BAYANGAN BIDADARI : JILID-10


“Jangan ragu-ragu, Yo-sicu. Jika kau sampai berhasil melukai atau bahkan membunuhku, itu juga merupakan pembayaran yang baik sekali. Tujuh kereta bahan makanan dan obat, yang menolong ratusan nyawa orang, diganti dengan cucuran darah pinto yang sudah tua bangka atau dengan jiwa pinto yang sudah bosan dikurung di tubuh bobrok ini, bukankah itu baik sekali? Sebaliknya kalau golokmu tidak berhasil, kau akan mendapat tambahan pelajaran yang amat berguna bagimu kelak.”

Akan tetapi Yo Kang tetap saja ragu-ragu, apa lagi kalau ia ingat bahwa In Hong berada disitu. Ia tak mau gadis itu akan mencelanya dan menganggapnya keterlaluan menyerang seorang kakek dengan goloknya, apa lagi menggunakan jurus-jurus terlihay dari Bu-tong-to-hwat. Tak terasa lagi ia menoleh kepada In Hong, seperti minta nasihat.

“Yo-twako, Wu Wi Totiang telah bermurah hati kepadamu, mengapa kau ragu-ragu untuk menerimanya? Lekas serang dia!” kata gadis ini.

Kini Yo Kang mengambil keputusan tetap. Peraturan ‘membayar hutang’ ini ditetapkan oleh tosu itu sendiri, bahkan In Hong juga menyetujui, maka kelak ia takkan mendapat nama buruk.

“Siaplah, locianpwe, jurus penyerangan pertama boanpwe lakukan!” katanya dan setelah memutar golok, ia lalu menyerang dengan gerak tipu See-ceng-pay-hud (See-ceng sembah Buddha). Inilah jurus penyerangan yang amat lihay dari Bu-tong-pay dan kalau lawan tidak berkepandaian tinggi, sukarlah menghindarkan diri dari serangan golok ini. Sebelum golok menusuk ke dada, lebih dulu tangan kiri menyelok ke arah perut lawan untuk mengacaukan pertahanan dan golok menyusul dengan kecepatan kilat.

Wu Wi Thaysu bergerak lambat sekali, seakan-akan orang sedang bermain-main. Akan tetapi, ketika golok itu meluncur ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menggeser kaki ke kiri dan sekali tangannya berkelebat ke depan, sambungan siku tangan Yo Kang yang memegang golok telah kena disentil sehingga lengan itu gemetar dan goloknya terlepas dari pegangan!

“Ambillah golokmu, Yo-sicu dan lakukan penyeranganmu yang kedua,” kata tosu itu sambil tersenyum tenang.

Muka Yo Kang merah sekali. Ia merasa dipermainkan oleh tosu ini. Katanya hendak mengajar silat, akan tetapi ia disuruh menyerang dan kemudian dikalahkan dalam segebrakan saja, bukankah ia sengaja hendak mempamerkan kepandaian dan sengaja hendak menghinanya?

Saking malunya ia menjadi marah. Ia mengambil goloknya dan sambil berseru keras ia melakukan serangan yang kedua, kini ia menggunakan gerak tipu Liong-bun-kwa-hi (Dipintu naga tunggang ikan). Serangan ini bahkan lebih hebat dari pada serangan pertama. Golok mula-mula diputar merupakan gulungan sinar bundar lebar di depan tosu itu, kemudian tiba-tiba tubuh Yo Kang melompat tinggi dan golok itu dari bawah perutnya ditusukkan ke depan, ke arah leher tosu itu.

Seperti tadi, Wu Wi Thaysu bergerak perlahan sekali, akan tetapi setelah serangan tiba, ia cepat mengangkat kaki, mencokel jalan darah di mata kaki Yo Kang sehingga tubuh pemuda itu terapung makin tinggi dan kakinya yang ditowel itu menjadi lumpuh, dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, goloknya kembali kena dirampas. Ketika ia turun lagi, kakinya tidak dapat berdiri lalu jatuh terguling!

Kalau tadi muka Yo Kang hanya merah saja, sekarang menjadi pucat. Ia hampir menangis saking malu dan mendongkolnya.

“Totiang, kau terlalu menghinaku...!” katanya marah sekali.

“Yo-twako, bagaimana sih kau ini? Wu Wi Totiang telah memberi pelajaran dan petunjuk yang begitu sempurna, mengapa kau marah? Seranganmu yang pertama tadi, tangan kirimu terlalu ke depan dan kalau menjaga siku kanan, bukankah penyerangan itu baik sekali dan kau takkan kalah? Dalam penyerangan kedua, seharusnya kau mengangkat tinggi kakimu sehingga tidak terbentang, kalau begitu, bukankah Wu Wi Totiang takkan dapat merobohkanmu?” tiba-tiba In Hong berkata dengan suara girang.

Yo Kang terkejut bukan main. Kini terbukalah matanya. Benar-benar tosu itu telah memberi petunjuk yang amat baik!

Di dalam kegembiraannya karena baru sekarang ia tahu akan maksud Wu Wi Thaysu menghadapi serangan-serangannya dan menjatuhkannya, maka Yo Kang tidak menaruh perhatian mengapa In Hong bisa tahu akan hal ini! Yo Kang tidak mempedulikan lagi betapa ia jatuh bangun, cepat ia maju menyerang dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu goloknya Bu-tong To-hwat.

Namun, tosu tua itu benar-benar lihay sekali. Yo Kang tidak berani menganggap bahwa ia terpandai dan ilmu goloknya tidak ada yang dapat melawan, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa ada orang yang sanggup menghadapi goloknya hanya dengan tangan kosong belaka. Lebih hebat lagi, setiap jurus dari serangannya pasti dihancurkan oleh Wu Wi Thaysu, diketahui bagian yang lemah dan ia dirobohkan.

Sampai tujuh kali Yo Kang menyerang dengan jurus-jurus terlihay, dan tujuh kali pula ia tak berdaya, bahkan pada jurus ketujuh ia terlempar sampai tiga tombak lebih dan kepalanya benjol-benjol!

Akan tetapi pemuda ini, dengan terpincang-pincang menghampiri Wu Wi Thaysu dan menjatuhkan diri berlutut. Ia bukan seorang bodoh dan pada tiap penyerangan tadi, ia memperhatikan sekali bagaimana ia sampai roboh. Memang Wu Wi Thaysu bergerak lambat dan sengaja memberi petunjuk, sehingga Yo Kang tahu bagian mana dari penyerangan tadi yang kurang sempurna dan “terbuka.”

Dengan pengalaman ini, tujuh jurus ilmu goloknya yang pilihan menjadi sempurna dan dia dapat memperbaiki jurus-jurus ini sehingga tidak lagi terdapat lowongan yang membahayakan dirinya sendiri. Memang, inilah petunjuk yang jauh lebih bermanfaat dari pada kalau ia menerima pelajaran ilmu silat lain.

“Totiang, teecu menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk totiang yang amat berharga tadi,” katanya.

Akan tetapi Wu Wi Thaysu tidak mempedulikannya, hanya mengebutkan lengan baju sambil berkata, “Sudahlah, itu untungmu kalau kau mengerti, akan tetapi kalau tidak ada nona ini, agaknya kau akan menderita kerugian besar.” Tosu tua itu memandang kepada In Hong dengan pandang mata curiga. “Tidak tahu siapakah nona yang begini muda akan tetapi memiliki mata yang amat awas?”

In Hong tersenyum dan menjura untuk memberi hormat kepada tosu itu.

“Wu Wi Totiang, urusan Yo-twako denganmu telah beres dan hutang pihutang itu telah dilunaskan. Memang tadinya aku hanya ikut saja dengan Yo-twako, akan tetapi setelah bertemu dengan kau orang tua dari Go-bi-pay, tak dapat tidak aku yang muda harus mohon sedikit keterangan tentang seorang tosu kurang ajar yang bernama Tek Seng Cu!”

Berubah muka Wu Wi Thaysu mendengar kata-kata ini, sedangkan Yo Kang yang sudah bangkit berdiri, memandang kepada In Hong dengan heran.

“Nona, kau siapakah dan ada urusan apakah kau dengan Tek Seng Cu?”

In Hong tersenyum dan kini senyumnya mengejek. “Wu Wi Totiang, salahkah dugaanku kalau aku katakan bahwa Tek Seng Cu manusia tak tahu diri itu adalah murid dari Go-bi-pay? Harap totiang tidak menyembunyikan dia dari aku yang muda dan yang mengharapkan penjelasan totiang.”

“Hong-moy, jangan kau kurang ajar terhadap locianpwe dari Go-bi-pay!” Yo Kang berseru karena ia merasa khawatir sekali melihat sikap In Hong. “Wu Wi Thay-suhu, mohon maaf sebesarnya atas kelancangan mulut adik misan teecu ini. Dia bernama Kwee In Hong dan dia...”

“Cukup, Yo-twako. Tak perlu kau mencampuri, ini bukan urusanmu, melainkan urusanku pribadi dengan pihak Go-bi-pay,” kata In Hong ketus sehingga Yo Kang terkejut melihat sikap yang baru baginya ini.

Kemudian gadis itu menghadapi Wu Wi Thaysu kembali dan berkata, “Nah, totiang, kau sudah mengetahui namaku. Bagaimana, apakah kau sudah bersedia untuk memberitahu kepadaku, dimana adanya Tek Seng Cu itu dan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?”

Wu Wi Thaysu menjadi mendongkol juga. Tek Seng Cu adalah cucu muridnya dan menjadi anak murid Go-bi-pay. Betapa pun juga, urusan dengan Tek Seng Cu berarti urusan dengan Go-bi-pay dan urusannya juga, maka mau tidak mau ia harus membelanya.

“Nona, kau masih begini muda akan tetapi sikapnya keras mendesak, menandakan bahwa kau memiliki kepandaian dan menyombongkan kepandaianmu itu. Tek Seng Cu adalah murid Go-bi-pay dan urusan dia tak perlu diketahui oleh orang luar. Segala sesuatu yang menyangkut diri seorang murid Go-bi-pay, adalah urusan kami sendiri dan kami pula yang akan membereskannya. Orang luar tak perlu tahu!”

Sepasang mata yang indah itu mulai berkilat dan kalau orang tahu akan kebiasan In Hong, ia akan mengerti bahwa inilah tanda kemarahan dari gadis itu. Ia melangkah maju dan berkata, suaranya menantang,

“Wu Wi Totiang, aku yang muda dan bodoh sudah mendengar bahwa kau adalah tokoh kedua dari Go-bi-pay, dengan kepandaianmu yang tinggi menjulang kelangit. Tadipun sudah kusaksikan sendiri kelihayanmu, maka biarlah aku melupakan dalam ilmu pukulan darimu. Kalau aku kalah, sudahlah, kau boleh berbuat apa yang kausuka. Akan tetapi kalau kau mengalah dan tidak mau menjatuhkan aku, terpaksa aku mendesak terus dan kau harus memberitahu kepadaku perihal urusan Tek Seng Cu!”

Inilah kata-kata yang mengandung tantangan. Gadis yang begini muda berani menantangnya dan bertaruh kalau ia kalah supaya memberitahu tentang Tek Seng Cu, alangkah beraninya.

“Hong-moy...! Apakah kau sudah gila...?”

In Hong menoleh. “Mungkin juga, Yo-twako. Akan tetapi kunasihatkan agar supaya kau menjauhkan diri dan menonton saja dari jauh kalau kau tidak ingin dibikin terjungkir balik oleh Wu Wi Totiang yang lihay!”

Wu Wi Thaysu sudah dapat dibakar hatinya dan ia mendelik ke arah Yo Kang. “Orang muda, minggirlah dan jangan ikut-ikut!”

Yo Kang terkejut sekali dan cepat ia menuntun kudanya dan kuda In Hong, menuju ke sebatang pohon dimana ia mengikatkan kedua kuda, lalu berdiri bengong memandang ke arah dua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Hati Yo Kang berdebar dan ia masih mengira bahwa In Hong terlalu ceroboh dan berani mati. Apa sih kepandaian gadis itu sehingga berani bersikap demikian kurang ajar terhadap Wu Wi Thaysu yang tadi telah membuktikan bahwa kepandaiannya amat tinggi?

“Nona kau benar-benar memiliki keberanian besar sekali. Siapakah gurumu?”

In Hong tersenyum lagi, senyum yang mengandung ancaman. “Totiang, biarlah keterangan tentang guruku ini pun kujadikan taruhan. Kalau aku kalah, baru aku akan memperkenalkan siapa guruku, sebaliknya kalau kau tak dapat mengalahkan aku, kau harus memberitahu tentang Tek Seng Cu. Bukankah ini sudah adil sekali?”

“Bagus! Kau majulah, dan jangan anggap aku seorang tua yang keterlaluan mau melayani seorang muda. Ini adalah kau sendiri yang mencari dan kau sendiri yang mendesakku. Agaknya kau terlampau dimanja dan biarlah hitung-hitung pinto memberi hajaran kepada seorang gadis manja!”

In Hong tersenyum geli. “Awaslah, totiang, aku yang muda dan bodoh hendak menyerang lebih dulu,” Baru saja kata-kata ini berhenti, tubuh In Hong sudah berkelebat maju dan melakukan serangan yang amat cepat gerakannya.

Hek Moli adalah seorang iblis wanita yang ganas dan ilmu silatnya pun selain aneh, amat ganas sifatnya. Maka serangan dari In Hong ini tidak berbeda dengan gurunya, cepat kuat dan ganas sekali.

Tadinya Wu Wi Thaysu sebagai tokoh besar di dunia persilatan, dan sebagai tokoh kedua dari Go-bi-pay, tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada gadis yang begini muda, maka ketika In Hong hendak bergerak maju, ia telah terlanjur berkata,

“Majulah, kalau dalam dua puluh jurus pinto belum dapat mengalahkan, anggap saja kalah...”

Namun kata-katanya terputus ketika tiba-tiba bayangan In Hong, berkelebat dan tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Dengan tubuh masih terapung ketika melompat tadi, In Hong sudah mengirim tendangan berantai dengan kedua kaki, tangan kanannya menotok leher, jadi sekaligus, dengan bertubi-tubi, gadis ini telah mengirim tiga macam serangan!

Bukan-main kagetnya Wu Wi Thaysu. Ia sampai mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat ia melompat ke kiri untuk menghindarkan tendangan berantai, dan melihat tangan kanan gadis itu dengan cepat meluncur, mengejar lehernya untuk ditotok, ia segera mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menangkis.

Kibasan ini adalah ilmu silat tinggi dari Go-bi-pay yang disebut Siu-te-kiat-ciang (Dibawah tangan baju memotong tangan) dan lihaynya bukan main. Biar pun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang tingkat tinggi, cukup kuat untuk mematahkan pergelangan lengan lawan!

Namun, apa yang terjadi? Terdengar suara “brett!” dan bukan pergelangan lengan kanan In Hong yang terpukul oleh ujung lengan baju, bahkan gadis itu cepat sekali menarik tangan kanan dan tangan kirinya yang sudah siap sedia itu mencengkeram dan sekaligus ujung lengan baju dari Wu Wi Thaysu robek dan hancur!

“Ganas... ganas...!” Tosu ini berseru dengan keringat membasahi keningnya. Baru dalam gebrakan pertama saja, dengan susah-payah baru ia dapat menghindarkan diri dan mengorbankan ujung lengan bajunya! Kalau tidak mengalami sendiri, tentu ia takkan percaya.

Namun, In Hong yang mendengar bahwa ia akan dikalahkan dalam dua puluh jurus, sudah menjadi penasaran dan naik darah, maka ia tidak mau memberi kesempatan lagi dan terus mendesak dengan serangan-serangan aneh dan cepat sekali.

Sebaliknya, Wu Wi Thaysu baru terbuka matanya bahwa yang ia hadapi bukanlah gadis sembarangan yang ilmu silatnya dapat disamakan dengan Yo Kang, melainkan seorang lawan yang tangguh sekali, maka ia tidak berani berlaku sembrono lagi. Dengan penuh perhatian ia lalu menghadapi In Hong, menggerak-gerakkan kedua lengan sehingga terdengar bunyi tulang-tulang berkerotokan.

Inilah tanda bahwa tosu tua ini telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang, membangkitkan tenaga sinkang di dalam tubuhnya, yang hanya ia lakukan apa bila menghadapi lawan berat. Sebetulnya, ia segan sekali harus mengeluarkan kepandaian ini menghadapi seorang gadis yang begitu muda, namun gebrakan pertama tadi sudah merupakan pelajaran pahit baginya bahwa ia sekali-kali tidak boleh memandang rendah kepada lawan muda ini.

Sebaliknya, dahulu In Hong sudah sering kali mendengar penuturan gurunya tentang pelbagai kepandaian istimewa dari cabang-cabang persilatan yang besar, maka ia sudah tahu bahwa Wu Wi Thaysu adalah seorang ahli lweekang yang berbahaya. Ia tahu bagaimana harus menghadapinya, maka diam-diam ia pun mengerahkan khikangnya untuk menambah keringanan tubuh, kemudian mengandalkan ginkang yang luar biasa, ia melakukan penyerangan.

Bukan-main hebatnya pertempuran itu. In Hong menyerang cepat sekali, tubuhnya berkelebat kesana kemari sedangkan Wu Wi Thaysu berdiri memasang kuda-kuda yang teguh dan mengandalkan tenaga lweekang-nya yang disalurkan dikedua lengan, menyampok, menangkis dan memukul apa bila lawannya mendekat. Dilihat dari jauh, seakan-akan tosu itu adalah seekor harimau dan In Hong seekor garuda yang menyambar-nyambar dari atas.

Demikiancepat gerakan In Hong sehingga Wu Wi Thaysu tak pernah berhasil menyentuh tubuh nona itu, dan sama sekali tidak diberi kesempatan menyerang. Namun, bagi In Hong juga amat sukar karena hawa pukulan yang menyambar dari kedua Iengan tosu itu benar-benar amat dahsyat sehingga tiap kali ia hampir berhasil menyerang, ia selalu terpental kembali terdorong oleh hawa pukulan. Baiknya gadis ini pun telah memiliki sinkang yang lumayan, maka dorongan hawa lweekang itu tidak mengganggunya, hanya membuatnya terpental mundur.

Yang bengong adalah Yo Kang. Pemuda ini berdiri menonton dan tak disadarinya, mulutnya ternganga dan sepasang matanya melotot tanpa berkedip. Mimpipun tidak pemuda ini bahwa In Hong dapat mempunyai kepandaian sehebat itu. Matanya sampai berkunang-kunang karena ia tidak dapat mengikuti kecepatan gerak tubuh gadis itu!

Setelah sadar karena merasa matanya pedas, ia menarik napas berulang-ulang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mukanya merah sekali kalau ia teringat betapa ia tidak memandang mata kepada gadis ini!

Dua puluh jurus lewat cepat sekali karena serangan-serangan In Hong memang dilakukan tanpa berhenti. Di dalam dua puluh jurus ini, Wu Wi Thaysu hanya sempat membalas dengan serangan tiga jurus saja, ini pun serangan sambil lalu karena ia tidak diberi kesempatan sama sekali.

In Hong tidak mempunyai niat untuk mencelakakan atau untuk memperhebat pertandingannya dengan tosu ini. Sepak terjang tosu ini ketika merampas bahan makan dan obat lalu membagikan kepada rakyat, telah membuatnya kagum maka ia tidak ingin bermusuh dengan orang tua ini.

“Wu Wi Totiang, dua puluh jurus telah lewat, masih harus diteruskankah pertandingan ini?” tanyanya sambil terus menyerang.

Wu Wi Thaysu menjadi merah mukanya dan ia berseru, “Tahan...!”

In Hong melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali kemudian berdiri menghadapi tosu itu dengan bibir tersenyum dan sama sekali tidak kelihatan lelah.

“Ginkang-mu hebat sekali, nona. Murid siapakah kau sebenarnya?” tanya tosu itu dengan kagum.

“Ingat, totiang. Aku tidak kalah, bukan semestinya aku bicara tentang guruku, bahkan seharusnya kau bicara tentang Tek Seng Cu!”

Wu Wi Thaysu tersenyum pahit dan kembali menarik napas panjang. “Baiklah, baiklah, aku akan memberitahu kepadamu, akan tetapi setelah aku mengenal ilmu pedangmu. Kau membawa pedang yang begitu indah, pasti aku akan melihat kiam-hoat yang jempol. Kalau dalam sepuluh jurus permainan pedang aku belum dapat menebak kau murid siapa, biarlah aku mengaku kalah betul-betul dan akan menuruti segala permintaanmu!” Sambil berkata demikian, Wu Wi Thaysu mencabut pedangnya.

Tosu ini hendak berlaku cerdik. Go-bi-pay terkenal sekali akan ilmu pedangnya yang lihay, dan selain Wu Wi Thaysu telah menguasai delapan bagian dari Go-bi-kiam-hoat, ia pun terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mengenal hampir semua ilmu pedang di dunia persilatan. Dengan menantang bermain pedang, tidak saja ia hendak menebus kekalahannya tadi juga ia ingin tahu murid siapa adanya gadis aneh ini. Ia percaya bahwa setelah melihat ilmu pedang gadis ini, ia akan dapat mengetahui dari cabang mana datangnya ilmu kepandaian itu. Boleh jadi ia tidak mengenal ilmu silat tangan kosong, akan tetapi tak mungkin ia tidak mengenal ilmu pedang.

Tentu saja In Hong yang cerdik maklum pula akan siasat tosu tua itu, maka ia tersenyum sambil mencabut pedangnya.

“Bukan aku yang mendesak, sebaliknya kau sendiri yang berjanji, totiang. Terima kasih sebelumnya bahwa kau hendak menuruti segala permintaanku, asal saja kau orang tua tidak membohongi aku orang muda.”

Kata-kata ini mengandung sindiran. Tadi Wu Wi Thaysu sudah mengeluarkan kata-kata bahwa kalau gadis ini mampu menandinginya selama dua puluh jurus, ia akan menerima kalah, akan tetapi kemudian ia mengajak bertanding pedang. Hal ini agaknya dipergunakan oleh In Hong untuk menyindir padanya dan menyatakan bahwa dia membohong!

“Kwee-lihiap, aku orang tua bangka mana sudi membohongimu? Tadi aku memang sudah mengaku kalah dan tentang Tek Seng Cu, pasti akan kuceritakan, sungguh pun kau akan kalah dalam pertandingan pedang ini. Go-bi-pay tidak ada rahasia busuk, mengapa takut menceritakan? Hanya aku masih penasaran dan ingin sekali menerka kau ini murid siapa!”

“Kalau begitu, lihatlah ilmu pedangku ini, totiang!” seru In Hong sambil tertawa.

Wu Wi Thaysu melihat sinar terang meluncur cepat. Ia tidak mengenal pedang pusaka Liong-gan-kiam, karena setelah mencuri pedang itu dari istana, Hek Moli tidak pernah mempergunakannya dan memberikan pedang itu kepada In Hong.

Dengan penuh perhatian Wu Wi Thaysu menghadapi ilmu pedang dari gadis itu yang juga amat ganas, cepat dan kuat sekali gerakannya. In Hong tidak takut bahwa tosu ini akan mengenal ilmu pedangnya, karena ia tahu bahwa gurunya, yakni Hek Moli, selalu mempergunakan tongkat sebagai senjata, dan ilmu tongkat dari gurunya itulah yang digubah menjadi ilmu pedang untuknya. Biar pun gerakan-gerakannya sama, namun ilmu tongkat tak dapat disamakan derigan ilmu pedang dan dengan hati besar gadis ini lalu mengerahkan kepandaiannya untuk mendesak Wu Wi Thaysu.

Akan tetapi, ia harus mengakui kelihayan tosu ini dalam ilmu pedangnya. Ilmu pedang Go-bi-pay amat kuat dalam pertahanannya dan pedang di tangan tosu itu berputar-putar cepat sekali merupakan tembok baja yang kuat dan kokoh melindungi tubuhnya sehingga sukar ditembus oleh pedang di tangan In Hong.

Makin terkejutlah hati Wu Wi Thaysu. Tidak saja ia belum pernah melihat ilmu pedang yang amat aneh dan kuat ini, juga untuk mengalahkan gadis ini dalam permainan pedang saja, agaknya akan memakan waktu lama sekali baginya. Bukan main indah dan ganasnya ilmu pedang yang dimainkan oleh nona Kwee ini sehingga tubuh nona itu lenyap terbungkus oleh sinar pedang yang berkilauan.

Ia sudah mencoba untuk mendobrak dan membalas serangan In Hong, namun sia-sia belaka karena ia kalah cepat. Dan dengan pengerahan tenaga dan pencurahan perhatian untuk mengalahkan ilmu pedang gadis ini, ia makin sukar mengenal ilmu pedang itu.

Sepuluh jurus lewat amat cepatnya, dan terdengar tosu itu berkata dengan suara keras,

“Kwee-lihiap, terus terang saja aku belum mengenal ilmu pedangmu. Aku takkan menarik janji, dan kau boleh minta apa saja nanti, akan tetapi teruskan permainanmu sampai sepuluh jurus lagi, kiranya pinto akan dapat menduga dari siapa kau memperoleh semua ilmu yang aneh ini!”

In Hong makin gembira. Terdengar ia tertawa nyaring dan kini ilmu pedangnya makin hebat. Sengaja gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihay dari ilmu pedangnya yang dinamai Toat-beng-kiam-hoat (Ilmu pedang mencabut nyawa) oleh gurunya! Tidak saja ia hendak membikin tosu itu menduga-duga dengan bingung, akan tetapi juga darah mudanya membuat ia mempunyai keinginan mengalahkan tosu ini dalam ilmu pedang!

Dalam jurus kedua puluh, In Hong mempergunakan ilmu pedangnya dengan gerak tipu yang paling lihay, yakni yang disebut Tho-sim-toat-beng (Mencuri hati mencabut nyawa). Pedangnya berputar dan berkelebatan seperti seekor rajawali hendak menyambar korban, sukar sekali diduga kemana arah yang hendak dilalui, dan tiba-tiba, tanpa terduga-duga, pedang ini menyambar dengan tusukan kilat ke arah hati atau dada kiri lawannya!

Wu Wi Thaysu berseru keras dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi dada, karena untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi! Dua pedang bertemu, menempel keras dan tak dapat dilepaskan lagi. Kalau Wu Wi Thaysu tidak menang dalam tenaga lweekang, tentu ia tak keburu melindungi dadanya dan ujung pedang In Hong hanya terpisah setengah dim saja dari bajunya.

Akan tetapi, berkat tenaga lweekang-nya yang masih lebih kuat dari pada In Hong, ia dapat mendorong gadis itu dan sambil mengerahkan tenaga ia berseru keras. In Hong terhuyung mundur dan terpental seakan-akan tertiup angin badai!

Gadis ini pucat, akan tetapi merasa lega bahwa ia tidak terluka. Kiranya Wu Wi Thaysu memang tidak bermaksud buruk dan ia tadi hanya mengerahkan khikang untuk membikin gadis itu terpental. Kalau ia mau mempergunakan lweekang sekuatnya, pasti In Hong akan terluka di dalam tubuhnya.

“Siancay, siancay..., ilmu pedangmu benar-benar hebat, Kwee-lihiap,” kata-kata ini memang sejujurnya, karena ia yang sudah memiliki delapan bagian atau hampir seluruhnya dari Go-bi-kiam-hoat, dalam dua puluh jurus tidak dapat mengalahkan ilmu pedang gadis itu, bahkan hampir saja ia menjadi korban.

Kemenangannya tadi bukan karena ilmu pedang, melainkan karena ia memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat. Maka ia merasa penasaran dan juga kagum sekali, akan tetapi ia sekarang teringat. Yang dapat menghadapi Go-bi-kiam-hoat dari suhu-nya yang tua, yakni Tek Eng Thaysu ketua Go-bi-pay, adalah Hek Moli, Iblis Wanita hitam itu. Biar pun Hek Moli mainkan tongkat, namun keganasan dan kecepatannya hampir sama dengan gerakan gadis ini.

“Kwee-lihiap, kalau kau bukan murid Hek Moli, aku si tua bangka tidak mampu menerka lagi murid siapakah kau ini.”

In Hong menjura. “Wu Wi Thaysu, tebakanmu yang tepat ini menambah kekagumanku atas ilmu pedang Go-bi-kiam-hoat yang benar-benar indah dan luar biasa. Aku terima kalah.”

“Kau pandai bersombong dan pandai merendah. benar-benar kau seperti gurumu. Eh, sekarang aku harus bayar hutang. Kau hendak bertanya tentang Tek Seng Cu?”

“Benar, totiang,” In Hong menjadi gembira dan menyimpan Liong-gan-kiam.

“Dia sudah tewas!”

In Hong melengak.

“Jadi subo yang...”

“Ya benar, mendiang gurumu yang menewaskannya.”

“Apa katamu, totiang?” In Hong menjerit. “Guruku...??”

“Gurumu juga tewas dalam pertempuran itu.”

Tiba-tiba In Hong mencabut pedangnya dan cepat menusuk dada Wu Wi Thaysu. Tosu ini cepat menangkis dengan pedang yang masih dipegangnya.

“Sabar, jangan kau tiru keganasan gurumu itu. Keganasan tanpa perhitungan dan tanpa dipertimbangkan lebih dulu adalah kesesatan dan hanya akan membawa kau ke dalam lembah kehancuran!”

In Hong sadar kembali. Memang amat tidak baik kalau tiba-tiba menyerang atau membunuh orang tanpa mengetahui persoalannya dengan jelas, hanya timbul dari persangkaan belaka.

“Guruku tewas? Tentu kalau bukan olehmu, oleh Pek Eng Thaysu, siapa lagi yang dapat menewaskannya? Tek Seng Cu manusia sombong itu? Hah, jangan kau mencoba untuk menyangkal, Wu Wi Thaysu!” Dada gadis itu berombak, mukanya merah, sepasang matanya seperti berapi.

Wu Wi Thaysu menggeleng kepalanya. “Sayang bukan! Kalau aku yang menewaskannya, itu tanda bahwa ilmu silatku mendapat banyak kemajuan. Padahal semenjak aku kalah olehnya di puncak Go-bi dahulu, harus ku akui bahwa ilmu silatku banyak mundur!”

“Jadi kalau begitu Pek Eng Thaysu yang menewaskan guruku?”

“Juga bukan, Kwee-lihiap. Suhu sudah terlalu tua untuk mengurus segala macam persoalan dunia, mana suhu mau membunuh orang?”

“Wu Wi Thaysu, kau tadi sudah berjanji hendak memenuhi semua permintaanku. Apakah sekarang kau hendak memutar balik omongan dan untuk pertanyaan ini saja kau tidak mau mengaku? Siapakah yang telah membunuh guruku?”

Pada saat itu, Yo Kang yang semenjak pertandingan pedang tadi hampir tak berani bernapas, buru-buru datang menghampiri mereka.

“Adikku In Hong, harap kau bersabar dan berlaku tenang. Tidak baik mendesak-desak Wu Wi Locianpwe.

In Hong berpaling kepada Yo Kang. “Yo-twako, urusanmu sudah selesai, dan sekarang aku minta supaya kau pulang lebih dulu. Aku ada banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan. Harap kau jangan membantah lagi!” Di dalam kata-kata ini terkandung suara yang dingin dan ketus sehingga Yo Kang tak berani membantah. Ia hanya menarik napas panjang, lalu berkata,

“Baiklah, Hong-moy dan tentang mencari ibumu...” Ia berhenti karena teringat bahwa kini tidak ada artinya lagi membantu gadis yang ternyata memiliki kepandaian jauh lebih lihay dari pada kepandaiannya sendiri itu. “Ah... orang macam aku ini mempunyai kegunaan apakah? Biarlah, aku hanya akan mencoba mendengar-dengar dimana adanya ibumu, Hong-moy.”

In Hong terharu juga. Ia tahu akan isi hati pemuda ini.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner