BAYANGAN BIDADARI : JILID-12


In Hong yang berhati keras dan tabah sekali, tidak menjadi gentar, sungguh pun dia tahu bahwa tak mungkin ia dapat menghadapi sekian banyaknya lawan yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi.

“Hm, nama besar Kun-lun-pay tak tahunya hanya kesombongan palsu dan kosong belaka. Siapa orangnya di dunia kangouw mau percaya bahwa ratusan orang tosu Kun-lun-pay hendak mengeroyok dan menakut-nakuti seorang gadis yang usianya baru sembilan belas tahun?”

Kata-kata ini sengaja ia ucapkan dengan suara keras sekali karena ia telah mengerahkan sinkang-nya dan ia sengaja pula melebih-lebihkan dengan menyebut ratusan orang tosu, padahal sebenarnya ia pun tahu tidak ada begitu banyak.

Pada saat itu terdengar suara yang sangat halus dan lambat seperti suara seorang anak kecil, “Ada apakah ribut-ribut ini? Ahh, dalam kelenteng pun masih saja pinto tidak dapat mengaso tenteram!”

Cu Sim San-lojin dan kedua sute-nya, juga semua tosu yang berada di lian-bun-thia itu, menjadi kaget bukan main mendengar ini. Mereka semua lalu mengundurkan diri, berdiri di pinggiran sambil menundukkan kepala dan membungkukkan pinggang. Beberapa orang tosu yang tadi berdiri membelakangi sebuah pintu, cepat-cepat pergi dari situ dan segera terbuka sebuah jalan.

Didahului oleh suara berketuknya tongkat di lantai, muncullah seorang tosu yang bertubuh tinggi besar, berwajah angker berpengaruh, usianya lebih dari enam puluh tahun, jubahnya lebar dan kepalanya memakai topi yang jarang sekali kelihatan dipakai oleh tosu, ada pun di punggungnya tergantung sebuah pedang pendek yang sarungnya indah sekali.

Sesudah tiba disitu, tosu tua ini menyapu seluruh yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam. Tiada seorang pun tosu disitu yang berani bergerak atau mengangkat kepala. Kemudian pandang mata tosu itu melirik ke arah In Hong, dan dia nampak tidak senang, mengerling tajam ke arah Cu Sim San-lojin lalu berkata, suaranya tidak halus dan lambat lagi, melainkan nyaring dan tajam menusuk,

“Cu Sim, kau tidak memenuhi tugasmu dengan baik. Bagaimana ada seorang nona dapat memasuki lian-bu-thia?”

Cu Sim San-lojin menjadi merah mukanya dan dia memandang kepada In Hong dengan mata marah.

“Suhu, dengan halus teecu sekalian sudah mencoba untuk mencegahnya masuk, namun nona ini tetap berkeras untuk bertemu dengan suhu. Mohon suhu sudi memaafkan teecu sekalian,” katanya dengan nada suara merendah.

Mendengar kata-kata Cu Sim San-lojian ini, In Hong tidak ragu-ragu lagi. Inilah orangnya yang menjadi ketua Kun-lun-pay, yang bernama Pek Ciang San-lojin. In Hong melirik ke arah kedua tangan yang memegang tongkat dan benar saja seperti yang dituturkan oleh gurunya dahulu, kedua tangan tosu tua ini putih sekali seakan-akan tidak ada darah pada telapak tangan dan jari-jari itu. Inilah sebabnya mengapa ia bernama Pek Ciang San-lojin (Kakek Gunung Bertangan Putih).

“Apakah kau yang menjadi ciang-bun-jin Kun-lun-pay dan bernama Pek Ciang San-lojin?” tanya In Hong kepada tosu tua itu.

Semua tosu menjadi marah bukan main sebab sikap gadis ini benar-benar keterlaluan dan dianggap amat kurang ajar.

Pek Ciang San-lojin memutar tubuh menghadapi In Hong, sepasang alisnya yang tebal itu bergerak dan matanya memandang tak senang.

“Kau siapakah?” bentaknya.

“Suhu, dia mengaku bernama Put Hauw Li, murid dari iblis wanita Hek Moli,” kata Cu Sim San-lojin.

“Pantas, pantas... Orang seperti dia mana mungkin mempunyai murid yang tahu aturan? Nona, engkau sudah melakukan pelanggaran besar, memaksa masuk ke dalam kelenteng kami. Kau berkeras hendak bertemu dengan pinto, ada urusan apakah?”

Melihat sikap ketua Kun-lun-pay yang keras ini, hati In Hong sudah menjadi mendongkol sekali, maka ia pun tidak memperlihatkan sikap merendah, suaranya terdengar kering dan ketus ketika menjawab,

“Totiang, aku datang kesini untuk menuntut supaya sebagai ciang-bun-jin di Kun-lun-pay, kau mengadili murid-muridmu yang secara curang telah membunuh guruku Hek Moli. Bila aku tidak memandang muka perkumpulan dan ketuanya, apakah aku perlu susah-susah bertemu denganmu? Aku tidak ingin turun tangan sendiri, tapi aku menyerahkan ke dalam tanganmu sendiri hukuman bagi tiga orang muridmu yang curang dan licik itu.”

Tiba-tiba air muka Pek Ciang San-lojin berubah, tidak kereng dan mengeras seperti tadi. Kini ia tersenyum, agaknya geli mendengar kata-kata ini.

“Nona, kalau tidak melihat bahwa engkau masih begini muda, masih terhitung anak-anak hijau, tentu ucapanmu ini akan menimbulkan sangkaan bahwa kau sudah gila. Kau pikir kau ini siapakah dapat memerintah pinto dan kami sekalian anak murid Kun-lun-pay untuk berbuat apa yang kau kehendaki? Gurumu Hek Moli bukan orang baik-baik, dialah yang mencari keributan disini. Kemudian ia pun menyerbu pelbagai partai persilatan dan sudah melukai serta membunuh entah berapa banyak orang. Akhir-akhir ini, dalam sebuah pibu ia tewas, hal itu sudah sewajarnya. Mengapa kau penasaran?”

“Akan tetapi guruku tewas karena keroyokan tiga orang muridmu. Apakah perbuatan ini pantas? Bukankah itu perbuatan yang sifatnya pengecut?”

Pek Ciang San-lojin mengerutkan keningnya dan suaranya kereng lagi seperti tadi,

“Hek Moli jahat, jahat dan ganas, mencoba untuk menjatuhkan nama Go-bi-pay dan Kun-lun-pay dengan mengandalkan kepandaiannya. Meski pun dia berkepandaian tinggi, kalau dia jahat sudah menjadi kewajiban Kun-lun-pay untuk membasminya. Dalam sebuah pibu tanpa perjanjian, seorang menghadapi banyak lawan bukanlah hal aneh. Empat orang Go-bi-pay tewas dan sebaliknya Hek Moli juga tewas, apa anehnya dalam sebuah pibu ada akibat terluka atau pun tewas? Sekarang sebagai murid Hek Moli kau sudah melakukan pelanggaran, memasuki kelenteng secara kasar dan seperti orang yang ingin memancing permusuhan. Akan tetapi oleh karena pinto mempertimbangkan bahwa kau masih sangat muda, biarlah kali ini pinto memberi ampun dan kau boleh lekas-lekas enyah dari sini!”

In Hong marah sekali. Ia membanting-banting kakinya dengan gemas sebelum menjawab, “Pek Ciang, kau terlampau menghina guruku dan aku sendiri! Tidak mengapa kau anggap bahwa guruku telah tewas dalam sebuah pibu. Sekarang aku muridnya juga datang untuk menantang pibu kepada kau dan siapa saja tokoh Kun-lun-pay, hendak kulihat sampai di mana kepandaiannya maka berlagak sombong. Kalian mau maju seorang lawan seorang boleh, mau maju semua mengeroyokku juga bukan masalah. Aku menyediakan nyawaku untuk membalas sakit hati guruku!” Setelah berkata demikian, In Hong mencabut pedang Liong-gan-kiam dan bersiap-sedia menghadapi lawan!

“Perempuan liar, jangan kurang ajar kau!” bentak Sun Sim San-lojin yang menjadi marah sekali melihat sikap dan mendengar kata-kata In Hong terhadap suhu-nya.

Ia menyerang dengan hud-timnya dan ujung kebutan itu meluncur kaku ke arah pundak In Hong untuk menotok jalan darah, sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas pedang. Tosu ini sudah tahu tentang kelihayan Hek Moli, akan tetapi terhadap murid Hek Moli, seorang gadis yang masih begitu muda, tentu saja ia memandang ringan.

Akan tetapi, dilain saat tosu ini sudah mencelat mundur dengan muka pucat. Kebutannya telah terbabat putus oleh pedang nona itu dan kalau tadi dia tidak cepat mempergunakan gerakan Pek-liong-hoan-sin (Naga putih membalikkan tubuh) dan melompat ke belakang, tentu tangan kirinya akan ikut terbabat putus pula! Demikian cepat dan ganasnya gerakan pedang di tangan gadis itu.

“Begitu sajakah kelihayan tosu Kun-lun-pay?” In Hong tidak mengejar, melainkan berdiri sambil tersenyum mengejek dengan sikap menantang. “Hayo, siapakah lagi yang hendak main-main?”

Cu Sim San-lojin dan Kim Sim San-lojin marah bukan main. Mereka telah siap untuk turun tangan dan senjata mereka sudah disiapkan pula. Akan tetapi Pek Ciang San-lojin segera berkata,

“Biar pinto sendiri memberi hajaran kepada nona yang kejam dan ganas ini!”

Dari gerakan In Hong tadi, guru besar ini sudah maklum bahwa ilmu pedang dari In Hong amat ganas dan cepat, dan kiranya kepandaian nona ini sudah mengimbangi kepandaian Hek Moli. Kekalahan Sun Sim San-lojin dalam segebrakan tadi biar pun terjadi karena Sun Sim San-lojin kurang berhati-hati dan terlampau memandang rendah kepada lawan, tetapi sudah merupakan hal yang amat memalukan.

Apa bila kedua muridnya yang lain maju kemudian kalah oleh nona yang masih muda ini, bukankah itu malah akan mencemarkan nama baik Kun-lun-pay? Maka, dalam penasaran dan malunya, Pek Ciang San-lojin sampai melupakan kedudukannya yang tinggi dan mau turun tangan sendiri menghadapi seorang lawan yang patut menjadi cucu muridnya.

Mendengar ucapan Pek Ciang San-lojin, In Hong juga berlaku waspada. Kepandaiannya memang telah hampir menyamai kepandaian gurunya, bahkan dalam kecepatan mungkin dia masih menang, sungguh pun tenaga lweekang-nya masih jauh dari pada memuaskan. Dahulu gurunya baru roboh setelah dikeroyok tiga oleh Kun-lun Sam-lojin dengan bantuan tosu-tosu Go-bi-pay pula, maka sekarang menghadapi tiga orang tokoh Kun-lun-pay itu ia tidak takut sama sekali, biar pun andai kata akan dikeroyok tiga.

Akan tetapi sekarang Pek Ciang San-lojin sendiri yang akan maju menghadapinya dan ini soal lain lagi! Sebagai ketua partai Kun-lun-pay, In Hong percaya bahwa kepandaian tosu tua ini pasti luar biasa sekali, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati.

Diam-diam tangan kiri gadis ini merogoh segenggam pasir hitam, senjata rahasianya yang disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)! Akan tetapi pada saat itu pula terdengar suara,

“Sreek...! Sreek...! Sreek...!”

Dan masuklah seorang tosu tua sambil menyeret sapunya yang menerbitkan suara itu ke dalam ruangan lian-bu-thia. Dia bukan lain adalah tosu tua tukang menyapu pekarangan depan yang tadi bekerja sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa seorang diri seperti orang gendeng.

Kini, tosu yang lebih tua dari Pek Ciang San-lojin ini, yang sudah tujuh puluh tahun lebih usianya, menghampiri In Hong sambil menyeret sapunya.

“Tugasku sebagai tukang sapu disini, membersihkan segala kekotoran. Kalau masih ada aku disini, mengapa ciang-bun-jin harus turun tangan sendiri menyapu sehelai daun muda yang melayang turun mengotori ini? Biarkan aku tua bangka mengerjakannya.”

Pek Ciang San-lojin tadi sudah siap dengan tongkatnya untuk memberi hajaran kepada In Hong. Melihat datangnya tosu tua ini, ia segera melangkah mundur dan mukanya berobah merah. Baru ia insaf bahwa tadi ia terlalu terburu nafsu dan hampir saja ia merendahkan nama Kun-lun-pay.

Bagaimana akan kata orang-orang kangouw bila mereka mendengar betapa hanya untuk mengusir seorang gadis muda yang datang mengacau saja, ciang-bun-jin Kun-lun-pay sendiri sampai turun tangan? Hal ini sama saja dengan mengakui kepada dunia bahwa Kun-lun-pay sudah kehabisan orang pandai!

“Susiok (paman guru) memperingatkan teecu dan datang membantu, itulah bagus sekali!” kata Pek Ciang San-lojin dengan wajah berseri.

Tidak saja ia terbebas dari keadaan yang memalukan dan merendahkan kedudukannya, juga kalau kakek tua ini maju, pasti segalanya akan beres. Andai kata paman gurunya ini sampai kalah oleh In Hong, maka kiranya disitu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenangkannya!

Tosu tua tukang sapu itu lalu membalikkan tubuh menghadapi In Hong, sambil tersenyum-senyum dan matanya yang sipit itu berkejapan aneh. “Kau murid Hek Moli? Mari kuantar kau keluar kembali, tidak baik berada disini, di antara puluhan orang pria, sedangkan kau seorang gadis muda. Ha-ha-ha!”

Kata-kata ini diterima oleh In Hong sebagai penghinaan maka ia menjadi marah sekali.

“Tosu bau yang berotak miring. Kau juga ingin mampus? Lihat pedang!” In Hong berseru marah dan pedangnya cepat sekali menusuk ke arah leher tosu tua itu.

Gerakan serangan ini luar biasa cepatnya sehingga diam-diam Pek Ciang San-lojin amat terkejut. Benar-benar seorang dara yang lihay bukan kepalang, pikirnya, dan baiknya yang menghadapinya adalah susiok-nya. Maka ia tidak merasa khawatir sedikit pun, tahu akan kelihayan susiok itu.

Sebaliknya In Hong terkejut bukan main ketika ujung pedangnya tiba-tiba telah ‘ditangkap’ oleh sapu. Sapu itu membelit ujung pedangnya dan betapa pun dia membetot, tetap saja dia tak berhasil melepaskan pedang dari libatan ini. Ia tahu bahwa tenaga lweekang-nya jauh lebih rendah dari pada tenaga kakek aneh ini, maka diam-diam dia merasa gelisah sekali.

“Lepaskan pedang!” serunya dan kaki kirinya menendang ke arah gagang sapu lawannya.

Tosu tua itu menangkis dengan tangan kiri dan begitu kaki itu bertemu dengan lengan si kakek, In Hong terhuyung-hujung dan saat itu dipergunakan oleh tosu itu untuk menarik sapunya dengan tenaga lweekang yang amat hebat sehingga In Hong tak dapat menahan dan pedangnya lantas terampas!

Bukan main marahnya gadis ini, sedangkan para tosu disitu tersenyum-senyum girang. Juga Pek Ciang San-lojin tersenyum girang dan diam-diam memuji kelihayan susiok-nya yang aneh ini. Akan tetapi kegirangan mereka itu terganti dengan kekagetan hebat ketika tangan kiri In Hong yang marah tiba-tiba berkelebat dan sinar hitam menyambar ke arah tubuh tosu tua tadi.

Tosu ini nampak terkejut, cepat mengayun sapu dan lengan baju untuk menyampok pasir beracun itu. Akan tetapi, meski pun sebagian besar pasir itu berhasil ditangkis, masih ada yang menembus ujung lengan baju dan melukai lengannya. Untuk beberapa detik tosu tua ini terhuyung-uyung dengan muka pucat!

Akan tetapi, dilain saat, tosu itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya melayang ke arah In Hong dan sapunya menyambar. In Hong mengelak, namun kakinya masih terlibat oleh sapu sehingga tubuh gadis ini lantas terguling! Dilain saat kakek tua ini sudah mengempit tubuhnya dan sambil membawa tubuh gadis itu keluar, ia tertawa-tawa dan berkata,

“Biar aku melempar keluar daun ini, ha-ha-ha!”

Semua tosu menghela napas lega, namun secara diam-diam Pek Ciang San-lojin menjadi gelisah sekali. Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay ini maklum bahwa susiok-nya telah terkena sambaran senjata rahasia yang amat lihay. Ia pernah mendengar bahwa Hek Moli memiliki senjata rahasia toat-beng-hek-kong dan kiranya tadilah senjata rahasia itu, diperlihatkan oleh muridnya dan benar-benar hebat sekali sehingga susiok-nya yang berilmu tinggi pun masih terkena juga.

“Cu Sim, kau lihatlah keadaan susiok-couwmu. Kalau ternyata dia terluka, lekas memberi laporan agar kita dapat berusaha mengobatinya!”

Cu Sim San-lojin mengiyakan lantas keluar dari ruangan itu. Tosu-tosu lain lalu bubaran, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Memang mereka sudah sangat terlatih, cepat berkumpul apa bila dibutuhkan dan tenang kembali setelah peristiwa selesai…..

********************

Betapa pun In Hong meronta dan mengerahkan tenaga, ia tidak mampu melepaskan diri dari kempitan lengan tosu tua itu yang setelah keluar dari kelenteng, berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah tiba di lereng gunung. Kemudian dia melepaskan nona itu sambil tersenyum dan berkata,

“Nona, kalau aku tidak teringat akan mendiang gurumu, siapa sudi menolongmu dan rela membiarkan lenganku terkena toat-beng-hek-kong?” katanya dan dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sebungkus obat, terus mengobati luka yang diakibatkan oleh pasir-pasir hitam.

Melihat obat ini, In Hong terkejut sekali. Itulah obat pemunah pasir hitam yang dibuat oleh gurunya sendiri, yang juga berada di dalam bungkusan pakaiannya. Dari mana tosu ini mendapatkan obat itu?

“Gurumu adalah sahabat baikku. Karena aku pernah ditolong olehnya, maka tadi melihat kau menghadapi Pek Ciang San-lojin, aku sengaja datang untuk menyeretmu keluar dari lembah maut. Kalau aku tak keburu datang, apa kau kira sekarang kau masih bernyawa? Hmm, biar pun ilmu silat dan ilmu pedangmu lihay, mana kau dapat menghadapi tokoh-tokoh Kun-lun-pay? Lweekang-mu masih amat rendah, bila kau bertanding melawan Pek Ciang, tentu kau akan terluka dan binasa.”

Mendengar semua kata-kata ini, maklumlah In Hong bahwa kakek aneh ini bermaksud baik dan bahkan sudah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Locianpwe, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Akan tetapi teecu Kwee In Hong tidak takut mati. Untuk membalas budi mendiang guruku, teecu harus berani berkorban nyawa. Teecu harus membalas dendamnya atas pengeroyokan tosu-tosu Kun-lun-pay.”

“Ha-ha-ha, inilah namanya anak kerbau tidak takut harimau. Dengan tenaga lweekang-mu yang serendah itu, biar pun sepuluh tahun lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan kami. Kecuali kalau kau bisa mendapatkan kitab Tat Mo I-kin-keng dari Siauw-lim-si kemudian mempelajarinya sampai tamat, baru kiranya kau akan dapat menghadapi kami! Nah, kau pergilah, aku bicara semua ini bukan terhadapmu, melainkan terhadap arwah gurumu!” Setelah berkata demikian, sambil menyeret sapunya tosu tua itu berjalan pergi.

“Tahan dulu, locianpwe, mohon tahu nama locianpwe yang mulia.”

Tanpa menoleh tosu itu berkata, “Siang-te Lo-koay hanya tukang sapu di kelenteng Kun-lun, tidak ada harganya untuk diingat lagi.” Kakek itu mempercepat larinya dan sebentar saja telah naik kembali ke bukit itu.

In Hong menarik napas panjang. Ia kagum sekali kepada kakek ini, yang meski pun ilmu silatnya tidak terlampau tinggi, namun ginkang dan lweekang-nya sudah sampai di puncak yang tak dapat diukur tingginya sehingga dia hanya merupakan seorang anak kecil yang tidak berdaya terhadapnya.

Ia pikir bahwa betul sekali apa yang diucapkan oleh kakek itu. Kepandaiannya, atau lebih tepat lweekang-nya, masih terlalu rendah sehingga kalau ia nekad membalas dendam ke Kun-lun-pay, maka hal itu bukan berarti kegagahan melainkan ketololan besar. Sakit hati gurunya takkan pernah terbalas, sebaliknya ia seperti mengantarkan nyawa secara sia-sia belaka.

Tat Mo I-khi-keng dari Siauw-lim-si! Kata ini terukir di dalam hatinya. Apa artinya semua kepandaiannya kalau ia tidak dapat memiliki lweekang yang tinggi? Ia pernah mendengar dari gurunya bahwa dalam pertandingan menghadapi tokoh yang lihay, memang tenaga lweekang amat penting. Dan gurunya pernah mengaku bahwa dalam hal lweekang, masih kalah oleh partai-partai besar, apa lagi partai silat Siauw-lim-si yang amat mengutamakan ilmu lweekang ini.

“Aku harus mendapatkan kitab Tat Mo I-kin-keng dari Siauw-lim-si, biar pun harus menjadi pencuri!” Pikiran ini menjadi keputusan di dalam hati gadis yang masih penasaran itu, dan sekali mengambil keputusan, dia tidak mau menunda-nunda lagi, maka begitu turun dari Kun-lun-san, ia langsung menuju ke Siauw-lim-si…..

********************

Berbeda dengan partai persilatan Kun-lun-pay, Siauw-lim-pay adalah partai persilatan dari penganut-penganut agama Buddha. Kelenteng Siauw-lim-si adalah sebuah kelenteng yang besar sekali, dikelilingi oleh tembok yang tebal dan tinggi.

Di antara semua partai persilatan yang besar, nama Siauw-lim-pay sudah amat terkenal. Setiap orang hwesio, atau anak murid Siauw-lim-pay yang berada di luar kelenteng, sudah dapat dipastikan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, karena kalau belum tamat belajar mencapai tingkat tertentu, murid Siauw-lim-si tidak boleh meninggalkan perguruan!

Setiap orang anak murid yang tamat harus menempuh ujian, yakni melalui sebuah lorong yang sengaja disiapkan untuk menguji si murid. Lorong ini penuh dengan alat-alat rahasia dan si murid akan menghadapi serangan-serangan berbahaya, baik yang dilakukan oleh guru-gurunya sendiri mau pun dengan alat-alat rahasia itu.

Kalau ia berhasil menembusi lorong inti, ia dianggap cukup cakap untuk keluar dari Siauw-lim-si. Akan tetapi kalau dalam menghadapi ujian ini ia gagal, maka harus belajar lebih giat lagi. Atau kalau sampai ia tewas dalam ujian ini, itu sudah menjadi nasibnya!

Oleh karena ada aturan dan disiplin yang keras ini, maka selamanya Siauw-lim-pay dapat menjaga nama baik dan anak-anak murid keluaran Siauw-lim-pay dapat menjunjung tinggi nama perguruan itu.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua dari Siauw-lim-pay adalah Bu Kek Tianglo, seorang hwesio yang usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Selama berpuluh tahun hwesio ini memegang pimpinan Siauw-lim-pay dan boleh dibilang dia berhasil dalam memajukan partai persilatan ini. Akan tetapi hatinya masih tidak puas. Ada hal yang amat mengganjal hatinya dan kalau dia teringat akan hal ini, diam-diam dia menarik napas seorang diri dan berbisik,

“Apa akan jadinya dengan Siauw-lim-pay? Arwah Tat Mo Couwsu pasti akan mengutukku kalau aku tidak bisa mendapatkan seorang ahli waris yang baik.”

Yang menjadikan kakek hwesio ini berduka sekali adalah karena selama ini dia tidak bisa mendapatkan seorang pun murid yang berbakat, yang akan dapat mewarisi kepandaian asli dari Tat Mo Couwsu. Ilmu silat peninggalan guru besar Tat Mo Couwsu, yang disebut Tat Mo Kun-hoat, terdiri dari bermacam-macam ilmu silat.

Memang semua anak murid Siauw-lim-pay mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi tingkat mereka yang paling tinggi hanya sampai enam bagian saja. Yang sudah mewarisi ilmu silat ini sampai sembilan bagian hanyalah Bu Kek Tianglo seorang, karena untuk berhasil mewarisi seluruh pelajaran yang amat sukar dari ilmu silat itu, dibutuhkan bakat luar biasa serta kebersihan batin, hawa dalam tubuh, dan darah.

Sampai sebegitu jauh, tak seorang pun anak murid yang sanggup menerima latihan I-kin-keng, yakni latihan ilmu lweekang yang tertinggi. Hanya Bu Kek Tianglo sendiri yang telah berhasil, akan tetapi ia sudah terlampau tua. Usianya takkan lama lagi mempertahankan hidupnya dan sebelum mati, hwesio tua ini ingin sekali mendapatkan seorang murid yang dapat mewarisi I-kin-keng dan ilmu silat tertinggi dari Tat Mo kun-hoat.

Bu Kek Tianglo sudah hampir putus asa sampai datangnya seorang hwesio Siauw-lim-si yang membawa seorang pemuda dan seorang bocah perempuan ke kelenteng itu. Hal ini terjadi lima tahun yang lampau. Hwesio yang datang ini adalah murid kepala dari Bu Kek Tianglo yang bernama Ceng Seng Hwesio.

Ceng Seng Hwesio berlutut menghadap ketua Siauw-lim-pay itu dan di sebelahnya, anak perempuan dan pemuda itu pun ikut berlutut dengan penuh penghormatan.

“Muridku yang baik, selama tiga bulan ini kau meninjau keadaan di luar. Bagaimanakah khabarnya dengan para anak murid kita yang berada di luar?”

“Mereka baik-baik semua, suhu, dan tidak ada seorang pun yang melakukan pelanggaran, semuanya patuh akan pelajaran dan larangan Siauw-lim-pay,” jawab Ceng Seng Hwesio.

Jawaban ini agaknya amat menyenangkan hati Bu Kek Tianglo, karena kakek ini memang selalu merasa gelisah apa bila dia teringat betapa banyaknya murid-murid Siauw-lim-pay berada di luar kelenteng sehingga dia tidak kuasa untuk mengawasi tingkah laku mereka.

Dia selalu merasa khawatir kalau-kalau ada anak murid yang melakukan perbuatan jahat, melanggar larangan Siauw-lim-pay dan di dunia luar merusak nama baik Siauw-lim-pay. Oleh karena ini, sering kali ia mengutus murid-muridnya untuk meninjau keadaan di dunia kangouw dan memberi wewenang kepada murid-muridnya ini. Kalau mendengar ada anak murid Siauw-lim-pay yang menyeleweng, mereka harus menangkap dan menyeretnya ke Siauw-lim-pay!

“Siapakah orang muda dan nona cilik ini?” kakek itu bertanya sambil memandang kepada pemuda dan anak perempuan yang berlutut di dekat Ceng Seng Hwesio.

“Di dalam perantauan, teecu bertemu dengan mereka ini, ketika dikeroyok oleh perampok di dalam hutan. Teecu amat tertarik melihat ilmu silat pemuda ini yang berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-si, tetapi gerakannya sudah menyeleweng jauh. Sesudah teecu mengajak mereka bercakap-cakap, ternyata bahwa mereka ini masih cucu murid dari supek Bu Sek Tianglo!”

Bu Kek Tianglo nampak tercengang dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian.

“Anak muda, siapa namamu? Dan kau murid siapakah?” tanya Bu Kek Tianglo.

Pemuda itu mengangkat mukanya yang tampan dan membayangkan kedukaan, menatap kepada tosu tua itu kemudian menunduk kembali dan menjawab, suaranya sangat halus dan sopan,

“Susiok-couw, teecu bernama Ong Teng San, dan ini adik teecu bernama Ong Lian Hong. Teecu berdua menerima pelajaran ilmu silat dari ayah teecu sendiri yang bernama Ong Tiang Houw, murid dari sucouw Bu Sek Tianglo. Lalu kebetulan sekali teecu berdua yang sengsara ini bertemu dengan supek Ceng Seng Hwesio, maka apa bila susiok-couw tidak berkeberatan, teecu berdua mohon diterima menjadi murid di Siauw-lim-si, karena teecu berdua sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi.” Suara pemuda itu menjadi perlahan dan dia kelihatan berduka sekali.

“Hm, kenapa kalian pergi dari rumah? Dimana ayahmu? Biar pun ayahmu tidak langsung menjadi murid Siauw-lim-pay, akan tetapi sudah lama pinceng (aku) mendengar mengenai sepak terjangnya yang patut dihargai sebagai seorang pendekar berjiwa gagah. Agaknya mendiang suheng-ku Bu Sek Tianglo tidak terlalu salah menerima murid sungguh pun dia sendiri telah meninggalkan Siauw-lim-pay.”

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Teng San terisak menangis! Hati pemuda ini bersedih sekali kalau teringat akan ayahnya yang dianggap telah melakukan perbuatan yang amat memalukan dan tidak berbudi.

Melihat pemuda ini menangis, Bu Kek Tianglo wajahnya tiba-tiba berseri. Di dalam hatinya ia berkata, “Aha, anak inilah yang kiranya akan dapat mewarisi I-kin-keng, hatinya perasa sekali dan perasaan yang halus inilah yang amat dibutuhkan untuk bisa mempelajari I-kin-keng dengan sempurna.” Akan tetapi di luarnya, ia berkata dengan suara tegas,

“Teng San, sungguh tidak patut seorang pemuda mengalirkan airmata. Ada urusan, boleh kau beritahukan kepada pinceng dengan terus terang, mungkin saja pinceng akan dapat mencarikan jalan terang bagimu.”

Teng San menekan perasaan sedihnya, kemudian dengan terus-terang dia menceritakan bagaimana ayahnya telah membunuh seorang hartawan muda bernama Kwee Seng, lalu mengambil isteri hartawan itu sebagai isterinya. Hal ini dianggapnya sangat menyakitkan dan memalukan hati, apa lagi karena Teng San sudah menganggap ibu tiri itu sebagai ibunya sendiri, bahkan sudah berkali-kali berjanji kepada ibu tirinya untuk membalaskan dendam atas terbunuhnya suami yang dulu dari ibu tirinya itu. Tidak disangka-sangkanya bahwa pembunuhnya adalah ayahnya sendiri!

Mendengar penuturan ini, Bu Kek Tianglo mengerutkan keningnya dan beberapa kali dia menggeleng-geleng kepalanya yang gundul.

“Omitohud, bagaimana ada kejadian aneh seperti itu? Pinceng sudah mendengar tentang ayahmu yang memimpin pasukan Kay-sin-tin membasmi orang-orang kaum hartawan dan bangsawan. Perjuangan memperbaiki nasib kaum jembel memang baik, bahkan semenjak dahulu dipelopori oleh orang-orang gagah sedunia yang tidak suka melihat sesama hidup sengsara dan melihat keganjilan di dunia ini, dimana yang hidup kaya sampai berlebihan sedangkan yang hidup miskin sampai tidak dapat makan. Akan tetapi, setiap perjuangan memperbaiki nasib haruslah dilakukan dengan amat hati-hati dan waspada, karena hampir selalu ada bahaya kemasukan anasir-anasir buruk dan sifat-sifat yang tidak baik. Ayahmu terlalu dikuasai oleh nafsunya, nafsu dan dendam karena kematian isterinya, yaitu ibumu, dan orang yang sudah dikuasai oleh nafsu dan dendam, tiada ubahnya seperti binatang buas yang tidak memilih bulu, siapa saja diterkamnya. Orang gagah harus dapat berlaku adil, menghukum mereka yang bersalah dan menolong mereka yang tergencet. Secara membuta tuli saja membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan, adalah perbuatan yang amat keliru, karena tak mungkin seluruh hartawan dan bangsawan itu jahat belaka. Karena kekeliruan ayahmu itu, sekarang dia harus memetik buahnya yang sangat pahit. Bagaimana dengan ayahmu sekarang?”

“Teecu tidak tahu, susiok-couw. Entah bagaimana dengan ayah, dan kalau teecu teringat akan ibu...” Sampai disini terdengar suara tangisan Liang Hong.

“San-ko, aku mau pulang, mau menjaga ibu...,” anak ini menangis.

Bu Kek Tianglo adalah seorang yang hatinya penuh welas asih, sesuai dengan penganut agama Buddha, maka ia amat terharu melihat keadaan dua orang anak itu. Apa lagi kalau ia melihat Teng San, diam-diam ia memuji ketajaman mata muridnya, karena pemuda ini benar-benar memiliki bakat yang luar biasa.

Oleh karena itu dia menerima Teng San dan Lian Hong menjadi murid Siauw-lim-si, dan menyerahkan pendidikan mereka kepada Ceng Seng Hwesio. Namun terhadap Teng San, Bu Kek Tianglo turun tangan sendiri memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga pemuda itu mendapatkan kemajuan yang amat pesat…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner