BAYANGAN BIDADARI : JILID-09


Bu Jin Ay tertawa-tawa dan ia melompat sambil menggerakkan kaki tangannya. Kuda tunggangan Lay Kiat kena dipukul kepalanya dan pecahlah kepala itu, sedangkan kuda tunggangan The Kwan tertendang dadanya, sehingga bunyi tulang-tulang patah dan kuda ini pun roboh binasa. Bu Jin Ay dengan enaknya menyeret tubuh dua ekor kuda itu dan melemparkannya kepada orang-orang dusun yang kini kebanjiran daging sehingga berlebih-lebihan!

“Indah sekali gerakan Lauw-siang-goat (Mencari sepasang bulan) itu!” terdengar orang memuji dan baru saja pujian ini habis, tubuh Pouw Cun yang tadinya masih nongkrong di atas kudanya, tahu-tahu telah berada di depan Bu Jin Ay!

Bu Jin Ay tercengang mendengar orang mengenal gerak tipunya ketika menghadapi dua lawannya tadi, maka ia memandang tajam. Juga In Hong diam-diam kagum, ternyata dugaannya tidak keliru. Baru melihat pertama kalinya saja ia tahu bahwa guru silat yang pendiam dan matanya seperti selalu mengantuk ini ternyata berpandaian paling tinggi di antara kawan-kawannya. Dia sendiri yang tidak mengenal ilmu silat Siauw-lim-pay secara mendalam, tidak dapat mengenal gerak tipu yang dipergunakan oleh Bu Jin Ay tadi, sungguh pun ia dapat melihatnya dengan jelas sekali.

“Ha, Yo Kang bocah Bu-tong-pay, ternyata ada juga pengiringmu yang mempunyai mata tajam!” kata Bu Jin Ay sambil memperhatikan guru silat yang datang dan tidak membawa senjata ini.

“Bu Jin Ay sicu benar-benar hebat kepandaiannya. Aku si tua lemah Pouw Cun yang melihat kelihayanmu, melupakan kebodohan sendiri dan hendak mencoba-coba. Biarlah kudaku kudermakan kepada orang-orang dusun yang tidak kenal kenyang itu,” katanya.

Sambil berkata demikian, Pouw Cu tiba-tiba membungkuk, memegang atau lebih tepat menyangga perut kudanya dan sekali ia berseru, kuda itu terlempar ke atas dan jatuh tepat di atas pohon yang banyak cabangnya sehingga kuda itu tertahan disitu, meronta-ronta dan meringkik-ringkik ketakutan, akan tetapi tentu saja tidak berani melompat turun, apa lagi memang ia tergantung sedemikian rupa sehingga keempat kakinya nyeplos di antara cabang-cabang!

“Orang-orang dusun boleh naik dan menurunkan kuda itu kalau aku sudah kalah olehmu, sicu,” katanya kepada Bu Jin Ay.

Menyaksikan demonstrasi tenaga lweekang yang hebat ini semua orang dusun meleletkan lidahnya. Diam-diam Yo Kang juga memuji karena ia tidak pernah mengira bahwa guru silat pembantunya yang terkenal pendiam tidak banyak omong ini ternyata lihay sekali, sungguh pun demonstrasi itu tidak meng-herankannya.

“Aha, Pouw-loenghiong benar-benar kuat sekali!” kata Bu Jin Ay, “mana bisa siauwte melawannya?” Akan tetapi biar pun mulutnya bicara demikian, namun tangan kakinya segera bergerak dan ia memasang kuda-kuda yang disebut Kwan-kong menarik busur. Inilah kuda-kuda seorang ahli lweekeh untuk menghadapi lawan yang memiliki tenaga lweekang yang tinggi pula.

Pouw Cun tersenyum. “Jangan sungkan-sungkan, sicu. Majulah!” Baru saja kata-katanya habis, tubuhnya sudah berkelebat maju dan ternyata ginkang-nya hebat juga.

Dalam jurus pertama saja, Pouw Cun telah menyerang dengan dua gerakan sekaligus! Serangan pertama merupakan totokan dengan jari tangan kanan ke arah leher, disusul oleh tusukan jari-jari kiri ke lambung dan kaki kanannya terbang menyusul menendang lutut lawan!

“Bagus, kiranya lo-enghiong dari Hoa-san-pay!” kata Bu Jin Ay dan cepat pula ia mengelak dari tendangan dengan menggeser kaki, miringkan kepala untuk mengelak dari totokan ke arah leher sedangkan tusukan kelambung dapat di-tangkisnya.

Dua lengan beradu dan Pouw Cun merasa lengannya sakit dan terpental mundur, sedangkan Bu Jin Ay seperti tidak merasa sesuatu! Pouw Cun penasaran sekali dan mendesak terus, akan tetapi Bu Jin Ay memperlihatkan kegesitan serta tenaga lweekang-nya yang memang masih menang tinggi. Tiap kali ia menangkis pukulan, Pouw Cun merasa lengannya sakit dan sebentar saja kedua lengannya telah merah-merah kulitnya!

Setelah membela diri selama dua puluh jurus, tiba-tiba terdengar Bu Jin Ay berseru “Maafkan, lo-enghiong, siauwte berlaku kasar!”

Pada saat itu, Pouw Cun mempergunakan gerak tipu Hoa-san soat-piauw (Salju melayang di Hoa-san), kedua tangannya bergantian memukul ke depan dengan gencarnya. Tiba-tiba kedua tangannya tertahan dan tahu-tahu kedua telapak tangannya telah menempel pada kedua telapak tangan lawannya!

Pouw Cun hendak menarik tangannya, akan tetapi ada tenaga dari telapak tangan Bu Jin Ay yang menyedot tangannya sehingga tangan itu menempel tak dapat dipisahkan lagi. Pouw Cun tahu bahwa lawannya hendak mengadu lweekang, maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan ambekan, mengempos semangatnya dan kedua lengannya sampai mengeluarkan suara berkeretakan ketika ia mendorong dengan sekuat tenaga untuk merobohkan lawannya.

Namun, tubuh Bu Jin Ay seperti batu karang kokohnya. Bahkan orang ini masih bisa mengeluarkan suara ketawa, tanda bahwa adu tenaga ini tidak memerlukan seluruh tenaganya! Kemudian, setelah tenaga Pouw Cun dikeluarkan seluruhnya, dengan mendadak Bu Jin Ay melompat ke samping sambil menarik tangannya.

Tak dapat dicegah lagi, terdorong oleh tenaganya sendiri, Pouw Cun terhuyung ke depan dan akhirnya ia terjungkal ke depan. Baiknya sebelum hidungnya mencium batu yang tentu akan membocorkan hidungnya Bu Jin Ay mengaitkan kakinya dan sekali sontek tubuh Pouw Cun tidak jadi roboh, melainkan berjumpalitan ke atas dan kauwsu ini dapat berdiri kembali. Mukanya sebentar merah sebentar pucat, akhirnya ia menghela napas dan berkata,

“Sudahlah, aku orang she Pouw tiada gunanya, perlu belajar sepuluh tahun lagi untuk dapat mengimbangimu. Ambillah kuda itu, aku mengaku kalah.”

Bu Jin Ay lalu menghampiri pohon dimana kuda itu masih tertahan. Sekali ia mengayun tangannya, terdengar suara keras dan pohon itu terkena dorongannya lalu tumbang bagaikan didorong oleh gajah. Kuda itu tentu saja ikut jatuh, akan tetapi Bu Jin Ay menyambar kakinya dan sebelum tubuh kuda itu terbanting, ia telah mengayun tubuh itu ke atas sehingga luput dari pada kematian. Sambil menuntun kuda yang gemetaran itu, Bu Jin Ay menghadapi Pouw Cun dan berkata dengan wajah sungguh-sungguh,

“Pouw-loenghiong, siauwte sungguh kagum kepadamu dan dengan rela hati siauwte mengembalikan kuda ini. Harap lo-enghiong sudi memberi maaf kepada siawtee yang berlaku kurang ajar tadi.”

In Hong makin kagum kepada orang itu yang ternyata bukanlah seorang kasar. Ternyata bahwa sekarang orang ini demikian sopan santun dan merendah. Ia benar-benar kagum dan menduga bahwa orang ini bukanlah seorang pendekar biasa. Makin ingin ia berkenalan dengan pendekar aneh ini.

Akan tetapi, ternyata bahwa biar pun pendiam, Pouw Cun adalah seorang yang berhati keras dan angkuh. Sekali ia berjanji, sampai mati ia tidak mau menarik kembali janjinya. Ia tersenyum pait, lalu menuntun kuda itu tanpa berkata sesuatu apa. Akan tetapi ia menuntun kuda itu kedekat orang-orang dusun, lalu tiba-tiba ia menghantam kepala kudanya sehingga pecah.

“Saudara-saudara yang amat membutuhkan daging ini, ambillah. Aku sudah berjanji untuk mendermakan milik yang tidak berharga ini!” Kemudian ia melompat kembali ke tempat kawan-kawannya.

Bu Jin Ay menarik napas panjang, lalu memandang kepada Yo Kang dan matanya mengharapkan agar pemuda ini tahu diri dan suka kembali, pergi dari situ.

“Seorang gagah berani berbuat berani bertanggung jawab dan tidak akan menyesali perbuatannya itu!” tiba-tiba terdengar suara yang lemah lembut dan merdu, oleh orang-orang lain terdengar perlahan saja akan tetapi pada telinga Bu Jin Ay amat menusuk dan keras sekali seperti bunyi guntur! “Air yang bersumber dari Sungai Huang-ho, mengalir kemanapun juga masih tetap hebat, dan kiranya Siauw-lim-si boleh diumpamakan Sungai Huang-ho yang besar dan megah!” Ucapan ini keluar dari mulut In Hong.

Yo Kang dan lima orang kauwsu, juga Cong-piauwsu memandang kepada In Hong dengan terheran-heran, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan mengira bahwa In Hong telah lancang begitu saja, bersikap seakan-akan mengerti urusan kangouw.

Akan tetapi, Bu Jin Ay tiba-tiba memandang dengan mata memancarkan cahaya aneh dan kagum, juga tercengang sekali. Ia melangkah maju menghadapi kuda In Hong, lalu matanya terbelalak dan mulutnya teranganga.

Kedua tangannya bergerak menggosok-gosok matanya seakan-akan ia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, kemudian ia menggeleng-geleng kepala, lakunya seperti orang gendeng.

“Aku mengimpi...,” bisiknya perlahan.

Kemudian ia dapat menguasai perasaannya, menjura kepada In Hong dan berkata,

“Aku Bu Jin Ay benar-benar telah buta mataku. Nona cilik benar-benar bermata awas. Kau membawa pedang yang gagangnya demkian indah, terang pedang pusaka dan siapa yang berani membawa pedang pusaka, tentu lihay kiam-hoatnya. Nona cilik turunlah dari kudamu dan cabutlah pedangmu. Aku si bodoh yang bermata buta mohon pengajaran dari murid orang pandai.”

In Hong merengut. Ia tak senang berkali-kali disebut “nona cilik.”

“Kau bicara seperti kakek-kakek bongkok dan pikun!” bentaknya. “Usiaku sudah sembilan belas tahun, kau masih mau membadut mengatakan aku nona cilik?” Ia tetap di atas kudanya dan tidak mencabut pedangnya.

Bu Jin Ay memandang dan ia tersenyum, matanya berseri-seri, kelihatannya gembira sekali.

“Maaf, kiranya kau seorang cian-kim-siocia yang cantik dan gagah. Maafkan aku, dan sekarang, setelah kau mengeluarkan ucapan, apakah kau juga hendak mendermakan kudamu?”

“Biar pun orang Siauw-lim-pay, akan mengerti juga bahwa seorang gagah mempunyai rasa setia kawan. Kalau lima orang lo-kauwsu sudah mengorbankan kuda mereka, mengapa aku tidak? Sebaliknya, merampas kuda tunggangan seorang yang melakukan perjalanan jauh, hanya untuk memenuhi selera orang-orang yang sedang kelaparan, benar-benar tak dapat dikatakan menyenangkan hati.”

Mendengar ini, Bu Jin Ay menoleh kepada orang-orang dusun yang telah mendapat daging kuda sebanyak itu, lalu berkata,

“Hee! Kau dengar kata-kata nona gagah ini? Jangan habiskan daging-daging itu sekadar memenuhi selera kalian, akan tetapi keringkanlah agar dapat dipergunakan di hari-hari berikutnya. Jangan berpesta pora hari ini untuk kelaparan besok harinya!”

Kemudian ia menghadapi In Hong sambil berkata “Nona, setelah kau tiba disini dan mengeluarkan kata-kata, tak dapat tidak kita berdua harus main-main sebentar!”

“Kau turunkan aku dari kuda kalau kau dapat, dan kau boleh ambil kuda ini kalau kau bisa!”

In Hong menantang tanpa turun dari kudanya, juga tidak mencabut pedangnya. Sikapnya biasa dan anehnya wajahnya berseri-seri memandang kepada Bu Jin Ay, seakan-akan ia tengah bersenda gurau dengan orang gagah yang aneh itu.

“Begitukah? Kau anak nakal, kaukira aku tidak bisa melakukan itu? Awas, bersiaplah kau! Jawab Bu Jin Ay dengan sepasang mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum. Dengan langkah tenang ia lalu menghampiri In Hong yang masih duduk di atas punggung kudanya.

Akan tetapi, sebelum Bu Jin Ay turun tangan, tiba-tiba Yo Kang melompat turun dari kudanya dengan golok di tangan. Ia cepat melompat di depan In Hong dan menghadang orang aneh itu, melindungi In Hong.

“Harap kau jangan mengganggu adik misanku! Hong-moy, jangan kau main-main dengan dia yang lihay dan berbahaya!”

Bu Jin Ay memandang tajam kepada Yo Kang, “Aku dan nona itu mau main-main sebentar, mengapa kau turut campur? Kau mau apakah?”

Yo Kang sudah maklum akan kelihayan orang aneh ini, maka ia tidak berani herlaku kasar. Sambil berdiri tegak di depan kuda In Hong, dan goloknya dilintangkan di depan dada, ia menjawab,

“Si kuat mengganggu si lemah, itulah bukan perbuatan seorang hohan (orang gagah). Kalau adik misanku telah mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu, biarlah aku Yo Kang yang menebus dosanya. Kau telah mengalahkan lima orang pembantuku dan merampas kuda mereka, biarlah kau sekarang memberi pelajaran padaku dan kalau perlu, jangan hanya kuda, biar nyawaku aku sediakan untuk membela nama dan membela adik misanku ini.”

Ucapan Yo Kang ini memang gagah dan In Hong diam-diam merasa terharu. Tak disangkanya bahwa pemuda yang terlahir dikeluarga kaya itu, ternyata memiliki kegagahan yang lebih berharga dari pada seluruh harta kakek Yo Tang! Dan yang membuat ia terharu adalah cinta kasih pemuda ini terhadapnya yang kini telah dibuktikan dengan perlindungannya yang dimodali nyawa, sungguh pun Yo Kang tahu bahwa kepandaian orang aneh itu tinggi sekali.

Bu Jin Ay tertawa bergelak, lalu berkata, “Cinta membikin orang buta dan gila, akan tetapi tanpa cinta kasih, hiduppun tidak berguna! Anak muda, kau mau memamerkan ilmu golokmu? Marilah!” Sambil berkata demikian, orang aneh ini lalu menyerang, menerjang maju dengan tangan kanan mencengkeram kepada Yo Tang dan tangan kiri menyambar ke arah gagang golok untuk merampasnya.

Yo Kang sudah bersiap-siap, maka melihat datangnya serangan hebat ini, ia cepat melompat ke kiri dan membabat dengan goloknya ke arah lengan kiri, kemudian bebatan itu diteruskan dengan tusukan ke arah lambung lawannya.

“Bagus!” Bu Jin Ay berseru keras sekali sehingga kuda yang ditunggangi In Hong menjadi terkejut dan gelisah. Terpaksa In Hong menarik kendali kudanya dan membuat binatang itu melangkah mundur, menjauhi tempat pertempuran sampai kira-kira dua tombak dan dari situ ia menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.

Ilmu golok dari Yo Kang adalah ilmugolok dari Bu-tong-pay asli. Lima orang guru silat itu biar pun telah mempelajari ilmu silat bermacam-macam dan sudah pula mempunyai pengalaman bertempur, namun dibandingkan dengan Yo Kang, masih kalah.

Hal ini adalah karena biar pun Yo Kang hanya mempelajari satu macam ilmu silat, namun yang ia pelajari adalah ilmu silat asli dari perguruan yang besar, sehingga ia dapat memetik sarinya dan ilmugoloknya benar-benar tidak boleh dipandang rendah. Goloknya berkelebat-kelebat bagaikan seekor naga mengamuk dan mata golok itu tergetar selalu sehingga kalau dipandang seperti lebih dari satu golok yang dipegangnya.

Menghadapi ilmugolok asli dari Bu-tong-pay yang dimainkan dengan hebatnya oleh Yo Kang, orang aneh itu nampak terdesak. Namun anehnya, Bu Jin Ay tidak mau mencabut pedangnya dan hanya menghadapi golok itu dengan kedua tangan kosong.

Memang ia amat gesit, namun golok ditangan Yo Kang tentu saja lebih cepat gerakannya dari pada gerakan orang mengelak sehingga golok itu terus menyambar-nyambar mengancam lawan. Yang mengagumkan sekali, kadang-kadang kalau ia sudah kehabisan waktu untuk mengelak, Bu Jin Ay dengan berani sekali mengibaskan tangan dan jari-jari tangannya menyentil golok itu sehingga terpental dan tidak jadi melukainya!

In Hong kagum sekali dan ia maklum bahwa Yo Kang takkan dapat memperoleh kemenangan, bahkan orang aneh itu sudah berlaku terlalu mengalah kepadanya. Kalau orang aneh itu mau mengeluarkan senjatanya, sudah dapat diduga bahwa dalam beberapa jurus saja Yo Kang akan roboh. Kalau dilihat-lihat, orang aneh itu seakan-akan hanya menguji sampai dimana kehebatan ilmu golok Yo Kang yang memang cukup baik dan patut dipuji.

Akan tetapi, tidak demikian pendapat Yo Kang. Pemuda ini merasa penasaran dan marah sekali melihat lawannya hanya menghadapi dengan tangan kosong. Inilah penghinaan hebat baginya. Belum pernah selama hidupnya goloknya yang membuat namanya amat terkenal dengan sebutan Bu-tong Sin-to (Golok sakti dari Bu-tong-pay) itu dihadapi orang dalam pertempuran dengan tangan kosong belaka!

Apa lagi ia selalu berada dipihak yang mendesak, hatinya menjadi besar dan timbul nafsunya untuk mengalahkan atau merobohkan orang aneh ini, sungguh pun ia tidak mempunyai niat dihati untuk membunuhnya. Maka setelah tiga puluh jurus lewat belum juga ia dapat melukai Bu Jin Ay, ia menjadi penasaran sekali dan memutar goloknya lebih cepat lagi.

Bu Jin Ay agaknya sudah merasa puas. Melihat gerakan pemuda itu makin mengganas, ia tertawa bergelak dan berkata, “Yo-kongcu, kau betul-betul tidak mengecewakan telah mempelajari ilmu golok dari Bu-tong-pay. Untuk kepandaianmu yang kau pelajari amat baiknya ini, biarlah aku mengalah dan tidak jadi mengambil kudamu!”

Sambil berkata demikian, Bu Jin Ay melompat ke belakang menjauhi Yo Kang. Kata-katanya ini jelas menyatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pertempurannya dengan Yo Kang.

Akan tetapi Yo Kang merasa penasaran dan gemas sekali. Tidak saja ia belum dapat merobohkan lawannya, bahkan kata-kata lawannya itu terang sekali menyatakan bahwa lawan tadi merasa diri jauh lebih unggul dan sengaja mengalah! Darah mudanya tidak membiarkan ia sudah begitu saja sebelum ada keputusan siapa kalah siapa menang, maka ia menubruk maju dan menyerang lagi dengan hebatnya.

“Aku masih belum kalah!” katanya penasaran.

Marahlah Bu Jin Ay. “Anak muda kepala batu! Jadi kau ingin sekali roboh olehku? Mudah saja, bocah. Awaslah pedangku!” Tanpa dapat terlihat oleh Yo Kang saking cepatnya gerakan tangan Bu Jin Ay, tahu-tahu tangan kanan orang aneh itu telah memegang pedang yang tajam dan terdengar suara “Traang!” yang nyaring sekali ketika golok Yo Kang beradu dengan pedang.

Yo Kang merasa telapak tangannya tergetar hebat dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan. Akan tetapi dasar ia masih muda dan berdarah panas, ia tidak mau mundur dan bagaikan seekor harimau muda ia menubruk lagi sambil menyerang dengan goloknya.

Bu Jin Ay menangkis lagi dan kali ini setelah menangkis, pedangnya itu langsung meluncur ke depan, ke arah muka Yo Kang! Yo Kang yang kena ditangkis goloknya sehingga mental ke bawah, berlaku nekad. Ia membiarkan pedang lawan melayang kemukanya dan sebagai pembalasan, ia juga menggerakkan goloknya dari bawah menyabet pinggang lawannya! Gerakan ini cepat dan hebat sekali sehingga kalau pedang itu mengenai muka Yo Kang. agaknya goloknyapun akan berhasil membabat pinggang Bu Jin Ay.

“Celaka...” In Hong mengeluh dalam hatinya. Ia tidak mengira bahwa Yo Kang begitu bodoh dan nekad sehingga dalam pertempuran yang tidak berdasarkan permusuhan itu ia mau mengadu jiwa.

Ia tidak kenal siapa adanya Bu Jin Ay itu, yang baru dilihatnya sekarang, biar pun ia tertarik dan suka melihat sikap orang gagah ini, namun orang itu bukan apa-apa baginya. Sebaliknya, Yo Kang adalah kakak-misannya, maka betapa pun juga, ia harus membantu Yo Kang, melepaskan pemuda itu dari ancaman maut yang agaknya sudah tak dapat dielakan lagi.

Sinar hitam meluncur dari tangan gadis ini tanpa ada orang yang melihatnya. Para kauwsu sedang asik menonton pertempuran, maka siapakah yang memperhatikan gadis di atas kudanya itu?

Ketika sinar hitam yang meluncur dari tangan In Hong itu tiba di tempat pertempuran, dua orang yang sedang bertempur berseru kaget. Bu Jin Ay kaget sekali ketika tiba-tiba pedangnya terpental seakan-akan terbentur oleh sesuatu. Sekelebatan ia melihat sinar hitam yang aneh sekali namun amat kuatnya. Sedangkan Yo Kang kaget bukan main karena tiba-tiba Bu Jin Ay mengangkat kaki menendang goloknya sehingga golok itu terpental dan terlepas dari pegangannya!

Yo Kang tidak berdaya lagi dan Bu Jin Ay amat marah melihat ada sinar hitam membentur pedangnya tadi. Ia tahu bahwa ada orang membantu Yo Kang, orang yang pandai sekali. Hal ini mendatangkan penasaran dan marah besar, maka setelah ia berhasil menendang golok Yo Kang sehingga terlepas, ia lalu menggerakkan pedang ke arah telinga pemuda itu untuk memotong telinga sebelah kanan!

Bukan main marah dan ngerinya hati In Hong melihat gerakan ini. Ia tahu bahwa kalau ia tidak turun tangan, Yo Kang tentu akan kehilangan telinga kanannya. Maka, seperti tadi pula, ia mengayun tangan dan sinar hitam menyambar. Kini bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus!

Sebetulnya, Bu Jin Ay tidak begitu keji untuk membuntungi telinga pemuda tampan itu. Ia sengaja melakukan hal ini untuk memancing keluar orang yang membantu Yo Kang. Kalau melihat Yo Kang terancam bahaya, tentu orang itu akan turun tangan lagi.

Pancingannya berhasil, karena kini tiga sinar hitam menyerangnya, satu ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, yang datang terdahulu dan cepat sekali, kedua menyerang ke arah jalan darah dipundaknya dan ketiga menyerang lambung!

Bu Jin Ay kaget sekali, bukan saja karena hebatnya serangan sinar hitam ini, akan tetapi lebih kaget melihat bahwa yang melepas sinar-sinar hitam itu adalah nona muda yang duduk di atas kuda! Rasa kaget ini membuat ia termangu dan agak memperlambat gerakannya.

Ia dapat menarik tangan yang memegang pedang sehingga terluput dari sambaran sinar hitam, dan karena serangan sinar hitam pada lambung dan pundak datang berbareng, ia pikir yang menyerang lambung lebih berbahaya, maka ia menyampoknya dengan ujung lengan baju kiri dan mencoba untuk mengelak sinar hitam yang menotok pundak.

Akan tetapi, pada saat ia terancam bahaya, Yo Kang tidak tinggal diam. Pemuda ini setelah goloknya terlepas, lalu menggunakan tangan kiri memukul dada lawannya.

“Buk!”

Bu Jin Ay terhuyung mundur dan mukanya berobah. Bagi orang lain, juga bagi Yo Kang, dikira bahwa jago aneh itu terhuyung karena pukulan Yo Kang. Akan tetapi sesungguhnya, lweekang dari Bu Jin Ay sudah sedemikian tingginya sehingga pukulan itu hanya mendatangkan sedikit rasa sakit pada dadanya, namun tidak mendatangkan luka berat. Yang hebat adalah serangan sinar hitam itu, karena tadi ketika ia mengelak, gerakannya kurang cepat dan ujung pangkal lengan dekat pundak masih terkena sinar hitam itu dan mendatangkan rasa ngilu dan perih!

Sinar hitam itu adalah kepandaian tunggal dari Hek Moli yang diturunkan kepada muridnya, yakni senjata rahasia berupa bubuk pasir hitam yang luar biasa lihaynya. Sekali mengenai kulit, pasir hitam ini akan menembus dan meresap ke dalam jaringan darah dibawah daging!

Bu Jin Ay tersenyum pait. Ia memandang kepada Yo Kang dan berkata, “Aku si bodoh terima kalah!” Kemudian ia menghadap kepada In Hong sambil bertanya,

“Nona, beritahukan namamu!”

In Hong merasa terkejut dan juga menyesal. Tadi ia menyerang orang itu karena mengkhawatirkan keselamatan Yo Kang, akan tetapi melihat cara Bu Jin Ay menarik tangannya, tahulah ia bahwa sambaran pedang ke arah telinga Yo Kang hanya gertak belaka, jadi orang itu tidak sungguh-sungguh hendak membuntungi telinga Yo Kang.

Ia menyesal sekali karena melihat pasir hitamnya telah melukai pundak Bu Jin Ay, dan ia maklum bahwa hal itu amat berbahaya bagi keselamatan orang gagah yang aneh itu.

“Namaku? Aku... aku... sebut saja aku Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti). Aku mempunyai obat untuk menyembuhkan lukamu...”

Akan tetapi, Bu Jin Ay sudah melompat jauh sekali dan berlari pergi, terdengar suara ketawanya dan suaranya lapat-lapat terdengar oleh In Hong, sungguh pun tidak terdengar oleh orang lain, “Namanya Put Hauw Li... sungguh aneh... airmukanya sama benar... kepandaiannya lihay... aahh...” Dan sebentar saja bayangan orang aneh itu lenyap.

Lima orang kauwsu menghampiri Yo Kang dan dengan muka merah The Sun berkata, “Yo-kongcu, kepandaianmu tinggi sekali sehingga kau berhasil dapat mengusirnya. Kami orang-orang tua tidak berguna, percuma saja mengawanimu.”

“Aah, kepandaianku tidak seberapa, The-kauwsu, hanya orang aneh itu yang berlaku mengalah. Sayang sekali bahwa ngo-wi yang mencari perkara dengan dia. Sekarang kuda kita tinggal dua lagi, bagaimana baiknya?”

In Hong majukan kudanya. “Yo-twako, kau mencari Wu Wi Thaysu bukan untuk bertempur, mengapa harus mencari kawan? Karena kuda yang masih ada hanya kudamu dan kudaku, marilah kita berdua saja mencari tosu itu.”

“Benar kata Kwee-lihiap,” kata Pouw Cun, karena guru ini setengah dapat menduga akan kelihayan In Hong, “biarlah kami berlima kembali jalan kaki, hitung-hitung untuk menebus dosa.”

Terpaksa Yo Kang menyetujui hal ini dan ia lalu pergi bersama In Hong, membalapkan kuda menuju ke dusun di depan setelah mendapat petunjuk dari Cong-piauwsu dimana tempatnya dusun yang pernah mencoba untuk merampas kereta berisi gandum.

Setelah mengalami pertempuran dengan Bu Jin Ay yang aneh, Yo Kang tidak berani berlaku sembrono lagi. Di dusun yang dimaksudkan, ia berlaku ramah-tamah dan halus, menanyakan kepada mereka dimana adanya Wu Wi Thaysu, seakan-akan seorang sahabat hendak mencari orang tua itu.

Ia mendapat keterangan bahwa Wu Wi Thaysu sedang berada di dusun yang sepuluh lie jauhnya dari situ, membawa kereta berisi bahan obat untuk menolong orang-orang yang sedang diamuk penyakit-penyakit panas, dan kebetulan sekali bahan obat yang dikirim oleh Yo Kang adalah obat untuk menyembuhkan penyakit demam panas.

Mereka akhirnya mendapatkan Wu Wi Thaysu sedang membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun sambil memberi penjelasan cara memasak dan meminumnya. Melihat kedatangan dua orang muda ini, tosu yang sudah tua itu lalu mengoperkan pekerjaannya kepada seorang dusun yang sudah tua pula, dan ia menyambut Yo Kang.

“Wu Wi Locianpwe, maafkan boanpwe Yo Kang datang mengganggu pekerjaan locianpwe yang mulia, membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun,” kata Yo Kang.

“Ha, Yo-sicu datang-datang menyindir. Memang obat-obat itu tadinya milikmu yang kurampas dari orang-orangmu. Kau tentu datang untuk menagih, bukan?”

“Tidak, locianpwe, hanya boanpwe mohon kepada locianpwe agar suka berjanji bahwa pengiriman-pengiriman selanjutnya takkan mendapat gangguan.”

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya sehingga jenggotnya berkibar-kibar. “Tidak bisa, tidak bisa. Pinto boleh berjanji, akan tetapi bagaimana dengan mereka yang membutuhkannya?”

Yo Kang mulai tidak senang. “Locianpwe benar-benar keterlaluan. Boanpwe adalah seorang pedagang, kalau terus menerus diganggu, bukankah perdagangan boanpwe bisa bangkrut?”

Mendengar ini, In Hong merasa kecewa. Sedikit banyak, pemuda ini sudah ketularan watak kakeknya, menganggap soal untung dan harta benda sebagai soal terpenting.

“Sudahlah, Yo-sicu. Pinto selamanya tidak mau hutang, kali ini hutang tujuh kereta, tentu akan pinto bayar pula. Karena pinto tidak beruang, dan tidak punya apa-apa, maka pinto hendak menukarnya dengan tujuh petunjuk ilmu silat agar Bu-tong-to-hwat (Ilmu golok Bu-tong-pay) yang kau pelajari bisa makin baik.”

Mendengar ini, Yo Kang merasa girang juga. Memang pemuda ini setelah mengalami kekalahan dari Bu Jin Ay yang aneh dan kemudian ia mendapatkan kemenangan yang aneh pula, ia merasa kecewa. Kalau tokoh besar Go-bi-pay ini mau mengajarnya dengan tujuan petunjuk, hal itu baik sekali. Memang ia pun tidak menghendaki pembayaran hutang, karena bagaimanakah tosu ini dapat membayar harga dari tujuh kereta barang itu?

“Terima kasih atas kemurahan hati locianpwe,” katanya.

“Nah, cabutlah golokmu. Ingat baik-baik, ambil tujuh jurus penyerangan ilmu golokmu yang paling lihay dan pergunakan itu untuk menyerangku!”

Mendengar ini, Yo Kang tertegun. Ia menyangka akan mendapat pelajaran ilmu silat, tapi mengapa ia justru harus menyerang kakek itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner