya.

Melihat sikap orang-orang itu, Pek Hong Nio-cu berbisik kepada Thian Liong. “Hati-hatilah, suheng, agaknya si jahanam Cia Song membuat ulah lagi!”

Sesudah tiba di hadapan Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu, Ketua Siauw-lim-pai Hui Sian Hwesio dan wakil ketua Siauw-lim-pai Cu Sian Hwesio berdiri dengan kedua alis berkerut di depan kedua orang muda itu, sedangkan di samping pimpinan Siauw lim-pai ini berdiri Hui In Sian-kouw dan Biauw In Su-thai yang dari wajahnya dapat diketahui bahwa mereka amat marah. Cia Song berdiri di belakang pimpinan Siauw-lim-pai sedangkan Kim Lan dan Ai Yin berdiri di belakang guru mereka. Delapan orang tokoh lain sudah mengambil posisi mengepung Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.

Karena dia sudah diaku sebagai murid Siauw-lim-pai oleh Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, maka Thian Liong mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk kepada kakek itu.

“Suhu...,” katanya dengan hormat.

“Tak perlu engkau menyebut suhu kepada suheng!” Cu Sian Hwesio membentak. “Engkau tak pantas menjadi murid Siauw-lim-pai dan mulai saat ini engkau bukan murid, melainkan musuh Siauw lim-pai.”

“Ji-suhu (Guru kedua), harap jelaskan apa kesalahan teecu (murid) maka pimpinan Siauw-lim-pai begini marah kepada teecu?” tanya Thian Liong, sikapnya masih tenang karena dia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun terhadap Siauw-lim-pai.

“Engkau masih ada muka untuk bertanya apa kesalahanmu? Jangan pura-pura tidak tahu, Souw Thian Liong! Engkau sudah menjadi seorang pengkhianat! Engkau sudah bertindak begitu rendah menjadi kaki tangan Kaisar Kin, kemudian engkau memberontak terhadap Kerajaan Sung! Itu semua masih ditambah lagi dengan perbuatanmu yang keji terhadap Kun-lun pai! Sebagai bekas murid Siauw-lim-pai, dosamu tidak bisa diampuni lagi. Engkau telah mencemarkan nama besar Siauw-lim-pai, maka sekarang kami datang sendiri untuk menghukummu!” kata Cu Sian Hwesio.

“Hemm, teecu siap menerima hukuman kalau memang teecu melakukan kesalahan. Akan tetapi semua kabar yang suhu terima itu hanyalah fitnah belaka, dan apa pula yang teecu lakukan terhadap Kun-lun-pai hingga suhu menganggap teecu sudah berbuat keji?” Thian Liong masih bersikap tenang dan dia menggeleng kepala terhadap Pek Hong Nio-cu yang telah mengerutkan alis dengan muka merah dan sinar matanya berapi-api karena marah.

“Keparat busuk kau!” Biauw In Su-thai yang terkenal galak itu mendadak memaki sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Thian Liong. “Engkau telah melakukan perbuatan keji terhadap dua orang muridku ini dan sekarang engkau masih bertanya lagi seolah tidak berdosa sama sekali? Perbuatan terkutuk itu harus dihukum dan pin-ni (aku) sendiri yang akan menghukummu!”

Pek Hong Nio-cu tak mampu lagi menahan kobaran api kemarahan di dalam hatinya. Dia segera maju satu langkah, memandang kepada para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, lalu membentak lantang dengan kata-kata tajam.

“Heh, kalian kakek-kakek Siauw lim-pai dan nenek-nenek Kun-lun-pai! Hanya sebeginikah kesusilaan kalian sebagai para pimpinan dua perkumpulan yang terkenal besar itu? Kalian adalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang sangat bodoh dan ceroboh, seperti anak-anak yang mudah dihasut begitu saja, juga sama sekali tidak berwatak adil sehingga menuduh berdasarkan fitnah tanpa menyelidiki terlebih dulu. Kalian tidak pantas menjadi pimpinan partai-partai persilatan besar!”

Tentu saja para pimpinan Siauw-lim pai dan Kun-lun-pai menjadi terkejut dan marah sekali mendengar kata-kata yang keras dan tajam menusuk perasaan itu.

“Suhu, perempuan itu adalah puteri Kaisar Kin,” bisik Cia Song kepada dua orang suhu-nya.

“Ohh, jadi engkau ini puteri Kaisar Kin, nona?” tanya Cu Sian Hwesio. “Pantas saja Souw Thian Liong mau menjadi pengkhianat bangsa. Kiranya tergila-gila oleh kecantikanmu.”

“Tutup mulut busukmu, kakek jahat! Aku Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu tidak sudi menerima penghinaan dari seorang hwesio tua yang berpura-pura alim seperti kamu!”

“Sumoi...!” Thian Liong mencegah dengan menyentuh lengan kiri gadis itu.

Akan tetapi Pek Hong Nio-cu langsung mengibaskan lengannya dan tetap menghadapi Cu Sian Hwesio dengan marah. Cu Sian Hwesio berdiri dalam jarak dua meter dari Pek Hong Nio-cu. Tentu saja dia juga marah mendengar omongan gadis itu.

“Kau anak perempuan jahat!” katanya dan tangan kirinya lantas dijulurkan ke depan.

Lengan itu mulur bagaikan karet dan tahu-tahu sudah dekat sekali, hendak menotok leher Pek Hong Nio-cu. Gadis ini sangat terkejut melihat lengan yang bisa mulur itu, namun dia tidak gentar dan menangkis tangan itu sambil mengerahkan tenaga sakti pada tangannya yang menangkis.

“Wuuuuttt...! Plakkk!”

Dua tangan bertemu dan dengan kaget Cu Sian Hwesio menarik kembali tangannya yang mulur. Wakil ketua Siauw-lim-pai ini terkejut bukan main karena tangkisan gadis itu amat kuat dan dapat mengimbangi tenaganya. Sebelum dia kembali bergerak, Hui Sian Hwesio sudah cepat menegurnya.

“Sute, hentikan itu!”

Cu Sian Hwesio menahan serangannya dan berdiri dengan alis berkerut.

“Omitohud…! Nona Puteri Moguhai, bagaimana kami dapat menjadi yakin bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kin?” tanya Hui Sian Hwesio, suaranya lembut.

Watak Puteri Moguhai adalah keras. Kalau dia dikasari maka dia pun akan menjadi marah sekali, tetapi jika orang bersikap Iembut kepadanya maka dia menjadi lemas. Mendengar pertanyaan itu, dia mencabut pedang bengkoknya yang terbuat dari emas lantas berkata, suaranya juga lembut.

“Ini adalah pedang tanda kekuasaan yang diberikan Ayahanda Kaisar kepadaku.” Setelah berkata demikian, dia segera menyimpan kembali pedang bengkoknya.

“Apakah losuhu ini adalah Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai?” Dia pernah mendengar cerita Thian Liong tentang ketua ini.

“Benar, nona puteri. Tapi engkau keliru kalau menganggap kami tidak adil. Kami tak akan menghukum murid kami kalau tidak ada bukti dan saksi akan kesalahannya. Omitohud…, kami akan menjadi orang-orang berdosa kalau kami menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah.”

“Hemm, jadi losuhu sekalian hendak menghukum Souw Thian Liong karena telah memiliki bukti dan saksi bahwa dia benar bersalah?”

“Sumoi, jangan menentang suhu Hui Sian Hwesio!” Thian Liong mencegah Pek Hong Nio-cu.

“Puteri Moguhai, ada hak apakah engkau turut mencampuri urusan kami dengan seorang murid kami?!” bentak Cu Sian Hwesio penasaran.

Moguhai atau Pek Hong Nio-cu menegakkan kepalanya sambil membusungkan dadanya. “Tentu saja aku mempunyai hak untuk membela dia sebab dia adalah suheng-ku. Suheng Souw Thian Liong adalah murid Tiong Lee Cin-jin, aku pun murid Sang Dewa Obat!”

Semua orang terkejut dan Cu Sian Hwesio sekarang tidak merasa heran bahwa tadi puteri Kaisar Kin itu kuat menolak serangannya.

“Omitohud, kiranya nona puteri adalah murid Tiong Lee Cin-jin. Nah, coba sekarang apa pembelaanmu terhadap Souw Thian Liong mengenai tuduhan-tuduhan tadi,” kata Hui Sian Hwesio dengan sikap dan suaranya yang lembut.

“Nah, sekarang dengarlah kalian semua! Aku, Puteri Moguhai adalah saksi hidup karena aku mengalami semua peristiwa yang dituduhkan itu bersama suheng Souw Thian Liong. Suheng sama sekali bukan pengkhianat seperti yang dituduhkan. Ketika berada di utara, dia membantu aku untuk menentang dan menghancurkan persekutuan pemberontak yang hendak menggulingkan pemerintahan ayahanda kaisar. Akhirnya kami berhasil membasmi para pemberontak. Jadi suheng Souw Thian Liong hanya membantu Kerajaan Kin untuk menghancurkan pemberontak di sana. Apakah itu dapat diartikan bahwa dia mengkhianati Kerajaan Sung? Selain itu, ada pula kenyataan yang tentu saja kalian belum mengetahui! Sekarang dengarkan baik-baik. Para pemberontak di Kerajaan Kin itu bersekutu dengan Perdana Menteri Chin Kui. Kami berdua melihat dan bertemu sendiri dengan utusan Chin Kui yang dikirim ke utara untuk mendukung pemberontakan itu. Apakah kalian ingin tahu siapa utusan Perdana Menteri Chin Kui itu?” Puteri Moguhai berhenti sebentar, kemudian telunjuk kirinya menuding ke arah muka Cia Song yang sedang berdiri di belakang Hui Sian Hwesio.

“Dialah orangnya, Cia Song yang jahat itu!”

Tentu saja semua orang terkejut, terutama sekali para pimpinan Siauw-lim pai. Hui Sian Hwesio sampai menoleh ke belakang lalu memandang Cia Song.

Namun Cia Song sudah memperhitungkan bahwa tentu Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu akan membela diri dengan cara membongkar rahasia dirinya. Dia sudah siap siaga untuk itu, maka kini dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hui Sian Hwesio.

“Suhu, ternyata puteri Kaisar Kin ini keji, licik dan jahat sekali. Ia memutar balikkan fakta, bahkan berbalik melempar fitnah kepada teecu. Tentu saja dia membela Thian Liong yang menjadi kekasihnya. Teecu menyerahkan kepada kebijaksanaan suhu. Apa bila suhu lebih percaya omongan puteri Kaisar Kin ini dan hendak menghukum teecu, maka teecu hanya dapat pasrah dan menyerahkan nyawa teecu. Sejak kecil teecu menjadi murid Siauw-lim-pai, telah berhutang budi dan akan setia kepada Siauw-lim-pai sampai mati.”

Hui Sian Hwesio menyentuh pundak Cia Song. “Bangunlah! Pinceng percaya kepadamu, Cia Song, dan tidak akan ceroboh menjatuhkan hukuman begitu saja. Tentu pinceng (aku) lebih percaya kepadamu yang sudah belasan tahun menjadi murid kami, sedangkan Thian Liong menjadi murid hanya dalam beberapa bulan saja. Lagi pula keterangan nona puteri dari utara ini tentu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.”

“Hemm…!” Pek Hong Nio-cu mendengus dengan nada mengejek. “Aku sering mendengar bahwa kalau sudah tua orang menjadi pikun, lemah dan bodoh. Agaknya para pimpinan Siauw-lim-pai juga menjadi pikun sehingga mudah saja dipermainkan dan dibohongi iblis cilik seperti Cia Song itu!”

“Bocah kurang ajar! Beraninya engkau menghina pimpinan Siauw-lim-pai!” bentak Cu Sian Hwesio dan dia sudah menyerang lagi kepada Pek Hong Nio-cu.

“Perempuan jahat dari Kin bersama pengkhianat ini harus mampus!” Cia Song juga sudah menerjang maju.

Pek Hong Nio-cu tidak gentar. Ketika Cu Sian Hwesio menyerangnya, dia cepat mengelak sambil membalas dengan tendangan kaki kiri yang juga dapat ditangkis Cu Sian Hwesio. Serangan Cia Song kepada Pek Hong Nio-cu ditangkis oleh Thian Liong dan kedua orang muda ini sudah saling serang.

“Tahan...!” Hui In Sian-kouw berseru. Suara wanita yang menjadi ketua Kun-lun-pai bagian murid wanita ini begitu menggetarkan dan terdengar amat berwibawa. “Kami yang berhak menghukum Souw Thian Liong!”

“Sute dan Cia Song, mundurlah!” Hui Sian Hwesio juga berseru. Dua orang penyerang itu terpaksa mundur sehingga perkelahian berhenti.

Kini giliran Biauw In Su-thai yang maju. Tokoh Kun-lun-pai yang berusia lima puluh tahun ini terkenal sangat galak.

Seperti yang kita ketahui, Kui Beng Thaisu, ketua Kun-lun pai telah mengharuskan Biauw In Su-thai bersemedi di pondok pengasingan selama tiga tahun. Namun sesudah Kim Lan dan Ai Yin pulang lantas sambil menangis melaporkan kepada para pimpinan Kun-lun-pai bahwa mereka berdua sudah diperkosa Souw Thian Liong, Kui Beng Thaisu memberi ijin kepada Biauw In Su-thai untuk menemani Hui In Sian-kouw turun gunung untuk mencari pemuda itu dan menghukumnya.

Di dalam perjalanan rombongan Kun-lun-pai ini bertemu dengan rombongan Siauw-lim-pai yang bahkan dipimpin sendiri oleh ketuanya, yaitu Hui Sian Hwesio. Mereka juga sedang mencari Souw Thian Liong untuk menghukum pemuda ini karena sudah menganggapnya sebagai murid Siauw-lim-pai yang menjadi pengkhianat, yang berarti mencemarkan nama besar Siauw-lim-pai seperti yang dilaporkan Cia Song kepada para pimpinan Siauw-lim pai. Dua rombongan itu lalu bergabung hingga akhirnya dapat berhadapan dengan Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.

“Souw Thian Liong! Engkau harus berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang terkutuk terhadap dua orang murid kami!” Biauw In Su-thai berseru dan wanita galak ini telah mencabut pedangnya. “Perbuatanmu yang sangat terkutuk itu harus ditebus dengan nyawamu!”

“Su-thai, apakah kesalahan saya terhadap kedua orang murid Su-thai itu?” tanya Souw Thian Liong tenang sambil menoleh ke arah Kim Lan dan Ai Yin yang menatap kepadanya dengan alis berkerut dan mata berapi-api karena marah.

Kim Lan yang sejak tadi marah sekali, kemarahan yang bukan saja mengingat bahwa dia telah diperkosa Souw Thian Liong, akan tetapi dikipasi oleh, anehnya, perasaan cemburu melihat betapa pemuda itu demikian akrab dan dibela puteri cantik Kaisar Kin, melangkah maju dan mencabut pedangnya pula, diikuti oleh Ai Yin.

“Jahanam keji!” Kim Lan menudingkan pedangnya dengan sikap garang. “Engkau masih pura-pura bertanya? Seolah lupa akan perbuatanmu yang terkutuk terhadap kami berdua!”

Thian Liong memandang heran. “Perbuatan terkutuk? Biadab? Apa yang kau maksudkan, nona?”

“Engkau masih berpura-pura? Baiklah, kami berdua memang sudah tercemar aib. Biarlah semua orang mengetahui betapa biadab dan terkutuknya engkau, Souw Thian Liong! Di dalam penginapan di kota Kiang-cu itu, engkau menotok kami berdua lalu... lalu... dengan biadab engkau memperkosa kami!” Setelah berkata demikian, air mata mengalir dari mata Kim Lan, juga Ai Yin.

“Penasaran! Aku tidak melakukan perbuatan keji itu! Apa buktinya? Siapa saksinya?” kata Thian Liong penasaran.

“Buktinya?” kata Kim Lan dengan suara parau karena bercampur tangis. Ia mengeluarkan sehelai surat dari saku bajunya kemudian melambaikan surat itu ke atas.

“Ini buktinya, suratmu yang kau tinggalkan di meja kamar penginapan. Engkau bukan saja telah memperkosa, bahkan engkau juga meninggalkan surat menghina Kun-lun-pai!”

“Saksinya adalah aku!” Tiba-tiba saja Cia Song berkata lantang. “Aku yang menyaksikan bahwa pada saat dua orang nona murid Kun-lun-pai ini sedang berada di Kota Kiang-cu, aku juga melihat Souw Thian Liong dan puteri Kin itu berada di sana pula!”

Biauw In Su-thai berteriak, “Kim Lan! Ai Yin! Tak perlu banyak bicara lagi, mari kita bunuh jahanam ini!” Tokoh Kun-lun pai ini menerjang, diikuti oleh Kim Lan dan Ai Yin sehingga Thian Liong diancam pengeroyokan tiga orang wanita yang pandai memainkan Thian-lui Kiam-sut (Ilmu Pedang Kilat Guntur) itu.

Pek Hong Nio-cu juga telah mencabut pedang bengkoknya dan melompat ke depan Thian Liong untuk melindungi pemuda yang masih berdiri tenang tanpa mencabut pedangnya itu. Kini Pek Hong Nio-cu bersiap melawan tiga orang wanita Kun-lun-pai itu. Melihat ini, tiga orang wanita itu menjadi semakin marah.


“Bentuk Thian-lui Kiam-tin (Pasukan Pedang Kilat Guntur)!” kata Biauw In Su-thai.

Mereka sudah bergerak dan siap menyerang. Akan tetapi mendadak terdengar bentakan nyaring dan tampak sesosok bayangan merah berkelebat.

“Tahan senjata!”

Di dekat Pek Hong Nio-cu, berhadapan dengan tiga orang wanita Kun-lun-pai, tahu-tahu sudah berdiri seorang gadis yang berpakaian serba merah muda. Melihat dara cantik jelita dengan sepasang mata indah yang mencorong serta bentuk mulut yang menggairahkan, Thian Liong terkejut sekali.

“Engkau...?!” dia membentak karena segera dia mengenal gadis yang dulu mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun hoat dari tangannya!

Han Bi Lan, gadis itu, menoleh dan tersenyum kepada Thian Liong lalu berkata, “Ya, aku! Aku pernah bersalah kepadamu dan sekarang aku hendak menebus kesalahan itu dengan membelamu!”

Biauw In Su-thai lantas membentak. “Apa yang kau lakukan ini? Souw Thian Liong adalah musuh kita! Jahanam itu sudah menodai dua orang kakak seperguruanmu. Mari bantulah kami membunuh dia!”

Mendengar ini Thian Liong menjadi terheran-heran. Jadi, gadis yang dahulu mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu adalah murid Kun-lun-pai? Kenapa mencuri sendiri kitab milik Kun-lun-pai dan kini berbalik membelanya?

“Tidak, bibi guru. Tadi saya sudah mendengar semua dan saya yakin bahwa Souw Thian Liong bukanlah orang jahat. Tuduhan ini harus diselidiki lebih dulu kebenarannya!” Gadis baju merah itu membantah.

Hui In Sian-kouw berkata, suaranya lembut tapi mengandung teguran. “Tuduhan itu bukan hanya fitnah belaka, tapi sudah ada bukti dan saksinya. Harap engkau tidak mengkhianati Kun-lun-pai dan menjadi murid yang ikut mempertahankan dan menjaga kehormatan Kun-lun-pai.”

“Maaf, subo (ibu guru), teecu bukan hendak berkhianat. Bahkan teecu ingin menjaga agar pimpinan Kun-lun-pai tidak bertindak salah menghukum orang yang tidak berdosa. Harap subo ingat bahwa Souw Thian Liong adalah murid! Tiong Lee Cin-jin yang sudah berjasa mengembalikan kitab pusaka milik Kun-lun-pai yang hilang, sehingga tidak sembarangan menjatuhkan hukuman kepadanya sebelum jelas bukti-buktinya,” gadis itu membantah.

“Bagus!” Pek Hong Nio-cu bertepuk tangan memuji. “Suheng, sahabat muda ini ternyata lebih u-ceng-li (punya aturan) dari pada para nenek Kun-lun-pai!” Lalu Pek Hong Nio-cu menghadapi Hui In Sian kauw. “Apakah engkau pimpinan Kun-lun pai yang bertanggung jawab?”

“Benar, pin-ni adalah Hui In Sian-kouw, ketua bagian murid wanita Kun-lun-pai,” pendeta wanita itu menjawab.

“Bagus, kalau begitu aku hendak bicara denganmu. Dengarlah, kalian semua, seperti juga tuduhan pihak Siauw-lim-pai, tuduhan pihak Kun-lun-pai terhadap Souw Thian Liong juga palsu dan tidak benar sama sekali. Bukti itu menunjukkan kebersihan suheng Souw Thian Liong karena surat itu adalah tulisanku yang sengaja kulempar ke atas meja dalam kamar dua orang murid Kun-lun-pai itu, sama sekali bukan tulisan suheng Souw Thian Liong! Mau tahu bahwa aku tidak berbohong? Baik, akan kubacakan apa yang kutulis itu karena aku masih ingat. Bunyinya tentu begini :

Murid-murid perempuan Kun-lun-pai tak tahu malu! Memaksa orang menjadi suaminya. Begitukah pelajaran yang kalian dapatkan dari Kun-lun-pai?

Nah, coba bacalah surat itu, persis tidak dengan kata-kataku tadi? Kalau perlu aku akan menulis lagi agar diketahui bahwa akulah yang menulis surat itu!”

“Perempuan keparat! Beraninya engkau menghina Kun-lun-pai!” bentak Biauw In Su-thai sambil mengelebatkan pedangnya.

“Heh-heh, engkau yang bernama Biauw In Su-thai, bukan?” Pek Hong Nio-cu mendengar nama ini dari cerita Thian Liong. “Jadi engkau adalah guru dua orang murid perempuan ini dan engkau yang menyuruh mereka untuk memaksa suheng Souw Thian Liong menjadi suami muridmu dan kalau suheng menolak harus dibunuh? Ohh, aturan mana itu?”

“Jahanam...!” Biauw In Su-thai hendak menyerang akan tetapi Hui In Sian-kauw langsung mencegahnya.

“Tahan, sumoi. Puteri Moguhai, andai kata benar kesaksianmu mengenai bukti itu, tetapi masih ada kesaksian murid Siauw-lim-pai Cia Song bahwa dia melihat engkau dan Souw Thian Liong berada di kota Kiang-cu ketika peristiwa yang menimpa dua orang murid kami itu terjadi,” kata Hui In Sian-kauw.

“Memang benar bahwa kami berada di kota itu. Akan tetapi aku yang mendatangi kamar penginapan mereka itu, dan aku menjadi saksi bahwa suheng Souw Thian Liong malam itu sama sekali tidak keluar dari kamarnya, sesuai dengan anjuran Cia Song agar malam itu suheng tidak keluar dari kamarnya.”

“Bohong, puteri Kaisar Kin itu bohong, sengaja memutar balik kenyataan. Dia berbahaya sekali! Tidak mungkin suhu dan para susiok lebih percaya dia dan Souw Thian Liong dari pada teecu! Kita bunuh mereka!” teriak Cia Song.

“Subo, teecu yakin Souw Thian Liong itu yang menodai teecu berdua. Teecu mendengar suaranya pada waktu dia mengejek dengan kata-kata: ‘Kalian ingin mengenal Souw Thian Liong?’, lalu dia tertawa lirih,” kata Kim Lan.

“Teecu juga mendengar suaranya itu!” kata pula Ai Yin.

Cia Song, Kim Lan, dan Ai Yin langsung menerjang Thian Liong dengan pedang mereka. Akan tetapi Pek Hong Nio-cu menangkis serangan dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu, sementara Thian Liong mengelak dari serangan Cia Song yang amat dahsyat. Thian Liong masih merasa ragu untuk menggunakan pedangnya karena dia berhadapan dengan para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang dia hormati dan dia tahu bahwa mereka itu hanya terkena hasutan Cia Song saja.

“Omitohud…! Menyerahlah Thian Liong. Kami hendak menangkapmu dan akan mengadili setelah meneliti perkara ini! Tangkap saja dia, tapi jangan bunuh!” kata Hui Sian Hwesio.

Akan tetapi hanya Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai dan Hui In Sian-kouw ketua Kun-lun-pai saja yang tidak tergesa-gesa mengambil keputusan untuk membunuh Souw Thian Liong. Mereka yang lain sudah terpengaruh kesaksian Cia Song, juga pengakuan Kim Lan dan Ai Yin. Maka mereka pun menyerang dengan dahsyat untuk membunuh Souw Thian Liong.

Dengan marah Pek Hong Nio-cu menggerakkan pedangnya untuk membela Thian Liong dari pengeroyokan belasan orang yang semuanya memiliki tingkat kepandaian silat yang sudah tinggi itu.

Melihat betapa Thian Liong dikeroyok belasan orang dan dibantu oleh Pek Hong Nio-cu yang tadi didengarnya adalah Puteri Moguhai dari Kerajaan Kin, Han Bi Lan tidak tinggal diam dan dia pun cepat mencabut pedangnya lalu membela Thian Liong. Gerakan Han Bi Lan ini dahsyat bukan main. Dia sengaja menerjang ke arah para pengeroyok dari Siauw-lim-pai karena dia masih merasa sungkan untuk melawan orang-orang Kun-lun-pai.

Biar pun tingkat kepandaian tiga orang muda ini sudah amat tinggi dan tangguh, terutama sekali tingkat kepandaian Souw Thian Liong dan Han Bi Lan, namun mereka menghadapi pengeroyokan tiga belas orang yang rata-rata juga menguasai ilmu silat tingkat tinggi. Apa lagi karena Thian Liong sendiri hanya bertahan, tidak membalas kepada para pengeroyok lain kecuali kepada Cia Song, maka tentu saja tiga orang muda ini terdesak hebat.

Tiba-tiba terdengar lengkingan nyaring, lalu tampak bayangan hijau berkelebat memasuki perkelahian dan terdengar suara seorang wanita.

“Liong-ko (kakak Liong), jangan khawatir. Aku datang membantumu!” teriak seorang gadis berpakaian serba hijau, dan dia pun sudah memegang siang-kiam (sepasang pedang) lalu mengamuk, membantu Thian Liong menghadapi para pengeroyok!

“In-moi (adik In)!” Thian Liong berseru.

Thian Liong diliputi kebingungan karena dia sudah membuat tiga orang gadis, yaitu Pek Hong Nio-cu, Si baju merah, dan Thio Siang In, terlibat dalam urusannya dengan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai.

Juga aneh sekali. Pada saat terdesak dan terancam seperti itu Thian Liong masih teringat akan persamaan wajah antara Pek Hong Nio-cu dengan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. Dan sekarang dia teringat bahwa wajah mereka berdua itu persis sama. Bedanya hanya warna pakaian.

Kalau Pek Hong Nio-cu berpakaian serba putih, Ang Hwa Sian-li berpakaian serba hijau. Selain pakaian, juga cara menyanggul rambut mereka berbeda. Kalau rambut Pek Hong Nio-cu digelung model Puteri Kin, rambut Ang Hwa Sian-li model gadis Han. Masih ada lagi perbedaan pada wajah yang dapat membuat dia dapat mengenal mana yang satu dan mana yang lain, yaitu pada letak tahi lalat kecil hitam. Tahi lalat Pek Hong Nio-cu berada di pipi kanan, sedangkan tahi lalat Ang Hwa Sian-li berada di pipi kiri.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner