BAYANGAN BIDADARI : JILID-13


Selama lima tahun Teng San dan Lian Hong dilatih di dalam kelenteng Siauw-lim-si dan Teng San kini benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu silat tertinggi dari Siauw-lim-pay. Akan tetapi, tetap saja dia masih mengalami kesukaran untuk mewarisi I-kin-keng dan sesudah lima tahun, baru ia mulai mendapat penjelasan tentang ilmu lweekang tertinggi dari Siauw-lim-pay ini.

Juga Lian Hong merupakan murid yang amat memuaskan hati Ceng Seng Hwesio, sebab dalam usia empat belas tahun, gadis cilik ini sudah mampu melewati lorong ujian dengan selamat tanpa terluka sedikit pun!

Pada waktu inilah Siauw-lim-si mendapat serbuan yang menggemparkan kelenteng besar itu, serbuan yang dilakukan oleh Kwee In Hong, gadis murid Hek Moli yang sangat berani dan keras hati itu!

Waktu itu tepat tanggal lima belas. Rembulan bersinar terang dan hawa malam itu dingin bukan main, tanda bahwa musim panas sudah mulai bertukar musim. Tak seorang pun di kelenteng Siauw-lim-si yang menduga bahwa malam itu tempat mereka yang disegani dan ditakuti oleh semua orang kangouw akan menerima tamu tak diundang yang amat berani. Memang sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang berani memusuhi Siauw-lim-si, apa lagi datang sebagai seorang tamu malam tak diundang yang bermaksud jahat. Maka para hwesio enak-enak saja dan tidak menyangka buruk.

Apa lagi karena In Hong memasuki tempat itu dengan mempergunakan ginkang-nya yang sudah tinggi tingkatnya. Hanya bayangannya saja yang berkelebatan ketika dia mendaki bukit itu menuju ke kelenteng. Kemudian, dengan sangat mudahnya dia melompati pagar tembok yang tinggi, yang mengelilingi semua bangunan kelenteng dan rumah tinggal para anak murid Siauw-lim-pay.

Kalau ada orang melihat In Hong melompat-lompat di dalam sinar bulan purnama, tentu ia akan mengira bahwa gadis ini seorang bidadari yang turun dari bulan. Memang gadis ini amat cantik, lincah, dan pakaiannya yang serba ringkas membayangkan bentuk tubuhnya yang langsing.

In Hong merasa agak heran ketika melihat keadaan di dalam pagar tembok itu sunyi saja, tidak kelihatan penjaganya. Begini sajakah keadaan Siauw-lim-si yang tersohor kuat itu? Dia merasa lega dan setelah meneliti bahwa keadaan di dalam benar-benar aman, dia lalu melayang turun dari pagar tembok dengan gerakan ringan seakan seekor burung walet menyambar. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika dia tiba di atas tanah dalam sebuah pekarangan yang lebar.

Gadis yang berani ini maju terus, sambil menyelinap dan bersembunyi di dalam bayang-bayang pohon dan tembok yang gelap. Tiba-tiba ia melihat seorang hwesio cilik membawa lampu berjalan perlahan-lahan. Sambil berjalan hwesio cilik ini mulutnya berkemak-kemik mengeluarkan suara seperti orang berdoa, agaknya dia sedang menghafal ayat-ayat suci yang baru dipelajarinya siang hari tadi.

In Hong cepat bersembunyi ke dalam tempat gelap dan ketika hwesio kecil itu lewat, dia lalu melompat dan pedangnya telah menempel pada leher hwesio ini. Alangkah heran dan kagumnya hati In Hong ketika melihat betapa hwesio cilik ini sama sekali tidak terkejut.

Jangankan berteriak minta tolong atau melepaskan lampunya, bahkan ia menatap sambil tersenyum! Ketenangan hwesio cilik ini membuat In Hong menjadi kagum dan malu pada diri sendiri, maka dia segera menjauhkan pedangnya dari leher anak yang sudah menjadi calon pendeta itu.

“Siauw-suhu, aku tidak berniat buruk kepadamu, hanya aku harap kau suka memberitahu kepadaku dimana adanya kamar penyimpanan kitab Siauw-lim-si!” bisiknya.

Memang aneh sekali. Hwesio cilik ini sambil tersenyum lalu menuding ke arah kiri. “Kau hendak mencari kamar penyimpanan kitab? Lihat, bangunan di sudut kiri yang jendelanya kuning itulah tempat penyimpanan kitab.”

In Hong tertegun. “Kau tidak bohong, siauw-suhu?”

Hweesio cilik itu tersenyum dan menggeleng kepalanya yang gundul kelimis. “Kalau orang masih suka berbohong apa gunanya berada disini? Tidak, disini kau tidak bertemu dengan orang yang suka membohong.”

In Hong menggerakkan tangan hendak menotok hwesio cilik ini agar tidak dapat bergerak atau berteriak, akan tetapi begitu melihat muka yang jujur dan polos serta senyuman yang terbuka itu, ia pun menahan tangannya.

“Aku tak akan mengganggumu, akan tetapi kau harus berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapa pun juga akan kedatanganku ini.”

Kembali hwesio cilik itu tertawa. “Lihiap, tentang kedatanganmu ini, siapakah yang tidak tahu? Para suhu disini sudah tahu semua, untuk apa diberitahukan lagi?” Setelah berkata demikian, hwesio cilik ini berjalan dengan lambat, lampu di tangannya bergoyang-goyang.

Untuk sejenak In Hong berdiri terpaku. Keterangan terakhir ini mengejutkan hatinya. Akan tetapi, betulkah itu? Kalau para tokoh Siauw-lim-pay sudah mengetahui kedatangannya, mengapa mereka tidak muncul?

Bagaimana pun juga aku sudah sampai disini dan harus kucoba mendapatkan kitab I-kin-keng, pikirnya.

Tanpa ragu-ragu lagi In Hong lalu melompat cepat ke kiri, menuju ke bangunan berjendela kuning yang ditunjuk oleh hwesio kecil tadi. Untuk sampai di tempat itu, ia harus melalui beberapa ruangan dan di sana sini terdapat arca-arca Buddha sebesar orang sehingga terkadang gadis ini terkejut karena dari jauh arca-arca ini seperti seorang hwesio sedang duduk bersemedhi.

Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan dan di dekat ruangan terbuka inilah adanya kamar yang berjendela kuning. Hatinya berdebar girang dan dengan hati-hati ia mendekati kamar itu.

Di ujung ruangan itu, dekat dengan pintu kamar, ia melihat punggung sebuah patung lagi yang sebesar manusia. Patung ini seperti arca-arca lain yang dilihatnya tadi, maka ia tidak menaruh perhatian. Dengan langkah lebar In Hong menghampiri jendela kuning dari kayu dan sekali mencongkel dengan pedangnya, jendela itu segera terbuka tanpa menerbitkan suara apa-apa.

Kamar ini luas sekali dan diterangi oleh lampu besar. Ia melihat lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku kuno dan di tengah kamar ini ia melihat seorang laki-laki sedang duduk membaca buku.

Seperti patung-patung di luar, lelaki itu juga duduk bersila dan biar pun kedua tangannya memegang sebuah kitab terbuka, namun ia tidak bergerak sama sekali. Agaknya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk membaca isi kitab, maka dia tidak mempedulikan lain hal yang terjadi disekelilingnya.

In Hong tercengang dan ia memandang dengan mata terbelalak. Kalau ia melihat laki-laki itu seorang hwesio gundul, dia tidak akan terheran. Akan tetapi laki-laki ini bukan seorang hwesio, melainkan seorang pemuda yang tampan dengan pakaian serba putih. Ia hendak menerjang masuk, akan tetapi cepat menarik diri kembali lalu bersembunyi ketika melihat pemuda itu menggerakkan leher dan menengok ke arah jendela.

“Sampai berani merusak jendela, inilah keterlaluan sekali!” kata pemuda itu dan ketika In Hong hendak memandang ke dalam, tiba-tiba jendela itu sudah tertutup! In Hong meraba penutup yang kini berwarna hitam itu dan ternyata bahwa yang menutup jendela secara aneh itu adalah besi yang tebal dan dingin!

Ia mencoba mendorong, namun sia-sia karena besi penutup jendela itu kokoh kuat. In Hong penasaran dan sekali melompat, dia sudah naik ke atas genteng kamar itu. Namun, ketika ia membuka genteng, ternyata bahwa dibawah genteng juga tertutup oleh lapisan besi yang tak mungkin ditembus!

“Kurang ajar!” ia memaki perlahan lalu melayang turun kembali, kini ia menghampiri pintu. “Kau kira aku tidak berani menerjang dari pintu?” pikirnya.

Akan tetapi, sebelum ia membuktikan ancamannya, arca yang tadi ia lihat punggungnya itu tiba-tiba bergerak dan sudah berdiri di belakangnya.

“Nona, tak seorang pun boleh memasuki pintu ini!”

In Hong sampai mencelat setombak lebih saking kagetnya. Tak disangkanya bahwa yang dikira arca itu ternyata seorang hwesio gundul tua yang agaknya duduk bersemedhi di depan pintu itu!

Pada saat itu terdengar suara kelenengan perlahan yang sambut menyambut di seluruh tempat itu, maka tahulah In Hong bahwa ia sudah terkepung. Pintu kamar itu terbuka dan pemuda yang tadi dilihatnya membaca kitab, kini sudah berdiri dengan pedang di tangan, ada pun daun pintu itu tertutup sendiri dengan suara keras dan nyaring yang menandakan bahwa daun pintu ini pun terbuat dari pada besi atau baja!

Gagal dan aku harus cepat melarikan diri, pikir In Hong dengan kecewa.

“Nona, jalan masuk ke Siauw-lim-si sangat mudah, namun jalan keluarnya tidak semudah yang kau kira,” hwesio tadi berkata dengan nada mengejek.

“Minggir kau!” bentak In Hong sambil mempergunakan tangan kirinya mendorong.

Hwesio itu tidak mau mengelak, sebaliknya menyambut dengan tangan kanannya. Tubuh In Hong terpental ke belakang, demikian kerasnya tenaga dorongan hwesio itu.

In Hong terkejut sekali. Lihay betul lweekang dari hweesio ini, pikirnya, maka dia tidak berani memandang ringan. Baru seorang hwesio saja begini lihay, kalau mereka semua muncul, tentu dia tidak akan mampu melawan mereka semua. Cepat ia hendak lari, akan tetapi hwesio itu sudah menghadangnya sambil tertawa,

“Coan Sim Hwesio penjaga kamar kitab tak akan membiarkan kau pergi, nona,” katanya dan tangannya segera menyambar hendak menangkap lengan In Hong yang memegang pedang.

Nona ini menjadi marah dan cepat dia menggerakkan pedang hendak membacok lengan hwesio itu. Namun ternyata lawannya mempunyai gerakan yang gesit juga, karena sudah berhasil menarik lengannya kemudian membalas dengan tendangan loan-hoan-twi, yakni tendangan berantai yang dilakukan bertubi-tubi.

In Hong cepat melompat tinggi ke belakang, dan sambil memutar tubuhnya, pedangnya lalu menusuk dada hwesio itu. Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga hwesio ini mengeluarkan seruan kaget dan cepat mengelak sambil melompat ke belakang. Namun In Hong tidak memberi kesempatan padanya dan terus menyerang. Sekarang pedangnya merupakan sinar dan bergulung-gulung menyerang hwesio itu yang menjadi kewalahan, melompat dan mengelak ke sana ke mari.

“Pencuri nekat, jangan kau kurang ajar!” tiba-tiba pedang In Hong tertangkis oleh pedang lain dan ternyata yang menangkis pedangnya adalah pemuda yang tadi membaca kitab. “Murid termuda Siauw-lim-si Ong Teng San takkan membiarkan pencuri pergi!”

In Hong menjadi marah. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi dia lalu memutar pedangnya secepatnya, menyerang pemuda itu dengan jurus-jurus ilmu pedangnya yang paling lihay. Pemuda itu terkejut sekali dan buru-buru ia menangkis sambil melangkah mundur, karena serangan ini benar-benar merupakan desakan yang masih sangat berbahaya kalau hanya ditangkis saja.

In Hong penasaran. Serangannya tadi amat lihay dan kalau lawan tidak memiliki ilmu silat tinggi tidak mungkin dapat menghindarkan diri. Namun pemuda itu masih dapat mengelak dan menangkis. Selagi ia hendak mendesak terus, dari samping Coan Sim Hwesio telah mengulur tangan mendorongnya dan kembali angin dorongan itu membuat tubuh In Hong terhuyung.

Celaka pikirnya. Sungguh tak menguntungkan bila ia melawan terus. Maka, sekali kakinya dienjotkan, ia sudah melayang naik ke atas genteng.

Coan Sim Hwesio dan pemuda baju putih yang bukan lain adalah Ong Teng San itu tidak mau mengejarnya. Mereka yakin sekali bahwa gadis itu takkan mungkin dapat keluar dari kepungan para hwesio Siauw-lim-si.

Tapi betapa pun juga mereka tidak mau tinggal diam dan keduanya lalu pergi melakukan penjagaan di lain tempat. Hwesio itu lari ke kanan untuk membantu penjagaan di tembok sebelah kanan, sedangkan Teng San segera melompat naik ke atas genteng melakukan penjagaan di atas.

In Hong berlari terus, menuju keluar. Maksudnya hendak lekas-lekas pergi dari tempat itu, apa lagi setelah dia melihat dari atas betapa banyak hwesio-hwesio menjaga di sana sini. Tempat yang ketika dia datang nampak sunyi itu sekarang sudah berobah sama sekali. Di setiap sudut terdapat lampu penerangan.

Selagi ia mencari tempat yang dapat dilaluinya untuk melarikan diri, mendadak terdengar bentakan,

“Nona tak tahu aturan, tidak lekas-lekas menyerah?”

In Hong memutar pedangnya untuk menangkis ketika merasa sambaran angin datang dari sebelah kanan. Terdengar suara keras dan ujung sebatang toya telah terbabat putus oleh pedang Liong-gan-kiam. Hwesio yang menyerangnya berseru kaget, akan tetapi dua orang kawannya yang lain maju menubruk untuk menangkap In Hong.

Melihat dirinya dikeroyok oleh tiga orang hwesio, nona ini tidak mau melayani dan secepat burung terbang, dia pun melompat turun lagi dari atas genteng. Kemudian ia berlari terus ke depan dan anehnya, tiga orang hwesio itu pun tidak mau mengejarnya.

Begitu dua kaki In Hong menginjak tanah, ia lantas dikejutkan oleh bentakan mengguntur, “Penjahat wanita yang berani mati mengacau Siauw-lim-si, lebih baik kau menyerah untuk pinceng ikat kaki tanganmu!”

In Hong melihat seorang hwesio bertubuh tinggi besar yang memegang sebatang rantai baja panjang. Darahnya langsung naik setelah mendengar bentakan itu. Masa ia hendak diikat dengan rantai baja yang lebih patut untuk mengikat gajah itu? Tanpa mengeluarkan suara, pedangnya membabat dan secepat kilat ia telah melakukan serangan ke arah perut hwesio itu dengan tusukan maut.

“Siancay... ganas betul kau!” Hwesio itu menggerakkan rantainya dan hampir saja pedang In Hong terlepas dari pegangannya ketika dua senjata itu bertemu dengan kerasnya.

Diam-diam In Hong amat terkejut. Biar pun gerakan para hwesio di Siauw-lim-si ini tidak terlalu cepat, namun harus diakuinya bahwa mereka rata-rata memiliki tenaga yang besar. Telapak tangannya sampai terasa pedas sekali ketika gagang pedangnya tergetar dalam pertemuan senjata itu.

Ia cepat menarik pedang dan kembali melakukan tiga jurus serangan bertubi-tubi. Namun dengan memutar rantai sehingga berupa kitiran baja yang tangguh, semua serangannya dapat digagalkan.

“Suheng, jangan lepaskan dia!” terdengar suara hwesio lain membentak.

In Hong menjadi gemas sekali melihat datangnya dua orang hwesio lain yang memegang toya. Melayani si tinggi besar dengan rantai ini saja belum tentu dia akan dapat menang secara cepat, apa lagi sekarang datang pula dua orang pengeroyok. Dan ia pun maklum bahwa bagi Siauw-lim-si, senjata toya merupakan senjata yang sangat ampuh dan ilmu toya Siauw-lim-si amat terkenal ketangguhannya.

“Kalian hendak memaksa dan tidak mau membiarkan aku pergi? Baik, kalian rasakan ini!” bentaknya marah sekali.

Begitu tangan kiri In Hong bergerak, mendadak sinar hitam menyambar ke arah tiga orang hwesio itu. Inilah Toat-beng-hek-kong yang sungguh berbahaya. Pasir hitam halus yang mengandung racun itu sukar sekali dihindarkan, apa lagi dipergunakan di waktu malam.

Biar pun tiga orang hwesio itu cepat-cepat mengelak, namun masih saja mereka terkena samberan pasir dan segera terdengar suara mengaduh-aduh dari tiga orang ini.

In Hong mempergunakan kesempatan ini untuk berlari terus. Akan tetapi karena ia tidak kenal jalan dan tempat itu ternyata amat luasnya, dia tidak tahu harus mengambil jalan mana dan berlari saja dengan membuta. Ia tiba di sebuah ruangan lain yang amat terang dan ditengah-tengah ruangan ini ia melihat seorang hwesio tua, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, tengah duduk bersemedhi. Sebatang toya besar tergeletak di dekatnya.

Melihat sikap yang angker dan muka yang memancarkan cahaya kelembutan itu, In Hong hendak menghindari hwesio ini dan ingin keluar kembali dari ruangan itu untuk mengambil jalan lain. Akan tetapi tiba-tiba hwesio bermuka hitam itu membuka matanya dan berkata dengan suara lemah lembut.

“Nona, kau telah memasuki Siauw-lim-si secara menggelap, maka jangan kau harap akan dapat keluar lagi. Lebih baik kau mengaku saja kepada pinceng, siapa namamu dan apa keperluanmu datang ke tempat kami. Ketahuilah, pinceng adalah Ceng Seng Hwesio dan pinceng memimpin para anak murid Siauw-lim-si. Pinceng bukanlah seorang yang berhati kejam, dan jika sekiranya menurut pertimbangan pinceng dosamu tidak terlampau besar, tentu kau akan pinceng lepaskan.”

Mendengar ini In Hong memasuki ruangan itu. Lebih baik mengaku terus terang, pikirnya. Bila dia diampuni dan dibolehkan pergi tanpa gangguan, itu baik sekali. Sebaliknya kalau tidak diampuni, dari pada menghadapi keroyokan semua hwesio di Siauw-lim-si, lebih baik terlebih dulu dia menggempur hwesio pemimpin ini!

Kalau saja ia bisa membikin hwesio ini tidak berdaya, ia dapat menggunakannya sebagai perisai untuk keluar melarikan diri. Sesudah berpikir demikian In Hong lantas menghadapi Ceng Seng Hwesio dengan pedangnya melintang di depan dada, lalu berkata,

“Losuhu, terus terang saja, kedatanganku kesini bukannya mengandung maksud buruk. Aku bernama Kwee In Hong dan aku adalah murid dari Hek Moli.”

“Sudah pinceng duga setelah melihat gerakan pedangmu yang ganas dan melihat Toat-beng-hek-kong tadi. Teruskan, nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, apakah maksud kedatanganmu malam-malam di Siauw-lim-si?” hwesio itu memotong.

In Hong terkejut. Hwesio ini tadi duduk bersemadhi saja, bagaimana bisa ketahui semua perbuatannya? Akan tetapi ia tidak gentar, dan melanjutkan kata-katanya,

“Guruku tewas oleh keroyokan orang-orang Kun-lun-pay dan aku sudah naik ke Kun-lun-san untuk membalas dendam, akan tetapi aku dikalahkan oleh tenaga lweekang mereka. Oleh karena itu kedatanganku di Siauw-lim-si hanya untuk meminjam kitab I-kin-keng.”

“Meminjam kitab suci Tat-mo I-kin-keng?” Ceng Seng Hwesio benar-benar terkejut dan merasa sangat heran. “Untuk apakah?”

“Untuk kupelajari isinya dan kelak tentu akan kukembalikan dengan pernyataan terima kasihku. Bahkan, kalau dengan I-kin-keng aku berhasil membalas sakit hati guruku, kelak sambil mengembalikan kitab, aku rela menerima segala hukuman dari Siauw-lim-si. Harap kau orang tua suka mempertimbangkan dan meluluskan permintaanku.”

Mendengar ini Ceng Seng Hwesio bangkit berdiri dan tertawa bergelak. “Lucu, lucu...! Kau anggap begitu mudah meminjam I-kin-keng? Ha-ha-ha, nona, tidak sembarang manusia di kolong langit ini dapat mempelajari Tat-Mo I-kin-keng, apa lagi dalam waktu singkat. Ini masih belum penting, yang terutama sekali, siapa pun juga di dunia ini tidak dibolehkan menjamah kitab suci itu tanpa perkenan dari suhu, ketua Siauw-lim-si. Apa lagi engkau datang dengan maksud hendak mencuri kitab itu. Ahh, ini sebuah kedosaan besar sekali, nona. Kalau Hek Moli yang datang kesini melakukan perbuatan ini, pinceng masih dapat memakluminya, akan tetapi kau... benar-benar kebetulan dan aneh sekali...”

In Hong tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhir itu, akan tetapi ia sudah tidak sabar lagi dan berkata keras sambil menggerak-gerakkan pedangnya,

“Losuhu, bagaimana keputusanmu, boleh atau tidak?”

“Nona, kau bilang tidak bermaksud buruk, akan tetapi kau telah melukai tiga orang murid Siauw-lim-si dengan toat-beng-hek-kong.”

“Aku tak sengaja, aku hanya terpaksa karena didesak dan untuk menyelamatkan diri. Aku merasa sangat menyesal, dan inilah obat penawar untuk mereka!” kata In Hong sambil merogoh sakunya.

“Tak perlu, nona. Orang lain boleh takut dengan Toat-beng-hek-kong, akan tetapi Siauw-lim-si tidak. Kami ada obat penawar sendiri untuk senjata rahasiamu yang ganas itu. Dan tentang peminjaman kitab suci itu, tentu saja tidak mungkin!”

“Pinjam kitab tidak boleh dan sekarang aku pun tak boleh pergi? Beginikah kebijaksanaan Siauw-lim-si?” In Hong sudah siap sedia untuk mengamuk.

“Mengenai hal kedua, kau sudah melakukan dosa besar, sudah melakukan pelanggaran, maka kau harus ditangkap dan dihadapkan kepada ketua Siauw-lim-si. Hanya suhu yang berhak memberi keputusan. Oleh karena itu, harap kau suka menyerah.”

“Orang tua, kiranya kau sama saja dengan yang lain! Aku harus menyerah? Terimalah ini!” Tangan kiri In Hong bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Ceng Seng Hwesio!

Hwesio ini mengebutkan ujung lengan bajunya dan semua pasir hitam yang menyerang ke arahnya runtuh. Sebelum In Hong sempat melompat keluar, hwesio ini sudah menyambar dengan toyanya, menyerampang kaki gadis itu. In Hong cepat melompat ke atas, lantas membalas serangan lawan dengan tusukan pedangnya. Tidak lama kemudian keduanya sudah bertanding dengan hebatnya.

In Hong maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan berat, maka ia tidak berlaku sungkan lagi. Pedangnya bergerak cepat sekali sehingga berubah menjadi segulungan sinar yang berkilauan, menyambar-nyambar dan berbahaya sekali. Dia segera mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini terlihatlah ilmu pedang yang ia warisi dari Hek Moli, ilmu pedang yang gerakannya amat aneh dan bersifat ganas sekali.

Menghadapi ilmu pedang ini, diam-diam Ceng Seng Hwesio merasa kagum sekali. Tidak heran banyak orang dirobohkan Hek Moli karena ilmu pedang yang hebat ini, pikirnya. Dia sudah memiliki banyak sekali pengalaman dan sebagai murid kepala dari Bu Kek Tianglo, tentu saja hwesio ini mempunyai kepandaian tinggi. Akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan lawan yang mempunyai ilmu pedang sehebat ini, maka ia pun menjadi kewalahan juga menghadapinya.

Baiknya, dalam hal tenaga lweekang, In Hong masih kalah jauh sekali sehingga tiap kali toya membentur pedang, gadis itu merasa kulit telapak tangannya laksana dibeset, amat perih dan sakit bukan main. Karena itu dia selalu menghindari bentrokan senjata dan inilah kelemahannya sehingga dia tidak dapat mendesak lawannya. Sebaliknya, sambaran toya di tangan Ceng Seng Hwesio mengeluarkan angin yang amat kuat.

In Hong maklum bahwa kalau dilanjutkan maka akhirnya ia akan kalah juga, maka lagi-lagi tangan kirinya bergerak dan dari jarak dekat sekali, pasir hitamnya menyambar ke arah muka Ceng Seng Hwesio.

“Ganas sekali...!” seru hwesio ini yang terpaksa melompat ke belakang sambil mengibas dengan lengan bajunya agar terlepas dari pada serangan maut ini. Ketika ia melihat lagi, nona itu sudah lari memasuki ruangan di sebelah kiri.

Ceng Seng Hwesio tidak mengejar, bahkan tertawa,

“Ha-ha-ha, nona yang ganas. Kau memasuki Ngo-heng-thia (Ruangan Ngo-heng), biarlah kau coba kepandaianmu dengan tempat ujian Siauw-lim-pay yang paling sulit!” Sesudah berkata demikian, hwesio ini berdongak ke atas dan berkata keras,

“Sute, kau jagalah dimulut Ngo-heng-thia dan cegat dia kalau keluar!”

Sejak tadi Ong Teng San memang berdiri di atas genteng menonton pertempuran. Ia tadi mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh In Hong dan wajahnya berubah pucat. Nona itu bernama Kwee In Hong, pikirnya, tidak salah lagi, dia itulah anak perempuan dari ibu tirinya yang dikabarkan lenyap! Pikiran Teng San menjadi tidak karuan, lantas dia pun bersikap kurang hati-hati sehingga kakinya yang menginjak genteng menerbitkan suara, maka Ceng Seng Hwesio dapat mengetahui kehadirannya. Mendengar suara suheng-nya, ia menjawab,

“Baik, suheng...!”

Cepat dia melompat turun lalu berlari untuk menjaga di pintu keluar ruang Ngo-heng-thia itu. Dadanya masih berdebar-debar. Apakah yang harus ia lakukan terhadap gadis itu?

Teringatlah ia kepada ibu tirinya dan teringat pula ia akan penuturan ibu tirinya bahwa adik tirinya yang bernama In Hong ini lenyap saat terjadi keributan, saat terjadi pembunuhan atas diri suami ibu tirinya itu oleh... ayahnya! Jadi, gadis ini adalah korban dari ayahnya juga!

Dia pun mendengar kata-kata In Hong tadi bahwa guru In Hong yang bernama Hek Moli itu sudah terbunuh, dan sekarang gadis ini datang hendak mencuri kitab I-kin-keng, untuk memperdalam ilmu silat dan kelak membalas dendam atas kematian gurunya itu. Hal ini dapat ia maklumi.

Bukankah semenjak kecil gadis ini kehilangan ayah bundanya dan menganggap gurunya sebagai pengganti orang tua? Kini gurunya terbunuh orang, tidak terlalu mengherankan apa bila gadis itu mengerahkan seluruh usaha untuk membalas dendam.

Demikianlah, dengan hati tidak karuan rasa, Teng San dengan pedang di tangan menjaga di pintu keluar Ngo-heng-thia, dan diam-diam dia berkhawatir sekali akan keselamatan In Hong! Dia tahu bahwa Ngo-heng-thia adalah ruangan untuk menguji para murid tingkat tinggi, maka merupakan tempat yang sangat berbahaya. Dia sendiri baru beberapa bulan yang lalu diuji di dalam Ngo-heng-thia, dan sungguh pun ia dapat keluar dengan selamat, namun pundaknya masih terluka.

Bagaimana dengan keadaan In Hong? Gadis yang pemberani ini memasuki ruangan Ngo-heng-thia tanpa curiga sedikit pun. Ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah tempat untuk menguji kepandaian murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, maka dia berjalan terus dengan cepat. Namun ia tetap waspada, karena ia menduga, di ruangan ini pun ia tentu akan menemui lawan.

Ia melihat ruangan itu hanya memiliki sebuah lorong yang lebarnya kurang lebih sepuluh kaki dan agak gelap. Tanpa curiga ia masuk ke dalam lorong ini. Betapa kagetnya ketika baru saja masuk beberapa langkah, ia mendengar suara keras di belakangnya dan pintu lorong itu tertutup dari atas, tertutup oleh lapisan besi! Keadaan menjadi remang-remang dan tidak ada jalan kembali lagi.

“Tempat apa ini?” tanyanya seorang diri sambil berdiri diam. Ia harus membiasakan dulu pandangan matanya di dalam tempat yang setengah gelap ini, kemudian dengan berani ia melangkah maju perlahan-lahan.

Baru kurang lebih lima langkah ia maju, tiba-tiba dari kiri terasa sambaran angin ke arah kepalanya. Cepat In Hong mengelak dengan menggerakkan kepala ke belakang sambil membabat dengan pedangnya. Terdengar suara keras dan pedangnya bertemu dengan sebuah lengan yang terbuat dari pada baja! Lengan inilah kiranya yang tadi memukulnya secara tiba-tiba, keluar dari dinding!

“Ahh, ternyata tempat rahasia!” pikirnya sesudah melihat lengan itu lenyap kembali. “Aku harus hati-hati sekali...”

Kembali ia melangkah maju. Tiba-tiba dari atas meluncur besi yang beratnya ratusan kati. Kalau orang tertimpa besi ini, pasti kepalanya akan hancur. In Hong mengelak cepat ke kiri, akan tetapi kembali dari kiri keluar bayangan yang menubruknya! Pada saat itu, besi yang tadi menimpa, sudah tertarik dan naik kembali, karena besi itu ternyata tergantung pada sehelai tali baja yang kuat.

Karena serangan bayangan yang menubruknya itu amat tidak terduga dan cepat, In Hong terpaksa menggunakan gerakan Trenggiling-menggelundung-dari-bukit untuk mengelak. Ia menjatuhkan diri di atas lantai dan menggelinding sambil tidak lupa membabat dengan pedangnya ke arah bayangan yang menyerangnya tadi.

Ternyata bahwa bayangan itu adalah sebuah orang-orangan yang terbuat dari besi pula, yang digerakkan dengan alat dan keluar sendiri dari dinding kiri. Sesudah tidak berhasil menubruk mangsanya, orang-orangan ini bergerak sendiri, mundur dan masuk ke dalam dinding.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner