BAYANGAN BIDADARI : JILID-06


“Dia membunuh Kwee Seng bukan berdasarkan kebencian perseorangan, Cui Hwa, akan tetapi dia akan membunuh siapa saja asal ia hartawan atau bangsawan. Pada waktu dia membunuh Kwee Seng, dia sama sekali tidak tahu siapa yang dibunuhnya, kecuali bahwa yang dibunuhnya itu seorang hartawan.”

“Kalau kau sudah tahu siapa dia, mengapa tidak lekas-lekas menyeretnya ke sini?” Cui Hwa menuntut, penuh dengan rasa penasaran.

Tiang Houw menarik napas panjang. “Cui Hwa, orang itu sekarang sudah amat menyesal atas semua perbuatannya yang sudah lalu. Apakah kau tidak bisa mengampuni orang yang melakukan sesuatu tidak berdasarkan kebencian terhadap suamimu itu, dan yang sekarang sudah merasa menyesal?”

“Seret dulu dia ke depanku, biar aku bicara sendiri dengan dia, baru aku akan mengambil keputusan,” jawab Cui Hwa.

“Dia... dia merasa malu bertemu denganmu, malu untuk mengakui semua perbuatannya kepadamu...”

“Kalau begitu dia adalah pengecut, pengecut yang harus dibikin mampus!” Dada Cui Hwa berombak.

Mendadak Tiang Houw bangkit dari kursinya. Orang boleh memaki pendekar ini dengan sebutan apa pun juga, akan tetapi jangan sekali-kali ia disebut pengecut. Semenjak kecil Tiang Houw paling benci kepada pengecut, oleh karena itu makian pengecut baginya lebih merendahkan dari pada makian apa pun juga.

“Cui Hwa, aku bukan pengecut!”

Cui Hwa menjadi pucat sekali mukanya, sedangkan Teng San sekarang juga telah berdiri menatap ayahnya dengan mata terbelalak kaget. Melihat ini, Tiang Houw mengangguk-angguk, menghela napas dan berkata dengan tenang,

“Ya, akulah orang itu, Cui Hwa. Akulah pemimpin dari pasukan Kay-sin-tin, akulah yang menggerakkan penumpasan para bangsawan dan hartawan, dan aku pulalah yang telah membunuh suamimu, Kwee Seng. Kau boleh berbuat apa saja kepadaku, hanya jangan memaki aku pengecut...”

Sampai beberapa detik Cui Hwa berdiri seperti patung, hanya dadanya yang naik turun bergelombang, mulutnya beberapa kali terbuka akan tetapi tak mengeluarkan suara apa-apa. Kemudian terdengar ia menjerit nyaring dan tubuhnya limbung. Ia roboh pingsan dan tentu akan terjatuh kalau tidak cepat-cepat dipeluk oleh Teng San.

Melihat halnya ibu tirinya, Teng San tak dapat menahan keluarnya dua titik air mata yang membasahi pipinya. Sambil memondong tubuh ibunya, Teng San berdiri dan memandang kepada ayahnya melalui linangan air mata.

“Ayah, kau membunuh suaminya lalu... lalu mengambilnya sebagai isterimu...?” suaranya sayu dan mengandung nada benci.

Wajah Tiang Houw menjadi pucat. “Tidak... tidak begitu, Teng San... engkau dengarlah dulu keteranganku...”

Tetapi dengan isak tertahan, pemuda itu telah membawa lari ibu tirinya yang dipondong, menuju ke kamar ibu tirinya. Dengan sangat hati-hati dia membaringkan tubuh Cui Hwa, lalu mempergunakan air dingin untuk membasahi jidat ibu tirinya.

Cui Hwa tersadar dan mengeluh, berkali-kali menyebut nama In Hong dan Kwee Seng. Ia merasa berdosa besar, merasa malu pada diri sendiri. Suaminya mati terbunuh, anaknya entah bagaimana nasibnya dan dia... dia bahkan diperisteri oleh pembunuh suaminya itu, hidup dengan penuh kesenangan seakan ia tidak peduli dengan nasib Kwee Seng dan In Hong! Inilah yang amat menyakitkan hatinya.

“Ibu, tenanglah, ibu... akulah yang akan menanggung semua dosa ayah...,” kata Teng San terharu.

Cui Hwa memandang wajah pemuda itu. “Pergilah kau...! Pergi dan jangan dekat dengan aku!” Wajah Teng San memang serupa benar dengan Tiang Houw, dan persamaan ini membuat Cui Hwa tiba-tiba marah terhadap Teng San.

Denga terisak Teng San melangkah mundur, lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lama kemudian dia mendengar ayahnya memanggil-manggil namanya sambil mengetuk-ngetuk pintu, akan tetapi Teng San diam saja, tidak menjawab.

Di luar pintu, dengan wajah pucat Tiang Houw memanggil-manggil nama Teng San. Ingin ia memukul pecah daun pintu itu, ingin ia menjelaskan semua itu kepada puteranya, akan tetapi ia menekan perasaannya dan kemudian berjalan pergi ke kamarnya sendiri sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

Dan pada keesokan harinya suami isteri ini kembali mengalami kejadian yang lebih hebat, yakni dengan lenyapnya Teng San bersama Lian Hong! Pemuda yang hancur hatinya itu ternyata telah lari minggat sambil membawa adik tirinya, entah kemana.

Cui Hwa menangis menggerung-gerung ketika melihat Lian Hong lenyap. Ia menudingkan jarinya kepada Tiang Houw, sambil menangis dia memaki, “Kaulah yang mengakibatkan semua ini, kau... kau pembunuh... kau pengecut...!”

Tiang Houw lari maksud mengejar Teng San dan Lian Hong, namun sia-sia belaka karena kepandaian Teng San sudah tinggi, ilmunya berlari cepat sudah menyamai ayahnya dan selain telah tertinggal jauh, juga Tiang Houw tidak tahu kemana arah tujuan puteranya itu.

Semenjak itu, kehidupan Cui Hwa dan Tiang Houw penuh kegetiran, seakan-akan mereka hidup di dalam neraka. Setiap hari Cui Hwa termenung, kadang-kadang menangis sedih, sama sekali tidak mau bicara kepada Tiang Houw.

Sebaliknya Tiang Houw yang tidak dikenal lagi oleh isterinya, merasa begitu perih hatinya, apa lagi kalau dia mengingat betapa pandangan Teng San terhadapnya amat rendah. Ia mendapat pukulan batin yang berat sekali kalau mengingat bahwa Teng San menganggap dia berbatin amat rendah, seorang yang membunuh suami dan merampas isteri!

Demikianlah kenyataan bahwa penghidupan manusia selalu berobah, kebahagiaan tidak kekal adanya dan siapa yang tidak kuat menerima rezeki atau ujian yang jatuh kepada diri dan keluarganya, ia akan rusak binasa.

Begitu juga Tiang Houw. Pendekar yang gagah perkasa ini lalu meninggalkan rumahnya, merantau ke sana ke mari seperti seorang berobah ingatan. Merantau kemana saja untuk mencari tiga orang, yakni In Hong, Teng San, dan Lian Hong!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, di dalam perantauannya itu Tiang Houw bertemu dengan Wi Tek Tosu tokoh Go-bi-pay dan dia berhasil mencegah tosu yang sakit hati terhadap Hek Moli ini merusak jenazah Hek Moli. Bahkan pendekar ini lalu mengurus dan mengubur jenazah Hek Moli baik-baik. Hal ini terjadi tiga tahun sejak Teng San dan Lian Hong pergi meninggalkan rumah…..

********************

Kwee In Hong yang diusir oleh gurunya untuk turun-gunung dan mencari orang tuanya, tentu saja tidak tahu akan mala petaka yang menimpa diri gurunya. Dara ini turun gunung dengan cepat, menuju ke kota See-ciu sebagaimana pesan gurunya.

Kalau orang melihat gadis itu berjalan, dia pasti takkan mengira bahwa gadis ini adalah murid tunggal dari Hek Moli dan telah memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan gurunya sendiri! Bahkan mungkin sekali In Hong lebih tangguh dari pada Hek Moli, karena selain ia lebih muda dan kuat, juga ia mempunyai gerakan yang lebih ringan. Tentu saja ia masih kalah jauh dalam pengalaman.

Siapa yang akan mengira bahwa gadis yang cantik manis, yang berkulit putih halus, dan yang mempunyai lenggang demikian halus gemulai, yang gerak geriknya lemah lembut, adalah seorang ahli silat tniggi? In Hong adalah anak dari ayah bunda yang terpelajar dan yang mempunyai watak halus, maka sifat ini menurun kepadanya. Akan tetapi, selama belasan tahun dibawah asuhan Hek Moli, kekerasan hati Iblis Wanita Hitam ini juga menurun kepadanya. Di balik gerak geriknya yang lemah lembut, tersembunyi hati yang keras seperti baja dan keberanian yang hebat. Bahkan, sifat-sifat Hek Moli yang ganas menurun pula kepadanya.

Seperti juga gurunya, In Hong melakukan perjalanan dengan membawa sebatang tongkat hitam, namun tongkatnya ini kecil saja, hanya sebesar ibu jari kaki dan panjangnya sama dengan pedangnya yang diikat di belakang punggung. Di dalam sebuah kantong yang tergantung pada ikat pinggangnya, tersembunyi senjata rahasia yang mengerikan orang-orang kangouw, yakni pasir hitam yang kalau dipergunakan disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)! Pedang Liong-gan-kiam pemberi gurunya hanya kelihatan ronce-ronce merahnya saja yang melambai-lambai tertiup angin di atas pundaknya.

Sesudah turun dari puncak Ciung-lai-san dan menyaksikan pemandangan yang indah, maka lenyaplah kesedihan In Hong karena harus berpisah dari gurunya. Ia berhenti dan dari atas lereng bukit ia memandang ke bawah.

Dunia seakan-akan sehelai lukisan indah yang dibuka dihadapan kakinya. Nampak dusun-dusun dengan genteng rumah yang kemerahan, nampak pula sungai-sungai yang airnya kelihatan membiru dan berlika liku. Sawah-sawah menghijau amat indahnya. Semua ini seakan-akan melambai-lambai kepada In Hong, memanggil gadis itu supaya segera turun menemui semua itu.

In Hong menjadi gembira dan ia lalu berlari turun dari lereng dengan kecepatan seperti burung terbang. Kedua kakinya ringan sekali dan orang akan menyangkanya semacam peri penjaga gunung kalau melihat dia melayang-layang seperti itu. Tentu saja gadis ini bukannya melayang, melainkan berlari cepat, akan tetapi gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga ia kellhatan seperti tidak menginjak bumi.

Ia mengeluarkan ilmu lari cepatnya yang disebut Teng-in-hui (Terbang menginjak awan)! Akan tetapi bagi mata seorang ahli silat tinggi, tentu akan dapat melihat gerakan seorang wanita cantik jelita yang berlari cepat dengan gerakan indah gemulai, sehingga ia tentu akan mengira bahwa yang berlari turun gunung itu adalah seorang bidadari atau utusan dari Koan Im Pouwsat!

Akan tetapi, gunung Ciung-lai-san amat sunyi dan tidak ada orang yang melihat gadis ini berlari. Setelah turun gunung dan lalu masuk dusun-dusun kecil, barulah In Hong berjalan biasa agar jangan menarik perhatian orang lain. Namun tetap saja hampir semua orang, apa lagi laki-laki, menoleh dan memandang kepadanya. Bukan hanya karena pakaiannya yang indah dan berbeda dengan wanita-wanita dusun, akan tetapi juga jarang sekali orang melihat seorang gadis muda yang demikian cantik jelita, apa lagi yang berani melakukan perjalanan seorang diri.

Hanya karena orang melihat ronce-ronce gagang pedang Liong-gan-kiam maka orang tak berani bersikap sembarangan terhadapnya. Mereka dapat menduga bahwa seorang gadis muda yang berani melakukan perjalanan seorang diri, apa lagi dengan membawa pedang, tentulah seorang ahli silat yang sudah tinggi kepandaiannya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, sikapnya yang halus dan uang bekal yang banyak dari gurunya, In Hong dapat melakukan perjalanan tanpa banyak rintangan. Bahkan ia telah membeli seekor kuda dari seorang pedagang kuda, dan melanjutkan perjalanannya ke See-ciu dengan berkuda. Memang harus diakui bahwa In Hong tidak biasa naik kuda, namun dengan kepandaian silatnya yang sudah tinggi, sebentar saja dapat menyesuaikan diri dan dapat duduk di atas punggung kuda dengan enak dan tegak.

Beberapa bulan kemudian, setelah melakukan perjalanan yang amat jauh, sampailah ia di kota See-ciu. Hatinya berdebar penuh ketegangan dan pertanyaan. Apakah ia akan dapat bertemu kembali dengan ayah bundanya di kota ini? Ia hanya masih ingat wajah ibunya, seorang wanita yang cantik sekali, akan tetapi wajah ayahnya ia sudah lupa lagi.

Yang masih teringat betul olehnya malah wajah inang pengasuhnya yakni Can Mama dan In Hong suka tertawa seorang diri apa bila ia teringat kepada inang pengasuh ini. Masih terbayang olehnya betapa Can Ma suka mendongeng sambil memangkunya, dan boleh dibilang ia lebih dekat dengan Can Ma dari pada dengan ayahnya.

Mudah saja baginya untuk mendapatkan rumah Yo-wangwe. Semua orang di kota See-ciu mengenal nama Yo Tang atau Yo-wangwe yang tinggal di sebuah gedung besar dan indah, berdagang hasil bumi dan bahan obat-obatan. Karena perdagangannya ini maka di bagian depan dari rumah gedungnya terdapat gudang-gudang dengan pekarangan amat lebar. Tampak banyak orang sibuk bekerja di depan gudang-gudang itu, mengeluarkan dan memasukkan barang sehingga keadaan disitu berdebu dan kotor.

Semua pekerja tiba-tiba menghentikan pekerjaan mereka ketika mereka melihat seorang gadis cantik berpakaian biru memasuki pekarangan itu dan mereka memandang dengan kagum, juga agak terheran-heran. Memang merupakan pemandangan yang jarang sekali adanya seorang gadis cantik jelita muncul di tempat itu seorang diri.

Ketika baru bertemu dengan orang-orang yang memandang dirinya seperti itu, mula-mula memang In Hong merasa jengah dan malu-malu, juga agak marah. Akan tetapi sekarang ia sudah merasa biasa, bahkan bibirnya tersenyum mengejek kalau ia melihat mata laki-laki seakan-akan hendak menelannya.

Kini ia menghampiri mereka yang bekerja itu, lalu bertanya, “Sahabat-sahabat, apakah disini tempat tinggal Yo Tang?”

Salah seorang di antara para pekerja itu, yakni mandornya, cepat melangkah maju dan menjawab, “Betul dugaanmu, nona. Kau siapakah dan dari mana?”

Semua orang memperhatikan In Hong dan ingin sekali mendengar siapa adanya gadis ini, namun In Hong mengecewakan mereka dengan jawaban sembarangan, “Kalau betul di sini rumah Yo-wangwe, tolong beritahukan bahwa aku datang membawa keperluan amat penting.”

“Akan tetapi, kau siapakah, nona? Dan dari mana? Bagaimana kalau dia tanya tentang hal ini kepadaku?”

“Minta saja dia keluar, aku hendak bicara sendiri dengan dia,” jawab In Hong singkat. Ia memang merasa segan untuk memperkenalkan diri kepada orang-orang yang menatap dirinya seperti itu.

“Akan tetapi, nona, aku harus mengetahui siapa adanya kau...” kata mandor itu dan kini ia memandang dengan curiga ke arah gagang pedang yang tersembul dari balik punggung gadis itu.

“Dia adalah paman dari ibuku, cukupkah keteranganku ini?” kata In Hong yang merasa gemas juga melihat desakan orang itu.

Mendengar ini, mandor itu tidak berani mendesak lagi. Jika nona ini masih terhitung sanak dari Yo-wangwe, dia tidak boleh keterlaluan. Berobahlah sikapnya dan dia membungkuk sambil berkata,

“Ah, mengapa tidak dari tadi kau memberitahu bahwa kau masih cucu dari Yo-loya? Mari, silakan ikut dengan aku, nona. Yo-loya tinggalnya di rumah gedung sebelah belakang. Di depan ini hanya gudang-gudang tempat orang bekerja.”

Dengan diikuti oleh pandangan mata semua orang yang bekerja disitu, In Hong berjalan bersama mandor itu, melewati samping gudang menuju sebuah rumah besar yang berdiri di belakang gudang-gudang itu. Para pekerja itu sibuk kembali, tetapi kini mulut mereka tiada hentinya bicara memuji kecantikan gadis yang baru tiba itu.

“Cantik jelita benar-benar gadis tadi,” kata seorang.

“Dan pedang itu, ia kelihatan gagah. Apakah benar-benar ia pandai main pedang?” kata orang kedua.

“Ah, gadis sehalus dan secantik itu mana bisa main pedang? Senjata hanya untuk hiasan belaka, atau paling-paling untuk menakut-nakuti penjahat agar tidak berani mengganggu,” kata orang ketiga yang terkenal pandai silat di antara para pekerja itu.

In Hong memiliki pendengaran yang amat tajam terlatih. Jika mandor yang mengantarnya tidak dapat menangkap kata-kata itu, adalah gadis ini mendengar dengan jelas sekali. Namun ia tidak ambil peduli, hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan rumah gedung yang ia hadapi. Rumah ini benar-benar besar dan mewah, pintu-pintunya dicat kuning dan temboknya tebal, dikapur putih bersih.

“Kau duduklah dulu, nona, biar aku yang melaporkan ke dalam,” kata mandor itu.

In Hong mengangguk dan mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang banyak terdapat di ruang depan itu. Mandor itu lalu menghampiri pintu dan hendak masuk, akan tetapi tiba-tiba saja dari dalam keluarlah seorang pemuda yang ganteng dan berpakaian sebagai jago silat. Gayanya memang gagah dan sikapnya menunjukkan bahwa ia memiliki tenaga besar.

“Ah, kebetulan sekali kau keluar, kongcu. Aku hendak menghadap lo-ya...”

“Kwa-lopek, ada apakah dan...?” Pemuda itu menoleh ke arah In Hong, lantas matanya terbuka lebar, mulutnya ternganga. “Siapa... eh...” Ia gagap dan mukanya menjadi merah, malu karena kebingungan dan kegugupannya sendiri.

In Hong sudah berdiri dan menjura. Ada pun mandor itu laiu memperkenalkan, “Kongcu, nona ini adalah seorang tamu yang ingin berjumpa dengan Yo-loya. Katanya dia adalah masih sanak keluarga. Eh, nona, ini adalah Yo-kongcu, cucu dari Yo-loya.”

In Hong segera memberi hormat, lalu berkata, “Harap maafkan kalau aku mengganggu. Kedatanganku ini hanya untuk menanyakan sesuatu kepada Yo-wangwe, mengenai ayah bundaku.”

Pemuda itu melangkah maju. “Engkau siapakah, nona? Kalau masih keluarga kongkong (kakek), mengapa aku tidak kenal padamu?”

In Hong tersenyum dan jantung pemuda itu melompat-lompat di dalam rongga dadanya. “Memang kita belum pernah saling bertemu. Ketahuilah bahwa ibuku adalah keponakan kongkongmu itu, dan ibuku bernama Yo Cui Hwa.”

Mendengar disebutnya nama ini, wajah pemuda itu berseri dan ia berkata kepada mandor tadi, “Kwa-lopek, dia adalah saudaraku sendiri, kau kembalilah ke tempat kerjamu.”

Mandor itu membungkuk lalu pergi keluar.

“Kau... benar-benarkah kau puteri dari bibi Cui Hwa dan kaukah anak yang dahulu hilang bersama Can Mama itu?” tanya pemuda ini, masih ragu-ragu dan memandang kepada wajah yang jelita itu.

In Hong menjadi terharu. Kalau pemuda ini mengenal Can Mama dan tahu akan semua nasib yang diwaktu kecil ia alami, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa ia datang di tempat yang betul.

“Benar,” katanya girang, “namaku adalah In Hong, Kwee In Hong. Dimana ayah bundaku? Apakah mereka berada disini?”

“Marilah ikut aku masuk ke dalam, moy-moy. Kau adalah adik misanku sendiri. Namaku Yo Kang, aku sudah banyak mendengar dari ayah tentang ibu dan ayahmu dan kau juga. Aku lebih tua dua tahun darimu dan aku mendengar kau dibawa pergi oleh seorang Iblis Wanita bernama Hek Moli...” Ia melihat ke arah gagang pedang yang tersembul dari balik punggung gadis itu. “Ah, siauw-moy, alangkah akan terkejut dan girangnya hati kongkong dan ayah ibuku melihat kau datang dalam keadaan selamat,” Yo Kang, pemuda itu, bicara dengan cepat sekali sehingga In Hong menjadi bingung mendengarkannya.

“Dimana ayah bundaku?” tanyanya dan hatinya berdebar gelisah.

“Marilah kita masuk dulu, banyak yang harus kau dengar.”

Masuklah mereka ke dalam gedung yang ternyata indah dan penuh dengan perabot rumah yang mahal dan bagus.

Mula-mula yang menyambut In Hong adalah Yo Hang Tek, ayah Yo Kang, seorang laki-laki berusia empat puluh lebih yang rambutnya sudah putih semua sehingga nampak tua, tubuhnya tinggi besar seperti Yo Kang, namun sikapnya lemah lembut.

Yo Hang Tek keluar menyambut bersama isterinya, ibu Yo Kang, yang tubuhnya kurus sekali, akan tetapi wajahnya masih kelihatan cantik. Yo Hang Tek memandang kepada In Hong dengan mata terbelalak, kemudian ia memegang pundak gadis itu dan dua matanya basah.

“In Hong, kau... kau seperti ibumu benar! Aduh, nak, sudah belasan tahun kami putus asa dan mengira bahwa kau sudah tewas.”

Melihat sikap pamannya ini dan mendengar kata-katanya, tak terasa pula sepasang mata In Hong yang bening itu berlinang. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pamannya.

“Yo-pekhu, anak In Hong mohon penjelasan mengenai nasib ayah dan ibu.”

“Nanti dulu, In Hong, marilah kau menghadap kepada kakekmu, dan disana nanti kita bercakap-cakap,” kata Yo Hang Tek.

Mereka lalu masuk ke dalam ruangan belakang dimana kakek Yo Tang sudah menanti di atas korsinya yang besar dan empuk. Kakek ini sudah tua, duduk dengan enaknya sambil mengisap pipa tembakau yang panjang. Seluruh ruangan itu berbau asap tembakau.

In Hong cepat melangkah maju dan berlutut menghaturkan hormat, sedangkan kakek itu mengangguk-angguk sambil meniup asap dari mulutnya.

“Hm, kau serupa benar dengan Cui Hwa. Duduklah dan ceritakan semua pengalamanmu. Siapa namamu? Aku sudah lupa lagi.”

“Namaku Kwee In Hong...,” kata In Hong lirih.

“Siapa?” kakek itu memajukan kepalanya dan miringkan muka untuk mendengarkan lebih jelas.

“In Hong, bicaralah agak keras, kongkong sudah kurang pendengarannya,” kata Yo Kang kepada In Hong.

Terpaksa In Hong mengulang kembali ucapannya, akan tetapi sekali ini dia mengerahkan khikang-nya. Sungguh pun suaranya bagi orang lain biasa saja, namun karena ditujukan kepada kakek itu, Yo Tang dapat mendengar dengan baik. Melihat In Hong bicara masih biasa saja, Yo Hang Tek dan semua orang takut kalau-kalau kakek itu tidak mendengar, akan tetapi aneh, kakek itu ternyata mengangguk-angguk senang.

“Hm, bagus sekali, aku sekarang ingat, namamu In Hong. Nah, kau ceritakanlah semua pengalamanmu, In Hong.”

Hati In Hong kecewa sekali. Ia tidak melihat ayah ibunya disitu, bahkan tidak melihat Can Mama, padahal ia ingat betul bahwa dulu ketika ia dibawa pergi oleh Hek Moli, Can Mama hendak pergi ke See-ciu dan mereka dahulu sudah berada di luar kota.

Apakah Can Mama telah mati? Akan tetapi ia merasa tidak pantas kalau ia tidak menurut kehendak kakek itu, maka dengan ringkas ia bercerita bahwa ia memang dibawa oleh Hek Moli yang suka kepadanya dan mengambilnya sebagai murid selama empat belas tahun. Ia tidak menuturkan panjang lebar tentang ilmu silat yang dia pelajari, hanya menyatakan bahwa nenek itu amat baik kepadanya.

“Aah, disukai oleh seorang iblis wanita seganas Hek Moli, benar-benar bukan hal yang baik. Biar pun aku belum pernah bertemu dengan dia, namun namanya yang busuk sudah sampai di mana-mana dan siapakah yang tidak takut mendengar namanya?” kata kakek itu.

In Hong tidak senang sekali mendengar ini dan tanpa disengaja dia memandang ke arah kakeknya dengan mata bersinar.

Yo Kang yang sejak tadi memandang kepada gadis itu dengan penuh perhatian, dapat menangkap pandang mata yang penuh kedongkolan ini, maka ia bicara, tidak cukup keras sehingga kakeknya tidak mendengarnya, “Hek Moli adalah seorang tokoh kangouw yang namanya amat disegani dan sepanjang pendengaranku, biar pun lihay sekali ilmunya, namun ia tidak pernah melakukan kejahatan.”

Mendengar ini, In Hong melirik ke arah Yo Kang dengan pandangan mata terima kasih, akan tetapi diam-diam gadis ini juga heran. Bagaimana kakak misan ini tahu tentang dunia kangouw? Ia tidak mau pusingkan hal itu, maka dengan tergesa-gesa ia lantas bertanya kepada Yo Hang Tek, “Pek-hu, dimana adanya ayah ibuku, dan mana pula Can Mama? Apakah mereka tidak berada disini?”

Yo Hang Tek menarik napas panjang, lalu bicara dengan suaranya yang halus, “In Hong, ayahmu ibumu tidak pernah sampai kesini. Tadinya kami sendiri tidak tahu kemanakah perginya mereka itu. Akan tetapi sesudah kakakmu Yo Kang ini pergi menyelidiki, kami mendengar dari seorang perwira yang dulu menolong dusun Tiang-on yang diserang oleh para penjahat itu, katanya mereka menemukan ayahmu yang telah tewas oleh penjahat di hutan.”

Pucat wajah In Hong. Kalau saja ia tidak sudah matang latihannya dalam ilmu lweekang dan semedhi, mungkin ia akan menjerit atau jatuh pingsan. Namun ia menguatkan hatinya dan bahkan masih dapat bertanya, suaranya tetap tenang,

“Yo-pekhu, siapakah yang menewaskan ayah dan dimana beliau dimakamkan?”

Yo Hang Tek saling pandang dengan isterinya, agaknya mereka merasa heran melihat ketenangan gadis ini, akan tetapi Yo Kang memandang penuh kekaguman. Pemuda ini pernah belajar ilmu silat dan ia menghargai kegagahan, maka melihat sikap In Hong ia suka dan kagum sekali. Ia benci melihat wanita lemah yang mudah menangis dan mudah jatuh pingsan.

“Hong-moy, aku yang menyelidiki urusan itu, dan aku hanya mendengar bahwa ayahmu tewas dalam keributan, tidak tahu siapa yang melakukan pembunuhan itu. Jenazahnya dirawat oleh pasukan pemerintah, kini dimakamkan di luar dusun Tiang-on. Aku sudah mengurus kuburannya dan juga memasang bong-pay (batu nisannya). Kelak kuantar kau mengunjungi makamnya.”

In Hong memandang kepada pemuda itu dan kembali tampak sinar terima kasih dalam matanya.

“Dan bagaimana dengan... ibuku...?”

Setelah mengajukan pertanyaan ini, hati In Hong berdebar. Sungguh pun sekuat tenaga ia menekan perasaannya, akan tetapi ia takut bahwa kali ini kalau mendengar berita buruk tentang ibunya, dia takkan dapat menahan tangisnya lagi. Dia merasa amat gelisah dan takut.

“Itulah yang membingungkan kami, Hong-moy. Aku sudah mencari ke mana-mana, sudah menyebar kawan-kawan untuk menyelidiki, tapi ibumu hilang lenyap tanpa meninggalkan jejak. Benar-benar aneh sekali. Tak seorangpun tahu kemana perginya ibumu.”

Mendengar keterangan ini, hati In Hong tidak karuan rasanya. Ada perasaan lega bahwa ia tidak mendengar ibunya telah tewas, akan tetapi sekaligus ia menjadi bingung karena kemanakah ia harus mencari ibunya? Ketika ia memandang kepada pek-hunya, Yo Hang Tek berkata

“Yang aneh sekali adalah urusan Can Ma. Pelayan tua itu sudah sampai disini, dan dialah yang bercerita bahwa kau dibawa pergi oleh Hek Moli. Tapi baru kurang lebih setengah bulan sesudah ia berada disini, pada malam harinya tahu-tahu ia lenyap dari kamarnya! Tadinya kami mengira bahwa dia diculik pula oleh Hek Moli...”

“Tidak, guruku tidak pernah menculik Can Ma!” kata In Hong.

“Hm, memang aneh sekali, Hong-moy. Sayang aku masih kecil ketika hal itu terjadi. Kalau sekarang, agaknya penjahat yang menculik Can Ma itu akan dapat kutangkap!”

In Hong memandang kepada pemuda ini yang berdiri tegak sambil mengangkat dada, kelihatannya memang gagah sekali. Kembali hati In Hong bingung dan menduga-duga.

Siapakah yang telah menculik Can Ma? Ia pun menduga-duga dan otaknya yang cerdik bekerja keras. Tentu ada hubungannya dengan ibunya yang hilang, pikirnya, kalau tidak, siapakah yang mau menculik pelayan tua itu?

“Apakah Can Ma tidak diam-diam pergi dari rumah ini?” tanyanya.

“Tidak mungkin. Mengapa ia harus pergi minggat? Dan pula, ada tanda-tanda jendela dibongkar orang dari luar. Pasti ada yang menculiknya,” kata Yo Hang Tek.

Setelah semua orang berhenti bicara. kakek Yo batuk-batuk dan ia sudah merasa amat gemas karena ia tidak dapat mendengar percakapan itu dengan jelas. Suara batuk-batuk ini sudah dikenal baik oleh semua keluarga disitu. yakni bahwa si tua itu menghendaki supaya semua orang berhenti bercakap-cakap dan bubar.

“In Hong, sekarang kau sudah datang, itu bagus sekali. Kau harus tinggal disini dan tidak boleh keluar dari rumah. Tidak patut seorang gadis yang sudah remaja keluar dari rumah, terlihat oleh orang-orang lelaki yang bukan keluarganya! Biar pun kau sudah menjadi murid Hek Moli, aku tidak suka melihat kau berkeliaran di dunia luar rumah keluarga. Kau tinggal disini, belajar menyulam dan kerajinan tangan lain dari bibimu, dan kelak aku akan mencarikan calon jodoh yang baik untukmu.” Sesudah berkata demikian, kakek ini lantas menyedot huncwenya (pipa tembakaunya) dan melambaikan tangan menyuruh semua orang keluar dari situ.

Bukan main mendongkolnya hati In Hong. Ingin ia mendamprat kakek itu yang menghina gurunya, ingin ia berlari keluar dari rumah besar ini, karena untuk apakah ia tinggal lebih lama disitu kalau ayah bundanya, juga Can Ma tidak berada disitu.....?


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner