BAYANGAN BIDADARI : JILID-11


“Bantuanmu masih sangat kuperlukan, Yo-twako. Nah, selamat berpisah dulu dan mudah-mudahan tak lama lagi kita akan dapat bertemu pula.”

Yo Kang memberi hormat kepada Wu Wi Thaysu, lalu melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu pulang ke kota See-ciu. Ia benar-benar merasa terpukul dan malu terhadap diri sendiri dan semenjak saat itu, ia melempar jauh-jauh julukan Bu-tong Sin-to dan bahkan tidak mau lagi bicara tentang ilmu silat!

Setelah Yo Kang pergi, In Hong berkata lagi kepada Wu Wi Thaysu, “Bagaimana, totiang, apakah kau masih tidak mau menolongku? Ingat janjimu tadi. Pantaskah seorang tokoh kedua dari Go-bi-pay menarik kembali janjinya? Ingat, aku tidak akan segan-segan untuk mengabarkan hal ini di dunia kang-ouw!”

Wu Wi Thaysu kewalahan dan menarik napas panjang dengan sikap duka.

“Baiklah, Kwee-lihiap. Ada orang yang tahu betul akan hal itu, bahkan yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika gurumu tewas. Dia itu adalah muridku sendiri yang bernama Wi Tek Tosu, guru dari Tek Seng Cu. Ah, kami harus menanggung seluruh dosa yang dilakukan oleh Tek Seng Cu. Marilah, mari kita menemui Wi Tek Tosu yang berada di tempat tidak jauh dari sini.”

Sesudah berkata demikian, Wu Wi Thaysu menggerakkan kedua kaki dan mengibaskan tangan, maka melesatlah tubuhnya karena ia telah menggunakan ilmu lari cepat. In Hong tak mau tertinggal dan cepat mengejar. Dalam hal ilmu lari cepat, ia tidak kalah lihay oleh tosu tua dari Go-bi-pay ini maka ia dapat mendampinginya.

Ternyata Wu Wi Thaysu tidak membawanya pergi jauh, hanya kurang lebih tiga puluh lie dari dusun tadi. Mereka tiba di sebuah dusun yang sunyi di lereng gunung kecil dan Wu Wi Thaysu mengajak In Hong menuju ke sebuah kelenteng bertembok kuning yang berdiri di lereng itu.

“Disinilah tempat pinto untuk sementara waktu kalau pinto turun dari Go-bi-san,” kata tosu itu setelah mereka berjalan memasuki pekarangan kelenteng. “Di dalam sebuah kamar di kelenteng ini kau akan bertemu dengan orang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana gurumu itu tewas. Mari kau ikut pinto!”

Hati In Hong berdebar keras. Suhu-nya sudah tewas dan ia akan bertemu dengan orang yang dapat menceritakannya tentang kematian gurunya itu. Ia harus membalas dendam dan jika ia sudah tahu siapa yang membunuh gurunya, ia takkan berhenti sebelum dapat membalas sakit hati ini.

Wu Wi Thaysu berhenti di depan sebuah kamar. Kamar ini kecil saja, paling besar dua meter persegi. Daun pintunya tertutup dan di antara dua daun pintu ditempeli kertas biru yang ada tulisannya,

Tempat hukuman murid berdosa.

Kalau pintu itu dibuka, tentu tempelan ini akan rusak dan robek. Di dekat pintu itu terdapat sebuah jendela tak berdaun, atau lebih tepat disebut lubang angin karena tingginya satu kaki dan lebarnya tidak ada satu kaki. Ini pun di tengah-tengahnya masih ada sebatang rujinya sehingga tak mungkin orang dapat keluar dari lubang itu tanpa merusaknya.

Karena Wu Wi Thaysu mengajak In Hong berhenti di depan lubang itu, tampaklah oleh In Hong seorang tosu setengah tua duduk bersila menghadapi tembok di dalam kamar itu. Tosu ini duduk bersemedhi di atas sebuah pembaringan kayu yang kasar, tak bergerak seperti sebuah arca. In Hong tidak mengenal tosu ini dan belum pernah melihatnya, maka ia memandang kepada Wu Wi Thaysu dengan mata bertanya.

“Dia adalah Wi Tek Tosu, muridku sekaligus guru dari Tek Seng Cu,” katanya perlahan, kemudian, melalui lubang itu ia berkata kepada tosu yang sedang bersemedhi,

“Wi Tek, nona Kwee In Hong murid Hek Moli sudah datang dan kau harus menceritakan semua peristiwa itu sejelasnya kepada Kwee-lihiap.”

Tanpa menoleh, tosu itu berkata, “Suhu, teecu sudah berdosa, teecu sudah melanggar pantangan sucouw, dan teecu sudah menerima hukuman suhu, bersedia untuk dikurung disini selama lima tahun. Bahkan teecu rela andai kata suhu mengurung teecu sampai mati disini. Akan tetapi, apa perlunya teecu bicara dengan murid Hek Moli? Teecu sudah kehilangan tiga orang sute, sudah kehilangan murid, semua gara-gara Hek Moli, jangan-jangan teecu akan lupa diri kemudian melakukan pelanggaran lagi jika melihat murid Hek Moli!”

“Wi Tek, pinto sudah berjanji kepada Kwee-lihiap dan pinto sudah kena dikalahkan dalam pertandingan. Ini adalah sebuah perintahku, maka kau tidak boleh melanggar!” bentak Wu Wi Thaysu.

Wi Tek Tosu memutar tubuhnya lantas memandang kepada In Hong. Ia kelihatan heran sekali melihat seorang nona begini muda. Betulkah suhu-nya kalah oleh nona ini? Benar-benar luar biasa dan hampir tak mungkin dia dapat percaya. Akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak suhu-nya, maka dengan muka merengut dan tanpa menatap wajah In Hong, ia lalu menuturkan peristiwa pertempuran dengan Hek Moli secara singkat,

“Aku dengan tiga orang sute-ku, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu dan Wi Liang Tosu, dan muridku Tek Seng Cu, dibantu pula oleh tiga orang tokoh Kun-lun-pay, Cu Sim San-lojin, Kim Sim San-lojin, dan Sun Sim San-lojin menantang Hek Moli mengadakan pertandingan di puncak O-mei-san. Hek Moli datang dan kami mengeroyoknya. Tiga orang sute-ku dan muridku tewas, akan tetapi syukur aku bersama ketiga San-lojin dari Kun-lun-pay berhasil membikin mampus iblis wanita itu. Nah, kau sudah mendengar penuturanku!”

Setelah berkata demikian, Wi Tek Tosu memutar tubuhnya kembali, menghadapi tembok dan bersemedhi untuk melanjutkan hukumannya!

Sepasang alis In Hong berdiri dan sekali gadis ini menggerakkan tangan, terdengar suara keras dan ruji baja dilubang itu telah patah! Ia mencabut pedangnya dan berseru,

“Bagus, kau adalah seorang di antara pembunuh-pembunuh guruku, maka sekarang juga kau harus mampus!”

Akan tetapi Wu Wi Thaysu cepat menghadang di depan jendela itu sambil menggeleng-geleng kepalanya.

“Kwee-lihiap, kau benar-benar tidak adil. Coba kau berpikir dengan tenang. Yang menjadi biang keladi peristiwa permusuhan ini adalah gurumu sendiri. Kalau gurumu dahulu tidak naik ke Go-bi-pay mengajak pibu, tentu Tek Seng Cu tidak akan buntung tangannya, dan muridku ini bersama saudara-saudaranya tidak akan menaruh hati dendam. Ketua kami sudah melarang dia mencari permusuhan, tetapi diam-diam dia tidak dapat memadamkan api dendamnya sehingga dia menantang Hek Moli. Kemudian akibatnya lebih hebat lagi, sebab kami kehilangan empat orang murid Go-bi-pay. Biar pun gurumu tewas, akan tetapi empat orang murid kami juga tewas, dan kau lihat buktinya sendiri, Wi Tek Tosu sudah kami hukum untuk lima tahun di kamar ini. Mengapa engkau masih penasaran? Bukankah kematian gurumu sudah terbalas lebih dari cukup?”

“Guruku tewas akibat pengeroyokan yang curang dan licik. Apa bila murid-muridmu tidak curang dan mengeroyoknya, mana mungkin guruku tewas? Sungguh tak tahu malu, tujuh orang mengeroyok seorang lawan!” In Hong marah sekali, juga berduka mendengar akan nasib gurunya.

“Kwee-lihiap, gurumu memang berkepandaian tinggi, sehingga ketua kami barulah dapat mengimbanginya. Walau pun dikeroyok oleh empat orang murid Go-bi-pay, mana bisa dia kalah? Buktinya, dibantu oleh tiga tokoh Kun-lun, masih saja tiga orang murid kami tewas. Pinto sendiri tak akan menang dari gurumu, mana mungkin orang seperti muridku ini bisa menewaskan gurumu? Hanya karena munculnya ketiga San-lojin dari Kun-lun-pay, maka akhirnya gurumu tewas. Pihak Go-bi-pay telah menebusnya dengan empat nyawa, malah seorang dihukum lima tahun, ini sudah lebih dari cukup. Tetapi sebaliknya, pihak Kun-lun-pay yang tidak kehilangan seorang pun murid, sudah menjatuhkan gurumu. Maka kalau kau merasa penasaran, mengapa justru mencari disini?”

Wu Wi Thaysu memang cerdik. Tidak saja kata-katanya memang beralasan, akan tetapi ia sengaja hendak mengadu gadis ini dengan pihak Kun-lun-pay. Ia dapat melihat bahwa gadis ini berwatak ganas seperti Hek Moli, dan sukarlah menundukkannya apa bila kelak gadis ini menjadi jahat dan ganas.

Hanya pihak Kun-lun-pay yang memiliki banyak orang berkepandaian tinggi kiranya dapat mengalahkan gadis ini. Gurunya sendiri, Pek Eng Thaysu, tidak mau turun gunung lagi, maka sebaiknya menyuruh gadis ini menyerbu ke Kun-lun!

In Hong bisa menerima alasan ini, maka dengan gemas ia berkata, “Kalau aku tidak dapat menewaskan tiga San-lojin Kun-lun-pay yang sudah membunuh guruku, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”

Sesudah berkata demikian, In Hong berkata kepada Wi Tek Tosu melalui jendela yang sudah rusak itu, “Aku memandang muka Wu Wi Thaysu dan mengampunimu. Aku pun sudah menghabiskan permusuhan antara aku dengan Go-bi-pay. Harap kau suka katakan bagaimana selanjutnya dengan jenazah guruku.”

Tetapi Wi Tek Tosu tidak menjawab, diam saja tidak bergerak sedikit pun. Wu Wi Thaysu merasa tidak enak melihat ini, karena ia maklum bahwa betapa pun juga di dalam hati Wi Tek Tosu masih terkandung kebencian terhadap Hek Moli.

“Kwee-lihiap, muridku sudah bercerita kepadaku bahwa jenazah gurumu itu dikubur baik-baik oleh pendekar gagah yang bernama Ong Tiang Houw. Kau tentu kenal dengan dia, bukan?”

In Hong mencatat nama ini dan merasa berterima kasih sekali. “Aku sudah mendengar nama besarnya meski pun belum mendapat kehormatan bertemu muka dengan orangnya. Kelak aku pasti akan mencarinya untuk menghaturkan terima kasih. Nah, selamat tinggal, totiang.”

Setelah berkata demikian, In Hong melompat keluar dari kelenteng itu dan pergi dengan cepat sekali. Hatinya penuh kemarahan terhadap Kun-lun-pay dan dia sudah mengambil keputusan untuk menunda usahanya mencari ibunya, dan hendak langsung menyerbu ke Kun-lun-pay, membalas dendam gurunya kepada ketiga Kun-lun San-lojin…..!

********************

Kun-lun-pay atau partai persilatan cabang Kun-lun adalah salah satu di antara lima partai persilatan terbesar di Tiongkok. Tidak saja terbesar karena memiliki banyak anak murid, namun juga besar namanya karena anak-anak murid keluaran Kun-lun-pay merupakan jago-jago silat dan pendekar-pendekar yang disegani.

Pegunungan Kun-lun-san yang amat besar, seperti halnya pegunungan Go-bi-san, menjadi tempat pelarian bagi para pertapa. Oleh karena letaknya di Tiongkok Barat, maka selain pertapa-pertapa bangsa Tiongkok sendiri, banyak juga bangsa-bangsa lain dari barat yang ingin meyakinkan kehidupan mistik dan memilih jalan menjadi pertapa, datang ke puncak gunung ini untuk memilih tempat yang permai, indah, bersih dan menenangkan hati.

Kedatangan para pertapa dari luar inilah yang menimbulkan pelbagai macam ilmu silat, karena sudah menjadi kelajiman bahwa para perantau dan pertapa itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Memang ilmu silat tak dapat di-pisah-pisahkan dengan ilmu batin, keduanya merupakan cabang dari satu sumber, biar pun ilmu silat diumpamakan sebagai kembangnya, sedangkan ilmu batin adalah tangkainya.

Maka tidak mengherankan bila Kun-lun-pay menurunkan banyak murid dengan pelbagai macam kepandaian, ada ahli pedang, ahli golok, ahli tombak, bahkan di antara anak murid yang sudah pandai terdapat pula ahli-ahli silat yang mempergunakan senjata-senjata aneh seperti poan-koan-pit (alat menulis), hud-tim (kebutan pendeta), ujung lengan baju, ikat pinggang, senjata roda dan lain-lain. Memang partai persilatan Kun-lun-pay sangat kaya dengan perkembangan ilmu silatnya.

Kun-lun-pay membuka cabang di banyak tempat, akan tetapi pusat atau sumbernya tetap saja di puncak sebuah gunung di pegunungan Kun-lun-pay. Di tempat ini didirikan sebuah kelenteng besar dan disinilah tinggalnya guru-guru besar dari partai Kun-lun. Disini pula anak-anak murid yang akan mewakili dan menjadi pengurus cabang digembleng dengan ilmu silat dan ilmu batin.

Pada waktu itu, yang menjadi ciang-bun-jin atau ketua dari Kun-lun-pay adalah Pek Ciang San-lojin, seorang kakek yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun. Sebetulnya dalam urutan, baik usia mau pun tingkat kepandaian, Pek Ciang San-lojin tidak dapat dikatakan paling tinggi. Akan tetapi, pengangkatan ciang-bun-jin oleh guru besar bukanlah semata-mata berdasarkan usia dan kepandaian, melainkan sifat dan watak calon ketua itu.

Pek Ciang San-lojin mempunyai kebijaksanaan dan watak yang tegas, maka ia dipilih oleh mendiang gurunya. Walau pun masih ada sute (adik seperguruan) dan beberapa orang suheng (kakak seperguruan) yang mempunyai kepandaian yang tidak kalah olehnya, akan tetapi mereka hanya menjadi pembantu-pembantu biasa saja, bahkan di antaranya ada yang memilih tugas sebagai tukang masak dan tukang kebun!

Akan tetapi karena sifat pekerjaan mereka dan juga watak mereka sangat sederhana dan tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kangouw, mereka yang tidak menduduki tempat penting ini tentu saja tidak dikenal orang. Yang terkenal di dunia kangouw pada waktu itu, selain Pek Ciang San-lojin sendiri, adalah Kun-lun Sam-lojin (Tiga orangtua Kun-lun), yaitu tiga orang murid Pek Ciang San-lojin, yang bernama Cu Sim San-lojin, Kim Sim San-lojin, dan Sun Sim San-lojin.

Tiga orang ini adalah mereka yang dahulu membantu tokoh-tokoh Go-bi-pay menewaskan Hek Moli. Mereka juga menduduki tempat penting di Kun-lun-pay. Cu Sim San-lojin yang memiliki kebijaksanaan menjadi wakil dari Pek Ciang San-lojin dan agaknya dia inilah yang menjadi calon ciang-bun-jin kelak.

Kim Sim San-lojin mendapat tugas sebagai kepala bagian penjaga keamanan karena ia berdisiplin dan keras, maka dahulu belasan tahun yang lalu ketika Hek Moli menyerbu ke Kun-lun-pay, dia inilah yang menghadapinya langsung dan akhirnya kena dikalahkan oleh Hek Moli.

Sun Sim San-lojin, murid ketiga dari Pek Ciang San-lojin, memiliki bakat yang besar sekali dalam hal mengajar. Dia pandai sekali menerangkan mengenai teori ilmu silat, maka oleh gurunya ia lalu diangkat menjadi wakilnya dalam memberi pelajaran kepada semua anak murid Kun-lun-pay.

Dahulu ketika Wi Tek Tosu dari Go-bi-pay datang minta bantuan untuk mengalahkan Hek Moli, tiga orang tokoh Kun-lun-pay ini hanya mau pergi sesudah mendapat perkenan dari Pek Ciang San-lojin. Wi Tek Tosu secara pandai telah menghasut dan memanaskan hati tokoh-tokoh Kun-lun-pay dengan menyatakan bahwa Hek Moli sangat ganas dan kejam, sehingga merupakan bahaya di dunia kangouw.

Pek Ciang San-lojin memang memiliki watak yang tegas dan paling benci akan kejahatan. Mendengar penuturan Wi Tek Tosu itu, dia lalu memberi ijin kepada tiga orang muridnya untuk membantu pendeta Go-bi itu melenyapkan seorang berbahaya dan jahat semacam Hek Moli. Maka, sekembalinya mereka dari O-mei-san, tiga orang tokoh Kun-lun ini tidak mengkhawatirkan sesuatu dan menganggap bahwa kematian Hek Moli sudah semestinya sebagai hukuman atas semua kejahatan dan keganasan yang telah dilakukannya.

Akan tetapi, pada suatu hari, dari bawah gunung yang dijadikan pusat oleh Kun-lun-pay itu, berkelebat bayangan yang gesit sekali gerakannya. Bayangan ini bukan lain adalah In Hong yang sengaja datang ke Kun-lun untuk menuntut balas atas kematian gurunya.

Kun-lun-pay bukan partai persilatan yang ternama dan besar kalau gerakan In Hong ini tidak diketahui oleh para penjaga. Sebelum gadis itu sampai di depan kelenteng, Kim Sim San-lojin sudah siap sedia menyambut kedatangan orang yang mencurigakan ini!

Setelah kelenteng itu kelihatan menjulang tinggi di dekat puncak, In Hong lantas menahan gerakan kakinya dan berjalan biasa saja menghampiri kelenteng itu. Di depan kelenteng terdapat sebuah pekarangan yang amat lebar.

Dari jauh sudah kelihatan para pendeta sibuk bekerja. Ada yang memikul kayu, ada yang berjalan membawa keranjang daun obat, dan ada pula yang sedang menyapu daun-daun kering membersihkan pekarangan. Suasana kelihatan amat tenteram dan damai sehingga In Hong merasa tak enak hati juga.

Namun ia berjalan terus, memasuki pintu gerbang pekarangan yang luas itu. Betapa pun juga gurunya telah ditewaskan oleh tiga orang tokoh Kun-lun-pay yang tinggal di kelenteng itu dan ia harus menuntut balas!

Dengan langkah lebar dan gagah gadis ini maju terus, tak mempedulikan pandangan mata beberapa orang tosu yang berada di pekarangan itu. Bahkan ia tidak peduli pada seorang tosu tua berkepala botak yang menyapu daun-daun kering sambil bernyanyi kecil, diseling ketawa-tawa seperti seorang yang otaknya miring.

Ketika ia tiba di tengah pekarangan, seorang tosu berjenggot panjang hitam telah datang menghadangnya. Tosu ini memandang tajam, lalu menjura dan berkata,

“Nona, kami tidak pernah menerima tamu wanita dan tidak seorang pun wanita dibolehkan memasuki kelenteng. Jika nona ada keperluan, katakan saja kepada pinto, nona ini siapa dan ada keperluan apakah datang di tempat ini?”

Tanpa memberi hormat dan dengan sikap ketus, In Hong menjawab, “Namaku Put Hauw Li dan aku datang perlu bertemu dan bicara dengan Pek Ciang San-lojin.”

Memang gadis ini datang ingin bertemu dengan ketua Kun-lun-pay untuk menegur tentang pengeroyokan atas diri gurunya. Betapa pun juga gurunya pernah menuturkan kepadanya bahwa Kun-lun-pay adalah partai persilatan besar dan kuat, maka dalam urusan ini tidak baik bersikap sembrono dan lebih baik bila langsung berhadapan dengan ketuanya untuk minta pertanggungan jawabnya.

“Suhu sedang bersemedhi sehingga tidak boleh diganggu. Kalau nona ada urusan, harap disampaikan kepada pinto dan pinto akan melaporkan ke dalam,” kata pula Kim Sim San-lojin dengan suara sabar.

“Tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Suruh Pek Ciang San-lojin keluar menemuku, atau aku akan masuk saja langsung menemuinya.”

Kim Sim San-lojin mulai marah dan ia memandang kepada gadis itu dengan alis berkerut.

“Nona, engkau dilarang keras memasuki kelenteng. Kalau kau tidak mau menyampaikan kepada pinto, maaf, harap kau kembali saja. Selamanya belum pernah ada wanita yang diperkenankan memasuki kelenteng, itu aturan kami.”

In Hong tersenyum mengejek. “Ketika wanita gagah Hek Moli datang kesini, apakah dia juga tidak masuk ke dalam?”

Kim Sim San-lojin terkejut mendengar ini, namun dia masih dapat menekan perasaannya dan sebagai seorang pendeta yang banyak pengalaman dan banyak menghadapi orang-orang bermacam sifat, ia dapat berlaku tenang dan sabar.

“Sungguh pun Hek Moli sendiri, ketika datang kesini juga tidak diperkenankan masuk ke dalam,” jawabnya.

In Hong menjadi naik darah. Ketika tadi mendengar bahwa tosu ini menyebut guru kepada Pek Ciang San-lojin, dia sudah dapat menduga bahwa tosu ini tentulah seorang di antara Kun-lun Sam-lojin (Tiga kakek Kun-lun), atau seorang di antara tiga tokoh Kun-lun yang menewaskan gurunya. Akan tetapi ia tidak mau turun tangan dulu sebelum bicara dengan ketua Kun-lun-pay.

“Kalau begitu, biarlah aku sekeluarga mematahkan pantangan itu,” katanya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat melewati sebelah tosu itu, hendak berlari memasuki kelenteng.

“Perlahan dulu, nona!” Kim Sim San-lojin menggerakkan tangan dan ujung lengan bajunya menyambar dengan totokan ke pundak In Hong untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya.

Tosu itu melihat jelas betapa ujung lengan bajunya mengenai pundak In Hong, akan tetapi bukan main terkejut dan herannya ketika ia melihat gadis itu seakan-akan tidak merasai totokannya dan berlari terus cepat sekali! Memang In Hong sengaja tidak mau menangkis atau melayani tosu ini karena ia bermaksud untuk mencari Pek Ciang San-lojin sebelum bertanding dengan tokoh-tokoh Kun-lun.

Gadis yang sangat cerdik ini tahu bahwa kalau ia menangkis, tentu ia akan terlibat dalam pertempuran, maka ketika dia merasa datangnya hawa pukulan, dia cepat mengerahkan hawa lweekang yang disalurkan ke pundak menutupi jalan darah dan dia berhasil menolak serangan itu.

Kim Sim San-lojin tadi tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Pendeta ini walau pun tahu bahwa gadis yang naik ke gunung dengan mempergunakan ilmu lari cepat yang luar biasa ini tentu memiliki kepandaian tinggi, namun dia tidak tega untuk menjatuhkan tangan besi. Dikiranya bahwa totokannya tadi yang disertai tenaga setengah bagian saja sudah cukup untuk menghalanginya masuk kelenteng.

Tidak tahunya totokannya seakan-akan tidak terasa oleh In Hong! Baru ia maklum bahwa gadis yang demikian mudanya itu ternyata seorang ahli silat yang pandai.

Akan tetapi gadis itu telah memasuki kelenteng dan Kim Sim San-lojin tersenyum. Ia tidak mengejar, karena malu baginya apa bila berkejar-kejaran dengan seorang demikian muda. Sungguh pun gadis itu agaknya tidak mengandung maksud baik, namun ia tidak khawatir. Di dalam kelenteng masih banyak kawan-kawan yang akan dapat menghalangi gadis itu.

Dengan tenang Kim Sim San-lojin berjalan memasuki kelenteng, sedangkan tosu-tosu lain melanjutkan pekerjaan mereka seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu. Tosu tua yang botak dan menyapu daun-daun kering tadi, tertawa-tawa kecil, menghentikan nyanyinya dan berkata-kata seorang-diri,

“Nona kecil berbakat sekali, sayang dididik oleh tangan yang ganas...” Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.

Ada pun In Hong, ketika tiba di ruangan depan kelenteng itu, dia terheran-heran melihat kelenteng itu sunyi saja. Yang ada disitu hanya tiga orang tosu setengah tua yang sedang bersembahyang. Selain ini, tidak ada siapa-siapa lagi dan keadaannya sunyi mengandung rahasia. In Hong tidak berani mengganggu tosu-tosu yang sedang bersembahyang itu, maka ia lalu berjalan terus masuk ke sebelah dalam.

Ternyata bagian dalam kelenteng ini amat besar dan luas. Kelihatan bangunan-bangunan kecil di sana sini, lorong-lorong yang lebar sehingga dia menjadi bingung. Dia tidak tahu di mana adanya Pek Ciang San-lojin, maka ia lalu memasuk lorong sebelah kiri yang menuju ke sebuah ruangan terbuka.

Tanpa menyadari bahwa semua gerak geriknya diikuti oleh banyak pasang mata, In Hong maju terus. Ia lalu memasuki ruangan terbuka yang berada di tengah-tengah. Ruangan ini adalah ruangan tempat belajar atau berlatih ilmu silat yang disebut lian-bu-thia.

Lebar sekali tempat ini, karena selain dipergunakan sebagai tempat berlatih silat, juga di tempat inilah biasa diadakan pertemuan antara tosu-tosu dan anak-anak murid Kun-lun-pay yang jumlahnya banyak. Di tempat ini, beberapa bulan sekali, ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay, yakni Pek Ciang San-lojin, dihadap oleh puluhan anggota Kun-lun-pay, memberi pelajaran tentang ilmu batin dan menguraikan ujar-ujar kuno dari kitab-kitab agama To.

Ketika In Hong tiba di ruangan ini, keadaan disitu sunyi belaka, akan tetapi mendadak ia mendengar suara di belakangnya. Ketika ia menengok, ia melihat seorang tosu tua telah duduk di atas bangku bundar, bersila dan memegang sebuah kitab sambil membacanya perlahan-lahan.

In Hong merasa terkejut dan kagum. Tadi ketika masuk ia tidak melihat kakek ini, akan tetapi bagaimana tiba-tiba bisa berada disitu? Terang bahwa tosu ini mempunyai ginkang yang sudah tinggi sekali sehingga gerakannya amat ringan dan cepat. Ia mendengar tosu itu membaca ayat-ayat dari kitab To Tek Keng tentang sifat air menurut pandangan filsuf besar Lo Cu,

Tiada kelembutan melampaui air.
Namun dalam menanggulangi kekerasan
Tiada kekuatan di dunia dapat melebihinya,
Karenanya tiada yang dapat menggantikannya.

Kelemahan mengalahkan kekuatan,
Kelembutan mengalahkan kekerasan.
Namun tiada yang dapat mengetahuinya,
Tiada yang dapat menjalankannya.


Tosu itu hendak melanjutkan bacaannya yang memang masih ada kelanjutannya, namun ia segera dipotong oleh In Hong yang bersajak dengan suara keras mengejek,

Lidah memang tak bertulang
Mudah saja setiap orang menggoyang,
Tapi, biar pun lidah pendeta suci
Mana bisa mencerminkan isi hati?

Air bersifat lembut, kuat, dan jujur
Mana sama dengan hati tosu-tosu terkebur?
Kalau tidak dikeroyok tosu-tosu ganas
Tak mungkin wanita gagah Hek Moli tewas!


Ketika berguru kepada Hek Moli, In Hong hanya sedikit saja mendapatkan pelajaran ilmu membaca dan menulis. Namun gurunya itu sangat pandai bernyanyi, nyanyian dari negeri Nepal yang dinyanyikan dalam bahasa Han, dan nyanyian ini terisi sajak yang indah. Oleh karena sangat tertarik dan suka sekali dengan nyanyian-nyanyian ini, maka In Hong yang berotak cerdas itu pandai membuat sajak.

Sekarang mendengar ayat-ayat kitab To Tek Keng yang tidak pernah didengarnya, sekali mendengar saja dia pun maklum bahwa tosu itu menyindirnya dan memperingatkannya. Tetapi sebagai balasan, sekaligus dia dapat melantunkan sajak yang membalas sindiran itu. Benar-benar gadis ini berotak cerdik sekali!

Ketika tosu itu mendengar sajak ini, ia berdiri dan tersenyum, kemudian menjura kepada In Hong.

“Nona, tadi pada saat bertemu dengan suheng-ku Kim Sim San-lojin, kepala penjaga, kau menyebut-nyebut nama Hek Moli. Sekarang, dihadapan pinto, Sun Sim San-lojin, kau pun kembali menyebut nama Hek Moli. Kau masih ada hubungan apakah dengan Hek Moli dan apakah kehendakmu datang disini?”

“Dia adalah guruku, yang telah kalian bunuh dengan cara amat curang! Mana Pek Ciang San-lojin? Suruh dia keluar dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang amat rendah dan curang dari pada murid-muridnya!”

“Nona, kau mengaku bernama Put Hauw Li (Anak perempuan Tidak Berbakti), sungguh sebuah nama yang tidak harum! Terlebih lagi jika ditambah dengan sepak terjangmu ini, sungguh sayang sekali pinto terpaksa mengatakan bahwa masa depanmu tidak begitu terang. Insaflah bahwa disini bukan tempat dimana kau boleh berbuat sesukamu. Kalau kau ada urusan, boleh katakan di depan pinto dan akan pinto pertimbangkan.”

“Tosu bau! Kau sangka aku takut padamu? Kalau aku menurutkan hawa nafsu dan tidak mengindahkan Kun-lun-pay, apa kau kira aku masih perlu bertemu dengan ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay? Tak usah banyak cakap lagi dan jangan mencoba untuk memanaskan hatiku, lekas panggil keluar ciang-bun-jin dari partaimu!”

“Nona, pinto disini dan pinto menjadi wakil ciang-bun-jin Kun-lun-pay!” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan berpengaruh dan tahu-tahu disebelah kiri telah berdiri seorang tosu lain yang usianya sebaya dengan pembaca kitab tadi.

Kembali In Hong harus mengakui bahwa gerakan tosu ini pun sangat ringan dan cepat, maka dengan diam-diam ia berlaku waspada dan insaf bahwa ia berada di tempat yang berbahaya, dimana terdapat banyak sekali lawan yang amat lihay.

“Nona Put Hauw Li, pinto Cu Sim San-lojin mewakili suhu untuk menanyakan maksud kedatanganmu,” kata pula tosu ini.

In Hong menahan kemarahannya. Sekarang ia sudah melihat tiga orang tosu yang telah menyebabkan kematian gurunya, dan sebelum ia menjawab, seorang tosu berjalan masuk melalui pintu depan dengan tindakan perlahan. Ketika In Hong melirik, ternyata bahwa tosu ini adalah Kim Sim San-lojin yang tadi ia jumpai di luar.

Sekarang lengkaplah tiga orang tosu pembunuh gurunya! Tetapi In Hong masih menahan kemarahannya dan tidak akan turun tangan sebelum dia mendengar jawaban dari ketua Kun-lun-pay, yakni Pek Ciang San-lojin.

“Kalian bertiga yang telah bersekongkol dengan pendeta-pendeta busuk dari Go-bi, yang secara curang sudah menewaskan guruku! Bagaimana aku sudi bercakap-cakap dengan kalian? Lekas minta keluar gurumu, Pek Ciang San-lojin, kalau tidak, terpaksa aku akan masuk dan mencarinya sendiri!”

Sikap In Hong ini membikin marah kepada Cu Sim San-lojin yang biasanya sangat sabar dan ramah.

“Nona, harap kau jangan keterlaluan, jangan mendesak secara kurang ajar. Guruku mana bisa keluar dari tempat semedhi sebelum waktunya tiba, apa lagi untuk menemui seorang anak kecil semacam kau? Tidak, nona, lebih baik kau berurusan dengan kami saja, dan segala apa akan beres.”

“Kalau aku memaksa masuk, kalian mau apa?”

“Tidak mungkin, kami seluruh anak murid Kun-lun-pay takkan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang dan sesuka hati disini,” kata Cu Sim San-lojin dan tiga kali ia bertepuk tangan, maka dari segala jurusan muncullah tosu-tosu berbagai bentuk dan usia sehingga sebentar saja tempat itu telah penuh dengan tosu yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh puluh orang.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner