BAYANGAN BIDADARI : JILID-03


In Hong mengeluarkan suara mengejek, “Tosu busuk, kau datang-datang menyombongkan kepandaian dan menghina guruku, bagaimana aku dapat membiarkan kau pergi begitu saja? Hayo kau mengaku siapa namamu dan berlututlah minta ampun kepada guruku, kalau tidak, jangan harap kau akan dapat pergi dari sini!”

Merah muka tosu itu, merah karena kemarahan yang ditahan-tahan. Kata-kata gadis itu merupakan penghinaan yang sangat besar. Di Go-bi-pay, ia termasuk tokoh yang cukup disegani, dan biar pun bukan merupakan tokoh pimpinan tertinggi, namun setidaknya ia merupakan wakil guru besar yang memberi pelajaran ilmu silat kepada murid-murid tingkat rendahan dan dalam hal kepandaian ilmu silat, dapat dikatakan dia menduduki tingkat ke empat.

“Nona, pinto dengan kau belum pernah bertemu dan tidak mempunyai sangkut paut. Kalau gurumu merasa penasaran, biarlah dia sendiri yang memutuskan. Pinto tidak suka berurusan dengan segala bocah kecil yang kurangajar.”

“Hayo kau mengaku nama dan berlutut minta ampun!” In Hong memotong omongan tosu itu dengan bentakan mengancam.

Tetapi sambil mengeluarkan suara ejekan tosu itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tubuh berlari ke depan, memutari tubuh gadis itu yang menghadang di depannya.

“Minggirlah!” katanya dan tangan kirinya dengan lengan baju yang lebar itu menyambar ke arah muka In Hong.

Ini adalah gerakan serangan yang hebat, karena tidak hanya ujung lengan baju itu yang menyabet dengan tenaga lweekang akan tetapi jari-jari tangan itu pun dipentang dan dapat dipergunakan untuk menyampok, memukul, atau mencengkeram menurut perkembangan dari perlawanan orang yang diserangnya.

Orang lain yang menghadapi serangan hebat ini, yang merasa sambaran angin yang dahsyat, tentu akan terkejut dan mengelak. Setiap orang ahli silat yang belum mengukur tenaga dan kepandaian lawan, selalu akan mengelak dari pukulan pertama, karena untuk menangkis pukulan lawan sebelum mengukur tenaga lawan yang menyerangnya, adalah hal yang berbahaya dan dianggap merugikan pihak sendiri.

Akan tetapi In Hong adalah seorang gadis yang amat tabah dan pula ia sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri. Biar pun ia belum mengukur tenaga tosu itu, namun tadi tosu itu telah secara lancang memperlihatkan kepandaian-nya ketika menggurat batu dengan jari tangan dan melontarkan batu itu kepada Hek Moli. Melihat betapa coretan pada batu itu masih kasar dan ada tanda-tanda guratan jari tangan, ia tahu bahwa tosu itu masih belum mampu mempergunakan lweekang secara mendalam dan lemas.

Kalau seorang ahli yang lweekang-nya sudah tinggi dan dapat mengatur dengan hawa dalam tubuh sehingga ujung-ujung kuku dapat dipergunakan dan disembunyikan dan biar pun tenaga yang keluar dari jari tangan yang menggores batu adalah tenaga yang dahsyat, namun kulit jari sendiri demikian lemas sehingga tidak akan mendatangkan bekas guratan jari pada batu. Dilihat dari sini saja ia sudah dapat mengukur tenaga dari tosu itu, maka kini melihat tosu itu mempergunakan tangannya untuk menyerang sambil lari, In Hong mengangkat tangan kirinya dan dengan jari telunjuknya ia menyambut tangan itu.

Melihat ini, tosu itu menjadi girang. Kalau ia tidak dapat dan belum berani membalas sakit hatinya kepada Hek Moli, sedikitnya ia akan dapat membalas dengan jalan menyakiti murid iblis wanita hitam itu. Maka ia lalu mempergunakan lima jari tangan kirinya untuk menampar dan maksudnya hendak mematahkan tulang telunjuk gadis itu. Telapak tangan yang dikerahkan dengan tenaga lwekang dan menjadi keras seperti baja bertemu dengan telunjuk In Hong yang runcing dan mungil.

Kalau dibicarakan memang agaknya tak masuk diakal, karena tiba-tiba tosu itu menjerit dan meringis kesakitan, tangannya menjadi kaku dan jari-jarinya direnggangkan, sakitnya bukan main! Akan tetapi harus dimengerti bahwa In Hong telah mempergunakan im-kang (tenaga lemas) untuk menghadapi yang-kang (tenaga kasar) dari tosu itu, dan di dalam hal ilmu silat, yang lemas memang mudah sekali menggulingkan yang kasar.

Dengan telunjuknya yang sudah terlatih sempurna, gadis itu dapat menyentuh jalan darah di pangkal ibu jari, .jalan darah yang menjadi saluran ke arah nadi dan semua jalan darah aseli, maka sebelum telapak tangan itu dapat mematahkan jari telunjuk In Hong, lebih dulu jalan darah dari tangan tosu itu telah kena ditotok!

In Hong tertawa cekikikan melihat tosu itu meringis-ringis kesakitan. Akan tetapi timbul juga rasa kasihan di dalam hatinya karena kini lengan kanan yang buntung itu mencoba untuk menolong tangan kiri yang terluka. Tentu saja lengan kanan yang buntung itu hanya bisa bergerak-gerak sampai di siku kiri saja, mana bisa menolong.

“Hm, kini kau tahu bahwa kami tidak mudah dipermainkan begitu saja oleh kalian orang-orang Go-bi-pay. Orang semacam engkau berani menghina guruku? Hayo mengaku siapa namamu dan lekas kau berlutut minta ampun!”

Tosu itu mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Sebagai seorang tokoh tinggi dari Go-bi-pay, ia telah mengalami hinaan yang amat memalukan. Mana ia sudi berlutut minta ampun? Lebih baik ia mati!

Hek Moli yang melihat keadaan itu, diam-diam dalam hatinya terkejut. Tak disangkanya bahwa muridnya mempunyai hati yang lebih telengas dan ganas. Maka untuk menjaga agar muridnya ini kelak jangan sampai bermusuhan dengan partai-partai besar yang akan mencelakakan hidupnya, ia berseru,

“In Hong, tosu itu bernama Tek Seng Cu, dan kalau memang dia sudah insaf, tak perlu dia berlutut minta ampun, asal dia sudah mengakui kesalahannya cukuplah!”

Mendengar kata-kata ini, Tek Seng Cu melihat jalan keluar yang lebih enak baginya, maka cepat ia menjura sambil berkata ke arah Hek Moli,

“Hek Moli, pinto benar-benar bermata akan tetapi tak pandai melihat. Biarlah kau maafkan sikapku yang kasar tadi. Nah, sampai berjumpa di puncak O-mei-san!” Ia membalikkan tubuh dan berlari cepat sambil menahan rasa sakit pada telapak tangannya, rasa sakit yang menusuk hatinya yang sudah sakit karena penghinaan itu.

In Hong menghadapi gurunya, “Subo, orang macam dia sudah sepatutnya dibunuh saja agar lain kali jangan datang menimbulkan keributan lagi.”

Hek Moli menarik napas panjang. “In Hong, engkau belum tahu banyak mengenai dunia kangouw. Ketahuilah, Tek Seng Cu itu hanyalah cucu murid dari ketua Go-bi-pay, dan dahulu belasan tahun yang lalu, untuk menghadapi dan mengalahkan ketua Go-bi-pay, aku harus mengeluarkan seluruh kepandaianku. Ketua Go-bi-pay bukanlah orang jahat, bahkan dia seorang locianpwe yang disegani, maka tidak baiklah membuat permusuhan dengan Go-bi-pay.”

In Hong mengerutkan keningnya dan sepasang alisnya yang hitam dan berbentuk indah itu bergerak-gerak.

“Subo, mereka sudah menantang dan menghinamu, bagaimana tak dapat disebut jahat?”

Hek Moli tersenyum. “Mungkin di antara tokoh-tokoh Go-bi-pay ada yang berwatak sombong dan kasar, bahkan aku tidak menyangkal bahwa banyak orang-orang mengaku pendeta namun hatinya kotor melebihi penjahat biasa. Akan tetapi, untuk apakah bermusuhan dengan mereka kalau tidak ada alasan? Kalau kau melihat mereka melakukan perbuatan jahat, siapa pun juga adanya mereka, pantas kau musuhi dan kau basmi, biar pun untuk itu kau harus mengorbankan nyawa. Akan tetapi, dalam hal ini tidak ada permusuhan hebat, yang ada hanyalah menebus kekalahan dalam pibu.”

“Akan tetapi Go-bi-pay menantangmu, subo.”

“Tidak apa, aku akan datang kesana pada waktunya dan dengan tulang-tulangku yang sudah tua, akan kucoba mengalahkan mereka seperti belasan tahun yang lalu.” Nenek ini memukul-mukulkan tongkat hitam yang panjang ke atas tanah. “Biar pun aku sudah tua, akan tetapi tongkat ini tetap kuat dan masih muda. Aah, manusia mana bisa menangkan benda mati. Benda hidup akan melayu dan mati, akan tetapi tongkat ini sudah mati ketika lahir, bagaimana dia bisa layu dan akhirnya mati seperti aku?” Nenek ini menghela napas lalu duduk termenung.

Melihat gurunya nampak berduka, In Hong menjadi terharu dan berbareng merasa panas hatinya.

“Subo, biarkan teecu pergi menemui mereka di O-mei-san! Biarkan teecu mewakili subo menghajar mereka dan memperlihatkan bahwa murid subo saja sudah cukup untuk mengalahkan semua tokoh Go-bi-pay dalam pibu!” Kata-katanya keras bersemangat, wajahnya yang cantik jelita itu kemerahan sehingga menjadi demikian segar bagaikan setangkai bunga mawar merah yang sedang mekarnya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya hati In Hong ketika tiba-tiba tongkat hitam panjang di tangan nenek itu menghantam batu yang segera menjadi hancur berkeping-keping. Nenek itu sendiri melompat bangun dan membentaknya,

“Diam kau! Jangan mencampuri urusan ini, ini adalah urusan pribadiku, tidak ada sangkut-pautnya denganmu, mengerti?”

In Hong tertegun, wajahnya yang tadi kemerahan tiba-tiba menjadi pucat. Selama menjadi murid Hek Moli, belum pernah gurunya ini marah kepadanya, selalu memperlihatkan kasih sayang. Gadis ini hanya dapat memandang kepada gurunya dengan mulut sedikit terbuka dan mata tak berkedip, kemudian perlahan-lahan, dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya yang berkulit halus bersih.

Hek Moli memandang kepada muridnya dan tiba-tiba saja rasa marahnya tadi lenyap seperti awan tipis tersapu angin. Ia melangkah maju dan memeluk muridnya, mendekap kepala yang berambut hitam panjang itu kepada dadanya yang tipis. Seperti air hujan, air mata mengalir dari sepasang mata In Hong. Gadis ini merasa sengsara dalam hatinya karena sekali saja dimarahi oleh gurunya, ia teringat kepada ayah bundanya.

“In Hong, muridku yang baik, muridku yang terkasih, jangan kau kecewa. Aku percaya bahwa kau akan dapat mengalahkan tokoh-tokoh Go-bi-pay, bahkan ketuanya sendiri boleh maju, kau takkan kalah! Akan tetapi, jangan kau kecewa. In Hong. Main-main dalam pibu ini dahulu adalah aku yang mencari sendiri, akulah yang menjadi biangkeladi, oleh karena itu aku pula yang harus menyelesaikan. Kau tidak boleh terseret-seret dalam permainan gila ini, permainan dari ahli-ahli silat yang tidak mempunyai pekerjaan, yang sombong dan ingin memperlihatkan kepandaian, ingin diakui sebagai jagoan paling pandai di dunia! Ya, dahulu aku amat sombong, In Hong, aku belum puas kalau belum mengalahkan tokoh terbesar di dunia kangouw. Kau tidak boleh terseret-seret, aku akan merasa menyesal dan berduka sampai mati kalau melihat kau dibenci oleh para tokoh-tokoh besar di dunia kangouw. Kau harus menjadi seorang pendekar yang berguna bagi rakyat, berguna bagi manusia. Kerahkan kepandaianmu untuk menolong manusia, bukan untuk mencari permusuhan de-ngan lain orang. Jangan salah mengerti, muridku, aku melarangmu pergi atau ikut ke O-mei-san, bukan sekali-kali karena aku tidak percaya akan kepandaianmu. Pada waktu ini, kepandaianmu tidak kalah olehku sendiri. Aku hanya sayang kalau-kalau kau muridku yang masih murni, masih suci, akan terseret ke dalam permusuhan yang tidak ada artinya, permusuhan dicari-cari yang tidak ada dasarnya.”

“Jadi subo mau pergi sendiri, meninggalkan teecu seorang diri disini?”

“Selalu aku pergi seorang diri kalau hendak berpibu, In Hong. Kesombongan itu sampai sekarang masih ada di dalam dadaku. Aku tidak mau kalau orang mengira aku mengandalkan bantuanmu. Selain itu, kau harus memenuhi tugasmu yang pertama, yakni mencari ayah bundamu di See-ciu.”

Mendengar disebutnya ayah bundanya, berseri wajah In Hong. Hal ini memang sudah dirindukan belasan tahun dan kini mendengar bahwa gurunya sudah memberi ijin kepadanya untuk mencari ayah bundanya, tentu saja ia menjadi girang sekali.

“Baik, subo. Kapankah teecu boleh berangkat mencari ayah dan ibu?” tanyanya.

Hek Moli menyembunyikan senyumnya penuh kegetiran dan iri hati. Ia maklum bahwa betapa pun besar kasih sayang muridnya terhadap dia, tetap saja kasih sayang muridnya kepada ayah bundanya jauh lebih besar.

“Sekarang juga, In Hong. Berangkatlah bersama doaku. Tiga puluh potong uang emas yang kusimpan itu boleh kau bawa, juga pedang dan hiasan rambut yang kau pakai. Pakaianmu juga bawalah semua untuk bekal di jalan. Kau harus berlaku hati-hati dan jangan lupa, disamping melakukan perbuatan sesuai dengan kepandaianmu dan sesuai pula dengan tugas seorang pendekar seperti yang seringkali kunasihatkan kepadamu, jangan sekali-kali kau mencari permusuhan dengan orang-orang kangouw tanpa alasan yang kuat.”

“Baik subo, baik!” Dengan girang gadis ini lalu masuk ke dalam pondok untuk mengambil uang dan pakaian, kemudian ia keluar lagi, siap untuk berangkat. Akan tetapi, ketika melihat gurunya yang tua dan kurus itu berdiri seperti orang melamun, seperti sebuah tonggak kayu yang tua dan buruk, lambang kesunyian dan kelayuan, hatinya terharu sekali dan ia memeluk subo-nya.

“Akan tetapi, subo. Bagaimana teecu tega meninggalkan subo seorang diri?” isaknya.

Hek Moli menjadi besar kembali hatinya. Dielus-elusnya rambut muridnya penuh kasih sayang.

“In Hong, bagaimana kau bisa tinggalkan aku? Aku sendiri sekarang juga akan berangkat ke O-mei-san.”

“Akan tetapi... bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu, subo?”

“Ha, kau tidak percaya kepadaku? Aku dapat menjaga diri, In Hong, dan biar pun tulang-tulangku telah tua, kiranya takkan mudah dicelakakan orang!”

“Bila teecu dapat bertemu dengan subo? Kemana teecu harus mencari subo?”

“Kalau kau sudah bertemu dengan orang tuamu, kau tidak boleh lagi meninggalkan mereka! Kalau kau merasa rindu kepadaku, kau datanglah di puncak ini. Setelah beres menguruskan persoalan pibu dengan orang-orang Go-bi-pay, aku tentu akan kembali kesini. Aku sudah terlalu tua dan sudah bosan untuk merantau, aku mau menanti sisa umurku di puncak ini. Kalau kau datang kesini, aku pasti ada disini, In Hong, kecuali kalau aku tidak ada disini, tentu... ah, kau tak usah mencariku lagi kalau aku tidak ada disini.”

“Subo...!” In Hong menjerit sambil menjauhkan diri agar dapat memandang muka gurunya.

Hek Moli tersenyum. “In Hong, jangan seperti anak kecil! Betapa pun juga, pibu adalah pertandingan silat dan luka atau tewas dalam pibu bukanlah hal yang rendah.”

“Subo, biarkan teecu turut dan membantumu! Mereka tidak boleh menjatuhkanmu, subo! Biar kelak saja teecu mencari ayah bunda.”

Hek Moli menggeleng kepalanya perlahan. “Tidak bisa, In Hong. Belum tentu aku kalah, dan tidak baik kalau kau ikut seperti sudah kukatakan tadi. Berangkatlah kau, dan sekali lagi, kalau kelak kau tidak mendapatkan aku disini, jangan kau mencariku lagi, dan ingat! Jangan kau mencari gara-gara dengan mereka yang menang dalam pibu melawanku. Luka atau mati dalam pibu sudah sewajarnya!”

“Subo...”

“Berangkatlah! Jangan bikin aku jengkel!” Hek Moli membentak.

In Hong menghapus airmatanya, berlutut di depan gurunya dan berkata lemah, “Selamat berpisah, subo. Tak lama lagi teecu akan mencari subo disini...”

“Pergilah, muridku.”

In Hong berdiri, sebelum berangkat ia maju dan menubruk, memeluk suhu-nya untuk terakhir kali, kemudian ia berlari turun gunung dengan cepat sekali. Setelah bayangan In Hong tidak kelihatan lagi, Hek Moli menjatuhkan diri duduk di atas batu dan mempergunakan ujung baju untuk menghapus beberapa titik air mata…..

********************

Gunung O-mei-san terletak di sebelah selatan pegunungan Ciung-lai-san. Tepat setengah bulan kemudian semenjak tosu Tek Seng Cu dari Go-bi-pay mendatangi Hek Moli di puncak Ciung-lai-san, pada pagi hari kelihatan Hek Moli berjalan terbongkok-bongkok mendaki puncak O-mei-san, dibantu oleh tongkatnya yang panjang dan hitam.

Untuk dapat tiba di lereng O-mei-san dalam waktu setengah bulan dari puncak Ciung-lai-san, membutuhkan kepandaian berlari cepat yang tinggi, dan tentu saja Hek Moli mengeluarkan kepandaiannya dalam perjalanan itu. Namun setelah tiba dikaki bukit O-mei-san, melihat bahwa waktu setengah bulan itu kurang dua hari lagi, ia berhenti dan tidur sehari semalam di bawah pohon besar. Ia hanya melakukan perjalanan sembilan hari saja, karena setelah In Hong pergi meninggalkannya, sepekan kemudian barulah ia turun gunung berangkat ke O-mei-san.

Sehari kemudian, barulah Hek Moli mendaki bukit O-mei-san, berjalan kaki perlahan-lahan. Ia merasa betapa tubuhnya kini tidak sekuat dulu, bahwa semangatnya tidak sepanas belasan tahun yang lalu. Ia berjalan-jalan sambil mengingat-ingat semua pengalamannya. Diam-diam ia menghela napas panjang,

“Tua bangka yang tidak beruntung,” bisiknya, “usiamu sudah sembilan puluh tahun, namun masih saja dalam saat terakhir menghadapi kematian usia tua, kau masih mendaki bukit untuk berpibu! Ah, benar-benar memalukan!”

Tiba-tiba ia mendengar suara orang berlari dari bawah bukit, dan tidak lama kemudian ia melihat Tek Seng Cu berlari naik melewatinya! Dari wajah tosu ini, jelas nampak kekaguman dan juga keheranan. Tek Seng Cu berlari cepat terus menerus menuju kebukit O-mei-san ketika ia meninggalkan Hek Moli, dan sekarang ia melihat nenek itu sudah berjalan perlahan di lereng O-mei-san!

“Hek Moli, kau sudah sampai disini?” tak terasa ia menegur, tak kuasa menyembunyikan keheranannya.

Hek Moli terbatuk-batuk hebat. Memang, sejak In Hong turun gunung meninggalkannya, penyakit batuknya yang tadinya seperti sudah sembuh itu kumat kembali.

“Tek Seng Cu, kau datang? Ahh, sungguh kebetulan sekali, lekas kau memberi laporan kepada pimpinan Go-bi-pay bahwa aku sudah datang untuk memenuhi undangan,” kata Hek Moli setelah dapat mengatur napasnya yang menjadi sesak karena batuk-batuk tadi.

Tanpa menjawab Tek Seng Cu berlari terus mendaki gunung itu. Hek Moli tidak peduli dan tetap berjalan perlahan-lahan, dibantu oleh tongkatnya.

Akan tetapi sebelum tiba di puncak O-mei-san, baru saja tiba di lereng yang datar, ia melihat Tek Seng Cu berdiri menunggu bersama tujuh oleh kakek yang semuanya berdiri memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.

Hek Moli terkejut dan juga heran, hatinya terasa tidak enak. Ia tidak melihat ketua Go-bi-pay yang sudah dikenalnya baik, yakni Pek Eng Taysu, dan menurut pandangan matanya yang biar pun sudah tua masih amat tajam. Ia melihat bahwa tiga di antara tujuh orang itu adalah tokoh-tokoh penting dari partai Kun-lun-pay. Apakah maksud kedatangan tiga orang Kun-lun itu?

Akan tetapi, biar pun di dalam hatinya Hek Moli timbul pertanyaan ini, pada wajahnya ia tidak memperlihatkan sesuatu, dan langsung ia berjalan terbongkok-bongkok menghampiri mereka.

“Tek Seng Cu, mana adanya Pek Eng Taysu ketuamu? Mengapa kalian berdiri disini? Hayo antar aku menjumpainya. Apakah dia menanti kedatanganku di puncak?”

Akan tetapi, kata-kata ini dijawab oleh Tek Seng Cu dengan seruan kepada kawan-kawannya yang tujuh orang jumlahnya itu, “Cuwi beng-yu, mari kita basmi siluman perempuan yang jahat ini!”

Serentak tujuh orang kawannya itu tanpa mengeluarkan kata-kata mencabut senjata. Ada yang bersenjata pedang, golok, dan bahkan ada yang bersenjata toya dan siang-koan-pit. Melihat cara mereka mencabut senjata, Hek Moli maklum bahwa mereka terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi.

Kini ia dapat mengenal bahwa mereka adalah orang-orang Go-bi-pay dan Kun-lun-pay yang dahulu belasan tahun yang lalu pernah ia robohkan dalam pibu ketika ia mencoba kepandaian tokoh-tokoh dari dua partai besar itu. Di Go-bi-pay, ia telah mengalahkan Pek Eng Taysu ketua Go-bi-pay dengan susah payah, akan tetapi di Kun-lun-pay, ia tidak sempat bertemu dengan ketuanya, hanya dilayani oleh tokoh-tokoh ketiga dan kedua yang semuanya dengan perlawanan gagah dapat ia kalahkan.

Teringat akan semua itu, dan mendengar seruan Tek Seng Cu, Hek Moli menjadi marah sekali. Ia dapat menduga bahwa undangan ini tentulah perbuatan Tek Seng Cu yang sengaja mengumpulkan kawan-kawan untuk mencelakakannya, atau untuk membalas dendam atas kekalahannya sehingga sebelah lengannya buntung. Inilah curang, pikirnya. Untuk menghadapi pibu biasa, sampai kemanapun atau berhadapan dengan siapa pun ia tidak gentar dan menerima dengan gembira, akan tetapi menghadapi kecurangan ini, ia takkan dapat membiarkan begitu saja.

“Tek Seng Cu, kau benar-benar penjahat berjubah pandeta!!” teriaknya dan jauh sekali bedanya dengan ketika ia berjalan terbongkok-bongkok naik gunung tadi, kini tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu tongkatnya telah menusuk ke arah muka Tek Seng Cu!

Sebagai seorang ahli, Tek Seng Cu yang kini tangan kirinya telah bersenjata pedang tipis, cepat mengelak dan mencoba membalas dengan babatan pedang. Namun, dua kali tongkat panjang hitam itu bergerak secara aneh setelah tadi mengancam muka Tek Seng Cu. Pertama-tama tongkat itu meluncur ke leher, akan tetapi, sewaktu Tek Seng Cu menggerakkan tubuh mengelak, tahu-tahu tongkat itu berobah lagi gerakannya dan tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi, dada kiri tosu itu kena ditotok.

Tek Seng Cu menjerit, tubuhnya terhuyung dan ia roboh miring, tak dapat ditolong lagi karena sebelum tubuh itu roboh, nyawanya telah melayang!

Empat orang tosu Go-bi-pay dan tiga orang kakek Kun-lun-pay cepat maju mengeroyok Hek Moli. Tadi mereka tak sempat melindungi Tek Seng Cu karena penyerangan Hek Moli benar-benar tidak terduga dan amat cepatnya. Kini mereka serentak maju mengepung dan menyerang dengan hebat.

Diam-diam Hek Moli terkejut. Para penyerangnya ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada Tek Seng Cu, apa lagi tiga orang kakek dari Kun-lun-pay itu benar-benar amat tangguh ilmu pedangnya.

“Hm, beginikah caranya kalian berpibu? Bagus, bagus, mari kita mengambil keputusan siapa yang akan tinggal hidup!” kata Hek Moli sambil mengejek dan tongkatnya digerakkan secara luar biasa sekali.

Empat orang tosu Go-bi-pay itu semua setingkat lebih tinggi dari Tek Seng Cu. Mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Go-bi-pay, maka ilmu silat mereka tentu saja sudah cukup tinggi. Mereka ini adalah paman-paman guru dari Tek Seng Cu, yakni murid dari Pek Eng Taysu tingkat muda. Nama mereka adalah Wi Tek Tosu, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu, dan Wi Liang Tosu.

Sebagai murid Pek Eng Taysu yang terkenal sebagai seorang ahli silat serba bisa, maka senjata mereka juga bermacam-macam. Wi Tek Tosu terkenal dengan siang-kiamnya, Wi Kong Tosu kuat sekali permainan toyanya, Wi Jin Tosu mempergunakan sebatang golok besar, sedangkan Wi Liang Tosu bersenjata ruyung kuningan. Masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri dan rata-rata merupakan lawan yang amat tangguh.

Adapun tiga orang kakek dari Kun-lun-pay, bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka ini adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Kun-lun-pay, menjadi murid-murid tertua dari Pek Ciang San-lojin (Kakek gunung bertangan putih), yakni ketua Kun-lun-pay pada waktu itu.

Ketika belasan tahun yang lalu Hek Moli naik ke Kun-lun dan menantang tokoh-tokoh Kun-lun-pay berpibu, kebetulan sekali Pek Ciang San-lojin sedang tidak ada disana dan sebagai wakilnya, yang maju adalah muridnya yang kedua, yakni Kim Sim Sanjin (Orang gunung berhati emas). Biar pun tak dapat dikatakan mudah, akhirnya Kim Sim Sanjin harus mengakui kelihayan Hek Moli dan ia kena dikalahkan dan hanya menderita luka ringan.

Kini, tiga orang Kun-lun-pay yang datang, adalah tiga orang tokoh yang menjadi wakil Pek Ciang San-lojin, merupakan tiga orang yang paling ternama di bawah guru besar itu, yakni pertama adalah Cu Sim Sanjin (Orang gunung berhati penuh welas asih), orang kedua adalah Kim Sim Sanjin sendiri, dan orang ketiga mempunyai sebutan Sun Sim Sanjin (Orang gunung berhati bersih). Cu Sim Sanjin senjatanya adalah ujung lengan bajunya yang panjangnya satu kaki lebih, Kim Sim Sanjin bersenjata sepasang siang-koan-pit, sedangkan Sun Sim Sanjin senjatanya adalah sebuah kebutan pendeta (hudtim) yang berbulu putih berkilau seperti perak.

Melihat senjata-senjata ini saja sudah dapat dinilai bahwa ilmu kepandaian tiga orang kakek Kun-lun-pay ini benar-benar tinggi karena senjata-senjata mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh (ahli ilmu lweekang) dan ahli totok atau tiam-hoat.

Namun, Hek Moli bukan disebut Hek Moli Iblis wanita hitam kalau dia gentar menghadapi keroyokan tujuh orang jago tua yang lihay itu. Dengan tongkatnya yang panjang dan hitam, ia bersilat dengan aneh, ilmu silat yang tak pernah terlihat di wilayah Tiongkok Pedalaman. Tongkat itu berubah menjadi segundukan sinar hitam yang membungkus tubuhnya, dan tiap kali senjata lawan terbentur oleh sinar hitam ini, senjata lawan itu pasti terpental, seakan-akan dari sinar hitam itu keluar tenaga dahsyat yang amat luar biasa.

Hek Moli benar-benar marah. Ia sudah amat tua dan tenaganya tidak seulet dahulu, maka ia merasa penasaran sekali dan menganggap tujuh orang pengeroyoknya adalah pengecut-pengecut belaka yang mempergunakan jumlah banyak untuk mengeroyok seorang perempuan tua seperti dia. Oleh karena merasa gemas dan marah, timbullah hati ganas dan kejam di dalam dada Hek Moli. Apa lagi ketika ia merasa bahwa perlahan-lahan ia mulai terdesak hebat.

Kepandaian tujuh orang lawannya benar-benar kuat sekali. Apa lagi ketiga orang kakek Kun-lun-pay itu, benar-benar sukar dilawan. Menghadapi seorang di antara tiga orang kakek ini saja, agaknya ia harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk mengalahkannya.

Dahulu, ketika ia mengalahkan Kim Sim Sanjin, biar pun tidak begitu mudah namun kepandaiannya masih jauh mengatasi kepandaian Kim Sim Sanjin. Akan tetapi sekarang ia mendapat kenyataan bahwa sepasang siang-koan-pit ditangan Kim Sim Sanjin jauh lebih lihay dari pada dahulu, tanda bahwa setelah dikalahkan, tokoh Kun-lun ini telah memperdalam ilmu kepandaiannya.

Makin lama Hek Moli makin terdesak. Tiba-tiba wanita ini diam-diam merogoh sakunya dan sekali ia mengeluarkan jerit nyaring yang menyakitkan anak telinga dan membuat hati tujuh orang lawannya tergoncang, tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar hitam melayang cepat ke depan. Tiga orang kakek Kun-lun-san dapat mengelak dan menyampok sinar ini dengan senjata mereka. Juga dua di antara tokoh Go-bi-pay dapat mengelak. Akan tetapi Wi Liang Tosu dan Wi Jin Tosu menjerit ngeri, tubuh mereka terhuyung-huyung, lalu roboh berkelonjotan dan tak lama kemudian mereka menghembuskan nafas terakhir!

Ternyata bahwa dalam kemarahannya, Hek Moli telah mempergunakan senjata-senjata rahasia aneh yang ia sebut Toat-beng-hek-kong (Sinar hitam pencabut nyawa)! Senjata-senjata rahasia ini juga tidak dikenal di daerah Tiong-goan atau pedalaman Tiongkok, dan merupakan semacam pasir berwarna hitam yang kalau mengenai tubuh lawan, terus menyusup ke dalam jalan darah dan mengandung bisa yang cepat merampas nyawa lawan!

“Siluman wanita, kau benar-benar berbahaya dan jahat, patut dilenyapkan dari muka bumi!” teriak Cu Sim Sanjin orang tertua dari Kun-lun-pay. Begitu ia berteriak, ia dan dua orang sute-nya lalu mendesak hebat.

Teranglah bagi Hek Moli bahwa tadi tiga orang Kun-lun-pay ini tidak bertempur sungguh-sungguh dan sekarang barulah ia tahu bahwa kalau mereka bertempur sungguh-sungguh, tak mungkin baginya untuk mempergunakan senjata rahasia. Baru beberapa gebrakan saja setelah mereka membulatkan penyerangan dengan gerakan-gerakan cepat, pundaknya telah kena sabetan ujung lengan baju Cu Sim Sanjin sehingga ia terhuyung tiga langkah dan merasa pundaknya sakit sekali.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner