KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-49


Sementara itu semenjak tadi Ang Hwa Sian-li Thio Siang In berhadapan dengan Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai, keduanya saling pandang dengan penuh perhatian dan rasa heran. Setelah urusan di situ selesai lalu rombongan Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai pergi, baru mereka mendapat kesempatan untuk saling pandang dengan penuh selidik.

Mereka saling pandang dengan hati tertarik dan kini semakin menyadari betapa keduanya mirip sekali satu sama lain. Mereka merasa seolah memandang bayangan sendiri dalam cermin, hanya bayangan itu mengenakan pakaian yang berbeda!

“Hei, engkau ini siapakah?” Ang Hwa Sian-li akhirnya bertanya lebih dulu.

Sebagai seorang puteri raja tentu saja Pek Hong Nio-cu memiliki derajat yang terkadang membuat dia bersikap agak angkuh. Maka dia pun menjawab,

“Kenapa tidak kau perkenalkan lebih dulu dirimu kepadaku?”

Ang Hwa Sian-li juga memiliki keangkuhan, maka kedua orang gadis itu sekarang berdiri berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata tidak mau mengalah.

Pada waktu itu Tiong Lee Cin-jin menghampiri mereka berdua dan melihat dia mendekat, Pek Hong Nio-cu cepat menyambutnya dengan wajah berseri, “Paman Sie! Engkau benar Paman Sie yang pernah kulihat bicara dengan ibuku di taman itu, bukan?”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum memandang kepada mereka berdua. Senyum dan pandang matanya mengandung kasih sayang yang terasa benar oleh dua orang gadis itu.

“Kalian berdua agaknya merasa heran sesudah saling bertemu. Marilah ikut denganku ke hutan itu dan aku akan menceritakan keadaan sebenarnya agar kalian berdua tidak akan merasa bingung dan heran lagi. Sudah menjadi kewajibanku untuk menceritakan semua hal kepada kalian berdua.”

Sesudah berkata demikian, Tiong Lee Cin-jin lalu berjalan meninggalkan mereka ke arah sebuah gerombolan hutan yang tidak jauh dari situ.

Dua orang gadis itu saling pandang, lalu tanpa berkata apa-apa mereka segera mengikuti Tiong Lee Cin-jin. Pek Hong Nio-cu menaati karena dia merasa bahwa orang itu adalah Paman Sie seperti yang diceritakan ibunya, sedangkan Ang Hwa Sian-li yang sudah lama mendengar nama besar Tiong Lee Cin-jin, juga ingin sekali mendengar apa yang hendak diceritakan orang sakti itu.

Kini hanya tinggal Thian Liong bersama Han Bi Lan. Dia berhadapan dalam jarak sekitar tiga meter dengan gadis itu dan mereka saling pandang. Bi Lan tersenyum, hatinya girang bahwa dia tadi membantu pemuda itu dan pertempuran itu berakhir dengan kemenangan pemuda itu, sebab dengan bantuan itu berarti dia telah ‘membayar’ kesalahannya mencuri kitab itu dahulu!

“Hei, kita berjumpa lagi!” katanya sambil tersenyum manis. Akan tetapi dia merasa heran melihat pemuda itu memandangnya dengan alis berkerut dan mulut cemberut. Dan tidak menjawab ucapan yang gembira tadi.

“Eh, engkau ini kenapa sih? Diajak bicara dengan gembira tapi mukamu malah cemberut seperti itu! Jelek ah mukamu kalau bersungut-sungut seperti monyet kehilangan ekornya itu!”

Hati Thian Liong semakin panas. Gadis inilah yang dahulu mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sehingga membuat dia setengah mati mencarinya ke mana-mana. Teringat dia akan janjinya di dalam hati bahwa bila mana dia bertemu dengan gadis ini, selain akan meminta kitab yang dicurinya itu, juga pantat gadis itu akan dia pukul sepuluh kali seperti kalau orang tua menghajar anaknya yang bengal!

“Gadis jahat!” dia menegur. “Engkau sudah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang harus kuserahkan kepada Kun-lun-pai! KembaIikan kitab itu kepadaku!”

Melihat Thian Liong membentak-bentak, Bi Lan tersenyum sambil mengerling manja. “Aih, masih marahkah engkau kepadaku? Apakah engkau tidak dapat memaafkan aku? Kitab itu sudah kukembalikan kepada para pimpinan Kun-lun pai...”

“Engkau bohong! Engkau maling, penipu, pembohong pula!” bentak Thian Liong.

Bi Lan mengerutkan alisnya, matanya bersinar-sinar dan dia pun membanting-banting kaki kirinya. Ini merupakan peluapan perasaannya kalau dia sedang marah.

“Hemm, kau sangka hanya engkau seorang saja yang baik dan jujur di dunia ini? Apakah orang seperti aku tidak bisa jujur? Kitab itu telah kukembalikan kepada ketua Kun-lun-pai, bahkan aku diakui sebagai murid! Kau masih tidak percaya? Dan lagi, bukankah aku tadi bersusah payah membela dan membantumu menghadapi mereka? Itu berarti aku sudah menebus kesalahanku kepadamu!”

Thian Liong teringat akan ucapan Hui In Sian-kouw kepada gurunya tadi. Ketua Kun-lun-pai itu mengucapkan terima kasih kepada Tiong Lee Cin-jin. Ini berarti bahwa ketua Kun-lun-pai memang sudah menerima kitab itu. Gadis ini mungkin sekali tidak berbohong dan sudah mengembalikan kitab itu, akan tetapi biar pun demikian, kedongkolan hatinya masih belum hilang.

“Enak saja kau bicara! Hanya membantu begitu saja kau anggap sudah dapat menebus kesalahanmu? Tahukah engkau kesengsaraan yang harus kualami akibat engkau mencuri kitab itu dariku? Aku malu kepada para pimpinan Kun-lun-pai, aku takut kepada suhu-ku! Dan aku sudah merantau sampai ribuan lie ke utara dan barat untuk mencari maling kitab itu, yaitu engkau! Sekarang enak saja kau anggap dosamu telah hilang hanya karena tadi engkau membantuku!”

Melihat betapa pemuda itu membentak-bentak dengan marah, Bi Lan juga menjadi tidak kalah marahnya! Sambil membanting-banting kaki kirinya dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Thian Liong dan berseru lantang.

“Habis, kau mau apa? Hayo katakan, aku tidak takut padamu! Mau bunuh? Silakan!”

“Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa kalau aku dapat bertemu lagi denganmu, maka engkau akan kutelungkupkan di atas kedua pahaku lalu pantatmu kupukul sepuluh kali biar engkau tahu rasa!”

“Engkau berani?” Bi Lan menantang. “Coba, kalau engkau berani!”

Setelah berkata demikian, Bi Lan sudah memasang kuda-kuda dengan sikap menantang sekali. Sepasang lengannya menyilang di depan dada dan jari tangannya memberi isyarat tantangan agar Thian Liong maju menyerangnya kalau berani!

Thian Liong menjadi semakin gemas. Bocah ini benar-benar kurang ajar dan tak tahu diri, pikirnya.

“Hemmm, kau kira aku hanya menggertak sambal saja? Tentu saja aku berani, mengapa tidak? Heiiittt...!” Thian Liong sudah menerjang untuk menangkap gadis itu.

“Heeeeiiitt!” Bi Lan mengelak lantas kakinya mencuat, menyambar dengan tendangan ke arah perut Thian Liong!

Thian Liong terkejut karena dari sambaran tendangan itu dia tahu bahwa serangan gadis itu sungguh-sungguh dan sangat berbahaya. Maka dia semakin marah. Bocah ini malah menyerangnya dengan serangan maut!

“Kurang ajar!” katanya dan dia segera mengelak sambil berusaha menangkap kaki yang menendang itu.

“Engkau yang kurang ajar!” bentak Bi Lan yang cepat menarik kembali kakinya sehingga tidak dapat ditangkap dan dia lalu menyerang dengan cepat dan kuat sekali.

Gadis ini sudah tahu bahwa lawannya adalah seorang pemuda yang ilmu kepandaiannya sangat tinggi, maka begitu menyerang dia langsung saja memainkan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang menjadi ilmu rahasia dan simpanan para pimpinan Kun-lun-pai.

Thian Liong terkejut bukan kepalang. Ini bukan serangan main-mainan dan ilmu silat yang dimainkan gadis ini juga bukan ilmu sembarangan! Amat cepat bagai kilat menyambar dan megandung tenaga sakti yang sangat kuat! Dia pun cepat memainkan ilmu silat Sam-jong Cin-keng yang diajarkan Hui Sian Hwesio kepadanya.

Apa bila dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari gurunya, yaitu Tiong Lee Cin-jin, dia akan pasrah sedemikian rupa sehingga tidak ada serangan lawan yang akan mampu mencelakai dirinya. Namun bagaimana pun juga dia tidak mau melakukan ini dan hendak melawan ilmu silat gadis itu dengan ilmu silat lain yang tidak kalah ampuhnya.

Diam-diam dia merasa merasa kagum sekali kepada dara ini. Tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Pek Hong Nio-cu atau Ang Hwa Sian li!

“Duk! Dukk! Dukkk!”

Tiga kali lengan mereka bertemu dan tubuh Bi Lan terhuyung ke belakang. Dia semakin marah dan tiba-tiba dia mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Thian Liong.

“Wuuuusshhhh…!” Angin yang amat dahsyat dan mengandung hawa panas menyambar.

Thian Liong cepat menyambut dengan dorongan dua tangannya. Terjadi adu tenaga sakti. Akan tetapi Thian Liong tidak mau mencelakai gadis itu, sebab itu dia menyambut dengan tenaga lunak sehingga akibatnya, tenaga sakti Bi Lan seakan-akan amblas ke dalam air dan hilang tanpa bekas dan tidak menimbulkan kerusakan apa pun!

Kembali Bi Lan terhuyung karena tenaganya yang bertemu kekosongan itu membuat dia terdorong. Dia semakin marah dan begitu dia berkemak-kemik maka keluarlah asap hitam menyerang Thian Liong. Pemuda itu mengibaskan lengan kirinya dan asap hitam itu pun membuyar.

Bi Lan lantas mengeluarkan pekik melengking dan Thian Liong merasa betapa pekik gadis itu mengandung getaran sangat kuat yang membuat jantungnya terguncang. Dia terkejut mendapat kenyataan bahwa Bi Lan bukan saja memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi juga menguasai ilmu sihir. Akan tetapi dengan kekuatan batinnya ia bisa menenteramkan jantungnya, bahkan memperoleh kesempatan untuk bergerak mendekat sehingga secepat kilat tangannya berhasil menotok jalan darah di pundak Bi Lan.

“Tukkk...!”

Tubuh Bi Lan terkulai dan tentu sudah roboh terguling kalau saja Thian Liong tidak cepat menangkap lengannya. Pemuda itu lalu duduk dengan dua kaki diselonjorkan, kemudian melintangkan tubuh Bi Lan menelungkup di atas kedua pahanya.

“Nah, bocah nakal, sekarang rasakan hukuman yang sudah kujanjikan!” kata Thian Liong, kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menampar sepasang bukit pinggul yang menonjol itu sebanyak sepuluh kali, lima di kiri dan lima di kanan.


“Plak! Plak! Plak...!”

“Setan kau! Monyet, anjing, babi, kuda, kucing, tikus busuk kau...!” Bi Lan yang lemas tak mampu meronta itu memaki-maki. Mungkin kedua bukit pinggulnya menjadi merah sekali seperti kedua pipinya saat itu saking marahnya.

Sesudah menampar sepuluh kali, Thian Liong lalu melepaskan Bi Lan, bangkit berdiri dan menepuk pundak gadis itu untuk membebaskannya dari totokan. Gadis itu bangkit berdiri dan memandang Thian Liong dengan mata bersinar. Dari pelupuk mata itu turun dua tetes air mata.

“Souw Thian Liong…...!” katanya dengan suara mengandung dendam kemarahan. “Awas kau...! Aku akan memperdalam ilmuku dan kau tunggu saja pembalasan dari Han Bi Lan!” Setelah berkata demikian dia pun memutar tubuh kemudian melarikan diri.

Begitu mendengar nama ini disebut Thian Liong menjadi sangat terkejut, kemudian sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah melewati Bi Lan dan berdiri menghadang di depan gadis itu. Melihat ini, Bi Lan semakin marah dan berdiri dengan mata mencorong.

“Kau... namamu... Han Bi Lan…?”

“Kalau benar kau mau apa?”

“Han Bi Lan, ayah ibumu, Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi sedang mencari-carimu. Mereka tinggal di dusun Kian-cung dekat See-ouw (Telaga Barat)...”

Belum habis Thian Liong bicara, Bi Lan sudah melompat dan berlari cepat meninggalkan pemuda itu.

Sejenak Thian Liong hanya bengong memandang ke arah larinya gadis itu. Hatinya mulai merasa menyesal. Dia memang merasa mendongkol dan gemas kepada gadis itu, akan tetapi andai kata dia tadi tahu bahwa gadis itulah puteri Han Si Tiong, tentu dia tidak akan melaksanakan keinginannya menghajar gadis itu dengan menampari pinggulnya sebanyak sepuluh kali! Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan dia merasa tak enak sekali kepada Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.

Dia menghela napas panjang, lalu duduk di atas batu menanti munculnya gurunya yang tadi mengajak Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li memasuki hutan di depan itu…..

********************

Kalau Pek Hong Nio-cu atau puteri Moguhai tidak merasa heran mendengar ajakan Tiong Lee Cin-jin agar mengikutinya masuk ke dalam hutan, sebaliknya Ang Hwa Sian-li merasa heran dan bingung. Akan tetapi karena dia sudah mendengar akan kesaktian tokoh yang dijuluki orang Yok-sian (Tabib Dewa) itu, maka dia pun mengikutinya tanpa membantah.

Setelah menemukan tempat yang nyaman dalam hutan itu, atas ajakan Tiong Lee Cin-jin mereka bertiga lantas duduk saling berhadapan di atas batu. Sejenak Tiong Lee Cin-jin memandang wajah kedua orang gadis itu dan kedua matanya tampak basah. Dia menarik napas panjang beberapa kali seolah hendak menenangkan guncangan hatinya.

Kemudian dia mulai berkata, “Aku mengajak kalian berdua untuk bicara di tempat ini agar jangan sampai terdengar orang lain. Tadinya aku ingin menyimpan rahasia ini dari kalian, tetapi mengingat bahwa kalian sudah menjadi gadis-gadis dewasa yang telah mempunyai ilmu kepandaian yang bisa kalian andalkan, dan melihat kalian berdua tadi saling pandang dengan keheranan terbayang di wajah kalian, tak mungkin aku dapat menyimpan rahasia ini. Kalian berhak untuk mengetahuinya. Sebelum aku melanjutkan, hendaknya lebih dulu kalian menceritakan siapa nama kalian yang sesungguhnya dan sedikit tentang orang tua kalian. Pek Hong Nio-cu, engkau mulailah lebih dulu.”

Pek Hong Nio-cu yang menganggap Tiong Lee Cin-jin sebagai paman dan juga gurunya, segera menjawab. “Paman, nama saya yang asli adalah Moguhai. Ayah saya adalah Raja Kerajaan Kin dan ibu saya seorang wanita Han bernama Tan Siang Lin.”

“Dan engkau?” tanya Tiong Lee Cin jin kepada Ang Hwa Sian-li.

“Nama saya adalah Thio Siang In. Ayah saya seorang pemburu bernama Thio Ki dan ibu saya seorang wanita Uigur bernama Miyana. Menurut cerita ibu, ibu saya adalah seorang puteri kepala suku Uigur.”

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk. “Mungkin kalian akan lebih bahagia kalau kalian tinggal sebagai apa yang kalian ketahui sekarang, akan tetapi aku akan merasa bersalah apa bila tidak menceritakan kepada kalian. Kalian berhak mengetahui dan semoga Tuhan mengampuni aku dan memberkati kalian. Dengarlah ceritaku ini, Siang In dan Moguhai!”

Kedua orang gadis itu saling pandang, kemudian mendengarkan dengan penuh perhatian dan keinginan tahu.

Dengan suara tenang dan lembut Tiong Lee Cin-jin lalu bercerita. “Kurang lebih dua puluh tahun yang lampau ada sepasang orang muda yang saling jatuh cinta. Akan tetapi karena pemuda itu miskin sekali, kedua orang tua gadis itu tidak menyetujui perjodohan mereka. Akhirnya gadis itu diminta oleh Raja untuk menjadi selirnya.” Dia berhenti sebentar sambil kembali menghela napas. Agaknya hatinya terasa sangat berat untuk menceritakan apa yang dikatakan rahasia itu.

“Akan tetapi, karena gadis itu sangat mencinta si pemuda, maka sebelum dia dibawa ke istana raja, dia menyerahkan diri kepada kekasihnya sehingga ketika akhirnya dia dibawa pergi ke istana untuk menjadi selir raja, dia sudah mengandung.”

Dua orang gadis itu merasa terharu sekali, akan tetapi kalau Moguhai merasa jantungnya berdebar tegang, adalah Ang Hwa Sian-li yang merasa tidak mengerti, apa hubungannya cerita itu dengan dirinya.

“Nah, akhirnya gadis itu menjadi selir terkasih dari raja. Ketika dia melahirkan, sang raja menganggap anak yang dilahirkan itu anaknya sendiri. Akan tetapi dia tidak tahu tentang sebuah rahasia yang lain lagi. Ketika gadis itu melahirkan, dia melahirkn dua orang anak kembar.”

Kini Ang Hwa Sian-li baru terkejut dan tegang, lalu kedua orang gadis itu saling pandang dengan seribu pertanyaan dalam pandang mata mereka.

“Karena tahu bahwa Raja akan menganggap kelahiran kembar itu suatu mala petaka dan mungkin kedua anak akan dibunuh, maka ibu muda itu lalu cepat menghubungi seorang sahabatnya yang terdekat, yaitu seorang janda muda, kemudian mereka berdua membuat persekutuan. Seorang dari anak kembar itu diserahkan kepada si sahabat yang langsung membawanya lari keluar dari kota raja dan dilaporkan kepada Raja bahwa selirnya hanya melahirkan seorang anak perempuan. Tiga hari kemudian bidan yang membantu kelahiran ternyata mati tanpa ada yang mengetahui apa sebabnya. Nah, Raja menganggap bahwa selirnya melahirkan seorang anak perempuan saja, dan janda muda yang melarikan anak kembar yang kedua itu akhirnya menikah dengan seorang lelaki yang menganggap anak bayi bawaan isterinya itu sebagai anaknya sendiri. Dia pun tidak tahu akan rahasia anak kembar, hanya menganggap bahwa bayi perempuan itu adalah bawaan janda yang kini menjadi isterinya.”

Tiong Lee Cin-jin memandang wajah kedua orang gadis itu yang sekarang tampak pucat. “Kalian berdua dapat mengerti dan menebak siapa sesungguhnya mereka semua itu?”

Dengan wajah pucat dan suara gemetar Puteri Moguhai berkata. “... gadis itu adalah ibu kandungku dan raja itu adalah ayahku, Raja Kin! Akan tetapi ternyata dia hanyalah ayah tiriku, ayah kandungku adalah kekasih ibuku itu... dia... dia adalah... engkau!”

“Dan gadis kembar yang dibawa janda itu adalah aku, janda itu adalah ibuku yang kawin dengan ayahku. Ternyata ibu dan ayahku bukan orang tuaku. Orang tuaku adalah selir raja itu dan... engkau...!”

Dua orang gadis itu memandang kepada Tiong Lee Cin-jin dengan sinar mata mencorong penuh selidik, lalu keduanya bertanya dengan suara hampir berbareng.

“Benarkah itu…?”

Sekarang tampak dua tetes air mata jatuh ke pipi Tiong Lee Cin-jin dan dia mengangguk-angguk. “Benar, kalian adalah anak-anakku.”

“Ayahhh...!” Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li, dua orang gadis gagah perkasa yang berilmu tinggi itu mendadak kehilangan kegagahan mereka. Mereka menubruk kemudian merangkul Tiong Lee Cin-jin dari kanan dan kiri sambil menangis seperti dua orang gadis cengeng dan manja!

Dengan mata basah Tiong Lee Cin-jin merangkul dua orang gadis itu dan sejenak mereka bertiga tenggelam dalam keharuan dan kesedihan mengingat akan keadaan mereka yang terpisah-pisah.

“Engkau... adik atau kakakku...?” Ang Hwa Sian-li kini saling berpelukan dan saling cium dengan Pek Hong Nio-cu.

“Siang In, engkau yang muda karena Moguhai lahir lebih dahulu,” kata Tiong Lee Cin-jin. Mereka tenggelam ke dalam keharuan dan kesedihan, tetapi pada dasarnya juga merasa bahagia.

“Sekarang bagaimana setelah kami mengetahui rahasia ini, ayah?” tanya Pek Hong Nio-cu sambil memegangi tangan kanan Tiong Lee Cin-jin.

“Apakah kami juga harus membuka rahasia ini kepada ayah tiri kami?” sambung Ang Hwa Sian-li sambil memegangi tangan kiri ayahnya.

“Untuk menjawab itu, aku ingin bertanya dulu kepada kalian yang harus dijawab dengan sejujurnya. Moguhai, apakah Raja Kin dan keluarga di istana menyayangmu?”

Pek Hong Nio-cu mengangguk. “Mereka semua menyayang saya, ayah. Malah Raja amat menyayang saya.”

“Bagus! Sekarang bagaimana dengan engkau, Siang In. Apakah Thio Ki dan Miyana juga menyayangmu?”

“Mereka amat sayang kepadaku, ayah.”

“Nah, kalau begitu, biarkan keadaan seperti ini. Jika kalian membuka rahasia ini, mungkin kelak akan timbul akibat-akibat yang tidak enak dan tidak baik. Kalian dapat berhubungan seperti sahabat, dapat saling mengunjungi dan kalau kalian saling mengunjungi, tentu saja ibu kalian akan mengenal kalian sebagai saudara kembar. Supaya kesamaan kalian tidak terlalu menyolok, tetaplah kalian berpakaian seperti ciri khas kalian sekarang. Rahasia ini hanya diketahui oleh ibu kalian masing-masing, juga oleh kita bertiga. Jangan ada orang lain yang mengetahuinya.”

“Baik, ayah,” kata mereka berbareng.

“Dan jangan memanggil ayah kepadaku. Panggil saja Paman Sie, karena memang dahulu namaku Sie Tiong Lee. Akan tetapi dalam hati aku tetap ayah kalian dan kelak aku ingin menurunkan beberapa ilmu lagi kepada kalian secara bergiliran. Sekarang mari kita keluar dari hutan menemui Thian Liong. Dia tentu sudah menunggu kita.“

Mereka semua lalu bangkit berdiri.

“Ehh, nanti dulu!” kata Ang Hwa Sian-li sambil tertawa cekikikan dan membuka buntalan pakaiannya, mengeluarkan satu setel pakaian serba hijau persis seperti yang dipakainya karena memang yang diambilnya itu adalah pakaian penggantinya.

“Nah, kau pakai ini, Pek Hong,” kata Ang Hwa Sian-li.

“Untuk apa, Ang Hwa?” tanya Pek Hong Nio-cu.

“Ha-ha-ha…, bagus sekali itu!” tiba-tiba Tiong Lee Cin-jin tertawa. “Bagus sekali kalau aku memberimu nama baru dengan menggunakan nama julukan kalian. Moguhai kuberi nama Sie Pek Hong dan Thio Siang In kuberi nama Sie Ang Hwa!”

Ketiganya tertawa senang.

“Ang Hwa, untuk apa aku harus mengenakan pakaian yang sama denganmu? Bukankah ayah... ehh, Paman Sie tadi mengatakan agar kita memakai pakaian kita masing-masing agar persamaan antara kita tidak sangat menyolok?”

“Aku ingin menggoda Thian Liong dan melihat apakah dia dapat mengenal kita,” kata Ang Hwa.

Pek Hong tertawa cekikikan dan dia pun setuju, kemudian dipakainya pakaian itu. Gelung rambutnya pun diubah dan dengan bantuan Ang Hwa, sebentar saja di situ ada dua Ang Hwa Sian-li!

Tiong Lee Cin-jin hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Anak-anaknya ini menjadi dua orang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, juga lincah jenaka.

Souw Thian Liong masih duduk sambil melamun ketika mereka bertiga menghampiri dari belakang. Mendengar langkah mereka, dia bangkit berdiri, memutar tubuh dan... menjadi bengong karena di hadapannya berdiri dua orang Ang Hwa Sian-li. Wajah mereka persis, pakaiannya sama dan bentuk rambut pun serupa, masing-masing memakai bunga mawar merah pada rambutnya dan keduanya tersenyum manis kepadanya! Dia menjadi bengong dan heran.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum. “Thian Liong, kami hanya ingin mengujimu, apakah engkau dapat mengenal yang mana Ang Hwa Sian-li yang asli dan yang mana Pek Hong Nio-cu?”

Thian Liong tersenyum lantas menghampiri. Tentu saja dia tahu karena dia masih ingat. Yang mempunyai tahi lalat di pipi kiri adalah Ang Hwa Sian-li, ada pun Pek Hong Nio-cu mempunyai tahi lalat di pipi kanan! Akan tetapi dia tidak mau membuang kesuka citaan di dalam hati mereka karena dia mengenal rahasia perbedaan mereka, yaitu pada tahi lalat mereka. Biarlah dia disangka tidak tahu. Dia lalu menunjuk kepada Pek Hong Nio-cu dan berkata lantang.

“Engkaulah Ang Hwa Sian-li yang asli! Benar, kan?”

Dua orang gadis itu tertawa girang akan tetapi tidak menjawab. Mereka merasa senang sekali karena pemuda itu tidak dapat menebak dan ingin menyimpan rahasia mereka.

“Thian Liong, sekarang tiba saatnya kita berpisah. Aku harap engkau memperoleh banyak pelajaran tentang semua pengalamanmu yang lalu dan di masa mendatang akan berlaku hati-hati sekali sebab di dunia ini lebih banyak terdapat orang sesat dari pada yang benar. Mereka berdua akan pergi bersamaku, kembali ke utara. Selamat berpisah, Thian Liong.”

Thian Liong memberi hormat kepada gurunya. “Selamat jalan, suhu. Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu, selamat jalan. Terima kasih atas bantuan dan semua kebaikan kalian selama ini kepadaku.”

Dua orang gadis itu tersenyum manis.

“Selamat tinggal, Souw Thian Liong!” kata mereka, lalu mereka mengikuti Tiong Lee Cin-jin menuju ke utara.

Thian Liong memandang ke arah mereka pergi, sampai bayangan mereka menghilang di balik pohon-pohon. Tiba-tiba dia merasa kehilangan, merasa kesepian dan sedih!

Bayangan tiga raut wajah yang cantik jelita dan memiliki daya tarik khas masing-masing silih berganti muncul dalam ingatannya. Han Bi Lan, Ang Hwa Sian-Ii, dan Pek Hong Nio-cu. Dan mereka semua telah pergi meninggalkannya. Betapa dia sayang kepada mereka. Sekarang dia seorang diri, sebatang kara, kesepian.

“Huh! Cengeng!” Dia menepuk dahinya sendiri lalu melangkah pergi, senyumnya muncul kembali dan langkahnya tetap.....

T A M A T



>>>>   JODOH SI NAGA LANGIT   <<<<
Bagian Ke-02 SERIAL SI NAGA LANGIT


Pilih JilidPILIH JUDULT A M A T
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner