BAYANGAN BIDADARI : JILID-02


Sebulan lewat kemudian, di luar kota See-ciu masih sepi karena hari masih pagi. Waktu itu musim dingin sudah mulai sehingga para penduduk yang masih meringkuk di atas pembaringan, malas meninggalkan pembaringannya, bahkan menarik selimut makin ke atas agar terlindung seluruh tubuh dari hawa dingin.

Beberapa orang yang karena tugas pekerjaannya terpaksa keluar meninggalkan rumah, rata-rata memakai pakaian tebal, karena keadaan hawa memang luar biasa dinginnya. Di dalam baju tebal pun orang masih menggigil dan kulit muka terasa kaku.

Akan tetapi, pada saat yang sedingin itu, di luar kota See-ciu bagian selatan, dua orang manusia berjalan berpegangan tangan sambil menggigil kedinginan. Yang seorang sudah amat tua, dan hawa dingin membuatnya makin bongkok dan berkeriputan. Mukanya pucat sekali sehingga kelihatan kehijau-hijauan. Lagaknya seperti hendak membimbing orang kedua, akan tetapi jelas kelihatan bahwa dialah yang minta bantuan tenaga dari tangan kecil yang dipeganginya.

Orang kedua adalah seorang anak perempuan berusia lima tahun, pakaiannya kotor, mukanya kurus dan pucat tanda kurang makan. Pada wajah yang kotor berdebu itu terdapat bekas-bekas airmata, tangan kirinya sebentar-sebentar menekan perut dan tangan kanannya menggandeng tangan nenek itu. Anak ini menggigit bibirnya dan biar pun ada tanda-tanda kedukaan dan kebingungan luar biasa pada sepasang matanya, namun ia berjalan dengan langkah dikuat-kuatkan, bahkan ialah yang menarik tangan nenek itu.

“Marilah, Can Mama, lekas masuk kota. Ayah dan ibu tentu sudah menanti di dalam kota!” kata anak itu berkali-kali.

Nenek itu tak dapat mengeluarkan suara lagi untuk menjawab. Bibirnya gemetar dan biar pun ia menggerakkan bibir itu namun tidak ada suara yang keluar. Ia hanya mengangguk-angguk dan berjalan tersaruk-saruk seakan-akan ia memaksa sedikit tenaga yang masih ada untuk menggerakkan kedua kakinya.

Tiba-tiba ia batuk-batuk. Celakalah kalau orang terkena penyakit batuk dalam waktu hawa sedingin itu, terlebih lagi jika perutnya sedang kosong. Nenek itu terpaksa menghentikan gerakan kakinya, memegangi perut dengan kedua tangannya, terus batuk-batuk dengan hebatnya. Ia merasa dadanya sesak dan sakit, perutnya yang kosong dan perih tampak terguncang-guncang. Ia membungkuk sambil melipat tubuh bagaikan pisau lipat hendak ditutup.

“Ugh... ugh-ugh-ughhh...” batuknya berkali-kali.

Anak perempuan itu yang bukan lain adalah Kwee In Hong, segera mengurut-urut punggung nenek itu yang kini sudah bongkok dan membungkuk-bungkuk, menggeliat-geliat kesakitan. Sudah beberapa hari Can Ma menderita batuk ini dan In Hong kini sudah tahu bahwa ia harus mengurut-urut punggung nenek itu apabila batuknya kambuh.

Pada saat itu, dari udara turun hujan kecil. Air bertitik-titik kecil, membawa hawa yang makin menggigilkan tubuh, hawa dingin meresap ke dalam tulang sumsum, dan hal ini memperhebat rasa gatal ditenggorokan dan sesak pada isi dadanya.

“Ugh-ugh-ugh...” suara batuknya makin gencar akan tetapi makin lemah.

“Can Mama, mari kita berteduh...” In Hong berkata bingung. Ia melihat ke kanan kiri dan kebetulan sekali tak jauh dari jalan itu terdapat sebuah kelenteng tua yang tidak terawat sama sekali. Rumput alang-alang memenuhi seluruh halaman kelenteng dan sebagian gentengnya sudah terbuka, bangunan bagian kiri sudah hampir ambruk. In Hong segera menarik tangan Can Ma yang terpaksa berdiri sambil terbongkok-bongkok.

“Can Mama, itu disana ada rumah kosong, mari kita berteduh, hawa begini dinginnya.”

In Hong berkata keras-keras di antara suara batuk-batuk nenek itu. Dia sendiri merasa dingin bukan main, akan tetapi melihat keadaan nenek itu, ia seperti tidak merasakan penderitaannya sendiri dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya ia menarik tubuh nenek itu ke arah kelenteng. Dengan susah payah akhirnya In Hong berhasil membawa Can Ma memasuki kelenteng tua.

Baiknya masih ada sebagian genteng yang utuh sehingga mereka dapat terlindung dari serangan air hujan, sungguhpun hawa dingin tidak mempedulikan halangan ini dan dengan mudah dapat meresap masuk sampai ke pojok-pojok ruangan kelenteng tua.

Can Ma menjatuhkan diri di atas lantai yang penuh debu. Ia masih batuk-batuk terus dan tubuhnya setengahnya berbaring di atas lantai itu. Mukanya yang tadi kehijauan sekarang sudah berobah menjadi kehitaman.

“Siocia... aku... aku tidak kuat lagi...”

In Hong menubruknya dan merangkul leher nenek itu. Tak terasa lagi kedua matanya yang tadinya sudah hampir kekeringan air mata itu, menjadi basah lagi.

“Tidak, Can Mama, jangan berkata begitu. Kita akan masuk ke kota dan bertemu dengan ayah ibu. Kau akan mendapat obat, akan sembuh...”

“Ugh... ugh-ugh-ugh... siocia... kalau aku... mati disini... kau masuklah ke kota, carilah paman dari ayahmu...”

“Kau takkan mati, Can Mama... jangan mati... jangan mati...!” Kini In Hong menangis tersedu-sedu dan air matanya bercucuran, menyaingi air hujan yang mulai mengucur dari genteng kelenteng itu.

“Nona... aku tidak kuat lagi... dadaku... dadaku... aaaachhh... sesak dan sakit sekali... ugh ugh-ugh...!”

Tubuh Can Ma menggeletar dan kini ia merebahkan diri, menggeliat-geliat ke kanan kiri seperti cacing terkena abu panas.

In Hong menjadi bingung sekali. Ia mengangkat kepala Can Ma, didekap dan dipeluknya kepala itu di atas pangkuannya sambil bersambat, “Can Mama... jangan... jangan tinggalkan aku...!”

Kemudian sunyi, hanya napas berat Can Ma yang terdengar diselingi oleh suara batuknya dan suara isak tangis In Hong.

Tiba-tiba terdengar suara batuk lain, suara batuk yang tinggi dan nyaring, seperti suara batuk buatan,

“Iihh-ihh-ihh...!”

Tadinya In Hong tidak memperhatikan suara ini karena disangkanya suara batuk dari Can Ma, akan tetapi suara batuk yang tinggi ini disambung oleh suara yang kecil nyaring.

“Thian Maha Adil! Manusia tahu apakah tentang keadilan Thian? Orang baik-baik menderita, yang jahat makmur dan senang! Orang bertanya-tanya mana keadilan Thian? Padahal Thian memang Maha Adil, hanya cara Thian bekerja penuh rahasia, mana manusia tahu? Ih-ih-ih...!”

In Hong menengok ke kiri. Ruangan itu memang gelap dan baru sekarang ia melihat sesuatu bergerak di sudut yang paling gelap dari ruangan itu. Sesuatu yang hitam dan setelah ia memperhatikan, baru terlihat olehnya bahwa yang bergerak dan batuk serta bicara itu adalah seorang nenek pula. Seorang nenek yang duduk melingkar seperti seekor binatang trenggiling.

Muka nenek itu tidak kelihatan, tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam sekali, yang kacau dan riap-riapan ke muka dan belakang, pendeknya disekeliling kepalanya yang kecil. Pakaiannya compang camping, tidak tentu lagi warnanya karena kotor sehingga kelihatan menghitam. Kedua kakinya tidak bersepatu. Sebatang tongkat panjang, juga warnanya hitam, menggeletak di dekatnya.

In Hong mengeluh di dalam hatinya. Terlalu banyak ia melihat kemelaratan. Sejak ia melarikan diri dengan Can Ma, tidak saja ia sendiri mengalami apa artinya kelaparan dan kedinginan, juga di jalan-jalan ia melihat orang-orang yang mati kelaparan, mati kedinginan, dan kesengsaraan yang mendirikan bulu tengkuknya.

Biasanya ia hidup mewah dan senang di rumah orang tuanya yang kaya raya, dan tak pernah ia mengira bahwa di luar rumah gedungnya banyak terjadi hal-hal demikian. Mimpipun tak pernah ia bahwa ada orang yang sampai mati kelaparan, padahal biasanya ia merasa bosan dengan segala macam makanan enak yang disuguhkan kepadanya oleh para pelayannya.

Kini, berada di puncak penderitaan, dua hari ia tidak makan, dan Can Ma berada dalam keadaan yang amat membingungkan, juga membikin ia ketakutan sekali karena Can Ma bicara tentang kematian, ia tidak bertemu dengan orang yang dapat menolongnya, bahkan bertemu dengan seorang jembel lain yang keadaannya tidak lebih baik dari pada keadaan Can Ma!

Ia sudah cukup besar untuk dapat mendengar dari para pelayan betapa ayah bundanya seringkali menolong orang-orang dengan menderma uang, pakaian dan makanan. Sekarang barulah ia tahu bahwa perbuatan kedua orang tuanya itu memang tepat.

“Kelak aku akan minta kepada ayah dan ibu untuk lebih banyak menolong orang-orang ini. Aku akan minta kepada ayah dan ibu agar menolong semua jembel sehingga di dunia ini tidak ada orang mati kelaparan dan menderita kedinginan,” demikian bisik suara hati anak yang luar biasa ini.

Memang luar biasa kalau seorang anak berusia lima tahun bisa mempunyai pikiran seperti ini. Padahal orang-orang dewasa, bahkan orang-orang yang sudah mengira cukup berpengetahuan dan cukup pengalaman, kadangkala melupakan suara hati macam ini, melupakan atau sengaja tidak mau mendengar suara hati nurani yang menggugah manusia mengulurkan tangan menolong mereka yang sengsara.

Akan tetapi, kembali ia mendengar Can Ma batuk-batuk dan napas nenek ini makin sesak terengah-engah. Timbul kembali rasa takut dan gelisahnya.

“Can Ma, berkatalah sesuatu... Can Ma, kuatkanlah, nanti kalau sudah berhenti hujan, kita melanjutkan perjalanan!” ia berkata dengan suara memohon.

Can Ma membuka matanya dan aneh, mata itu kini basah sehingga tak lama lagi dua titik airmata jatuh di atas pipinya yang berkeriputan dan menghitam warnanya. Tiba-tiba ia berkata, dan aneh lagi, suaranya kini lancar tidak berat seperti tadi, seakan-akan ada sesuatu yang tadinya mengganjal hatinya telah lenyap.

“In Hong, anakku yang manis, cucuku yang mungil, jangan kau bersedih. Kau lanjutkanlah sendiri perjalanan ini, cari ayah bundamu, jangan pedulikan Can Mama. Can Mama sudah tua, sudah cukup makan garam, sudah cukup merasa senang dan susah, sudah sepantasnya Can Mama mati...”

“Can Mama...!! Jangan mati...!!” In Hong menjerit dan kini ia menangis keras, meraung-raung sambil memeluki tubuh nenek itu.

Pada saat itu, nenek hitam yang tadi meringkuk di sudut, bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya jangkung sekali, nampak lebih jangkung karena ia memang kurus kering.

Akan tetapi luar biasa sekali. Jarak antara ia dan In Hong ada tiga tombak lebih. Agaknya ia tidak menggerakkan tubuh atau kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah berada di dekat In Hong dan Can Ma.

“Lahir tak dapat diminta, mati tak dapat ditolak, mengapa bicara yang bukan-bukan tentang mati? Tidak takut mati bukan hal yang patut disombongkan, hanya berani hiduplah yang boleh dibanggakan!” Setelah berkata demikian, dua kali tangan yang memegang tongkat panjang bergerak ke arah Can Ma dan In Hong.

In Hong merasa bawah tulang punggungnya di belakang pusar, tersentuh oleh benda keras dan aneh sekali, tiba-tiba di dalam tubuhnya seperti ada api membakar. Hawa panas merayap dari tempat yang ditotok oleh ujung tongkat itu dan sebentar saja hawa dingin yang membuat ia menggigil lenyap terusir pergi oleh hawa hangat ini. Akan tetapi rasa lapar pada perutnya makin menghebat!

Adapun Can Ma yang juga terkena totokan ujung tongkat, segera bangkit duduk seperti mendapat tenaga baru. Ia memandang kepada nenek hitam tinggi kurus itu dengan mata terbelalak lebar, kemudian menjatuhkan diri berlutut,

“Pouwsat (dewi) yang mulia, mohon beribu ampun kalau hamba berdua mengganggu tempat yang suci dari pouwsat!” kata Can Ma sambil mengangguk-anggukkan kepala seperti orang bersembahyang di depan patung Kwan Im Pouwsat.

Nenek hitam itu tertawa bergelak dan suara ketawanya membikin In Hong membuka mata lebar-lebar dengan hati ngeri. Suara ketawa ini seperti bukan suara manusia.

Can Ma mendengar suara ketawa ini makin takut lagi dan ia berlutut sampai jidatnya membentur lantai yang berdebu.

“Can Ma, kau tua bangka sungguh bodoh dan tolol, mengira aku seorang pouwsat. Aku pun seorang nenek tua bangka seperti kau pula yang menderita penyakit batuk, bahkan penyakitku seratus kali lebih berat dari pada penyakitmu. Siapakah bocah yang kau sebut siocia ini?” Pertanyaan dalam kalimat terakhir ini terdengar berpengaruh, membuat siapa saja yang mendengar merasa takut untuk tidak mengaku.

“Mohon ampun, hamba adalah pelayan keluarga Kwee di Tiang-on. Semua hartawan dan bangsawan di Tiang-on dibunuh, rumah mereka dibakar. Majikan hamba, ayah bunda anak ini, melarikan diri dan hamba membawa siocia ini lari pula untuk menyusul mereka di kota See-ciu. Ampunkanlah hamba kalau hamba mengganggu, lihiap.”

Karena nenek hitam itu tidak mau disebut pouwsat, Can Ma yang sudah banyak mendengar tentang orang-orang kangouw, dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita sakti, maka ia mengubah sebutannya kepada wanita itu dengan sebutan lihiap (pendekar wanita).

“Hm, dia ini anak bangsawan?”

“Bukan, lihiap. Ayahnya adalah seorang hartawan yang berhati mulia dan budiman.”

“Hah! Mana ada hartawan berhati mulia dan budiman? Barang kali betul terhadap kau, karena kau pelayannya. Hm, manusia sekarang banyak yang buta dan sesat! Siapa percaya ayah bunda anak ini pun tidak ikut gila?”

Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tangan, menjambak rambut In Hong dan mengangkat bocah itu ke atas sehingga ia dapat melihat dengan jelas muka In Hong. Biar pun rambutnya dijambak dan ia dipegang seperti orang memegang kelinci, In Hong tidak menjerit. Anehnya, ia tidak merasa sakit biar pun rambutnya dijambak dan ia digantung seperti itu. Mukanya yang mungil dan lucu itu kini nampak kotor penuh debu dan airmata, akan tetapi sepasang mata yang amat tajam dari nenek hitam itu dapat melihat dengan jelas, menembusi debu dan kotoran.

“Sayang, tunas yang baik tak boleh tumbuh dipohon yang buruk. Can Ma, kau carilah sendiri ayah bunda anak ini, bilang bahwa anak ini dibawa pergi oleh Hek Moli!”

Tentu saja Can Ma hendak membantah, akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, di depan matanya berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu nenek hitam itu bersama In Hong telah lenyap dari situ tidak meninggalkan bekas lagi! Can Ma bagun berdiri, memburu keluar, mencari ke dalam sambil menjerit-jerit, namun sia-sia saja, tidak ada bayangan dari In Hong.

Can Ma menjatuhkan diri dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa bingung dan ngeri. Bagaimana ia harus bertanggung jawab di depan majikannya? Ia merasa ngeri kalau mengingat gerak-gerik dan sepak terjang nenek hitam yang mengaku bernama Hek Moli (Iblis Wanita Hitam) itu.

Can Ma dalam kebingungan dan kesedihannya sampai lupa bahwa tiba-tiba saja ia telah sembuh, bahwa ia kini dapat bangkit berdiri, dan bahkan dapat berlari-larian menuju ke kota See-ciu! Dengan tergesa-gesa ia mencari rumah hartawan Yo, paman dari Kwee Seng yang tinggal di See-ciu. Sambil menangis ia menghadap Yo-wangwe dan menuturkan semua pengalamannya.

Yo-wangwe mengerutkan kening dan alisnya yang sudah putih itu bergerak-gerak. Ia sudah mendengar akan adanya pasukan Kay-sin-tin yang menyerbu dusun-dusun dan kota-kota di selatan. Dan ia merasa amat berduka mendengar betapa keponakannya ikut menjadi korban pula. Akan tetapi hatinya terhibur mendengar bahwa keponakannya itu dan isterinya telah dapat melarikan diri.

“Can Ma, kau tinggallah disini sambil menanti datangnya Kwee Seng dan isterinya. Heran sekali mengapa mereka masih belum tiba, sedangkan kau sudah datang lebih dulu. Tentang In Hong, biarlah kita menanti datangnya Kwee Seng, karena tak mungkin kita dapat mencarinya. Aku sudah mendengar akan nama seorang tokoh kangouw wanita yang disebut Hek Moli itu, seorang yang seperti iblis saja, yang tak pernah terlihat oleh orang lain, hanya namanya saja yang dikenal oleh semua orang. Bahkan ada yang bilang bahwa Hek Moli sebetulnya tidak ada, atau kalau ada juga bukan manusia, melainkan dewa atau iblis.”

“Memang dia seperti bukan manusia, Yo-wangwe.” Can Ma menceritakan semua keadaan Hek Moli yang amat luar biasa itu dan bahwa ia sama sekali tidak melihat mukanya yang tertutup oleh rambut yang riap-riapan.

Demikianlah, Can Ma tinggal di rumah Yo-wangwe, bekerja sebagai pelayan sambil menanti datangnya Kwee Seng dan isterinya. Akan tetapi, tentu saja mereka semua tidak tahu bahwa Kwee Seng sudah binasa di tengah hutan, terkena thi-lian-ci yang dilepas oleh Ong Tiang Houw, dan bahwa Kwee-hujin telah dibawa lari oleh orang muda itu. Namun mereka tetap menanti, menanti penuh harapan…..

********************

Waktu memang amat ganjil dan penuh rahasia. Gerakannya tidak kentara, kadang-kala terasa lambat merayap, lebih lambat dari pada merayapnya seekor siput, akan tetapi kadang-kadang terasa cepat, lebih cepat dari pada menyambarnya kilat. Ada yang bilang bahwasanya waktu itu jalannya amat lambat, akan tetapi coba saja kita renungkan, satu tahun, bahkan beberapa tahun lewat tanpa kita rasai dan seakan-akan sesuatu yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu itu seperti kejadian kemarin saja. Alangkah cepatnya waktu berjalan, demikian kita akan berpikir kalau teringat akan hal ini.

Sebaliknya, ada pula yang bilang bahwasanya waktu itu amat cepat jalannya. Akan tetapi coba saja kita bayangkan bilamana kita menanti datangnya kereta api di setasiun, terlambat seperempat jam saja datangnya kereta api, terasa seperti seperempat abad! Alangkah lambatnya waktu merayap, sedemikian kita akan berpikir pada saat seperti itu.

Memang aneh, dan demikianlah, di dalam cerita ini, tahu-tahu tanpa dapat dirasakan, empat belas tahun telah lewat semenjak peristiwa yang telah dituturkan di atas!

Di puncak Ciung-lai-san, sebuah gunung di propinsi Secuan, tempat yang tersembunyi dan tak pernah didatangi oleh manusia karena tempat ini masih liar dan jalan menuju ke puncak amat sukarnya, tinggallah Hek Moli. Belasan tahun yang lalu, nama Hek Moli pernah menggetarkan dunia kangouw karena sepak terjangnya yang lihay dan hebat. Apa lagi orang-orang biasa, bahkan para tokoh kangouw sendiri tidak tahu dari mana datangnya wanita sakti yang merupakan seorang nenek berwajah dan bertubuh mengerikan dipandang ini.

Akan tetapi, sekali nenek ini keluar di dunia kangouw, ia telah melakukan banyak hal yang menggemparkan. Lima perampok terkenal di daerah Santung yang ditakuti orang dan disegani oleh para tokoh kangouw, berjuluk Santung Ngo-kui (Lima setan dari Santung) bersama anak buahnya yang puluhan orang banyaknya telah dibasmi habis oleh Hek Moli.

Ini masih belum hebat, bahkan Hek Moli telah mendatangi Go-bi-pay dan Kun-lun-pay, menantang pibu kepada para tokoh kedua partai persilatan besar ini dan mengalahkan tokoh-tokoh itu. Yang amat menggemparkan adalah ketika seorang diri Hek Moli menyerbu istana kaisar dan mengambil dua buah barang pusaka kerajaan, yakni sebatang pedang mustika yang bernama Liong-gan-kiam dan sebuah perhiasan rambut dari kemala yang berbentuk burung Hong dan amat indahnya.

Akan tetapi, seperti munculnya, tiba-tiba saja empat belas tahun yang lalu Hek Moli lenyap dari dunia kangouw, tanpa meninggalkan bekas seolah-olah ia ditelan oleh bumi. Ada beberapa orang tokoh kangouw yang menyatakan bahwa mereka melihat Hek Moli terserang penyakit batuk dan keadaannya amat payah, maka kehilangannya membuat semua orang mengira bahwa tokoh ini sudah meninggal dunia.

Sebetulnya bukan demikianlah keadaannya. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Hek Moli secara kebetulan, ketika sedang menderita di dalam kelenteng, terserang penyakit batuknya, ia telah bertemu dengan Kwee In Hong dan membawa pergi anak perempuan yang berusia lima tahun itu. Ia merasa suka sekali kepada anak ini, maka dibawanyalah In Hong ke puncak Ciung-lai-san di propinsi Secuan dimana ia menyembunyikan diri dan menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya.

Selama empat belas tahun itu, In Hong menerima latihan ilmu silat yang amat tinggi dan aneh, dan gurunya demikian sayang kepadanya sehingga tidak ragu-ragu untuk mewariskan seluruh kepandaiannya yang dimilikinya. Bahkan ia mengajar muridnya membaca dan menulis sekadarnya, karena Hek Moli sendiri bukanlah seorang yang amat pandai dalam ilmu menulis.

Selain ini, sesudah kepandaian In Hong cukup tinggi, dia memberikan pedang Liong-gan-kiam dan hiasan rambut burung Hong kepada muridnya. Katanya sambil tertawa terkekeh ketika memberikan hiasan rambut itu,

“Muridku, namamu In Hong, maka hiasan rambut burung Hong ini tepat sekali menghias rambutmu yang panjang, hitam dan halus. Pedang ini untuk melengkapi kepandaianmu karena tidak pantas bagi seorang gadis cantik seperti engkau bersenjata tongkat seperti gurumu. Pakailah hiasan itu, muridku.”

Dengan girang dan manja In Hong memakai hiasan rambut itu pada rambutnya. Ia kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita seperti ibunya. Ketika hiasan itu telah dikenakan pada rambutnya, gurunya memandang dengan mata terbelalak, kemudian tiba-tiba dua titik airmata melompat keluar dari sepasang mata Hek Moli,

“Alangkah cantiknya engkau, In Hong. Ah, seperti kau inilah aku dahulu...!”

In Hong membalas kasih sayang gurunya dengan kebaktian, dan ia tidak saja merasa suka kepada gurunya, juga merasa terharu dan kasihan. Diam-diam ia sering bertanya rahasia apakah yang disimpan oleh gurunya. Mengapa gurunya menjadi rusak muka dan tubuhnya seperti itu. Tentu dahulu pernah mengalami hal-hal yang amat mendukakan hatinya. Akan tetapi tiap kali ia bertanya, gurunya hanya menggeleng kepalanya dan tidak mau menuturkan riwayatnya. Ia hanya mendesak agar gadis itu belajar lebih giat lagi.

“Muridku, di dunia ini banyak sekali orang-orang jahat yang amat lihay. Kau demikian cantik, tentu akan mengalami hal-hal yang mendatangkan bencana kalau saja kau tidak mampu menjaga dirimu. Untuk itu kau harus memiliki ilmu yang tinggi. Pula, sudah menjadi kewajibanmu untuk membantu usaha orang-orang gagah, membasmi para penjahat dan membela para kaum tertindas.”

Tentu saja In Hong mengerti akan kehendak gurunya ini, karena semenjak dahulu ia pun merasa amat sakit hati kepada orang-orang jahat yang mencelakakan orang tuanya. Sering kali ia menyatakan rindunya kepada orang tua dihadapan gurunya, akan tetapi Hek Moli selalu menjawab,

“Sabarlah, muridku. Belum tiba masanya kau mencari orang tuamu. Aku sendiri tidak tahu dimana mereka dan apakah mereka masih hidup. Akan tetapi, kalau kepandaianmu sudah cukup, kau harus mencari mereka sendiri. Kurasa kau akan dapat mencari mereka kalau kau pergi ke kota See-ciu.”

Kini In Hong sudah berusia sembilan belas tahun. Cantik jelita dan sikapnya gagah. Gurunya yang amat menyayangnya, tidak ingin melihat muridnya memakai pakaian buruk. Beberapa kali Hek Moli turun gunung dan ketika ia kembali, ia membawa pakaian-pakaian indah untuk In Hong. Dan untuk dia sendiri, ia tak pernah berganti pakaian, tetap pakaian yang kotor menghitam! Kalau In Hong mencela gurunya dan mendesak agar supaya gurunya berganti pakaian, Hek Moli berkata,

“Untuk apa aku berganti pakaian? Apakah kau menyuruh aku menjadi seperti seekor monyet berpakaian dan menjadi tontonan orang? Aku sudah jemu dengan pakaian-pakaian, bahkan kalau semua orang di dunia ini tidak memakai pakaian, aku akan lebih suka lagi, lebih bebas dan enak, tidak terganggu oleh pakaian bermacam-macam!”

Mendengar jawaban ini, In Hong tertawa cekikikan saking geli hatinya.

“Mengapa kau tertawa?” gurunya bertanya heran karena muridnya benar-benar tertawa geli seakan-akan dikitik-kitik.

“Subo memang lucu sekali. Kalau teecu bayangkan betapa semua orang bertelanjang bulat, berjalan hilir mudik seperti monyet-monyet liar tersesat dikota, ah alangkah lucunya pemandangan itu. Teecu bisa mati tertawa melihatnya!”

Mau tidak mau Hek Moli tertawa juga mendengar kata-kata muridnya itu, karena dia pun dapat membayangkan keadaan yang amat menggelikan itu. Namun mendadak Hek Moli menghentikan ketawanya dan In Hong juga, karena dengan pendengarannya yang sudah amat tajam gadis ini pun telah dapat menangkap bunyi yang asing.

“Ada orang datang!” bisik Hek Moli.

Muridnya mengangguk dan tangan kanan In Hong sudah meraba gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.

Tiba-tiba saja berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu, sekira lima tombak dari mereka, tampaklah seorang tosu berusia kurang lebih enam puluh tahun, muncul dari balik sebuah batu karang besar. Tosu ini berpakaian putih dan yang paling menyolok pandangan mata adalah tangan kanannya yang buntung sebatas siku.

“Hek Moli, akhirnya pinto dapat menemukan tempat persembunyianmu!” kata tosu itu dan suaranya halus dan lemah lembut, akan tetapi sepasang matanya memancarkan cahaya penuh kebencian.

Hek Moli mengeluarkan suara mengejek. “Anjing buntung kakinya dari manakah berani mengotorkan tempatku?”

Tosu itu tersenyum. “Mata Hek Moli sudah lamur agaknya karena terlalu tua, dan ingatannyapun sudah pikun. Benar-benarkah kau tidak mengenal lagi siapa pinto?”

“Siapa mengenal segala anjing yang berpura-pura suci? Siapa kau? Hayo lekas mengaku dan katakan apa kehendakmu sebelum aku membikin buntung lehermu!”

“Hm, masih tetap galak dan ganas seperti belasan tahun yang lalu. Kau mau tahu maksud kedatanganku? Tunggu sebentar!” Setelah berkata demikian, tosu itu lalu menengok ke arah sebuah batu besar, lalu dengan jari telunjuknya yang kiri ia membuat corat-coret di atas batu itu. Kemudian, dengan tangan kirinya pula, ia mendorong batu itu ke arah Hek Moli. Bukan main hebatnya tenaga dorongan ini. Batu yang besar dan beratnya paling sedikit enamratus kati itu terlempar ke arah Hek Moli!

Akan tetapi, dengan tenang Hek Moli mengangkat tongkat hitamnya dan sekali ia menggerakkan tangan, batu itu terputar-putar di atas ujung tongkat, kemudian ia menarik tongkatnya dan batu itu jatuh tepat di depannya demikian perlahan seakan-akan diangkat dan diletakkan disitu oleh tenaga yang mujijat!

Hek Moli dan In Hong melihat batu yang dicorat-coret tadi dan disitu ternyata telah terdapat beberapa huruf yang tergores dalam pada batu, tanda bahwa ketika mencoret dengan telunjuk, tosu itu telah mengerahkan lweekang yang tak boleh dipandang ringan. Tulisan itu berbunyi,

Go-bi-pay mengundang Hek Moli untuk melunaskan perhitungan lama di O-mei-san.

Melihat tulisan ini, teringatlah Hek Moli. Dahulu ia pernah naik ke Go-bi-san untuk menantang tokoh-tokoh Go-bi-pay mengadakan pibu. Dalam pertandingan pibu ini, seorang tokoh Go-bi-pay yang bersikap sombong dan mengucapkan kata-kata memandang rendah, telah ia robohkan dan sebelah lengannya terputus.

Mengingat akan hal ini, ia memandang kepada tosu itu dan tertawa,

“Aha, begitukah kehendak orang Go-bi-pay? Biar pun aku sudah tuabangka, siapa pernah takut terhadap tikus-tikus Go-bi-pay! Tunggu saja, setengah bulan lagi aku akan datang ke tempat itu!”

Tosu itu menjura dan berkata singkat,

“Terima kasih. Pinto percaya Hek Moli takkan menjilat ludahnya sendiri. Kami menanti dengan sabar.” Ia lalu membalikkan tubuh dan berlari pergi.

Akan tetapi baru saja ia berlari dengan cepat paling jauh sepuluh tombak, mendadak di sebelah kanannya berkelebat bayangan orang. Tosu itu terkejut melihat ginkang orang itu yang demikian lihay dan mengira bahwa tentu Hek Moli telah menyusul dan mendahului dirinya. Ia merasa khawatir karena melihat cara Hek Moli menyambut batu besar yang dilemparkannya tadi, ia merasa tidak akan kuat menandingi iblis wanita hitam ini, dan mengira bahwa Hek Moli menyusulnya dengan maksud buruk.

“Hek Moli, apa yang...?” Tegurannya terhenti sampai disitu karena kini ia berdiri tertegun melihat seorang gadis cantik jelita berdiri dihadapannya dengan senyum mengejek.

Gadis itu adalah gadis yang tadi dilihatnya berdiri dekat Hek Moli. Tosu itu menjadi makin terkejut. Bukan main hebatnya, semuda ini sudah memiliki kepandaian ginkang yang demikian tingginya!

“Nona, apa kehendakmu menghadang perjalananku?” tanyanya, menyembunyikan rasa khawatirnya di balik senyum.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner