KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-48


“Singgg...! Tranggg…! Brettt!”

Thian Liong terkejut juga. Dia menangkis dua pedang akan tetapi sebatang pedang lain hampir saja mengenai dadanya. Dia masih dapat mengelak sehingga hanya bajunya yang terobek. Ini akibat dia melamun dan membayangkan dua orang gadis yang berwajah mirip satu sama lain itu!

Biar pun kini dibantu lagi oleh Ang Hwa Sian-li dan tiga orang gadis jelita itu bersungguh-sungguh melakukan pertawanan untuk membela Thian Liong, namun tetap saja mereka berempat terdesak hebat. Apa lagi setelah Hui Sian Hwesio maju pula menyerang Thian Liong.

Pemuda itu tentu saja merasa sungkan untuk melawan Hui Sian Hwesio sehingga hanya menghindarkan diri dengan tangkisan dan elakan. Serangan para pengeroyok lain dengan senjata dia hadapi dengan tangkisan Thian-liong-kiam. Maka dia pun terdesak hebat.

Han Bi Lan yang paling tangguh di antara tiga orang gadis yang membela Thian Liong itu, tiba-tiba harus berhadapan dengan Hui In Sian-kouw yang menyerangnya dengan pedang. Sesungguhnya tingkat kepandaian Han Bi Lan pada saat itu masih tidak tertandingi oleh Hui In Sian-kouw, akan tetapi menghadapi serangan ketua Kun-lun-pai bagian wanita ini, Han Bi Lan menjadi rikuh bukan main.

Di antara para pimpinan Kun-lun-pai, hanya dua orang yang dia hormati, yaitu Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw. Kini Hui In Sian-kouw menyerangnya, maka dia pun hanya berani menangkis dan mengelak. Padahal dia dikeroyok oleh banyak orang. Maka seperti Thian Liong, Bi Lan juga hanya mampu bertahan dan terdesak hebat.

Secara tak sengaja Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li bersatu, saling membelakangi menghadapi pengeroyokan sepuluh orang sehingga mereka terlindung di bagian belakang atau saling melindungi. Akan tetapi mereka berdua juga hanya dapat menangkis dan tidak mampu membalas.

Dalam keadaan terancam bahaya, maka empat orang muda itu menjadi nekat. Pada saat itu pula terdengar seruan lembut, namun suara itu menggetarkan udara dan mengguncang jantung semua orang.

“Siancai (damai)...! Kekerasan sama sekali bukan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan!”

Hui Sian Hwesio sendiri, seorang yang kedudukan dan tingkat ilmu kepandaiannya paling tinggi, harus segera melompat ke belakang karena merasakan getaran sangat kuat yang terkandung dalam suara itu. Semua orang yang merasakan guncangan pada jantungnya juga segera melompat ke belakang sambil menoleh dan memandang kepada orang yang mengeluarkan kata-kata itu.

Orang itu berdiri dalam jarak belasan meter dari situ. Kini dia melangkah dan menghampiri mereka dengan tenang, bibirnya tersenyum penuh kesabaran dan pengertian. Pakaiannya hanya kain berwarna kuning dilibat-libatkan ke tubuhnya. Rambut yang sudah dua warna itu diikat dengan pita kuning pula. Walau pun pakaiannya amat sederhana namun tampak bersih. Mukanya bulat dengan dagu meruncing, matanya tajam mencorong namun lembut dan hidungnya mancung.

Laki-laki berusia enam puluh tahun lebih ini menunjukkan bekas ketampanan. Tubuhnya sedang namun masih tampak kuat. Dengan senyum yang khas dia menghampiri mereka dan kata-katanya tenang lembut namun terdengar jelas sekali seakan dia bicara di dekat telinga semua orang.

“Alangkah menyedihkan. Kejahatan dan ketidak adilan hampir selalu berada di atas angin tanpa disadari oleh manusia yang bersangkutan!”

“Suhu...!” Thian Liong segera menjatuhkan diri berlutut menghadap lelaki yang bukan Iain adalah Tiong Lee Cin-jin itu.

“Paman Sie...!” Pek Hong Nio-cu juga berseru sambil menghampiri laki-laki itu, wajahnya berseri gembira.

“Bangunlah, Thian Liong. Dan engkau, Moguhai, mundurlah dulu, anak yang baik, biarkan aku menghadapi mereka dan menyelesaikan persoalan ini,” kata Tiong Lee Cin-jin.

Pek Hong Nio-cu gembira sekali disebut anak yang baik! Dia dan Thian Liong lalu berdiri di dekat Han Bi Lan dan Ang Hwa Sian-li, dua orang gadis yang tadi membantu mereka.

“Terima kasih atas bantuan kalian berdua,” kata Pek Hong Nio-cu dengan ramah.

Akan tetapi ketika dia beradu pandang dengan Ang Hwa Sian-li, mereka berdua menjadi terkejut dan terbelalak karena mereka merasa seolah-olah sedang memandang diri sendiri di dalam cermin. Keduanya menjadi salah tingkah, bingung dan tegang, kemudian mereka mengalihkan perhatian memandang ke arah Tiong Lee Cin-jin. Sementara itu Thian Liong memandang kepada Bi Lan dengan alis berkerut dan sinar mata menegur, akan tetapi Bi Lan menyambutnya dengan senyum mengejek!

“Omitohud!” kata Hui Sian Hwesio yang menghampiri dan berhadapan dengan Tiong Lee Cin-jin, “Kelirukah pinceng kalau menduga bahwa yang datang ini adalah Tiong Lee Cin-jin?” Ketua Siauw-lim-pai ini mengangkat kedua tangan di depan dada dan memberi salam dengan sembah.

“Tidak keliru, memang saya yang disebut orang Tiong Lee Cin-jin, Hui Sian Hwesio.”

“Omitohud! Akhirnya pinceng mendapat kesempatan bertemu muka untuk mengucapkan terima kasih atas pengembalian kitab Sam-jong Cin-keng!” kata ketua Siauw-lim-pai itu.

“Kami juga mengucapkan terima kasih atas pengembalian kitab kami Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, Cin-jin,” kata Hui In Sian-kouw.

Tiong Lee Cin-jin menggoyangkan tangannya. “Tidak perlu berterima kasih kepada saya, karena sudah sewajarnya dan seharusnya kalau kitab-kitab itu kembali kepada pemiliknya yang sah. Sekarang kita bicarakan saja soal lain. Tadi saya melihat betapa para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai mengeroyok Souw Thian Liong yang dibantu ketiga orang gadis ini. Saya melihat betapa hal itu sangat memalukan dan tidak pantas. Para pimpinan dua perkumpulan besar mengeroyok empat orang muda!”

Dengan wajah berubah kemerahan karena merasa malu, Hui Sian Hwesio cepat berkata, “Omitohud…! Urusan kami dengan Souw Thian Liong merupakan urusan seorang murid dengan perguruannya, Cin-jin.”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum, “Ahh, begitukah, Hui Sian Hwesio? Berapa lama Thian Liong diangkat menjadi murid Siauw-lim-pai? Berapa bulan? Harap diingat bahwa Thian Liong pernah menjadi murid saya selama sepuluh tahun! Apakah kenyataan itu tidak membuat saya lebih berhak mengurus persoalan murid saya ini dibandingkan Siauw-lim-pai?”

“Omitohud, ucapan Cin-jin memang tidak dapat dibantah kebenarannya. Akan tetapi, Cin-jin, urusan ini adalah urusan Thian Liong dengan Siauw-lim-pai. Dia sudah mencemarkan nama Siauw-lim-pai karena dia telah diaku sebagai murid, dan untuk itu tak mungkin kami mendiamkannya saja. Ada aturan dalam perkumpulan kami bahwa murid yang melakukan perbuatan sesat sehingga mencemarkan nama Siauw-lim-pai harus dihukum.”

“Saya tidak ingin menentang peraturan Siauw-lim-pai, akan tetapi ada pula peraturan yang menjadi hukum alam semesta, bahwa hanya yang bersalah saja yang harus mendapatkan hukuman. Apakah Siauw-lim-pai ingin melanggar hukum alam itu dan hendak menghukum orang yang tak bersalah? Di mana letak keadilan yang katanya selalu dijunjung tinggi oleh para pendekar Siauw-lim-pai?”

“Omitohud, Tiong Lee Cin-jin, selamanya Siauw-lim-pai tidak akan menyalahi hukum itu. Yang dihukum hanya yang bersalah dan Souw Thian Liong jelas bersalah!”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum lebar, lalu menudingkan telunjuknya kepada Cia Song yang bersembunyi di balik punggung Hui Sian Hwesio.

“Yang melaporkan tentang semua kesalahan Thian Liong itu tentu muridmu yang sekarang sedang bersembunyi di belakang punggungmu itu, bukan? Hui Sian Hwesio dan seluruh hadirin, dengarlah. Saya sendiri yang menjadi saksi ketika Cia Song ini mewakili Perdana Menteri Chin Kui membantu kaum pemberontak di utara, sementara itu Thian Liong hanya membantu Puteri Moguhai untuk menghancurkan pemberontakan! Apakah perbuatan itu kalian anggap sebagai suatu pengkhianatan terhadap Kerajaan Sung dan mencemarkan nama Siauw-lim-pai? Kaisar Sung Kao Tsung sendiri tak pernah menganggap Thian Liong sebagai pengkhianat, bahkan sudah menerima Thian Liong dan Puteri Moguhai sebagai tamu kehormatan yang sudah berjasa!”

Mendengar kata-kata ini, Hui Sian Hwesio, Cu Sian Hwesio dan para tokoh Siauw-lim-pai lainnya langsung memandang kepada Cia Song yang bersembunyi di belakang Hui Sian Hwesio.

“Cia Song!” Hui Sian Hwesio berseru, suaranya masih lembut namun nadanya menegur. “Benarkah semua yang pinceng dengar itu?”

Cia Song hanya menunduk dengan wajah merah. Pada saat itu Puteri Moguhai tertawa, suara tawanya nyaring dan bebas.

“He-he-heh-heh, seperti kataku tadi, kalian para pimpinan Siauw-lim-pai memang seperti kanak-kanak yang mudah dibohongi. Kalian hendak mendengar cerita yang bagus tentang muridmu yang bernama Cia Song itu lebih lanjut? Dengar baik-baik. Si jahanam itu sudah menjadi kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui dan turut merencanakan pemberontakan! Dan siapa yang menghalangi niat busuknya itu sehingga akhirnya Chin Kui beserta antek-anteknya tertangkap dan dijatuhi hukuman? Yang membantu adalah suheng Souw Thian Liong dan aku. Bahkan semua usaha pembelaan kami terhadap Kaisar tentu mengalami kegagalan dan mungkin Kaisar sudah terbunuh kalau saja Paman Sie atau Tiong Lee Cin-jin, guru kami ini tidak segera menolong kami! Memang Cia Song adalah antek Chin Kui. Dia membantu pemberontakan di Kerajaan Kin, kemudian sesudah gagal, dia membantu Chin Kui yang mengadakan pemberontakan di Kerajaan Sung! Nah, sekarang siapakah yang menjadi pengkhianat dan pantas dihukum? Suheng Souw Thian Liong ataukah Cia Song?”

Hui Sian Hwesio sendiri sampai membelalakkan mata dan mukanya berubah pucat ketika mendengar ucapan Puteri Moguhai itu. Dia segera memutar tubuh menghadapi Cia Song yang kini wajahnya menjadi pucat sekali.

“Cia Song, katakan! Benarkah semua itu?!” Hui Sian Hwesio membentak.

Pada saat itu pula Biauw In Su-thai berkata dengan suara nyaring dan galak. “Souw Thian Liong! Biar pun mungkin engkau tak bersalah terhadap Siauw-lim-pai, akan tetapi engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang terkutuk terhadap dua orang murid kami!”

“Sumoi, mari kita membalas dendam!” kata Kim Lan kepada Ai Yin.

“Mari, suci!” kata Ai Yin.

Dengan penuh kebencian karena dendam sakit hati mereka, dua orang gadis itu segera menyerang Thian Liong dengan pedang di tangan. Akan tetapi berkelebat bayangan hijau dan bayangan putih. Seperti sudah bersepakat saja tahu-tahu Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu sudah menyambut serangan dua orang gadis Kun-lun-pai itu dengan pedang mereka. Terdengar suara gemerincing ketika pedang-pedang mereka menangkis pedang dua orang murid Kun-lun-pai yang merasa tangan mereka tergetar oleh tangkisan itu.

Thian Liong melompat ke depan. “Sumoi dan In-moi, tahan! Jangan berkelahi!”

Mendengar suara pemuda itu, Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu melangkah mundur. Pada saat itu Cia Song yang sudah tidak mempunyai jalan untuk menghindarkan diri dari ancaman karena rahasianya telah terbongkar itu, mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Melihat Hui Sian Hwesio berdiri di hadapannya, dia lalu mendorong dengan pukulan jarak jauh ke arah dada hwesio tua itu. Dari kedua telapak tangannya menyambar asap hitam karena dia telah menggunakan ilmu Hek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Hitam) yang pernah dipelajarinya dari Ali Ahmed, kakek bangsa Hui yang sakti itu.

Hui Sian Hwesio terkejut bukan main melihat serangan itu.

“Omitohud...!”

Dia cepat menggerakkan tangan untuk menangkis. Akan tetapi karena tidak menyangka akan diserang muridnya dari jarak dekat dan menggunakan ilmu pukulan asing pula, maka tangkisannya kurang cepat dan asap hitam itu hanya sebagian saja tertangkis, sebagian lainnya masih menyambar ke arah dadanya.

“Omitohud...!” Tubuh ketua Siauw-lim-pai yang gemuk tinggi besar itu terhuyung. Dia pun cepat duduk bersila kemudian mengerahkan tenaga sakti untuk menahan gempuran hawa beracun yang memasuki dadanya!

Setelah memukul Hui Sian Hwesio, Cia Song melompat hendak melarikan diri. Akan tetapi tubuh Thian Liong juga meluncur cepat dan dia sudah menghadang Cia Song.

“Manusia jahat hendak lari ke mana engkau!” kata Thian Liong.

Dua orang muda ini saling berhadapan dengan mata mencorong. Muka Cia Song menjadi merah sekali karena dia merasa benci bukan main kepada Thian Liong. Orang inilah yang mencelakakan aku, pikirnya.

Cu Sian Hwesio, Ki Sian Hwesio dan para tokoh Siauw-lim-pai marah bukan main melihat Cia Song tadi menyerang Hui Sian Hwesio. Kini mereka menyadari betul bahwa ternyata Cia Song yang menjadi pengkhianat dan melemparkan fitnah kepada Souw Thian Liong. Maka mereka pun bergerak maju hendak mengeroyok Cia Song.

Akan tetapi Tiong Lee Cin-jin mengembangkan kedua lengannya sambil berkata, “Biarkan mereka berdua menyelesaikan sendiri masalah mereka. Tidak baik kalau kita orang-orang tua mengeroyok orang muda.”

Ucapan ini membuat para pimpinan Siauw-lim-pai terpaksa menahan kemarahan mereka terhadap Cia Song. Kini mereka hanya menonton perkelahian yang akan terjadi antara Cia Song dan Souw Thian Liong.

Sementara itu, melihat betapa Kim Lan, Ai Yin, Biauw In Su-thai merasa penasaran dan tampak sekali bahwa mereka itu siap mengeroyok Thian Liong, Han Bi Lan lantas berkata dengan suara membujuk kepada mereka.

“Menurut saya sebaiknya Kun-lun-pai membiarkan saja Souw Thian Liong menyelesaikan urusannya dengan Siauw-lim-pai. Nanti masih banyak waktu bagi kita untuk menuntutnya, apa bila ternyata dia benar-benar bersalah.”

Para pimpinan Kun-lun-pai dapat menerima saran ini karena bagaimana pun juga mereka merasa lebih kuat jika Han Bi Lan berdiri di pihak mereka, yaitu kalau terjadi pertentangan dan perkelahian.

Sekarang semua orang menujukan pandang mata mereka kepada dua orang muda yang saling berhadapan. Mereka menonton dengan hati tegang, terutama mereka yang sudah mengetahui bahwa Cia Song adalah murid terpandai dari Siauw-lim-pai dan agaknya dia memiliki ilmu lain yang bukan berasal dari Siauw-lim-pai sebagaimana terbukti ketika dia menyerang Hui Sian Hwesio tadi, yaitu pukulan jarak jauh dengan kedua telapak tangan mengeluarkan asap hitam!

Yang kelihatan tenang-tenang saja hanyalah Tiong Lee Cin-jin, Pek Hong Nio-cu, Han Bi Lan, dan Hui Sian Hwesio. Mereka sudah tahu mengenai kemampuan Thian Liong, maka mereka yakin pemuda itu pasti akan mampu mengalahkan Cia Song.

Cia Song sendiri sudah putus harapan untuk dapat meloloskan diri dari situ. Semua tokoh Siauw-lim-pai sekarang memusuhinya, dan di sana masih ada tiga orang gadis lihai yang membela Thian Liong, juga ada Tiong Lee Cin-jin yang sakti bukan main. Keputus-asaan ini membuat dia menjadi nekat dan ingin mengadu nyawa dengan Souw Thian Liong yang amat dibencinya.

“Srattt!”

Tampak sinar berkilauan ketika Cia Song mencabut pedangnya yang beronce merah.

“Mampuslah engkau, keparat!” Cia Song tidak memberi kesempatan kepada Thian Liong dan sudah menerjang maju dengan gerakan cepat dan dahsyat.

Thian Liong mengelak ke kiri dengan gerakan ringan yang tak kalah cepatnya. Namun Cia Song membalik ke kanan dan kembali pedangnya menyambar ke arah leher Thian Liong.

“Tranggg...!”

Bunga api berpijar ketika dia mencabut Thian-liong-kiam sambil mengelak dari serangan pertama tadi. Setelah menangkis Thian Liong lalu membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Kembali terdengar bunyi berdentang nyaring disertai bunga api berpijar ketika Cia Song menangkis serangan itu.

Bertandinglah dua orang muda yang sama tangkas dan sama lihainya itu. Mereka saling serang dengan dahsyat sehingga hawa serangan mereka menyambar-nyambar dan dapat terasa oleh mereka yang menonton, padahal jarak antara dua pemuda yang bertanding ini dengan para penonton ada belasan meter jauhnya.

Cia Song yang sudah nekat seperti harimau tersudut itu mengamuk, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh dari ilmu pedang Siauw-lim-pai yang telah dia gabungkan dengan ilmu pedang yang dia pelajari dari Ali Ahmed sehingga gerakan pedangnya penuh dengan jurus aneh yang mengandung tipu muslihat berbahaya.

Namun Thian Liong menghadapi serangan itu dengan tenang dan membalas dengan ilmu pedang Thian-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Langit).

Saking cepatnya mereka bergerak, tubuh mereka seolah berubah menjadi dua bayangan yang berkelebatan, diselimuti gulungan sinar pedang. Hanya suara dentang pedang yang disertai muncratnya bunga api itu saja yang menunjukkan bahwa ada dua orang sedang bertanding dengan amat hebatnya. Para penonton menahan napas dan Tiong Lee Cin-jin mengangguk puas melihat kemajuan muridnya yang sudah mematangkan semua ilmu itu dengan pengalaman bertanding melawan orang-orang yang berilmu tinggi.

Dua pemuda yang bertanding mati-matian itu sama-sama gagah, sama muda dan kuatnya dan sama-sama telah menguasai banyak ilmu yang tinggi. Apa bila dibuat perbandingan, maka Thian Liong mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari pada tingkat yang dimiliki Cia Song.

Pemuda ini sudah menerima banyak ilmu dari Tiong Lee Cin-jin, lalu ditambah lagi dengan mempelajari ilmu dari kitab Sam-jong Cin-keng di bawah bimbingan Hui Sian Hwesio. Tapi dalam keadaan nekat seperti itu, Cia Song masih mampu mengimbangi lawannya. Maka pertandingan itu berlangsung seru dan mati-matian.

Akan tetapi Thian Liong tetap saja menjaga agar dia jangan sampai membunuh Cia Song. Sesudah mereka bertanding hampir seratus jurus dalam keadaan yang seru dan seolah berimbang, barulah dia dapat melihat kelemahan lawan.

Maka, ketika dia melihat kesempatan bagus, ketika pedang Cia Song menyambar dengan sebuah tusukan ke arah lehernya, dia cepat mengelak ke kanan, kemudian secepat kilat tangan kirinya menyambar, menotok siku kanan lawan.

“Tukk!”

“Aughhh...!”

Tangan kanan Cia Song segera lumpuh sehingga pedangnya terlepas dari pegangan. Dia terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang. Akan tetapi Thian Liong tidak mengejar lawan yang bertangan kosong itu dengan serangan pedangnya. Dia malah menyarungkan kembali Thian-liong-kiam!

“Ihh! Apa-apaan itu, suheng? Kau tusuk saja jantung pengkhianat itu dengan pedangmu!” seru Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai penasaran melihat Thian Liong menyarungkan pedangnya.

“Hemm, kalau terlalu baik dan lemah, hal itu bisa mencelakakan dirinya sendiri!” kata pula Ang Hwa Sian-li.

“Hi-hik, kalian tidak tahu, dengan tangan kosong pun Souw Thian Liong jauh lebih unggul!” kata Han Bi Lan tertawa.

Sementara itu, semua tokoh dari Siauw-lim-pai mau pun Kun-lun-pai diam-diam merasa kagum akan sikap Thian Liong yang tidak mau menghadapi lawan yang bertangan kosong dengan pedangnya! Benar-benar sikap gagah seorang pendekar sejati yang tak akan mau mengambil keuntungan untuk menang.

Melihat Thian Liong menyimpan pedangnya, harapan Cia Song timbul lagi. Bagai seekor singa kelaparan menubruk calon mangsanya, dia melompat dan menerjang ke arah Thian Liong dengan ganas. Thian Liong mengelak dan membalas. Dua orang muda itu kembali bertanding, kini dengan tangan kosong.

Mereka saling tinju, saling tampar, dan saling tendang dengan gerakan sangat cepat dan kuat sehingga kembali angin pukulan menyambar-nyambar dan terasa oleh para penonton yang menonton dengan jantung berdebar tegang saking hebatnya perkelahian itu.

Akan tetapi baru belasan jurus saja segera tampak bahwa tingkat ilmu silat tangan kosong Thian Liong lebih tinggi. Cia Song mulai terdesak terus hingga akhirnya dia hanya mampu mengelak dan menangkis, jarang mendapat kesempatan untuk membalas.

Cia Song tahu benar bahwa jika perkelahian itu dilanjutkan, akhirnya dia pasti akan roboh dan kalah. Karena itu dia lalu mengambil keputusan nekat, yaitu mengadu nyawa dengan orang yang dibencinya ini.

Tiba-tiba saja dia mengeluarkan gerengan kuat sambil melompat ke belakang, lalu kedua lengannya bergerak dan dia telah mendorong ke arah Thian Liong dari jarak dekat dengan ilmu Hek-in Hoat-sut. Asap hitam menyambar dari kedua telapak tangannya.

Karena jaraknya terlalu dekat dan dia tidak dapat mengelak tanpa membahayakan dirinya sendiri, maka Thian Liong lalu menyambut dorongan kedua telapak tangan berasap hitam itu dengan kedua telapak tangannya sendiri.

“Plakkk...!”

Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan keduanya mengerahkan tenaga sakti untuk saling dorong dan saling mengalahkan!

Ketegangan memuncak di antara para penonton yang menyaksikan adu tenaga sakti itu. Mereka semua maklum bahwa biar pun tampaknya kedua orang itu diam saja, tubuh tidak bergerak dan kedua telapak tangan saling menempel, mengeluarkan asap hitam, namun sebenarnya mereka sedang bertanding mati-matian. Adu tenaga itu dapat mengakibatkan kematian kepada yang kalah kuat!

Melihat betapa kedua telapak tangan Cia Song mengeluarkan asap hitam dan khawatir kalau-kalau Thian Liong tidak mampu menahan panas yang membakar sepasang telapak tangannya, Pek Hong Nio-cu segera bergerak hendak mendekat dan membantu. Namun Tiong Lee Cin-jin cepat-cepat mencegah dan menghadangnya sambil berkata lembut tapi berwibawa.

“Moguhai, kita tidak boleh membantu, tidak boleh curang!”

“Paman Sie... suheng... dia...”

“Jangan khawatir, dia mampu mengatasinya,” kata Tiong Lee Cin-jin sambil tersenyum.

Pek Hong Nio-cu tidak berani membantah lalu dia mundur lagi. Ang Hwa Sian-li menarik tangannya sehingga dua orang gadis itu kembali berdiri berdekatan. Entah kenapa seolah ada daya yang saling tarik-menarik antara dua orang gadis itu untuk berdekatan! Mereka berdua sama-sama merasa cemas menyaksikan Thian Liong yang mati-matian mengadu tenaga sakti melawan Cia Song.

Pertandingan adu tenaga sakti itu semakin hebat. Sebetulnya dalam hal kekuatan tenaga sakti, Cia Song masih kalah satu tingkat kalau dibandingkan dengan Thian Liong. Tetapi karena dia tahu benar bahwa inilah saat mati hidupnya sesudah semua rahasia busuknya terbongkar, maka Cia Song mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Tiba-tiba terdengar bunyi kain robek. Saking hebatnya tenaga yang dikerahkan Cia Song, bajunya sampai terobek, koyak-koyak dan dadanya tampak karena bajunya terbuka.

Mendadak terdengar Ai Yin menjerit, lalu menutupi mulutnya dengan tangan dan matanya terbelalak memandang ke arah dada Cia Song yang telanjang. Jelas tampak ada daging tumbuh sebesar telur ayam menonjol di tengah-tengah dada yang lebar itu.

Jerit Ai Yin itu seolah-olah menambah daya dorong kedua tangan Thian Liong karena tiba-tiba saja tubuh Cia Song terlempar ke belakang lantas roboh terbanting. Dia rebah dengan tubuh telentang lemas dan dari ujung mulutnya keluar darah, tanda bahwa dia menderita luka di dalam tubuhnya.

“Suci Kim Lan, dialah orangnya! Lihat benjolan di dadanya seperti kuceritakan kepadamu. Jahanam kaparat ini yang telah memperkosa kita!” teriak Ai Yin dan bersama Kim Lan dia lari menghampiri Cia Song yang masih rebah tak berdaya.

Pada saat itu pula tampak Kwee Bi Hwa berlari menghampiri sambil berteriak, “Keparat Cia Song! Engkau yang telah berbuat keji kepadaku!”

Tiga orang gadis itu, Ai Yin, Kim Lan, dan Kwee Bi Hwa bagaikan kerasukan setan segera membacoki tubuh Cia Song yang sudah tidak berdaya itu dengan pedang mereka! Tidak ada orang yang sempat mencegah hal ini terjadi. Darah muncrat dan sebentar saja tubuh Cia Song telah tercacah-cacah menjadi onggokan daging berdarah-darah!


Tiga orang gadis itu membacoki sambil menangis dan air mata mereka bercucuran, darah korban memercik ke pakaian mereka. Kemudian bagai di bawah satu komando, tiga orang dara cantik itu menggerakkan pedang hendak menggorok leher sendiri. Mereka berusaha membunuh diri!

Biauw In Su-thai dan Hui In Sian-kouw yang sejak tadi sudah waspada, cepat berkelebat dan merampas pedang dari tangan Ai Yin dan Kim Lan. Pada saat itu berkelebat sesosok bayangan yang merampas pedang dari tangan Kwee Bi Hwa, pada saat yang amat tepat. Orang itu ternyata adalah Kwee Bun To, ayah Bi Hwa.

Tiga orang gadis yang gagal membunuh diri itu kini menangis dalam rangkulan tiga orang yang mencegah mereka membunuh diri. Biauw In Su-thai, Hui In Sian-kouw serta Kwee Bun To menghibur dan menasehati tiga orang gadis itu hingga mereka menyadari bahwa membunuh diri bukan perbuatan yang patut dilakukan orang-orang gagah.

Seorang pendekar bukan saja harus menentang kejahatan, akan tetapi juga harus berani menghadapi segala penderitaan hidupnya. Membunuh diri hanya dilakukan para pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup sehingga ingin mengakhiri hidupnya.

Setelah ketegangan itu mereda, Hui Sian Hwesio menghadapi Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin. Dia merangkap kedua tangan di depan dada, wajahnya sedikit kemerahan karena malu dan pandang matanya sayu karena penyesalan.

“Omitohud...! Pinceng sudah bertindak picik dan bodoh sehingga secara tidak adil sudah mempercayai fitnah yang dijatuhkan atas Souw Thian Liong. Thian Liong dan Cin-jin yang mulia, harap maafkan pinceng sekalian.”

'Siancai (damai)...! Manusia berbuat kesalahan, itu biasa, akan tetapi manusia menyesali kesalahannya dan berhasil menemukan hikmat dari kesalahan itu dan bertobat, itu adalah bijaksana!” kata Tiong Lee Cin-jin lirih seperti orang membaca sajak.

“Teeeu (murid) tidak menyalahkan suhu karena suhu sekalian hanya tertipu,” kata Thian Liong sederhana.

Hui In Sian-kouw bersama Biauw In Su-thai juga maju menghampiri Tiong Lee Cin-jin dan Thian Liong.

“Souw Thian Liong, maafkan kami, maafkan kedua orang muridku!” kata Biauw In Su-thai. Kim Lan dan Ai Yin juga mendekat dan sambil menangis mereka juga minta maaf.

“Souw-taihiap... maafkan kami...,” isak mereka.

“Sudahlah, Su-thai dan nona berdua, tidak ada yang perlu dimaafkan karena kalian tidak bersalah.”

“Tidak bersalah apa?” tiba-tiba Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu berteriak. “Mereka mengadakan aturan gila memaksa orang menjadi suami, apakah itu tidak bersalah?”

Wajah Biauw In Su-thai menjadi pucat lalu berubah merah sekali. “Untuk itu akulah yang bersalah dan aku telah dihukum oleh ketua kami. Kim Lan dan Ai Yin tak bersalah karena mereka hanya menaati perintahku. Akulah yang bersalah...”

Tiong Lee mengerutkan alisnya. Dia memandang Puteri Moguhai sambil menggelengkan kepalanya. Melihat ini Pek Hong Nio-cu menundukkan muka sambil cemberut. Dia tidak berani membantah akan tetapi juga merasa penasaran.

Hui In Sian-kouw memberi hormat kepada Tong Lee Cin-jin.

“Tiong Lee Cin-jin engkau telah berbuat sangat baik kepada kami dengan mengembalikan kitab Kun-lun-pai, akan tetapi kami malah membalasnya dengan fitnah kepada muridmu. Sungguh kami merasa malu dan menyesal sekali, dan kami mengharap maaf sebesarnya darimu.”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum lebar.

“Aku tidak merasa berbuat baik, hanya melakukan kewajibanku. Kita semua, juga pihak Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai adalah korban-korban kelicikan manusia yang dikuasai oleh setan, tidak ada yang patut disalahkan, tidak ada yang perlu dimaafkan.”

Karena mereka merasa tidak enak hati dan diliputi rasa sesal dan malu, Hui In Sian-kouw dan Biauw In Su-thai segera mengajak Kim Lan, Ai Yin dan lima tokoh lain pergi dari situ, kembali ke Kun-lun-pai. Kwee Bun To juga mengajak puterinya, Kwee Bi Hwa yang masih menangis pergi dari situ. Demikian pula Hui Sian Hwesio dan Cu Sian Hwesio mengajak tiga orang tokoh Siauw-lim-pai yang lainnya pergi setelah mereka membawa jenazah Cia Song yang sudah hancur itu dalam sebuah kain lebar untuk diperabukan di tempat yang layak.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner