BAYANGAN BIDADARI : JILID-01


“Tolooong...! Tolooong...!”

“Tolonglah... rumahku terbakar...!”

“Ho-han (orang gagah), ampunkan kami... jangan bunuh kami. Ambil semua harta benda kami, akan tetapi ampunkan dan jangan bunuh kami...”

Ratapan dan jerit tangis memilukan terdengar di dusun Tiang-on pada tengah malam itu, jerit tangis yang disusul oleh bentakan-bentakan marah dan ganas dari orang-orang yang mendatangkan keributan itu, disusul pula dengan berkelebatnya golok serta pedang yang tanpa kasihan membacoki leher orang-orang yang minta tolong itu. Akhirnya disusul pula oleh nyala api yang sebentar saja menjalar ke sana sini, memakan habis semua gedung berikut isinya. Juga para penghuninya, mati atau hidup, banyak yang menjadi korban api mengganas.

Anehnya, serbuan orang-orang yang ratusan banyaknya itu, api yang memakan rumah-rumah gedung-gedung, hanya ditujukan kepada para hartawan serta bangsawan, tanpa memilih bulu. Rumah penduduk yang miskin sama sekali tidak diganggu, bahkan para penyerbu yang menyebar mala petaka kepada hartawan dan bangsawan itu dengan ganas berteriak-teriak,

“Saudara-saudara petani miskin, kaum tertindas, mari bangkit dan membalas dendam kepada mereka yang memeras keringat dan darah saudara-saudara!”

Oleh seruan ini, tidak sedikit penduduk Tiang-on yang merasa menjadi orang miskin dan memang hidupnya sehari-hari digencet dan diperkuda oleh para hartawan dan bangsawan serentak keluar dari rumah dan membantu, terutama sekali untuk mempergunakan kesempatan itu mencari keuntungan, merampok! Kemudian mereka ini mendapat kenyataan bahwa di antara para penyerbu itu terdapat belasan orang petani di dusun itu yang jelas menjadi anggota penyerbu.

Memang serbuan itu telah direncanakan lebih dulu. Para penyerbu terdiri dari pasukan rakyat yang menamakan dirinya Kay-sin-tin (Pasukan sakti para pengemis). Sebetulnya mereka ini bukan seluruhnya terdiri dari para pengemis, melainkan rakyat dusun-dusun yang memberontak karena merasa hidupnya amat tertekan dan tertindas, baik oleh kemiskinan mau pun oleh penghisapan para tuan tanah dan para pembesar yang korup.

Mereka menyebut pasukan jembel karena keadaan hidup mereka memang tiada bedanya dengan para jembel. Kalau para jembel atau pengemis minta makanan berdasarkan dermaan siapa saja yang menaruh hati kasihan, mereka lebih-lebih lagi, selalu harus mengharapkan uluran tangan atau “pertolongan” dari para tuan tanah.

Akan tetapi pertolongan macam apa! Mereka harus bekerja, membanting tulang melebihi kerbau atau kuda, dan semua hasil cucuran darah dan peluh mereka mengalir ke dalam kantong para tuan tanah, sedangkan untuk mereka sendiri, agar dapat makan setiap hari saja harus mengemis-ngemis dan membongkok-bongkok terhadap para tuan-tanah itu.

Inilah sebabnya maka di mana-mana timbul pemberontakan rakyat kecil yang kelaparan, dipimpin dan dikepalai oleh orang-orang gagah yang berjiwa patriotis. Akan tetapi, sebagaimana halnya segala sesuatu yang terjadi dunia ini, sifat-sifat yang baik selalu memancing datang sifat-sifat yang bertentangan.

Memang banyak sekali di antara para pemberontak itu yang betul-betul memperjuangkan nasib, demi kebaikan tingkat hidup kaumnya, yakni rakyat kecil, rakyat tani dan pekerja. Namun, tidak jarang di antara para ‘pejuang’ ini menyelundup orang-orang yang memang pada dasarnya buruk watak.

Tak kurang banyaknya para perampok dan manusia-manusia yang sudah bejat moralnya, menggabungkan diri, berkedok semboyan ‘perjuangan suci’ dan di dalam kesempatan itu mereka memuaskan nafsunya yang jahat, merampok, membunuh, memperkosa dan lain perbutan jahat lagi yang semata-mata mereka lakukan atas dorongan nafsu.

Tengah malam itu, dusun Tiang-on menjadi korban. Semua rumah gedung dimakan api, orang-orang yang terbunuh mati tak terhitung banyaknya. Mula-mula memang para bangsawan dan hartawan itu mengadakan perlawanan, tentu saja anak-buah dan kaki tangan mereka yang maju menghalang serbuan pasukan Kay-sin-tin. Akan tetapi karena jumlah para penyerbu banyak sekali, terutama dikepalai oleh seorang pemuda yang gagah perkasa, sebentar saja mereka itu dibabat roboh dan sebagian besar melarikan diri, samasekali tidak mau mempedulikan lagi nasib para majikan mereka.

Beberapa orang hartawan dan bangsawan mencoba untuk melarikan diri melalui pintu belakang, namun mereka langsung disambut dengan babatan golok dan pedang. Mayat bergelimpangan, darah mengalir, tidak saja di depan dan belakang rumah atau di dalam gedung, akan tetapi juga di jalan-jalan. Hiruk pikuk, sorak-sorai para penyerbu, jerit tangis keluarga yang menjadi korban, suara ketawa menghina dan mengejek dari para anggota penyerbu yang sudah keranjingan, bercampur aduk menjadi satu, mengotorkan hawa malam yang sejuk dan bulan yang tadinya mengintai di balik awan cepat-cepat menyembunyikan diri di belakang awan hitam. Agaknya ngeri menyaksikan tingkah manusia yang saling menyembelih, dilakukan oleh manusia pada manusia, disebabkan oleh keserakahan manusia pula. Angin bersilir lembut pada daun-daun pohon se-akan-akan berbisik,

“Manusia, makhluk yang terpilih, terpandai, berakal budi, akan tetapi... manusia pula makhluk yang paling bodoh dan jahat! Kalau saja para bangsawan dan pembesar tidak serakah dan korup, kalau saja para jembel tidak mudah dikuasai oleh nafsu, kalau saja... ya kalau saja manusia tidak diciptakan sama sekali, takkan terjadi hal-hal yang mengerikan ini...”

Pembunuhan dan pembakaran berlangsung terus. Biar pun sebelum menyerbu, para anak buah dipesan keras oleh pemimpin mereka bahwa mereka tidak boleh sekali-kali mengganggu wanita dengan perbuatan rendah, akan tetapi boleh membunuh para anggota keluarga wanita itu, namun di antara para penyerbu yang bermoral bejat ada yang diam-diam menculik para wanita dan membawa lari mereka!

“Para pelayan boleh lari, tidak akan kami ganggu kalian asal saja tidak membantu para majikan!” seru pemimpin penyerbu dan suaranya terdengar lantang, mengatasi semua suara hiruk pikuk itu. Ini membuktikan bahwa pemimpin itu memang berilmu tinggi dan suaranya itu dikerahkan melalui tenaga lweekang yang sudah tinggi tingkatnya.

Mendengar ini, para pelayan otomatis meninggalkan majikan mereka. Mereka tentu saja lebih sayang kepada nyawa sendiri. Namun, tidak kurang di antara mereka yang diam-diam melarikan diri sambil menyambar barang-barang berharga!

Di ujung sebelah timur dari dusun itu, tinggal keluarga Kwee-wangwe (hartawan Kwee) di dalam rumah gedungnya yang besar. Kwee-wangwe juga seorang tuan tanah yang kaya raya, kekayaan yang ia dapat dari warisan orangtuanya yang sudah enam keturunan lebih tinggal di tempat itu. Tidak ada lagi orang yang dapat menerangkan bagaimana caranya nenek moyang Kwee ini mengumpulkan harta bendanya, entah dengan jalan halal dan memeras keringat atau berniaga, ataukah dengan jalan haram, mencekik para buruh tani.

Akan tetapi yang sudah jelas, dan hal ini diakui dan diketahui pula oleh seluruh penghuni dusun Tiang-on, adalah bahwa Kwee Seng adalah seorang hartawan yang murah hati. Dialah orang satu-satunya di dalam dusun itu yang menjamin kehidupan semua buruh taninya, tangannya terlepas dan selalu ia siap sedia menolong mereka yang kekurangan atau yang menghadapi kesusahan.

Terutama sekali Kwee-hujin (Nyonya Kwee), seorang wanita yang usianya baru dua puluh lima tahun, cantik jelita seperti bidadari, halus lembut tutur sapa dan gerak geriknya, murah senyumnya dan murah pula hatinya. Tidak ada orang di seluruh dusun yang tidak menaruh hormat dan sayang kepada Nyonya Kwee.

Dengan adanya hartawan Kwee di dusun itu, maka dusun Tiang-on terkenal sebagai dusun yang tak pernah dilanda bahaya kelaparan, dalam arti kata bahwa belum pernah di dusun itu ada orang yang mati kelaparan. Di waktu musim kering, keluarga Kwee tidak segan-segan menguras seluruh gudang gandumnya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang sudah tidak mempunyai bahan makanan lagi.

Kwee Seng dan isterinya sudah menikah enam tahun lamanya dan mereka hanya mempunyai seorang puteri yang diberi nama Kwee In Hong. Nyonya Kwee cantik jelita seperti bidadari, Kwee Seng sendiripun berwajah tampan, maka tidak mengherankan apabila Kwee In Hong seorang anak perempuan yang mungil manis, dan lucu.

Semua pelayan di dalam rumah itu, terutama sekali Can Ma inang pengasuh Kwee In Hong semenjak terlahir, amat sayang kepada anak ini. Can Ma seorang janda tua yang hidup sebatangkara, maka terhadap In Hong kesayangannya sama dengan kesayangan seorang ibu kepada anaknya, atau kesayangan seorang nenek kepada cucunya.

Ketika terjadi penyerbuan, Kwee Seng dan keluarganya juga menjadi panik. Tidak seperti hartawan-hartawan yang lain, Kwee Seng tidak mempunyai tukang-tukang pukul, hanya mempunyai pelayan-pelayan laki-laki perempuan yang mengurus rumah tangganya. Para penyerbu masuk ke dalam kampung dari sebelah barat, maka biar pun banyak rumah sudah menjadi lautan api, rumah gedung Kwee Seng masih belum mendapat giliran.

Ini ada sebabnya, yaitu karena belasan orang penduduk yang menjadi anggota barisan penyerbu, masih merasa malu dan sungkan untuk cepat-cepat menyerbu rumah hartawan Kwee. Tak seorangpun di antara mereka ini yang belum pernah menerima pertolongan Kwee Seng, maka mereka tidak ada hati untuk menjadi penunjuk jalan, dan membiarkan saja sampai para penyerbu dari luar dusun itu sendiri yang mendapatkan rumah gedung Kwee-wangwe.

Di dalam rumah gedung Kwee Seng terjadi keributan hebat. Hartawan ini memberi perintah kepada semua pelayan untuk segera melarikan diri, tak usah menjaga rumah.

“Kita harus melarikan diri, mencari jalan masing-masing agar dengan berpencaran lebih mudah melarikan diri. Biarkan saja, rumah dan harta habis tidak apa asal kita dapat menyelamatkan diri,” kata Kwee Seng.

Tiba-tiba Can Ma sambil menangis, dengan muka pucat berkata, “Kwee Wangwe, harap cepat melarikan diri bersama hujin. Nona In Hong biar hamba bawa lari, jangan ikut dengan wangwe dan hujin.”

Isteri Kwee Seng mengulurkan tangan hendak merampas In Hong dari gendongan Can Ma, sambil berkata,

“Can Ma, kau bagaimanakah? Anakku akan pergi kemana juga orang tuanya lari. Tak mungkin dia harus berpisah dari kami. Kesinikan, biar aku gendong sendiri dia!”

Akan tetapi, Can Ma mundur dan mendekap tubuh In Hong yang menjadi kebingungan, “Tidak, hujin. Ingatlah, mereka itu datang dengan nafsu iblis, dan mereka bermaksud membasmi semua orang hartawan dan bangsawan. Sedikit sekali harapan bagi para hartawan dan bangsawan di dusun ini untuk lari. Kalau terjadi demikian...” Can Ma menangis keras, “kalau terjadi demikian... biarlah anak ini selamat bersama hamba... Mereka takkan mengganggu hamba, seorang tua miskin dan lemah, dan nona In Hong... biarlah dia menjadi cucuku, cucu seorang nenek miskin...”

Kwee Hujin hendak membantah dan kini ia pun sudah mencucurkan airmata, akan tetapi Kwee Seng yang cerdik sudah maklum akan maksud Can Ma. Tidak ada jalan lain, pikirnya, kalau seorang di antara kita bertiga harus selamat, maka orang itu haruslah In Hong!

“Hayo kita pergi, biar kita titipkan In Hong untuk sementara waktu kepada Can Ma. Dengan Can Ma keselamatannya lebih terjamin!” Sambil berkata demikian, Kwee Seng menarik tangan isterinya, diajak lari.

“Terima kasih, wangwe. Hamba akan menjagai anak ini dengan taruhan nyawa!” Can Ma berseru dan nenek ini pun lari cepat keluar dari rumah gedung itu, sedangkan Kwee Seng bersama isterinya lari ke arah kandang kuda.

“In Hong... anakku...!” Nyonya Kwee menjerit, akan tetapi suaminya cepat menariknya sehingga ia terpaksa ikut berlari.

Pada saat itu, suara sorak-sorai menggegap gempita dari para penyerbu sudah mendekat. Mereka dari barat menuju ke timur dan seorang di antara mereka sudah tahu bahwa di ujung timur terdapat rumah gedung Kwee-wangwe.

“Mari cepat, kau tunggang kuda yang ini!” Kwee Seng berkata dengan gugup.

Isterinya memang sudah biasa naik kuda karena ketika masih belum menikah, isterinya ini mempunyai kesukaan menunggang kuda milik ayahnya yang menjadi pedagang kuda yang kaya raya pula. Kwee-hujin dengan cekatan naik ke atas punggung kuda dan sebentar kemudian sepasang suami isteri ini melarikan kuda masing-masing menuju ke timur. Suara derap kaki kuda mereka bergema di malam gelap.

“Mereka lari...! Kejar dan bunuh hartawan jahanam itu...!” Teriak para penyerbu ketika mereka dari jauh melihat dua bayangan menunggang kuda melarikan diri.

Akan tetapi, para penyerbu itu datang dengan jalan kaki, dan biar pun di dusun itu banyak kuda yang mereka rampas, namun dalam kesibukan itu, siapakah yang ingat untuk mempersiapkan kuda rampasan untuk mengejar orang? Tiba-tiba di antara mereka berkelebat bayangan yang bukan lain adalah pemuda gagah yang menjadi pemimpin mereka.

“Habiskan mereka. Kumpulkan kuda dan jangan lawan kalau ada barisan penjaga datang. Bawa lari semua kuda dan barang rampasan!” kata pemuda itu. Kemudian ia berlari cepat mengejar Kwee Seng dan isterinya.

Bukan-main hebatnya kepandaian pemuda ini. Biar pun ia hanya mempunyai dua buah kaki, namun dibandingkan dengan kuda yang memiliki empat buah kaki, agaknya ia tidak akan kalah! Ia berlari sambil mempergunakan ilmu lari cepat cho-sang-hui (terbang di atas rumput). Larinya demikian cepat dan ringan sehingga seakan-akan kedua kakinya tidak menyentuh bumi. Tidak terdengar derap kakinya, tanda bahwa ginkang-nya memang sudah tinggi.

Namun, kuda adalah binatang yang tidak saja terkenal pandai berlari cepat, juga amat terkenal akan kekuatan serta panjang napasnya. Apa lagi ketika Kwee Seng dan isterinya membedalkan kuda mereka, payahlah bagi pemuda itu untuk menyusul. Akan tetapi, ada hal yang menguntungkan si pengejar dan merugikan Kwee Seng berdua, yakni bulan yang tetap bersembunyi di balik awan.

Kwee Seng dan isterinya tidak mengenal jalan, maka sambil melarikan kuda, mereka mencari jalan yang tentu saja menghambat perjalanan itu. Sebaliknya, derap kaki kuda mereka terdengar baik oleh telinga pemuda itu yang amat tajam pendengarannya.

Kurang lebih dua jam kemudian, setelah pemuda itu mulai merasa lelah, tiba-tiba ia menjadi amat girang melihat betapa dari suara derap kaki kuda, dua ekor binatang itu dilarikan lambat, atau tidak secepat tadi. Bulanpun mulai bersinar dan kini suara hiruk-pikuk dari dusun yang dibakar itu tidak terdengar lagi.

Memang Kwee Seng dan isterinya memperlambat larinya kuda mereka, karena tentu saja mereka tidak mengira bahwa ada musuh yang mengejar mereka dan kini sudah dekat. Sebaliknya, pemuda itu juga sudah terlampau lelah untuk mengejar terus dan kini ia pun memperlambat larinya sambil mengatur pernapasan. Bulan bersinar dan ia dapat melihat bahwa yang ia kejar adalah seorang laki-laki muda dan seorang wanita muda. Ia mengeluarkan dua butir senjata rahasia berbentuk bulat dari sakunya. Inilah thi-lian-ci (biji teratai besi) yang menjadi kepandaiannya yang amat disegani orang.

“Suamiku, bagaimana dengan In Hong...?” Kwee hujin bertanya dan kembali airmatanya mengucur deras ketika ia teringat akan puterinya.

“Tentu selamat bersama Can Ma, mari kita sekarang pergi ke kota See-ciu, ke rumah paman Yo,” jawab suaminya.

“Apakah kita tidak menunggu Can Ma disini?” tanya isterinya ragu-ragu.

“Tak usah, laginya belum tentu Can Ma mengambil jalan ke jurusan ini. Tidak baik kalau kita menunggu disini, siapa tahu para pemberontak itu akan datang di tempat ini pula. Lebih baik kita berangkat sekarang juga, nanti dari kota See-ciu kita mengirim orang untuk menyelidiki dimana larinya Can Ma agar In Hong dapat diantar ke See-ciu.”

Mendengar ini, Kwee-hujin menjadi lega. “Baiklah, mari kita...” Baru saja ia bicara sampai disini, tiba-tiba kudanya berdiri, meringkik kesakitan.

Gerakannya demikian mendadak dan kuat sehingga tak dapat dicegah lagi, Kwee-hujin terlempar ke belakang, jatuh dari atas punggung kuda!

Kwee Seng kaget sekali, akan tetapi pada saat itu, peluru kedua yang dilepas oleh pemuda pengejar mereka menyambar kepalanya.

“Tak!” Kwee Seng tak dapat mengeluarkan suara lagi dan ia terjungkal roboh dari atas kuda dengan kepala pecah!

Kwee-hujin yang terjengkang dari atas kuda, jatuh dengan kepala tertumbuk batu sehingga ia pingsan. Sesosok bayangan dengan beberapa kali lompatan telah berdiri disitu, dan bayangan ini yang bukan lain adalah pemuda yang menyerang mereka, berdiri bertolak pinggang dengan senyum puas.

Ia tadi memang sengaja menyerang kuda Kwee-hujin, karena ketika ia mengayun tangan yang pertama, tiba-tiba ia menjadi lemas dan tidak tega membunuh seorang wanita yang kelihatannya demikian tak berdaya dan tak berdosa. Oleh karena ini ia lalu mengarahkan sambitannya kepada kuda yang ditunggang oleh nyonya Kwee. Namun, peluru kedua diayun tanpa ragu-ragu lagi ke arah kepala Kwee Seng sehingga merampas nyawa hartawan muda itu.

Pemuda itu setelah memandang ke arah mayat Kwee Seng sambil tersenyum puas, kini mengalihkan pandangan matanya kepada tubuh Kwee-hujin yang telentang di atas tanah dalam keadaan pingsan. Senyumnya tiba-tiba lenyap, keningnya berkerut dan bibirnya bergerak aneh. Berbeda dengan tadi, kini ia termangu. Ia terpesona oleh kecantikan luarbiasa dari nyonya muda itu.

Kebetulan sinar bulan menerangi wajah nyonya Kwee dan lemaslah hati pemuda itu. Selama hidupnya, banyak ia melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah ia menyaksikan kecantikan yang demikian melemaskan dan memikat kalbunya. Bibir berbentuk indah yang kini ditarik seperti orang berada dalam keadaan duka dan takut, benar-benar menggerakkan hatinya dan menimbulkan belas kasihannya.

Ia berlutut didekat tubuh nyonya Kwee. Dijamahnya kening nyonya itu yang terluka sedikit dan berdarah. Dikeluarkan sehelai saputangan dan dengan penuh kasih sayang dan ibahati, dibalutnya kepala itu. Ketika jari-jari tangannya menyentuh kulit jidat yang halus, rambut yang lemas dan halus serta mengeluarkan keharuman yang memabokkan, hatinya berdebar.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan tangan kanannya menampar pipinya sendiri!

“Ong Tiang Houw, kau harus malu kepada diri sendiri. Kau harus membunuhnya, bukan tergila-gila kepadanya!” katanya kepada diri sendiri. Sambil merapatkan giginya ia mencabut pedang yang tergantung di pinggang, mengangkat pedang itu, diayun ke arah leher Kwee-hujin.

Akan tetapi, pedang itu berhenti di tengah udara dan seperti tadi, sepasang mata Ong Tiang Houw menatap wajah nyonya itu seperti orang kena hikmat. Tangan yang memegang pedang perlahan-lahan turun dan pedang itu kembali masuk ke dalam sarungnya. Ong Tiang Houw menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepalanya.

“Kau memang orang bodoh, lemah!” ia memaki diri sendiri, kemudian ia membungkuk dan mengangkat tubuh Kwee-hujin. Tiba-tiba terdengar suara banyak kaki orang berlari-larian menuju ke tempat itu. Tiang Houw melepaskan lagi tubuh Kwee-hujin di atas tanah dan ia cepat melompat, bersembunyi di balik pohon.

Yang datang adalah serombongan anak-buahnya yang tadi menyerbu dusun Tiang-on. Pemuda ini keluar dan menghadang mereka.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Anak buah itu girang melihat pemimpinnya dan mereka melihat tubuh Kwee Seng dan istrinya yang menggeletak di atas tanah, maka tak seorangpun di antara mereka mengira bahwa pemimpin mereka telah melakukan sesuatu yang ganjil, yakni tidak tega membunuh nyonya muda itu.

“Pasukan berkuda kerajaan datang dan kami terpaksa melarikan diri,” seorang di antara mereka melapor.

“Lekas lari, berpencar dan jangan melawan mereka. Kelak aku akan memberi tanda dimana kita harus berkumpul lagi!” kata Tiang Houw. Mereka bubar dan melarikan diri mencari keselamatan masing-masing.

Setelah keadaan disitu menjadi sunyi kembali, Tiang Houw kembali mengangkat tubuh Kwee-hujin yang masih pingsan.

Akan tetapi begitu diangkat, terdengar nyonya muda ini mengeluh.

“In Hong...” demikian keluhan pertama yang keluar dari mulut nyonya itu. Ketika ia telah sadar betul dan melihat bahwa ia berada dalam pondongan seorang laki-laki muda, nyonya Kwee memberontak marah,

“Siapa kau...? Kurangajar, lepaskan aku!”

Tiang Houw melepaskannya dan kini nyonya muda itu berdiri tegak, marah sekali.

“Kau siapa? Mana... mana suamiku...?”

Akan tetapi, sebelum laki-laki muda itu menjawab, Kwee-hujin telah melihat suaminya, menggeletak di atas tanah dengan kepala berlumur darah, tak bergerak lagi.

Ia menjerit dan hendak menubruk suaminya, akan tetapi laki-laki muda itu cepat menyambar tubuhnya, dan memegang kedua tangannya.

“Dia sudah mati, tiada gunanya ditangisi,” katanya menghibur, akan tetapi terdengar amat canggung. “Kita harus cepat pergi dari sini, ada pasukan kuda datang mengejar!”

Akan tetapi Kwee-hujin meronta-ronta. “Tidak, tidak...! Biarkan aku tinggal disini dengan suamiku... ahh... suamiku... In Hong...” Ia menangis sedih dan betapa pun ia meronta, ia tak dapat melepaskan diri dari pelukan pemuda yang amat kuat kedua lengannya itu. Sementara itu, dari jauh terdengar derap kaki kuda yang makin lama makin mendekat.

Tiang Houw tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia melihat kuda yang tadi ditunggangi oleh Kwee Seng masih berada disitu, maka cepat dipondongnya tubuh nyonya Kwee dan sekali lompat saja ia telah berada di punggung kuda! Kuda itu segera melompat maju dan sebentar kemudian larilah ia kuat-kuat, dikemudikan oleh tangan kanan Tiang Houw yang pandai.

Adapun Kwee-hujin yang dipondong di lengan kiri, meronta-ronta dan menjerit-jerit, “In Hong...! Kwee Seng...!!”

Akan tetapi segala usahanya untuk melepaskan diri sia-sia belaka dan angin malam menyambar pada mukanya, membuat ia sukar bernapas dan tak lama kemudian nyonya muda ini menjadi lemas dan pingsan lagi dalam pondongan Tiang Houw…..

********************

Siapakah adanya Ong Tiang Houw yang memimpin penyerbuan ke dalam dusun itu? Dia sebetulnya adalah anak seorang petani miskin. Semenjak kecil, Tiang Houw memang suka sekali belajar ilmu silat dan akhirnya ia beruntung sekali menjadi murid Bu Sek Tianglo, tokoh besar di selatan, bahkan ia menjadi ahliwaris tunggal dari Bu Sek Tianglo. Guru besar ini yang melihat dasar baik pada diri Tiang Houw, sebelum meninggal dunia karena usia tua, ia menurunkan seluruh kepandaiannya sehingga Tiang Houw menjadi seorang yang berkepandaian amat tinggi.

Ia pulang kekampungnya dalam usia dua puluh tahun dan oleh orang tuanya ia dijodohkan dengan seorang gadis petani yang sederhana. Tiang Houw memang terkenal berbakti kepada orangtuanya, maka ia tidak berani menolak. Demikianlah ia menikah dengan seorang gadis, dan biar pun ia tidak menyinta gadis ini, namun ia hidup rukun dan tinggal di rumah sampai setahun lebih. Isterinya memperoleh seorang putera dan setelah hampir dua tahun tinggal di rumah, Tiang Houw tak dapat menahan lagi keinginan hatinya untuk merantau. Ia tinggalkan rumah tangganya dan terjun di dalam dunia kangouw.

Sebentar saja ia telah mengangkat tinggi namanya dan di dunia kangouw tidak ada yang belum mengenal nama Ong Tiang Houw. Tidak saja ilmu silatnya yang tinggi, terutama sekali sepak terjangnya yang sesuai dengan sikap seorang pendekar itulah yang membuat nama Ong Tiang Houw menjadi terkenal. Di mana-mana ia menyebar perbuatan baik, menolong kaum tertindas dan menghajar orang-orang yang jahat.

Selama enam tahun Tiang Houw merantau di dunia kangouw dan barulah ia teringat kepada keluarganya. Yang terutama sekali menarik hatinya untuk pulang adalah kenangan kepada puteranya, yakni Ong Teng San yang baru berusia satu tahun ketika ia pergi merantau.

Akan tetapi setelah tiba di dusunnya, apakah yang ia dapatkan? Isterinya telah meninggal dunia, membunuh diri dan kedua orang tuanya juga meninggal dunia karena berduka.

Beberapa tahun setelah Tiang Houw pergi, di dusunnya terserang bencana alam. Musim kering jauh lebih lama dari pada biasanya dan sebagian besar kaum tani miskin yang hidupnya mengandalkan tenaga memburuh, kehabisan makanan dan banyak yang mati kelaparan.

Ayah bunda Tiang Houw yang juga merupakan keluarga miskin, terpaksa minta tolong kepada seorang hartawan she Sim. Hartawan ini mengulurkan tangan dengan memberi pinjaman kepada mereka. Hutang mereka bertumpuk-tumpuk tanpa dapat terbayar dan akhirnya hartawan she Sim ini menagih dengan paksa. Kakek Ong dan isterinya serta mantunya ditangkap, dimasukkan tahanan.

Kemudian, hartawan she Sim itu mengajukan usul untuk membayar hutang itu dengan diri mantu perempuan kakek Ong yang memang manis. Tentu saja kakek itu menolak keras, akan tetapi dengan mengandalkan pengaruh harta bendanya, hartawan she Sim berhasil membawa isteri Ong Tiang How dengan paksa keluar dari tahanan.

Orang tidak mendengar bagaimana nasib nyonya muda ini, hanya tahu-tahu orang-orang terkejut mendengar berita bahwa nyonya muda ini membunuh diri dengan jalan membenturkan kepalanya sampai pecah pada dinding! Mendengar ini, kakek Ong dari isterinya menjadi begitu berduka sampai mereka jatuh sakit dan meninggal di dalam tahanan.

Bagaimana dengan Ong Teng San? Anak ini ketika kakek dan nenek serta ibunya ditahan, melarikan diri dan berlindung ke rumah seorang petani miskin yang menjadi kenalan baik dari keluarga Ong.

Dua tahun kemudian setelah peristiwa menyedihkan itu terjadi, datanglah Ong Tiang Houw di dusunnya! Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Tiang Houw mendengar akan mala petaka yang menimpa keluarganya. Ia mencari puteranya dan pertemuan ini amat mengharukan. Teng San tentu saja tidak mengenal ayahnya, akan tetapi ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya ketika ia diperkenalkan.

“Jahanam she Sim! Jahanam dan jahat belaka hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan yang mencekik leher orang-orang miskin. Aku bersumpah akan membasmi mereka semua!” Berkali-kali Tiang Houw berkata.

Pada malam hari itu, hartawan Sim terdapat mati dengan leher terbabat pedang. Gedungnya dibakar habis. Perbuatan ini tentu saja dilakukan oleh Tiang Houw.

Orang-orang disitu, yakni para petani miskin, merasa bersyukur. Bangkit semangat mereka karena perbuatan Tiang Houw dan mereka lalu berkumpul, menyatakan hendak membantu gerakan Tiang Houw untuk membersihkan para iblis yang masuk ke dalam diri hartawan-hartawan pelit dan bangsawan-bangsawan korup.

Tiang Houw gembira sekali melihat ini. Memang pada masa itu, dilain-lain daerah sudah banyak terbentuk pasukan-pasukan rakyat yang hendak memberontak terhadap tuan-tuan tanah dan bangsawan-bangsawan. Tiang Houw lalu membentuk barisan yang menamakan dirinya Kay-sin-tin (Barisan sakti dari para jembel).

Mulai saat itu, Tiang Houw memimpin orang-orangnya untuk melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap rumah orang-orang besar. Nama Kay-sin-tin terkenal sekali dan dusun demi dusun diserbu, orang-orang kaya dan bangsawan dibunuh, rumah mereka dibakar habis!

Demikianlah, bukan untuk pertama kalinya Tiang Houw memimpin kawan-kawannya menyerbu dusun Tiang-on. Akan tetapi, benar-benar baru untuk pertama kalinya hatinya lemas ketika ia menghadapi Kwee-hujin…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner